(sedikit penghibur) CARA MEMPERTAHANKAN KARYAWAN

                SUNGGUH tidak ada perusahaan satupun dunia ini yang bisa menjamin rasa Bahagia untuk pegawainya. Jangankan perusahaan, hampir tidak ada manusia yang bisa menjamin kebahagiaan orang lain. Tapi sialnya, manajemen atau pengusaha selalu menjadi pihak yang dianggap paling bertanggungjawab untuk kebahagiaan karyawannya. Padahal kebahagiaan seseorang sangat tergantung dari dirinya sendiri.
                Begitupun, dari beberapa kasus mundurnya karyawan setelah libur panjang Idul Fitri tahun ini, saya ada mencatat beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mempertahankan karyawan.
EGOIS
Roformasi politik dan sosial dinegeri ini berakibat munculnya keberanian yang lebih besar untuk menuntu hak. Demikian pula yang dirasakan dan dilakukan karyawan kita. mereka sangat Paham bahwa merekalah pelaksana roda bisnis, sehingga mereka merasa pantas dilakukan secara manusiawi (dalam versi pandang mereka).
Dalam hal ini, ada baiknya jika dibuat sebuah kesan bahwa gaya kepemimpinan kita bernuansa win-win solution. Dimana kepentingan karyawan juga mendapat perhatian dari kita. Mungkin bijaksana jika kita memberikan kesempatan kepada karyawan untuk bisa mencapai tujan positif apapun yang mereka impikan. Harus ada dukungan yang nyata diberikan kepada mereka yang maju dan berprestasi.
Mengikat orang potensial untuk tetap bercokol di posisinya akan merugikan diri kita sendiri, karena mereka akan mencari celah untuk maju. Jika di tempat kita tidak ada celah, mereka akan mencari di tempat lain.
                Perlakuan adil antar karyawan sering menjadi picu ketidakbetahan mereka. –walau kadang sebagian besar lebih senang menuntut daripada berkontribusi--.

OTONOMI
Seseorang akan merasa Bahagia ketika tidak merasa dikekang. Berikanlah sedikit. Biarkan mereka merasa ‘bebas’ pada skala tertentu. Diharapkan rasa senang itu akan memberikan semangat untuk bekerja.
Mengapa saya katakana ‘berikan sedikit’, karena kebebasan yang tiada batas justru akan membuat mereka tidak bekerja dan mundur. Imbangi kebebasan itu dengan beban tanggungjawab yang bijaksana.
Jangan kaget, ketika karyawan diberikan kebebasan walau sedikit akan sangat bisa direspon dengan negatif; mereka bertindak sok boss dan lupa tanggungjawab.

SUASANA
Membuat karyawan merasa betah, syarat awalnya pasti gaji yang cukup. Tetapi selanjutnya menjadi penting untuk memperhatikan tingkat kepuasan lain yang terus berkembang. Sebutlah suasana kerja.
Jika aturan jelas diterapkan dengan bijaksana, adil dalam hukuman dan imbalan ditambah dengan terhindarnya praktek-praktek politik perkantoran yang kotor, maka karyawan akan bisa sedikit merasa terhibur.
Praktik konflik antar kelompok, terjadi gap antar bagian dan kurangnya penghargaan terhadap karyawan akan menjadikan suasana kerja yang tidak nyaman.

RIDHO
                Jika tidak ada rasa Ridho, tidak ada Rasa saling menghormati antar karyawan dan pengusaha atau pimpinan. Dalam waktu yang tidak lama, maka tim kerja akan hancur berantakan.
                Jika tidak ada rasa ridho, dalam tataran doa saja sudah terjadi konflik antar anggota tim kerja. Bayangkan, jika dalam tataran doa saja tidak cocok, bagaimana dalam aplikasi visi dan misi.
                Ada tantangan yang sangat penting bagi para pemimpin untuk bisa menyatukan persepsi dan membuat kesepakatan bersama mengenai tujuan bersama yang bisa dibangun. Kemudian dikembangkan dalam bentuk keikhlasan agar masing-masing pihak bekerja dengan baik pada bagiannya sendiri-sendiri.
                Ketika masing-masing anggota tim kerja sudah memiliki agenda dan tujuan masing-masing lalu melupakan tujuan bersama. Ketika anggota tim kerja hanya mementingkan dirinya sendiri. Ketika itulah waktu yang tepat untuk melepaskan mereka dengan damai.
(sedikit penghibur) CARA MEMPERTAHANKAN KARYAWAN
                SUNGGUH tidak ada perusahaan satupun dunia ini yang bisa menjamin rasa Bahagia untuk pegawainya. Jangankan perusahaan, hampir tidak ada manusia yang bisa menjamin kebahagiaan orang lain. Tapi sialnya, manajemen atau pengusaha selalu menjadi pihak yang dianggap paling bertanggungjawab untuk kebahagiaan karyawannya. Padahal kebahagiaan seseorang sangat tergantung dari dirinya sendiri.
                Begitupun, dari beberapa kasus mundurnya karyawan setelah libur panjang Idul Fitri tahun ini, saya ada mencatat beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan untuk mempertahankan karyawan.
EGOIS
Roformasi politik dan sosial dinegeri ini berakibat munculnya keberanian yang lebih besar untuk menuntu hak. Demikian pula yang dirasakan dan dilakukan karyawan kita. mereka sangat Paham bahwa merekalah pelaksana roda bisnis, sehingga mereka merasa pantas dilakukan secara manusiawi (dalam versi pandang mereka).
Dalam hal ini, ada baiknya jika dibuat sebuah kesan bahwa gaya kepemimpinan kita bernuansa win-win solution. Dimana kepentingan karyawan juga mendapat perhatian dari kita. Mungkin bijaksana jika kita memberikan kesempatan kepada karyawan untuk bisa mencapai tujan positif apapun yang mereka impikan. Harus ada dukungan yang nyata diberikan kepada mereka yang maju dan berprestasi.
Mengikat orang potensial untuk tetap bercokol di posisinya akan merugikan diri kita sendiri, karena mereka akan mencari celah untuk maju. Jika di tempat kita tidak ada celah, mereka akan mencari di tempat lain.
                Perlakuan adil antar karyawan sering menjadi picu ketidakbetahan mereka. –walau kadang sebagian besar lebih senang menuntut daripada berkontribusi--.

OTONOMI
Seseorang akan merasa Bahagia ketika tidak merasa dikekang. Berikanlah sedikit. Biarkan mereka merasa ‘bebas’ pada skala tertentu. Diharapkan rasa senang itu akan memberikan semangat untuk bekerja.
Mengapa saya katakana ‘berikan sedikit’, karena kebebasan yang tiada batas justru akan membuat mereka tidak bekerja dan mundur. Imbangi kebebasan itu dengan beban tanggungjawab yang bijaksana.
Jangan kaget, ketika karyawan diberikan kebebasan walau sedikit akan sangat bisa direspon dengan negatif; mereka bertindak sok boss dan lupa tanggungjawab.

SUASANA
Membuat karyawan merasa betah, syarat awalnya pasti gaji yang cukup. Tetapi selanjutnya menjadi penting untuk memperhatikan tingkat kepuasan lain yang terus berkembang. Sebutlah suasana kerja.
Jika aturan jelas diterapkan dengan bijaksana, adil dalam hukuman dan imbalan ditambah dengan terhindarnya praktek-praktek politik perkantoran yang kotor, maka karyawan akan bisa sedikit merasa terhibur.
Praktik konflik antar kelompok, terjadi gap antar bagian dan kurangnya penghargaan terhadap karyawan akan menjadikan suasana kerja yang tidak nyaman.

RIDHO
                Jika tidak ada rasa Ridho, tidak ada Rasa saling menghormati antar karyawan dan pengusaha atau pimpinan. Dalam waktu yang tidak lama, maka tim kerja akan hancur berantakan.
                Jika tidak ada rasa ridho, dalam tataran doa saja sudah terjadi konflik antar anggota tim kerja. Bayangkan, jika dalam tataran doa saja tidak cocok, bagaimana dalam aplikasi visi dan misi.
                Ada tantangan yang sangat penting bagi para pemimpin untuk bisa menyatukan persepsi dan membuat kesepakatan bersama mengenai tujuan bersama yang bisa dibangun. Kemudian dikembangkan dalam bentuk keikhlasan agar masing-masing pihak bekerja dengan baik pada bagiannya sendiri-sendiri.
                Ketika masing-masing anggota tim kerja sudah memiliki agenda dan tujuan masing-masing lalu melupakan tujuan bersama. Ketika anggota tim kerja hanya mementingkan dirinya sendiri. Ketika itulah waktu yang tepat untuk melepaskan mereka dengan damai.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 10 Juli 2017, dihalaman7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                                                                                Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

                                                                               
Previous
Next Post »