Menjelang Ajal Perantara

AKHIR minggu kemarin, saya berkumpul dengan komunitas kepariwisataan Sumatra Utara. Kami senang sekali saling bertemu walau sebagian wajah-wajah yang saya temui terllihat pucat dan kurang bersemangat.
Mereka adalah para agen perjalanan yang menyadari bahwa bisnisnya menurun bahkan ada yang terjun bebas. Mereka berkompetisi dengan teknologi dan bisnis model baru yang menghilangkan peran perantara seperti mereka.
Sekarang, pembeli tiket pesawat sudah bisa membeli langsung tanpa bantuan agen perjalanan. Bisa memilih rute dan pesawat yang dikehendaki. Bisa menentukan harga yang sesuai dan semuanya terbuka, langsung dan reatif nyaman prosesnya.
Sekarang, calon tamu hotel bisa pesan kamar tanpa harus menggunakan agen perjalanan. Sewa bus atau kendaraan apapun, memilih restoran dan semua produk wisata sudah bisa diakses melalui teknologi internet langsung tanpa perantara.
Karena situasi itulah, bisnis para agen perjalanan menjadi menurun dan berpotensi hilang.

PERLAMBATAN EKONOMI
            Perlambatan ekonomi yang diklaim oleh banyak pelaku bisnis akhir-akhir ini telihat sangat jelas kasat mata. Pusat-pusat perbelanjaan telihat sepi. Lokasi-lokasi usaha terlihat sepi dan kurang pengunjung.
Tanpa membahas faktor ekonomi makro yang lain, benar bahwa pernyataan melambatnya ekonomi banyak disebut dan digemborkan oleh para pengusaha yang bisnis modelnya adalah agen atau perantara. Mereka membeli produk dari sumber utama lalu mereka pasarkan kepada agen-agen kecil atau toko-toko pengecer.
Fakta bahwa model transaksi hari ini sudah mulai berubah ke model transaksi internet mestinya tidak bisa diabaikan.
Konon, transaksi jasa Titipan Kilat hari ini mengalami peningkatan yang baik. Bahkan konon mereka baru saja menambah 500 orang pegawai karena peningkatan volume bisnisnya.
Jangan heran ketika di jalan-jalan kota banyak berkeliaran pengemudi ojek online yang tidak membawa penumpang tetapi membawa barang. Bahkan ada banyak pengemudi ojek online yang memilih tidak mau membawa penumpang tetapi hanya membawa barang pesanan pelanggan.
Artinya, transaksi tetap ada, bisnis tetap berjalan. Hanya modelnya saja yang berubah.

BISNIS MODEL
            Di era distruptif sekarang dan pasar kalangan generasi milenia yang mulai menggantikan generasi X dan Y, model bisnis dipaksa untuk berubah.  bisnis perantara terjadi jika pembeli dan penjual dibatasi oleh sesuatu keadaan yang sulit diterobos. Bisa juga terjadi karena karakter pembeli yang lebih memilih kemudahan dengan meggunakan jasa perantara.
            Fakta hari ini, penjual sudah membuka diri untuk diakses langsung oleh pembeli. Penjual melayani pembeli dengan tingkat kemudahan yang relative tinggi dan dengan harga generik.
            Fakta ini mestinya menjadi pertimbangan bagi para pelaku bisnis perantara untuk segera sadar dan mencoba merubah model bisnisnya untuk lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
            Ada beberapa agen perjalanan wisata yang merubah model bisnisnya tidak lagi menjadi agen, tetapi mengubah dirinya menjadi konsultan perjalanan wisata. Mereka dengan pengalamanannya bisa mendampingi para wisatawan ketika merencanakan perjalanannya.
            Ada beberapa agen yang merubah model bisnisnya dengan menciptakan produk-produknya sendiri. Produk yang tidak dimiliki oleh orang lain.
            Ada beberapa agen perjanalan wisata yang mengubah dirinya menjadi operator majalah atau web kepariwisataan. Bahkan mereka memberanikan dirinya sebagai pihak penilai kualitas pelayanan dan produk wisata versi mereka dan rekomendasi mereka sangat berpengaruh.
Ada juga yang mengubah dirinya menjadi penilai pelayanan bagi para pengusaha perhotelan dengan cara menjadi tamu misteri. Mereka datang menilai pelayanan sebuah hotel dengan rahasia lalu menyampaikan temuannya kepada pihak pemilik.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 31 Juli 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »