Sejangkauan Tanganmu

MENJADI diskusi panjang dengan beberapa praktisi bisnis tentang kenaikan target hingga 1000 %. Kita tinggalkan friksi pro dan kontra, mungkin dan tidak mungkin. Dalam diskusi kami, saya coba sampaikan hal penting dalam strategi menggapai kenaikan extrim ini.
            Adalah fakta bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, akan ada 2 keterlibatan. Yang pertama adalah faktor internal dan yang kedua adalah faktor external. Faktor internal yang terjangkau dan dalam kekuasaan kita serta faktor external yang diluar jangkauan kekuasaan kita.

Dalam Jangkauan
            Untuk mencapai target sebesar apapun. Ada faktor usaha dari pihak kita. Ada juga faktor pihak lain yang ikut menentukan ketercapaiannya.
            Sebutlah anda ingin menjual properti dengan target 20 rumah dalam 1 bulan. Faktor internal yang mempengaruhi adalah ketetapan hati lalu tindakan anda untuk mencapainya.
            Tentang calon pembeli yang bilang mahal, calon pembeli yang belum tertarik, atau calon pembeli yang langsung senang, itu jelas sekali faktor external. Merekalah yang menentukannya –walau bisa dipengaruhi oleh tindakan kita--, bukan kita penentunya.
            Keputusan untuk menemui 10, 15,20 atau 30 orang calon pembeli tiap hari, keputusan untuk menunda kunjungan ke calon pembeli, keputusan untuk melibatkan semua potensi perusahaan dan yang lainnya adalah faktor internal dalam jangkauan dan kekuasaan kita.
            Artinya, siapapun dari kita memiliki kemerdekaan dan keuasaan penuh untuk melakukan apa yang kita rencanakan atau kita sendiri yang membatalkannya.

Tirani Alasan
            Semua orang mau sukses. Semua penjual ingin omzet yang tinggi bahkan sangat tinggi. Permasalahannya adalah sebagian besar dari kita menjajah diri sendiri dengan berbagai alasan logis yang kita ciptakan sendiri hanya untuk membuat kita merasa nyaman ketika kita gagal mencapai impian kita.
            Kita sudah terbiasa untuk menjadi pemimpi ulung. Berkhayal jika kita sukses. tetapi kita juga terbiasa untuk menjadi malas untuk berusaha sedikit untuk mencapai impian kita tersebut.
            Kita terlalu pintar mencari-cari dan menciptakan alasan logis agar kita tidak mengerjakan yang seharusnya kita kerjakan. Kita terlalu biasa memaklumi kegagalan kita karena kurangnya usaha kita. Kita ini pecundang yang mau tampil elegan. Kita sedang menipu diri sendiri.
            Menipu diri sendiri saja sudah masuk kategori kejahatan serius. Belum lagi jika kejahatan kita lakukan atas nama kegagalan diri lalu menyalahkan pihak lain. Kita bisa salahkan dukungan logistik, kita bisa salahkan tim produksi, kita bisa salahkan kendaraan, bahkan kita bisa salakan faktor cuaca yang tak tahu apa-apa.
            Kita bahkan dengan tidak merasa malu, beralasan bahwa kita tidak mengenal calon pembeli. Tidak kenal siapapun di perusahaan yang akan kita tuju. Tidak tahu mau kemana. Sungguh ini alasan yang sangat memalukan. Jika diurut lebih lanjut, itulah alasan yang diucapkan oleh orang-orang yang tidak bersyukur kepada Tuhan. Orang itu sedang melaknat dirinya sendiri.

Kejam Terhadap Keyakinan
            Untuk bisa lepas dari tirani alasan, kita harus memiliki kekejaman kepada diri sendiri. Kekejaman yang bisa menyelamatkan diri ketika pikiran kita mulai merekayasa alasan.
            Liar-nya pikiran kita yang terkesan logis dalam upaya menghindar dari tanggungjawab hanya bisa dilawan dengan kekejaman diri. Ketika kita tidak keras memperlakukan diri kita sendiri, kita akan menjadi korban atas kemalasan diri.
            Diperlukan komitmen dan kesungguhan batin untuk memecut pantat kita agar mau bergerak maju. Bergerak menggapai apapun tujuan kita. Bergerak menggapai target-target bisnis kita.

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 Januari 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                                                                   Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »