it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

27.8.07

Optimalisasi Media Promosi




Selalu saya katakan, bahwa mutiara baru bisa sah disebut mutiara jika sudah terjalin melingkar di leher perempuan. Mutiara yang masih dalam lumpur bagi saya adalah lumpur.

Proses awal agar mutiara dikenal orang dan dimanfaatkan adalah promosi. Sebuah langkah memperkenalkan diri kepada sasaranya sebelum transaksi lanjutannya. Dengan promosi, produk unggulan kita berpotensi dilirik dan diminati oleh pangsa pasar yang kita kehendaki.

Promosi bisa dikatakan sebagai kabut yang menyelimuti pasar, bukan kunci utama terciptanya transaksi. Tetapi, promosi adalah hal wajib untuk dilakukan jika kita ingin memasarkan sesuatu.
Efektifitas promosi sangat tergantung medianya, isi pesannya, jumlah dan durasi penyampaian serta kecerdasan untuk memasuki alam dasar pikiran banyak orang. Disisi lain, adalah kenyataan semua manusia modern sudah memasuki era over-comunicate –kelebihan informasi--. Manusia modern cenderung tidak lagi mampu menerima pesan-pesan karena sudah terlalu banyak informasi yang diterima dan melampaui kapasitas kerja otaknya. Jadi hanya pesan-pesan yang istimewa saja yang sanggup menggemingkan seseorang di era ini.

Tanda-tanda seseorang sudah kelebihan informasi misalnya; sudah tidak lagi perduli apapun isi spanduk yang melintang di jalan yang ia lewati, sudah tidak lagi sempat membaca iklan, sudah tidak lagi bisa membaca semua berita di koran yang ia pegang, sudah tidak lagi sempat membaca tulisan yang ada pada kemasan makanan yang ia konsumsi dan sebagainya.

Media & Efektifitasnya
Baiklah, coba fokus kepada salah satu kunci sukses berpromosi yaitu faktor media yang digunakan untuk berpromosi. Media promosi adalah alat penghantar pesan promosi tersebut. Media promosi yang paling tua dan sangat efektif adalah media dari mulut ke mulut. Menggunakan media ini memang sangat efektif, tetapi kurang efisien karena kecepatan penyampaianya kurang bisa diukur dan diperkirakan.

Media promosi yang klasik mungkin saja berupa; brosur, poster, booklet, leaflet, spanduk, baligho, billboard, neon box, standing banner, kartu nama, kop surat, seragam pegawai, jam dinding, poster di mobil/truk, piring/gelas, iklan di tv, radio, spanduk terbang (ditarik pesawat), balon udara, iklan di media cetak, daftar menu, daftar harga dan sebagainya.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak ada satupun media yang sangat tepat. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Artinya, jika kita hanya menggunakan satu media untuk mempromosikan produk kita, jelas secara pasti efektifitasnya menjadi terbatas.

Iklan di koran, memang bisa menjangkau lebih banyak orang dan menghemat biaya distribusi tetapi usianya kurang dari 24 jam saja. Selain itu, koran hanya terbaca oleh orang-orang tertentu saja. Karena tidak semua orang membaca koran dan jumlah penerbit koran sudah lumayan banyak dengan pembaca yang berbeda-beda. Hanya orang tertentu yang berlangganan koran lebih dari satu buah.

Iklan di radio cukup mempengaruhi pendengarnya karena ia masuk melalui media pendengaran, tetapi usianya hanya beberapa detik dan hanya pada jam-jam tertentu saja radio memiliki banyak pendengar.

Promosi dengan brosur, cenderung lebih murah dan bisa diarahkan penyebarannya, tetapi kita semua tahu bahwa brosur yang dibagikan tidak pernah terbaca sampai habis dan usianya kurang dari 30 menit begitu sampai ditangan seseorang.

Promosi dengan billboard memang cukup mengundang perhatian pengguna jalan karena bentuknya besar dan kadang dilengkapi lampu penerang, tetapi pesan yang disampaikan menjadi terbatas karena rata-rata billboard harus sudah selesai dibaca dalam hitungan detik.

Optimalisasi Pemanfaatan Media
Coba pastikan berapa media promosi yang sudah anda gunakan? Lalu sepuas apa anda atas hasilnya? Sudah jelas bahwa masing-masng media memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan kita harus menggunakan beberapa darinya untuk memastikan agar pesan kita melingkupi semua target kita dari semua sisi. Penyampaian pesan promosi menggunakan media tunggal saangat beresiko. Karena karakter media tersebut membatasi penyampaiannya kepada target yang hendak kita tuju.

Banyak strategi pemasaran yang gagal karena membatasi penggunaan media promosi yang berfariatif. Apakah anda juga masuk golongan yang hanya mengandalkan iklan di satu koran saja. Sayang bukan?

Ada dua alasan tidak memanfaatkan media promosi yang berfariasi yaitu karena ketidaktahuan dan hambatan anggaran. Sementara kita sudah paham bahwa biaya promosi adalah ibarat umpan pada saat memancing. Besar-kecil umpan berhubungan langsung dengan besar-kecilnya hasil yang akan kita dapatkan. Umpan adalah sesuatu yang harus kita relakan terbuang.

Teknik memanfaatkan media promosi secara optimal adalah sebuah kecerdasan yang bisa dilatih. Yang diperlukan untuk membangun kecerdasan itu adalah kemampuan pengamatan yang jeli serta kemampuan menciptakan kreasi agar pesan-pesan yang kita sampaikan mampu menembus alam bawah sadar target kita.

Contoh dari kecerdasan itu adalah misalnya; dalam hal menggunakan media koran. Kita memiliki banyak pilihan berpromosi melalui media ini. Yang paling kasik adalah beriklan di bagian iklan kecil/baris (dihalaman yang sudah ditentukan), lalu iklan kolom (boleh memilih halaman yang diminati dan bisa berwarna), atau iklan kuping (di kanan/kiri nama koran), berupa advertorial (pariwara) atau berupa berita.

Kesemua pilihan tersebut diatas memiliki karakter yang berbeda-beda. Iklan baris/kecil biasanya cukup murah, tetapi jelas tidak dibaca oleh setiap orang. Iklan kuping umumnya mahal tetapi sangat efekti karena langsung terlhat pada saat orang belum membuka seluruh halamannya. Pariwara bisa memuat pesan yang banyak dan lebih menarik karena bisa disertakan foto dan ditulis dalam gaya bahasa laporan tapi biasanya berbiaya lumayan besar. Iklan melalui berita cenderung lebih hemat (maaf, paling uang kopi untuk wartawannya) tetapi kita harus menciptakan sesuatu agar memiliki nilai berita seperti aksi sosial, penciptaan tehnologi baru yang penting untuk publik dan sebagainya.

Jadi sekali lagi, walaupun kita masih menggunakan media promosi yang klasik, tetapi kita harus jeli mengamati kebiasaan dari target kita dan tahu memilih media yang tepat untuk memsatikan agar kita tidak membuang-buang biaya percumah.
telah diterbitkan oleh harian WASPADA pada tanggal 27 Agustus 2007
Share:

20.8.07

Merdeka dari 7 Belenggu Dalam Memulai Bisnis


MERDEKA…! Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 62. salam ini sengaja saya pilih untuk memastikan agar setiap dari kita terbebas dari beban dan belenggu yang membatasi diri kita.
Ide tulisan ini berangkat dari sebuah obrolan saat merayakan HUT RI dengan beberapa tetangga dan kerabat. Dalam pembicaraan itu tersepakati bahwa untuk menjadi pribadi yang merdeka secara finansial, bagusnya kita tidak lagi makan gaji.
Untuk melengkapi obrolan itu, -- dan saya yakin sidang pembaca layak mengetahuinya – saya tuliskan beberapa kesalahan yang pernah saya lakukan dalam memulai berbisnis. Ini menjadi harapan agar sidang pembaca yang budiman tidak lagi mengalami kesulitan seperti yang orang lain pernah lakukan seperti berikut ini.

Mau bisnis apa?
Ya, Mau bisnis apa? Karena kurang data dan kreatifitas, kita terbiasa latah dan ikut-ikutan. Padahal kecerdasan memilih bisnis adalah salah satu indikasi talenta kewirausahaan.
Tetapi jangan takut, karena kunci untuk memilih bisnis menjadi sangat mudah jika kita memahami, PASAR yang tersedia, PESAING yang ada, PRODUK yang hendak kita kerjakan, SUMBER DAYA yang kita miliki.
Untuk mencari ide bisnis, anda tak harus mengandalkan kemampuan ‘daya khayal’ diri sendiri. Bergabunglah dengan komunitas ‘kedai kopi’ – tapi jangan lama-lama—lalu kumpulkan banyak ide dari pemimpi disana dan jangan lupa berkumpul dengan komunitas pebisnis. Nanti ide akan mengalir seliweran dari mereka.

Tidak segera mulai
Segera pilih salah satu dari ide yang paling briliant. Abaikan alternatif-alternatif yang kebanyakan, karena akan mengurangi konsentrasi anda. Ingat, ‘bepeganglah dengan erat kepohon yang sudah anda pegang, terlalu sering melompat, akan berpotensi menjatuhkan anda’.
Mimpi menjadi orang kaya memang menarik dan membuat bahagia, tetapi jika kita tidak segera memulainya, kita hanya akan menjadi pelanggan kedai kopi yang penuh dengan konsep, cakap besar tapi membayar kopinya sendiripun harus ngutang.
Ingat semua yang besar bermula dari yang kecil, semua yang sukses bermulai dari gagal. Boleh berfikir besar tetapi kerjakan dari yang kecil, yang mudah, dari sekarang. Tak perlu menunda waktu. Untuk memiliki sekolah swasta dengan ribuan siswa, bisa segera anda mulai dengan 1 orang siswa di teras rumah anda, sekarang. Kita harus menyadari, bahwa ‘pelaut ulung hanya diciptakan oleh lautan yang ganas’.
Bisnis yang kita pilih tidak harus hal yang kita ketahui, memang sangat bagus jika bisnis bermula dari hobby, tetapi ingat bisnis adalah seni yang tidak berperasaan, jadi tak usah melo sekali dalam mengerjakannya.

Modal
Menunggu modal terkumpul adalah aksi yang paling menjengkelkan. Karena nilai uang yang kita kumpul semakin hari semakin merendah. Dan yang lebih menyakitkan adalah bahwa kemampuan mengumpulkan modal tidaklah secepat pergantian waktu. Yang lebih lucu adalah, niat menabung selalu kalah dengan upaya memaafkan diri saat terpaksa menggunakan uang tabungan itu untuk keperluan lain yang seolah-olah penting dan mendesak.
Seorang sahabat yang juga pebisnis sukses pernah mengatakan rahasia yang menarik, “bisnis yang paling bagus adalah menggunakan otak orang lain, uang orang lain dan tenaga orang lain”.
Saya pikir anda sudah paham akan makna yang terkandung dalam kalimat tersebut diatas.

Sewa Kantor?
dalah membuang energi yang amat besar jika kita memaksa diri harus menyewa kantor, untuk memulai bisnis jika kita belum memiliki modal yang cukup. Tak semua bisnis harus memiliki kantor yang layak dan mentereng.
Gengsi memang penting untuk permainan permukaan dan mempengaruhi orang lain, tetapi nyawa bisnis yang utama adalah ketekunan dan kesabaran tanpa gengsi. Ingat, gengsi berbiaya mahal dan gengsi tidak memberikan kita makan. Gengsi tidak pernah akan menyekolahkan anak kita.
Mulai saja dari emperan rumah, teras, garasi atau bahkan bawah pohon diseberang jalan. Sekarang fasilitas komunikasi menjadi lebih mudah tanpa harus memiliki pos yang permanen. Telepon sudah bisa dibawa-bawa dan internet sudah bisa diakses dimanapun, bahkan perbankan pun lebih senang jika nasabahnya tidak banyak mengantri dikantor kas mereka.

Tak ada sekolah bisnis
Sepertinya belum ada sekolah yang bisa mengajari kita untuk menjadi orang kaya. Semua kurikulum dalam sekolah di tataran apapun, biasanya hanya untuk meningkatkan kapasitas diri untuk memperkaya orang yang sudah kaya.
Bisnis membutuhkan pengetahuan, itu jelas dan pebisnis harus memiliki pengetahuan itu. Sayangnya, si pemula hanya kebingungan kemana mencari gurunya, padalah banyak sekali contoh dan guru disekitarnya. Yang diperlukan adalah bergaul dengan mereka dan mendapat cerita pengalamannya, bekali diri dengan pengetahuan melui buku-buku binis atau gunakan internet untuk mendapatkan semua informasi itu.
Kebanyakan pebisnis pemula di Indonesia mendapatkan kesulitan itu karena membaca bukanlah kultur kita.

Menunggu dukungan
Memang anda hidup bersama orang lain, mungkin pacar, istri, keluarga, sahabat dll. Tapi ingat, soal uang itu urusan masing-masing. Mereka boleh berpendapat tapi andalah yang berkuasa mengambi keputusan. Jika keputusan anda salah, jangan khawatir. Secara rata-rata, seseorang akan sukses setelah 3 hingga 5 kali gagal atau jatuh.
Saya sering mengatakan bahwa bisnis adalah media religius untuk mengantarkan diri menuju Tuhan. Ini jelas terjadi karena kita tidak bisa mengandalkan dukungan dari orang lain. Kekuatan kedewasaan batin diri sangat dibutuhkan untuk mengarah kepadaNya, sama seperti bisnis yang menutut independensi serupa.
Pada saat anda hanya sendiri, pertanyaannya adalah apakah anda akan tetap yakin akan peluang itu, walaupun anda sendirian di dunia ini yang percaya terhadap peluang itu?

Invest dan hasil
Invest dulu, lalu menunggu hasil. Itulah kesalahan yang paling sial. Hanya bisa buat trus bingung kemana cari pembeli. Yang cerdas adalah cari pembeli dulu, dapatkan kontrak kerja, dapatkan panjar dan setelah itu baru buat produknya.
Share:

10.8.07

Rahasia Agar Selalu Mujur


Dalam perkara bisnis, selain faktor manajemen modern, ada juga faktor yang sering dianggap sebagai komponen penting dalam menentukan keberhasilan seseorang yaitu nasib sial atau nasib mujur. Nasib mujur adalah impian dan harapan pebisnis dimanapun. Sayangnya kemujuran adalah sesuatu yang dianggap gaib.


Berita bagus bagi mereka yang merasa sering bernasib sial adalah bahwa Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, sudah meneliti hal-hal yang membedakan orang-orang mujur dengan yang sial. Saat ini Dia sudah menemukan jawabannya bahkan membuka sekolah kemujuran/keberuntungan disana.


Dalam penelitiannya, Profesor botak ini merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu mujur, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Penelitian unik ini ternyata membuktikan bahwa orang yang mujur bertindak berbeda dengan mereka yang sial.


Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Prof. Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang-orang dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok mujur hanya perlu beberapa detik saja!


Yang menarik dalam proses eksperimen itu adalah bahwa pada halaman ke dua Prof. Wiseman telah meletakkan tulisan yang lumayan besar dan berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”.


Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Bukankah memang benar-benar sial?!


Prof. Wiseman menerbitkan buku hasil penelitiannya dengan judul The Luck Factor. Dalam buku itu ia menyebutkan 4 faktor utama yang membedakan mereka yang mujur dari yang sial:

terbuka atas peluang
Orang Mujur ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang.


Itu terjadi karena ternyata orang-orang yg mujur memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.
Ibarat parasut, pikiran baru berfungsi saat dibuka.

Intuisi
Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang penuh kemujuran ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) dari pada hasil kalkulasi angka yang canggih. Figur dan data memang akan sangat membantu, tapi keputusan final umumnya diambil berdasarkan “suara hati“.


Suara hati bukan tidak dimiliki oleh orang bertipe sial. Tetapi mereka cenderung pusing dengan keragu-raguan penalaran yang tak berkesudahan sehingga sulit melacak suara hatinya.


Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Untuk itu orang Mujur umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui praktek meditasi yang teratur dll.


Bagi mereka yang mengenal NLP dan olahraga pikiran versi Nurcahyo, pelatihan pengembangan intuisi adalah hal yang sangat masuk akal dan mudah.

Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang penuh kemujuran beruntung ternyata selalu positif terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Selalu ada alasan utuk berbahagia dan positif dan mereka memilih melihat dari sisi positif dari pada sisi yang negatif. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.


Contoh yang extrim adalah Saya punya kawan yang suka berjudi dan dia sering menang. Jika kalah, ia tidak langsung bunuh diri tetapi malah merayakannya karena itu adalah cara dia membuang sial.

Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umumnya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang mujur, misalnya adalah: “Untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan mungkin dapat duit”.


Apapun situasinya orang yang mujur pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang-orang sial atau semacam itu adalah dengan membuat 'Luck Diary', buku harian kemujuran. Setiap hari, mereka harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka biasa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak kemujuran yg mereka tuliskan.


Dan ketika mereka melihat ulang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa mujurnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction“, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi kemujuran yang datang pada hidup mereka. Jadi, Ternyata semua orang juga bisa beruntung dengan mudah. Termasuk kita.


Sumber beberapa seminar dan www.richardwiseman.com
Share:

Blog Archive