it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

21.2.07

Menarilah Yud...

YUDHI adalah salah seorang pimpinan yang mengedalikan sebuah gerai makanan dan minuman di Merdeka Walk Medan –salah satu outlet makanan dan minuman yang tekenal di pusat Kota Medan—. Yudhi sedang dirundung perasaan sedih karena makin hari penjualannya makin menurun seiring meningkatnya kualitas persaingan diantara para penjual makanan dan minuman disana.
Dulu mereka membuka bisnisnya sejak sebelum waktu makan siang hingga tengah malam, kini hanya melayani makan malam saja. Jumlah pegawai semakin dikurangi dan tingkat keuntungan semakin menipis. Krisis ini sedang mengantarkan Yudhi dan kawan-kawannya menuju kehancuran bisnis.
Keluhan yang dihadapi Yudhi ternyata juga dirasakan oleh beberapa pedagang yang sama. Saat mengunjungi beberapa kota, saya juga menemukan permasalahan yang tidak berbeda untuk bisnis ini.
Karakter bisnis ini adalah; berkumpulnya beberapa pedagang dalam sebuah komplek yang pada awalnya sepakat untuk bersama-sama berjualan produk-produk istimewanya. Tetamu yang datang dipersilahkan memilih tempat duduk dan memesan makanan sesuai selera masing-masing. Karena produk yang dijual berbeda-beda, maka tidak perlu muncul rasa khawatir saling bersaing. Mereka dengan bangga mencoba menonjolkan keistimewaannya masing-masing tanpa perlu menjatuhkan produk pesaingnya.
Seiring perjalanan waktu, terjadilah kompetisi yang ketat antar pedagang. Bermula dari kompetisi pelayan yang saling berebut menawarkan dagangan hingga pada akhirnya tercipta puluhan jenis nasi goreng sebanyak jumlah gerai yang jualan makanan. Mereka beralibi memiliki nasi goreng yang berbeda-beda, tetapi sebenarnya sama. Sama-sama nasi goreng!

Menarilah Yud…
Itulah kalimat pembuka sesi konsultasi saya untuk Yudhi. Karena waktu yang saya miliki tidak cukup banyak, ijinkanlah saya menyampaikannya melalui tulisan ini. Saya percaya tulisan ini bisa bermanfaat untuk Yudhi-Yudhi lain di kota lain.
Menarilah Yud dengan keistimewaan tampilan. Pahamilah bahwa manusia cenderung lapar mata. Artinya, kita harus mempengaruhi penglihatan pelanggan dengan sesuatu yang menarik seperti sebuah tarian.
Mulailah dari hal-hal yang terlihat. Buatlah segala sesuatunya menjadi mencolok penglihatan, dari pakaian pelayan, dekorasi, sampai tampilan makanan. Khusus untuk tampilan makanan, dengan kondisi jumlah pesaing dan luasnya areal penjualan, maka seyogyanya semua makanan harus terlihat dan sanggup mengganggu mata pelanggan walaupun melihatnya dari jarak jauh.
Makanan seperti hot plate –disajikan dengan wadah yang panas, sehingga makanan terlihat mengeluarkan asap pada saat disajikan—adalah contoh bentuk sajian yang saya maksud. Ciptakan lebih banyak lagi makanan dan minuman yang menggunakan wadah aneh, sedikit tinggi/besar dengan warna yang mencolok.
Tarikanlah gerakan-gerakan khas yang muncul dari jiwa yang riang. Ajarkan kebahagiaan bagi semua pelayan. Biarkan energi kebahagiaan itu akan meringankan otot dan fisiknya sehingga senyuman dan gerakan badan menjadi lembut, luwes serta asri dipandang mata. Teruslah membagi semangat dan optimisme bagi semua pelayan lalu tunailah keuntungan positif pada akhirnya.

Melompatlah Yud…
Jangan sekedar senang dengan gerakan-gerakan sederhana. Lompatlah lebih tinggi. Lihatlah bertapa potensi pembeli bukanlah hanya mereka yang berduyun-duyun datang setiap malamnya. Lompatlah lebih tinggi untuk mengetahui semua itu.
Di dekat lokasi Merdeka Walk, ada puluhan perkantoran dengan pegawai ratusan orang jumlahnya di masing-masing kantor itu. Apakah setiap hari mereka tidak tertarik untuk mencoba makan siang sesuatu yang berbeda? Apakah harus setiap hari makan nasi bungkus? Lalu apakah mereka tidak ingin sesekali tidak perlu keluar kantor untuk makan siang?
Ya… delivery…! Jasa antaran adalah solusi lain hasil dari lompatan itu. Sebarkan saja daftar menu dan nomor telepon yang bisa dihubungi ke komplek perkantoran itu. Tak usah jauh-jauh. Pilih saja kantor-kantor dengan radius kurang dari satu kilometer. Pastikan nomor telepon kita ada dimeja semua pekerja itu. Buatlah menu sederhana dan murah. Janjikan pengantaran dengan waktu yang singkat.
Jasa layanan antar ini sangat jarang dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha makanan lokal. Padalah jasa ini sangat sukses dikerjakan oleh mereka-mereka yang berbisnis makanan import.
Lompatlah lebih tinggi agar tetap buka usaha pada siang hari tanpa harus mengurangi jumlah pegawai. Lompatlah lebih tinggi. Tinggalkan keraguan dan kekhawatiran seperti yang dikerjakan banyak orang sehingga tetap pasrah menerima nasib malangnya.
Saat melakukan lompatan itu, pastikan tidak lupa kemasan dan pengantaran harus telihat seperti tarian terindah yang kita bisa lakukan.

Bersenandunglah Yud…
Sadarilah bahwa senandung adalah bahasa dan alat yang paling ajaib untuk mengubah cara berfikir dan berperilaku semua manusia – kecuali yang tuna pendengaran--.
Mainkan musik-musik yang memberikan aura kebahagiaan. Pilih ketukan-ketukan dan irama yang menggiring pendengarnya kepada kebahagiaan. Lantunkan lagu-lagu yang positif dan menstimulasi pikiran menjadi positif.
Senandungkan filosofi kehidupan yang sedang dijalani oleh semua manusia. Ciptakan pemikiran bahwa filosofi itu menjadi hal utama sehingga pelanggan tidak lagi perduli dengan kualitas makanan, berapa lama pengiriman makanan serta berapapun harga makanan yang dipesannya.
Semua orang memiliki karakter yang berbeda-beda, tetapi tetap dapat digolongkan kedalam beberapa pola dasar tergantung makanan dan minuman yang disukainya. Untuk masalah ini saya sangat merekomendasikan praktisi bisnis makanan dan minuman untuk menggunakan karya Dewi Lestari dalam bukunya Filosofi Kopi sebagai acuan.
Terlihatlah disana bahwa karakter seorang peminum kopi tubruk berbeda dengan peminum cappucino, berbeda pula dengan karakter peminum coffee late dan sebagainya.
Tuangkan dalam bentuk-bentuk tulisan sederhana, mungil dan dapat dibaca serta dibawa oleh pelanggan. Tulisan itu bisa tercetak di alas piring, di alas meja, di tisue atau serbet bahkan bisa juga dicetak dalam kartu pengantar sebesar kartu nama. Isi tulisan itu adalah filosofi-filosofi positif dan mendukung perikalu positif yang dimiliki pelanggan itu sendiri.
Ide dasar dari penulisan filosofi itu muncul dari kekuatan daya tarik fortune cookies –kue khas china yang didalamnya terselip ramalan-ramalan-- yang begitu mempesona kebanyakan manusia.
Yang terakhir untuk Yudhi dan praktisi bisnis makanan-minuman, percayalah bahwa mayoritas pelanggan kalian adalah orang-orang yang lebih perduli kepada kemasan dari pada isinya. Jadi, menarilah dengan gerakan yang terindah yang kalian miliki…
Share:

10.2.07

Melihat Uang

Seorang Nathalia Sunaidi dalam bukunya Journey to My Past Lives ada berkata, “Dalam setiap situasi selalu tersedia kehendak bebas untuk berfikir, berkata-kata dan bertindak. Maka, pilihlah pikiran, ucapan dan perbuatan yang bisa membuat diri kita dan orang lain berbahagia.”
Saya mengartikannya bahwa sebenarnya kita selalu punya peluang untuk mengkondisikan segala sesuatu menjadi lebih baik. Kita selalu punya peluang untuk menghasilkan uang lebih banyak dan memajukan bisnis menjadi lebih baik.
Pada kesempatan ini saya ingin membagi pengalaman saya melihat sebuah kisah dalam video singkat yang sangat menarik sebagaimana berikut ini;
Kisah ini dibuka dengan tampilan seorang anak laki-laki kecil mungkin sekira 9 tahun yang sedang memainkan bola miliknya dengan sangat lihai. Sebutlah anak ini si Iwan. Ia bisa menendang-nendang ke atas dan tetap menjaganya tidak menyentuh tanah.
Lalu pada suatu siang menjelang sore, Iwan membawa bolanya menuju taman bermain bersama teman-temannya. Dalam perjalanan itu, kita diperlihatkan bahwa Iwan melewati sebuah restoran cepat saji McD. Kamera menangkap gambar ayam goreng yang lezat dan nasi putih yang hangat, lalu kamera menyorot wajah iwan yang amat tergoda oleh pesona makanan itu.
Si Iwan mencoba merogoh kantong celananya dan ia nampak kecewa karena memang ia tidak memiliki uang. Begitu tergodanya, si Iwan masih sempat membayangkan kalau dirinya punya uang dan makan makanan itu.


Tampilan berikutnya adalah kekaguman kawan-kawan Iwan atas permainan bola si Iwan. Kemudian salah seorang dari mereka –sebutlah si B- bertanya bagaimana agar bisa lihai seperti Iwan. Lalu iwan menyarankan agar si B memiliki bola seperti dia, jadi bisa belajar kapanpun. Sayangnya si B tidak memiliki uang untuk membeli bola dan si B menawarkan replika pesawat terbang yang ia miliki dan sebuah topi cantik untuk digantikan dengan bola si Iwan.
Tampilan video berikutnya adalah gambar iwan yang sedang berjalan, mengenakan topi sambil memainkan replika pesawat terbangnya. Iwan seperti benar-benar menikmati mainan itu. Ia bersuara seperti suara mesin pesawat terbang. Ia meliuk-liukan pesawatnya mengikuti permukaan pagar disebelahnya seperti petualangan seorang pilot sejati.
Atas gaya Iwan yang begitu manarik itu, muncullah si C –kawan sebaya Iwan-- yang juga tergoda dengan permainan replika pesawat itu. Si C menawarkan barter dengan mobil remote control yang dimilikinya.


Telihat di video itu berikutnya adalah si Iwan dengan tetap mengenakan topi sedang memainkan mobil remote control-nya. Kali ini iwan juga memainkannya dengan amat riang dan menarik dengan cara menirukan suara mesin dan rem mobil balap.

Tak lama selanjutnya terlihat si D yang juga kawan bermain Iwan yang menghendaki mobil dengan remote control itu. Si D amat ingin memiliki mainan itu dan terjadilah tawar menawar dengan hasil si Iwan mendapat sebuah pelampung berenang baru dan sepuluh buah kelereng.
Video itu berputar lagi dengan gambar si Iwan yang mengenakan topi dan pelampung renang.


Iwan berjalan sambil melakukan gerakan seolah-olah ia sedang berenang dan sesekali ia naik ke pot bunga besar di samping trotoar dan seolah-olah ia sedang terjun di kolam renang.
Melihat gelagat itu datanglah seorang anak perempuan menghampiri si iwan. Sebutlah anak perempuan ini si E. Si E mengatakan kepada iwan bahwa ia ingin sekali bisa berenang, tetapi ia takut tenggelam. Sorot kamera medekat kearah wajah iwan yang menunjukkan binaran mata sekaligus senyum penuh arti di bibirnya.

Pembicaraan dengan si E berakhir dengan adegan si E memecah celengan ayam-nya dan mengambil uang hasil tabungannya untuk membayar pelampung renang milik iwan.
Iwan kini punya uang, topi dan kelereng. Lalu terlihat dalam video itu iwan yang sedang berjalan dan melewati restoran cepat saja McD tadi. Iwan mendekat resto itu dan memilih paket makanan hemat. Selanjutnya terlihat iwan yang mengangkat nampan berisi makanan berupa ayam goreng, nasi putih hangat, kentang goreng renyah dan minuman botol plus uang kembalian. Iwan terlihat amat girang dan telihat makan dengan amat nikmat dipinggir dinding kaca yang tembus pandang sehingga Iwan bisa melihat jauh keluar.

Dari posisi duduk Iwan, ia melihat kawan bermainnya si F yang sedang bermain bola sendirian melihat ke arahnya. Iwan lagi-lagi menggigit ayam gorengnya sedikit perlahan seolah-olah menggambarkan betapa lezat makanan itu. Iwan tahu si F sepertinya tertarik dan Iwan mengangkat bungkusan kentang goreng seperti sedang menawarkan kepada si F. si F mengangkat bahu dan memberikan tanda dengan tangan dan jarinya bahwa ia sedang tidak memiliki uang. Tampilan berikutnya amat menarik. Iwan menyodorkan bungkusan kentang goreng itu sekaligus mengisyaratkan agar si F menukarnya dengan bola yang sedang ia mainkan.

Video itu berlanjut dengan gambar si Iwan dan si F sedang makan bersama di resto cepat saji itu. Si Iwan duduk memangku bola sambil memakan nasi putih dan ayam goreng lalu si F makan kentang goreng sambil tertawa bersama-sama. Dalam gambar itu juga diperlihatkan mereka berbagi minuman botol yang hanya ada satu disana.

Video ini berakhir dengan adegan Iwan dan F yang sedang bermain bola bersama lalu begitu suasana menjelang senja, Iwan terlihat sedang melepas kepergian si F sambil mengenakan topi, membopong bola, sementara kantong celana sebelah kanannya penuh dengan kelereng dan kantong sebelah kirinya berisi uang sisa pembelian makanan tadi.

Melihat uang
Apakah saya masih perlu mengulas kisah dalam video itu? Saya yakin pembaca yang budiman sudah sangat memahami filosofi yang tersimpan dibalik cerita tersebut.
Betapa berfikir positif akan membawa kita kepada kemampuan utuk melihat peluang, mengejarnya dan menikmatinya. Jelas terlihat betapa produk bukanlah kekuatan yang paling penting dibanding kemampuan kita mencintai produk dan pekerjaan sehingga bisa mengganggu pembeli manapun.

Peluang ada dimana-mana, tetapi hanya sedikit orang yang mampu melihat dan memanfaatkannya dengan baik. Bagaimana dengan anda?

Share:

Blog Archive