it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

19.12.07

perkembangan per tgl 16 desember 2007, project rumah ibu salmiah di hamparan perah

Salam,
Saudaraku yang baik, mohon maaf terjadi keterlambatan laporan perkembangan project ibu Salmiah dai Hamparan Perak. Ini terjadi karena ada beberapa hambatan yang bisa dilewati.

Sejak 2 minggu yang lalu semua project fisik sudah selesai, tinggal konsep pemberdayaan ekonomi bagi keluarga tersebut., yaitu;

pembelian kambing
pembuatan karamba untuk pelihara ikan
pembuatan kandang untuk pelihara bebek

ikan dan bebek terakhir kita putuskan karena lahan untuk bercocok tanam sudah tidak ada lagi, dan yang ada hanya lahan bekas galian pasir yang berisi air disekitar rumah mereka. Semoga Tuhan memberkati, setelah selesai hari raya kurban, kita akan mulai membeli kambing untuk mereka.

Foto yang terlihat dibawah ini adalah gambaran teras dengan meja dan kursinya. Dan disisi kanan rumah terlihat kandang kambing yang mampu menampung 2o ekor kambing.











inilah kandang kambingnya, beridiri disamping rumah diatas genangan air kolam bekas galian pasir yang rencananya untuk pelihara ikan.










dibawah ini foto ruang makan beserta meja makannya.






mereka sudah mulai mengenal kompor, walau masih lebih senang memasah memakai kayu bakar.

Terlihat dibawah adalah rak piring dan laci penyimpan makanan. (sudah lengkap peralatan masak, piring dan gelas yang bukan plastik) dan meja belajar untuk si amat.







kasur springbed yang diberikan tidak dipakai semuanya, karena mereka memerlukan penyesuaian (terlanjur terbiasa tidur ditanah), dan memerlukan sedikit pelatihan untuk menggunakan sheet/sprey diatas kasur.








Share:

Lihat masa depan dari rekaman sejarah (manajemen umum)



tulisan ini sudah dimuat di harian waspada pada hari senin 17 desember 2007, pada halaman bisnis dan teknologi

“Sekarang musim apa ya?” Musim hujan atau musim kering? Apakah anda bisa menentukannya? Sehingga anda bisa menentukan rencana pekerjaan di luar ruangan atau pekerjaan bercocok tanam.
Cara modern yang termudah tentunya telephone ke kantor BMG atau mengunjungi situs BMG melalui internat dan anda akan mendapat jawaban yang cukup akurat. Lalu bagaimana orang “dulu” menetukannya?
Waktu saya kecil, ayah memberitahukan bahwa setiap menjelang musim kemarau, dedaunan mulai rontok. Itu terlihat jelas pada pohon mahoni dan jati. Berikutnya disusul oleh berkembang biaknya jangkrik di sawah-sawah. Jendela untuk mengetahui kita memasuki musim kemarau adalah sarang laba-laba. Pada musim kemarau sarang laba-laba akan terbentuk secara horizontal. Menjelang pergantian musim, ayah sering menyebutnya masa pancaroba, masa dimana terjadi perubahan-perubahan kelima elemen semesta karena perubahan musim. Menjelang musim hujan, terjadi perubahan pola angin, awan dan suhu tanah. Sarang laba-laba pada musim hujan berubah, tidak lagi horisontal tetapi menjadi vertikal.
Karena di Pulau Jawa sering terjadi gempa bumi, ayah juga pernah memberikan petunjuk untuk membaca tanda-tanda alam jika akan terjadi gempa bumi. Misalnya hewan-hewan peliharaan akan menjadi panik, stress dan ingin lepas dari kandangnya. Lalu binatang-binatang hutan segera turun gunung dengan bergegas dan beberapa tips lainnya.
Bagaimana ayah saya bisa mengetahui tanda-tanda itu? Ternyata semua itu tercatat dalam Primbon, almanak yang merupakan sumber infomasi yang berdasarkan penelitian, pengamatan dan pencatatan tiada henti selama jangka waktu yang sangat lama.
Menginjak dewasa, saya mulai membaca beberapa referensi yang membawa saya kepada kesimpulan bahwa pengamatan dan pencatatan adalah hal penting sehingga bisa digunakan untuk merencanakan sesuatu.
Dalam praktikal bisnis, pengamatan, pencatatan dan pengolahan catatan tersebut adalah hal penting sehingga bisa “membaca” waktu (“masa lalu, kini dan masa depan”).

CATATAN
Mencatat adalah hal penting dalam praktikal bisnis, karena dengan catatan itu akan meringankan beban pikiran dengan mengingat-ingat. Kapasitas otak kita cenderung ada batasnya. Jika otak kita penuh dengan data, maka kita akan menjadi bebal bahkan seperti kosong tidak penuh kreasi.
Catatan adalah rekaman sejarah sehingga suatu saat kita bisa menggunakannya sebagai acuan melihat kedepan. Contoh sederhana, menjelang akhir tahun 2007 ini, kita harus sudah bisa membaca kinerja tahun 2008. Apa yang akan terjadi dengan bisnis kita tahun depan? Lini mana yang akan memberikan keuntungan? Seberapa besar keuntungan itu? Kepada pasar yang mana kita harus menfokuskan pendekatan? Dan berbagai hal yang bisa menjadi acuan kerja kita di tahun yang akan datang.
Disini, catatan yang bisa mempermudah keputusan bisnis adalah catatan yang bernuansa statistik. Yaitu kumpulan data berupa figur/angka yang menggambarkan tingkat atau volume atas objek dimaksud. Ujung dari pengolahan data ini, adalah petunjuk-petunjuk.

STATISTIK
Kita boleh menghendaki petunjuk apapun demi keputusan kita. Bisa berupa gambaran daya beli pasar kita, bisa berupa gambaran tingkat keberhasilan kerja, tingkat kepuasan pelanggan dan berbagai hal lain yang penting. Kehebatan petunjuk itu sangat tergantung dari kelengkapan pencatatanya. Untuk bisa mendapatkan petunjuk yang akurat dalam rentang waktu tertentu, kita harus memiliki catatan lengkap dari masa ke masa lain sesuai dengan kebutuhan atas petunjuk tersebut.
Catatan dibawah ini adalah sebuah rekaman atas penjualan sepeda motor disalah satu agen kecil di sudut kota Medan, sejak tahun 2004 hingga 2006.



Dari rekaman tersebut diatas bisa dibaca total penjualan, rata-rata penjualan tiap bulannya, catatan naik-turunnya penjualan setiap bulannya, bulan-bulan positif dan bulan-bulan negatif. Lalu rata-rata penjualan tiap tahunnya dan tingkat peningkatan penjualan tiap tahunnya.
Dari data tersebut, kita bisa memperkirakan berapa kita akan mematokkan perkiraan penjualan tahun berikutnya, alokasi stok barang tiap bulannya, rencana promosi pada bulan-bulan tertentu yang selalu minim penjualan dan merencanakan rencana aksi penjualan sepanjang tahun depan.
Dari rekaman tersebut, kita bahkan bisa memastikan berapa jumlah pegawai yang ideal, berapa ukuran show-room yang pas, apakah memerlukan gudang dan apakah perlu penambahan produk berupa spare-part dll.
Jika ada data tambahan pelengkap, seperti nilai rupiah atas penjualan tersebut, cara pembayaran dan tingkat usia pembayaran serta berbagai catatan lain, seperti asal pembeli, cara pembeli mengakses agen ini, kecenderungan warna yang digemari pembeli, bentuk-bentuk keluhan yang sering muncul dan berbagai data lainnya, maka manajer agensi ini akan sangat mudah memutuskan perencanaan pendapatan dan rencana kerja tahun berikutnya.

REALITAS
Permasalahan klasik dalam praktek bisnis skala mikro, kecil dan menengah adalah kurangnya data statistik internal dan eksternal sehingga mereka tidak memiliki jawaban atau petunjuk atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, misalnya; berapa harga jual yang pantas untuk tahun depan? Berapa keuntungan kita selama ini? Barang apa saja yang laku? Dimana barang-barang itu laku? Siapa pembeli kita? Kapan saja terjadi peningkatan pembelian? Kapan saja terjadi penurunan penjualan? Berapa pegawai kita perlukan? DLL.
Yang membuat rasa sakit menjadi lebih parah karena sekadar tidak mendapatkan jawaban, tetapi juga karena memang banyak pengusaha yang tidak memiliki catatan apapun tentang hal-hal yang ditanyakannya itu. Sudah saatnya kita memindahkan beban pikiran ke kertas, biarkan pikiran setengah kosong agar terbuka kepada kreatifitas dan analisis yang sempurna lalu jadikan rekaman itu sebegai bukti sejarah yang akan sangat berguna nantinya.

Permasalahan klasik dalam praktek bisnis skala mikro, kecil dan menengah adalah kurangnya data statistik internal dan eksternal sehingga mereka tidak memiliki jawaban atau petunjuk atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, misalnya; berapa harga jual yang pantas untuk tahun depan? Berapa keuntungan kita selama ini? Barang apa saja yang laku? Dimana barang-barang itu laku? Siapa pembeli kita? Kapan saja terjadi peningkatan pembelian? Kapan saja terjadi penurunan penjualan? Berapa pegawai kita perlukan? DLL.
Yang membuat rasa sakit menjadi lebih parah karena sekadar tidak mendapatkan jawaban, tetapi juga karena memang banyak pengusaha yang tidak memiliki catatan apapun tentang hal-hal yang ditanyakannya itu. Sudah saatnya kita memindahkan beban pikiran ke kertas, biarkan pikiran setengah kosong agar terbuka kepada kreatifitas dan analisis yang sempurna lalu jadikan rekaman itu sebegai bukti sejarah yang akan sangat berguna nantinya.
Share:

Didia Rokkapi? (segmentasi – marketing)



Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 10 desember 2008 di halaman bisnis dan teknologi

… …
Mangoli da amang nimmu tu au (menikahlah anakku itu katamu)
Dang na so olo au inang (bukannya aku tidak mau ibu)
Alai didia rokkapi (tetapi diamana jodohku)
Didia rokkapi (dimana jodohku)
... …
Paboa ma tu au (Beritahukanlah kepadaku)
Didia rokkapi...(dimana jodohku…)


Musik dan syair yang ‘minor’ ini benar-benar menghimpit perasaan lalu mengantarkan kita kepada pemahaman betapa kepedihan itu amat berat bagi seorang anak yang ingin berbakti kepada ibunya tetapi belum juga mendapat jodoh seperti yang diharapkan ibunya. Sebuah sayatan tajam mengiris relung batin terdalam dan meninggalkan luka terperih.
Lagu berbahasa Batak yang sering terdengar disemua kedai-kedai tuak itu menggambarkan sebuah pencarian yang tiada berujung. Sepertinya Jodoh adalah sesuatu yang gaib dan tersimpan entah dilangit yang mana. Bahkan pertanyaan Didia rokkap hi –dimana jodohku?—menjadi penutup kesempurnaan derita yang dibawa lagu sedih itu.
Bukan hendak saya menjadi melo dan sok romantis, tetapi jeritan-jeritan serupa sungguh sering saya dengar dari banyak pelaku bisnis yang tersesat saat mencari-cari ‘jodoh’ bagi produknya. Mereka tidak tahu, siapa sebenarnya pasar mereka, siapa yang akan membeli produknya, bagaimana cara memasarkannya?
Apakah bisnis anda juga tersesat? apakah ‘belahan jiwa’ tidak juga ditemukan? Apakah karena itu anda terpaksa menjaja cinta dijalanan tanpa tahu kepada siapa hati harus dijatuhkan.

JODOH
Produk kita semestinya dibeli oleh pembeli yang pas. Jodoh! Seperti yang kita harapkan. Jodoh yang pas tanpa cela (kalau bisa). Lalu, bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan pembeli yang pas? Terlalu Banyak gadis atau janda yang ada, tapi siapakah yang akan duduk bersanding dipelaminan?
Untuk memudahkan pemahaman yang benar, konsep pemasaran memerlukan sebuah studi riset yang nantinya akan sangat berguna di dalam menentukan siapa jodoh kita. Riset tersebut akan memilah-milah dengan teliti seperti kita memilih tomat ukuran A, B atau C. Riset itu akan menyeleksi siapa-siapa yang tepat menjadi sasaran kita. Penyeleksian itulah yang saya sebut sebagai segmentasi. Sebuah langkah mengelompokkan objek berdasar acuan tertentu.
Tanpa studi itu, kita akan mengeluarkan energi yang berlebihan dengan hasil yang tidak menjamin. Ibarat memberondongkan peluru banyak-banyak dan berharap salah satunya akan mengenai sasaran.
Dalam praktek keseharian banyak sekali praktisi pemasaran yang tidak tahu dengan media apa dalam menyampaikan pesan. Ada yang merasa beriklan di koran sudah cukup. Ada yang memaksa diri membuat billoard, ada yang latah membuat brosur dalam bahasa inggris dll.
Kalatahan karena ketidaktahuan juga melanda banyak pelaku pemasaran dengan mengejar outlet-outlet modern tanpa mengetahui efektifitasnya. Kelatahan itu juga melanda banyak pengusaha yang bermimpi agar produknya menembus pasaran ekspor, walaupun kadang-kadang itu tidak perlu.

SEGMENTASI
Inilah langkah penting untuk mengetahui jodoh kita. Untuk memastikannya, anda memerlukan langkah survey/riset. Lupakan riset-riset yang memusingkan seperti mengkilapya kepala proffesor pintar itu. Lakukan riset sederhana saja. Kuncinya, anda hanya perlu bertanya dan temukan jawabannya. Hanya itu.
Carilah datra; siapa target kita yang cocok dengan produk dan harapan kita. Dimana lokasi mereka tinggal, usia, jenis kelamin, suku bangsa, agama, bahasa, pendidikan, pendapatan, daya beli, status perkawinan, dll.
Jawaban atas pertanyaan tersebut pasti akan membimbing anda kepada pemahaman siapa pasar anda yang benar dan pas. Lalu kembangkan pertanyaannya kepada hal-hal yang sifatnya lebih personal. Seperti; preferensi gaya hidupnya, preferensi sexualnya, preferensi hiburan dan preferensi politik pilihannya, preferensi menggunakan alat komunikasi dll.
Lalu ketahuilah alasan menggunakan jasa/produk kita itu karena apa? Apakah karena kebutuhan dasar, kebutuhan gaya hidup, atau karena alasan lain. Singkap tabir cara mereka mendapatkan produk kita; apakah dengan membeli langsung, melalui agen, atau pinjam dari orang lain.
Untuk memastikan media massa yang digunakan oleh pasar kita, cari tahu media apa yang mereka baca/dengar/tonton. Kapan mereka berhubungan dengan media itu, berapa lama dan bagian mana yang menarik dari media tersebut.
Jangan berhenti disitu, gali lebih detail sedalam-dalamnya. Setiap produk memiliki karakter pasar yang berbeda. Saya contohkan produk makanan, maka tambahan detail yang diperlukan adalah mengetahui bagaimana perilaku pasar terhadap makanan utama,makanan sampingan, makanan ringan, makanan jajanan dan makanan untuk oleh-oleh.
Ikuti dengan; dimana mereka memakannya di restoran, di bawa pulang (dibungkus), atau minta diantar; kapan mereka makan? (hari-hari apa saja, jam berapa saja dll). Jika mereka makan ditempat, model layanan apa yang dikehendaki; formal, popular atau kedai informal. Model Eropa, Asia atau lokal? Mereka lebih memilih lokasi, kualias makanan atau hiburannya?

KAWIN
Jika semua pertanyaan tersebut diatas sudah terjawab, pasti kita sudah mendapatkan gambaran yang jelas, siapakah jodoh kita. Kita tahu dimana mereka berada dan semua hal mengenai mereka. Itu sangat cukup untuk mendapatkan mereka, menyampaikan surat cinta penuh sanjungan mematikan, bekenalan, bertunangan dan akhirnya kawin.
Ingat, kekuatan hubungan yang sudah ‘diatur’ ini berada dalam ‘jiwa’ hubungan tersebut. Jiwa yang hampa dan hambar tanpa cinta jelas akan menjadi komoditi yang tidak akan bertahan lama. Perceraian adalah akhirnya. (tentang love mark sudah saya bahas ditulisan terdahulu)
Saya harap jeritan-jeritan pencarian jodoh tidak lagi terjadi dengan pemahaman ini. Kekuatan komunikasi sangat penting untuk membangun hubungan yang mampu bertahan lama diantara godaan-godaan dunia. Bolehlah kita teramat cerdas, tetapi berkomunikasilah dengan bahasa mereka. Ingatlah selalu cara anda memanggil ayam walaupun anda seorang profesor yang teramat pandai.
Share:

4.12.07

kabar baik dari project ibu salmiah di hamparan perak

Salam,

Saudaraku yang baik, berkat doa dan dukunganmu, inilah kabar terbaru proses pembangunan rumah ibu salmiah di hamparan perak.

Foto2 ini saya ambil pada tanggal 25 november 2007.

Sebelum lihat foto, ada kabar bagus.

Sore Hari ini, 28 novemmber 2007. sudah terpasang 6 set spring bed di rumah ibu salmiah, lengkap dengan 8 bantal dan kelengkapan lainnya.
hari jumat besok, 30 november 2007, direncanakan sudah terpasang 3 set lemari pakaian, 1 set meja belajar/serbaguna (4 kursi) di teras, 1 set meja makan oval ( 6 kursi), 1 set rak piring (dengan laci sbg lemari makan)
hari minggu 01 desember 2007 adalah finalisasi pekerjaan pagar teras dan meja untuk dapur
Hari minggu 01 desember 2007 adalah finalisasi pekerjaan pembuatan kandang kambing

Baiklah saudaraku, dibawah ini adalah foto dinding bangunan yang sudah di cat. Pada awalnya kita berfikir tidak memiliki cukup dana untuk membeli cat, jadi agar tidak cepat keropos dan termakan rayap, team teknis melapisi dinding kayu dengan solar. Akhirnya, setelah di cat putih, hasilnya tidak cukup maksimal, tetapi menjadi lebih bersih dan terlihat asri.








seperti terlihat di foto, semua aktifitas serba di lantai karena memang belum ada kursi.
Dibawah ini adalah aktifitas pembuatan kandang kambing di sebelah kiri rumah mereka.

Pembelian kambing kami tunda hingga lewat hari raya idul adha, karena harga kambing saat ini melejit teramat tinggi.




suadaraku yang baik,

hingga saat ini sepertinya semua kebutuhan ibu salmiah dan keluarga sudah terpenuhi. Kecuali beberapa hal kecil seperti

4 buah lampu kapal (minyak)
8 buah handuk
1 buah radio transistor kecil bertenaga baterey

saya yakin kita bersama-sama akan mampu menyelesaikan project ini dengan baik dan segera.

Sekali lagi mohon doa restu dan dukungannya.

Sampai laporan selanjutnya.





yang tercecer

dalam rapat koordinasi dengan team teknis dilapangan akhir minggu yang lalu, saya mendapatkan informasi yang sedikit membuat kaget=

menurut koordinator team lapangan, selama sebulan ini, mereka hampir tidak pernah melihat keluarga itu memasak makanan di tengah hari, apalagi ada aktivitas makan pada siang hari. Keluarga ibu salmiah selalu baru mulai memasak makanan pada pukul 4 sore. Saat team lapangan pulang jam rata-rata pada pukul 17.30, mereka belum juga pernah melihat mereka makan. Artinya kami berasumsi bahwa keluarga ibu salmiah hanya makan 1 kali pada sore hari dan sarapan pagi ala kadarnya
.



Setelah rapat, saya mencoba menilik ke dapur, memang tidak ada terlihat beras atau bahan makanan lain, lalu saat memeriksa dinding kamar untuk tempat lemari pakaian, saya melihat satu karung plastik berisi 15 Kg beras yang saya ingat saya berikan 2 minggu sebelumnya. Saya belum berani bertanya, bagaimana meraka makan untuk kelangsungan hidupnya.


Semoga Tuhan senantiasa hadir dirasa lapar yang ‘dilupakan’ itu...
Share:
Selamat pagi,

Saudaraku yang baik, kemarin ada yang terlupa. saya mendapat amanah untuk menyampaikan pesan dari Sewubah (14 thn), anak ibu salmiah yang ke 8 yang masih sekolah di kelas 6 SD kepada anda.

Awalnya mereka meminta saya untuk mengucapkan terimakasih kepada anda, tentu akan lebih bagus kalau mereka sendiri yang menyampaikannya langsung kepada anda. Lalu saya usulkan agar mereka menulis surat.

Dari kesekian anak yang ada, akhirnya Suwebah-lah yang memberanikan diri menuliskan perasaan terimakasihnya.

Berikut tulisannya=





saat itu, saya duduk di tanggul teras sambil melihatnya menulis surat. Ini yang terlihat dari posisi saya kala itu




suwebah terlihat kelelahan setelah menuliskan surat itu, entah karena kelegaan yang memuncak setelah mengeluarkan perasaannya, atau karena ia harus jongkok dan menulis di lantai semen sekitar hampir setengah jam karena memang belum ada meja dan kursi di rumah itu.

Saya berharap amanah ini tersampaikan kepada saudaraku yang budiman.
Share:

Cuma dedaunan dan rerantingan(manajemen strategis)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 03 desember 2007

Mohammad Sofyan, seorang petugas kolektor diperusahaan saya memiliki harta peninggalan berupa beberapa pohon rambutan,di kampungnya Desa Selesai, sekira seisapan rokok jaraknya dari kota Binjai kearah utara.
Dalam perhitungannya, setiap tahun pohon ini berbunga mulai awal bulan Agustus dan bisa dipanen pada akhir September atau awal Oktober. Perhitungan ini tidak pernah meleset, kecuali hasilnya yang tidak pas. Semakin tahun semakin sedikit buahnya.
Sofyan menyadari bahwa pohon rambutan itu makin tua, berkompetisi dengan waktu. Ia sadar bahwa harus ada langkah tertentu yang harus dikerjakannya. Mulai dari memberikan pupuk, memangkas ranting tua dan memperhatikan dengan iklas seperti merawat anak sendiri. Sayangnya Sofyan tidak memiliki kekuatan yang dasyat untuk menggerakan dirinya mengerjakan segala yang dipikirkannya. Hal-hal lain seperti pekerjaannya, rumah tangga, dan hobbynya menyerap semua energi yang juga cukup besar. Memang ia tetap mendapatkan uang dari pohon-pohon itu, tetapi untuk memastikan pohon itu memberikan hasil yang lebih optimal jelas sering terlupakan olehnya.
Dalam sebuah obrolan, saya bertanya mengapa ia biarkan pohon-pohon itu. Ia pun mengiyakan pertanyaan saya. Lalu tanpa pancingan serius, ia pun menjelaskan kesalahan-kesalahannya yang tidak cukup memelihara pohon itu demi hasil yang lebih maksimal. Diantara kelelahan pikirannya atas pohon itu, terpikir pula untuk menebangnya dan menghilangkan perasaan bersalah untuk sudah menelantarkan pohon-pohon itu.
Sambil memperhatikan kejujuran Sofyan, bermunculan beberapa nama sahabat-sahabat dengan perusahaan warisan orang tuanya atau perusahaan sendiri yang sudah lama dikelolanya. Persis seperti yang dialami Sofyan dengan warisan pohon rambutannya.

GAMANG
Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasi itu. Manajemen bisa tersudut hingga posisi yang gamang, tidak jelas apa yang dipikirkan, diharapkan dan yang akan dikerjakannya. Hasil penjualan yang semakin menurun, tetapi memupuk dan memangkas tidak juga kunjung dikerjakan.
Dalam kasus pohon rambutannya, Sofyan lebih sering meminta anaknya untuk menyapu dedaunan dan rerantingan yang kering yang rontok ditanah. Meminta orang-orang untuk tidak mencangkul dan membuang sampah di bawah pohon rambutannya sambil berharap agar tahun ini hasilnya akan meningkat. Sofyan sampai pada kondisi gamang yang mematungkan dirinya. Karsanya melemah hingga tidak tahu lagi mengapa ia tidak juga mengerjakan apa-apa yang seharunya ia kerjakan.
Tanpa saya minta –dalam obrolan yang cenderung monolog itu —Sofyan berjanji kepada dirinya sendiri untuk segera memberikan pupuk dan memangkas ranting-ranting tua yang sudah tidak lagi bisa menghasilkan tunas untuk berbunga dan berbuah.
Sembari saya iyakan, ia juga mengatakan bahwa ia harus sanggup menunggu dua atau tiga tahun agar cabang baru akan muncul dan produktif setelah dipangkasnya. Memang menurutnya itu akan mengurangi hasil pada tahun pertama dan kedua setelah pemangkasan, tetapi ia yakin bahwa pada tahu ke tiga, ia akan mendapatkan buah yang lebih banyak dibanding produksi beberapa tahun ini.

STRATEGIS & TAKTIS
Dalam kasus Sofyan, perencanaan memberikan pupuk dan memangkas adalah langkah strategis. Langkah itu harus diputuskan atas dasar kesadaran penurunan produksi yang dihadapi, gambaran hitungan yang jelas serta rencana produksi yang akan terjadi atas langkah-langkah strategis itu.
Masih dalam komponen strategis, ia harus memastikan tata letak pohon, jarak antar pohon dan potensi arah akar pohon. Lalu ia harus memastikan orang-oranya agar mampu melakukan pemupukan dan pemangkasan yang benar. Bagi saya, proses pengerjaan pupuk dan pemangkasan adalah pekerjaan taktikal yang tidak harus dikerjakan sendiri oleh Sofyan.
Perkara strategis yang sering terlupakan dalam praktek bisnis modern adalah kenyataan bahwa kita sering lupa bahwa kita memerlukan perencanaan yang tepat dengan dasar data yang akurat. Lalu kita juga sering lalai untuk memastikan tujuan bisnis kita secara jelas. Saat kita tidak bisa secara detail dan gamblang atas tujuan dan target kita, sudah pasti kita akan berjalan tanpa arah tujuan. Lalu jelas saja team pendukung kita juga akan meraba-raba seperti berjalan didalam kegelapan.
Perkara strategis yang lain adalah manakala kita tidak memiliki panglima-panglima handal untuk membantu meringankan beban kita. Kalau lagi-lagi kita menggunakan manajemen ‘kedai sampah’ dengan gaya kepemimpinan one man show (semua serba kita sendiri yang mengerjakannya) pasti cepat atau lambat kita akan mencapai anugerah tekanan batin dan stress yang berkepanjangan. Jika tidak, setidaknya kita berjalan menggali makam kita sendiri.

SEKADAR DAUN DAN RANTING
Bolehlah Sofyan menuntut anggota team kerjanya untuk bisa menyapu daun dan ranting kering, menyiram dan memberi pupuk. Tetapi kalau Sofyan tidak menyadari bahwa yang dibutuhkannya adalah buah yang banyak dan besar, maka Ia akan sibuk dengan hal-hal yang tidak penting.
Bulan penghujung tahun seperti ini layak untuk merenung dan memastikan tahun depan tidak lagi tahun yang gelap, tetpi tahun yang jelas dan terang, sehingga mudah dilalui dengan baik.
Dalam pencarian kesejatian Miyamoto Mushasi (tokoh samurai legendaris Jepang), ia mengejar dan mengemis kepada Godo—seorang guru Zen yang masyur--, ia mengikuti guru itu kemanapun pergi tanpa jawaban yang memuaskan. Suatu saat menjelang musim gugur dalam upaya pengejaran itu Mushashi berteduh disebuah gerbang kuil di tepi Danau Biwa. Di dinding gerbang itu ada papan dengan tulisan kata bijak;

Saya mohon, cobalah temukan sumber asasi.
Pai-yun tergerak oleh jasa Pai-ch’ang;
Hu-ch’iu kecewa atas ajaran peninggalan Pai-yun.
Seperti para pendahulu kita yang agung,
Janganlah hanya memiliki dedaunan,
Atau menyibukkan diri dengan rerantingan

Pernah Musashi seperti menghiba ia meminta pencerahan dari guru Zen ini, tetapi tetap saja tidak ada wejangan yang panjang lebar kecuali satu kalimat, “Cuma dedaunan dan Rerantingan”. Dan akhirnya ia menyadari bahwa ia terlalu sibuk dengan bayang-bayang, bukan intinya.
Share:

Blog Archive