REZEKI MASIH SERET? (Tanya Keluarga Anda)

                ANAK saya pernah menyampaikan keluhan kepada kami orang tuanya. Kala itu, ia harus memilih mau kuliah dimana. Ia memilih universitas ternama di Jogjakarta tetapi ibu-nya lebih menyarankan agar ia memilih Universitas Negeri di Medan agar tidak jauh dari keluarga.
                Masing-masing dari mereka memiliki alasan-alasan positif dan mulia. Sambil waktu berjalan, mereka mengadukan harapan dan perbedaan pendapat itu kepada Tuhannya. Mereka menyebut perkara ini dalam doa-doa masing-masing.  Yang lebih dasyat, istri saya lebih bersungguh dengan doa-doanya, ia tambah dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya demi didengar oleh Tuhan semua permintaannya. Merasa kurang yakin bahwa Tuhan mendengar semua bisikan doanya, istri saya melakukan aksi yang lebih maju, ia meminta bantuan kawan-kawan dalam group pengajiannya agar ikut dalam petisi doa kepada Tuhan agar pilihan istri sayalah yang terwujud.
                Beberapa bulan itu, sudah terjadi perang doa di rumah kami.  Anda bisa bayangkan, harmonisasi dalam keseharian kami terganggu dengan perang terselubung. Kami dikumpulkan di rumah yang sama, keseharian yang sama. Bahkan ketika istri saya mengantar anak saya mendaftar ke Universitas pilihannya di Jogjakarta, perang doa itu tidak berhenti.
                Ketika pada akhirnya anak saya lulus di Unversitas pilihan ibunya, si ibu merayakan keberhasilannya dengan senang yang tiada tara. Ia menghubungi semua pasukan doa-nya dan mengucapkan terimakasih.
                Perayaan itu direspon dengan penerimaan pasrah oleh anak saya. Kala itu anak saya mengatakan kepada kami –orangtuanya--, “Bagaimana saya akan menuju cita-cita saya, ketika kita dalam satu keluarga saja tidak sepakat dalam tataran doa?”
                Sebuah pertanyaan sederhana yang mengiatkan saya bahwa tujuan bersama dan tujuan individu dalam keluarga mestinya bisa dikompromikan dan disepakati bersama. Bagaimana mungkin terjadi perjuangan yang mudah untuk mencapai sesuatu jika dalam tataran doa saja kita sudah bertengkar dan perperang? Tuhan saja sudah kita buat bingung dengan keinginan yang tidak sepakat.

Rezeki dan Keluarga
Manajemen bisnis modern mengantarkan kita kepada banyak teori tentang sukses dan cara mencapainya. Tulisan saya sekarang ini adalah salah satu teori tradisional yang layak anda pertimbangkan, setelah semua teori manajemen modern sudah anda laksanakan.
                Dalam konsep manajemen bisnis modern. Anda adalah kunci sukses atas diri anda sendiri. Semua orang bertanggungjawan untuk urusannya masing-masing. Yang terpenting lagi adalah "kualitas pribadi".  Kombinasi antara karakter dan kemampuan diri. Kita dituntut untuk  jujur, profesional, ramah, hormat terhadap orang lain, santun berbicara, memegang kepercayaan dan berikan kontribusi yang besar terhadap orang lain, sehingga kita menjadi pantas untuk mendapatkan imbalan atas perilaku baik tersebut.
                Jika kapasitas diri dalam upaya mencari rezeki Tuhan sudah kita lakukan, dan masih juga belum berhasil, harta yang sulit terkumpul, peluang bisnis yang sering gagal, bisnis sulit berkembang, keuntungan yang hanya cukup untuk berputar, kesilaan yang berkesinambungan dan hilangya rasa bahagia. Coba luangkan waktu untuk menganalisa kualitas hubungan kita dengan orang-orang yang terikat dengan kita dalam keluarga. Mereka adalah pasangan kita, anak-anak kita dan mungkin orang tua kita.
                Apakah ada perang doa dalam keluarga kita? Apakah ada sabotase impian dari pasangan kita?
Semestinya Doa pasangan dan keluarga harusnya saling menguatkan. Mestinya energy pasangan dan keluarga terfokus dan rezeki juga terpasangkan. Hanya Anda dan anggota keluarga yang mengetahuinya.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 6 Februari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                                                                   Coaching & Pelatihan: tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »