Tersesat Oleh Target Kerja Yang Kabur


Jika seorang pekerja level pelaksana membuat rencana kerja migguan seperti ini ;
  1.     Mengunjungi 5 klien
  2.     Memberikan Pelatihan kepada tim sales junior
  3.     Promosi Produk Baru
  4. Dll

Sangat bisa saya pastikan bahwa potensi penyelesaian rencana kerja itu hanya 1% bahkan bisa 0% saja. Dan sangat banyak pekerja atau pebisnis yang sudah satu langkah maju bisa membuat rencana/target kerja lalu bisa menuliskannya tetapi tetap saja belum sanggup menyelesaikan target itu dengan baik.
                Dalam kacamata pembagian waktu, target tersebut diatas bukanlan masalah. Artinya, sangat cukup waktu untuk mengerjakannya. Sekilas, target kerja tersebut sangat sederhana dan mudah, tetapi banyak orang yang tetap tidak mampu melaksanakannya. Akhirnya, minggu depan masih akan membuat rencana kerja yang sama dengan beda kalimat saja. Lalu lagi-lagi tidak bisa 100% terkerjakan dengan tuntas.
               
JELAS
                Target kerja yang mudah dikerjakan adalah target yang jelas, spesifik dan tunggal. Dalam kasus contoh diatas, mengunjungi 5 klien, terlihat jelas, tetapi tidak spesifik dan tunggal. Kata 5 klien membuka pintu bias yang sangat luas. Siapa sebenarnya 5 klien tersebut?apakah A, B, C, D dan E atau F, G, H atau yang lainnya? Selama anda tidak menyebutkan dengan jelas nama-nama klien tersebut, maka anda sedang dalam keadaan tidak pasti.
                Ketidakpastian ini akan membuat anda tidak segera bekerja. Anda masih harus memikirkan siapa ke-5 klien tersebut. Untuk sebagian orang, memikirkannya saja memerlukan waktu yang tidak sebentar dan anda sudah kehilangan waktu sia-sia.
Ketidakpastian itu akan membuat anda menunda untuk segera mengeksekusi rencana target tersebut. Dan jika dilanjutkan, ketidakpastian itu akan dieksekusi dengan mengunjungi 5 klien yang paling mudah, sehingga anda hanya memenuhi target berkunjung saja, bukan untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari kunjungan tersebut. Dalam hal ini anda sudah kalah.
Dalam kasus target kerja mingguan bagian ke-2 -- Memberikan Pelatihan kepada tim sales junior—ini jauh lebih kabur lagi. Ada lebih dari 670 topik Pelatihan untuk tim sales. Topik yang mana yang akan anda bawakan? Kekaburan ini membuat anda terhenti sejenak ketika akan melakukannya.
Disini anda akan membuang waktu lagi untuk memikirkan topik apa yang akan anda berikan. Disisi lain, memberikan training tidaklah seperti ngobrol sambil ngopi, anda harus memiliki training plan. Anda harus mempersiapkan modulnya, semua referesnsi dan alat bantu peraga dan lainnya. Jika pun anda terpaksa melaksanakannya, sudah pasti anda tidak akan melaksanakannya degan serius dan benar. Anda hanya akan memenuhi target, bukan berorientasi kepada hasil apa yang dicapai dengan training tersebut. Disini anda sudah kalah.
Sama dengan contoh target kerja yang ke-3; Promosi Produk Baru. Target kerja itu sangat bias dan merepotkan renspon otak anda. ketika membaca rencana ini, anda bahkan tidak tahu apa yang harus anda kerjakan.
Pertanyaanya adalah, produk yang mana? Promosi yang bagaimana? Sasarannya siapa? Menggunakan media apa? Apakah materinya sudah ada? Bentuk promosinya apa? Rencana anggarannya apa sudah ada? Siapa-mengerjakan apa? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.
Yang terakhir, kata “dll” adalah kata yang pasti tak akan terkesekusi. Itu kata bingung dan aplikasinya adalah kebingungan. Anda justru akan mengerjakan hal-hal lain yang tidak anda rencanakan. Anda tidak dapat mengelola apapun yang tidak bisa Anda ukur.
               

Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Mei 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkannya dengan selalu menyebutkan sumbernya.
Previous
Next Post »