EKSEKUSI



                SERIAL tentang perencanaan sudah kita bahas. Sekarang kita bahas bagaimana mengeksekusi perencanaan yang sudah kita susun. Sebagian orang berfikir bahwa membuat rencana/goal sudah selesai kerjaan. Padahal itu belum apa-apa. Harus ada langkah pasti merealisasikan apapun yang sudah kita susun dalam perencanaan.
                Tantangan seputar perencanaan dan eksekusi biasanya adalah; yang pertama tanpa perencanaan strategis, eksekusi akan membabi buta atau malah tidak ada aksi karena tidak ada tujuan dan panduan yang dituju. Yang kedua; tanpa eksekusi, perencanaan strategis hanyalah mimpi disiang bolong.
                Yang ketiga; 30% eksekusi yang salah terjadi karena salah perencanaan/goal setting. Keempat; 70% kegagalan rencana strategis adalah karena buruknya eksekusi. Kelima; membuat rencana strategis tidak memerlukan waktu yang panjang, tetapi ekekusinya sepanjang tahun.
                Yang keenam; perencanaan strategis yang bagus adalah yang juga memikirkan bagaimana eksekusi dilaksanakan dikemudian hari.

ROMANTISME EKSEKUSI
                Saya sebut sebagai romantisme, karena disini terlibat karakter manusia pelaksananya. Banyak hati dan pikiran yang terlibat, tersakiti, atau tersenangkan. Semua kembali kepada pribadi masing-masing dalam hal respon yang dipilihnya.
                Yang sering terjadi adalah, pertama; bernafas “sejenak” setelah selesai membuat perencanaan. Sebutannya sejenak, tetapi jika itu terjadi dalam hitungan bulan, sudah pasti energy yang dibutuhkan akan lebih besar lagi. Yang lebih parah adalah ketika karakter manajernya yang kurang bijaksana dan merasa bahwa membuat rencana strategis adalah pekerjaan berat.
                Yang kedua; eksekusi yang kelelahan karena kehilangan fokus. Gangguan-gangguan dalam sistem kerja, situasi perpolitikan kantor yang tidak kondusif atau situasi eksternal yang terlalu diambil hati.  
Yang ketiga; eksekutor menjadi gamang, karena tidak tahu apa yang hendak dilakukan. Eksekutor tidak memperkaya diri dengan ilmu dan ketrampilan yang diperlukan atau tidak ada tuntunan yang jelas kemana harus melangkah.
                Yang keempat; Tidak ada alat ukur pencapaian dan tidak tahu kearah mana yang akan dituju.  Biasanya kesesatan ini terjadi karena goal yang tidak spesifik, tidak terukur, tidak jelas waktu dan tidak jelas ukurannya. Ngambang dan terlalu normative.
                Alat ukur itu harus menjadi alat pantau tingkat efektifitas dan harus efisien. Alat pantau harus menjadi alat bantu, bukan pemberat beban.
                Yang kelima dan paling penting adalah faktor manusia pelaku eksekusinya. Sikap dan karakter pekerja sangat mempengaruhi bagaimana eksekusi dilakukan. Pribadi-pribadi yang tangguh, loyal, berdedikasi dan berkomitmen adalah syarat penting untuk suksesnya eksekusi.
                Inti dari manajemen adalah pengelolaan manusia. Dalam hal ini mungkin saja seorang manajer berada dalam jajaran pekerja yang pemalas dan tidak produktif, tetapi semua dari mereka juga manusia biasa yang berpotensi besar untuk berubah menjadi baik.
                Tidak menutup kemungkinan seseorang tidak cocok dengan sang manajer, mereka bukan tidak potensial, tetapi mungkin potensinya lebih cocok diaplikasikan di tempat lain. Pindahkan saja.
                Yang terakhir, semua eksekusi bisa berjalan dengan baik, jika semua pihak sudah terlatih dalam bekerjasama. Sama seperti ketika beberapa orang sudah berkawan lama, mereka saling kenal dan saling tahu kelemahan dan keunggulan kawannya. Bahkan seorang kawan bisa memahami situasi kesulitan kawan yang lain ketika kawan yang lain mendadak tidak banyak bicara seperti biasanya dan kawan yang mengetahui itu dengan sigap merespon.
                Kesetaraan kemampuan kerja pada semua lini eksekusi menjadi penting agar alur eksekusi berjalan imbang dan rata. Disini perlu peningkatan kapasitas yang terencana, terstruktur dan berkelanjutan.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 9 April 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »