TENTANG PERENCANAAN (sekali lagi)


SAYA melatih anak-anak saya berbisnis. Proses Pelatihan yang saya berikan adalah dengan membiarkannya sampai mereka terbentur masalah, baru kemudian saya mengulurkan tangan untuk membantunya.
                Yang menarik dalam proses belajar itu adalah bahwa anak-anak saya ternyata belum bisa membedakan antara WISH (harapan) dengan GOAL/ target. Mereka terperangkap deskripsi abu-abu yang samar antara kedua kata tersebut. (dan saya menemukan banyak klien saya yang berada pada situasi yang sama).


                Wish / harapan saya klasifikasikan sebagai impian semata. Yang namanya impian sangat boleh tidak memakai ukuran. Bisa sangat besar, tinggi dan lebar atau sebaliknya, lalu tidak jelas kapan dimulai dan dicapai, siapa yang mengerjakannya dimana dan sebagainya. Nah, selama pemilik bisnis dan semual level manajemen operator bisnisnya masih berada dalam tataran ini, pasti tidak akan kemana-mana. Jebakan yang paling membuat orang malas lepas dari mimpi adalah bahwa mimpi tidak harus spesifik dan tidak harus detail, bisa suka-suka dan hanya membayangkan yang baik-baiknya saja.
                Goal/target sebenarnya mimpi yang lebih konstruktif. Ada kejelasan dan kepastian tahapannya, bisa diukur, bisa dianalisa, bisa dicapai dengan logis dan bisa diulang kembali kesuksesannya.

PERENCANAAN
                GOAL/target sebagai impian yang konstruktif dimasa yang akan datang adalah sebuah perencanaan. Perencanaan agar tidak hanya menjadi angan-angan selayaknya di tuliskan secara jelas, terperinci dan dinyatakan oleh pihak-pihak yang terlibat dan sepakat berjanji untuk merealisasikannya.
                Perencanaan yang tertulis dan disepakati sangat penting karena, pertama MENGURANGI KETIDAKPASTIAN.  Perencana yang baik akan melihat jauh kedepan, menafsirkan potensi-potensi perubahan yang akan terjadi, lalu menyiapkan langkah solisi menghadapinya.
                Yang kedua MENJADI PENGARAH. Dengan keputusan solusi masa depanini, perencanaan menjadi acuan, dan petunjuk perjalanan manajemen bisnis. Dengan perencanaan yang baik, semua karyawan mengetahui apa yang harus dilaksanakan dan mengetahui antisipasi apa yang diperlukan serta solusi apa jika ada pergeseran dari rencana itu sendiri.
                Yang ketiga MENGHILANGKAN PEMBOROSAN. Tanpa rencana, semua bekerja dengan kehendak masing-masing tak menentu, sehingga pada akhirnya terjadi penyia-yiaan waktu, biaya dan tenaga. Perencaan bisa memastikan semua sumberdaya bekerja dengan efisien dan efektif. Bahkan semua pihak bisa mengetahui dengan pasti potensi inefiensi yang akan terjadi.
                Yang keempat KONTROL dan EVALUASI.  Dengan perencanaan yang benar, kita tahu dimana posisi kita saat ini terhadap tujuan yang hendak dicapai. Kita bisa memindai kesalahan dan pemborosan yang sudah kita lakukan. Kita bisa tahu, kecepatan pencapaian target dan kita bisa melihat sejauh mana kita melenceng dari tujuan.
               
LEVEL PERENCANAAN
                Kesalahan terbesar kebanyakan pemimpin bisnis adalah hanya memiliki perencaan tunggal untuk semua level tanggungjawab. Serba disamakan beban manajer, supervisor dan pegawai pelaksana. Hal ini persis seperti memaksa prajurit untuk banyak berfikir. Tentu tidak bijaksana. Karena tugas prajurit hanya menembak atau ditembak. Tidak lebih.
                Prajurit yang dipaksa untuk berfikir, maka akan mengambil posisi pemimpin dan pada akhirnya, akan terjadi muncul banyak kehendak sebanyak jumlah prajurit dan biasanya berlawanan antara pimpinan dan bawahan. Disini banyak terjadi prajurit yang tidak bekerja tetapi hanya asik menilai kinerja atasannya. Karena mereka diberikan porsi untuk berfikir seperti atasannya.
                Dalam artikel berikutnya, akan saya bahas perbedaan antara perencanaan strategis, takstis dan operasional. Masing-masing perencanaan itu hanya untuk kewenangan dan tanggungjawab yang berbeda-beda. Mencampuradukannya akan berakibat penyakit kronis mematikan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 Maret 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

Business coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »