Keributan Untuk Kebangkitan (Catatan Untuk Pelukis Hebat Sofyan Wiyadi)

                LUKISAN berkelas yang tidak dikenal hanyalah sebuah gambar dalam kanvas yang tidak berarti apa-apa. Sama seperti mutiara dalam lumpur. Saya tetap menganggapnya sebagai lumpur, hinga kemudian resmi menjadi mutiara, ketika sudah bergantung di leher perempuan.
                Saya menemukan ‘lumpur’ berharga ini pada sebuah galeri seni sederhana di sisi jalan utama kota kecil Sanur di Bali. Saya tertarik untuk berhenti karena ada beberapa lukisan dengan teknik lukis yang tidak biasa.
                Saya minta ijin untuk menikmati lukisan itu sejenak, hingga pelukisnya mendekat –yang kemudian mengaku sebagai Sofyan Wiyadi-- dan menyapa saya. Saya sampaikan apresiasi saya dan kami terlibat dalam pembicaraan seru.
                Pelukis handal yang sudah malang melintang dalam dunia seni, sudah berkali-kali menjadi pembicara di kampus-kampus besar, berkali-kali pameran, tetapi seperti terlipat dan terselip dalam tumpukan barang-barang usang. Tidak muncul dan tidak bersinar layaknya seorang maestro.
                Akhirnya saya membawa obrolan tentang teknik dan strategi pemasaran untuk menonjolkan diri bagi seorang artis pelukis seperti kang Sofyan Wiyadi (dalam facebook-nya tertulis Sofyan Wiayadi).

MEMBUAT KERIBUTAN
                Orang membeli lukisan karena beberapa alasan. Pertama; karena lukisan indah dan berkualitas. Kedua; karena pelukisnya terkenal. Ketiga; karena alasan lain yang tidak perlu kita bahas. Alasan pertama dan kedua, hanya bisa terjadi kalau pelukis dan lukisannya dikenal dan diketahui publik secara luas.
Atinya, diperlukan berbagai cara untuk membuat si pelukis dan lukisannya dikenal. Menggunakan media sosial , menggunakan media massa dan media promosi apapun memerlukan alasan untuk ‘dinaikkan’ sehingga pembaca/penonton/pendengar menerima pesan itu denga normal dan natural.
Duduk 45 menit di galeri Kang Sofyan, say menghitung sudah puluhan orang melewati kami, tetapi tak satupun berhenti dan menoleh ke lukisan-lukisan di galeri ini.  Untuk Kang Sofyan, saya menyarankan untuk melakukan aksi “menbuat keributan” agar terjadi kerumunan sehingga mencuri perhatian publik.
Saya menyarankan agar dibuat sebuah aksi melukis secara langsung di depan galeri dengan iringan musik tradisional Bali. Semuanya dibuat secara menonjol dan mengagetkan. Misalnya musik yang menghentak dengan suara yang menonjol. Lalu kanvas yang berukuran besar, hingga pakaian pelukis yang juga menonjol. Jika acara itu dilakukan sepanjang 2 jam, maka ratusan pasang mata akan berkerumun dan mulai  melihat dengan fokus. Disanalah kesempatan untuk menyampaikan pesan, bahwa Kang Sofyan adalah pelukis yang tidak biasa.
Acara itu bisa dijadikan alasan untuk pemberitaan di media massa, baik dalam bentuk cetak, tivi, maupun radio. Lalu bayangkan orang-orang yang mem-foto dan merekam dalam video melalui handphone masing-masing lalu mereka mengunggah di media sosial. Jika dilakukan setiap bulan, maka kang sofyan akan terkenal ke seluruh penjuru bumi .

TERLIHAT DAN TERUNGKIT
                Diperlukan pengungkit untuk bisa melejit. Salah satu yang bisa dilakukan Kang Sofyan, adalah dengan membuka kelas melukis. Dengan harga yang terjangkau, para turis yang tinggal cukup lama di lingkungan Sanur, akan menjadi sasarannya.
                Kelas melukis bukan sekedar menjual jasa mengajar, tetapi setiap murid dari kelas itu akan bercerita kepada jaringannya. Para Murid, Keluarga serta kawan-kawannya akan terkoneksi secara moral terhadap Kang Sofyan. Disanalah perjalan pengungkit terjadi.
                Lalu bayangkan jika para tokoh publik mengkoleksi lukisan Kang Sofyan, secara instant, Kang Sofyan akan bersinar dengan karya-karyanya. Semoga.
Artikel ini sudah diterbikan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 September 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »