Generalis VS Spesialis


                PAGI ini saya diundang untuk menjadi pembicara pada sebuah seminar nasional di salah satu kampus terbesar di Sumatera. Penitia meminta saya untuk membahas generasi millennia dan tantangannya dalam kontek energy terbarukan. Saya bukan pakar dibidang energy, dan memang bukan domain saya disana. Akhirnya saya melihat satu celah besar yang sangat mungkin saya masuki mengingat peserta seminar adalah mahasiswa yang ditempa untuk menjadi para spesialis khususnya dalam hal energy terbarukan.
                Celah yang saya lihat adalah fakta bahwa sebegitu banyak penelitian dan penemuan bertumpuk di laboratorium kampus. Sayangnya hanya sedikit yang akhirnya menjadi sebuah projek dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Mengapa begitu?

SPESIALIS
                Biasanya peneliti adalah para spesialis. Mereka fokus kepada pecahan-pecahan kecil atas sebuah bidang besar yang saya sebut sebagai aplikasi temuan. Ilustrasinya begini; jika sebuah mobil dibagi menjadi bagian-bagian spare-partnya, maka ada ribuan unit alat yang berada didalamnya. Kesemua alat itu akan berujud mobil setelah digabungkan menjadi satu.
                Sebutlah salah satu alat tersebut adalah setir. Khusus untuk masalah stir ini, sudah beratus kali penemuan dan perbaikan yang dilakukan khusus oleh ahli setir. Hingga muncul cabang-cabang ilmu spesialis stir, misal dari ahli hidrolik, otomatisasi, sistem kendali, hingga ahli kayu khsusu untuk handle stir tersebut.
                Jika untuk masalah stir saja sudah terbelah menjadi banyak sub spesialis, coba bayangkan dari ribuan alat dan perlengkapan yang harus ada dalam satu buah mobil. Artinya ada bekerja ribuan peneliti yang melakukan itu.
                Selain tantangan menemukan hal-hal baru yang bermanfaat, tantangan terberat dari para peneliti adalah hasilnya yang besar kemungkinan akan berhenti hanya sampai karya tulis atau jurnal saja. Itu terjadi jika para peneliti itu bekerja sendiri-sendiri. Tanpa upaya integrasi dan tata kelola jaringan para peneliti, maka tidak akan terjadi integrasi yang baik untuk menjadikan sebuah setir mobil yang bagus, berkualitas, ringan kendali dan ramah dengan pemakainya.
                Tempat bagi para spesialis adalah dunia kerja, dibayar untuk mengerjakan hal-hal khusus yang merupakan bagian kecil dari sebuah matarantai bisnis. Jika peluang karir ada, biasanya para spesialis ini hanya mungkin sampai level kepala departemen yang khusus dibidangnya. Walau tidak menutup kemungkinan sebagian kecil dari mereka menjadi pemimpin umum yang tidak lagi mengurus hal-hal spesialis.

GENERALIS

                Mereka yang mengelola integrasi itulah yang saya maksud dengan para generalis. Mereka adalah orang-orang yang sengaja melebarkan perhatian untuk mengurus yang tidak spesialis. Mereka mengelola hasil-hasil penelitian dan hal pendukung lainnya untuk menjadi sebuah bisnis.
                Para generalis inilah yang menyatukan semua bidang spesialis sehingga menjadi sebuah tim. Para generalis inilah yang akhirnya membawa hasil semua kerja para spesialis menjadi sebuah produk dan sistem yang layak dijual.
                Tempat para generalis adalah level manajer atau justru pemilik bisnis itu sendiri. Jika para spesialis tahu sedikit hal tetapi sangat mendalam, para generalis banyak tahu tetapi dangkal saja.

SPESIALIS YANG GENERAL
                JIka anak muda berencana menjadi spesialis, Kemampuan keharusan yang mestinya dimilikinya adalah cara berfikir yang general, menyeluruh dan holistic. Sangat penting jika para peneliti mempelajari kebutuhan pasar, ilmu Pemasaran, ilmu keuangan dan akuntansi, ilmu manajemen produksi dan sebagainya. Hingga jika waktunya datang, mereka tidak saja memperbanyak hasil penemuan yang tidak terpakai, tetapi justru bisa menjadikannya bernilai uang.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 23 April 2018, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
                                               

                                      Business Coaching & Training; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »