PERSAINGAN TANPA PESAING


                   SUDAH kita bahas pada artikel terdahulu tentang teknik dan semua aspek tentang pesaing serta cara mengambil jarak dengan pesaing. Tetapi saya merasa harus menyampaikan pemikiran sesuai dengan judul diatas.
                  Saya sebut persaingan tanpa pesaing, karena pada dasarnya, jarang ada produk atau bisnis yang benar-benar monopoli tanpa pesaing sama sekali. Tetapi ada satu praktek strategi yang menyisihkan kata pesaing dan persaingannya itu sendiri.
              Ada sebuah toko roti yang sudah bertahun bertahan dengan gaya dan model jadulnya. Berpuluhan toko roti yang modern muncul dan menjadi pesaingnya, bahkan ada 2 diantaranya yang dibuka perisi satu blok dengannya. Tetapi si toko tua itu masih tetap diburu pelanggannya bahkan mereka rela antri dengan fasilitas yang tidak senyaman toko-toko roti yang baru.
                 Saya begitu penasaran ingin mencoba mendalami konsep bisnis toko roti tua itu. Semakin dalam saya kenal, saya semakin terheran. Pemiliknya yang sudah paruh baya sungguh tidak pernah belajar manajemen bisnis. Tidak pernah belajar teori Pemasaran dan semua hal yang berhubungan dengan teknik dan strategi Pemasaran. Tetapi apa – apa yang dilakukannya bisa dipahami dan dilihat dari teori bisnis modern.

TEORI SENIMAN
                Secara sederhana saya menyebut konsep bisnis yang dianut pemilik toko roti tua ini sebagai “Teori Seniman”. Saya sebut dengan teori seniman karena seniman yang “terkesan” tidak komersial, biasanya Nampak tidak perduli dengan siapapun. Mereka tidak terganggu dengan seniman-seniman lain yang merupakan pesaingnya dan karya-karyanya.
Mereka fokus dan menikmati proses seni yang mereka lakoni sendiri. sehinga pada akhirnya karya seni yang mereka hasilkan terlihat sangat khas, orisinil dan dalam. Pada situasi inilah karya-karya masterpiece tercipta. Mereka adalah maestro.
                Pebisnis yang mengaplikasikan teori seniman ini biasanya menghasilkan produk yang khas, orisinil  dan relatif tidak terikuti oleh pesaingnya.

SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI
                Menjalankan teori seniman, tentu saja harus berlaku selayaknya seniman. Mereka benar-benar menjadi dirinya sendiri, tidak terpengaruh oleh tingkah polah pesaing dan kadang terkesan tidak perduli dengan kehendak dan kemauan konsumen.
                Aksi itu terjadi bukan karena kesombongan tetapi lebih karena mereka sudah merasa selesai dengan dirinya sendiri.  Aliran penganut konsep bisnis ini bahkan tidak merasa khawatir terhadap apapun. Mereka tidak khawatir rugi dan tidak laku, mereka tidak khawatir atas kesuksesan pesaing. Bahkan mereka tidak khawatir dengan situasi ekonomi yang melambat atau menjadi cepat.
                Mereka melihat pesaing dan konsumen hanyalah pribadi-pribadi yang istimewa, tidak mengancam dan harus dihormati sesuai kemampuannya. Mereka melihat pribadi-pribadi itu dari sudut pandang religius. Dan meyakini rejeki sudah diset oleh Tuhan dan tidak akan tertukar dengan siapapun.
                Konsekuensi logis dari aplikasi teori ini adalah nuansa cinta dan ketulusan serta aura percaya diri yang kokoh dan tidak tergoyahkan. Bisnis yang dijalankan dengan konsep ini tidak pernah menunjukkan rasa resah dan khawatir. Bahkan ketika bisnis itu harus tutup sekalipun, mereka tidak menjadi stress dan panik.
                Aplikasi teori ini memerlukan kekuatan yang luar biasa besar, karena memerlukan waktu yang cukup panjang untuk meyakinkan konsumen dan kekuatan pribadi yang kokoh. Diperlukan dedikasi kelas seniman dan seorang sufi untuk bisa bertahan dengan keterlibatan batin yang dalam sehinga bisnisnya tetap bertahan dan maju. Saya melihat tanda-tanda hubungan yang sangat dekat antara mereka dengan Tuhannya.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 12 Februari 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Business Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »