it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

19.1.07

“You kan orang lama…!”

(penyebab human error)

Apa yang anda lakukan dengan hidup terletak pada anda sepenuhnya.
Anda memiliki seluruh perangkat dan kemampuan yang dibutuhkan.
Apa yang anda perbuat dengan kedua hal tersebut sepenuhnya terlatak pada anda.
Pilihan berada ditangan anda.

Kalimat-kalimat itu adalah kumpulan dari 10 aturan-aturan bagi manusia yang tidak diketahui penulis aslinya dan kemudian dikutip oleh Sukie Miller, PH.D. dan Suzanne Lipsett dalam bukunya Hidup Setelah Mati.
Kalimat tersebut melesat begitu saja dalam ingatan saya ketika mendengar salah seorang rekan saya supervisor bawahannya dengan teramat keras dan kasar. Selidik punya selidik, ternyata bawahan rekan saya itu telah melakukan kesalahan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Ia lalai tidak membuat laporan bulanan tepat pada waktunya. Ia bukan supervisor baru dibidangnya dan pekerjaan itu juga bukan pekerjaan baru baginya.
“You kan orang lama..!” Teriak si Boss, “Apa pantas orang lama bisa kecolongan begini!” lanjut si boss dengan amarah yang membludak. Saya pikir tak perlu saya sebut lagi kalimat-kalimat marah si boss.
Dalam kesempatan lain, saya ngobrol dengan rekan saya tadi –si Boss yang memimpin sebuah restoran yang cukup besar di kota Surabaya. — sampai akhirnya dia berkeluh kesah atas perilaku bawahannya yang semakin tidak masuk akalnya. Ia mengatakan bahwa ia memaklumi kalau ada seorang pramusaji baru membuat kesalahan sederhana seperti tidak menutup makanan waktu mengantar makanan ke tamu yang duduk diluar restoran. Tetapi ia benar-benar heran jika kesalahan itu dilakukan oleh pramusaji yang sudah lebih dari 3 tahun bekerja disana. “Itu terjadi bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena benar-benar kelalaian yang tidak dapat diterima” Keluh si Boss tadi.
Saya setuju dengan keheranan rekan saya tersebut. Sangat sering terjadi kesalahan-kesalahan kerja bukan karena si pekerja tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman atas pekerjaannya, tetapi karena unsur lain yang saya sebut sebagai kehausan motivasi.
Coba bayangkan betapa aneh jika ada seorang tukang masak senior lupa menaruh garam kedalam masakannya. Betapa mengherankan seorang guru yang lalai untuk mengajar. Betapa konyol jika seorang tukan sapu tetap menyapu lantai dengan sapu yang sudah gundul. Betapa memusingkan jika seorang sekreataris tidak memiliki agenda. Betapa menggemaskan jika seorang tukang cat meninggalkan lantai penuh dengan cipratan cat-nya. Betapa membahayakan, jika seorang Pilot lupa mengambil data prakiraan cuaca sebelum terbang. Dan masih banyak lagi contoh-contoh sederhana yang sering tercipta karena unsur human error.
Tentu alasan yang amat mendasar dan pasti diterima semua orang adalah bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Semua manusia pasti ada salahnya. Lalu, apakah dengan kesadaran keterbatasan itu lalu semua kesalahan terus menjadi halal untuk dilakukan? Apakah memang tidak boleh untuk menciptakan kinerja yang unggul?

Krisis Mental
Jika bukan masalah teknis dan sistem yang menyebabkan kesalahan-kesalahan tersebut diatas, tentu penyebab utamanya adalah karena seseorang tersebut sedang tertimpa penyakit Krisis mental. Gangguan tersebut mengakibatkan seseorang menjadi tidak mampu mengontrol dirinya sendiri dan ia berlaku seperti mati walau tetap bernyawa.
Tanda-tanda seseorang sedang mengidap penyakit krisis mental adalah sebagai berikut; Malas (mudah menjadi lemah, letih, letoy, lelah, lunglai), cenderung berfikir negative, tidak disiplin, mudah teringgung/emosional, mulai takut tantangan, mudah mengeluh, bimbang/ragu, tidak ada dedikasi, takut perubahan, pesimis, apatis, sulit beradaptasi dll.
Pengidap penyakit krisis mental ini, pada umumnya terjebak dalam kisaran itu dan semakin kritis. Mereka selalu menyalahkan pihak lain yang menjadi penyebab kehancuran itu. Mereka bahkan berpikir bahwa harus ada orang lain yang datang dan membujuknya bangkit dari lembah yang menyangsarakan itu.
Kesekian banyak tanda-tanda krisis mental itu tidak datang serta merta, mereka datang satu persatu dan akhirnya secara bersama-sama menjadi penyakit yang komplek dan kronis.
Mungkin yang datang pertama adalah sikap malas dan menunda. Ini amat sering terjadi karena sangsi atas penundaan dan kemalasan tidak secara instant bisa dirasakan. Karena penundaan itu, terjadilah konflik dengan pihak lain dan bisa saja tercipta hubungan yang tidak ramah. Lalu pikiran negatif berkembang dan mudah tersinggung. Sikap-sikap tidak disiplin mungkin dilakukan sebagai bagian dari permintaan perhatian, tetapi sayangnya pihak lain justru malah bukan berubah menjadi lebih perhatian, tetapi umumnya lebih cenderung untuk menekan dan tidak menghormati sikap tersebut. Lalu tanpa disadari, sikap-sikap krisis mental itu menjalar dan akhirnya menjadi komplikasi yang kritis.

Sembuh
Yang perlu dipahami adalah bahwa semua kondisi krisis tersebut sangatlah manusiawi, artinya; siapa saja berkemungkinan mengidap krisis itu. Yang kemudian menjadi sangat penting adalah bagaimana agar kita secara cerdas tidak terperangkap dalam krisis tersebut.
Seorang Anthony Robin pernah memberikan ilustrasi tentang beban mental dalam sebuah pelatihannya. Ia menyuruh seluruh peserta untuk mengangkat gelasnya masing-masing. Lalu ia bertanya; “Seberapa berat gelas anda?” jawaban peserta tentu berkisar ukuran berat seperti ons atau kilogram. Lalu Anthony menegaskan bahwa ini bukan perkara berat, tetapi perkara berapa lamanya. Apakah satu menit, dua jam, tiga hari, atau berminggu-minggu? Tentu gelas yang ringan itu akan menjadi perkara yang berbeda jika durasinya lebih lama. Demikian juga ia gambarkan bagaimana kita berhubungan dengan permasalahan dan beban mental. Bukan masalah beratnya, tetapi masalah berapa lama kita menahan dan menyelesaikannya.
Mulai dari berfikir positif, niscaya semua kendala akan terlewati dengan baik dan akan berakhir dengan kebaikan. Jaga pikiran dengan baik, sehingga semua krisis mental bisa dikendalikan dengan baik.
Bangun dan berpijak dibumi memang seringkali tidak seindah mimpi. Tetapi jauh lebih nyata dari sekedar khayalan. Ingat, krisis mental amat berbahaya dan tiada seorang pun sanggup membantu kita selain diri kita sendiri.
Share:

Jual Murah Tapi Untung

Jual Murah Tapi Untung
Contoh Trik Penerbangan Murah

HANYA bayar Rp. 30.000,- anda bisa terbang ke Jakarta dengan pesawat bagus. Luar biasa bukan? Penerbangan yang selama ini mewakili harga kelas atas dan tentu tidak murah, kok bisa mendadak menjadi sangat murah. Naik bus saja tidak bakal dapat semurah itu!
Dasar berfikirnya sangat sederhana. Pesawat dengan kursi sebanyak 100 buah, akan tetap menggunakan bahan bakar yang sama baik terisi penuh atau tidak. Biaya gaji crew kabin dan pilot juga sama, biaya ground handling juga sama dan berbagai pembiayaan lain juga sama. Artinya; berapapun pendapatan dari penjualan tempat duduk akan diimbangi oleh pengeluaran yang juga sama.
Disisi lain adalah, jualan kursi pesawat terbang bukanlah produk yang bisa disimpan dan dijual lain waktu. Kesempatannya hanya ada sekali saja setiap penerbangannya. Jika kosong ya rugi dan jika penuh juga tidak bisa ditambah jumlah kursinya mendadak.
Secara jelas bukankah jika kapasitas terisi 50 % dan selebihnya dijual dengan harga murah itu akan memberikan kontribusi yang lebih baik? Dari pada sisa kursi kosong toh masih lebih baik bisa mendapat uang walau sedikit!
Situasi bisnis yang seperti ini juga dialami oleh usaha-usaha lain seperti hotel, transportasi darat/laut, penerbitan koran, jasa penyewaan komputer, wartel, jasa permainan ketangkasan, billyard, bioskop, penyewaan ruang pertemuan, penyewaan mobil, jasa pencucian mobil dll. Jalur bisnis tersebut memiliki kriteria penjualan dan tuntutan waktu yang sama.
Dalam perspektif yang lain, kondisi tersebut juga berlaku pada bisnis lain yang pada dasarnya memerlukan perputaran uang lebih cepat. Karena pada hakekatnya mengendapkan barang terlalu lama sama artinya dengan mengendapkan uang tanpa hasil/keuntungan yang lebih segera.

Yield
Apa yang dilakukan oleh beberapa perusahaan seperti jasa penerbangan murah itu pada dasarnya adalah upaya mengoptimalkan pendapatan dan mengefektifkan pembiayaan. Semuanya berdasar pada pola efisiensi dan membaca karakter pasar dengan cermat. Inilah yang sering orang sebut sebagai yield manajemen.
Konsepnya sangat sederhana, misalnya memanfaatkan sumberdaya yang sedikit dan ramping. Menghilangkan segala bentuk idle/pemborosan dan selanjutnya menciptakan paket-paket penjualan yang merangsang pasar untuk membeli.
Salah satu airline yang menganut paham ini, benar-benar memastikan penghematan biaya dengan besar-besaran. Misalnya, menghilangkan sekian banyak petugas reservasi dengan sistem mesin dan internet. Lalu menghilangkan biaya pencetakan tiket yang juga mahal dengan sistem cetak tiket sendiri yang dipesannya melalui internet. Mengurangi jumlah petugas penanganan lapangan dan seterusnya. Tetapi jangan pernah mengurangi pembiayaan untuk hal-hal yag vital dan penting.
Karena dari awal perusahaan ini mengkampanyekan perjalanan murah, sudah pasti pasar juga tidak akan mengeluh dengan cara pelayanan tanpa keterlibatan banyak pelayan. Mereka lebih menawarkan efisiensi dari pada sentuhan-sentuhan pelayanan yang sudah usang.
Lalu atas dasar kenyataan bahwa berapapun orang yang naik pesawat dalam setiap penerbangannya, sudah pasti biaya yang dikeluarkan juga sama, maka untuk menarik lebih banyak penumpang, mereka menciptakan struktur harga yang berfariasi sesuai dengan tingkat permintaan pelanggan.
Contohnya; jika pesawat memiliki 100 kursi, dan pada tanggal-tanggal tertentu masih kosong, maka mereka akan memberikan beberapa tingkatan harga dari yang amat murah (seperti gratis) hingga harga yang paling mahal. Dari seratus kursi itu, akan di sisihkan sekitar 10 hingga 20 kursi untuk dijual dengan harga paling murah, katakanlah dengan harga Rp. 30.000,-. Lalu 20 hingga 30 kursi yang lain dijual dengan harga Rp.50.000,- dan seterusnya hingga harga yang paling mahal tergantung ketersediaan alokasi kursinya. Makanya, pemesanan jauh hari lebih berpotensi mendapatkan harga termurah dikelasnya.
Yang menarik adalah bahwa berapapun nilai rupiah yang anda bayarkan untuk membeli tiket dalam penerbangan itu, anda akan duduk di pesawat yang sama, tanpa membedakan kursi dimanapun dan pelayanan apapun.

Paket penjualan
Yang paling sering ditanyakan kepada saya adalah bagaimana cara menciptakan paket penjualan murah tersebut? Inilah beberapa trik sederhana cara membuatnya;
Yang pertama, pahami musim-musim bisnis kita. Kapan musim ramai dan kapan musim sepi. Lalu secara detail analisa tingkat pemesanan dari hari ke hari. Dari pengamatan tersebut kita tahu secara pasti kapan seharusnya kita akan menjual dengan harga murah dan kapan kita harus menjual dengan harga mahal.
Yang kedua, pada musim sepi siapkan struktur harga yang berjenjang dari yang paling murah hingga yang paling tinggi.
Yang ketiga, jualah dengan harga murah tanpa melupakan kondisi-kondisi terkontrol, misalnya dengan pembatasan jumlah, waktu, tipe, segmen pasar dll. Batasan waktu mungkin hanya untuk bulan tertentu, hari tertentu atau jam tertentu. Batasan jumlah mungkin hanya untuk 30 pembeli pertama dll. Batasan tipe mungkin untuk tipe standard saja. Batasan segmen pasar mungkin hanya untuk yang tinggal didaerah tertentu dll.
Yang keempat, promosikan melalui media yang tepat pada waktu yang tepat.
Yang kelima, pastikan pengawasan pemesanan yang berkembang dari waktu ke waktu. Lalu pastikan semua pihak yang berhubungan langsung dengan pelanggan juga memahami konsep penjualan ini dan bekali mereka dengan ketrampilan menjelaskan atas pertanyaan-pertanyaan dasar yang berpotensi ditanyakan oleh pelanggan.
Yang terakhir, pastikan anda menciptakan paket penjualan itu dengan asas ramah pelanggan. Jangan pernah memberikan persyaratan yang berlebihan/bertele-tele yang membuat pelanggan curiga dengan paket promosi anda. Hindari promosi yang terkesan menjebak pelanggan. Sebutkan semua syarat dan konsidinya, jujur dan terbuka. Selamat mencoba.
Share:

Blog Archive