Manajer Yang Lupa

                “Saya sudah bekerja dengan maksimal, tapi boss saya selalu merasa tidak cukup!’ keluh seorang manager dalam sebuah sesi coaching yang saya pimpin. Kemudian si manager menjelaskan bahwa ia melakukan semua hal, dari masuk kerja pagi, hingga pulang kerja paling malam.
                Saya bertanya, memang apa saja keluhan boss anda? si manager menjawab, “Ya… omzet! Itu saja yang selalu ditanyakan”. Dalam keterangan selanjutnya si manager menyalahkan si pemiliki usaha mengapa tidak menambah modal dan pegawai untuk bisa meningkatkan performa usahanya. Sementara dalam pengamatan saya, terlalu banyak sumberdaya yang disia-siakan. Pegawai lengkap, bahkan manajer tingkat atas lengkap, dari manajer operasional hingga manajer keuangan.
                Dalam beberapa sesi terbukti bahwa si pemilik enggan untuk menambah modal karena untuk urusan yang dianggap lebih kecil saja manajer ini gagal. Tugasnya adalah menggunakan semua sumber daya yang ada untuk bisa bertahan hidup. Hanya bertahan hidup, artinya tidak harus banyak untung. Bagi saya ini adalah laksana sebuah ujian yang menarik.

Mentalitas
                Kemudian hari saya menemukan permasalahan diatas dari sisi mentalitas. Ada yang aneh dengan sikap dan gaya si manajer. Setelah lebih lanjut saya amati, ternyata si manajer ini lupa. Benar-benar lupa bahwa posisi yang dipegang saat ini tidak lagi sama dengan ketika sekedar menjadi pegawai dahulu.
                Ia merasa dan begitu terbiasa dalam pola hidupnya bahwa ada ‘orang lain’ yang memberinya kesibukan. Ada ‘orang lain’ yang memberinya pekerjaan untuk diselesaikan. Dan tanpa ia ketahui, dengan tanpa merasa bersalah adalah bahwa pada akhir bulan ia harus menerima gaji.
                Si manajer tidak pernah dengan sungguh-sungguh menyadari bahwa gaji yang ia terima dari perusahaan adalah sebuah hasil dari buah pekerjaan. Bukan sekedar kesibukan keseharian, tetapi pekerjaan yang mendatangkan uang, sehingga manajer dan seluruh pegawai bisa menerima gaji untuk hidup dirinya dan keluarganya. Tiap bulan sepanjang tahun.
                Si manajer juga lupa bahwa ‘kesibukan’ kerja yang dilakukannya hanya sekedar ‘mengisi waktu’ atau membuang-waktu, bukan kesibukan untuk menghasilkan uang. Ia pikir asal sibuk, sudah cukup.
                Konsep asal sibuk itu membuat dia mengerjakan hal-hal yang sangat tidak penting dan sangat tidak mendesak. Begitu naïf sehingga ketika ada permasalah cashflow di perusahaan ia begitu terkaget, terbodoh dan sangat heran mengapa bisa begitu.
                Si manajer kini menghadapi permasalahan serius. Menggaji dirinya sendiri saja tidak sanggup. Apalagi memberikan keuntungan kepada pihak pemilik usaha.

Lupa
                Dengan berfikiran positif, saya anggap manajer ini lupa. Lupa bahwa dia kini bukan lagi pegawai yang hanya tahu datang pagi dan pulang sore, tunggu perintah atau petunjuk pimpinan. Si manajer lupa bahwa kini dia adalah pemimpin yang memberikan perintah dan petunjuk.
                Yang lebih berbahaya adalah bahwa si manajer merasa sudah sering memerintah dan memberikan petunjuk kepada bawahannya, bahkan ia merasa sering berteriak atau memaki bawahannya.
                Sang manajer lupa, bahwa ia kini adalah orang yang harus memimpin perusahaan. Semua perusahaan didirikan untuk mencari keuntungan. Jadi mengapa ia tidak bisa menciptakan keuntungan? Bahkan menggaji dirinya sendiripun kewalahan.
                Sang manajer lupa bahwa dirinya adalah tangan kanan pengusaha yang harus memiliki wawasan dan jiwa kewirausahaan. Yang bisa melihat semua hal seperti mata seorang pengusaha. Mestinya tidak ada yang membedakan dirinya dengan si pengusaha selain modal.
Artikel ini sudah diterbitkan dii Harian Medan Bisnis pada tanggal 29 May 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


               

Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »