MENGELOLA PERUSAHAAN KELUARGA


            DI perusahaan saya ada beberapa kerabat yang bekerja didalamnya. Pertimbangannya sederhana; saya perlu pegawai dan kerabat saya mau bekerja. Hingga sekali waktu salah seorang diantaranya mengindikasikan ketidakbaikan untuk proses manajemen perusahaan saya.
            Kerabat saya ini datang suka-suka, tidak mau serius bekerja dan tidak menjadi bagian dari tim kerja yang baik. Dalam pikirannya dia merasa sedang bertamu di rumah saudaranya sendiri. dia merasa bahwa sebagai saudara mestinya dia mendapat keistimewaan.
          Akhirnya saya minta kepada manajer untuk menegur dan mengingatkan pegawai yang juga kerabat saya itu. Saya ingin dia Paham bahwa sebagai kerabat, apapun akan dilakukan untuk membantunya. Tetapi sebagai pekerja semestinya bekerja sesuai aturannya.
            Kerabat saya itu tidak paham bahwa semestinya menjadi pekerja yang juga kerabat harus bekerja lebih baik karena menyadari bahwa ia sedang bekerja di perusahaan kerabatnya, bukan malah merusak sistem yang harus berjalan.
            Saya berikan alternatif untuk keluar dari menjadi pegawai dan tetap menjadi kerabat. Dan sebagai kerabat saya tetap akan membantu sekuat saya.

MENUNTUT

Dalam perusahaan keluarga hampir semua keputusan dan urusan terkait emosi dan hubunga kekerabatan, jadi aplikasi konsep bisnis professional harus ditambah pendekatan khusus supaya tidak terjadi keributan dalam keluarga.
Kita dipaksa memilih antara keuntungan atau keutuhan keluarga, sebuah pilihan yang sulit. Belum lagi ketika manajemen direpotkan oleh sikap-sikap anggota keluarga yang bekerja dengan suka-suka.
Kadang mereka benar-benar tidak bisa membedakan peran antara keluarga dan bisnis. Sebuah sikap yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri.
Sangat bijak jika diberikan pemahaman kepada pekerja yang juga anggota keluarga bahwa bisnis itu adalah sarana untuk saling membantu. Membantu keluarga dan membantu dirinya sendiri.
Harus dengan jelas dan terang dipahami oleh seluruh anggota keluarga yang terlibat untuk bersikap professional dan tidak cengeng yang hanya menuntut untuk diperlakukan dengan baik, diberi prioritas dan kerja yang sesuka hatinya.
Pemahaman ini akan terbentuk lebih baik, jika perusahaan dikendalikan dengan sistem yang baik. Jangan biarkan rasa segan membuat kita tidak menciptakan aturan. Ketika sistem dan aturan dilaksanakan dengan baik, maka semua perselisihan dan permasalahan akan dapat diselesaikan dengan baik.
Jangan lupa, sistem yang baik ini harus dikomunikasikan dan mendapat persetujuan dari semua tim kerja termasuk anggota keluarga yang bergabung dalam tim tersebut.

MEMILIH TIM
Perusahaan pada umumnya, memiliki keleluasaan memilih tim kerja dari mana saja tanpa hambatan. Selama cocok dan tepat maka kita bisa merekrut siapa saja, kapan saja. Perusahaan keluarga umumnya hanya memiliki pilihan tunggal; hanya anggota keluarga.
Karena sumber pilihannya sempit, maka kadang dengan terpaksa kita mengangkat mereka dengan apa adanya yang kadang kurang sesuai dengan prasyarat yang harus terpenuhi untuk menjadi seorang pekerja atau manajer yang baik.
Disini kita terkena kewajiban untuk membuat Program Pengembangan Kemampuan untuk anggota keluarga. harus sudah ada langkah kongkret dari mereka kecil. Harus dilihat potensinya, diarahkan preferensinya, dipersiapkan pendidikannya dan dibangun kesepakatan ke depannya,
Jika perlu dicarikan mentor khusus untuk pengembangannya. Sangat direkomendasikan agar sebelum seorang generasi penerus diajak bergabung dengan perusahaan keluarga, sebaiknya dia disuruh bekerja dulu di perusahaan lain untuk belajar. Biarkan mengalami menjadi bawahan dan mengalami naturalnya sebuah perusahaan berjalan.
Jika kinerjanya sudah baik dan matang, panggilah kembali untuk mengurus perusahaan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.


                         Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »