it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

26.9.07

Singel perdana Wisnu putra Indonesia yang tinggal di OSLO.



Wisnu W. Adhi was born 9 September 1983, in Jakarta, Indonesia. His first single, "Love Like That", produced by Stargate Norway and Dsign Music is released July 2007
Share:

25.9.07

Jika Dibandingkan Dengan Pesaing



“SEMUA penjual itu pembual”, celoteh seorang peserta pelatihan yang saya pimpin awal bulan ini. “Apakah memang begitu?” selidik saya kepadanya, lalu ia dengan sedikit bergurau mengatakan bahwa penjual/salesman terlalu banyak cakap dan melebih-lebihkan keadaan sampai ia pernah beberapa kali merasa tertipu dalam bertransaksi dan pernyataan ini sepertinya di-iya-kan oleh sebagian peserta yang lain.
Kesan yang sedemikian hebatnya tentu perlu mendapat perhatian. Kesan inilah yang membuat banyak praktisi penjualan mendapat penolakan bahkan sebelum sempat mempresentasikan produknya. Dalam bahasa kasar kita sebut sebagai pengusiran.
Kecakapan penjual dalam bersilat lidah, mengelola kata-kata dan pemosisian diri yang tangguh sering membuat posisi pembeli merasa terjepit dan ingin bertahan dengan mencoba mencari kejelekan sisi penjual. Salah satunya adalah dengan membandingkan dengan pesaing yang lain. Saya lalu teringat kepada dua orang yang menayakan hal ini melalui email saya tj@cahyopramono.com. Saya berharap tulisan ini bisa sekaligus menjawab pertanyaan Bapak Agus S. di Tebing Tinggi dan Bapak R. Simorangkir di Simalingkar.
Sikap membandingkan pada dasarnya cenderung merupakan tanda–tanda adanya potensi penolakan. Jadi sebagai penjual, kita harus berhati-hati jika sudah ada indikasi banding-membandingkan oleh calon pembeli kita.
Walaupun ada juga indikasi bahwa sikap membandingkan juga bisa terjadi untuk sekadar menguatkan persepsi calon pembeli bahwa pilihannya adalah sudah benar, tetap saja kita harus waspada. Salah menangani pembanding, kita akan mungkin terperosok ke titik kesan yang terjelek dan kemudian kita kesulitan menanganinya.
Berikut beberapa trik sederhana untuk bisa selamat atas perbandingan-perbandingan yang kita hadapai dalam keseharian penjualan.

Aple to Aple
Istilah populer ini –aple to aple— adalah sebuah penggambaran membandingkan setara antara apel dengan apel, bukan apel dengan jeruk. Membandingkan apel dengan apel jelas imbang dan fair tetapi membandingkan apel dengan jeruk jelas tidak sepadan dan tidak fair. Ingat hal ini, jika kita tidak cerdas mengamati pembanding, kita terpaksa harus dibandingkan dengan produk/pesaing yang bukan padanan kita.
Saat ini sudah sangat jamak jika penjual menciptakan berbagai trik untuk menggoyang perhatian pembeli dan memainkan berbagai kata-kata untuk menciptakan kesan positif. Kesan itu bisa berupa harga murah, fasilitas dan bonus yang lebih banyak, pelayanan yang lebih prima, lokasi yang cenderung lebih dekat dan ideal dan berbagai kesan positif. Karena semua penjual melakukan hal yang sama, otomatis terjadi kompetisi.
Contoh membandingkan jasa penerbangan Garuda dengan Air Asia jelas tidak fair dan tidak sebanding, walaupun mereka sama-sama penyelenggara jasa penerbangan. Mereka berbeda karena fasilitas, kondisi pelayanan, harga dan persyaratannya pun berbeda.
Kalau sebagai penjual di pojokkan dalam perbandingan tidak sepadan, kita harus cerdas mengamati dengan cermat persamaan dan perbedaannya dengan bertanya lebih lanjut. Kita gali apakah kelebihan-kelebihan yang dibandingkan dengan kita dan jika jelas kita sudah melihat ada ketidak sepadanan, seyogyanya kita memulai dengan memberikan sedikit kelegaan dengan mengatakan sesuatu seperti “Ya, tentu anda bisa mendapatkan hal itu dimana saja / dari penjual manapun” –jangan langsung anda tolak—selanjutnya anda pastikan dengan kalimat pembeda seperti “Tetapi jelas ini tidak serupa/persis, jika anda menginginkan keunggulan, jelas produk kami memiliki keunggulan yang nyata, seperti ..... --lanjutkan ke topik yang fokus dibicarakan pembeli—“

Persaingan eklusif
Hindarkan diri anda, perusahaan dan produk anda dalam sebuah percakapan persaingan eklusif. Head to head. Hanya antara anda dengan satu pesiang. Persaingan eklusif cenderung mengundang pembeli untuk mencari tahu, mencoba, atau bahkan menjajagi kemungkinan bekerjasama dengan pesaing tersebut.
Perbandingan eklusif tidak memberikan banyak alternatif. Perbandingan ini memberikan peluang besar kepada pihak pembeli untuk memilih dengan leluasa dan membandingkannya dengan mudah. Situasi pembicaraan/negosiasi yang terjebak dalam perbandingan eklusif seperti ini acap kali hanya menambah pemahaman pembeli atas produk/kondisi pesaing.
Hindari perbandingan ini, kecuali jika kita yakin bahwa performa produk kita jauh diatas pesaing tersebut dan kita yakin bahwa pembeli ini adalah pangsa pasar yang cocok di kelas kita.
Jika terjadi pembeli membandingkan kita dengan hanya satu pesaing, ada bagusnya coba pecahkan perhtiannya dengan mengatakan bahwa kita memiliki lebih banyak pesaing lain dengan tidak lupa menyebutkan keunikan kita (bukan menyebut kata kita unik/beda).
Kesalahan terbanyak yang dilakukan oleh penjual adalah sering-sering mengatakan bahwa produknya berbeda tanpa menyebutkan perbedaan-perbedaannya. Anda tentu sering mendengar slogan “Kami memang beda” atau sejenisnya, tetapi apa yang terjadi dalam benak kita atas slogan tersebut? “Kalau memang beda, so what gitu lho..! apa untungnya untuk saya?”

Hindarkan perdebatan
Untuk kebanyakan orang Asia, berdebat adalah tindakan paling makruh yang dilakukan dalam proses penjualan. Jelas berdebat hanya akan mengundang penolakan. Perdebatan yang terlalu dalam akan menciptakan goresan di hati semua pihak yang sulit diperbaiki di kemudian hari. Perdebatan berorientasi mengalahkan, sementara tidak ada satu pihak pun yang mau merasa kalah/dikalahkan.
Inti dari menangani perilaku membanding-bandingkan adalah menangani manusianya. Masalah utamanya bukanlah produk kita, tetapi perasaan dari manusia itu sendiri. Bukan harga bahkan pada kondisi tertentu bukan juga mengenai kualitas. Tidak sedikit produk yang laku keras itu produk yang lebih mahal. Selanjutnya, seni menangani manusialah intinya.
Keyakinan diri dan pembawaan yang tenang dan santun akan lebih menenangkan pembeli yang suka membanding-bandingkan. Tetaplah mengkontrol diri sehingga tidak menjatuhkan pesaing dengan kasar. Menjatuhkan pesaing dengan kasar bisa diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak ramah dan berbahaya bagi pembeli. Pembeli bisa merasa terancam, karena mereka akan merasa jangan-jangan mereka juga akan diperlakukan kasar seperti yang kita tunjukkan kepadanya.
Sadarilah bahwa pesaing bukanlah sesuatu yang harus dihapuskan, tetapi mereka pantas ada untuk memacu dan mengingatkan kita untuk lebih baik, lebih maju, lebih sukses dan lebih sempurna.
Share:

Kepuasan Pelanggan Bukan Segalanya

Semua perusahaan yang berorientasi kepada pemasaran menekankan pentingnya kepuasan pelanggan. Semuanya berusapaya keras memastikan berbagai cara agar pelanggan mendapatkan kepuasannya. Sebegitu terkenalnya filosofi pelayanan itu hingga topik ini menjadi kurikulum wajib pada berbagai pelatihan kepegawaian.
Pelayanan dieluk-elukan oleh manajemen, dijunjung sangat tinggi sampai banyak yang lupa bahwa kepuasan pelanggan bukanlah tujuan akhir tetapi hanyalah sebuah pintu menuju tujuan lain yang lebih besar yaitu keuntungan bisnis.
Tingkat kepuasan pelanggan apakah seiring dengan tingkat keuntungan penjualan? Apakah pelanggan yang puas akan melakukan pembelian ulang dikesempatan lain? Apakah kepuasan pelanggan menyelamatkan cash flow kita?
Sepertnya tidak tuh…!
Memang benar, kepuasan pelanggan menjadi penting untuk menentukan proses transaksi terjadi dengan baik, tetapi perhatikanlah bahwa kepuasan pelanggan tidak bermakna si pelanggan akan loyal atau akan mengeluarkan uang lebih banyak demi pelayanan kita.
Survey-nya orang Universitas Harvard beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa; tingkat kepuasan pelanggan tidak ada korelasinya dengan pencapaian target penjualan dan loyalitas konsumen. Alasannya, tingkat kepuasan pelanggan adalah suatu hal yang terus bergerak. Ia bersifat sangat situasional, cenderung berubah setiap waktu. Bisa saja saat ini si konsumen puas, tetapi belum tentu besoknya puas. Atau sebaliknya, mengaku tidak puas, tetapi rutin menggunakan produk/jasa itu.
Beberapa pemerhati ilmu pelayanan mengakui bahwa kepuasan hanyalah indikasi awal yang menunjukkan hubungan antara produsen dan konsumen. Kesalahan yang dilakukan oleh banyak produsen dan pemasar adalah secara berlebihan fokus memburu kepuasan pelanggan saja tanpa memperhatikan pola kepuasan pelanggan yang berkelanjutan sebagai bagian dari pembuka pintu keuntungan.

Berkelanjutan
Tentu labih mantap jika konsumen tetap menggunakan produk/jasa kita dan mereka merasakan kepuasan atasnya. Apalagi kepuasan itu berkelanjutan, mereka yang merasakan itu akan meningkatkan porsi keuntungan dan bahkan mungkin memberikan pengaruh kepada publik untuk menjadi pelanggan-pelanggan baru.
Konsumen selalu berkembang setiap waktu. Untuk bisa tetap mendapatkan keuntungan yang bekelanjutan, maka produsen dan pemasar pun harus bisa mengikuti dan menyesuaikan perkembangan itu.
Pengalaman PT Toyota-Astra Motor dengan produk Kijang barangkali dapat menjadi contoh menarik. Dalam sebuah harian umum nasional, Kepala Departemen Public Relations & Product Planning PT Toyota-Astra Motor, mengatakan bahwa kalau sekadar memenuhi rasa puas konsumen, sejak pertama diluncurkan tahun 1977, Kijang sudah disambut baik konsumen. Meskipun tampilannya bisa dibilang culun -- serba kotak dengan jendela terbuat dari plastik -- konsumen senang, karena mendapatkan alternatif kendaraan niaga seperti yang diinginkan.
Menyadari dinamika tingkat kepuasan konsumen, Toyota Astra Motor tidak ingin puas dengan hasil yang dicapai. Dilakukanlah beberapa perbaikan pada Kijang. Di antaranya, bentuk hidung dibenahi. Lalu, kabin belakang ditambah, hingga Kijang bisa memuat 8 orang. Perubahan selanjutnya akhirnya berhasil menggeser positioning Kijang dari kendaraan niaga menjadi kendaraan keluarga pilihan terbaik.
Langkah perubahan demi perubahan Kijang yang dirasakan manfaatnya oleh konsumen berdampak besar: konsumen makin loyal. Apalagi, layanan pascajual Kijang juga memenuhi harapan konsumen karena nilai jual kembali mobil ini paling tinggi di antara merek lain di Tanah Air.
Karena keunggulan itu, Kijang menguasai pasar di kelasnya sepanjang diproduksi. Tahun 1995, Kijang menguasai 65% dengan penjualan 13.916 unit. Selanjutnya, tahun 1999, 58% (21.735 unit); tahun 2000, 61% (68.617 unit); 2001, 63% (56.096 unit); 2002, 60% (56.837 unit), dan hingga Juli 2003 terjual 38.627 unit atau menguasai 69% pangsa pasar.
Konon bagi Toyota Astra Motor, kepuasan pelanggan bukan lagi tujuan, melainkan bagian dari cara pemasaran. Tata laksana kepuasan pelanggan mereka kejar dari mendapatkan informasi, kontak dengan salesman, beli dan terima barang, sampai ke pascapenjualan. Semua lini organisasi di perusahaan ini, termasuk jaringan-jaringannya, dipacu memberikan layanan terbaik. Maka, tidak heran jika loyalitas pengguna Mobil --bernama hewan yang mampu lari kencang -- ini lebih tinggi dibanding merek lain."

Berikan Bunga, Dapatkan Madunya
Inilah ungkapan yang sederhana untuk mendapatkan madu yang banyak dari lebah. Berikan bunga niscaya kita akan mendapatkan madunya. Begitu juga dengan pelanggan, berikan apa yang dikehendaki dan diperlukannya, selanjutnya giliran kita memanen keuntungannya.
Sekarang, adalah langkah cerdas jika kita bisa mengetahui dengan kongkret sebenarnya bunga apa yang cocok dengan lebah apa. Paradigma kepuasan konsumen terus berubah seiring perubahan jaman. Konsumen makin pintar dan paham hak-haknya. Belum lagi tawaran produk pesaing lain semakin banyak dan cenderung mudah, tuntutan kepuasan tidak berhenti pada layanan istimewa, taburan hadiah. Lebih dari itu, konsumen menginginkan kepuasan yang tidak terukur dengan angka-angka.
Para pengendara motor Harley-Davidson mendapatkan kepuasan yang intangible, prestise atau gengsi tersendiri jika memakainya.. Kepuasan didapat karena merek tersebut menaikkan status sosial dirinya. Walaupun, bukan berarti kualitas produk motor besar merek lain tidaklah bagus.
Untuk itu, produsen atau pemasar sangat penting melakukan berbagai studi untuk memahami konsumennya. Harus ada proses pemahaman perilaku, kebiasaan, dan keinginan konsumen. Survei langsung kepada konsumen akan membantu produsen dan pemasar melihat sisi nyata produknya sehingga tidak memutlakkan angka kuantitatif hasil konsultan riset.

Umpan dan Hasil
Sekali lagi, ingatlah cara kita memancing. Kita menggunakan umpan yang harus kita relakan hilang. Tetapi ingat, umpan selalu lebih kecil daripada yang kita dapatkan. Jadi, semakin besar umpan, semakin berpotensi yang didapat juga yang lebih besar lagi.
Demikian juga dengan upaya memuaskan pelanggan. Yang perlu diwaspadai adalah bahwa pastikanlah bahwa tidak semuanya harus belebihan orientasinya kepada kepuasan tanpa memperhatikan tujuan utama setelah terbentuknya kepuasan pelanggan. Ingat bahwa umpan yang terlalu besar berpotensi di gerogoti oleh ikan-ikan kecil yang bukan target kita.
Memang menyapa nama pelanggan, senyum, dan membukakan pintu untuk pelanggan kesemuanya gratis, tetapi langkah pemenuhan kepuasan pelanggan bukan hanya itu dan pasti berbiaya.

tulisan ini dimuat diharian waspada tgl 17 sept 2007 di halaman ekonomi, kolom inspirasi bisnis.
Share:

12.9.07

5 mitos yang salah mengenai Pengusaha


CITA-CITA menjadi pengusaha amat jarang disebut oleh anak-anak jika mereka ditanya akan jadi apa gerangan kalau sudah besar nanti. Jawaban yang terbanyak adalah menjadi profesional yang nota bene adalah pekerja –makan gaji--. Jawaban yang demikian tentu itu ada penyebabnya; yaitu belum banyak orang tua yang belum menyadari bahwa menjadi pengusaha adalah salah satu cara yang terhormat untuk menjadi merdeka secara finansial.
Dewasa ini sudah mulai banyak generasi muda yang terfikir untuk menjadi pengusaha, tetapi saya masih melihat cara pandang yang salah mengenai pengusaha. Ada lima mitos yang salah mengenai pengusaha. Sehingga keinginan untuk memulai usaha agar menjadi mandiri tidak juga segera terlaksana. Inilah kelima mitos tersebut;

Harus dari Keluarga Pengusaha
Benar, belajar bisnis dari kecil memang lebih efektif. Lingkungan bisnis akan mewarnai pola pikir dan pola hidup seseorang. Tetapi syarat menjadi pengusaha harus dari keturunan pengusaha adalah mitos yang amat menyesatkan, karena jaman sekarang tidak sesulit jaman dahulu. Untuk bisa belajar berbisnis, tidak lagi harus kepada orang tua. Saat ini banyak sekali pintu untuk bisa belajar bisnis.
Mulai dari multi level marketing, seminar dan kursus bisnis, kolom-kolom bisnis di medai massa, buku-buku bisnis dan bagi yang melek internet, ada berjuta guru on-line disana.
Untuk menjadi brillian dalam berbisnis tidak harus muncul dari kepala kita sendiri. Banyak orang yang senang mencakapkan konsep bisnisnisnya, yang kita perlukan hanya menangkapnya, mengolah dan melaksanakannya sesegera mungkin.
Aturan yang berlaku dalam menjawab mitos ini adalah gunakan pikiran orang lain.

Membutuhkan modal besar
Memang benar modal memang penting, tetapi tidak semua usaha/binsis itu memerlukan modal material yang besar untuk bisa memulainya. Kalau saya amati, ternyata modal yang penting bukanlah material, tetapi kecakapan kewirausahaan.
Modal yang besar seyogyanya diberikan kepada mereka yang sudah lulus sekolah bisnis. Sekolah bisnis yang saya maksud adalah mereka-mereka yang sudah mempraktekkan bisnis sekian lama sehinga mengalami pasang surutnya bisnis dan memahami karakter dan jiwa bisnis itu sendiri.
Cara kerja bisnis sebesar apapun pada prinsipnya sama saja. Jadi lebih baik belajar berbisnis dengan memulainya pada skala kecil terlebih dahulu. Tentu untuk awal tidak memerlukan modal besar. Contoh sederhana adalah menjadi agen tiket tontonan/pertunjukkan. Anda hanya memerlukan alamat yang akan dipromosikan oleh penyelenggara pertunjukkan. Anda menjual tiketnya dan anda mendapat keuntungannya. Mudah bukan?
Aturan penting dalam poin ini adalah gunakan uang orang lain untuk bisnis kita.

Membutuhkan keahlian tinggi
Benar bahwa seseorang idealnya memiliki keahlian tertentu. Tetapi menjadi pengusaha titipan sepeda motor sepertinya sangat sederhana. Catat nomor plat sepeda motor, simpan dan terima uang. Menjual bunga juga tidak harus menjadi sarjana pertanian. Menjual Mie goreng tidak juga perlu tahu bagaimana cara membuat mie-nya.
Saya pikir, orang yang terlalu ahli, biasanya malah kurang sukses pada saat berbisnis, karena akan banyak pertimbangan serta menghendaki kesempurnaan saat memulai bisnisnya. Sementara sudah jelas, kesempurnaan bisa tercapai dengan melalui proses dan dikerjakan secara bertahap.
Disisi lain adalah salah besar memulai bisnis dengan keahlian, yang sangat penting adalah mulailah dengan memperhatikan kebutuhan pasar. Apalah artinya keahlian yang tinggi jika keahlian itu tidak diperlukan oleh pasar.
Tidak semuanya harus dikerjakan sendiri, aturan dalam hal ini adalah gunakan tenaga orang lain.

Besar Resikonya
Konsekuensi logis adalah sesuatu yang natural. Jika anda makan pasti akan jadi kenyang. Jika anda ngantuk pasti harus tidur. Kita tidak bisa memilih yang enaknya saja. Tetapi kita bisa waspada atas konsekuensi logis dari segala tindakan kita.
Masalah besar dan tidaknya resiko, itu tergantung seberapa besar keuntungan yang ingin kita dapatkan. Coba bayangkan. Apalah resiko menjual sesuatu yang bersifat kongsinasi? Apalah resiko menjadi penyalur guru les?
Jangan terjebak dalam bayang-bayang resiko sehingga anda tidak juga segera bergerak untuk memulainya. (banyak orang yang tidak segera berbisnis hanya karena ketakutan akan resikonya). Segeralah mulai resiko/konsekuensi logis harusnya membuat kita waspada, bukan menghentikan langkah dan menyerah.
Aturan penting yang berlaku untuk menghadapi mitos ini adalah keyakinan bahwa semakin besar resiko, semakin besar juga peluang yang kita dapat. Ingat, nelayan yang handal bukan terlahir dari laut yang tenang. Nelayan yang handal lahir dari laut yang bergejolak dan berombak ganas.

Rakus dan Jahat
Saya pikir pengusaha itu bukan perampok atau pembunuh. Pengusaha adalah orang yang memiliki keteguhan hati untuk mendapatkan keuntungan sebaik-baiknya dengan kewaspadaan yang tinggi serta berupaya optimal untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi.
Memang banyak orang menganggap pengusaha sebagai orang yang rakus, pelit dan jahat demi mendapatkan keuntungan yang semaksimal mungkin. Jika anda yang menjadi pengusaha dan sudah menginvestasikan uang anda, tentu anda akan sayang dengan uang anda, aset dan masa depan anda, ini tentu akan meningkatkan kewaspadaan anda. Jadi jika ada pegawai anda yang membuang-buang bahan baku, tentu anda akan marah to? Dan itu lumrah bukan?
Jika ada pengusaha yang berbisnis obat terlarang, menyelundup dan memberikan upah dibawah minimal, itu jelas bukan mengusaha, tetapi penjahat yang berkedok jadi pengusaha.
Bagaimanapun juga pengusaha juga manusia biasa. Ada sisi baiknya dan ada isi buruknya. Tetapi menjadi seorang pengusaha adalah salah satu jalan yang terhormat untuk menciptakan kesejahteraan finansial serta sebagai bagian yang mendasar untuk mengantarkan diri kita mejadi manusia paripurna.
Share:

3.9.07

Menang Dengan Iklan Koran


KORAN hingga kini masih cukup efektif digunakan untuk dijadikan media pengantar pesan promosi kita. Karakternya tetap berbeda dengan berbagai media yang lain, seperti Radio, TV, Multimedia dll.
Koran menyajikan informasi dengan gaya khas yang tidak bisa disamai oleh media yang lain dan kenyataannya hingga kini koran tetap menjadi media penting dalam proses pembentukan opini publik. Jaminan bahwa koran akan tetap berjaya dimasa yang akan datang adalah contoh dari berbagai negara-negara tua yang memiliki kultur koran sejak ratusan tahun lalu, tapi hingga kini masyarakatnya masih saja tetap fanatik dengan koran. Kenyataan itu juga dibuktikan oleh sekian banyak perusahaan yang selalu memanfaatkan koran untuk media promosinya.
Lihatlah koran hari ini, lihatlah berapa banyak iklan yang muncul disana. Apakah itu dibaca orang? Apakah efektif? Apakah efisien? Untuk bisa memanfaatkan kelebihan koran demi efektifitas promosi, saya mencatat beberapa hal berikut ini;

Profile Media
Semua media/koran memiliki karakter pembaca yang berbeda-beda. Ada tiga cara dasar untuk memahami karakter pembaca media yang ingin anda tuju. Yang pertama adalah meminta data profile media kepada pihak koran yang bersangkutan.
Profile perusahaan koran itu berisi informasi singkat tentang perusahaan koran dan gambaran pembacanya. Profile itu akan memuat data statistik pembacanya. Mulai dari jangkauan distribusi, jumlah oplahnya per hari, jumlah pembaca, usia pembaca, jenis kelamin pembaca, profesi pembaca, pendidikan rata-rata pembaca, pendapatan rata-rata pembaca, dan berbagai informasi mengenai pembaca.
Informasi tersebut sangat penting untuk memastikan apakah media yang kita pilih benar dan tepat sasaran. Sayangnya dari beberapa koran yang saya tahu, data-data yang mereka cantumkan seringkali merupakan data internal pihak manajemen koran. Kadang saya jadi ragu, jangan-jangan itu rekayasa pihak mereka saja tanpa penelitian yang benar. Tetapi untuk koran-koran ternama, biasanya data yang disuguhkan adalah data hasil penelitian yang serius atau mereka membayar peneliti independen untuk melakukan penilaian kepada mereka. Tanda bahwa mereka menggunkan peneliti independen adalah penyebutan sumber data dalam profile tersebut.
Langkah ke dua silahkan dilakukan jika anda masih juga tidak percaya atas data yang tercantum dalam profile dari media/koran, cobalah anda mencarinya di biro statistik independen. Ada banyak lembaga seperti itu di indonesia, seperti SRI, AC Neilsen, Frank Small dll.
Langkah ke tiga, adalah melakukan penelitian sendiri. Silahkan kembangkan berbagai cara untuk menggali informasi dari orang banyak tentang media yang anda kehendaki. Salah satu cara kuno yang masih cukup efektif untuk mengukur efektifitas media adalah dengan memberikan diskon menarik jika pembeli membawa sobekan/potongan iklan kita pada saat belanja.

Lokasi Pilihan
Kalau di media audio/tv ada istilah prime time –waktu istimewa yang banyak pendengar/penontonnya--. Untuk koran yang diperebutkan adalah alokasi tempat. Seperti yang pernah saya bahas terdahulu. Setiap halaman memiliki kekuatan dan harga yang berbeda-beda. Halaman yang paling strategis adalah halamam paling depan dan halaman yang paling belakang.
Nah, sekarang adalah bagaimana jika anggaran tidak memungkinkan kita memilih halaman tersebut. Coba amati halaman-halaman yang lain. Cari halaman yang khas dan favorit. Misalnya di halaman yang ada kartun khas harian tersebut.
Biasanya redaksi koran akan membagi hari-hari tertentu dengan liputan yang khas. Coba ikuti dan amati, disana akan ada halaman khusus otomotif, halaman kuliner, halalam real estat, halaman agrikultur, dll. Jika anda berbisnis otomotif, pilihlah hari pemasangan iklan yang pas bertepatan dengan terbitnya liputan khusus untuk otomotif. Menumpang tema halaman adalah langkah yang efisien, karena pembaca akan terarah kepada tema-tema tersebut dan pada saat pembaca sudah tune pada tema tersebut, biasanya pesan anda akan mudah ditangkap alam pikirannya.
Untuk iklan baris/kecil, biasanya cukup efektif jika sasasaran yang dituju adalah kalangan bisnis –yang nota bene juga suka beriklan--, karena selain faktor kebutuhan informasi, pemasang iklan juga sangat senang melihat iklannya sendiri. Indikatornya adalah saat kita tidak pasang iklan kita jarang melihat halaman iklan, tetapi begitu kita pasang iklan, kita serta merta mengacak halaman itu demi melihat iklan sendiri. Selain itu, iklan baris sering dimanfaatkan publik sebagai pengganti buku informasi telepon.

Design & Content
Inilah keistimewaan sebuah keberhasilan promosi dengan iklan. Persis seperti bumbu dan bahan dasar pada sebuah masakan. Kelezatannya menjadi sangat terpengaruh oleh racikan dan pengolahannya.
Design bercerita tentang ukuran, model, pewarnaan, bentuk huruf, ukuran huruf, ilustrasi, back ground dan tata letak. Lalu content –isi—adalah muatan pesan yang hendak kita sampaikan melalui iklan tersebut. Semua harus bisa meggoda ‘mata’ siapapun yang melihatnya sekaligus menghipnotisnya.
Rahasia design adalah tema-nya. Harus fokus kepada tema yang dipilih. Tema anak-anak harus diterjemahkan kepada bahasa anak-anak, warna anak-anak, bentuk anak-anak dan ilustrasi yang bisa dipahami anak-anak.
Tema utama harus diikuti tema susulan. Misal tema utama promosi penjualan dalam rangka lenbaran, tetapi sub temanya adalah harga murah dan bonus. Tentu sudah bisa anda kembangkan bukan?
Hal tabu yang harus dihindari dalam mendesign sebuah iklan koran adalah, keserakahan. Serakah untuk berusaha menyampaikan semua pesan dalam satu wadah. Acuan untuk design content adalah yang pertama harus ada lead. Lead adalah hal pertama yang mencuri perhatian pembaca. Usahakan pesannya pendek dan bombastis, sehingga orang tertarik untuk membaca pesan berikutnya. Selanjutnya harus ada bridge –jembatan—yang membuat pembaca bisa membayangkan isi selanjutnya. Body adalah isi pesan iklan dan Clossing –penutup—yang merupakan pesan final yang bisa mengikat perhatian pembaca untuk mengerjakan apapun yang kita inginkan.
Kesemua langkah itu adalah langkah hipnoterapy, sehingga pembaca terhipnotis dari awal hingga akhir dan anda sukses menjadi pengendali opini target anda.
Share:

Blog Archive