JANGAN PERNAH MERUBAH (MENURUNKAN) TARGET

                BEBERAPA waktu ini, kita melihat langsung maupun melalui media publik pesta perkawinan puteri presiden dalam dua budaya, Jawa dan Mandailing. Saya pikir semua prosesi adat yang dilaksanakan memiliki makna-makna positif seperti semua upacara perkawinan adat dari seluruh Negeri. Ada banyak pesan tersirat yang mengingatkan hal-hal baik dalam kehidupan.
                Kita yang lahir dan besar dalam adat budaya Indonesia dengan kekayaan adat istiadatnya, meyakini bahwa doa-doa baik adalah sebuah harapan dan target positif untuk kebaikan kita sebagai manusia. target-target inilah yang mestinya menjadi acuan yang harus kita sasar dalam kehidupan kita.
                Dalam aplikasi bisnis, target adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki semua pelakunya. Bagi mereka yang berbisnis tanpa target, mereka sebenarnya hanyalah sebutir kelapa kering yang jatuh ke sungai, terhanyut dan terbawa arus kemanapun tanpa kepastian.
                 Target sudah semestinya dipatok pada posisi paling ideal, paling tinggi, paling besar, paling utama. Ketika target itu terlihat seperti mimpi, tak mengapa, karena kemudian kita dipaksa harus menterjemahkan mimpi-mimpi itu kepada cita-cita. Penterjemahan kepada cita-cita akan semakin tergambar, terukur, terjangkau dan logis. Penterjemahan itu akan mengantarkan kita kepada urutan-urutan capaian yang mudah dan  menyenangkan.

HAMBATAN
               Hidup bukan panggung sulap yang serta merta bisa dibalik atau dirubah segala sesuatu menjadi seperti apa yang kita mau tanpa proses logis. Hambatan dan proses perjalanan mencapai cita-cita adalah hal yang logis dan wajar untuk dilalui menuju capaian yang kita tuju.
                Disini proses seleksi alam bermain. Bagi siapa yang kuat bertahan, yang bisa melalui cobaan, yang bisa mengatasi rintangan, yang mampu menyelesaikan masalah, yang membuka rahasia ilmunya, yang tabah dan tekun terhadap ketidaknyamanan, maka keberhasilan adalah piala yang akan menjadi miliknya.
                Proses alamiah ini akan memilih siapa yang menang dan siapa yang kalah. Proses ini tidak serta merta membuat yang kalah mati. Tetapi karena tidak langsung mati secara fisik, banyak dari kita yang ketika gagal dan tidak mati, lalu merangkai berbagai alasan untuk menenangkan perasaan diri bahwa kita belum gagal.
              Upaya menenangkan diri kadang keterlaluan sehingga membuat kita tidak lagi termotivasi untuk berjuang lebih serius, tetapi memaklumi kelemahan diri dan tidak segera memperbaikinya.
              Salah satu teknik yang paling tidak terpuji –bagi saya—adalah ketika menurunkan target karena ketidakmampuan kita.

HARAM
                Sekali kita menurunkan nilai target yang sudah kita patok, lalu kita merasa baik-baik saja, disaat itulah kita sedang menjadi penghianat atas cita-cita luhur kita. Sekali kita menjadi tidak terganggu dengan praktek pengkhianatan  ini, maka kita akan melakukan lagi, lagi dan lagi. Dari sini, lama-lama kita tidak akan mencapai puncak keberhasilan, tetapi kita hanya menuruni lembah kehancuran tanpa kita sadari.
                Menurunkan standard target hanya karena kita terhambat, bukanlah sikap mulia. Itu sikap si kalah, si pecundang.
                Sejenak berhenti, sejenak membelok, sejenak mundur mestinya tidak masalah, tetapi tetap tidak pernah merubah target. Kita diberikan kebebasan untuk merubah strategi. Sangat boleh merubah teknik. Sangat boleh Merubah alat. Sangat bisa Merubah pasukan asal sekali lagi, jangan pernah merubah dan menurunkan target.
                Hambatan bukan alasan untuk berhenti. Hambatan adalah hal yang harus dihadapi. Disanalah kita dipaksa untuk lebih pandai, lebih mampu dan lebih habit. Jika tidak bisa dilewati, kita bisa melaluinya. Cobalah.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 27 November 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan menyebutan sumbernya

                                                         Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »