Berhenti Ketika Merasa Sudah Tahu

                SAYA beberapa kali menolak permintaan untuk memberikan Pelatihan di beberapa perusahaan. Penolakan itu terjadi karena setelah saya observasi, saya menemukan fakta bahwa si Pimpinan terlibat dalam pusaran permasalahan di dalam perusahaan tersebut tetapi  si pimpinan menolak untuk ikut dalam Pelatihan yang dibuat.
                Alasan penolakkannya adalah merasa sudah tahu apa yang akan saya berikan dalam Pelatihan tersebut. Saya menolak karena yakin tidak akan menyelesaikan masalah jika si pimpinan sebagai pusat pusaran permasalah tidak ikut dalam forum Pelatihan saya. Saya merasa pesimis Pelatihan itu akan berjalan dan menghasilkan sesuatu yang berarti.
                Saya selaku pelatih hanya bertemu dalam hitungan jam dengan para peserta Pelatihan, tetapi si pimpinan yang menolak itu sebenarnya hidup berkelanjutan dengan bawahannya.  Dalam Pelatihan itu, mestinya si pimpinan bisa melihat dan mengamati permasalahan dari sudut pandang lain. Tetapi karena si pimpinan menolak, maka saya pun memilih untuk mundur.

BERHENTI
SEBUAH kesalahan kebanyakan dari kita—pekerja dan pemilik bisnis—adalah berhenti ketika merasa sudah tahu. Ingat “merasa” itu bukan benar-benar tahu.
Dalam proses operasional perusahaan, saya masih bertemu dengan banyak manajer yang merasa tahu, lalu menggampangkan proses kerja dan akhirnya semuanya berantakan. Gagal dan merugi.
Yang sering saya sesalkan adalah proses “berhenti “ karena marasa sudah tahu ini bisa terjadi secara beregu, mulai dari manajer hingga petugas pelaksana dibawah. Anda bisa bayangkan ketika sikap menggampangkan ini dianut oleh seluruh personil dalam perusahaan. Kehancuran ada di depan mata.

MASTER
                Sebenarnya, posisi “tahu” itu baru akar sebuah proses. Belum apa-apa. Sekadar tahu, belum bisa dikategorikan master.  Proses tahu selanjutnya adalah “pemahaman”. Paham bukan berarti “bisa”. Kemudian, “bisa” belum sampai tahap mahir. Mahir pada level tertentu baru mencapai kelas master. Anda bisa bayangkan, jika seseorang hanya berhenti pada tahap tahu.
                Saya pernah berada dalam sebuah acara yang dihadiri banyak orang. Banyak tamu penting hadir dalam acara tersebut. Acara terpaksa tertunda hingga hampir 1 jam hanya gara-gara projector. Lucu dan menyedihkan. Semua orang merasa tahu bagaimana cara kerja projector itu. Sayangnya pengetahuannya hanya sekedar tahu, tidak memahami bahkan menguasai dan mahir dalam operasional projector.  Belasan  panitia berkumpul di depan panggung tanpa menghasilkan solusi yang jelas. Masing-masing mencoba-coba dan mengatakan “setahu saya….”.
                Semua orang di ruangan itu merasa projector hal sepele dan mudah. Semua orang berfikir asal pencet, maka bekerjalah alat elektronik itu. Itu bukti bahwa sekadar tahu tidaklah cukup.

PENGHAMBAT
                Orang-orang yang membudayakan berhenti ketika merasa sudah tahu saya yakin lebih cenderung menjadi penghambat kemajuan dari pada menjadi pendukung atau pelaku perubahan untuk kemajuan.
                Saya masih ingat kisah telur Colombus yang fenomenal. Colombus menantang orang-orang untuk mendirikan telur matang, semuanya gagal. Dan ketika Columbus menghentakkan ujung telur ke meja, maka bagian yang retak/pecah menjadi datar dan akhirnya bisa berdiri.
                Atas sikap Columbus itu, semua orang mengatakan, “kalau begitu semua orang pun tahu”. Benar aksi Columbus sangat mudah. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, setelah tahu, siapa yang melakukannya?.
                Tokoh-tokoh terkenal menjadi hebat bukan karena konsep yang sulit . mereka menjalankan hal-hal sederhana yang diketahuinya. Mereka tidak berhenti.
Banyak manajer merasa tahu bagaimana cara menaikkan omzet, tetapi sayang berhenti  sampai disitu.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 Oktober 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                                                         
                                                                      Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »