BELAJAR BISNIS SEJAK MUDA

                NAMANYA Zaki, kini dia sudah jadi pengusaha Laundry yang punya nama di Kota Medan.  Ada  5 cabangnya. Dalam tulisan ini saya ingin membongkar salah satu rahasia suksesnya.
                Dalam beberapa kesempatan saya menggarisbawahi pentingnya karakter dalam berbisnis. Bisnis bukan sekadar modal uang. Bisnis adalah gaya hidup. Bisnis adalah kecerdasan dan kemampuan pengendalian diri yang dituntut untuk terus maju menuju perbaikan dan kesempurnaan.
                Zaki kecil, ketika di Sekolah Dasar, merasa bahwa uang jajan yang diberi oleh kedua orangtuanya tidak cukup. Bahkan untuk memberli burger yang dia suka pun terpaksa dikumpul beberapa hari. Bukan Karena orang tuanya yang miskin, tetapi karena ideologi pendidan anak yang diyakininya tidak mempercayai jumlah uang jajan yang banyak akan menghasilkan prestasi yang baik.

BELAJAR BEKERJA
                Terdesak oleh keinginannya makan burger, Zaki kecil mencari cara. Singkat cerita Zaki kecil melamar menjadi asisten penjual burger tiap kali jam istirahat datang. Zaki kecil dengan ligat membantu si penjual burger yang dikerubung anak-anak pada jam yang sama. Seusai sekolah, Zaki membantu mendorong gerobak burger hingga titik tempat ia mendapatkan jalur angkot menuju pulang. Atas usahanya, Zaki kecil mendapatkan hadiah berupa burger dengan kebebasan memilih isi dan variasinya.
                Zaki kecil kala itu belajar ilmu komunikasi, belajar mempengaruhi orang lain, belajar melayani, belajar merasakan manis pahitnya bekerja paruh waktu.
                Bersekolah di sekolah yang kebanyankan muridnya dari kalangan orang berada, Zaki kecil sering merasa iri dengan sepatu dan topi yang dipakai kawan-kawannya. Sepatu model terbaru, ada lampu-lampunya dan topi yang tengah populer dijaman itu. Zaki kecil tidak memiliki uang saku yang cukup untuk mendapatkan barang-barang itu dengan mudah.
                Keterpaksaan dan impian yang kuat, membuat Zaki kecil terpaksa kreatif dan pandai melihat peluang. Kartu-kartu gambar olahraga basket menjadi primadona koleksi kawan sebayanya kala itu.  Banyak penjual kartu tersebut berderet di depan sekolahnya. Hingga ia menyadari bahwa ada kartu versi koleksi yang ada katalognya dan bernilai lumayan mahal.
                Berbekal beberapa kartu sumbangan sahabatnya, Zaki kecil menjadikan kartu itu sebagai bisnis yang menjanjikan untuk ukurannya.

BELAJAR BERBISNIS
                Zaki kecil ‘terpaksa’ belajar mencari sumber produk, belajar melihat peluang, belajar berkompetisi dan mencari keunggulan kompetisi. Zaki kecil dengan kartu-kartu basketnya belajar memutar uang. Hasil penjualannya diputar ulang hingga pada akhirnya ada free cash yang cukup untuk membeli sepatu dan topi impianya. Bahkan masih ada keuntungan untuk membeli tiket bioskop dan makan di fastfood ala amerika yang sedang trend dan bergengsi dikala itu.
                Tak semua bisa saya tuliskan, tetapi ketika ia sampai usia SMA, Zaki remaja sudah berbisnis ban sepeda motor. Karena kawan-kawan di kampungnya memerlukan ban tersebut dan Zaki Remaja tahu dimana sumber toko yang murah dan ia mendapatkan margin dari penjualan ban tersebut.
                Zaki remaja sudah memiliki pengetahuan bisnis sederhana. Melihat peluang, mendapatkan sumber bahan baku, menjual dan mengelolanya dengan sederhana.

KARAKTER BISNIS
                Saya ingin menegaskan kembali bahwa bisnis adalah karakter. Dan karakter itu lebih bagus jika dilatih dan dikembangkan sejak usia dini. 
                Waktu emas orang asia adalah pada usia 35 tahun. Lewat itu semangat dan karakternya menurun. Jadi mulailah ajarkan bisnis ketika masih anak-anak. Zaki bertumbuh sendiri, bayangkan jika ada mentor yang mendampinginya.
Artikel ini sudah diterbitkan di HarianMedan Bisnis pada tanggal 13 Maret 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                                                                Coaching & Pelatihan; tj@chyopramono.com
Previous
Next Post »