PAK TUA, SUDAHLAH…

                SAYA sering di sanjung oleh kawan-kawan saya agar saya terus bersemangat ketika mengerjakan hoby yang masuk kategori ekstrim. Mereka bilang “Tua itu hanya perkara angka”. Pada skala tertentu, saya setuju dengan sanjungan ini. Tetapi saya juga harus menerima fajta bahwa tua juga bisa bermakna usang.
                Usang ini tidak saja berlaku pada barang, tetapi juga pada kapasitas manusia. Ketika para orang tua masih tetap menggunakan kapasitas strategi berapa tahun yang lalu untuk menjawab tantangan hari ini, sudah pasti tidak pas dan tidak kompeten.
                Saya menulis artikel ini setelah selesai menyelenggarakan sebuah forum belajar tentang bagaimana caranya menuju posisi pimpinan puncak dalam sebuah industri pelayanan. Banyak dari pesertanya adalah para pemimpin dari berbagai level usia ada yang sangat tua dan ada yang sangat muda. Mereka juga berhadapan dengan pemilik usaha dengan latar belakang usia yang berbeda-beda.
                Yang tua merasa lahir duluan, yang muda merasa sekolah dan belajar. Gap generasi ini sering menimbulkan gesekan panas.
                Yang lebih sial adalah si tua suka memaksakan kehendak bahwa cara-caranya dulu selalu sukses dan bisa diaplikasikan kapanpun bahkan selamanya. Si tua tidak juga sadar bahwa jaman berubah dan memiliki karakter yang khusus dan menuntut penanganan khusus yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya.

KEMARIN, SEKARANG, ESOK
                Sebuah perusahaan jasa konsultan berbasis di Australia dan Selandia Baru, mengadakan survei yang didasarkan pada 1200 pekerja lintas generasi. Mereka menemukan perbedaan karakter yang signifikan antar generasi.
                Generasi Baby Boomers adalah yang lahir antara tahun 1946 – 1962. Gen X lahir 1963 -1980, Gen Milenia (yang selanjutnya dibagi dalam 3 kategori, Gen Y lahir tahun 1981 – 1994, Gen Z Lahir tahun 1995 – 2010 dan Gen Alpha lahir tahun 2011 – 2025).
                Karakter, tata nilai, dan sikap dalam dunia kerja yang berbeda-beda dari masing-masing generasi ini. Baby Boomers adalah generasi produktif.  Umumnya Mereka adalah individu pekerja keras, pemain tim yang baik. Sayangnya, generasi ini kurang bisa beradaptasi di lingkungan sekarang yang serba baru dan kurang kolaboratif dengan perubahan. Mestinya, dengan pengalaman dan usia yang matang, mereka layak menjadi seorang mentor. Ingat mentor bukan eksekutor.
                Gen X umumnya berkemampuan managerial yang baik. Mereka bisa menjadi motor penggerak yang baik, penyelesai masalah dan berjiwa kolaboratif. Tapi, di sisi lain, Gen X ini kurang jago dalam pengendalian biaya.
                Generasi Milinea penuh antusiasme. Merela adalah generasi penguasa teknologi. adaptabilitas mereka di lingkungan baru cukup tinggi. Motivasi berwirausaha lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Kecenderungan oportunis, malas dan tidak produktif plus sangat obsesif tentang dirinya sendiri menjadi salah satu faktor gap generasi yang ada.

SADAR DIRI
                Konflik antar generasi terus akan terjadi ketika tidak ada upaya saling menerima dan saling menghormati, saling bebagi dan saling melengkapi. Konflik ini akan terus terjadi jika masing-masing selalu merasa paling benar dan yang lain selalu salah. Harmoni terjadi jika semua potensi lintas generasi ini dipadukan.
                Bagi yang tua, Cobalah keluar dari zona diri, lihatlah zona lain, terus perbaharui kapasitas diri dan fleksible dengan semua perubahan. Anda akan selalu mutakhir dalam pesatnya kemajuan peradaban manusia.
Berhentilah merasa bahwa generasinyalah yang paling baik lalu memaksa yang lain mengikutinya.
Wahai Pak Tua, sudahlah …
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 7 Agustus 2017, di halaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                                         Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »