it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

19.12.07

perkembangan per tgl 16 desember 2007, project rumah ibu salmiah di hamparan perah

Salam,
Saudaraku yang baik, mohon maaf terjadi keterlambatan laporan perkembangan project ibu Salmiah dai Hamparan Perak. Ini terjadi karena ada beberapa hambatan yang bisa dilewati.

Sejak 2 minggu yang lalu semua project fisik sudah selesai, tinggal konsep pemberdayaan ekonomi bagi keluarga tersebut., yaitu;

pembelian kambing
pembuatan karamba untuk pelihara ikan
pembuatan kandang untuk pelihara bebek

ikan dan bebek terakhir kita putuskan karena lahan untuk bercocok tanam sudah tidak ada lagi, dan yang ada hanya lahan bekas galian pasir yang berisi air disekitar rumah mereka. Semoga Tuhan memberkati, setelah selesai hari raya kurban, kita akan mulai membeli kambing untuk mereka.

Foto yang terlihat dibawah ini adalah gambaran teras dengan meja dan kursinya. Dan disisi kanan rumah terlihat kandang kambing yang mampu menampung 2o ekor kambing.











inilah kandang kambingnya, beridiri disamping rumah diatas genangan air kolam bekas galian pasir yang rencananya untuk pelihara ikan.










dibawah ini foto ruang makan beserta meja makannya.






mereka sudah mulai mengenal kompor, walau masih lebih senang memasah memakai kayu bakar.

Terlihat dibawah adalah rak piring dan laci penyimpan makanan. (sudah lengkap peralatan masak, piring dan gelas yang bukan plastik) dan meja belajar untuk si amat.







kasur springbed yang diberikan tidak dipakai semuanya, karena mereka memerlukan penyesuaian (terlanjur terbiasa tidur ditanah), dan memerlukan sedikit pelatihan untuk menggunakan sheet/sprey diatas kasur.








Share:

Lihat masa depan dari rekaman sejarah (manajemen umum)



tulisan ini sudah dimuat di harian waspada pada hari senin 17 desember 2007, pada halaman bisnis dan teknologi

“Sekarang musim apa ya?” Musim hujan atau musim kering? Apakah anda bisa menentukannya? Sehingga anda bisa menentukan rencana pekerjaan di luar ruangan atau pekerjaan bercocok tanam.
Cara modern yang termudah tentunya telephone ke kantor BMG atau mengunjungi situs BMG melalui internat dan anda akan mendapat jawaban yang cukup akurat. Lalu bagaimana orang “dulu” menetukannya?
Waktu saya kecil, ayah memberitahukan bahwa setiap menjelang musim kemarau, dedaunan mulai rontok. Itu terlihat jelas pada pohon mahoni dan jati. Berikutnya disusul oleh berkembang biaknya jangkrik di sawah-sawah. Jendela untuk mengetahui kita memasuki musim kemarau adalah sarang laba-laba. Pada musim kemarau sarang laba-laba akan terbentuk secara horizontal. Menjelang pergantian musim, ayah sering menyebutnya masa pancaroba, masa dimana terjadi perubahan-perubahan kelima elemen semesta karena perubahan musim. Menjelang musim hujan, terjadi perubahan pola angin, awan dan suhu tanah. Sarang laba-laba pada musim hujan berubah, tidak lagi horisontal tetapi menjadi vertikal.
Karena di Pulau Jawa sering terjadi gempa bumi, ayah juga pernah memberikan petunjuk untuk membaca tanda-tanda alam jika akan terjadi gempa bumi. Misalnya hewan-hewan peliharaan akan menjadi panik, stress dan ingin lepas dari kandangnya. Lalu binatang-binatang hutan segera turun gunung dengan bergegas dan beberapa tips lainnya.
Bagaimana ayah saya bisa mengetahui tanda-tanda itu? Ternyata semua itu tercatat dalam Primbon, almanak yang merupakan sumber infomasi yang berdasarkan penelitian, pengamatan dan pencatatan tiada henti selama jangka waktu yang sangat lama.
Menginjak dewasa, saya mulai membaca beberapa referensi yang membawa saya kepada kesimpulan bahwa pengamatan dan pencatatan adalah hal penting sehingga bisa digunakan untuk merencanakan sesuatu.
Dalam praktikal bisnis, pengamatan, pencatatan dan pengolahan catatan tersebut adalah hal penting sehingga bisa “membaca” waktu (“masa lalu, kini dan masa depan”).

CATATAN
Mencatat adalah hal penting dalam praktikal bisnis, karena dengan catatan itu akan meringankan beban pikiran dengan mengingat-ingat. Kapasitas otak kita cenderung ada batasnya. Jika otak kita penuh dengan data, maka kita akan menjadi bebal bahkan seperti kosong tidak penuh kreasi.
Catatan adalah rekaman sejarah sehingga suatu saat kita bisa menggunakannya sebagai acuan melihat kedepan. Contoh sederhana, menjelang akhir tahun 2007 ini, kita harus sudah bisa membaca kinerja tahun 2008. Apa yang akan terjadi dengan bisnis kita tahun depan? Lini mana yang akan memberikan keuntungan? Seberapa besar keuntungan itu? Kepada pasar yang mana kita harus menfokuskan pendekatan? Dan berbagai hal yang bisa menjadi acuan kerja kita di tahun yang akan datang.
Disini, catatan yang bisa mempermudah keputusan bisnis adalah catatan yang bernuansa statistik. Yaitu kumpulan data berupa figur/angka yang menggambarkan tingkat atau volume atas objek dimaksud. Ujung dari pengolahan data ini, adalah petunjuk-petunjuk.

STATISTIK
Kita boleh menghendaki petunjuk apapun demi keputusan kita. Bisa berupa gambaran daya beli pasar kita, bisa berupa gambaran tingkat keberhasilan kerja, tingkat kepuasan pelanggan dan berbagai hal lain yang penting. Kehebatan petunjuk itu sangat tergantung dari kelengkapan pencatatanya. Untuk bisa mendapatkan petunjuk yang akurat dalam rentang waktu tertentu, kita harus memiliki catatan lengkap dari masa ke masa lain sesuai dengan kebutuhan atas petunjuk tersebut.
Catatan dibawah ini adalah sebuah rekaman atas penjualan sepeda motor disalah satu agen kecil di sudut kota Medan, sejak tahun 2004 hingga 2006.



Dari rekaman tersebut diatas bisa dibaca total penjualan, rata-rata penjualan tiap bulannya, catatan naik-turunnya penjualan setiap bulannya, bulan-bulan positif dan bulan-bulan negatif. Lalu rata-rata penjualan tiap tahunnya dan tingkat peningkatan penjualan tiap tahunnya.
Dari data tersebut, kita bisa memperkirakan berapa kita akan mematokkan perkiraan penjualan tahun berikutnya, alokasi stok barang tiap bulannya, rencana promosi pada bulan-bulan tertentu yang selalu minim penjualan dan merencanakan rencana aksi penjualan sepanjang tahun depan.
Dari rekaman tersebut, kita bahkan bisa memastikan berapa jumlah pegawai yang ideal, berapa ukuran show-room yang pas, apakah memerlukan gudang dan apakah perlu penambahan produk berupa spare-part dll.
Jika ada data tambahan pelengkap, seperti nilai rupiah atas penjualan tersebut, cara pembayaran dan tingkat usia pembayaran serta berbagai catatan lain, seperti asal pembeli, cara pembeli mengakses agen ini, kecenderungan warna yang digemari pembeli, bentuk-bentuk keluhan yang sering muncul dan berbagai data lainnya, maka manajer agensi ini akan sangat mudah memutuskan perencanaan pendapatan dan rencana kerja tahun berikutnya.

REALITAS
Permasalahan klasik dalam praktek bisnis skala mikro, kecil dan menengah adalah kurangnya data statistik internal dan eksternal sehingga mereka tidak memiliki jawaban atau petunjuk atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, misalnya; berapa harga jual yang pantas untuk tahun depan? Berapa keuntungan kita selama ini? Barang apa saja yang laku? Dimana barang-barang itu laku? Siapa pembeli kita? Kapan saja terjadi peningkatan pembelian? Kapan saja terjadi penurunan penjualan? Berapa pegawai kita perlukan? DLL.
Yang membuat rasa sakit menjadi lebih parah karena sekadar tidak mendapatkan jawaban, tetapi juga karena memang banyak pengusaha yang tidak memiliki catatan apapun tentang hal-hal yang ditanyakannya itu. Sudah saatnya kita memindahkan beban pikiran ke kertas, biarkan pikiran setengah kosong agar terbuka kepada kreatifitas dan analisis yang sempurna lalu jadikan rekaman itu sebegai bukti sejarah yang akan sangat berguna nantinya.

Permasalahan klasik dalam praktek bisnis skala mikro, kecil dan menengah adalah kurangnya data statistik internal dan eksternal sehingga mereka tidak memiliki jawaban atau petunjuk atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, misalnya; berapa harga jual yang pantas untuk tahun depan? Berapa keuntungan kita selama ini? Barang apa saja yang laku? Dimana barang-barang itu laku? Siapa pembeli kita? Kapan saja terjadi peningkatan pembelian? Kapan saja terjadi penurunan penjualan? Berapa pegawai kita perlukan? DLL.
Yang membuat rasa sakit menjadi lebih parah karena sekadar tidak mendapatkan jawaban, tetapi juga karena memang banyak pengusaha yang tidak memiliki catatan apapun tentang hal-hal yang ditanyakannya itu. Sudah saatnya kita memindahkan beban pikiran ke kertas, biarkan pikiran setengah kosong agar terbuka kepada kreatifitas dan analisis yang sempurna lalu jadikan rekaman itu sebegai bukti sejarah yang akan sangat berguna nantinya.
Share:

Didia Rokkapi? (segmentasi – marketing)



Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 10 desember 2008 di halaman bisnis dan teknologi

… …
Mangoli da amang nimmu tu au (menikahlah anakku itu katamu)
Dang na so olo au inang (bukannya aku tidak mau ibu)
Alai didia rokkapi (tetapi diamana jodohku)
Didia rokkapi (dimana jodohku)
... …
Paboa ma tu au (Beritahukanlah kepadaku)
Didia rokkapi...(dimana jodohku…)


Musik dan syair yang ‘minor’ ini benar-benar menghimpit perasaan lalu mengantarkan kita kepada pemahaman betapa kepedihan itu amat berat bagi seorang anak yang ingin berbakti kepada ibunya tetapi belum juga mendapat jodoh seperti yang diharapkan ibunya. Sebuah sayatan tajam mengiris relung batin terdalam dan meninggalkan luka terperih.
Lagu berbahasa Batak yang sering terdengar disemua kedai-kedai tuak itu menggambarkan sebuah pencarian yang tiada berujung. Sepertinya Jodoh adalah sesuatu yang gaib dan tersimpan entah dilangit yang mana. Bahkan pertanyaan Didia rokkap hi –dimana jodohku?—menjadi penutup kesempurnaan derita yang dibawa lagu sedih itu.
Bukan hendak saya menjadi melo dan sok romantis, tetapi jeritan-jeritan serupa sungguh sering saya dengar dari banyak pelaku bisnis yang tersesat saat mencari-cari ‘jodoh’ bagi produknya. Mereka tidak tahu, siapa sebenarnya pasar mereka, siapa yang akan membeli produknya, bagaimana cara memasarkannya?
Apakah bisnis anda juga tersesat? apakah ‘belahan jiwa’ tidak juga ditemukan? Apakah karena itu anda terpaksa menjaja cinta dijalanan tanpa tahu kepada siapa hati harus dijatuhkan.

JODOH
Produk kita semestinya dibeli oleh pembeli yang pas. Jodoh! Seperti yang kita harapkan. Jodoh yang pas tanpa cela (kalau bisa). Lalu, bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan pembeli yang pas? Terlalu Banyak gadis atau janda yang ada, tapi siapakah yang akan duduk bersanding dipelaminan?
Untuk memudahkan pemahaman yang benar, konsep pemasaran memerlukan sebuah studi riset yang nantinya akan sangat berguna di dalam menentukan siapa jodoh kita. Riset tersebut akan memilah-milah dengan teliti seperti kita memilih tomat ukuran A, B atau C. Riset itu akan menyeleksi siapa-siapa yang tepat menjadi sasaran kita. Penyeleksian itulah yang saya sebut sebagai segmentasi. Sebuah langkah mengelompokkan objek berdasar acuan tertentu.
Tanpa studi itu, kita akan mengeluarkan energi yang berlebihan dengan hasil yang tidak menjamin. Ibarat memberondongkan peluru banyak-banyak dan berharap salah satunya akan mengenai sasaran.
Dalam praktek keseharian banyak sekali praktisi pemasaran yang tidak tahu dengan media apa dalam menyampaikan pesan. Ada yang merasa beriklan di koran sudah cukup. Ada yang memaksa diri membuat billoard, ada yang latah membuat brosur dalam bahasa inggris dll.
Kalatahan karena ketidaktahuan juga melanda banyak pelaku pemasaran dengan mengejar outlet-outlet modern tanpa mengetahui efektifitasnya. Kelatahan itu juga melanda banyak pengusaha yang bermimpi agar produknya menembus pasaran ekspor, walaupun kadang-kadang itu tidak perlu.

SEGMENTASI
Inilah langkah penting untuk mengetahui jodoh kita. Untuk memastikannya, anda memerlukan langkah survey/riset. Lupakan riset-riset yang memusingkan seperti mengkilapya kepala proffesor pintar itu. Lakukan riset sederhana saja. Kuncinya, anda hanya perlu bertanya dan temukan jawabannya. Hanya itu.
Carilah datra; siapa target kita yang cocok dengan produk dan harapan kita. Dimana lokasi mereka tinggal, usia, jenis kelamin, suku bangsa, agama, bahasa, pendidikan, pendapatan, daya beli, status perkawinan, dll.
Jawaban atas pertanyaan tersebut pasti akan membimbing anda kepada pemahaman siapa pasar anda yang benar dan pas. Lalu kembangkan pertanyaannya kepada hal-hal yang sifatnya lebih personal. Seperti; preferensi gaya hidupnya, preferensi sexualnya, preferensi hiburan dan preferensi politik pilihannya, preferensi menggunakan alat komunikasi dll.
Lalu ketahuilah alasan menggunakan jasa/produk kita itu karena apa? Apakah karena kebutuhan dasar, kebutuhan gaya hidup, atau karena alasan lain. Singkap tabir cara mereka mendapatkan produk kita; apakah dengan membeli langsung, melalui agen, atau pinjam dari orang lain.
Untuk memastikan media massa yang digunakan oleh pasar kita, cari tahu media apa yang mereka baca/dengar/tonton. Kapan mereka berhubungan dengan media itu, berapa lama dan bagian mana yang menarik dari media tersebut.
Jangan berhenti disitu, gali lebih detail sedalam-dalamnya. Setiap produk memiliki karakter pasar yang berbeda. Saya contohkan produk makanan, maka tambahan detail yang diperlukan adalah mengetahui bagaimana perilaku pasar terhadap makanan utama,makanan sampingan, makanan ringan, makanan jajanan dan makanan untuk oleh-oleh.
Ikuti dengan; dimana mereka memakannya di restoran, di bawa pulang (dibungkus), atau minta diantar; kapan mereka makan? (hari-hari apa saja, jam berapa saja dll). Jika mereka makan ditempat, model layanan apa yang dikehendaki; formal, popular atau kedai informal. Model Eropa, Asia atau lokal? Mereka lebih memilih lokasi, kualias makanan atau hiburannya?

KAWIN
Jika semua pertanyaan tersebut diatas sudah terjawab, pasti kita sudah mendapatkan gambaran yang jelas, siapakah jodoh kita. Kita tahu dimana mereka berada dan semua hal mengenai mereka. Itu sangat cukup untuk mendapatkan mereka, menyampaikan surat cinta penuh sanjungan mematikan, bekenalan, bertunangan dan akhirnya kawin.
Ingat, kekuatan hubungan yang sudah ‘diatur’ ini berada dalam ‘jiwa’ hubungan tersebut. Jiwa yang hampa dan hambar tanpa cinta jelas akan menjadi komoditi yang tidak akan bertahan lama. Perceraian adalah akhirnya. (tentang love mark sudah saya bahas ditulisan terdahulu)
Saya harap jeritan-jeritan pencarian jodoh tidak lagi terjadi dengan pemahaman ini. Kekuatan komunikasi sangat penting untuk membangun hubungan yang mampu bertahan lama diantara godaan-godaan dunia. Bolehlah kita teramat cerdas, tetapi berkomunikasilah dengan bahasa mereka. Ingatlah selalu cara anda memanggil ayam walaupun anda seorang profesor yang teramat pandai.
Share:

4.12.07

kabar baik dari project ibu salmiah di hamparan perak

Salam,

Saudaraku yang baik, berkat doa dan dukunganmu, inilah kabar terbaru proses pembangunan rumah ibu salmiah di hamparan perak.

Foto2 ini saya ambil pada tanggal 25 november 2007.

Sebelum lihat foto, ada kabar bagus.

Sore Hari ini, 28 novemmber 2007. sudah terpasang 6 set spring bed di rumah ibu salmiah, lengkap dengan 8 bantal dan kelengkapan lainnya.
hari jumat besok, 30 november 2007, direncanakan sudah terpasang 3 set lemari pakaian, 1 set meja belajar/serbaguna (4 kursi) di teras, 1 set meja makan oval ( 6 kursi), 1 set rak piring (dengan laci sbg lemari makan)
hari minggu 01 desember 2007 adalah finalisasi pekerjaan pagar teras dan meja untuk dapur
Hari minggu 01 desember 2007 adalah finalisasi pekerjaan pembuatan kandang kambing

Baiklah saudaraku, dibawah ini adalah foto dinding bangunan yang sudah di cat. Pada awalnya kita berfikir tidak memiliki cukup dana untuk membeli cat, jadi agar tidak cepat keropos dan termakan rayap, team teknis melapisi dinding kayu dengan solar. Akhirnya, setelah di cat putih, hasilnya tidak cukup maksimal, tetapi menjadi lebih bersih dan terlihat asri.








seperti terlihat di foto, semua aktifitas serba di lantai karena memang belum ada kursi.
Dibawah ini adalah aktifitas pembuatan kandang kambing di sebelah kiri rumah mereka.

