SELESAI, BAIK DAN BISA DIGUNAKAN


SEORANG pemborong bangunan rumah terkena damprat habis-habisan dari pemiliki rumah yang dibuatnya. Tidak cukup sekedar merasakan kesedihan yang mendalam, tetapi ia juga merugi secara keuangan karena si pemborong harus membayar semua biaya perbaikan belum lagi ditambah penalty karena keterlambatan penyelesaian proyeknya.
                 Alkisah si pemilik rumah mendapati rumahnya selesai secara fisik, tetapi situasinya tidak layak dari sisi keindahan dan teknis. Ada banyak kerusakan pada keramik lantai akibat tukang las tangga yang tidak menutup keramik ketika mereka mengelas tangga. Kerusakan keramik itu akibat cipratan las dan mengakibatkan luka-luka dan noda hitam tanpa bisa diperbaiki. Semua keramik mahal itu tergores-gores karena pekerja yang membawa pasir dan batu bata tidak membuat alas diatasnya.
                 Pada dinding rumah yang sudah dicat rapih, terlihat bekas pahatan tukang listrik dan ac yang memasang pipa ac dan kabel-kabel listriknya, dipasang asal-asalan, tidak rapih dan bergaris retak sepanjang pahatan.
                 WC duduk di kamar mandi lengket di dinding, sehingga tidak mungkin orang duduk dengan nyaman. Rupanya pekerjaan pemasangan pipa limbah beda dengan pekerja pasang WC duduk.
                Air hujan tergenang di lantai atas karena pipa buangan lebih tinggi dari lantai yang terpasang. Air hujan melimpah di talang karena pipa buangan lebih kecil dibanding volume debit air dan luasan genteng. Pipa air bersih terpasang diluar dinding, karena dinding sudah selesai sebelum pasang pipa air.
                Situasi di dapur tidak kalah hancurnya. Posisi meja kompor dan meja cuci piring setinggi dada orang dewasa. Bagaimana mau memasak? Dan cerobong asap dari atas kompor mengarah ke dalam ruangan dapur bukan keluar ruangan.
                Yang bisa dianggap lucu, adalah garasi mobil. Setelah selesai diabuat, mobil bisa masuk, tetapi pengemudinya tidak bisa keluar, karena waktu mengukur hanya menggunakan lebar bodi mobil, bukan ditambah lebaran bukaan pintu mobilnya.
               
SELESAI DAN BENAR
                Ini yang tidak terjadi didalam proses pembangunan rumah itu. Tidak salah jika si pemilik rumah merespon kejadian rumah itu dengan amarah yang sangat besar. lalu berakibat kepada kerugian yang mendalam, dari waktu, tenaga dan biaya plus sakit hati beramai-ramai.
                Lihatlah, semua pekerjaan selesai. Semua pekerja mengerjakan pekerjaan masing-masing dan terlihat selesai. Tetapi mereka lupa bahwa tujuan akhir adalah rumah itu secara keseluruhan bisa dipakai. Bukan sekedar selesai.
                Semua tukang disemua bagian – ac, listrik, pipa, kamar mandi, keramik, batu dll – bekerja sesuai bidangnya. Tetapi mereka tidak perduli dengan mata rantai dan urusan pihak lain. Mereka begitu egois yang penting selesai pekerjaan masing-masing. Dan tidak mau tahu dengan pekerjaan pihak lain.
                Kisah yang saya sebut diatas, bukan isapan jempol. Banyak sekali terjadi disekitar kita. bahkan itu terjadi juga dalam proses produksi dan manajemen di lingkup bisnis kita masing-masing. Dalam hal ini, pada proses produksi diatas selain faktor ego masing-masing, juga jelas tidak ada koordinasi dan pengawasan.
                Apalah artinya selesai tetapi tidak bisa digunakan? Apalah artinya selesai tetapi tidak benar? Pertanyaan inilah yang semestinya menjadi dasar kerjasama dan koordinasi antar bagian. Mesti ada kesadaran bersama kemana arah dan target bersama, bukan hanya target masing-masing.
                Disini harus tampil seorang pemimpin yang mampu mengendalikan semua tim kerja, semua bagian dan semua tahapan proses alur produksi sehingga tercipta produk dan jasa yang selesai, baik dan bisa digunakan.
Artikel ini sudah di terbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 12 Maret 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Business coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »