it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

30.7.07

Toilet, si Pemanis Bisnis


SIAPA yang bisa hidup tanpa toilet? Seberapa lama anda kuat menahan desakan hajat yang mendesak itu? Betapa sakit badan ini jika kebutuhan hajat itu tidak terpenuhi sesuai dengan kebutuhan. Tidak perduli dimanapaun anda, di rumah, di kator atau diperjalanan sekalipun.
Perjalanan terakhir saya dengan beberapa rekan dari Sumut ke Sumbar, memberikan kesempatan kepada saya untuk memperhatikan, betapa penting peranan toilet itu. Tidak hanya untuk pribadi, tetapi pemanfaatannya untuk kepentingan bisnis.
Desakan hajat ke toilet adalah alasan yang paling efektif untuk mengundang pembeli dalam perjalanannya. Selain faktor tuntutan kebutuhan biologis, tetapi juga karena faktor teknis bahwa tidak semua alat transportasi yang ada memiliki fasilitas toilet yang bagus.
Sepanjang perjalanan saya mencatat beberapa perilaku yang khas dalam hubungan dengan toilet baik di airport, di dalam pesawat dan sepanjang perjalanan darat. Dalam catatan saya, rata-rata seseorang akan membutuhkan toilet setiap dua jam. Lama mereka di tiolet rata-rata 2,5 menit untuk toilet yang kurang bersih dan 4 menit untuk toilet yang nyaman. Bahkan saya mencatat ada sekitar 7 % dari responden saya yang memerlukan waktu lebih dari 15 menit.
Rombongan saya berjumlah 18 orang, jika setengah darinya menggunakan toilet dengan waktu rata-rata 4 menit, berarti kami harus berhenti minimal 36 menit. Catatan waktu itu belum termasuk proses antri, dan proses jalan dari parkir ke lokasi toilet.
Setengah dari rombongan yang lain Ada yang minum sambil merokok dan pasti ada yang berbelanja. Berbelanja bagi orang yang sedang dalam perjalanan adalah seni yang menular. Belum selesai setengah rombongan berbelanja, setengah yang lain satu-persatu ikut nimbrung sesudah dari toilet dan terjadilah aksi kompetisi belanja dan tanpa disadari, pemberhentian sejenak karena hajat ke toilet berubah menjadi wisata belanja yang memakan waktu sekitar 1 jam. Dari catatan saya, dari beberapa kali persinggahan ke toilet, 4 kali diantaranya bahkan lebih dari 1,5 jam dan satu kali sama sekali batal karena kualitas toiletnya memprihatinkan.

Ikon
Perkara toilet adalah perkara yang penting dan mendesak, semua orang membutuhkannya, jadi sangat mungkin jika jasa itu dijadikan ikon untuk mengundang pembeli singgah ke gerai kita. Apalagi untuk bisnis yang masih belum terkenal dan dengan produk yang biasa-biasa saja (belum menjadi unggulan).
Tidak salah jika kita menawarkan jasa toilet sebagai pengundang pelancong untuk singgah. Gunakan media informasi yang menonjol dan pastikan toiletnya pas sesuai dengan janji yang kita sampaikan.
Amatilah sekitar lokasi bisnis anda. Apakah benar semua orang mengandalkan produknya sebagai ikon-nya? Sadarilah betapa besar kebutuhan orang yang datang akan keberadaan toilet. Dalam hal ini sadari juga bahwa Toilet justru bisa menjadi point unggulan untuk menjual produk kita.
Dari beberapa kali rombongan kami berhenti, ada 2 kali terjadi karena faktor toilet yang diluar jadwal berhenti. Lalu saya coba lakukan beberapa wawancara dengan beberapa orang dari rombongan lain, ternyata mereka juga berhenti karena alasan toilet.
Terjadi sekali dalam perjalanan kami dimana direncanakan untuk singgah disebuah restoran dengan makanan khas dan akhirnya terpaksa dibatalkan, alasannya tidak lain karena toiletnya jorok.
Alangkah lebih sempurna, jika tidak saja kita memiliki toilet yang bagus, tetapi juga memiliki produk jualan yang bagus juga. Pasti orang akan datang karena kedua alasan tersebut. Boleh saja anda memiliki produk bagus, tetapi jika toiletnya jelek dan jorok, pasti itu akan mempengaruhi performa penjualan anda.

Harapan
Survey dadakan itu saya lanjutkan dengan mengumpulkan sekitar 80 responden secara acak untuk memberikan gambaran harapan atas toilet umum yang mereka inginkan. Sungguh menarik jawaban-jawaban mereka. Jawaban yang menduduki peringkat pertama adalah tiolet yang kering sebanyak 60 responden. Lalu toilet yang bersih sebanyak 53 responden dan toilet yang lega (ruangan) sebayak 32 responden.
Dari studi singkat itu jelas ternyata paradigma toilet saat ini sudah jauh berubah. Untuk kalangan tertentu, toilet adalah tempat yang harus nyaman dan sehat. Toilet bukan lagi sesuatu yang berkonotasi ‘belakang’, ‘tabu’, ‘memalukan’, hal jorok dan sesuatu yang harus dilupakan.
Komentar-komentar tambahan yang saya dapatkan adalah bahwa responden saya mengharapkan adanya beberapa persyaratan yang idealnya diperhatikan dalam menyajikan layanan toilet umum. Hal-hal itu adalah; lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat parkir/tempat makan; ada penunjuk arah yang jelas; bahasa penunjuk arah yang santun; ada tersedia air dengan selang yang bersih; tersedia dua pilihan wc (jongkok dan duduk); ada tersedia tisue; ada tersedia pengering tangan; ada tersedia cermin yang lebar plus sisir yang bersih dan terawat; penerangan yang cukup; tempat sampah di masing-masing toilet, ada pengharum ruangan, ada hiasan seperti bunga, lukisan atau aquarium. Ada tempat meletakkan barang seperti tas, topi, kaca mata dll. Ada juga yang menghendaki adanya tempat duduk untuk melepas/memakai sepatu dll.
Disamping itu Ada juga 12 responden yang menghendaki ada bacaan di depan urinoir (pria) dan di dinding/pintu depan wc. 18 responden menghendaki musik easy listening di putar di toilet umum, dan 13 responden meminta adanya penjaga khusus di dalam toilet publik yang senantiasa menjaga kebersihan areal toilet, memberikan pelayanan berupa handuk panas/dingin dan melengkapi perlengkapan toiletes seperti parfum, body lotion, dll.
Ada beberapa catatan kecil dari seorang responden yang menarik untuk dicermati. Ia menyarankan agar ada manajemen losts & founds (pengaturan barang hilang/ditemukan). Ia juga menyarankan agar memberikan informasi yang lugas atas teknologi yang digunakan dalam toilet yang kadang tidak ramah dengan penggunanya. Bukan sedikit orang yang tidak tahu cara membuka kran karena standarnya berbeda-beda. Belum lagi untuk toilet dengan sistem pembersih robotik dll.
Share:

20.7.07

Pengalaman Lae Sinaga Belajar Mengambil Keputusan


“Ku ambil apa tidak ya?” demikian tanya hati Lae Sinaga, ketika ia mendapatkan sebuah pesawat ponsel tergeletak begitu saja dikursi sebelah tempat duduknya dalam penerbangan dari Jakarta ke Medan minggu lalu.
Hati Lae Sinaga benar-benar bimbang dan gusar, sebelah hati ingin memiliki HP itu karena dari merek dan bentuknya terlihat jelas bahwa itu adalah HP yang mahal dan bagus. Tetapi disebelah hati yang lain, ia merasa tidak berhak atas barang itu.
Dalam kisahnya setelah pendaratan, ia mengatakan kepada saya bahwa selama 2 jam penerbangan itu Ia sangat lelah karena gara-gara HP tak bertuan itu. Kecamuk pikiran dan perasaan bermain dengan amat deras dan tajam.Sempat ia berkata dalam hatinya, ”Kasihan kali pemilik HP ini, jangan-jangan HP ini milik penumpang sebelumnya yang baru saja datang pertama kali ke Jakarta” jelas Lae Sinaga, lalu, “Pasti orang itu benar-benar sial dan semakin yakin bahwa Ibu Kota memang kejam, buktinya belum juga sehari di Jakarta, Hpnya sudah hilang!”.
Lae Sinaga mencoba memperhatikan sekelilingnya, tak nampak seorang pun diantaranya yang terlihat gelisah karena kehilangan HP mahal, lagi-lagi ia tergoda untuk memilikinya tetapi cepat saja ia urungkan niatnya, Saat itu Lae Sinaga masih ingat dosa.
Dalam kecamuk pikirannya, mulailah berlalu lalang para pramugari yang melayani penumpang. Kemudian Lae Sinaga terfikir untuk memberikan saja kepada pramugari yang sedang bertugas itu. Saat mulai melihat-lihat wajah pramugari yang bertugas satu-persatu ia menjadi bimbang, apakah orang-orang ini bisa dipercaya dan sanggup mengembalikan HP sial itu kepada pemiliknya. Dalam pikiran Lae Sinaga, mulai terfikir bagaimana cara pramugari itu mengumumkan HP tak bertuan itu atau jangan-jangan akan didiamkan saja untuk pribadinya sendiri. Setelah bebrapa lama, Lae Sinaga mencoba memberanikan diri menguji si Pramugari dengan pura-pura bertanya harga-harga souvenir yang dijual di penerbangan itu. Saat ia tidak boleh menawar harga souvenir yang ia tunjuk, Lae Sinaga langsung memutuskan bahwa ia tidak bisa percaya dengan pramugari tersebut.
Singkat cerita, Lae Sinaga benar-benar tersiksa dengan pikirannya atas HP tak bertuan itu. Selama 2 jam penerbangan, tak sedetikpun ia bisa berpaling memikirkan HP dan cara menyelesaikan permasalahannnya. Bahkan ketika ia berfikir untuk pindah tempat duduk, ia lagi-lagi terfikir kalau-kalau malah HP itu diambil orang jahat dan tidak dikembalikan kepada pemiliknya yang sah.

Manajemen = keputusan
Kisah nyata diatas adalah gambaran mengenai inti dari kata manajemen. Ya... Keputusan! Keputusan adalah nyawa dari manajemen. Manajer/pimpinan dan siapapun yang mengambil keputusan, dituntut untuk bisa mengambil keputusan dan memutuskannya dengan cepat, tepat dan bermanfaat.
Mengendalikan perusahaan/manajemen tidaklah cukup sekedar memiliki nurani dan logika. Lihatlah betapa Lae Sinaga terjebak oleh nurani dan pikirannya hingga ia berlarut-larut terjebak didalamnya.
Benar bahwa seorang pemimpin harus amanah, tetapi ia juga harus sadar bahwa ia bukanlah Dewa atau Tuhan yang serba sempurna. Ia harus sadar bahwa semua keputusan selalu membawa serta konsekuensi logis. Tidak ada tindakan tanpa resiko. Yang ada hanyalah kesempatan untuk mengurangi resiko itu sendiri.
Lae Sinaga benar-benar belajar dan memahami apa yang pernah disampaikan oleh Anthony Robin dalam sebuah pelatihannya; ia meminta semua peserta mengangkat gelas masing-masing dan menanyakan seberapa berat gelas itu. Lalu para peserta mulai menjawab dengan berbagai ukuran seperti 2 ons, 3 ons 5 ons dan sebagainya. Sementara itu, yang dimaksud Anthony robin bukanlah ukuran beratnya, tetapi seberapa lama mereka mampu memegang beban itu. Memang gelas itu katakanlah hanya 2 ons, tetapi jika memegangnya selama 1 jam,1 hari, 1 minggu, 1 tahun dan seterusnya, pasti tangan kita akan patah. Demikian juga dengan sebuah beban permasalahan, biarpun permasalahan itu ringan dan sederhana, tetapi jika kita menahannya dan membiarkannya berlama-lama, tentu kita akan tersiksa dan menderita berkepanjangan.
Memutuskan segala sesuatu memang harus cepat dan tepat. Untuk itu sangat diperlukan data yang akuran sebagai bahan pertimbangan atas keputusan tersebut. Data adalah nyawa dari sebuah keputusan. Tepat dan tidaknya keputusan jelas karena faktor data. Disisi lain, mengumpulkan data adalah seni pengambilan keputuan yang harus dipelajari oleh semua pengambil keputusan.
Dalam kasus Lae Sinaga, jelas terlihat bahwa ia tidak memiliki data yang akurat tetapi ia tidak berusaha mengumpulkannya dari pihak lain. Lagi-lagi ia mengandalkan ‘kehebatan’ pikirannya yang terbatas itu. Ia tidak tahu kalau semua penerbangan memiliki standar prosedur operasional atas semua harang hilang atau yang ditemukan (Lost & Found). Ia hanya mengandalkan intuisinya yang belum terlatih dengan sering mengambil keputusan. Lae Sinaga juga terlalu memainkan nuraninya tanpa berfikir logis. Ia hanya main perasaan dan benar ia tersiksa selama 2 jam penuh.

Save By The Bell
Untung saja pesawat segera mendarat, sehingga tidak ada pilihan lain bagi Lae Sinaga untuk lagi-lagi menunda mengambil keputusan dan berlarut-larut menggendong permasalahan tidak penting di pundaknya. Ia terselamatkan karena memang pesawat harus mendarat di Bandara Polonia Medan.
Ia menunggu semua orang berdiri dan membawa barang masing-masing, lalu pada akhirnya ada seorang pria setengah baya yang terlihat gusar, meraba-raba kantongnya, membuka-buka tasnya, dan terlihat panik. Lalu Lae Sinaga bertanya apa ada yang hilang dan benar ia mengaku Hpnya hilang, tanpa berfikir panjang Lae Sinaga memberikan Hp disebelahnya dengan perasaan lega.
Lae Sinaga terbebas dari beban berat selama penerbagan 2 jam dan pemilik HP itu terbebas dari beban berat kurang dari 5 menit.
Share:

18.7.07

Belajar Menjual Dengan Membeli


COBA anda praktik sendiri pengalaman saya ini. Saya perbah bergabung dalam beberapa group mengunjungi objek wisata. Sudah jamak di tiap objek akan ada toko-toko cinderamata yang khas daerah itu. Lalu semua peserta tour berjalan mengelilingi komplek perbelajaan, melihat dan membeli berbagai oleh-oleh. Suatu hari saya bepergian bersama pengusaha toko sepatu. Seperti biasanya, saya tidak tertarik berjalan-jalan keliling komplek toko cinderamata, karena pasti produknya sama dan didapat dari pemasok yang sama, lalu saya memilih duduk bersama teman saya itu di salah satu toko dan ngobrol dengan penjualnya.

Tentu saja si pedagang tempat saya duduk agak heran, mengapa kami tidak ikut melihat-lihat seperti umumnya pengunjung selalu tertarik untuk berkeliling, melihat dan menawar harga dengan saling membandingkan. Keheranan itu adalah pintu masuk ke dalam sebuah proses negosiasi yang indah.

Belajar
Ternyata kemampuan membeli, menawar dan memilih produk yang baik adalah keterampilan postitif sebagai bagian dari kecakapan menjual. Membeli barang atau jasa adalah aktivitas seni yang memerlukan kecakapan tersendiri. Membeli barang atau jasa selayaknya memenuhi kaidah-kaidah umum agar proses pembelian memberikan nilai yang layak atas uang yang dibelanjakannya.

Tentu saja proses pembelian barang atau jasa akan melalui proses negosiasi. Proses negosiasi ini akan menjadi menarik dan hidup kerena pihak pembeli dan penjual berangkat dari kacamata dan kebutuhan yang berbeda. Pihak penjual ingin agar produknya laku dan mendapat keuntungan dan pihak pembeli menghendaki dirinya mendapat produk atau jasa yang diinginkannya dengan nilai uang yang pas sesuai kehendaknya. Menarik bukan?

Pada proses pembelian, kita berada pada situasi memiliki uang dan memerlukan barang/jasa. Lalu kita tidak tahu batas minimum dari harga yang ditawarkan penjual. Pada proses yang sama, kita bisa mengamati gaya jual dan pola penawaran yang timbul.

Pada proses pembelian, kita bisa belajar cara-cara penjual dalam 'mempengaruhi' pembelinya. Dari teknik promosi, media promosi, cara memajang barang, cara pewarnaan dan dekorasi tempat usaha, cara menyambut pelanggan, cara menawarkan harga pertama dan pengurangannya, cara menolak dengan halus dan cara menolak dengan kasar. Kesemuanya akan memberikan wawasan dan gambaran bagaimana berbagai orang mempengaruhi orang lain membeli berang/jasanya.

Membeli dengan menjual
Jual beli adalah aktivitas perdagangan yang serupa walau tidak sama. Kesemuanya berbasis kesepakatan (dengan rela atau tidak) antara pihak – pihak yang terlibat. Kiat-kiat memenangkannya adalah seni, karena pihak-pihak yang terlibat adalah manusia yang berbeda kehendak dan kebutuhannya.

Lalu pembelajaran dari menjual sesuatu juga merupakan modal yang bagus dalam membeli. Kecakapan membeli akan menginspirasikan pelakunya tentang seni cara menjual yang baik. Proses menjual barang/jasa sama dengan proses membeli barang/jasa. Hanya posisi dan peran yang mebedakannya. Peran pembeli dan penjual yang membedakannya, tetapi di posisi apapun semua orang ingin mendapatkan keuntungan. Demi mendapatkan keuntungan tersebut, semua pihak berusaha dengan serius.

Pada proses penjualan, kita bisa belajar dari berbagai pembeli yang datang. Dari mengenal penampilan untuk mengukur kapasitas belinya, membedakan kebutuhan dan keinginannya, memahami bahasa yang santun dan penuh pengaruh, memahami bahasa promosi yang menarik dan menggerakkan hingga paham bagaimana pembeli juga memiliki ide-ide yang positif dan perlu dipertimbangkan.

Dengan memiliki pengalamam menjual sesuatu, maka ia akan menjadi referensi pada saat kita membeli sesuatu. Pada saat kita berada di posisi atau peran yang berbeda, maka kita akan mudah merasakan dan mengamati posisi dan peran orang lain tanpa terlibat secara emosional.

Seni negosiasi

Inti dari proses jual beli adalah negosiasi untuk mencocokkan kehendak masing-masing. Sudah sangat banyak referensi dalam bentuk buku/seminar tentang teknik dan strategi negosiasi. Saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk mencoba mempelajarinya dengan mempraktekkan langsung dalam proses jual dan beli.

Penjual yang handal adalah pembeli yang handal. Menjual dan membeli memiliki syarat kecakapan yang sama. Melatih diri menjadi penjual yang ulung sangat mungkin jika kita melatihnya dengan cara membeli yang bagus. Tidak mungkin anda memiliki tim penjualan yang handal jika mereka tidak memiliki kecakapan membeli. Jadi kecakapan membeli adalah ketrampilan yang harusnya dimiliki oleh para penjual.

Kembali kepada rekan saya yang sekian lama berjualan sepatu, jelas sekali kemampuan negosiasinya melejit dengan bagus karena ia terlatih dalam menjual sehingga kemampuan pembelian yang menguntungkan juga ia miliki. Bagaimana dengan anda?
Share:

10.7.07

"Hepeng Mengatur Nagaraon"


"JANGANKAN kita, batu kering pun bisa diperas dan keluar airnya." Ini pernyataan dari seorang pengusaha yang pernah merasa diperas oleh oknum penguasa dalam menjalankan bisnisnya. Sebuah kenyataan dari sebuah rahasia umum bahwa hukum rimba berkuasa dalam roda kehidupan zaman ini.

Konon saat ini tidak ada lagi lantun nyaring pekik MERDEKA. Sudah sulit menemukan rasa merdeka dalam berbisnis di negeri yang mengaku sudah terbebas dari penjajahan ini. Pekik merdeka memang lantang disuarakan orator-orator politik yang hendak menjaring dukungan massa, tetapi terasa jelas bahwa pekik merdeka itu bergema dengan buntut tatapan tajam yang mengatakan, "bersiap-siaplah, tunggu saya jadi harimau, nanti saya akan terkam kalian satu per satu"

Sadarilah para pengusaha, sekarang anda adalah mangsa yang empuk sedang dikelilingi oleh algojo-algojo yang buas dan kelaparan. Mereka berkeliaran mulai dari proses perizinan, permodalan, operasional bisnis, sampai kepada pekerja anda sendiri. Mereka ada yang pakai dasi, pakai seragam, pakai jas, ada juga yang 'tidak berpakaian' apapun.

Bukan rahasia
Siapa yang tidak tahu, bahwa semua hal membutuhkan uang. Bahkan mati pun bukan lagi perkara yang harus dipasrahkan saja, karena setelah mati kita tetap memerlukan biaya. Yang menjadi alasan mengapa pengusaha harus serba waspada adalah kenyataan bahwa semua orang kini sepertinya harus mengeluarkan dana untuk menjabat jabatan pelayanan umum.

Bukan rahasia umum berapa puluhan hingga ratusan juta rupiah yang diperlukan untuk menjadi seorang anggota legislatif tingkat kabupaten, jangankan sampai anggota legislatif, untuk menjadi ketua partai politik tingkat kabupaten saja demikian. Lalu, berapa miliar rupiah yang diperlukan untuk menjadi seorang bupati/walikota.

Bukan hal aneh jika seseorang juga memerlukan dana yang tidak sedikit untuk menjadi seorang pegawai negeri, polisi atau tentara. Setelah masuk menjadi abdi negara pun mereka harus mengeluarkan sejumlah dana agar bisa ikut pendidikan hingga berpeluang naik pangkat. Jika mereka menghendaki mendapatkan jabatan tertentu, daftar harganya sudah sangat jelas. Bukan rahasia jika untuk menduduki jabatan komandan keamanan tingkat kecamatan saja, seseorang memerlukan biaya puluhan juta rupiah. Konon tingkat kabupaten atau provinsi?

Pertanyaan yang juga bukan rahasia adalah bagaimana mereka mengembalikan modal yang sudah dikeluarkannya? Apa benar ada cinta sejati yang selalu penuh dengan pengorbanan? Jadi bukan lagi rahasia umum, jika para penguasa berlomba-lomba menciptakan berbagai cara agar modalnya bisa kembali. Dan semuanya ingin untung bukan sekadar impas.

Selama Ayam Masih Mau Makan Jagung...
Anda semua pasti sudah paham dan bisa melanjutkan sub judul diatas. Kompetisi untuk mendapatkan jabatan amanah rakyat sudah tidak lagi bisa dipercaya. Tokoh sekarang bukan lagi karena kearifan dan kecendekiawannannya, tetapi karena ketebalan uangnya. Cocoknya lagi, tokoh yang tebal uangnya tersebut sangat yakin, selama ayam masih mau makan jagung, pasti tidak akan menolak jika diberikan jagung kepadanya.

Orang kebanyakan mengakui bahwa perlu langkah yang arif dan bijak untuk kesehatan kehidupan dimasa yang akan datang, tetapi semua orang juga menyadari proses itu memerlukan waktu yang panjang, disisi lain hampir semua orang sedang merasa sangat lapar pada saat ini. Disinilah bertemunya mobil dengan garasinya. Satu pihak sedang perlu uang dan pihak lain sedang perlu dukungan dan memiliki uang.

"Takut dengan hari kiamat", bukan lagi kalimat yang sering kita dengar. Kita akan menerima apapun agar kita bisa kenyang, walaupun perut kita sudah buncit. Mereka yang membutuhkan kita juga tidak lagi tergerak hatinya karena sudah tidak lagi sering mendengar kalimat tersebut.

Keamanan dan sosial?
Siapa yang tidak merindukan keamanan? Semua pihak mau aman. Karena permintaan rasa aman ini, munculah berbagai praktik bisnis yang menjual jasa keamanan. Sayangnya praktek bisnis ini cenderung memeras daripada menjual jasa keamanan.

Banyak pihak berlomba-lomba membuat lembaga yang seolah-olah sangat legal dan mendapat wewenang untuk meminta uang jasa keamanan di areal kekuasaannya. Mereka berlaku seperti seorang raja yang harus dipenuhi semua titahnya jika kita ingin aman dari gangguannya.

Ada yang menyebut dirinya pemuda setempat, ada yang menyebut dirinya jasa bongkar muat, tapi angkat barangpun tidak dikerjakan. Hanya angkat kuitansi untuk mendapatkan uang dari targetnya. Ada lagi yang berkedok organisasi kepemudaan, bahkan ada juga yang berkedok koperasi dari lembaga keamanan yang legal. Pada kalangan tertentu, ada pemikiran bahwa pengusaha adalah mahluk Tuhan yang banyak uangnya, mudah di tekan dan harus takluk karena mereka mengambil keuntungan dari lingkungannya. Apakah anda menyadarinya?

Contoh-contoh dari kenyataan pemikiran tersebut adalah satu bulan menjelang hari ulang tahun kemerdekaan republik tercinta ini, sudah banyak proposal-proposal sumbangan dengan dalih merayakan hari kemerdekaan. Hari kemerdekaan sudah tidak lagi bermakna merdeka. Masih banyak praktik meminta sumbangan dengan memaksa dan tidak menghormati asas kemerdekaan itu sendiri.

Bagimana dengan kita?
Siapa lagi yang bisa dimintai perlindungan selain Tuhan? Hukum apalagi yang masih bisa dipercaya oleh masyarakat dinegeri ini? Apakah memang hukum rimba harus terus terjadi? Jika belajar dari binatang-binatang yang sering terancam pembunuh, mereka akan selalu menggunkan kekuatan kolektif untuk bertahan. Hanya kijang yang terpisah dari kelompoknya yang akhirnya menjadi santapan harimau. Apakah kita tidak bisa belajar?

Satu lagi, penyuapan merupakan suatu kemunduran bagi semangat etika religius. Secara hukum dan pertimbangan moral, suap itu berada di luar perilaku yang dianggap pantas di banyak negara. Tetapi bukan juga rahasia, suap dikerjakan oleh para pengusaha untuk melancarkan usahanya. Sayangnya pihak-pihak penguasa juga senang dengan tawaran suap tersebut. Inilah sumber malapetaka mengglobal di negeri tercinta ini.

Jadi siapa dulu yang seharusnya berubah? Ayamnya atau telurnya? Pengusahanya atau penguasanya? Proses kompetisi yang bersih dan sehat dalam bisnis sulit sekali ditegakkan. Apakah benar bahwa bisnis hanya bisa berjalan jika praktek suap dikerjakan? Apakah tidak ada lagi nurani untuk memulai kerbersihan batin dengan membersihkan diri dari praktik tersebut?

MERDEKA ...! 60 tahu yang lalu, pada tanggal-tanggal sekarang ini adalah waktu yang sarat dengan komitmen untuk perjuangan tanpa pamrih demi menjadikan sebuah bangsa yang merdeka, lepas dari segala belenggu penjajahan dan menjadi manusia yang bermartabat. Sekarang, walupun semangat ini sudah pudar, tidak salah kalau kita harus mulai belajar untuk berani meneriakkan semangat kemerdekaan ini.

Kini saatnya para pengusaha berani untuk merdeka dari jajahan pungutan liar, dari jajahan para penguasa yang zalim, merdeka dari ancaman premanisme dan merdeka dari perilaku merusak mental masyarakat dengan meninggalkan suap. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kalau tidak sekarang kapan lagi?
Share:

Blog Archive