Pembelian kambing kami tunda hingga lewat hari raya idul adha, karena harga kambing saat ini melejit teramat tinggi.




suadaraku yang baik,

hingga saat ini sepertinya semua kebutuhan ibu salmiah dan keluarga sudah terpenuhi. Kecuali beberapa hal kecil seperti

4 buah lampu kapal (minyak)
8 buah handuk
1 buah radio transistor kecil bertenaga baterey

saya yakin kita bersama-sama akan mampu menyelesaikan project ini dengan baik dan segera.

Sekali lagi mohon doa restu dan dukungannya.

Sampai laporan selanjutnya.





yang tercecer

dalam rapat koordinasi dengan team teknis dilapangan akhir minggu yang lalu, saya mendapatkan informasi yang sedikit membuat kaget=

menurut koordinator team lapangan, selama sebulan ini, mereka hampir tidak pernah melihat keluarga itu memasak makanan di tengah hari, apalagi ada aktivitas makan pada siang hari. Keluarga ibu salmiah selalu baru mulai memasak makanan pada pukul 4 sore. Saat team lapangan pulang jam rata-rata pada pukul 17.30, mereka belum juga pernah melihat mereka makan. Artinya kami berasumsi bahwa keluarga ibu salmiah hanya makan 1 kali pada sore hari dan sarapan pagi ala kadarnya
.



Setelah rapat, saya mencoba menilik ke dapur, memang tidak ada terlihat beras atau bahan makanan lain, lalu saat memeriksa dinding kamar untuk tempat lemari pakaian, saya melihat satu karung plastik berisi 15 Kg beras yang saya ingat saya berikan 2 minggu sebelumnya. Saya belum berani bertanya, bagaimana meraka makan untuk kelangsungan hidupnya.


Semoga Tuhan senantiasa hadir dirasa lapar yang ‘dilupakan’ itu...
Share:
Selamat pagi,

Saudaraku yang baik, kemarin ada yang terlupa. saya mendapat amanah untuk menyampaikan pesan dari Sewubah (14 thn), anak ibu salmiah yang ke 8 yang masih sekolah di kelas 6 SD kepada anda.

Awalnya mereka meminta saya untuk mengucapkan terimakasih kepada anda, tentu akan lebih bagus kalau mereka sendiri yang menyampaikannya langsung kepada anda. Lalu saya usulkan agar mereka menulis surat.

Dari kesekian anak yang ada, akhirnya Suwebah-lah yang memberanikan diri menuliskan perasaan terimakasihnya.

Berikut tulisannya=





saat itu, saya duduk di tanggul teras sambil melihatnya menulis surat. Ini yang terlihat dari posisi saya kala itu




suwebah terlihat kelelahan setelah menuliskan surat itu, entah karena kelegaan yang memuncak setelah mengeluarkan perasaannya, atau karena ia harus jongkok dan menulis di lantai semen sekitar hampir setengah jam karena memang belum ada meja dan kursi di rumah itu.

Saya berharap amanah ini tersampaikan kepada saudaraku yang budiman.
Share:

Cuma dedaunan dan rerantingan(manajemen strategis)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 03 desember 2007

Mohammad Sofyan, seorang petugas kolektor diperusahaan saya memiliki harta peninggalan berupa beberapa pohon rambutan,di kampungnya Desa Selesai, sekira seisapan rokok jaraknya dari kota Binjai kearah utara.
Dalam perhitungannya, setiap tahun pohon ini berbunga mulai awal bulan Agustus dan bisa dipanen pada akhir September atau awal Oktober. Perhitungan ini tidak pernah meleset, kecuali hasilnya yang tidak pas. Semakin tahun semakin sedikit buahnya.
Sofyan menyadari bahwa pohon rambutan itu makin tua, berkompetisi dengan waktu. Ia sadar bahwa harus ada langkah tertentu yang harus dikerjakannya. Mulai dari memberikan pupuk, memangkas ranting tua dan memperhatikan dengan iklas seperti merawat anak sendiri. Sayangnya Sofyan tidak memiliki kekuatan yang dasyat untuk menggerakan dirinya mengerjakan segala yang dipikirkannya. Hal-hal lain seperti pekerjaannya, rumah tangga, dan hobbynya menyerap semua energi yang juga cukup besar. Memang ia tetap mendapatkan uang dari pohon-pohon itu, tetapi untuk memastikan pohon itu memberikan hasil yang lebih optimal jelas sering terlupakan olehnya.
Dalam sebuah obrolan, saya bertanya mengapa ia biarkan pohon-pohon itu. Ia pun mengiyakan pertanyaan saya. Lalu tanpa pancingan serius, ia pun menjelaskan kesalahan-kesalahannya yang tidak cukup memelihara pohon itu demi hasil yang lebih maksimal. Diantara kelelahan pikirannya atas pohon itu, terpikir pula untuk menebangnya dan menghilangkan perasaan bersalah untuk sudah menelantarkan pohon-pohon itu.
Sambil memperhatikan kejujuran Sofyan, bermunculan beberapa nama sahabat-sahabat dengan perusahaan warisan orang tuanya atau perusahaan sendiri yang sudah lama dikelolanya. Persis seperti yang dialami Sofyan dengan warisan pohon rambutannya.

GAMANG
Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasi itu. Manajemen bisa tersudut hingga posisi yang gamang, tidak jelas apa yang dipikirkan, diharapkan dan yang akan dikerjakannya. Hasil penjualan yang semakin menurun, tetapi memupuk dan memangkas tidak juga kunjung dikerjakan.
Dalam kasus pohon rambutannya, Sofyan lebih sering meminta anaknya untuk menyapu dedaunan dan rerantingan yang kering yang rontok ditanah. Meminta orang-orang untuk tidak mencangkul dan membuang sampah di bawah pohon rambutannya sambil berharap agar tahun ini hasilnya akan meningkat. Sofyan sampai pada kondisi gamang yang mematungkan dirinya. Karsanya melemah hingga tidak tahu lagi mengapa ia tidak juga mengerjakan apa-apa yang seharunya ia kerjakan.
Tanpa saya minta –dalam obrolan yang cenderung monolog itu —Sofyan berjanji kepada dirinya sendiri untuk segera memberikan pupuk dan memangkas ranting-ranting tua yang sudah tidak lagi bisa menghasilkan tunas untuk berbunga dan berbuah.
Sembari saya iyakan, ia juga mengatakan bahwa ia harus sanggup menunggu dua atau tiga tahun agar cabang baru akan muncul dan produktif setelah dipangkasnya. Memang menurutnya itu akan mengurangi hasil pada tahun pertama dan kedua setelah pemangkasan, tetapi ia yakin bahwa pada tahu ke tiga, ia akan mendapatkan buah yang lebih banyak dibanding produksi beberapa tahun ini.

STRATEGIS & TAKTIS
Dalam kasus Sofyan, perencanaan memberikan pupuk dan memangkas adalah langkah strategis. Langkah itu harus diputuskan atas dasar kesadaran penurunan produksi yang dihadapi, gambaran hitungan yang jelas serta rencana produksi yang akan terjadi atas langkah-langkah strategis itu.
Masih dalam komponen strategis, ia harus memastikan tata letak pohon, jarak antar pohon dan potensi arah akar pohon. Lalu ia harus memastikan orang-oranya agar mampu melakukan pemupukan dan pemangkasan yang benar. Bagi saya, proses pengerjaan pupuk dan pemangkasan adalah pekerjaan taktikal yang tidak harus dikerjakan sendiri oleh Sofyan.
Perkara strategis yang sering terlupakan dalam praktek bisnis modern adalah kenyataan bahwa kita sering lupa bahwa kita memerlukan perencanaan yang tepat dengan dasar data yang akurat. Lalu kita juga sering lalai untuk memastikan tujuan bisnis kita secara jelas. Saat kita tidak bisa secara detail dan gamblang atas tujuan dan target kita, sudah pasti kita akan berjalan tanpa arah tujuan. Lalu jelas saja team pendukung kita juga akan meraba-raba seperti berjalan didalam kegelapan.
Perkara strategis yang lain adalah manakala kita tidak memiliki panglima-panglima handal untuk membantu meringankan beban kita. Kalau lagi-lagi kita menggunakan manajemen ‘kedai sampah’ dengan gaya kepemimpinan one man show (semua serba kita sendiri yang mengerjakannya) pasti cepat atau lambat kita akan mencapai anugerah tekanan batin dan stress yang berkepanjangan. Jika tidak, setidaknya kita berjalan menggali makam kita sendiri.

SEKADAR DAUN DAN RANTING
Bolehlah Sofyan menuntut anggota team kerjanya untuk bisa menyapu daun dan ranting kering, menyiram dan memberi pupuk. Tetapi kalau Sofyan tidak menyadari bahwa yang dibutuhkannya adalah buah yang banyak dan besar, maka Ia akan sibuk dengan hal-hal yang tidak penting.
Bulan penghujung tahun seperti ini layak untuk merenung dan memastikan tahun depan tidak lagi tahun yang gelap, tetpi tahun yang jelas dan terang, sehingga mudah dilalui dengan baik.
Dalam pencarian kesejatian Miyamoto Mushasi (tokoh samurai legendaris Jepang), ia mengejar dan mengemis kepada Godo—seorang guru Zen yang masyur--, ia mengikuti guru itu kemanapun pergi tanpa jawaban yang memuaskan. Suatu saat menjelang musim gugur dalam upaya pengejaran itu Mushashi berteduh disebuah gerbang kuil di tepi Danau Biwa. Di dinding gerbang itu ada papan dengan tulisan kata bijak;

Saya mohon, cobalah temukan sumber asasi.
Pai-yun tergerak oleh jasa Pai-ch’ang;
Hu-ch’iu kecewa atas ajaran peninggalan Pai-yun.
Seperti para pendahulu kita yang agung,
Janganlah hanya memiliki dedaunan,
Atau menyibukkan diri dengan rerantingan

Pernah Musashi seperti menghiba ia meminta pencerahan dari guru Zen ini, tetapi tetap saja tidak ada wejangan yang panjang lebar kecuali satu kalimat, “Cuma dedaunan dan Rerantingan”. Dan akhirnya ia menyadari bahwa ia terlalu sibuk dengan bayang-bayang, bukan intinya.
Share:

26.11.07

memilih bbm sesuai kondisi kendaraan

Mobil atau Motor kita baiknya diisi bensin apa ya? Ada pilihan bensin yaitu Premium, Pertamax dan Pertamax Plus yang merupakan produk Pertamina, dan ada juga bensin jenis lain dari perusahaan asing seperti Shell dan Petronas. Semakin banyak lagi pilihan kita.
Mesin mobil maupun motor memerlukan jenis bensin yang sesuai dengan desain mesin itu sendiri agar dapat bekerja dengan baik dan menghasilkan kinerja yang optimal. Jenis bensin tersebut biasanya diwakili dengan angka / nilai oktan (RON), misalnya Premium ber-oktan 88, Pertamax ber-oktan 92 dan seterusnya.
Semakin tinggi angka oktan, maka harga per liternya pun umumnya lebih tinggi. Namun belum tentu bahwa jika mengisi bensin ber-oktan tinggi pada mesin mobil/motor kita, kemudian akan menghasilkan tenaga yang lebih tinggi juga. Wah jadi bagaimana dong?
Jika kita cermati spesifikasi kendaraan kita (mobil atau motor) pada brosur yang baik akan menampilkan informasi rasio kompresi (Compression Ratio / CR). CR ini adalah hasil perhitungan perbandingan tekanan yang berkaitan dengan volume ruang bakar terhadap jarak langkah piston dari titik bawah ke titik paling atas saat mesin bekerja. terlihat pada foto, bahwa CR mesin mobil Timor DOHC S515i adalah 9.3 : 1

Dari informasi spesifikasi brosur tersebut, kita bisa menentukan bahwa mesin mobil timor tersebut memerlukan jenis bensin yang bernilai oktan 92, yaitu bensin Pertamax.
Bagaimana jika diisi bensin dengan oktan lebih rendah?
Bensin dengan oktan rendah lebih mudah terbakar. Semakin tinggi nilai CR pada mesin artinya membutuhkan bensin bernilai oktan tinggi. Mesin berkompresi tinggi membuat bensin cepat terbakar (akibat tekanan yang tinggi), yang akan menjadi masalah adalah, ketika bensin terbakar lebih awal sebelum busi memercikkan api. Saat piston naik ke atas melakukan kompresi, bensin menyala mendahului busi, akibatnya piston seperti dipukul keras oleh ledakan ruang bakar tersebut. Kita sering mendengar istilah “Ngelitik” (pinging/knocking). Bagaimana menggambarkan ‘kejam’nya ngelitik yang dirasakan piston? Ibarat telapak tangan kita ditusuk2 dengan paku… kira-kira begitu. Perlahan namun pasti.. membuat piston seperti permukaan bulan… dan bahkan bisa bolong!.. hiiii….

Saat terjadi ‘ngelitik’, bensin tidak menjadi tenaga yang terpakai. Kerja mesin tidak optimal. Kembali diulang, mesin yang CR nya tinggi, memerlukan bensin yang lambat terbakar. Semakin tinggi nilai CR, bensin harus semakin lambat terbakarnya (oktan tinggi).
Nah, jadi untuk teman-teman, cermati nilai CR mesin mobil/motor kita (bisa intip pada daftar di bawah), isilah bensin yang sesuai untuk mesin tersebut.
Bagaimana kalau diisi bensin dengan oktan lebih tinggi?
Bensin dengan oktan lebih tinggi (pertamax, pertamax plus, dsb), umumnya dilengkapi dengan aditif pembersih, dan sebagainya. Namun tidak banyak memberi penambahan tenaga, jadi angka oktan tinggi bukan artinya lebih ‘bertenaga’.
Karena benefitnya kurang sebanding jika dibanding harganya yang tinggi, maka ujung-ujungnya hanyalah merupakan pemborosan uang saja.
Kesimpulan:
- Dianjurkan mengisi bensin sesuai nilai rasio kompresi. (kecuali ada modifikasi lain).
- Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin semakin lambat terbakar (dikarenakan titik bakarnya lebih tinggi).
- Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin lebih sulit menguap (penguapan rendah)
- Bensin yang gagal terbakar (akibat oktan terlalu tinggi), bisa menyebabkan penumpukan kerak pada ruang bakar atau pada klep.

Solusi Alternatif
Banyak cara untuk menyiasati agar bisa menggunakan bensin Premium pada mesin yang ber-CR tinggi, namun mesin tidak mengalami ‘ngelitik’, antara lain:
- Menambahkan Octane Booster pada bensin (dimasukkan ke tangki bensin)
- Menggunakan katalis untuk menaikkan nilai oktan (biasanya mengandung timbal, tidak ramah lingkungan).
- Merubah derajat waktu pengapian (ignition timing) ke posisi yang lebih lambat (Retard).
- Menggunakan aplikasi water-injection (agak repot untuk perawatannya).
- dan lain-lain.
Fakta…
Pada kenyataannya.. banyak kita lihat, khususnya di SPBU, motor-motor baru yang berkompresi tinggi mengantri panjang di pompa bensin jenis Premium. Faktor ekonomi lebih mendesak ketimbang dampak rusak ke depan pada mesin motornya.. atau memang kurangnya informasi mengenai pemilihan bensin ini.

Berkat bantuan banyak teman baik dari beberapa milis, saya coba kumpulkan dan sajikan daftar Rasio Kompresi untuk mobil dan motor berbagai merek. Atas segala keterbatasan dan kekurangan saya, mohon maaf apabila mobil atau motor Anda belum terdaftar, bagi yang mempunyai data untuk melengkapi silahkan tambahkan pada kolom komentar.
Tabel di bawah sengaja di beri warna, sesuai dengan bensin yang direkomendasi.
semoga bermanfaat!

sumber = tidak diketahui
Share:

21.11.07

surat ucapan terimakasih dari suweba, anak ibu salmiah

Selamat pagi,

Saudaraku yang baik, kemarin ada yang terlupa. saya mendapat amanah untuk menyampaikan pesan dari Sewubah (14 thn), anak ibu salmiah yang ke 8 yang masih sekolah di kelas 6 SD kepada anda.

Awalnya mereka meminta saya untuk mengucapkan terimakasih kepada anda, tentu akan lebih bagus kalau mereka sendiri yang menyampaikannya langsung kepada anda. Lalu saya usulkan agar mereka menulis surat.

Dari kesekian anak yang ada, akhirnya Suwebah-lah yang memberanikan diri menuliskan perasaan terimakasihnya.

Berikut tulisannya=




saat itu, saya duduk di tanggul teras sambil melihatnya menulis surat. Ini yang terlihat dari posisi saya kala itu




suwebah terlihat kelelahan setelah menuliskan surat itu, entah karena kelegaan yang memuncak setelah mengeluarkan perasaannya, atau karena ia harus jongkok dan menulis di lantai semen sekitar hampir setengah jam karena memang belum ada meja dan kursi di rumah itu.



Saya berharap amanah ini tersampaikan kepada saudaraku yang budiman.
Share:

20.11.07

rumah ibu salmiah sudah selesai 95 %

Saudaraku yang baik,

Seperti janji saya minggu yang lalu berikut saya sampaikan laporan perkembangan project rumah ibu salmiah di hamparan perak. Per tgl 18 november 2007

Bangunan utama, kamar mandi, wc, dapur, gudang dan teras sudah selesai.

Adapaun pekerjaan lanjutan adalah penambahan pagar teras, pengecatan dan pelengkapan isi rumah.
Untuk penambahan pagar teras dan pengecatan, kita hanya membutuhkan tambahan senilai Rp. 480.000,-

Untuk perlengkapan isi rumah, yang perlu dibeli adalah;
meja belajar (1 buah)
meja makan (1 buah)
kursi untuk belajar dan makan (8 buah)
lemari pakaian (2 buah)
lemari makan (1 buah)
rak piring (1 buah)
radio transistor (1 buah)
lampu ting (4 buah)
untuk kelengkapan ini, kita memerlukan tambahan dana senilai Rp. 4.630.000,-
karenanya, kami masih membuka kesempatan bagi siapapun yang berkenan memberikan dukungan untuk project ini.

sementara kebutuhan yang lainnya (seperti daftar terdahulu) sudah terpenuhi dari para donator yang Budiman.

Ini denah rumah yang sudah terbangun




ini tampak depan samping, yang memperlihatkan pintu dapur dan teras















ini kamar tidurnya (mohon maaf matras/kasur masih sedang dalam perjalanan)



karena belum ada lemari pakaian, saat ini pakaian menumpuk di kamar



ini ruang makan/dapur bersih yang kebetulan belum ada meja dan lemarinya. Tetapi di sudut ruangan sudah ada tempat shalat.















ini rak piring sementara ini














dibawah ini adalah kamar mandi dilhat dari belakang











ini isi kamar mandi (wc, sumur dan bak mandi)

















ini dapur untuk memasak. masih terkesan kumuh, karena tidak ada meja untuk meletakkan bahan masakan dan alat masak







saudaraku yang baik, sekali lagi saya dan team kerja mengucapkan terimaksih atas perhatian dan dukungannya.

Seperti saya sampaikan diatas, untuk bisa myelesaikan rumah ini, kami masih memerlukan dana tambahan senilai Rp.5.110.000,-



Saya perlu sampaikan bahwa ada beberapa tawaran bekerja untuk Irawati (17 thn), tetapi yang bersangkutan sungguh tidak berani menerimanya. Ia ternyata pernah mencoba bekerja menjadi pembantu rumah tangga tetapi hanya 2 hari ia nangis2 minta pulang. Itu terungkap kini, karena ternyata irawati panik dan bingung. Jangankan untuk membersihkan meja, melihat benda itupun belum pernah ia alami seumur hidupnya. Konon melihat berbagai perlengkapan dapur yang terbuat dari kaca dan keramik. Kami sudah mencoba memberikan pengertian, tetapi hingga kini kami belum berhasil meyakinkannya. Untuk itu, mohon maaf kepada saudara-2ku yang sudah memberikan tawaran itu.

Untuk pekerjaan pembuatan kandang kambing, direncanakan akan dimulai minggu depan. Dari dana yang tersedia, kita memerlukan tambahan Rp.670.000,- lagi.

Jangan ragu untuk mengirimkan derma anda walaupun itu hanya senilai satu bungkus rokok saja. Sepertinya, kami sudah mulai sampai titik sulit.

Mohon maaf mengganggu kalian dan terimakasih atas pengertian, dukungan dan bantuannya

Salam
Cahyo pramono
0811638383
Share:

Meniru Negeri Peniru (sdm)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian Waspada, pada tgl 19 November 2007 pada halaman bisnis dan teknologi.

SELAMAT pagi pembaca yang budiman. Saya berharap pagi ini Anda merasakan kebahagiaan seperti yang sedang saya rasakan. Selain karena berkah Tuhan yang tiada henti, saya kebetulan sedang teramat bahagia karena saya menemukan sebuah buku yang sudah lima tahun saya mencarinya.
Penasaran yang tiada henti untuk mendapatkan buku itu terpicu oleh mentor saya –Frank Ong-- yang tinggal di kota kecil Zoetermeer di sisi tengah barat negeri Belanda. Lima tahun yang lalu ia menyebutkan ada sebuah buku bagus dengan judul “The book of five rings” yang pernah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul “Kitab lima cincin”.
Sudah saya jelajahi lebih dari 11 toko buku kenamaan termasuk didalamnya 4 toko dengan jaringan internasional. Tetapi tetap saya tidak menemukannya. Jaringan rekanan di beberapa kota besar juga tidak cukup membantu. Jaringan internet sebagai gudang maya yang terbesar di jagat ini juga tidak cukup membantu. Referensi yang saya dapat seringkali hanyalah komentar-komentar orang-orang yang beruntung sempat membaca buku itu.
Sampai akhirnya mentor saya mengakui bahwa saya sudah berjuang untuk mendapatkannya dan akhir bulan lalu ia menghadiahkan “The book of five rings” versi bahasa inggris koleksi pribadinya. Bergetar saya membukanya, buku ini sudah amat tua, ia beli pada bulan juli tahun 1977. lebih bergetar lagi karena mengetahui ternyata si Musashi, menuliskan buku ini di abad 16.
Sekadar gambaran, Musashi adalah seorang Samurai, prajurit berpedang ganda yang melegenda di Negeri Sakura ratusan tahun silam. Ia terlahir menjadi seorang kesatria yang tangguh dan memenangkan berbagai pertempuran. Puluhan orang mati ditangannya. Hingga akhirnya ia menyadari kesejatian sebuah kemenangan. Lalu sebelum malaikat maut menjemputnya, Musashi sempat menuliskan pemikiran dan keyakinannya dalam lima buku yang merupakan sebuah kesatuan dengan judul versi bahasa indonesianya “Kitab Lima Cincin”.
Pengalaman bertempur, strategi dan pandangan hidup Musashi sungguh aplikatif terhadap konsep bisnis modern. Kitab itu begitu transparan menggambarkan situasi negeri Jepang kala itu. Negeri Jepang sudah lama terkenal dengan kemajuan yang luar biasa diantara negara-negara Asia lainnya.
Lalu bercermin dari keadaan itu, saya mengamati ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari dari sana. Bagaimana mereka bisa sukses? Seorang Romi Satria Wahono yang pernah 10 tahun tinggal disana ada mengamati 10 hal penting atas sukses mereka. Berikut ulasannya;

KERJA KERAS
Bukti bahwa pekerja jepang adalah pekerja keras adalah bahwa rata-rata mereke bekerja 2.450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang.
Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian tiket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.

LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun
Share:

15.11.07

Cahaya kecil buat saya

Sauadaraku yang baik, minggu ini saya banyak diluar kota, sehingga belum sempat mengunjungi project pembangunan rumah ibu salmiah di hamparan perak. Mohon maaf jika email ini tidak dilengkapi dengan foto-foto perkembangan yang terakhir.

Yang pasti, team teknis kini sudah tidak lagi bekerja karena semua bangunan dari teras, rumah utama, dapur, kamar mandi, wc, sumur, tempat shalat, tempat masak, gudang dan jemuran pakaian sudah dikerjakan.

Saya berencana untuk mengunjungi project itu akhir pekan ini. Semoga senin berikutnya sudah ada kabar yang lebih bagus untuk kalian.

terimakasih
Sungguh saya dan semua anggota team kerja dengan sepuluh jari mengucapkan terimakasih atas budi baik kalian semuanya. Semua dukungan dalam bentuk doa, saran, dana dan tenaga sungguh menyadarkan kami (semua anggota team kerja) betapa kehendak Tuhan sulit di pahami dengan kapasitas logika kita yang serba terbatas. Ketidakmungkinan menurut alam pikiran kami ternyata bukan hal mustahil bagi Tuhan.

Ada keanehan2 sederhana yang kami pikir jelas diluar logika kami.
1. dalam waktu segera kita bisa mengumpulkan sekian jumlah dana
2. dalam waktu segera kita bisa mendapatkan lahan yang bisa digunanakan
untuk tinggal oleh keluarga ibu salmiah, tanpa harus membeli
3. dalam waktu yang segera kita menemukan team kerja yang sanggup bekerja secara sukarela
4. dalam waktu yang segera kita mendapatkan tukang yang bersedia dibayar dengan anggaran minimal
5. dalam waktu itu juga kita menemukan suplier yang bisa memberikan kredit jika kita membutuhkan bahan bangunan dan belum ada danaya.
6. semangat ini justru menyebar ke semua anggota keluarga team teknis. Setiap hari libur, mereka datang untuk ikut membantu pekerjaan fisik, membawa makanan dan berbagai dukungan lain.
7. banyak kawan-kawan yang pada akhirnya tersadar, bahwa sesulitan dan kesengsaraan yang mereka derita ternyata tidak seberapa dibanding yang dialami keluarga ibu salmiah.

Inspirasi
Saya sungguh simpati dan takjub dengan beberapa donatur yang serta-merta memberikan dukungan dengan jumlah yang lumayan besar. Lalu saya beranikan diri untuk ngobrol dengan sebagian dari mereka. Ini yang saya dapatkan dari mereka;
1. Membayar zakat mal (bagi yang muslim) adalah kewajiban, jadi pembayar zakat bukanlah orang yang dermawan. Ia hanya menjalankan kewajiban saja. Ia disebut dermawan jika sudah mampu memberikan derma/infak/sadaqoh/hibah/hadiah diluar zakat yang ia tanggung.

2. Siapa yang tidak membayarkan zakat mal, adalah maling. Pencuri dan perampok atas hak orang lain yang dititipkan Tuhan melalui dirinya. Mereka itu juga yang tidak melakukan ritual pernyataan (melalui pembayaran zakat) mana bagian Tuhan (untuk fakir miskin dll) dan mana bagian untuk dirinya. Karena itulah banyak orang yang makin hari, makin berkurang harta-bendanya.

3. Berderma dengan iklas dan penuh syukur adalah logika Tuhan untuk membuka pintu rejeki lebar-lebar bagi kita mahlukNya. Logika saya sebelumnya adalah menerima banyak dan memberi sedikit akan memberi kesempatan kita untuk cepat kaya. Tapi ternyata jalan yang dikehendakiNya tidaklah demikian. Dia mengenal aturan dasar yang berbeda dengan pola pikir logis kita. menurutNya, memberi lebih banyak akan membuka pintu rejeki jauh lebih lebar. Aturannya yang lain dalam hal pencerahan finansial adalah dengan memberi terlebih dahulu, maka kita akan memanennya suatu saat nanti. Sayangnya Saya sendiri pernah suatu waktu berjudi dengan Tuhan. Saya meminta sesuatu dengan janji, saya akan mengerjakan pekerjaan amal tertentu jika saya mendapatkan apa yang saya minta dari Tuhan. Apakah mungkin Tuhan akan mengurus orang yang sesombong saya mengatur dan mengiming2kan sesuatu ke Tuhan jika Ia memberi permintaan kita?

4. Berderma dengan memberikan yang terbaik adalah indikasi tingkat keyakinan kepada Tuhan.
ini kisah yang benar saya alami;
Dalam obrolan dengan orang budiman itu Ia berkata “saya sedang belajar untuk selalu memberikan yang terbaik yang saya punya, saya mulai dengan berusaha memberikan pecahan uang terbesar di sompet saya jika ada kotak sumbangan di depan saya”.

Saya pikir itu hal sederhana, tetapi saat saya sendiri menghadapi kesempatan itu, saya sempat gagal. Sehari setelah pertemuan itu saya pergi ke kota Parapat dan sempat shalat di sebuah mesjid di perjalanan. Saya merasa benar-benar terbodoh saat mempraktekan konsep memberi yang terbaik seperti dalam obrolan diatas. Hampir 2 menit saya terpaku didepan kotak infak (sumbangan) dengan beberapa lembar ditangan. Saya ingin mempraktekkan memberi pecahan terbesar dari uang yang ada dikantong saya. Setelah 2 menit, saya kalah. Saya memang memberikan bukan yang terjelek, tapi jelas bukan yang terbaik.

Sepanjang perjalanan saya itu, saya merasa bersalah dan berdosa. Bukan karena nilai uangnya, tetapi saya baru tersadar ternyata saya sudah melewati masa berbahaya. Masa dimana saya tidak yakin dengan kasih sayang Tuhan. Masa dimana saya khawatir Tuhan tidak akan menolong saya. Saya sempat khawatir bagaimana jika ada apa2 dijalan dan uang saya tidak cukup? Bagaimana dengan uang rokok saya?. Entah berapa banyak lagi kekhawatiran yang saya rasakan pada saat menentukan pecahan uang yang mana yang harus saya selipkan kedalam kotak itu. Saat itu jelas saya sedang khawatir dan lupa bahwa Tuhan Maha memberi apalagi untuk pekerjaan mulia. Saya itu saya merasa lebih akbar dari Tuhan saya, sehingga saya tidak mempercayai bahwa Ia akan menolong saya jika saya sudah berjalan di jalanNya.
Saya mengaku beriman, tetapi ternyata secara mendasar saya sempat sudah menyepelekan dan tidak percaya kepada kuasa Tuhan. Semoga saya masih sempat belajar untuk lebih percaya. Amin...

5. Adalah sebuah fakta, bahwa orang-orang banyak yang berderma dengan iklas itu justru tidak miskin. Mereka Penuh dengan keyakinan bahwa Tuhan akan tetap menggandeng mereka. Mereka pada umumnya hidup dengan pikiran positif, optimis dan terbuka. Mereka terlihat damai dan tenang. Mereka tetap saja manusia biasa yang membutuhkan uang, tetapi mereka tidak lagi menjadi budak uang itu sendiri.

Sisi lain
Saudaraku yang baik, dalam proses ini, saya mendapatkan banyak dukungan moral dan juga ujian. Ada 3 orang melalui email yang tidak setuju dengan konspep kita memberi bantuan kepada keluarga Ibu salmiah. mereka bilang bahwa tidak mungkin mengentaskan kemiskinan dengan cara itu.
Ada 4 orang yang menolak untuk menerima email2 saya dan meminta agar emailnya dihilangkan dari distribution list emai saya

Saudaraku yang baik, email ini sungguh tidak bermaksud mengajari anda. Cuma saya sangat terkesan dengan berbagai fenomena selama mengerjakan project rumah ibu salmiah ini. Saya pikir pengalaman ini bisa menjadi inspirasi untuk anda.

Salam
Share:

“Cup! Itu punyaku..!” (Marketing)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tgl 12 november 2007, di halaman bisnis dan teknologi.


LIMA anak kecil telihat memasuki pintu gerbang sebuah kolam renang umum dan sekejap berikutnya mereka berebut tempat duduk yang letaknya jauh diujung kolam. Dari jauh mereka dengan meneriakkan satu kalimat; “Cup! Kursi yang merah punyaku”, lalu yang lain, “Cup! Yang kuning punyaku dan seterusnya hingga kelima bocah lucu itu membagi tempat duduknya dengan kesepakatan yang sederhana.
Saya merasakan kelucuan itu karena saya pun pernah mengalami masa-masa dan istilah yang serupa itu. Sedikit berbeda di beberapa tempat, ada yang menggunakan istilah “Dek”, “Tong” dan lainnya tetapi tetap mengindikasikan makna yang sama.
Tanpa kita sadari, permainan itu adalah salah satu awal dari sebuah konsep berkompetisi. Kita sudah diajarkan oleh pergaulan itu untuk bisa bersaing dan mendapatkan yang terbaik dengan kecepatan yang tinggi, mendahului pesaing lainnya. Kita juga sedang belajar bagaimana bersikap positif atas sebuah persaingan. Anak-anak sangat cepat membuat kesepakatan permainan, mereka mudah menerima semua konsensusnya dan menghormatinya. Memang tidak jarang juga persaingan itu berakibat pertengkaran dengan akhir air mata.

Adu Cepat
Dalam praktek kompetisi, adu cepat adalah salah satu point yang sangat penting. Persis seperti dalam permainan anak-anak tadi yang menuntut kecepatan melihat serta menentukan pilihan sebelum yang lain melakukannya.
Kecepatan yang paling sempurna dalam berinvestasi dan berbisnis adalah kecepatan mendapatkan informasi serta kemampuan pengolahan informasi yang segera dan kemampuan pengambilan keputusan seketika. Seperti anak-anak diatas yang memasuki areal kolam renang, yang paling pertama melihat ada kursi berwarna-warni dan membayangkan pilihan terbaik serta segera meneriakkan pilihannya. Bagi yang pertama itulah kesempatan terbaik biasanya datang.
Adu cepat dalam mendapatkan informasi berhubungan dengan kemampuan penggalangan jaringan, kemampuan mengolah dan mengorek informasi dari jariangan yang ada serta kemampuan mengeksekusi atas informasi tersebut.
Contoh sederhana yang jelas didepan mata kita adalah kenyataan bahwa ada orang tertentu yang mengetahui hutan-hutan yang bisa dimanfaatkan untuk dibisniskan. Mulai dari penebangan kayu, hingga penanaman hutan rakyat atau menjadi perkebunan komersial.
Tidak semua orang mengetahui seluk-beluk rencana tata kota, hanya orang tertentu yang mengethuinya dan mendapatkan informasi lahan-lahan murah yang bakal melejit harganya. Lihatlah betapa banyak orang yang membeli lahan tanah didaerah yang tidak populer lalu membangunnya seolah nekat tetapi tak lama sesudahnya terbuka jalan besar melintang didepan areal propertinya.
Jelas hanya orang tertentu yang memiliki informasi plafon-plafon kredit dari bank yang mendapatkan subsidi dari pemerintah. Lihatlah betapa hanya orang tertentu saja yang mendapatkan dukungan permodalan dari BUMN. Lihatlah betapa tidak semua orang memiliki akses pengetahuan bagaimana caranya mendapatkan keuntungan dari jasa perbankan.
Negara yang berkembang seperti Indonesia jelas merupakan sasaran bantuan lembaga-lembaga LSM dari negara-negara maju. Sayangnya tidak semua orang mengetahui hal ini apalagi memanfaatkannya. Ada banyak program bantuan dari permodalan, manajemen hingga pemasaran yang ditawarkan lembaga tersebut.
Tidak semua pelajar/mahasiswa yang mengetahui adanya dana bea siswa untuk belajar ke luar negeri. Jangankan mencoba membuat proposal, tahu saja tidak. Jangankan si siswa, gurunya saja belum tentu menguasai perihal ini.
Dalam hal ini akses informasi adalah hal yang sangat istimewa. Jadi tidak salah jika kita memiliki banyak relasi yang bisa mensuplay informasi-informasi penting bagi kita. Memang kadang-kadang informasi itu berbiaya, tetapi itu adalah umpan penting yang harus direlakan demi pancingan yang lebih besar dan menguntungkan.

Menguasai pasar
Kecepatan dalam pemasaran adalah bahan bakar yang sangat penting. Cepat dapat informasi, cepat mengolahnya dan segera mengeksekusinya. Itu semua adalah langkah sederhana untuk mematikan pergerakan pesaing. Seorang Sun Tzu, mengatakan bahwa lebih dahulu sampai medan pertempuran adalah awal dari sebuah kemangan.
Jika saya sebutkan beberapa merek terkenal seperti Aqua, Sanyo, Honda, Kodak dll, mereka menang karena mereka mempraktekan keunggulan kecepatan, mereka memasuki pasar sebelum yang lain memikirkannya. Mereka jelas sudah melalui proses penelitan, pengumpulan informasi yang lebih cepat dari pesaingnya dan eksekusinya pun demikian.
Untuk mereka yang datang kemudian, bukan hal yang mustahil jika memposisikan dirinya sebagai sesuatu yang baru. Tentu saja dengan cara yang tepat memberikan informasi yang merata dengan edukasi pasar. Ingat sebuah merek permen rasa kopi yang mengaku dirinya bukan permen, tetapi kopi berbentuk permen. Ingat sebuah merek sabun yang mengatakan dirinya bukan sabun karena 1/4nya adalah pelembab. Kedua merek tersebut masih menduduki peringkat atas dalam percaturan pasar permen dan sabun.
Semua orang tahu, kalau ibu-ibu rumah tangga ternyata lebih senang membeli sabun yang mengeluarkan banyak busa dari pada kemampuannya dalam membersihkan sesuatu. Lalu, jika itu adanya, maka seseorang akan datang dengan konsep baru yang dengan bangga memperkenalkan sabun tanpa busa tetapi lebih mampu membersihkan.
Aksi kuasa menguasai pasar adalah pertempuran serius yang harus dikerjakan. Pilihanya hanya dua, yaitu; kita lebih dahulu menembak atau kita tertembak. Dan itu harus dilakukan kepada pesaing yang eksis ataupun yang masih laten.

Hilang pantat hilang tempat
Kalimat ini muncul dari seorang anak di kolam renang tadi yang pada saat berebut diawal ia terlambat jadi ia menduduki kursi warna hitam yang tidak disukainya. Begitu anak yang sedari tadi duduk di kursi warna kuning beranjak dari tempat duduknya mendadak lompatlah anak yang di kursi hitam lalu menduduki kursi warna kuning pilihannya sambil meneriakkan kalimat, “Hilang pantat hilang tempat!“.
Seserhana itu juga pola penguasaan pasar. Jika pasar dibiarkan tanpa adanya kontak dan hubungan dalam bentuk apapun. Maka orang lain akan melakukannya. Begitu kita sedikit saja lengah dengan menyia-nyiakan pasar yang sudah ada, maka pesaing kita akan dengan senang hati menggantikan kita. Lagi-lagi kecepatan dalam melakukan pergerakan pemasaran adalah bahan bakar yang amat penting dan perlu dijaga konsistensinya. Ingat, hilang pantat, hilang tempat.
Share:

5.11.07

Menikmati Persaingan (marketing)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian Waspada Medan, pada hari senin tgl 05 November 2007 di halaman bisnis & teknologi


N.A. KELARAS adalah sebuah nama yang melekat erat pada dunia tanaman kebun dan tanaman hutan di kawasan Sumatera bagian utara. Dari kawasan Tanjung Morawa Medan, ia sudah mendistribusikan bibit tanamannya dari ujung Aceh hingga Lampung. Ia laksana seorang maestro, guru dan pendeta atas dunia tanaman itu.
Sekali waktu saya merasa terheran-heran manakala ia membabat pohon-pohon yang ditanamnya beberapa tahun yang lalu. Saya penasaran, mengapa ia harus membunuh tanaman yang ia sendiri tanam sekian waktu. Memang tidak semua tanaman ia potong. Tanaman itu tumbuh berderet dengan jarak 2 meter. Begitu tanaman itu mulai tumbuh menjulang setinggu 2 meter, ia potong yang ditengah. Artinya jarak tanam menjadi 4 meter dan ia mengorbankan satu pohon dan membiarkan 2 pohon lain tumbuh.
Dengan bahasa guyon, ia mengatakan bahwa ia sedang ‘memainkan’ tanaman itu. Ia percaya bahwa tanaman itu seperti anak-anak dan berjiwa kekanak-kanakan. Saat masih kecambah, ia membiarkan bibit-bibit pohon itu berdesakan. Lalu mereka bersaing untuk tumbuh dan mendapatkan matahari. Begitu mulai tumbuh sekira 15 cm, ia memindahkan kecambah itu ke polybag dan menempatkannya berhimpitan. Sekali lagi ia menstimulai terjadinya persaingan diantara mereka. Mereka berebut untuk tumbuh dan mendapatkan sinar matahari. Tentu saja dalam kurun waktu yang tidak lama, bibit dalam polybag itu berkembang pesat hingga mencapai ketinggian 45 cm atau 60 cm, bahkan ada yang sampai 90 cm. Setelah itu ia pindahkan tanaman ke lokasi penanaman dengan jarak tanam yang cukup dekat –2 m--. Rupanya ia lagi-lagi merangsang persaingan diantara mereka. Dengan pesat tanaman-tanaman itu berlomba mencapai ketinggian yang mempesona. Setelah 2 meter, ternyata tanaman itu tidak lagi mampu bersaing dengan jarak yang dekat, maka lalu ia kurangi tanaman itu dan ia tinggalkan tanaman itu dengan jarak 4 meter.
Seorang Kelaras, sudah mempraktekkan bahasa sederhana atas sebuah permainan persaingan. Ia paham benar bahwa persaingan memacu tanaman untuk segera tumbuh dan berkembang. Dengan persaingan tanaman memacu pertumbuhannya dengan pesat. Mereka diciptakan untuk tidak sabar dan berebut sinar kehidupan dari matahari untuk mengolah nutrisi yang mereka makan dari tanah tempat mereka berpijak.

Kompetisi
Selalu, dalam berbagai seminar dan pelatihan pemasaran, saya senantiasa menekankan bahwa pemasaran adalah perihal pola pikir, tidak lebih. Layaknya sebuah perang, pemasaran adalah konsep kuasa-menguasai pikiran. Untuk menjadi penguasa atas pikiran orang lain, mengalahkan dan menguasai pikiran diri adalah persyaratan mutlaknya.
Dan kunci dasar penguasaan pola pikir adalah keputusan-keputusan untuk memilih. Memilih segala persepsi yang kita kehendaki. Hingga pada akhirnya, persepsi itulah yang menjadi kenyataan dalam kehidupan nyata kita.
Demikian juga terhadap apa yang sering kita sebut sebagai persaingan dan kompetisi yang merupakan bagian penting dalam pemasaran. Kompetisi dan persaingan bisa saja menjadi sebuah petaka bagi mereka yang memilih melihatnya demikian atau merupakan hiburan bagi mereka yang memilih cara pandang itu.
Persaingan adalah aturan dunia yang manusiawi. Harus ada bagi mereka yang ingin maju dan berkembang. Kecepatan maju dan berkembang sangat tergantung dari kualitas kompetisi itu sendiri. Dalam bahasa bisnis yang kita kenal, tak mungkin Coca Cola maju pesat jika tidak ada Pepsi Cola. Tak mungkin Boing melesat jika tidak ada Airbus.
Persaingan sudah terlanjur menjadi bahasa pikiran manusia dimanapun. Bahkan sudah dicekok-kan sejak dini waktu anak-anak. Sudah ada perlombaan mewarnai gambar, ada perlombaan mengejar ranking pelajaran di sekolah dan berbagai persaingan laninnya. Saat masih bayi pun sudah ada lomba bayi sehat. Artinya, kita sudah telanjur diprogram menjadi orang yang kompetitif. Berorientasi bersaing dan memenangkan persaingan.
Dalam kerangka yang demikian, kebanyakan dari kita terlanjur mengunakan kompetisi sebagai bahan bakar utama kehidupannya. Jadi bilamana bahan bakarnya habis (tanpa kompetisi) habis pulalah kehidupannya. Indikasi kekurangan bahan bakar kompetisi adalah kelesuan dan kemalasan serta perasaan puas yang membuat kita berhenti.
Hanya orang tertentu seperti N.A.Kelaras yang paham benar arti penting persaingan dan kompetisi. Begitulah banyak pemimpin sukses yang sadar bahwa yang mereka adalah pemimpin atas segolongan orang-orang biasa yang terlanjur dibesarkan dengan persaingan. Lalu mereka merekayasa kompetisi tersebut untuk memacu pasukan dan targetnya bergerak menuju sasaran yang mereka kehendaki. Mereka terus merekayasa persaingan untuk orang-orang tersebut, karena jika tidak, maka kelesuan akan menyebar dan semua proses kinerja berhenti bergerak.

Menghormati pesaing
Dalam falsafah jawa ada istilah, “nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake” yang bermakna menyerang tanpa bala bantuan dan menang tanpa merendahkan. Inilah harapan dari sebuah persaingan yang bermartabat.
Membunuh pesaing adalah langkah bodoh, seperti sebuah dongen dimana seorang raja matahari yang ingin membunuh ratu bulan. Jelas itu akan menghilangkan keseimbangan. Keseimbangan adalah faktor natural yang sangat penting bagi semua manusia dan isi jagat raya ini.
Cara melihat keberadaan pesaing adalah awal dari sikap yang akan kita berikan kepada mereka. Jika kita melihat pesaing sebagai musuh, tentu kita akan terangsang untuk membunuhnya. Ada baiknya kita sadari makna keberadaan pesaing sehingga kita akan meletakkannya sebagai partner untuk meningkatkan kinerja kita. Karena pada akhirnya yang sempurnalah yang akan bertahan hidup.
Praktek-praktek membenci pesaing sangatlah naif. Apalagi sampai muncul rasa antipati sehingga bertemu pun tidak mau. Padahal, kesejatian persaingan bisnis tidak saja terletak pada produknya, tetapi sangat jelas dikendalikan oleh orang-orang dibelakang produk itu.
Orang banyak sering mengatakan “the man behind the gun” (orang yang berada dibelakang senjata/orang yang menggunakan senjata) adalah kunci manfaat dari senjata itu. Hebatpun senjata yang dipegang, tetapi kalau orangnya bodoh, pasti manfaat senjata tersebut tidaklah maksimal.
Cobalah pahami dengan jelas, bahwa menghadapi pesaing bukanlah harus sibuk memikirkan produknya, tetapi kenalilah orang-orangnya. Dengan mengenal orang tersebut, kita akan jelas memahami karakaternya. Dengan memahami karakternya, kita akan bisa meraba kemampuan strategisnya. Jadi, bertemu dan bergaul dengan pesaing adalah salah langkah cerdas untuk mengerti dan bisa mengendalikan pola pikirannya. Dan itu adalah pemasaran yang sebenarnya.
Share:

perkembangan per tgl 02 november 2007 atas project rumah keluarga ibu salmiah di hamparan perak

Saudaraku yang baik,

Berikut adalah laporan perkembangan project pembangunan rumah untuk keluarga ibu salmiah dihamparan perak sampai dengan hari minggu tanggal 04 november 2007.

Atas ijin Tuhan yang Maha Pengasih. Bangunan utama dan teras sudah selesai dibuat. Ibu salmiah dan keluarga sudah pindah hari jumat lalu tanggal 02 november 2007. lalu hari sabtunya rumah lama dibongar agar beberapa seng, kayu/papan bisa digunakan untuk dapur dan kamar mandi di rumah yang baru.

Direncanakan mulai hari ini (senin, 5 november 2007), pekerjaan pemasangan bis beton untuk sumur dan kerangka kayu dapur sudah dimulai.

Mohon tetap dibantu dengan doa agar project ini berjalan dengan sukses dan kami tetap dikaruniai kesabaran dan keendahan hati untuk bisa belajar menuju pendewasaan batin. Juga Untuk tetap yakin, bahwa Tuhan akan menyelamatkan kita jika kita berserah diri dan bersyukur.

Saudaraku, jika dilihat dari jauh, (depan rumah), inilah yang terlihat.
Maaf saya gunakan resolusi rendah agar memudahkan pengiriman via email.)



Sebuah kekuasaan Tuhan yang tidak bisa saya mengerti, betapa lokasi rumah baru keluarga ibu salmiah berada disuatu tempat yang terindah yang pernah saya lihat. Hamparan rumput diatas kolam galian pasir terlihat seperti pemadani hijau.

Selalu saja tiap hari ada ratusan burung bangau mengerubungi ternak sapi yang sedang digembalakan, dan mereka terbang beriring pulang ke sarangnya saat senja datang. Dan itu semua terlihat jelas dari teras rumah baru ini.

Tak bisa saya gambarkan betapa angin semilir yang selalu bertiup melengkapi keindahan itu.

Damai.... dan tenang.....!


dibawah ini adalah sudut yang sama dengan zoom, sehingga terlihat lebih dekat











jika difoto dari jarak dekat, inilah yang terlihat













pada saat saya datang, pekerjaan pondasi dan tembok untuk dapur sedang dikerjakan.













belajar dari rumah lama, rumah baru ini dilengkapi dengan 12 jendela dan ventilasi, dengan harapan cahaya matahari mudah masuk dan sirkulasi udara tetap segar.


kini, keluarga ibu salmiah tidak lagi tidur diatas tanah, sudah ada panggung sebagai alas kasur/matras. Tanah yang tidak rata, basah dan dingin biarlah jadi kenangan indah bagi mereka dan tidak perlu diulang lagi.

(gambar bawah ini)


















karena bangunan dapur masih dalam proses, maka mereka memasak dibawah pepohonan sawit tidak jauh dari rumah barunya.

Siang itu mereka makan daun ubi rebus, sambal, ikan asin dan nasi panas. Mereka bilang sangat lezat…!














foto dibawah ini diambil menjelang sore.
Mereka selalu heran mengapa saya selalu membawa kamera dan selalu memfoto bangunan setiap kali datang.
Dan saat saya foto mereka, terlihat mereka sudah mulai berani bercanda dan TERSENYUM. Ya.... tersenyum... sesuatu yang amat jarang kami lihat dari wajah-wajah mereka.
Saudaraku, lihatlah betapa mereka benar-benar sudah mulai belajar tersenyum.
Mungkin terdengar naif, tapi memang mereka ini sudah lama dalam keterasingan dan beban yang tak sanggup mereka pikul.
Betapa sudah terlalu lama mereka tidak pernah lagi memiliki airmata apalagi senyuman.
Sore itu saya melihat mereka tersenyum. Semoga senyum mereka hari ini tidak diikuti dengan airmata kesedihan dikemudian hari.

Saya dan team kerja sungguh berterimakasih atas budi baik saudaraku yang sudah memberikan mereka alasan untuk bisa tersenyum kembali.



dalam kehidupan keseharian yang saya alami (apalagi dalam dunia hospitality), saya sangat mudah menemukan orang tersenyum, entah senyuman apapun itu, tapi senyum yang saya lihat sore hari minggu lalu adalah salah satu yang terindah yang pernah saya lihat.

Selanjutnya, saya dan team kerja mengucapkan ribuan terimakasih atas segala respons positif, saran-saran dan dukungan moral serta material yang sudah diberikan . hingga saat ini kita sudah mendapatkan tambahan-tambahan dukungan berupa;

06 set sping bed layak pakai,
12 set sprei/sheet
08 set bantal
18 set sarung bantal
16 set handuk
06 set perlengkapan shalat
01 lembar karpet untuk alas shalat
01 buah jam dinding

Kita masih memerlukan dana tambahan senilai
1. Rp. 260.000,- untuk tambahan ongkos tukang,
2. Rp. 960.000,- untuk pembuatan kandang kambing dan
3. Rp. 820.000,- untuk membeli bibit pohon melati dan pupuk awal.
4. Rp. 430.000,- untuk pembuatan pagar pengaman dari bambu.

Jika kita masih bisa mengumpulkan dana sekitar 6 juta rupiah, untuk membeli;
1. 2 set piring, gelas untuk makan/minum
2. 1 set panci/wajan untuk masak
3. 1 buah ember untuk tampungan air bersih dan mencuci
4. 8 helai selimut
5. 3 buah cermin
6. 1 meja makan di dapur
7. 1 lemari makan di dapur
8. 2 set lemari pakaian di kamar
9. 1 meja di teras (untuk belajar dan untuk aktifitas keseharian)
10. 1 set kursi di dapur
11. 1 set kursi di teras
12. 2 set bangku panjang di teras
13. 5 buah lampu ting kapal
14. 1 buah lampu petromaks
15. 1 radio transistor
16. 1 set alat bertani (cangkul, parang, sabit dan gembor)
17. 2 buah jam dinding

demikian, semoga saudara-saudaraku yang baik bisa mengikuti perkembangan yang kita kerjakan untuk keluarga ibu salmiah.

Saran dan pendapat mohon emailkan ke tj@cahyopramono.com atau 0811 63 8383
Share:

30.10.07

perkembangan per tgl 28 oktober 2007 atas project rumah keluarga ibu salmiah di hamparan perak deli serdang, sumut



Dengan Ijin Tuhan dan keiklasan para donatur, saya terkejut melihat betapa cepat proses pembangunan rumah sederhana sehat untuk keluarga ibu salmiah ini.

begitu parkir di areal perkebunan sawit (karena mobil tidak bisa masuk) terlihat dari jauh atap rumah baru itu.



dibawah ini adalah tampak depan rumah yang sudah berdiri sebelum ada teras














ini yang terlihat dari sisi belakang sebelum ada dapur dan kamar mandi
















ini kamar belakang, ukuran 3,5 X 3,5 M.















kamar depan dilihat dari sisi belakang, memang belum rapi, tapi sepertinya kalian sudah bisa membayangkan bagaimana akhirnya nanti

















ini pengerjaan dinding koridor

















ini pekerjaan lantai koridor

















yang manarik adalah, si amat (anat terkecil dari ibu salmiah) juga selalu membantu di project rumahnya setelah pulang dari sekolah.











kami sungguh tidak menolak bantuan iklas apapun yang bisa bermanfaat bagi keluarga ini. mohon untuk tidak segan-segan menghubungi kami untuk keperluan tersebut.
salam
Share:

Blog Archive