it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

30.10.07

perkembangan per tgl 28 oktober 2007 atas project rumah keluarga ibu salmiah di hamparan perak deli serdang, sumut



Dengan Ijin Tuhan dan keiklasan para donatur, saya terkejut melihat betapa cepat proses pembangunan rumah sederhana sehat untuk keluarga ibu salmiah ini.

begitu parkir di areal perkebunan sawit (karena mobil tidak bisa masuk) terlihat dari jauh atap rumah baru itu.



dibawah ini adalah tampak depan rumah yang sudah berdiri sebelum ada teras














ini yang terlihat dari sisi belakang sebelum ada dapur dan kamar mandi
















ini kamar belakang, ukuran 3,5 X 3,5 M.















kamar depan dilihat dari sisi belakang, memang belum rapi, tapi sepertinya kalian sudah bisa membayangkan bagaimana akhirnya nanti

















ini pengerjaan dinding koridor

















ini pekerjaan lantai koridor

















yang manarik adalah, si amat (anat terkecil dari ibu salmiah) juga selalu membantu di project rumahnya setelah pulang dari sekolah.











kami sungguh tidak menolak bantuan iklas apapun yang bisa bermanfaat bagi keluarga ini. mohon untuk tidak segan-segan menghubungi kami untuk keperluan tersebut.
salam
Share:

Sok menengah keatas...!(marketing)


tulisan ini di publikasikan di harian waspada tgl 29 oktober 2007 pada halaman ekonomi


Kasta sosial tetap saja tidak akan hilang dari muka bumi yang semakin tercengkeram kapitalisme global. Kalangan ramai tetap saja melihat dirinya dan orang lain dengan kacamata material.

Ukuran yang dipakai amatlah banyak, tak tersebut! Mulai dari lulusan apa? Anak siapa? Apa kerjanya? Apa jabatannya? Apa merek pakaiannya? Dan berbagai standard hingga hal sesederhana sabun cuci. Konon, kelas sosial kita bisa di ukur dengan sabun cuci yang kita pakai. Apakah kita memakai sabun cuci batangan? Sabun colek/krim, sabun cuci cair atau ditergen bubuk formula?

Sudah banyak agama, nabi, rasul, ulama, guru dan berbagai kalangan religius yang diutus Tuhan untuk meyakinkan manusia bahwa di hadapanNya adalah sama derajatnya. Yang tetap juga menjadi kenyataan ternyata di tataran hidup kemanusiaan, kelas sosial lengket bak label harga yang terikat erat di jidat kita. Untuk kalangan religius jelas ini sesuatu yang tidak bijaksana, tetapi untuk siapapun yang mengetahuinya, ia akan melihat sebuah keindahan atas sebuah ketidakmanusiawian.

Sebuah keindahan jika kita bisa memahami dan memanfaatkan ketololan itu. Bagi anda yang ingin menguasai mereka, pastikan anda memahami konsep ini. Karena harta material yang fana ini tidaklah dimiliki secara merata oleh seluruh umat manusia. Semua orang ada bagian-bagiannya. Artinya, semua manusia memiliki kemampuan beli yang berbeda-beda. Susunan jumlah pembeli ini menyerupai bentuk piramida. Sebuah Piramid di Mesir dibangun dengan format lebar dibawah lalu menciut hingga runcing diatasnya. Alanogi itu untuk menggambarkan orang di kelas bawah berjumlah sangat banyak dibanding kelas menengah apalagi kalangan atas.

Siapa memainkan siapa?
Sekali lagi pemahaman atas ‘peta politik’ ini sangatlah penting. Karena tidak sedikit pedagang yang juga terjebak dalam kubangan kebodohan itu. Kubangan itu terkesan wangi karena pikiran bahwa kalangan menengah ketas memiliki kemampuan beli yang lebih besar dan embel-embel gengsi yang lebih tinggi.

Kesalahan melihat ini terjadi karena lekatnya sisi kemanusiaan kita. Tidak saja pebisnis pemula, pebisnis lama juga menggunakan cara pikir yang sama. Mereka sok mengarah kepada kalangan menengah keatas. Masih belum paham? Ini contohnya; ketidaksabaran untuk memasukan barang dagangannya ke pasar modern seperti supermarket dan hipermarket yang tidak dimbangi dengan kemampuan yang seharusnya, ada juga pengusaha kelas tanggung sok memaksakan diri untuk eksport padahal pasar lokal saja belum terjamah dengan lengkap.

Indikasi kelatahan ini terlihat dari sedikitnya siaran radio yang secara sukarela memutarkan lagu-lagu atau acara yang mewakili ‘kalangan bawah’. Perilaku pengusaha dalam memilih barang untuk pribadi juga sangat mencolok. Misal memilih telepon genggam, mereka terpicu untuk memilih merek dan tipe mahal, karena mereka merasa itulah pertanda kelas mereka. Membaca media massa yang bukan urusannya dan tidak menjembatani dirinya dengan pasar potensialnya dan berorientasi kepada kehidupan papan atas tanpa menyadari kelas sebenarnya.

Disisi lain yang lebih nyata, pasar dikalangan bawah justru jumlahnya berjubel audzubillah...! Bangun... marilah segera tersadar dan manfaatkan pasar yang terbuka itu. Ingat, berbisnis produk kelas bawah tidak berarti kelas kita rendah. Tidak sedikit orang kaya yang berbisnis untuk orang-orang miskin. Lihatlah betapa pengusaha sabun batangan yang konon hanya untuk kalangan bawah justru hidupnya diposisi atas. Lihatlah pedagang dipasar tradisional yang becek dan kotor justru mampu memiliki rumah besar dan mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Lihatlah dengan jelas, para pengumpul barang-barang butut justru hidup layak walau halaman rumahnya penuh dengan rongsokan.

Kunci dasar atas kenyataan ini adalah keyakinan bahwa gengsi tidak akan pernah membuat kita kenyang. Gengsi tidak akan membayarkan sekolah anak kita. Gengsi tidak akan pernah mendatangkan makan yang cukup dan sehat. Singkirkan pikiran gengsi itu. Ingat, orientasi gengsi hanya boleh di miliki oleh orang lain. Lalu gerbang sukses yang layak dilalui adalah melihat kenyataan bahwa pasar ‘kelas bawah’ juga pasar yang tidak bisa dilihat dengan sebelah mata. Manfaatkan sebaik mungkin. Ingat, siapa yang memainkan siapa?

Mengolah kelas bawah
Pasar kalangan bawah jumlahnya amat banyak. Mereka bertebaran dimana-mana. Betul memang kalau mereka tidak memikirkan pemenuhan kebutuhan foya-foya dan berlebihan. Mereka masih berorientasi pemenuhan kebutuhan basik dan sesekali kebutuhan hiburan yang tidak mahal. Kenalilah profile keuangan mereka, sehingga kita paham bagaimana berbisnis dengan mereka.

Artinya, mereka adalah pasar yang cocok untuk produk-produk dasar seperti sembako, perlengkapan mandi, pakaian, cuci dan berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Lalu mereka juga pasar yang sensitif dengan harga. Kualitas bisa jadi menjadi prioritas kedua bagi mereka. Dengan kata lain, bisnis dengan pasar tersebut kita tidak bisa mengharapkan nilai keuntungan yang amat besar, tetapi karena jumlahnya banyak, kita akan berfokus kepada kuantitas yang juga banyak. Bisa saja dari satu produk kita beruntung satu rupiah, tetapi volume penjualannya yang tinggi juga akan memberikan keuntungan yang tidak sedikit.

Sekali lagi jangan terjebak dalam kelatahan yang memusingkan. Pada saat berfikir tentang kualitas, kita tidak sedang bercerita mutu kelas terbaik. Kualitas adalah perkara persepsi. Kualitas adalah urusan cara pandang. Tidak lebih. Contohnya kembali kepada sabun cuci, orang banyak berfikir bahwa sabun berkualitas adalah yang menghasilkan banyak busa, padahal sangat jelas bahwa busa bukanlah yang membuat cucian menjadi bersih.

Sekali lagi tentang kualitas. Kualitas adalah sekadar anggapan. Sabun mandi dengan merek apapun, dengan alasan untuk kecantikan apapun, adalah sekedar trik pemasaran, karena isinya sama saja. Pasar hanya membeli merek yang dibuai oleh tokoh-tokoh cantik dalam iklannya. Tidak lebih!

Mereka yang dikalangan tersebut, percaya dengan konsistensi. Artinya tetaplah setia dengan kualitas yang diluncurkan dari awal. Selalu tersedia dipasaran dan ramah dengan harga. Artinya, bila harga naik, anda hanya perlu merubah kemasan daripada menaikkan harga.

Yang terakhir, hanya orang berpikiran kelas atas yang mampu menguasai dunia yang dipenuhi oleh orang-orang berpikir dan berpelaku kelas bawah. Ingat, hanya orang yang kelas atas yang bisa merendah dan hanya orang kelas bawah yang sok diatas.
Share:

23.10.07

laporan perkembangan project rumah ibu salmiah di hamparan perak


Apakabar saudara-saudaraku? semoga kalian semua dalam keadaan sehat, tenang, damai, dan tenteram.
Selamat mulai beraktiviats setelah libur lebaran yang lumayan panjang.

Hari Minggu lalu(21 oktober 2007), saya berkunjung ke lokasi baru bagi keluarga ibu salmiah yang di hamparan perak.
Agar kalian juga mengikuti perkembangannya berikut adalah yang saya lihat di lokasi tersebut. lokasi ini dihibahkan oleh seorang kerabat yang turut prihatin dengan keadaan keluarga ibu salmiah. lokasi yang baru ini berjarak sekitar 500 meter dari rumah semula yang nota bene adalah tanah pinjaman.
keputusan untuk memindah lokasi rumah adalah karena memang si pemilik tanah sudah meminta bayaran, lalu merenovasi rumah jauh lebih mahal dan ada tanah yang bisa digunakan tanpa harus terbebani oleh pemiliknya dan daerah tersebut sangat dikenal oleh seluruh anggota keluarga ibu salmiah.

Ini adalah Foto jalan setapak menuju lokasi rumah baru. Sebelah kanan foto adalah bekas galian pasir, sebelah kiri adalah kebun penduduk













inilah proses pembangunan rumah untuk keluarga ibu salmiah. Proses ini adalah proses pemasangan batu bata. Dinding tidak semuanya permanen tetapi setengah bata dan setengah pakai gedek/kayu. Gambar ini kita lihat dari sisi belakang. Dibelakang bangunan utama ini masih akan ditambah dapur dan kamar mandi.














inilah alokasi tanah untuk dapur dan kamar mandi


















dibawah ini adalah tampak depan samping















berikutnya adalah alokasi untuk ruang teras (ruang serbaguna)



















ini pemandangan didepan rumah baru beruba hamparan rumput yang menutupi bekas galian basir. di tanda merah direncanakan sebagai tempat kandang kambing (diatas kolam).








Saudaraku yang baik,
cukup banyak respons positive dari email yang saya kirim, untuk itu saya ucapkan terimakasih.
sudah terkumpul dana sebesar Rp.14.200.000,- untuk keperluan renovasi rumah.
sudah terkumpul dana sebesar Rp.12.678.900,- untuk membeli 15 ekor kambing.

Selanjutnya, saya telah membentuk team kecil untuk memaksimalkan kerja (semua sukarela) yang terdiri dari beberapa orang tukang, praktisi peternak kambing, praktisi perkebunan bunga melati dan beberapa guru agama.

Kita masih memerlukan dana tambahan senilai
1. Rp. 760.000,- untuk tambahan ongkos tukang,
2. Rp. 960.000,- untuk pembuatan kandang kambing dan
3. Rp. 820.000,- untuk membeli bibit pohon melati dan pupuk awal.
4. Rp. 430.000,- untuk pembuatan pagar pengaman dari bambu.

Jika kita masih bisa mengumpulkan dana sekitar 7,5 s/d 8 juta rupiah, saya ingin sekali mereka memiliki;
1. 2 set piring, gelas untuk makan/minum
2. 1 set panci/wajan untuk masak
3. 1 buah ember untuk tampungan air bersih dan mencuci
4. 7 buah matras/kasur
5. 14 set seprey/sheet untuk alas matras/kasur
6. 8 helai selimut
7. 8 helai handuk
8. 3 buah cermin
9. 6 set perlengkapan shalat
10. 1 meja makan di dapur
11. 1 lemari makan di dapur
12. 2 set lemari pakaian di kamar
13. 1 meja di teras (untuk belajar dan untuk aktifitas keseharian)
14. 1 set kursi di dapur
15. 1 set kursi di teras
16. 2 set bangku panjang di teras
17. 5 buah lampu ting kapal
18. 1 buah lampu petromaks
19. 1 radio transistor
20. 1 set alat bertani (cangkul, parang, sabit dan gembor)
21. 3 buah jam dinding

demikian, semoga saudara-saudaraku yang baik bisa mengikuti perkembangan yang saya kita kerjakan untuk keluarga ibu salmiah.

Saran dan pendapat mohon emailkan ke tj@cahyopramono.com atau 0811 63 8383

Untuk rekan2 yang sudah memforwardkan email terdahulu, mohon bantuannya juga untuk memforward-kan juga informasi ini.

salam
cahyo pramono
Share:

Mulutmu Harimaumu (kewirausahaan)

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada halaman ekonomi tgl 22 oktober 2007


Selamat hari Raya Idul fitri, Mohon Maaf lahir dan batin. Semoga Kesejukan Idul fitri tahun ini memberikan kebahagiaan dan kedamaian diri. Saya sungguh berharap itu karena banyak juga yang merayakan Hari Raya ini dengan berbagai perasaan yang negatif. Ada disana perasaan-perasaan insaniah yang kesal, kecewa, marah dan frustrasi. Siapakah mereka itu?
Mereka adalah para pemesan kue yang dikecewakan oleh penjualnya. Entah karena terlambat, jumlahnya kurang dari pesanan, atau bahkan ada yang tidak sempat terkejar pembuatannya dan berlebaran tanpa kue-kue.
Mereka-mereka yang bernasib sama adalah orang-orang yang menjahitkan pakaian, mereka yang memesan perabot rumah tangga, mereka yang meminta jasa pengecatan rumah, mereka yang memesan tiket perjalanan, mereka yang menyewa kendaraan bermotor, mereka yang memesan keperluan hari raya. Ya mereka semua adalah pasar potensial yang memberikan bisnis, yang memberikan uang.
Dalam sebuah studi, ternyata mengecewakan pelanggan sangatlah mudah dan berbiaya murah. Kebalikannya, untuk memperbaikinya akan berbiaya sangat besar dan sulit. Pelanggan yang kecewa akan berbicara kepada rata-rata 20 orang dan dari ke-20 orang itu akan menyebar dengan cepat ke seluruh pelanggan yang lain.
Merasa prihatin dengan permasalahan ini, saya melakukan sedikit survey kepada beberapa pengusaha seperti yang saya sebut diatas. Dalam pengamatan saya, tingkat kekecewaan pelanggan yang sedemikan besar ternyata sangat berbahaya. Kalau cuma marah, bisalah kita meminta maaf. Tetapi kekecewaan yang kita timbulkan, jelas memberikan akibat terputusnya bisnis jangka panjang.
Inilah penyebab yang jarang diperhatikan oleh sebagian pengusaha tersebut. Mereka tetap saja mengklaim bahwa bisnisnya semakin hari semakin payah, makin sedikit pembeli dan peminatnya. Sekilas kita lihat produk yang ditawarkan tidaklah amat jelek dan persaingan diskala tertentu masih bisa ditolerir, tetapi kenapa bisnisnya semakin menurun? Salah satu jawaban pastinya adalah karena kekecewaan pelanggan yang terabaikan.

Janji
Siapa sih yang suka ditipu? Jelas tak satupun orang didunia ini yang suka ditipu. Lalu dalam kuesioner yang saya ajukan, saya bertanya, “Apakah anda sebagai pengusaha ada pernah berencana menipu pelanggan yang sudah terlanjur anda kecewakan?” jawabannya sangat absolut “Tidak”.
Dalam pengamatan lanjutan, ternyata tidak ada niat untuk ingar janji, tetapi tanpa disadari tindakan yang di lakukan pengusaha ada kalanya justru membuka pintu kekecewaan bagi pelanggannya.
Banyak pengusaha yang tidak cukup bijak dalam menentukan janji. Ada yang terlalu cepat dari kesanggupan waktunya, ada yang terlalu besar dari kesanggupan produksinya dan ada yang terlalu lambat untuk janji yang lebih cepat.
Alasan tertinggi melakukan janji itu adalah karena takut mengecewakan pelanggan. Tetapi setelah ditanya lebih lanjut alasan yang paling kuat adalah takut kehilangan peluang bisnis.
Berjanji adalah ibarat menyodorkan leher untuk dijadikan jaminan. Untuk janji yang sempurna selayaknya ada pertimbangan-pertimbangan yang bijaksana, sehingga janji yang diucapkan justru menambah potensi kepercayaan yang pada gilirannya akan memberikan manfaat yang lebih maksiumal. Ingkar janji sama dengan minum air laut, semakin diminum semakin haus. Artinya, semakin sering mengingkari janji, biasanya seseorang akan terpancing untuk lebih sering lagi mengucapakan janji.
Dalam kasus seperti diatas, ada beberapa pertimbangan untuk berani memberikan janji, yaitu;

Pengaturan waktu
Janji yang ideal adalah janji yang disusun atas keyakinan pengaturan waktu. Jika tidak ada pengaturan yang baik, maka janji menjadi sesuatu yang hambar dan pada akhirnya menjadi bumerang yang akan membabat leher sendiri.
Pastikan bahwa kita memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakan pesanan/order dan tambahkan beberapa waktu lebih lama untuk menghindari adanya kesalahan. Jika kita bisa menyelesaikan pesanan dalam 2 hari, bolehkan kita mengatakan 3 hari. Sehingga kita punya 1 hari lagi untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik.
Tetapi ingat, dengan adanya waktu cadangan bukanlah alasan yang benar untuk menunda penyelesaian order tersebut. Inilah penyebab utama keterlambatan pemenuhan janji, bukan karena tidak cukup waktu, tetapi karena perilaku yang suka menunda-nunda pekerjaan itu. Jika menjahit baju bisa selesai dua hari, maka selesaikanlah segera, walau anda menjanjikannya selama 1 minggu. Tak usah tunda mengerjakannya pada tenggat terakhir, karena itu sangat berbahaya.

Pengaturan operasional/produksi
Sebagai pengusaha, kita sendirilah yang tahu, seberapakan kemampuan kita. Jika kapastias produksi terbatas, jangan pernah sok jago menerima pesanan lebih dari kemampuan kita. Memang boleh saja sesekali berpetualang, tetapi petualangan yang konyol tanpa pertimbangan juga akan memakan korban. Apalagi jika pekerjaan itu tidak bisa didelegasikan kepada orang lain dan hanya kita yang bisa mengerjakan.
Jika perlu tambahkan pegawai, tambah jam kerja atau tambah perlengkapan kerjanya, sehingga pelayanan bisa lebih optimal dan kita terhindar dari janji yang ingkar.
Produktivitas kerja selama bulan ramadhan secara umum agak berkurang, karena pekerja sedang berpuasa. Gara-gara salah memberi janji, tidak sedikit pekerja yang “terpaksa” memutuskan untuk tidak berpuasa, jelas itu sesuatu yang tidak bijaksana.

Stop
Terjadi dalam proses project pengamatan saya, di depan saya, seorang tukang perabot dimaki-maki pelanggan. Tidak hanya satu orang tetapi dua orang pelanggan sekaligus. Pada awalnya saya merasa kasihan, tetapi terakhir saya tidak lagi berfikir demikian ketika mendapatkan input dari si Pelanggan dan beberapa orang yang mengenal tukang itu.
Ia terlanjur berjanji kepada beberapa orang untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum lebaran, eh, ternyata ia salah menghitung waktu, salah menghitung kemampuan kerja dan salah menganalisa kemampuan pengiriman.
Dalam kasus diatas, pihak pelanggan tidak pernah menentukan waktu, si tukanglah yang menjanjikan penyelesaiannya. Sudah dua kali tenggat waktu yang disebut si tukang terlewatkan. Jelas saja si pelanggan merasa dipermainkan dan disepelekan.
Cukup bermakna cukup. Artinya stop, jangan lagi. Kita harus berani membatasi diri dan berani mengatakan tidak, walaupun pesanan sedang banyak. Kita tidak boleh serakah, karena keserakahan itulah yang akan membusukan perut kita sendiri. Semua ada takarannya, sangat sulit bagi kita untuk mendadak mejadi milyarder hanya pada sekali hari raya.
Share:

8.10.07

Mau bisnis apa yah? (kewirausahaan)



Tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada Medan tgl 8 oktober 2007 di halaman ekonomi/bisnis

BANYAK orang beminat dan berniat untuk berbisnis. Terbayang betapa enak berbisnis tanpa harus bergantung kepada pekerjaan yang tidak menjamin. Sayangnya banyak yang sudah berniat bertahun-tahun tapi hingga kini belum juga terlaksana. Kelambatan itu konon karena banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan pertama untuk berbisnis; mau bisnis apa?
Secara sederhana, perlu pertimbangan mendasar untuk memudahkan penentuan jenis bisnis yang akan dipilih, yaitu faktor pasar atau pembeli. Apalah ada pembelinya? dimana mereka tinggal, usia berapa? Jenis kelaminnya apa? Pendidikannya apa? Pendapatan rata-ratanya berapa? Seberapa besar jumlah mereka? Dan berbagai gambaran lain tetang siapa pembeli produk bisnis kita.
Adalah seorang Dr Romeo Rissal P—Pimpinan Bank Indonesia Medan— dalam obrolan off-air sebuah radio di Medan memberikan beberapa tips menarik untuk memilih bisnis. Menurut Dr. Romeo yang sarat dengan pengalaman bisnis, ada empat kriteria mudah untuk memilih bisnis, yaitu Berbisnis produk yang tidak ada dipasaran, berbisnis produk bagus yang tidak tersalurkan, berbisnis produk yang mahal/tidak terjangkau dan berbisnis karena hobby.

Produk yang tidak ada di pasaran
Sangat sempurna jika bisa berbisnis produk yang memang benar-benar baru. Makna baru, tidak saja karena benar-benar baru, tetapi bisa saja baru dalam makna pemunculan secara teritorial. misalnya, Dawet Ayu di daerah Banyumas, Jawa Tengah adalah produk lama dan cukup memasyarakat di daerahnya dan belum pernah ada di kota domisili kita. Di Padang Panjang ada makanan sate yang cukup populer dimana model sate-nya tidak seperti yang kita kenal di daerah lain. Selain di kota asal makanan tersebut, kedua produk makanan diatas jelas merupakan produk baru yang tidak ada di pasaran bagi kota-kota lain. Memilih berbisnis produk ‘langka’ memiliki potensi diterima pasar yang lebih tinggi. Keunggulan pemilihan itu adalah karena faktor rendahnya persaingan dan minat pasar yang berpotensi tinggi.
Yang perlu diwaspadai adalah bahwa ada beberapa karakter kedaerahan yang berhubungan dengan produk. Misalnya Lemang Tebing Tinggi, biarpun kita buat di Medan dengan kualitas yang baik, terkadang pasar tetap menganggap bahwa yang di Kota Aslinya jauh lebih enak. Contoh serupa yang terjadi dengan Bika Ambon yang sudah terlanjur melekat dengan nama Kota Medan, bukan sedikit toko roti di Jawa yang menjual bika ambon, tetapi yang dari Medan ‘terasa’ lebih nikmat.
Untuk mengatasi permasalahan pemikiran kederahan, mungkin bagus jika munculkan produk tersebut tanpa harus menempelkan label nama daerah asal produk itu sendiri.

Produk bagus yang tak tersalurkan
Hampir diseluruh daratan Aceh, banyak diproduksi tikar pandan yang pengerjaannya cukup rapi dan berkualitas tinggi serta kaya akan variasi motif. Hingga saat ini produksinya juga beredar hanya di daerah Aceh saja. Contoh yang sama adalah cobek batu untuk menggiling cabe dari Magelang, konon produk ini menggunakan batu yang sama dari batuan yang digunakan di Candi Borobudur.
Contoh produk diatas sangat menarik jika di pasarkan di daerah lain yang pasti belum tersedia disana. Berbisnis distribusi produk yang bermutu jelas sebuah keunggulan, apalagi untuk produk eklusif yang memang belum ada pesaingnya.

Produk yang mahal/ tidak terjangkau
Prinsipnya adalah mengkopi seperti yang dikerjakan oleh Jepang pada saat usai perang dunia ke-2. pada saat itu produk-produk unggul dari eropa dan amerika mereka rekayasa ulang dengan harga yang jauh lebih murah. Sampai akhirnya mereka memiliki keunggulan mandiri dan menjadi negera produsen yang dicontek oleh produsen di negara lain.
Memalsu jelas merupakan kejahatan intelektual, tetapi mendapatkan inspirasi dari produk lain dan memodifikasikannya saya pikir itu boleh-boleh saja. Peluang ini jelas sangat besar karena pasar sebagian besar ingin bergaya seperti ‘orang kaya’ tetapi membayar seperti ‘orang miskin’.

Hobby
Berbisnis dari hobby memberikan potensi sukses yang cukup tinggi karena pelakunya akan mengerjakannya dengan senang hati dan tidak takut rugi. Coba perhatikan dari unsur yang lain yang cukup penting adalah aspek pasarnya.
Jika bisnis hobby itu diminati oleh banyak orang, tentu bisnis itu akan berprospek baik. Hobby memasak jelas pekerjaan yang di butuhkan semua orang. Hobby mananam bunga juga sesuatu yang menarik bagi banyak orang. Harapa diingat, bahwa berbisnis Hobby harus tetap mempertimbangkan faktor pasar seperti yang sudah diulas sebelumnya.

Kunci Sukses
Dalam tulisan saya terdahulu saya pernah mengunakan istilah batak yang berbunyi “Si loppa lali nahabang”. Terjemahan bebasnya adalah 'si tukang masak burung elang yang terbang'. Seseorang yang berencana memasak seekor burung elang. Belum juga mendapatkan elangnya (karena masih terbang) dia sudah sibuk membayangkan betapa lezatnya masakan itu, bagaimana bumbunya dan sambal yang diinginkan dsb. Sayangnya dia tak pernah segera menangkap burung elang apalagi memotongnya untuk dimasak. Artinya mimpi ingin berbisnis harus dirubah kepada bentuk nyata. Segera lakukan. Ingat, bisnis adalah ilmu praktek, bukan ilmu konsep. Ingat, belajar naik sepeda dan belajar cara naik sepeda jelas sangat berbeda.
Dr. Romeo mengingatkan faktor penting dalam berbisnis, yaitu Karakter. Ya, itulah syarat penting untuk memastikan kunci sukses benar-benar ditangan. Ada tiga pilar utama Karakter kewirausahaan yang unggul yaitu Jujur, Gigih dan Tuntas.
Jujur, ini sangat penting karena kode etik bisnis dimanapun menuntut adanya kepercayaan. Kepercayaan pihak-pihak terkait baik pihak suplier, pembeli, penanam modal dan pihak-pihak lainnya akan memberikan dukungan akselerasi sukses yang positif.
Gigih, logika semua orang akan mengatakan setuju atas persaratan ini, tetapi menjalankan prinsip ini sungguh memerlukan keseriusan yang tinggi. Sukses jelas merupakan rentetan proses yang memerlukan kesabaran, sikap pantang menyerah dan terus mencoba.
Tuntas, bisnis bukan sekadar ilmu teori. Bisnis itu ilmu terapan yang memerlukan keseriusan dan pemahaman menyeluruh. Artinya, jika mencoba memulai bisnis tertentu, harussnya all-out, libatkan diri secara optimal dan selesaikan secara utuh –tidak tanggung-tanggung--.
Share:

2.10.07

Kisah Nyata Dari Dusun Selemak, Hamparan Perak

Saya ajak kalian melihat apa yang saya lihat.

Sore itu saya berjalan ke desa Selemak, kecamatan Hamparan Perak, Kab. Deli Serdang.

Ini perjalanan mengulang yang pernah saya lewati 12 tahun yang lalu.

Foto dibawah ini adalah jalan menuju lokasi dimana yang sebelah kiri jalan adalah perkebunan sawit dan sebelah kananya kebun tembakau/tebu milik PTPN.

Masuknya dari pasar 5 simpang kayu besar.



Saya mencari seorang kenalan yang bekerja sebagai penggali pasir disana.

Saya menemukan rumahnya dan bertemu istri dan anak-anaknya, tetapi saya tidak bertemu lagi dengan suami/ayah mereka karena ia sudah meninggal genap setahun lalu yang bertepatan dengan hari raya idul fitri ke tiga.


Ini rumah mereka.



Mereka ini keluarga besar dengan 9 anak dan sedikit terpinggirkan dan tidak cukup teredukasi. Dari ke 9 anaknya, sekarang tinggal si ibu dan ke- 6 orang lagi yang masih tinggal di rumah yang mereka cintai ini, yaitu =


1. Si ibu bernama Salmiah (51 thn), bekerja memungut biji kelapa sawit yang jauh, dalam satu hari bisa dapat setengah karung dan itu dijual dengan harga Rp.7.500,-

2. Halimah (24 thn) janda dg 1 orang anak (arman syahputra- 2 thn) ditinggal lari suaminya dan kini ia kerja jadi buruh pengupas udang dengan pendapatan 12ribu perhari setelah dipotong tranpsort

3. Salim (19 thn) tak pernah sekolah. Kini jadi buruh di pengolahan sampah timah dengan pendapatan 11ribu per hari.

4. irawati (17 thn) menganggur, tidak sekolah

5. suhaibah (14 thn) sekolah kelas 6 SD negeri simpang beringin, selemak, hamparan perak

6. mohammad (13 thn) kelas 3 di SD yang sama.


Teras rumah mereka adalah teras serba guna, karena digunakan sebagai ruang tamu, ruang belajar anak, ruang makan, ruang keluarga dan ruang kerja.




















begitu melongok ke dalam dari depan pintu depan inilah yang terlihat








ada satu ruang yang semestinya menjadi ruang tamu, tetapi menjadi ruang tidur (ramai-ramai) dengan alas kertas/plastik diatas tanah yang tidak rata.

Benar-benar tanah..!












ini yang ada di dalam ruang serba guna itu













inilah meja yang juga serba guna untuk buku-buku si anak yang masih sekolah dan kain untuk si cucu



berikut adalah dapur mereka

dibawah ini adalah tempat memasak (pakai kayu)



ini tempat menyimpan perkakas dapur



berikutnya tempat menyimpan pakaian sehari-hari








ini kamar mandi mereka


















ini WC mereka






dan ini si ibu






ini mereka







Saat ini mereka tetap bisa makan entah dangan cara apapun,
Mereka tidak tersambung dengan listrik, air bersih apalagi gas dan internet.
Tidak kenal klinik/rumah sakit apalagi asuransi kesehatan
Yang masih sekolah berpacu dengan sinar matahari jika ada PR.

Sayangnya mereka tidak cukup memiliki ketrampilan yang bisa membuat mereka bisa sedikit terbantu, Kecuali si mohammad yang paling kecil, ia cukup bisa jika di suruh memelihara kambing.

Apakah ada diantara kalian yang tertarik mengulurkan tangan untuk mereka?

Apapun jelas berguna untuk mereka. Atap yang bocor sudah perlu di ganti, lantai yang berlubang2 perlu di ratakan, syukur2 pakai semen, untuk tidur pantasnya pakai tilam/kasur, dapur pantesnya ada meja-nya. Buku sekolah mestinya ada meja-nya. Karena banyak perempuannya, maunya kamar mandi bisa tertutup. Apalagi kamar mandi dan wc-nya....

Saya kok pengen carikan beberapa ekor kambing untuk modal sekolah si Mohammad.

Apa pendapat kalian?

Saya ingin menawarkan diri menjadi perantara jika kalian ingin memberikan sesuatu untuk mereka.

Semoga saya bisa berlaku amanah.

Silahkan kirimkan ke
Cahyo Pramono
Komp. Bali Indah
Blok C No 8
Tanjung Gusta, Medan


Atau jika mau kirim dana, silahkan ke
Bank Mandiri cab Balai Kota
An. Cahyo Pramono
No 106 00 0210823 4

Jangan lupa email kan ke saya kalau kalian setor dengan menyebutkan jumlahnya ya. biar mudah pembukuannya.

Ah, satu lagi. kalau ada yang bisa bantu konselling! anak perempuan ini sangat rentan terhadap perilaku negatif laki-laki jahat, seperti yang menimpa si Halimah.

Jika perlu bicara/sms, silahkan ke 0811 63 8383

Jangan berfikir jumlahnya. Berapapun asal iklas!

Untuk suadara dan sahabat yang belum bisa membantu secara material, bukan berarti kalian tidak bisa berdoa toh?

Terimakasih ya.

Salam

Cahyo Pramono

www.cahyopramono.com
Share:

Seni Mengejar Uang (Kewirausahaan)

tulisan ini sudah diterbitkan di Harian Waspada tgl 01 Oktober 2007

KAMAR tak berventilasi itu penuh dengan asap rokok. Asap itu mengepul cepat membuat pekat udara diruangan karena hembusan lima orang perokok yang sedang mempertaruhkan nasibnya dalam sebuah meja judi kelas teri.
Mereka memainkan Joker Karo dengan taruhan Rp.1000,- (artinya jika permainan dilakukan sampai matahari terbit sekalipun kemenangan tertinggi paling hanya hanya Rp. 100.000,- yang jelas tidak akan membuat mereka menjadi mendadak kaya atau miskin). Biarpun begitu, Rp.1000,- itu membuat 4 orang pemainnya benar-benar tegang dan galau, padahal mereka adalah orang-orang yang cukup senior dalam permainan itu dan sudah lama terbiasa berjudi.
Hati ke-4 orang itu semakin teriris dan penasaran karena mereka dikalahkan oleh seorang pemula yang baru saja belajar berjudi. Jangankan mengamati kartu lawan, menghitung nilai kartu pun masih harus diajari.
Karena mereka berkawan, canda tawa tetap muncul selama permainan itu, tetapi saja rasa kecut dan gondok tetap tidak bisa di elakkan. Mulailah celoteh-celoteh aneh muncul dari mulut ke-4 orang ini karena kekalahannya. Ada yang memanggil arwah nenek moyangnya untuk membantu ‘sang cucu’, ada yang mengklaim salah tempat duduk, ada yang merasa bersalah karena belum mandi sehingga terus kalah dan berbagai ocehan lucu yang lainnya.
Ke-4 orang itu ada juga mencoba melakukan serangan mental dengan trik-trik kartu kepada si junior, tetapi tatap saja tidak terjadi karena memang si junior tidak paham hal itu. Dan itu justru semakin menyakitkan hati si senior.
Mengapa si senior kalah? Mengapa uang memilih si junior?
Al kisah, cerita serupa terjadi juga pada orang-orang di dunia Multi Level Marketing. Betapa banyak orang yang jatuh cinta dengan iming-iming kemerdekaan finansial, kebebasan waktu dan berbagai mimpi lainnya.
Ibarat kerucutnya gunung, hanya sedikit jumlah tanah yang diatas, selebihnya di tengah dan paling banyak di bawah. Artinya, hanya sedikit saja orang yang bisa sukses mencapai puncak di bidang MLM sementara lainnya gagal ditengah jalan. Bahkan tidak sedikit yang langsung gagal setelah membayar uang pendaftaran dan memiliki starter kits. Mereka hanya mendaftar tapi tak pernah sekalipun memulai berbisnis.
Apa pasal? Ya, ternyata mereka terbius oleh contoh-contoh perhitungan keuntungan yang amat tinggi, kalau tidak jutaan pasti milyaran. Belum lagi contoh nyata orang-orang yang sudah diatas. Jelas itu memberikan mimpi indah tanpa kesadaran bagaimana harus berjuang dan berapa lama untuk tetap sabar demi mencapai tahapan itu.
Kalaulah ini kita anggap sebagai permainan, jelas permainan ini memerlukan banyak kerja nyata. Ibarat menembakkan 100 peluru, siapa tahu 1 atau 2 diantaranya akan mengenai sasaran. Sayangnya tidak semua orang rela dan iklas membuang 98 atau 99 peluru hanya untuk 1 atau 2 sasaran.

Permainan
Disamping strategi dan usaha yang keras/jelas, saya meyakini bahwa mendapatkan uang adalah sebuah seni permainan keberuntungan. Rahasianya bukan pada konsep atau bidang usaha, tetapi pada proses untuk mendapatkannya.
Uang itu seperti sabun basah, dipegang terlalu erat malah membuatnya mencelat, dipegang terlalu longgar justru akan membuatnya jatuh.
Tanpa melupakan keseriusan pemilihan bentuk bisnis dan menajemennya, sikap dalam mencari uang itu sangat penting dan menentukan tingkat kemujuran seseorang. Kesabaran, ketekunan, kemampuan menahan penderitaan serta kemampuan untuk tetap fokus adalah jalan wajib untuk mendapatkan uang jangka panjang.
Memang ini bukan ilmu eksakta, tetapi kecenderungan permainan uang ini menuntut perilaku tertentu dari seseorang yang hendak mendapatkannya. Yaitu;

Terbuka
Uang cenderung ditangkap oleh orang yang lebih terbuka dan lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan sigap bertindak ketika peluang datang. Mereka memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.
Orang rilex karena berpikiran terbuka tidak takut resiko dan mereka akhirnya menikmati prosesnya tanpa merasa dipenjarakan oleh tuntutan hasil. Memikirkan resiko secara berlebihan justru akan membuat kita panik lalu menjadi protektif dan tertutup.
Seperti memukul bola golf, jika mata kita terus ingin melihat hasil pukulan kita, maka kualitas pukulan akan menjadi jelek. Demikian juga jika kita berlomba lalu kita hanya memikirkan hadiah, maka kita akan kehilangan fokus dan itu awal dari kekalahan kita. Ingat, hadiah hanya akan didapat setelah perlombaan selesai dimenangkan dengan baik.
Uang lebih mudah didapat melalui bisikan “hati nurani” (intuisi) dari pada hasil kalkulasi angka yang canggih. Uang tidak menghampiri orang yang sibuk dengan keragu-raguan penalaran yang tak berkesudahan sehingga sulit melacak suara hatinya. Konon pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses.

Selalu berharap kebaikan akan datang.
Uang akan mendatangi orang yang selalu positif terhadap kehidupan. Selalu berprasangka bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Selalu ada alasan untuk berbahagia dan positif. Karena sikap mental ini, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.
Uang akan mendatangi orang yang tidak takut miskin. Mereka berani dan suka berbagi. Apalagi ada janji Tuhan bahwa semakin kita beramal, semakin besar rejeki yang akan kita terima.
Berfikir selalu kekurangan dan miskin justru akan membuat kita benar-benar miskin, karena selalu merasa kurang dan selalu kurang. Tanpa kita sadari sebenarnya terlalu banyak alasan untuk menyadari bahwa diri kita sebenarnya kaya.
Intuisi orang-orang yang dekat dengan rejeki meyakini bahwa, uang itu seperti air dan diri kita adalah wadahnya, jika kita tidak mengeluarkan uang kita, maka kita tidak akan pernah mendapat uang yang baru. Dalam bahasa religi, kita mengenalnya sebagai membayarkan zakat, infak, sodakoh dll.

Konsultasi dan Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive