MENANTI DURIAN RUNTUH


                       ALKISAH ada sekelompok orang petani penggarap dikontrak untuk mengelola sebuah ladang yang cukup luas. Di ladang itu banyak pohon durian yang sudah mulai tinggi. Tugas yang diberikan kepada mereka adalah untuk menjaga ladang, dan mengelolanya sehingga menghasilkan keuntungan untuk pemiliknya. Atas pekerjaan itu mereka mendapatkan gaji bulanan yang pasti, mendapat tunjangan sosial lainnya dan kenyamanan bekerja lainnya.
               3 tahun setelah mereka bekerja, datanglah si pemilik untuk meninjau ladangnya. Betapa tekejut ketika didapatinya ladang dalam keadaan penuh semak belukar, tidak rapah dan bersih, kumuh dan penuh sampah. Tetapi ada yang lebih membuat si pemilik ladang terkaget setengah mati adalah ketika mendapati para pekerjanya semakin gembrot, malas bergerak dan hanya duduk-duduk merokok sambil bersenda gurau di bawah pohon durian.
                Ketika si pemilik ladang bertanya kenapa mereka bermalas-malasan begitu? Jawaban mereka sungguh membuat lemas si pemilik ladang. Mereka mengatakan sedang menunggu musim durian datang dan bauh duriannya akan berjatuhan. Dalam kalkulasi mereka, jika semua pohon itu berbuah dan buahnya bisa dibawa ke kota, maka si pemilik akan mendapatkan uang ratusan juta rupiah dan berar kemungkinan para pekerja itu akan mendapat bonus tambahan.
             Fakta yang ada adalah bahwa semua pohon durian itu masih dalam masa pertumbuhan dan masih jauh dari berbunga, apalagi berbuah.  Para pekerja terbuai andai-andai yang jauh dari kenyataan. Dan tak ada sedikitpun usaha para pekerja itu untuk memupuk dan melakukan perawatan semacam pemangkasan yang perlu agar potensi berbunga dan berbuahnya bisa datang lebih cepat.
                Sebegitu besar pesona durian runtuh dan angan-angan pemalas itu, sampai mereka sama sekali tidak melakukan pembersihan lahan. Tidak menyiram dan tidak melakukan apapun selain mendapat gaji tetap dan bermalas-malasan. Kini mereka gembrot hingga tak sanggup lagi mengangkat parang apalagi cangkul.

DURIAN RUNTUH
                Berharap ada keajaiban hendaklah tidak melepasan tapak kaki dari bumi. Biarlang angan-angan sampai ke bulan, tetapi kaki tetap jejak dialam nyata. Durian runtuh hanya sebuah keajaiban yang bisa diimpikan tetapi tidak bisa dijadikan harapan satu-satunya.
                Hitunglah, jika dalam 3 tahun para pekerja membersihkan ladang, lalu menanam jagung sambil menunggu durian runtuh, maka, semestinya mereka sudah 12 kali panen. Belum lagi jika mereka tanam pisang, ubi dan bibit sayuran lainnya. Mereka sudah mendapat bonus berlipat ganda tanpa durian.  Jika ladang dalam keadaan bersih dan terawat, bisa saja ada potensi bisnis lain yang bisa mendatangkan uang, seperti penyewaan lahan perkemahan dan lainnya.

LAMUNAN
                Dengan sedih saya bisa mengatakan bahwa begitulah tanda-tanda kehancuran sebuah bisnis ketika tim manajemennya hanya pandai berminpi. Hanya pandai berandai-andai seperti disetir oleh jin penunggu ladang agar tidak segera bekerja sekuat tenaga mengelola dan membuat hasil nyata dari ladang itu.
                Tidak sedikit manajemen perusahaan keluarga yang tidak rela menyerahkan tanggungjawabnya kepada mereka yang mengaku para professional karena professional yang lupa diri justru akan membuat perusahaan itu merugi dan mati.
                Mereka lupa bahwa rejeki itu harus di kais, nasib harus dibentuk dari keringat, bukan jatuh runtuh dari langit seperti durian. Mereka lupa bahwa untung besar itu datang dari yang kecil-kecil. Tak bisa mendadak besar dan hebat seperti mukzizat para nabi.
                Terjadilah tontonan siapa yang mendustakan nikmat Tuhannya.
Artikel ini sudah di terbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 5 Maret 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »