Pejual Telur Tak Harus Bertelur

                MAAF, mungkin judul diatas kurang pantas. Tetapi kalimat ini sangat mudah diingat dan mengena dengan topic bahasan hari ini. kalimat tersebut saya dengar dari seorang penjual rokok yang tidak merokok beberapa tahun lalu.
                Kalimat ini terngiang sekali lagi ketika saya bertemu dengan sahabat yang sedang belajar cara merangkai bunga hingga sampai ke luar negeri demi untuk membuka sebuah toko bunga. Di kasus lain, ada seorang kawan yang belajar membuat nasi goreng sebagai persiapan untuk mengujudkan mimpinya membuat restoran yang besar.
                Saya ingin menjelaskan bahwa bisnis toko bunga itu tidak hanya membutuhkan ketrampilan merangkai bunga. Seperti bisnis membuka restoran juga bukan sekadar perkara pandai membuat nasi gorang. Merangkai bunga dan membuat nasi goreng adalah bagian kecil dari bisnis itu sendiri. merangkai bunga dan membuat nasi goreng hanya secuil dari kemampuan bisnis yang seyogyanya dimiliki oleh seorang pemilik toko bunga atau restoran.


Tak Harus Bertelur
                Penjual telur tak harus bisa bertelur. Sama juga dengan bisnis yang lain. Tak harus pemiliknya memiliki kemampuan khusus dalam proses produksi atau memproduksinya. Memang lebih baik jika seseorang menguasai proses dasar produksi yang dijadikan bisnisnya, tetapi tak harus ia masuk level ahli untuk bisa mengelola bisnis tersebut.
                Pelaksana, pembuat rangkaian bunga, pembuat nasi goreng adalah pekerjaan teknis yang harus dikuasai oleh tim produksi. Mereka biasanya spesialis, karena bidang khusus yang dikerjakan memerlukan keseriusan dan kedalaman ilmu serta pengalaman yang tinggi.
                Pada sisi lain, pengusaha atau pemilik bisnis diharuskan menguasai banyak hal yang sifatnya generalis (umum) bukan spesialis (khusus). Pemilik bisnis diharuskan memiliki kemampuan luas lagi. Ia harus memiliki kemampuan mengelola sumber bahan baku, pembelian, proses produksi, sumber daya manusia, modal, bidang keuangan, bidang perijinan, bidang penjualan, Pemasaran, dan banyak lagi yang lain.
                Disinilah kunci perbedaannya. Pekerja harus mampu menjadi spesialis dibidangnya dan pemilik bisnis harus menguasai banyak hal yang nantinya akan didelegasikan kepada para spesialis dibawahnya.
                Dalam beberapa kasus, banyak spesialis yang gagal menjadi pebisnis. Banyak juru masak handal yang gagal membuat restoran. Banyak fotographer dan videographer hebat tetapi gagal membuat rumah produksi. Banyak ahli tentang binatang ternak tetapi gagal ketika membuat peternakan komersial.

Business Road Map
                Posisi generalis yang diemban oleh pemilik bisnis mengharuskan pemilik bisnis memiliki pengetahuan dan kemampuan merangkai semua proses dari awal hingga akhir atas apapun yang berhubungan dengan bisnis itu sendiri.
                Sebagian pebisnis menggunakan beberapa alat bantu. Salah satunya adalah peta jalan bisnis. Peta ini berisi tentang deskripsi produk yang dimiliki, sasaran pasar, kompetisi, hal-hal yang mendukung, hal-hal yang menantang,

hal-hal yang perlu dikembangkan, konsep pembiayaan, konsep penghematan,  dan langkah-langkah promosi serta banyak lagi.
                Pengusaha atau pemilik bisnis harus memegang panduan tersebut sebagai rambu-rambu dan catatan untuk menuju titik sukses yang dikehendakinya. Ia harus merangkai semua hal menjadi sederhana, lalu mengajak seluruh pasukan bisnisnya untuk mendukung cita-citanya.
                Pemilik bisnis yang terjebak dalam operasional harian bahkan menjadi kunci proses produksi, sebenarnya tidak bisa disebut sebagai pemilik bisnis. Ia lebih cocok disebut sebagai operator bisnis. Ia tidak bisa bergerak meninggalkan proses produksi. Ia selalu terlibat langsung. Ia adalah budak atas bisnisnya sendiri dan sulit mengembangkan bisnisnya karena ia terikat didalamnya.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 3 April 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarluaskan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


                                                                   Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »