HANYA PENTING GOAL AKHIR?

BANYAK pengusaha, manajer hingga pelaksana yang dengan sombong mengatakan bahwa yang penting tercapainya target final sambil meminta agar tidak ikut campur atas prosesnya.  Pada skala tertentu, berfilosofi hanya perduli dengan tercapainya tujuan / goal / target akhir sebenarnya seperti mengundi nasib pada anak panah. Seperti berjudi tanpa kepastian.
Ketika pelaksana bisnis kita adalah manusia, yang selalu menyertainya adalah khilaf, lupa, tidak sengaja dan banyak alasan yang dicari-cari untuk menutupi kesalahan karena faktor manusia.
Mari kita buat ilustrasi, misal target final anda adalah mengirim makanan ke Istana Presiden di Jakarta, sementara anda berada jauh diluar Pulau Jawa. Jika anda hanya perduli dengan target akhir itu, anda bisa merasa sangat sial yang tidak bisa anda kendalikan lagi.
Pekerjaan pengiriman makanan itu melewati banyak proses mulai dari pembelian bahan baku, proses persiapan masak, proses memasak, proses uji kelayakan, proses packing, proses pengiriman ke airport kota anda, proses di terminal udara, proses di pesawat terbang, proses di terminal udara di Jakarta, proses transportasi dari terminal udara Jakarta hingga ke Istana Presiden, Proses masuk ke Dapur Istana, Selesai.
Jika anda hanya mau tahu bahwa makanan yang anda kirim sampai ke dapur Istana Presiden tetapi ada masalah pada proses no 4, maka proses 5 hingga 11 pasti serba salah dan sia-sia. Jika anda memiliki alat bantu kontrol pada setiap prosesnya, anda akan terselamatkan lebih dini dan tidak banyak kerugian lanjutan yang sia-sia. Jika Presiden yang anda kirimi makanan tersebut adalah diktator yang kebal hukum, anda akan di hukum penggal.

IKUT CAMPUR VS PERDULI
Yang sering dianggap penyakit olah bawahan adalah pimpinan yang terlalu ikut campur dalam semua tahapan proses. Yang dianggap penyakit oleh atasan adalah ketika bawahan tidak cukup serius bertanggungjawab dan cakap menjalankan setiap prosesnya.
Benar bahwa setiap lini tanggungjawab harus dilaksanakan dengan baik dan sempurna. Artinya memerlukan kecakapan dan kemampuan kerja yang unggul setidaknya untuk urusan proses pada bagiannya masing-masing. Jika ada bagian yang pincang, maka mata rantai proses akan hancur mulai dari pihak yang menyalah itu.
Harus ada sebuah cara agar keperdulian pimpinan tidak berkesan ikut campur dan serba mengatur. Yang pertama, harus ada kesepakatan goal apa yang mau dituju pada setiap lini. Ini adalah langkah menterjemahkan secara taktik dan operasional atas tujuan besar/strategis yang sudah ditetapkan pimpinan.
Kedua, terjemahan goal besar itu akan berubah bahasa ketika melewati banyak level tanggungjawab. Manajer mentejemahkan target tahunan menjadi target bulanan, supervisor menterjemahkan target bulanan menjadi target mingguan, lalu pekerja menterjemahkan terge mingguan menjadi target harian.
Ketiga; pihak yang sudah membuat goal yang jelas tersebut mengerjakan dan membuat sistem laporan serta analisa atas tanggungjawabnya.
Keempat, ada standard yang ditetapkan untuk menandai pekerjaannya sudah layak atau belum pada setiap bagian. Standard ini termasuk didalamnya prosedur, teknik, waktu, pelaksana dan semua hal yang berhubungan dengan pengerjaan tugas di bidangnya.
Yang terakhir, mengamati semua proses dan mengkoreksinya menjadi sederhana dan mudah adalah langkah cerdas. Jika standard dan target sudah di set pada semua lini terlaksana dan dievaluasi dengan baik maka anda sedang dalam proses menuju pengelolaan bisnis yang Auto Pilot. Selamat.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 9 Oktober 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »