Perusahaan Keluarga, Mengapa Tidak?

            SETELAH mendengar keluhan sahabat saya atas krisis dalam perusahaan keluarga yang dipimpinnya dan perebutan kekuasaan dan saling jegal diantara pengurusnya yang sebenarnya bersaudara, sahabat saya tersebut juga merasa prihatin, karena dibalik itu dia sedang merasakan keretakan hubungan kekeluargaan yang sebenarnya.
          Saya meyakini bahwa tidak semua perusahaan keluarga jelek dan tidak bisa berkembang. Di negeri ini sudah banyak terbukti bahwa perusahaan keluaga bisa berkembang dan bertahan lama. Jika pun banyak  yang gagal saya yakin faktor keluarga bukan satu-satunya penyebab dalam proses seleksi alam yang wajar terjadi.
       Adalah Fakta bahwa banyak keluarga (suami istri) yang memilih berbisnis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita menemukan hal ini di sekitar kita. ada yang membuat toko, ada yang membuat pabrik, ada yang membuat restoran dan lainnya.
         Sayangnya, bisnis keluarga yang dimulai oleh suami istri ini jarang yang bisa berkembang besar dan bertahan lama. Kebanyakan hanya bertahan sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
        Saya mencatat ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk menjalankan bisnis keluarga.

SATU NAHKODA
            Benar bahwa suami istri atau saudara berniat membangun bisnis untuk bersama dan dilakukan bersama-sama, tetapi harus ada kesepakatan yang jelas dan harus dipatuhi bahwa pimpinan hanya ada 1 orang.
            Kesepakatan itu harus dihormati dengan sungguh-sungguh. Jika ada kekurangan yang dimiliki oleh pemimpin yang ditunjukk, semestinya ada formula yang bijaksana untuk saling mengingatkan dan saling menguatkan. Wewenang harus dibagi dengan jelas dan tegas dengan aplikasi yang luwes. Ingat, tidak ada pembagian wewenang yang sama rata. Pemimpin hanya boleh 1 orang. Kalau wewenang dibagi rata, maka akan tercipta pertengkaran. Hal yang biasa terjadi antar saudara dan antara suami dan istri.
            Tantangan paling besar dalam pembagian wewenang adalah rasa hormat dan bersungguh yang kadang terabaikan karena merasa bahwa pihak lain toh saudara/keluarga yang pantasnya memaklumi jika seseorang saudara/keluarga yang lain membuat kesalahan.
            Sering terjadi dalam kepemimpinan yang di jabat oleh suami istri menghasilkan perintah-perintah yang saling bertentangan. Suami perintah A dan si istri perintah B. si suami berorientasi kepada peningkatan omset dan si istri lebih berorientasi kepada penekanan biaya.    Dan ketika si suami berusaha mati-matian menggenjot penjualan, si istri menahan penambahan pegawai penjualan atau berusaha menahan kenaikan gaji pegawai.

KAPASITAS
            Mengelola perusahaan dituntut kapasitas kemapuannya, bukan sekedar kepercayaan. Artinya, harus dipilih orang-orang yang kompeten, memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menjalankan bisnis tersebut.
            Jika pun terpaksa memilih anggota keluarga untuk menjalankan salah satu tanggungjawab dala perusahaan keluarga, pastikan mereka mendapatkan bekal Pendidikan, pelatikan dan coaching agar mereka bergerak maju dan bukan menjadi penghambat laju perusahaan.
            Carilah guru, coach atau mentor professional untuk membimbing anggota keluarga mencapai level kapasitas yang baik. Jika memiliki waktu yang cukup anggota kelurga yang akan bergabung, selayaknya ‘disekolahkan’ dahulu ke perusahaan-perusaan lain untuk mendapat pengalaman.
            Biasakan untuk menggunakan pendekatan bisnis yang professional didalam mengambil keputusan. Banyak business tools yang tidak dikuasai tetapi tidak dipelajari. Hindari sikap karena sekadar senang, atau faktor keengganan kepada saudara / keluarga yang lain.
            Sikap anggota keluarga mestinya berposisi sebagai pembela keluarga dengan bekerja lebih serius dari pada yang bukan keluarga, bukan sebaliknya. Perilaku manja dan tidak ingin bekerja dengan maksimal selalu menjadi penyebab kehancuran bisnis keluarga.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 11 Desember 2017, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.
           

                                        Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »