Bisnis Keluarga Yang Sekarat

           SUATU sore di bulan November mempertemukan saya dengan seorang pengusaha yang memimpin bisnis keluarga warisan dari orang tuanya. Sore yang mendung itu mengantarkan kami pada sebuah rasa pedih batin sahabat saya itu karena dirundung pertengkaran dengan adik-adiknya yang sangat membutuhkan madu tetapi lebih senang menghancurkan sarang lebahnya.
            Kejayaan kerajaan bisnis yang dikibarkan pendirinya mulai pudar seiring meninggalnya si perintis. Kini kerajaan bisnis yang hampir karam itu dikelola dalam perang membara antar para pewarisnya.
            Dalam hening saya mendengarkan secara runtun kisah pilu itu. Tanpa komentar saya terus mendengarkannya. Menjelang magrib saya memberikan dukungan moral dengan memberikan beberapa masukkan.
            Kali ini saya tidak hendak menceritakan saran-saran yang saya sampaikan kepada sang abang. Tetapi saya ingin membagi kepada anda hal-hal yang menjadi penyebab keruntuhan sebuah bisnis karena faktor internalnya sendiri.

PERANG DOA
Ketika tidak ada ridho antar pengurus perusahaan, tidak akan ada kedamaian dan keindahan didalamnya. Dalam tataran doa saja masing-masing pihak sudah bertikai. Masing-masing memaksakan kehendaknya kepada Tuhannya.
Tidak terlihat secara jelas, tetapi terasakan aura yang negatif, gelap dan kasar. Suasana gersang penuh kecurigaan dan kecurangan terselubung.
Saudara tidak menjadi alasan yang baik untuk membuat teciptanya kerukunan. Kecemburuan dan ketamakkan menjadi makanan sehari-hari.
Ketika ridho tidak hadir, yang ada hanyalah perlombaan untuk saling membalas dan saling menjatuhkan. Memperebutkan dengan tidak baik sesuatu yang semestinya menciptakan kebaikan.

TANPA KONTROL
            Sibuknya para pengurus bisnis itu untuk saling menyerang dan menjatuhkan, menjadikan bisnis itu berjalan tanpa kontrol. Energi pengurus habis untuk mengintai kesalahan pengurus yang lain –yang sebenarnya saudara sendiri--.
            Dalam konsep auto pilot business, benar bahwa perusahaan bisa dibuat untuk bisa berjalan sendiri, tetapi tidak ada faktor kesengajaan meninggalkan tanpa pengawasan dan campur tangan pada level tertentu.
            Perusahaan dijalankan oleh pengurus yang tidak efisien dan efektif. Tidak ada rasa perduli terhadap proses yang bisa menghasilkan out put yang bisa membesarkan usahanya.
            Tidak ada langkah-langkah antisipatif atas perkembangan jaman dan tuntutan pasar yang terus berkembang. Dulu, benar usaha itu menjadi raja, tapi pertikaian itu menjadikannya perusahaan yang usang, lunglai dan mendekati ajalnya.
            Dalam situasi itu, pesaing tidaklah harus mengeluarkan energi besar untuk menjatuhkan perusahaan ini. tunggu saja sejenak, perusahaan yang sedang konflik internal ini akan karam dengan sendirinya. Akan ditinggalkan pasar dan dilupakan.
Pengurus hanya sibuk mendahulukan kepentingannya sendiri dan mengabaikan proses manajemen yang baik dan benar, laksana melepaskan setir mobil yang sedang melaju kencang. Tinggal tunggu tabarakan dan hancur.

BUTA
            Rupanya tak cuma cinta yang buta. Tapi kebencian justru lebih membutakan. Pengurus perusahaan yang hidup dipenuhi oleh prasangka dan merasa selalu terancam, kadang tidak sempat berhening diri mencari kesejatian.
            Memelihara dendam dan sakit hati laksana meminum air laut. Semakin banyak minum, semakin terserang dahaga.
            Sembari menuliskan artikel ini, saya berdoa untuk kebaikan si abang dan adik-adiknya. Berharap sekejap mereka tersadarkan oleh ridho Tuhan yang akan mengucur deras jika ridho diantara mereka tercipta.
            Ribuan pegawai dan jutaan orang --yang secara langsung dan tidak langsung akan mendapat efek dari perang saudara itu-- semestinya menjadi pertimbangan untuk menyisihkan ego pribadi yang tidak dewasa.
            Semoga kisah pilu ini tidak terjadi pada anda.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.



                                                Business Coahing & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Latest
Previous
Next Post »