it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

19.12.08

Pembeli Excelence


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 24 november 2008 pada halaman teknologi dan bisnis


DUAPULUH tahun terjun dalam dunia jasa pelayanan, saya melihat bahwa sejatinya, pelayanan itu adalah sebuah aksi dan reaksi dari 2 pihak; pembeli dan penjual. Artinya pelayanan yang prima akan terwujud dengan prima jika terjadi keselarasan antara pelayan dengan yang dilayani.
Dalam obrolan-obrolan waktu senggang antar sesama pelayan, kita akan mendapati berbagai kometar tentang pembeli atau pelanggan yang kita layani. Baik dari komentar positif maupun komentar negatif. Ada yang menyanjung dan berterimakasih kepada palanggan tertentu, ada juga yang bersungut-sungut menyumpahi kesialannya melayani pelanggan yang ‘sulit’.
Benar bahwa pelayan memang bekerja dengan melayani. Melayani dengan tulus dan iklas semaksimal kemampuannya. Tetapi secara sederhana, para pelayan juga manusia biasa, yang bisa menilai dan bersikap atas perlakuan yang diterimanya dari para pembeli.
Setiap pelayan akan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik, lalu akan menjadi lebih baik, menyenangkan dan mudah begitu si pembeli juga memberikan perlakuan yang sopan dan manusiawi.
Bagi anda para pengusaha, penjual, atau pelayan, pasti suatu saat akan ada masanya kita menjadi pembeli. Apakah itu ke grosir, ke distributor utama, atau kepada semua suplier kita.
Ingat, pembelian adalah salah satu bagian penting untuk memaksimalkan keuntungan bisnis kita. Pembelian bukan hanya sekadar cerita harga yang murah, tetapi juga jangka waktu pembayaran, kecepatan pengiriman barang, garansi pengembalian jika ada kerusakan, dan layanan bantuan jika ada permasalahan. Artinya, jika proses pembelian dilakukan dengan senang hati dan lancar, niscaya kemudahan-kemudahan lain akan mengiringinya.
Benar bahwa pembeli adalah raja, tetapi raja yang santun dan bijak akan lebih mendapat penghormatan dari pada raja yang sok berkuasa, sok memiliki uang dan tidak memperhatikan pelayannya.

Menjadi pembeli excelence
Kiat sederhana untuk mendapatkan pelayanan prima tanpa harus menjadi ‘anggota istimewa’ yang pertama adalah memahami aturan main pelayanan dimana kita akan membelinya. Apakah harus antri? Apakah harus menyiapkan uang pas? Dll.
Tidak mempersiapkan dokumen dengan lengkap saat antri di bank, jelas mengakibatkan arus pelayanan menjadi terhambat. Bukan karena pelayanan yang jelek, tetapi kita sebagai pembeli juga terlibat dalam proses keterlambatan tersebut.
Yang kedua, pikirkan bahwa kita hanya membeli produk atau pelayanan, bukan membeli martabat pelayan. Artinya kita juga harus mengakui keberadaan mereka sebagai petugas yang sedang menjalankan tugasnya.
Terkadang, kita merasa memiliki uang sehingga kita tidak melihat mereka sebagai manusia yang bermartabat. Jangankan melihat mata si pelayan, senyumpun tidak ada keluar dari wajah kita. Ada kawan yang selalu tersinggung kalau tas-nya diperiksa oleh petugas keamanan, ada perasaan sakit hati dan diremehkan. Lalu ia menggerutu, “Baru jadi satpam sudah sok periksa”. Padahal si satpam hanyalah petugas yang menjalankan perintah atasan.
Ketiga; senyum ramah. Kita tidak akan rugi secuilpun begitu kita memberikan penghormatan dengan senyum. Senyuman memberikan efek membahagiakan dan pada gilirannya mengundang rasa senang bagi siapapun yang menerimanya.
Senyum di awal transaksi dan di akhir transaksi akan membuka pintu kerjasama yang baik. Anda akan dicatat sebagai pembeli yang ramah dan anda akan mendapat kebaikan yang kadang tidak kita bayangkan sebelumnya.
Keempat; memberikan penghormatan dan sikap yang layak. Saya percaya bahwa apa yang kita mulai akan berbalik ke diri sendiri. Jika kita menanam padi pasti akan tumbuh padi dan rumput, kalau menanam rumput, yang tumbuh hanya rumput. Artinya, begitu kita memberikan penghormatan, akan tumbuh juga penghormatan dan sesekali hal lain diluar penghormatan. Begitu juga kalau kita tidak memberikan penghormatan, niscaya kita tidak akan mendapatkan rasa hormat dari orang lain.
Membanding-bandingkan harga dan kualias dengan pesaing yang lain, bisa berakibat tertutupnya pintu kerjasama. Sebagian orang masih sulit membedakan antara bisnisnya dengan pribadinya. Mereka masih menganggap kritikan kepada bisnis itu sama saja dengan mengkritik diri pribadinya.
Sikap dewasa juga perlu diperhatikan. Kadang ada saja dari kita yang selalu mengeluh kepada penjual. Tiap bertemu atau tiap bertransaksi, pasti memberikan sederet keluhan dan koreksi, tetapi tetap saja kita menggunakan produknya. Aneh kan!
Kelima; jelaskan dengan jelas. Pelayan juga memerlukan pemahaman yang terang atas kebutuhan kita. Jika kita tidak menyampaikannya dengan jelas dan spesifik, kita akan mendapati kesalahan-kesalahan yang tidak kita inginkan.
Sangat mungkin pelayan, salah memahami keinginan kita. Kejadian salah order makanan di restoran terlalu sering terjadi karena kesalahpahaman itu. Istilah Teh di bagian Indonesia yang lain berarti minuman dengan rasa dan aroma daun teh. Di sebagian Sumatera Utara, teh berarti air putih.
Keenam; berikan empati. Pada saat kita mengalami perlakuan yang lesu dari seorang pelayan, ada baiknya kita sedikit berpikir, sudah berapa lama dia berdiri di situ. Kadangkala, berimajinasi mengenai kelelahan pelayan yang melayani kita bisa membuat hubungan kita dengan petugas menjadi lebih tulus dan baik.
Bercerita tentang dunia si ‘pelayan’ juga akan membuka pemahaman kita lebih baik lagi. Bonus, bonus kecil biasanya akan diberikan kepada orang-orang yang berempati kepada si pelayan.
Ketujuh; ucapkan terimakasih dan penghargaan. Ucapan terimakasih dan pujian akan membesarkan ‘perasaan berarti’ bagi si pelayan. Seperti kita, mereka juga akan ‘berbuat lebih’, jika mereka merasa dihargai dan diakui. Pujian tulus akan selalu berhasil menggerakan seseorang. Apalagi pemberian tips atas perlakuan pelayanan yang anda terima, pasti mereka akan meningkatkan kualitas pelayanannya kepada anda.
Yang terakhir, pembeli yang santun, ramah dan mau bekerjasama, biasanya akan menempati ruang batin yang baik di hati pelayannya. Mereka akan memberikan pelayanan yang sama tulusnya dengan ketulusan sereta kebaikan yang kita berikan kepada mereka. Anda akan menjadi pembeli yang dirindukan, bukan sekadar uangnya, tetapi mereka merindukan melayani anda di kesempatan lain. Mungkin ada yang masih ingat pepatah lama “Gentleman Serve Gentleman”.
Share:

18.11.08

PROMOSI YANG MEREMBES

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada,pada halaman bisnis dan teknologi, tanggal 17 nobember 2008

SAMPAI pada suatu masa, produk kita cukup dikenal oleh target pasar yang dikehendaki. Tentu saja untuk meningkatkan penjualan, kita perlu menjaga agar pasar tersebut tetap loyal, publik tetap menyadari kehadiran produk kita, pasar baru yang petensial terbuka untuk kita dan kita juga tetap menjaga pesaing agar tidak sampai mengalahkan kita.
Untuk mencapai harapan-harapan diatas, kita perlu tetap melakukan langkah-langkah promosi. Strategi promosi yang terbuka dan langsung, memang umumnya lumayan cocok untuk masa awal agar sesegera mungkin orang mengenal produk kita. Berbeda dengan promosi di awal pengenalan, strategi promosi yang bersifat ‘mempertahankan’ dan ‘menjaga’ kadang kala harus berbeda dengan strategi awal.
Perbedaannya adalah bahwa publik dianggap sudah mengetahui pesan-pesan awal, sehingga tidak perlu berlebihan mengulang pesan-pesan karena pengulangan yang berlebihan cenderung akan mendapatkan penolakan.
Disinilah kita perlu menciptakan strategi promosi yang halus, santun dan merembes. Saya gunakan istilah merembes, seperti air hujan yang tidak diketahui tetesannya tetapi jelas dinding atau langit-langit kita menjadi basah.
Promosi ketika pertama kali, mestinya seperti hujan deras! Jelas terlihat airnya, jelas terlihat basahnya, jelas terdengar suara airnya, jelas terasakan dinginnya. Semuanya jelas dan tegas. Selanjutnya, tahap susulan cukup sesekali seperti hujan gerimis. Lalu stategi rembesan akan menjadi cukup efektif pada masa ’mempertahankan’ atau ’menjaga’.
Konsep promosi yang merembes, memberikan efek nyata tanpa disadari proses kedatangannya. Ini penting karena kebanyakan orang akan menolak apapun yang bersifat ’menjual’ atau berbau ’promosi’. Sekali lagi saya gambarkan, betapa orang dengan segera mengganti channel tv begitu ada iklan. Kini orang-orang hampir tidak lagi membaca spanduk di jalanan karena mereka berfikir itu adalah pesan promosi. Atau mungkin anda sendiri merasa ’terganggu’ ketika petugas promosi atau penjual dari suatu perusahaan berusaha menemui anda di rumah atau di kantor. Masih ingat, bagaimana perasaan anda saat penjual polis asuransi berusaha menemui anda?
Konsep promosi yang merembes, mengurangi penolakan dan perlawanan, tetapi pada akhirnya terasa sangat jelas dan publik yang kita tuju benar-benar merasakan hal itu.

Aplikasi
Di daerah Klambir Lima, Kecamatan Haparan Perak, Kabupaten Deli Serdang ada seorang pengusaha persewaan alat-alat perlengkapan pesta. Dia memiliki tenda-tenda dalam berbagai ukuran, kursi, perlengkapan makan, perlengkapan dapur, lengkap hingga mesin pompa dan generator listriknya. Saya memanggilnya Haji Yatno.
Seingat saya kini Haji Yatno juga menerapkan konsep promosi terselubung yang merembes itu. Di lingkungan sekitar Ia tinggal, Ia dengan cepat dan sigap berusaha memberikan tenda tratak secara gratis jika ada yang tertimpa kemalangan. Lalu, memahami banyak tetangganya yang tidak memiliki kalender, Ia juga mencetak kalender yang menonjolkan pesan-pesan religius sesuai dengan keyakinannya. Pesan itu jauh lebih menonjol daripada pesan bisnisnya. Karena Ia memahami sudah dalam tahapan dikenal, sehingga tidak lagi perlu menyampaikan pesan-pesan khusus selain informasi alamat usahanya. Ia hanya memastikan bahwa orang harus tahu jika bisnisnya masih tetap ada.
Terlepas dari niatan ibadah yang dikerjakan Pak Haji Yatno, jelas langkah-langkah itu memiliki nilai promosi yang merembes dan efektif. Disisi lain, masyarakat penerima ’pesan’ atas tindakan Pak Haji menganggap bahwa tindakan Pak Haji sebagai hal yang wajar, sederhana dan meringankan beban orang lain. Sebuah langkah yang terpuji.
Kegemaran Pak Haji beribadah dengan menolong sesama, aktif dalam pengajian di kampung serta aktifitas sosial yang lain, mengantarkan Pak Haji kepada poluaritas sosial. Pada gilirannya opularitas ini menempatkan nama Pak Haji dalam urutan pertama diingatan setiap orang di kampungnya saat memerlukan perlengkapan pesta.

Merembes
Promosi yang merembes atau terselubung menyesuaikan dirinya dengan situasi target, lalu memasuki dunia target dengan pendekatan yang halus serta tidak mengejutkan. Pola-pola merembes bisa dianggap sebagai promosi yang santun, menyentuh kebenaran universal, mendidik, membawa perubahan-perubahan kearah positif dan manusiawi.
Konsep promosi yang merembes dan santun ini bisa berisi hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan produk atau perusahaan kita sama sekali. Tetapi pada akhirnya publik akan menyadari bahwa dibalik pesan-pesan mulia itu ada kita, lalu seolah-olah, kita senyawa dengan pesan-pesan mulia tersebut.
Secara sederhana, jelas kita menyadari bahwa orang masih sering mencampur adukan siapa berkata dan apa katanya. Artinya, walaupun kita tidak menyebut diri kita secara berlebihan, orang jelas tahu bahwa penyampai pesan-pesan itu adalah kita.
Seperti rembesan air hujan, kita tidak menyadari bagaimana air itu datang, tetapi jelas air itu ada merembes di dinding atau di langit-langit rumah, meninggalkan noda dan berpotensi menghancurkan cat dan kayu yang dilewatinya.

Bentuk
Pada koran yang anda pegang saat ini, ada beberapa promosi. Yang secara jelas menggunakan iklan dan yang secara terselubung menggunakan penulisan berita. Jika menggunakan iklan, jelas kita tahu bahwa itu adalah promosi. Sementara itu, kita juga mengakui ada berita-berita yang bermuatan promosi, walaupun dikemas dalam bahasa jurnalistik.
Untuk bisa dan layak berpromosi melalui berita, kita harus membuat sesuatu yang bernilai berita. Lalu atas kegiatan tersebut, ada alasan untuk memberitakannya. Contoh sederhana, minggu lalu ada sebuah bank swasta yang menerima sekelompok murid SD yang ingin mengetahui dan belajar menabung. Jelas kegiatan itu bernilai terpuji, berisi informasi yang mendidik dan hampir semua orang setuju bahwa budaya menabung harus dimulai sejak kecil. Begitu foto yang muncul adalah petinggi bank tersebut, mulailah kita menyadari bahwa ada unsur promosi didalamnya.
Apapun bentuk-bentuk promosi yang ’halus’ ini, akan semakin mudah diterima jika pesan-pesan yang disampaikan memuat kebenaran universal, sesuatu yang diakui positif oleh publik. Syukur-syuklur bisa lintas batas, lintas suku, lintas religi dan menjunjung upaya-upaya membela yang lemah dan miskin serta kelompok-kelompok yang tidak beruntung.
Yang terakhir, berhati-hatilah dengan citra yang sudah sedikit salah kaprah. Memunculkan pesan-pesan positif dengan membaca citra negatif juga sedikit akan menunai perlawanan. Hanya perlu waktu yang lebih lama agar publik bisa menerimanya. Contoh yang saya maksud adalah beberapa perusahaan eksplorasi tambang / mineral dan perusahaan pemanfaat hasil hutan yang jelas terlihat sebagai perusak lingkungan lantas berusaha mengkampanyekan planet hijau dengan memberikan dukungan aktifitas-aktifitas publik yang mengarah kepada pelestarian alam. Sedikit aneh tapi...?
Share:

Swalayan? Mengapa Tidak

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & teknologi, tanggal 10 November 2008

Kini berbagai jasa toko swayalan menjamur dengan subur. Dari yang menyebut dirinya mini market hingga hypermarket. Kehadiran pemilik group swalayan nasional ke wilayah sumatera bagian utara akhir-akhir ini tidak lagi bisa dibendung dan konon itu mengkhawatirkan pedagang tradisional.
Sekarang model berbelanja juga berganti. Kini masyarakat sudah mulai terbiasa dan menikmati berbalanja dengan memilih dan mengambil barangnya sendiri. Tata ruang pamer barang sudah menjadi ilmu tersendiri. Tata ruang toko sudah menjadi ajang wisata belanja bagi orang kota. Bahkan dengan ruang publik yang semakin terbatas, pusat-pusat perbelanjaan adalah objek wisata yang ’terpaksa’ dipilih oleh orang-orang kota.
Gaya belanja yang sudah demikian berubah. Datang ke toko, mengantri dilayani oleh seorang penjual dan menunggu si penjual mengambilkan barangnya, memilihnya, dan menukarnya jika tidak cocok jelas sudah semakin tidak lagi menarik. Ada kepuasan tersendiri bagi pembeli yang diperbolehkan memilih sendiri barang yang hendak dibelinya.

Gaya Berbelanja
Gaya dan model memang terus berkembang dan pada akhirnya akan berulang. Nah kembali ke topik Swalayan. Saya pikir kini masyarakat cukup terdidik dan terbiasa untuk melayani dirinya sendiri. Ada kenikmatan yang khas, seperti membandingkan sendiri produk sama dengan merek yang berbeda. Bisa membandingkan kemasan dan takaran isinya. Bisa menentukan sendiri harga yang pas sesuai dengan selera. Berbelanja di swalayan sudah menjadi kultur baru dan itulah hal yang perlu kita perhatikan.
Tiap orang memiliki kesenangannya masing-masing. Kesenangan sederhana yang menarik. Seperti dua kawan saya, memiliki perbedaan gaya berbelanja yang sederhana tetapi prinsip bagi mereka yaitu tentang wadah belanjaan. Kawan pertama senang pakai troli karena mudah dan tidak berat, bahkan anaknya pun bisa ia masukkan ke troli yang didorongnya. Kawan kedua lebih memilih dengan keranjang, karena ia bisa memaksa diri berhemat dan tidak terpancing untuk membeli barang-barang diluar rencananya, karena keranjang muatannya sedikit dan akan terasa berat jika terlalu banyak isinya. Keranjang juga membuatnya tidak akan berlama-lama berbelanja.
Bukankah budaya ini cukup menarik untuk dimanfaatkan?

Menjadi Swalayan

Mungkin sudah saatnya dipertimbangkan pelayanan di toko kita dirubah menjadi berbentuk swalayan. Ada beberapa keuntungan jika kita memilih merubahnya menjadi swalayan.
Yang pertama, kita jelas mengikuti budaya baru yang sudah lumrah dalam belanja. Dengan ketertarikan pembeli melayani dirinya sendiri jelas itu merupakan peluang untuk menarik pembeli. Bukankah rasa senang bagi pembeli adalah kunci bisnis yang bekelanjutan?
Kedua, budaya swalayan sudah tercipta, sehingga kita tidak perlu banyak mendidik konsumen untuk menerima konsep swalayan tersebut.
Ketiga, potensi menghemat biaya pegawai pelayanan akan terbuka lebar, karena swalayan tidak membutuhkan banyak pelayan. Disisi lain, sistem swalayan akan mempercepat pelayanan karena pelayan tidak sibuk mencari dan membantu semua tahapan transaksi.
Keempat, potensi penjualan akan semakin terbuka lebar. Toko yang bisa, pada umumnya tidak cukup bisa mempengaruhi pelanggannya untuk bertransaksi lebih dari yang sudah direncanakannya. Karena pelanggan tidak banyak bisa melihat atau memegang produk yang dijual. Sedang tata pemajangan produk di swalayan memberikan kesempatan pelanggan untuk melihat-lihat barang-barang lain yang diluar rencana belanjanya. Saya pikir anda pernah terpancing untuk membeli sesuatu walaupun tidak merencanakannya begitu melihat barang itu terpajang di swalayan.
Kelima, produk swalayan tidak saja menjual produk dagangan, tetapi juga menjual lokasi. Pihak-pihak suplier sangat senang jika produknya dipajang diareal yang strategis, mudah dilihat dan dijangkau. Produk lainnya adalah kerumunan orang. Kerumunan orang ini juga mengundang pemasang iklan untuk mendekati swalayan kita. Dalam tataran swalayan modern, hingga saat ini swalayan sudah memiliki lebih dari 24 jenis pintu pendapatan dari pengelolaan swalayan dan itu baru pendapatan dari pihak suplier misalnya dari listing fee, sampai promotional fee. Bisa bayangkan dari yang lainnya?

Konsekuensi
Semua keputusan akan membawa konsekuensi logis. Demikian juga keputusan untuk merubah pelayanan di toko menjadi swalayan. Berikut hal-hal sederhana yang biasanya akan terjadi;
Pertama, sistem swalayan menuntut sistem manajemen stok dan pencatatan yang cermat dan sistematis, bukan sekadar mengandalkan ingatan masing-masing penjaga toko. Tuntutan ini adalah tuntutan positif karena segala sesuatunya menjadi serba objektif, tidak main perasaan dan tidak bergantung kepada kapasitas ingatan yang tidak konstant.
Kedua, sistem swalayan memerlukan areal ruang pamer yang bisa jadi lebih besar dari toko yang biasa. Penataan yang lega dan memudahkan lalu-lintas pembeli dan berpotensi meingkatkan volume penjualan seiring tingginya tingkat kepuasan dan tingkat kenyamanan berbelanja.
Ketiga, karena pembeli bisa memegang langsung produk yang akan dibeli tanpa pengawasan langsung, maka ada potensi hilang, pecah dan rusak. Belum lagi perilaku pembeli yang suka mencoba-coba, merusak bungkus yang tersegel dll. Tentu saja hal ini bisa dikurangi dengan pengawasan dan kerjasama dengan suplier yang memungkinkan retour.
Keempat, pembeli yang diberi kebebasan terkadang tidak cukup menghormati tatanan penempatan barang. Kadang kala mereka mengambil produk A dan saat berada dipajangan produk C mereka berubah pikiran. Lalu begitu saja meletakkan produk A diareal produk C. Ini yang berpotensi mengacaukan pengaturan stock dan pengawasan masa berlaku sebuah produk.
Kelima, pengelolaan hubungan dengan pihak suplier sangat penting. Kepastian

Kombinasi
Jelas bahwa mode atau gaya terus berulang. Demikian juga dengan berbelanja. Masih saja banyak orang yang senang dilayani atau memang mereka tidak terlalu mampu menolong dirinya sendiri. Disinilah fungsi orang-orang yang sering kita sebut dengan SPG (Sales Promotion Girl), mereka memberikan pelayanan sekaligus menggenjot penjualan di arela swalayan.
Swalayan-swalayan besar bahkan menenpatkan orang-orangnya untuk menjadi agen pelayanan. Mereka dilatih untuk memberikan bantuan dengan serta merta ketika melihat ada pembeli yang kebingungan dan memerlukan bantuan. Semua usaha tetap ditempuh demi mengoptimalkan penjualan.
Selamat mencoba.
Share:

Prasasti

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada di halaman Bisnis & Teknologi pada tanggal 03 November 2008

PERJALANAN yang penuh dengan pemandangan indah, melewati beberapa tanjakan perbukitan, menyisir sederet pandati pasir putih dan hamparan keindahan laut, membawa saya dititik ini. Titik KM 0, belahan Indonesia yang paling barat di Pulau Sabang.
Sekarang saya berdiri di depan tugu tanda posisi KM 0 dan melihat jelas disekitar saya begitu banyaknya berserak prasasti ’swasta’ yang menempel dibebatuan besar dihalaman tugu. Prasasti itu terbuat dari pualam yang sepertinya sudah dipersiapkan dari asal para petualang tersebut.
Prastasi tersebut dibuat untuk menandai bahwa mereka sudah sampai di KM 0. mereka adalah orang-orang dari berbagai klub sepeda motor, club sekolah, mapala, asosiasi-asosiasi dan berbagai kelompok lainnya. Terlihat asal pemasang prasasti tersebut bukan saja dari kepulauan Sumatra tetapi juga dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
Tidak sekadar deretan prasasti, tetapi juga banyak grafity dari cat atau spidol bagi mereka yang tidak cukup bermodal dalam meninggalkan jejaknya. Pepohonan di depan tugu pun tidak dilewatkan, Nampak beberapa bendera club lengkap dengan daftar nama anggotanya melilit membungkus kulit pohon tersebut.
Saya menjadi teringat betapa beberapa situs penting sering juga mendapatkan perlakuan sama dari pengunjung-pengunjungnya. Di puncak Gunung Sinabung, Tanah Karo sekalipun keinginan untuk meninggalkan pesan jelas terlihat. Tanpa cat dan prasasti, para pendaki mengukir namanya dengan menyusun bebatuan diareal kawah mati. Satu persatu batu dirangkai menjadi huruf-huruf raksasa dan akhirnya membentuk nama dirinya.
Meniggalkan kenangan itu juga bisa kita lihat di Goa Jatijajar- Kebumen Jawa Tengah, Di Pangandaran -Jawa Barat, di Jembatan terpanjang - Batam, di Ngarai Sianok - Bukit Tinggi, dan diberbagai daerah lainnya. Tanda-tanda itu begitu menarik bagi banyak orang. Bukankah itu peluang baik untuk kepentingan bisnis kita.

Pengakuan
Keinginan manusia untuk diakui amatlah besar. Sehingga bisa saja mereka melakukan berbagai hal agar mendapat pengakuan itu. Sentuhan personal dan istimewa adalah perlakukan yang sangat diinginkan oleh semua orang.
Star Buck sekarang mengembangkan kebiasaan menarik dengan menuliskan nama pelanggan dengan pilihan kopi kesukaannya di papan tulis yang bisa dilihat publik. Sebuah ide penghargaan kepada pelanggan yang cerdas serta memancing pelanggan lain untuk lebih loyal sehingga suatu saat nama pelanggan tersebut juga akan tertulis di papan.
Beberapa restoran besar memajangkan botol-botol minuman pelanggan tetapnya lengkap dengan label namanya. Sehingga pelanggannya berlomba-lomba ingin memajangkan namanya juga disana. Tampilan rak tempat pemajangan botol-botol tersebut ditata di lokasi yang mudah dilihat dan mencolok. Sebuah pengakuan bahwa nama-nama pemilik botoil tersebut adalah kelompok tertentu yang istimewa. Sebuah strategi gunting bermata dua, membuat pelanggan loyal dan memancing pelanggan lain melakukan hal yang sama. Tentu saja ada syarat-syarat khusus untuk mendapatkan layanan itu, sehingga hanya orang-orang terpilih yang bisa melakukannya.
Jika anda merayakan bulan madu di Hotel Nuansa Maninjau Resort, maka anda akan dihadiahkan sebatang pohon untuk ditanam, lalu nama anda dan pasangan akan dituliskan di papan yang ditanjapkan didepan pohon kenangan tersebut. Betapa sebuah ide pemasaran yang cerdas. Pohon itu manjadi bukti kasih sayang tamu tersebut dan akan diingat sepanjang hidupnya. Suatu saat pasangan itu akan kembali lagi untuk melihat pohon kenangannya dan otomatis hotel itu akan mendapat bisnis lanjutan.
Dahulu, jika ada anak-anak naik pesawat terbang sendirian tanpa didampingi orang tuanya, kepada si anak akan diberikan kenang-kenangan berupa pin berujud Wing terbang yang disematkan di dadanya. Sebuah penghargaan atas keberanian si anak dan kepercayaan orang tuanya kepada perusahaan penerbangan tersebut. Wing itu akan menjadi prasasti yang tidak akan terlupakan oleh si anak. Bisa dibayangkan jika besar nanti, si anak akan memilih penerbangan apa untuk perjalanannya.

Kenangan
Kilometer 0 di Sabang tidak menjual apapun kecuali angka 0 itu sendiri. Keindahan alam hanyalah bumbu penyedapnya. Tidak ada sarana akomodasi bahkan tak ada penjual rokok atau souvenir layaknya di daerah wisata. Namun demikianlah produknya. Seseorang hanya ingin mencapai titik 0 lalu mengabadikannya dengan foto di lokasi ini.
Saya jadi teringat betapa kami sangat senang dengan foto bersama seoarang presiden, sehingga dengan senang hati kami perbesar foto tersebut dan kami pajang di kantor kami agar semua orang bisa melihatnya.
Kenangan yang membanggakan adalah hal penting untuk seseorang, seperti seorang sahabat yang sudah mengkoleksi lebih dari 200 sertifikat seminar, dia terus mengkoleksi sertifikat serupa dan dia ingat persis seminar apa saja yang pernah diikutinya.

Formulasi
Menciptakan kenangan dan pengakuan kepada pelanggan adalah hal penting untuk menjaga loyalitas pelanggan. Untuk menciptakan hal tersebut, selayaknya memenuhi beberapa kaidah dasarnya, yaitu;
Pertama, bersifat isimewa. Kenangan itu tidak diberikan kepada semua orang. Artinya harus diciptakan pembatasan-pembatasan agar yang mendapatkan merasa bahwa program tersebut adalah benar-benar program istimewa. Pembatasan bisa dari pemilihan secara subjektif manajemen atau berdasar kriteria terbuka yang diketahui oleh semua orang, misal untuk pelanggan yang sudah loyal selama beberapa tahun, atau pelanggan dengan nilai transaksi tertentu dan lain sebagainya.
Kedua, bersifat menghargai layaknya bintang tanda jasa. Seseorang harusnya merasa bangga dengan penghargaan tersebut. Selain alasan pemberiannya yang istimewa, tanda penghargaan itu juga tampil menarik dan istimewa.
Ketiga, diberitakan kepada orang banyak. Seseorang akan merasa bangga jika orang lain membanggakan dirinya. Dan pemberitahuan itu akan memancing orang-orang lain untuk bisa mendapatkan penghargaan tersebut.
Keempat, sistem prosedural pemberian penghargaan harus jelas dan dipahami semua pihak internal perusahaan kita. Berlaku secara standard dan bertindak lanjut.
Kini saya sedang ragu-ragu, haruskah saya tinggalkan jejal kaki saya di Kilometer ini? Atau biarkan saja kenangan itu terpatri dalam hati saya yang sudah merekam jelas keindahan pulau ini.
Share:

17.11.08

Menjadi istimewa Atau Sekadar saja?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 27 Oktober 2008, pada halaman bisnis & teknologi
Selamat pagi para pembaca yang budiman. Pagi ini saya ingin menjawab sebuah pertanyaan yang diberikan oleh beberapa pembaca yang sedang gamang, terutama untuk Sdr. Anthony S. yang belum juga bergerak setelah 5 tahun diwisuda.
Untuk memulainya, ijinkan saya menyadur kalimat bagus dari seorang motivator nasional Mario teguh;
“ Orang-orang yang mengenal mengapa dia harus berhasil, akan lebih tahan terhadap gangguan-gangguan ketidakpastian didalam proses bekerja, didalam proses hidup.
Orang-orang yang mengerti alasan mengapa dia harus bekerja keras, akan tahan terhadap sulitnya bekerja keras.
Orang-orang yang tahu mengapa, akan lebih mudah menangani pertanyaan bagaimana caranya.
Orang-orang yang tidak tahu mengapa, akan berhenti waktu tidak tahu caranya.
Itu sebabnya upayakan selalu tahu, mengapa anda harus bekerja keras, mengapa anda harus mencapai keberhasilan”.

Konon, ada informasi bahwa satu pon (sekitar setengah kilo) baja sesaat di tambang harganya sekitar 5 dollar (45.000 rupiah). Dengan harga itu, beberapa fungsi bisa dikerjakan oleh besi baja itu, dari pemberat meja, mengganjal pintu atau pemberat kertas. Lalu jika baja dengan berat yang sama dibuat sepatu kuda, harganya akan naik menjadi sekitar 50 dollar (450.000 rupiah). Kalau baja itu dibuat jarum suntik kedokteran, nilainya menjadi 500 dollar (4.500.000 rupiah). Dan begitu baja itu dibuat menjadi pegas atau per yang diperlukan dalam jarum buatan Swiss, maka satu pon baja itu menjadi senilai 5000 dollar (45.000.000 rupiah).
Kisah yang sama adalah sekaleng minuman cola berkarbonasi. Beberapa kaleng keluar dari produsen yang sama dengan pengiriman yang sama. Begitu sampai grosir, harganya sekira Rp.4.500,- lalu menjadi Rp. 5.000,- sesampainya ke pengecer di pinggir jalan. Akan menjadi hampir Rp.10.000,- jika disajikan dengan es dingin disebuah rumah makan. Kita akan mendapatkan minuman yang sama dengan harga Rp.70.000,-an begitu sampai ke Pub yang terkenal dan elit (tentu saja dengan ramuannya).
Yang manjadikan harga produk yang sama itu menjadi berbeda harganya, adalah karena ada subuah proses yang membedakan. Ada perlakuan-perlakuan khusus kepada bahan mentah itu. Dari pengolahan, penambahan, fariasi, penggabungan dan pengemasan. Kesemua proses itu akhirnya menciptakan sebuah hasil baru yang lebih bernilai.
Persis seperti kupu-kupu merupakan gambaran proses penyempurnaan yang menarik, dari telur, manjadi ulat, berubah menjadi kepompong hingga akhirnya muncul menjadi salah satu mahluk yang memiliki sayap terindah di muka planet ini.
Alih-alih proses dan tujuan, semua bermula pada simpul yang sama. Anda mau apa? Anda ingin apa? Mengapa anda menghendakinya?

Bagaimana dengan kita?
Sekarang apa yang bisa kita lakukan dengan bahan mentah yang Tuhan telah berikan pada kita? Jelas kita menuntut berbagai kesempurnaan dari pihak lain, baik dari keluarga, relasi, kolega, pasar, pelanggan, bahkan kita juga berharap adanya situasi-situasi berubah menjadi baik untuk kita. Pertanyaannya adalah kapan kita merubah diri sendiri.
Tuntutan kita kepada pihak lain agar berubah menjadi baik, seringkali disampaikan dengan energi yang berlebihan. Dengan marah atau bahkan dengan letusan senjata api. Tangan yang sama bisa digunakan untuk dua kepentingan yang berbeda. Tangan yang sama bisa saja digunakan untuk menodong dan merampok atau mengendalikan proses korupsi besar-besaran. Lalu tangan yang itu juga bisa digunakan untuk mencangkul, bertani, melukis, mengetik dan serangkaian kerja halal yang lainnya. Satu batu bata bisa dipakai untuk melempar jendela rumah tetangga atau menjadi bagian dari suatu bangunan yang indah.
Energi untuk menyesali hidup dan merengek sama besarnya jika digunakan untuk membangun kehidupan itu sendiri. Pikiran yang ragu-ragu serta khawatir untuk memulai usaha sama besarnya jika usaha itu langsung dikerjakan.
Sudahkan kita melihat potensi lengkap kita? Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk meningkatkannya? Apa yang bisa Anda lakukan di waktu mendatang untuk membuka bungkusan potensi Anda dan terlibat lebih jauh dengan kapasitas Anda untuk membuat dunia lebih baik?

Bagaimana dengan bisnis kita?
Bijih besi akan memiliki nilai tambah begitu ia diolah seperti layaknya masakan. Terampilah seperti seorang koki yang mencampur, meramu dengan pemanas, pendingin, bahkan penggilas, hingga tercipta sajian yang nikmat.
Belajarlah dari seorang pelukis, sang maestro, yang bisa mencampur warna-warna menjadi sebingkai lukisan berharga mahal.
Benar kini krisis global mengancam bisnis kita, tetapi daripada membuang energi memikirkan dan berkhawatir yang berlebihan, masih lebih bagus jika energi itu digunakan untuk mencipta, meramu dan mengolah agar bisnis kita terus bernilai tambah yang pada gilirannya akan memberikan keuntungan lebih bagi kita.
Lakukan dengan keberanian tinggi, jika perlu kerjakan dengan kenekatan yang tinggi. Mario Teguh berprinsip; Lebih terhormat gagal karena mengerjakan hal besar dari pada sukses melakukan hal-hal kecil.
”Gagal melakukan hal-hal besar itu tetap lebih terhormat daripada berhasil melakukan hal-hal kecil.
Orang-orang yang gagal melakukan hal-hal yang besar sudah pasti berhasil melakukan hal-hal kecil
Orang-orang yang mengambil tantangan-tantangan besar dalam hidupnya selalu mempunyai kesempatan dua yang baik sekali, satu untuk betul-betul berhasil atau kedua gagal dengan sangat terhormat.
Janganlah kita menjadi pribadi yang gagal pada urusan-urusan yang kecil lalu mengeluh bahwa hidup ini tidak fair.
Ambillah tantangan yang lebih besar, gigitlah lebih besar dari kemampuan mengunyah sehingga gagalpun kita tetap dihormati”.

Melengkapi usaha anda untuk memproses diri menuju sukses, ada orang bijak yang mengatakan “Agar dapat bahagia, isilah tanganmu dengan kerja, isi hatinmu dengan kasih sayang, isi pikiranmu dengan tujuan, isi ingatanmu dengan ilmu yang bermanfaat, warnai masa depanmu dengan harapan, dan isi perutmu yang lapar dengan makanan.
Share:

23.10.08

Belajar Etika Bisnis DI Pasar Tumpah


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada halaman ekonomi dan bisnis tanggal 20 oktober 2008

Saat mengantar istri berbelanja ke pasar tradisional di Kampung Lalang. kami melihat pasar yang kami tuju sepi dan lengang. Kami mendapati Jalan Binjai simpang kampung lalang yang besar itu berubah menjadi pasar tumpah. Sepagi itu sudah ratusan orang berjelal berjual beli kebutuhan bahan makanan sehari-hari. Mulai dari pedagang sayur, daging, ikan, bumbu dapur, sampai nasi campur. Begitu banyaknya, hingga jalan besar itu hanya tersisa sedikit untuk mobil berlalu.
Posisi lapak pedagang sudah jauh dari pasar aslinya, mencaplok jalanan. Niat untuk mendapatkan tempat strategis dan memudahkan jangkauan pembeli menjadi perlombaan keserakahan. Persis seperti krisis morgate di Amerika Serikat. Cukup kurang cukup. Maju kurang maju.
Saya coba potret para pedagang yang sibuk melayani pembeli dengan mulut tetap memanggil calon pembeli yang berjalan melintasinya. Sebuah drama yang lucu, seperti seseorang yang mulutnya penuh sedang lahap mengunyah makanan sementara tangan kanan mempersiapkan suapan berikutnya dan tangan kiri mengambil makanan lain plus mata melotot mencari makanan lain dengan perasaan curiga dan khawatir jangan sampai makanan enak itu diambil orang lain.
Salah satu pedagang itu memiliki wajah yang serba mau. Perutnya buncit terbungkus baju kaus tanpa leher ukuran besar. Nampak benar ia tidak memperdulikan apapun selain pembeli yang banyak dan penjualannya segera laris terjual habis. Tak perduli sampah bertebaran dibawah lapaknya yang sebenarnya adalah jalan aspal untuk para pengendara. Tak perduli bus dan sepeda motor yang lewat terpaksa antri pelan-pelan karena jalannya dirampas.
Drama kesibukan pencari uang itu jelas saya rekam satu persatu, hingga pandangan saya terpojok kepada seorang bapak setengah baya yang berjualan ubi-ubian diemperan toko. Posisi lapaknya jelas tertutupi oleh 6 baris pedagang lain yang menjorok ketengah jalan umum. Lapaknya tidak seramai lapak si gendut yang membuka lapaknya disisi paling luar (pas ditengah jalanan).

Bisnis = Puasa
Dengan sedikit menyelidik saya bertanya, mengapa Bapak tidak ikut ramai-ramai ke tengah jalan? santun ia menjawab, “Disini juga bagus Pak”. Saya terus menggali pikiran dan keputusannya memilih tempat itu. Apakah karena ia malas ramai-ramai? Apakah ia kalah bersaing mendapatkan lokasi strategis? Atau karena hal lain?
“Pak, rejeki itu milik semua orang dan sudah ada aturannya”, katanya, “Dimanapun ada rejeki” terangnya sambil memberikan uang kembalian kepada pembeli yang dilayaninya. “Pak, dagang itu seperti Puasa, Cuma kita dan Tuhan yang tahu”. Sejenak saya mencoba memikirkan kalimat itu. Lalu ia menjelaskan bahwa memang hanya si pedagang dan Tuhan yang tahu, apakah timbangannya jujur, apakah barang yang dijual benar-benar bagus seperti yang dijanjikannya, apakah harga yang diberikan adalah harga yang wajar dan apakah ada kecurangan-kecurangan dalam prosesnya. Ya hanya si Pedagang dan Tuhan saja yang tahu.
Katanya, “Menipu pembeli bisa memberikan untung besar, tapi itu tidak berkah, kita bisa ketiban sial yang teramat sial”. Sebuah etika bisnis yang langka.. Penjual ubi sebenarnya bisa saja mendapatkan lokasi yang strategis, tapi ia harus menyogok penguasa (resmi dan tidak resmi), bahkan ia bisa sekali mematikan pesaing dengan ‘mengatur’ penguasa tersebut agar mempersulit bisnisnya.
“Saya mencari berkah Tuhan, Pak”, aku Penjual Ubi. “Memang, kami ini seperti resmi Pak, kami bayar retribusi, kami bayar kebersihan, tapi menyulitkan orang lain akan berakibat suatu saat urusan kita pun akan mengalami kesulitan”.
“Saya tidak mau atas nama kemiskinan lalu saya menyulitkan pengguna jalan, saya tidak ingin jalan hidup saya juga dipersulit oleh orang lain”. Kalimat itu mengingatkan saya kepada kawan-kawan pelaku UKM yang suka menghalalkan segala cara demi mendapatkan bisnis walaupun harus ‘menyulitkan’ orang lain. Dengan dalih meringankan beban pemerintah, mengurangi pengangguran dan alasan lain. “Ini kan halal, bukan mencuri atau korupsi” begitu kira-kira alasan pembenaran kawan-kawan kita itu.

Etika
Etika bisnis kita masih diwarnai oleh budaya bangsa kita pada umumnya. Perasan serakah dan takut tidak kebagian adalah momok yang paling besar mewarnai sikap kita. Lihat saja kasus meninggalnya penerima Zakat di Jawa Timur, lihat saja bagaimana orang-orang berdesakan mencairkan BLT. Lihatlah betapa kita tidak bisa sabar, disiplin dan saling menghormati.
Antri itu berbaris kebelakang, bukan berjajar kesamping. Kalau sesekali saya ke negara tetangga, saya langsung tahu kalau orang-orang yang berdiri di depan lift itu orang kita. Mereka tidak antri tapi berjubel langsung menutup pintu, memaksa masuk sementara orang-orang yang dari dalam lift pun jadi kesulitan mau keluar. Lihatlah, bagaimana kita mau masuk, kalau kita tidak memberikan jalan untuk keluar bagi mereka yang di dalam?
Jalanan di Kota Medan penuh dengan suara klakson, semuanya mau cepat, di detik yang sama lampu hijau menyala, langsung dari belakang terdengar suara klakson yang tak sabar menunggu antrian. Yang tidak cocok dari sikap itu adalah selalu buru-buru dijalan tetapi tetap terlambat.
Memang kadang, perkara perut sering melupakan etika. Teapi Kalau pedagang di pasar benar-benar patuh dan percaya bahwa rejeki pasti didapat, niscaya kemacetan karena pasar tumpah tidak akan terjadi. Kalau sopir angkot tidak ketakutan atas kemiskinan (karena rejeki sudah diatur Tuhan), maka mereka tidak akan ugal-ugalan mengejar setoran dengan membuat kemacetan di jalan. Kalau pengusaha tidak khawatir akan berkah Tuhan, maka mereka akan menciptakan produk bermutu dan tidak membahayakan konsumennya.
Mengakhiri obrolan saya dengan penjual Ubi, saya bertanya jam berapa saat itu. Saya lupa jam yang ia sebutkan, karena saya terheran melihat sebuah jam produk jepang yang harganya jutaan rupian. Jam itu bisa menginformasikan arah mata angin, ketinggian lokasi, suhu udara, dan banyak lagi fiturnya. Sambil senyum si penjual ubi memahami sorot mata saya, lalu berkata,”Biar tahu arah Kiblat Pak”
Share:

13.10.08

Berjaga diri atas imbas krisis

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & ekonomi tanggal 13 oktober 2008

MEDIA massa sangat gencar mengabarkan keterpurukan ekonomi global karena kegagalan penanganan ekonomi negara besar Amerika Serikat. Sekarang sepertinya ancaman kebangkrutan global seperti anak panah beracun yang sudah melesat tepat ke arah mata kita. Sialnya sebagian dari kita sedang berada di dalam kegelapan, sehingga tidak tahu mata panah seperti apa yang sedang meluncur. Harus menghindar ke mana? Harus menangkis seperti apa? Sementara itu, cepat atau lambat kita akan terkena anak panah beracun itu, jika tidak minimal terserempet.

Banyak ekonom menggambarkan keadaan kritis tersebut, tetapi saya tertarik untuk mengadopsi cara pandang seorang Dahlan Iskan, pemilik jaringan media besar Indonesia tentang krisis ekonomi dunia ini. Dalam sebuah tulisan yang berjudul Krisis Subprime di Amerika Serikat, Kalau Langit Masih Kurang Tinggi. Dalam tulisan itu Dahlan menggambarkan betapa ketamakan secara beregu menjadi biang kerok krisis global ini.

Dahlan menggambarkan krisis itu bermula dari keinginan semua pihak untuk meningkatkan kekayaannya. Berikut cuplikannya:

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terusmenerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik dan kasar! Istilah populernya hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber

Pada bagian lain: di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan borostidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun. Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercitacita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain.

Roboh semua
Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?

Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Lalu Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN 700 miliar dolar AS.

Upaya penyelamatan 700 miliar dolar AS mestinya bisa menenangkan pasar. Tapi ternyata jumlah itu menimbulkan keraguan baru, yaitu dari sisi kesehatan keuangan pemerintah Amerika.

Jumlah utang pemerintah kini mencapai 9,7 triliun dolar AS dan tiap hari bertambah 1,8 miliar dolar AS. Dengan upaya penyelamatan itu, batas atas utang pemerintah ditetapkan 11,3 triliun dolar AS. Pada masa pemerintahan yang akan datang, siapa pun presidennya, bukan tidak mungkin rasionya meningkat menjadi 100 persen.

Bagaimana dengan kita?

Nah, sekarang kita harus bagaimana? Dalam obrolan singkat dengan pakar ekonomi John Tafbu Ritonga, sepertinya sekarang sudah bisa terbaca paling tidak 6 bulan ke depan semua pengusaha Indonesia akan merasakan serempetan dan tusukan panah beracun yang sudah meluncur sekarang ini. Indikasi-indikasi seperti pasar saham, tingkat inflasi, suku bunga bank dll mengarah kepada pembenaran asumsi tersebut.

Benar kita sudah 10 tahun terlatih dan terbiasa dengan gejolak krisis yang datang dan pergi. Tetapi bukan berarti kita tidak akan goyah dengan situasi si 'Gajah'yang sedang sakit itu. Secara serderhana, nilai uang akan terganggu. Lalu daya beli masyarakat akan merendah. Permasalahan kredit perbankan dan lembaga keuangan lainnya juga akan bergejolak.

Lalu kita harus bagaimana? Berhemat. Penghematan tetap akan menyelamatkan kita dalam krisis apapun. Pastikan pembiayaan benarbenar tepat dan efektif.

Cermatlah dalam hal keuangan. Investasiinvestasi baru yang 'masih coba-coba' mestinya ditunda hingga saatnya semakin jelas dan terang. Investasi yang mengarah kepada kepemilikan tanah sepertinya cukup 'aman' dibanding polapola saham/valas. Periksa dan rencanakan pola utang dan piutang. Jika memungkinkan memperbaiki kondisi hutang mungkin lebih bijak, baik dari masa hutang dan tingkat bunga serta cara pengembaliannya. Perpendek masa piutang.

Menjaga pasar
Memang bagus mencaplok pasar-pasar potensial yang baru, tetapi menjaga pasar yang sudah ada adalah langkah bijak yang harus dipertahankan. Waspadalah untuk produk-produk premium yang pembelinya terbatas.

Benar bahwa karakter masyarakat kita adalah masyarakat konsumsi yang sudah terbiasa membeli, tetapi daya beli yang menurun juga akan memaksa mereka akan sedikit 'berpuasa'.

Yang terakhir, setelah semua usaha dilakukan, segeralah sorongkan tangan kita agar digandeng Tuhan. Biarlah Dia yang menyelamatkan kita. Amin.
Share:

10.10.08

krisis ekonomi USA

tulisan ini saya dapat dari email berantai dan sulit saya mendapatkan sumber awalnya.
mohon ijin bagi penulisnya dan berharap tulisan ini bisa memberikan pencerahan atas gelapnya situasi makro economic kita.



Cyrillus Harinowo• Rektor ABFII Perbanas

PADA Mei 2004, saya menyelenggarakan Seminar ”Dollar Versus Euro” di Hotel Shangri-La. Euro belum sekuat saat ini, tapi saya percaya mata uang Eropa itu akan menjadi jangkar dalam peta keuangan dunia. Sayangnya, kesimpulan seminar tersebut agak jauh dari dugaan saya, yaitu dolar Amerika masih akan tetap kuat, sementara euro belum memiliki kekuatan yang dapat dibandingkan dengan dolar. Ketidakpuasan saya itu akhirnya saya tuangkan dalam tulisan ”Membaca Tanda-tanda Zaman” di majalah Tempo beberapa minggu kemudian.

Tulisan tersebut merupakan hasil pengamatan saya atas perkembangan perekonomian makro selama pemerintahan Bush. Defisit anggaran mulai menggelembung, juga defisit neraca pembayaran. Utang pemerintah Amerika naik tajam. Saya memprediksi perekonomian Amerika akan mengalami crash dan euro menguat. Hati saya terpecah. Di satu sisi, saya ingin melihat prediksi saya terbukti. Di sisi lain, saya tahu persis bahwa crash perekonomian sebuah negara adidaya akan membawa konsekuensi yang luas pada perekonomian dunia.

Pada 2005 ternyata saya tak melihat prediksi itu menjadi kenyataan. Perekonomian Amerika ”baik-baik saja”. Demikian juga tahun berikutnya. Namun euro menguat secara bertahap. Pada 2007, prediksi mulai menjadi kenyataan, meskipun penyebabnya berbeda. Dari pemetaan itu, krisis yang terjadi dalam industri keuangan Amerika akhirnya menemui ujungnya: beban utang pemerintah Amerika naik tajam.

Berawal dari ketamakan
Krisis berawal dari problem yang timbul pada kredit perumahan. Kredit perumahan yang awalnya berjalan baik karena ditujukan kepada nasabah prima akhirnya meluas kepada nasabah-nasabah yang tidak layak. Nasabah yang pernah dilanda kredit macet memperoleh kembali kredit baru. Selain itu, banyak kredit yang diberikan dengan uang muka yang sangat rendah, yaitu lima persen, atau bahkan tanpa uang muka sama sekali. Banyak pula kredit yang hanya mempersyaratkan pembayaran bunga (interest only) dan tidak mewajibkan nasabah membayar cicilan pokok sama sekali.
Mengapa perbankan Amerika sampai amat teledor? Jawabannya adalah karena harga-harga properti naik tajam bertahun-tahun tanpa henti. Dengan harga rumah yang naik terus, nilai jaminan (harga rumah) juga meningkat, sedangkan jumlah pinjaman pokoknya tetap.

Karena itu, dalam perhitungan bank, walaupun tanpa uang muka, jika harga naik 20 persen per tahun, nilai jaminan akan menjadi 120 persen dari harga awal. Sehingga nilai pinjaman dibandingkan dengan jaminan turun menjadi 83 persen. Seolah-olah pada akhir tahun pertama si nasabah sudah membayar uang muka 17 persen. Inilah yang disebut loan to value ratio. Situasi itulah yang membuat bank berani memberikan kredit pemilikan rumah tanpa uang muka. Bermacam-macam kredit itulah yang disebut sebagai subprime.

Apakah kenaikan harga rumah 20 persen itu betul-betul terjadi? Seorang teman Indonesia yang tinggal di Washington, DC, membeli rumah pada 1998 dengan harga US$ 210 ribu dan lima tahun kemudian menjualnya seharga US$ 410 ribu. Dengan situasi itu, seolah-olah ia tinggal lima tahun tanpa membayar, bahkan dibayar. Di banyak kota, kenaikan harganya sering lebih ”gila”. Itulah sebabnya banyak orang memberanikan diri mengajukan pinjaman pembelian rumah kedua untuk disewakan—uang sewanya dipakai untuk membayar cicilan.

Fenomena seperti ini bisa terjadi karena harga rumah naik terus. Hanya, kenaikan harga secara sistemik seperti itu cuma terjadi jika orang yang membeli rumah makin banyak. Juga jika bank terus memasok perekonomian dengan kredit pemilikan rumah yang makin besar. Tapi, karena nasabah bank tidak semuanya nasabah prima, bahkan banyak yang ”kambuhan” kredit macet, penyakit lama itu mulai muncul. Pembayaran cicilan pun mulai seret.
Karena keadaan itu, bank mulai hati-hati menyalurkan kredit. Dampaknya, kehati-hatian bank tersebut menyebabkan harga rumah berhenti naik, bahkan mulai turun. Penurunan harga itu menyebabkan nasabah kredit pemilikan rumah mulai berpikir apakah akan meneruskan cicilan atau ngacir saja. Akhirnya, kredit macet pun membesar. Jadilah problem kemacetan kredit subprime menggelinding seperti bola salju.
Maraknya derivatif subprime

Di Amerika Serikat, industri keuangan sudah demikian ”maju”-nya. Kredit-kredit perumahan itu akhirnya oleh bank yang bersangkutan dikumpulkan dan kemudian disekuritisasi. Ini adalah suatu proses mentransformasikan kredit pemilikan rumah menjadi surat berharga (sekuritas). Istilah yang sering dipergunakan untuk surat berharga yang dijamin oleh kredit pemilikan rumah tersebut adalah mortgage back securities (MBS) dengan varian yang bernama collateralized debt obligation (CDO).
Nasabah tetap membayar cicilan kepada bank asalnya, tapi bank itu kemudian meneruskan pembayarannya kepada pihak yang membeli surat berharga tersebut. Jika pembayaran cicilan lancar, pembayaran dari bank kepada pemegang surat utang juga lancar. Namun, karena pembayaran dari nasabah sebagian mulai batuk-batuk, pembayaran kepada pemilik MBS dan CDO tersebut juga tersendat. Siapa pemegang dua jenis surat utang itu?

Proses sekuritisasi kedua varian surat utang tersebut banyak dibantu oleh lembaga keuangan yang awalnya didirikan pemerintah Amerika untuk tujuan itu, yaitu Fannie Mae dan Freddie Mac. Karena tugas tersebut, kedua lembaga itu juga memberikan jaminan. Juga karena perannya, mereka akhirnya memiliki ”stock” MBS dan CDO yang belum laku atau mereka memang ingin memilikinya.

Dengan peran seperti itu, begitu terjadi kisruh pembayaran cicilan MBS dan CDO, pasar memperkirakan kedua lembaga yang sahamnya sudah dicatatkan di New York Stock Exchange itu pasti rugi besar. Investor pun rame-rame melepas saham kedua perusahaan itu, yang berujung pada anjloknya harga saham. Dalam keadaan yang sudah amat kepepet, pemerintah Amerika menolong kedua lembaga itu.

Lembaga lain yang memiliki MBS dan CDO amat banyak, antara lain bank besar seperti Citigroup atau UBS. Karena nilai kedua jenis surat utang tersebut jatuh, bank-bank itu harus mulai melakukan ”penghapusan” (write down), yang akhirnya membuat mereka rugi dan modalnya tergerus. Investor pun melepas saham bank-bank itu, sehingga harga saham mereka pun ikut ambles.

CDS, derivatif yang sangat beracun
Beberapa bank investasi juga memiliki MBS dan CDO itu, sehingga mereka pun merugi. Tapi ternyata yang menjadi masalah lebih besar adalah ditemukannya instrumen keuangan baru (derivatif) yang bernama credit default swap (CDS).
Instrumen ini pada awalnya punya tujuan baik, yaitu memberikan ”asuransi” bagi pemiliknya jika kredit (bisa obligasi atau surat berharga lain, termasuk MBS dan CDO) yang mereka miliki terkena masalah. Yang tidak baik adalah pelaksanaannya kemudian. Lagi-lagi masalah ini timbul karena dimulai dari ketamakan.

Sebuah perusahaan yang memiliki obligasi ingin melindungi dirinya dari kemungkinan obligor gagal bayar dengan membeli asuransi yang disebut CDS itu. Dengan begitu, mereka memiliki kepastian mengenai nilai obligasi itu meskipun harus membayar premi. Perusahaan yang mengeluarkan asuransi itu di pihak lain juga harus menyisihkan dananya sebagai ”kolateral”. Jika obligasi itu akhirnya gagal bayar, perusahaan tersebut memiliki uang untuk membayar kerugian kepada pihak yang membeli asuransi tadi.

Dalam perjalanannya, perusahaan yang mengeluarkan CDS ternyata banyak yang tidak menyisihkan kolateral. Yang lebih parah, CDS yang sama diperjualbelikan. Dengan cara ini, mereka menerima premi yang besar, sehingga akhirnya dapat menghasilkan ”laba” yang kian besar. Dengan laba yang naik tajam ini, bonus juga sangat besar. Kalau obligasinya tetap lancar, transaksi seperti ini tentu amat menggiurkan. Tapi, karena MBS dan CDO mulai bermasalah, pihak asuransi pun mulai banyak diklaim. Di sinilah kerugian yang sangat besar terjadi.

Jumlah kerugian kolosal itu akhirnya memaksa pemerintah Amerika mengambil langkah darurat. Sebagian lembaga keuangan dibantu, seperti Bear Stearns, Merrill Lynch, dan AIG. Goldman Sachs dan Morgan Stanley juga dibantu dengan diizinkan ”bermutasi” menjadi bank komersial. Yang dibiarkan jatuh adalah Lehman Brothers. Bantuan itu akhirnya dibuat menjadi terstruktur dengan jumlah yang diusulkan US$ 700 miliar.

Beban utang yang menimbulkan keraguan
Upaya penyelamatan US$ 700 miliar mestinya bisa menenangkan pasar. Tapi ternyata jumlah itu menimbulkan keraguan baru, yaitu dari sisi kesehatan keuangan pemerintah Amerika. Inilah inti yang saya bicarakan di awal artikel ini dalam ”Membaca Tanda-tanda Zaman”.

Jumlah utang pemerintah kini mencapai US$ 9,7 triliun dan tiap hari bertambah US$ 1,8 miliar. Dengan upaya penyelamatan itu, batas atas utang pemerintah ditetapkan US$ 11,3 triliun. Jika ini tercapai, rasio utang Amerika terhadap produk domestik bruto akan mencapai 80 persen dan akan naik terus. Pada masa pemerintahan yang akan datang, siapa pun presidennya, bukan tidak mungkin rasionya meningkat menjadi 100 persen.

Karena itu, pemerintah dituntut lebih keras bekerja, mengencangkan ikat pinggang, sehingga meledaknya beban utang itu tidak lepas kendali. Topik itu sampai kini belum menjadi agenda pemerintah Bush. Ini berbeda dibandingkan dengan pemerintah Clinton, yang sukses menekan defisit dan bahkan mencetak surplus anggaran dalam tiga tahun terakhir pemerintahannya. Amerika memiliki tanggung jawab yang amat besar untuk mencegah krisis itu menghancurkan perekonomian dunia.
Share:

Prioritas

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada tgl 06 Oktober 2008 di halaman ekonomi & bisnis

BANYAK hal yang harus kita kerjakan. Banyak hal yang harus kita selesaikan. Lalu mana yang harus kita dulukan? Waktu berjalan begitu cepat hingga terkadang kita merasa bingung lalu bahkan kita tidak mengerjakan apapun dari daftar panjang pekerjaan itu. Sebuah jebakan yang memusingkan.
Saya pernah mengikuti kersus pengaturan waktu, dalam kursus itu saya mendengar presentasi tentang cara menentukan prioritas atas pilihan pekerjaan yang kita miliki. Mohon maaf saya tidak tahu siapa yang pertama kali menemukan konsep ini, tetapi bagi saya ini cukup efektif. Lihatlah bagan pilihan dibawah ini.
Inti dari penentuan prioritas adalah tingkat pentingnya sebuah pekerjaan dan tingkat urgensinya. Dibagan ini, ada bagian yang penting dan mendesak, penting - tidak mendesak, mendesak - tidak penting dan tidak penting – tidak mendesak.



Seperti dalam bagan tersebut diatas, disarankan untuk memprioritaskan hal-hal yang penting dan mendesak, lalu disusul oleh hal-hal mendesak walau tidak penting, diikuti hal-hal yang penting walau tidak mendesak. Berikutnya, tinggalkan semua sampah dan pengganggu pada bagian yang tidak penting dan tidak mendesak.

Klasifikasi
Melihat bagan tersebut diatas sepertinya sangat mudah. Hanya tiga bagian utama yang dipilih dan satu bagian tidak penting yang harus dibuang. Apakah begitu? Bagi seberapa orang, menentukan seberapa penting dan seberapa mendesakkah sebuah pekerjaan sepertinya sangat sulit dan membingungkan. Para pemula, biasanya akan sedikit sulit menentukannya. Bisa jadi mereka meletakkan semua hal di kolom mendesak dan penting, lalu terperanggah karena semua menjadi penting dan mendesak
Pertimbangan awal pada saat menentukan pilihan, pastikan bahwa kita harus menjadi jelas, cara pandang kita terhadap tingkat pekerjaan adalah; apakah anda amati dari sudut perasaan atau dari sudut logika. Merasa penting dengan penting secara logis jelas berbeda. Artinya, jangan membandingkan sudut rasa dan sudut logika.
Langkah lanjutannya adalah menuliskan semua hal yang akan kita kerjakan. Tuliskan dalam urutan berdasarkan daya ingat kita. Tuliskan tanpa berfikir tingkat urgensi dan tingkat kepentingannya. Sisihkan areal kosong di depan atau dibelakang masing-masing pekerjaan untuk tanda tertentu nantinya.
Setelah semua daftar pekerjaan tersusun, mulailah memberi tanda di areal kosong tadi (depan atau belakang masing-masing tugas) pada tugas atau pekerjaan yang mendesak. Pengertian mendesak adalah keterlibatan tuntutan waktu. Berikutnya, pastikan pilih mana yang paling harus segera dalam urutan hingga yang paling tidak harus segera. Tandai ’tidak segera’ yang bagaimana, kapan itu harusnya dilakukan? Hingga kita bisa meletakkan pada urutannya yang benar. Jika selesai, kini kita tahu mana yang harus dikerjakan hari ini, besok, lusa atau minggu depan.
Selanjutnya memberikan klasifikasi tingkat ’penting’ tidaknya sebuah pekerjaan. Penentu poin ini adalah efek baik dan efek jeleknya jika dikerjakan. Seberapa besar pengaruhnya terhadap sistem pekerjaan atau diri kehidupan kita. Dengan cara yang sama, berikan tanda-tandanya. Lalu kita dapat memastikan mana yang paling penting dan mana yang paling tidak penting.
Pada akhirnya kita bisa melihat mana yang penting - mendesak, mendesak - tidak penting, tidak mendesak – penting dan tidak mendesak – tidak penting.

Manfaat
Dengan menentukan prioritas itu, kita bisa dengan mudah memetakan pekerjaan-pekerjaan kita. Kita tahu mana yang harus di dahulukan tanpa harus merasa dikejar-kejar oleh kekhawatiran. Segeralah mulai, anda bahkan akan merasakan cahaya solusi begitu anda memulai membuat daftar tugas atau pekerjaan anda. Anda bukan saja membuat skala prioritas, tetapi anda bisa terbebas dari pikiran dan perasaan bahwa anda sangat sibuk atau banyak pekerjaan. Pada saat anda menuliskan daftar pekerjaan, bisa jadi sebenarnya pekerjaan-pekerjaan itu sangat sedikit jumlahnya, tidak sebanyak yang anda bayangkan.
Dengan menetapkan skala prioritas, kita memiliki agenda kerja, kita tahu apa saja yang kita harus kerjakan hari ini dan seterusnya. Kita juga bisa memiliki sistem catatan atas perkembangan pekerjaan yang sedang kita kerjakan.

Resep Kunci
Saya sebut resep kunci atas rahasia atas misteri pengaturan waktu yang sebenarnya bukan rahasia. Kunci itu berada dalam pikiran kita sendiri. Sejauh mana kita bisa mengelola waktu dengan baik, membaginya dengan bijak serta berpikir dingin pada saat menentukan prioritas dan delegasikan sebanyak mungkin pekerjaan rutin.
Semakin banyak anda mendelegasikan pekerjaan rutin kepada orang lain, anda akan memiliki kemampuan kinerja yang jauh lebih besar lagi. Anda akan memiliki kesempatan untuk menilai dan menghargai waktu. Anda akan dengan mudah menentukan nilai dan target-target jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Yang pasti akan banyak hal yang anda selesaikan dengan waktu yang lebih sedikit.
Ingatlah metode ini hanyalah alat, penentunya hanyalah anda sendiri. Menggunakan alat ini bukan berarti pekerjaan anda selesai. Anda baru saja memulainya dengan mudah. Anda harus segera bergerak memulainya dan satu persatu anda harus menyelesaikannya.
Kesalahan pemanfaatan waktu terbesar adalah sikap permisif ketika kita berusaha mencari pembenaran dengan mengatakan ’Besok kan masih ada waktu”. Menunda penyelesaian pekerjaan adalah penghianatan terhadap perkembangan diri.
Pekerjaan itu ibarat sebatang pensil yang anda genggam dengan posisi tangan terulur. Ini bukan perkara seberapa ringan pensil itu, tetapi seberapa lama kita memegangnya. Jika hanya 1 menit, pasti tidak terasa sakit tangan anda. Tapi begitu anda memegang pensil yang amat sangat ringan itu selama 1 jam, 5 jam, 1 hari atau 1 bulan?! Saya yakin tangan anda bisa patah!
Demikian juga dengan pekerjaan, bukan perkara berat atau ringan, tetapi jika anda menunda, sebenarnya anda sedang memberikan beban yang lebih besar bagi diri sendiri. Ada pepatah lama ”A journey of a thousand miles must begin with a single step” Lao-Tzu
Share:

Krisis Subprime di Amerika Serikat (Kalau Langit Masih Kurang Tinggi).


Oleh: Dahlan Iskan.

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ''menceritakan" secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter.

Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan Direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus
meningkat. Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: alias untung !
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja.
Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi ?
Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya.

Mengapa?
Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO.
Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over.
Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy.
CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya.
Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi. Karena itu, AS perlu banyak sekali barang.
Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa
terbesar di dunia: USD 2 triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara ''membesarkan' ' perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia. Tapi, itu belum cukup. Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.


Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah.
Demikian juga mobilnya. Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?

Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar?
Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar?
Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar?
Bagaimana bank bisa lebih besar?
Bagaimana notaris bisa lebih besar?
Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar?
Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru.
Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu.
Pada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut ''Deregulasi Kontrol Moneter''.
Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan real estate diperbolehkan menggunakan variabel bunga.
Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti.
Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.
Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: real estate, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya:
Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama).

Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun. Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage.

Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.

Dengan keluarnya ''jalan baru'' pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga.
Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan.
Maka, ada lagi ''jalan baru'' yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian.
Yakni, tahun 1986.
Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa.
Di sana pajak memang sangat tinggi.
Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen.
Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis.
Hari tua juga terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastic menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.

Kata ''mortgage'' berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda.
Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati.
Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?
Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ''para pelaku bisnis keuangan'' sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank. Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah. Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras. Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan. Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan ''bank jenis lain'' yang disebut investment banking.

Apakah investment banking itu bank?
Bukan, ia perusahaan keuangan yang ''hanya mirip'' bank.
Ia lebih bebas daripada bank.
Ia tidak terikat peraturan bank.
Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ''deposito'' dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang,
membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placement, dan apa pun yang orang bisa lakukan.
Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan!

Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.
Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif.
Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun.
Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja.
Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking.
Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ''personal banking''.

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas.
Kalau saya mau menempatkan dana di sana , saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit.
Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.
Saya orang yang berpikiran sederhana.
Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi.
Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator.
Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.
Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.

Di AS, setiap orang punya rating.
Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang.
Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas.
Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.
Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage.
Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600.
Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan.
Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage.
Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita.
Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman.
Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang.
Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit.
Rumah yang disita sangat banyak.
Rumah yang dijual kian bertambah.
Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya.
Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman.
Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain.
Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi.
Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi.
Satu ambruk, membuat yang lain ambruk.
Seperti kartu domino yang didirikan berjajar.
Satu roboh menimpa kartu lain.
Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu?
Belum ada data.
Yang ada baru nilai uangnya.
Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.
Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi?
Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut.
Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan Negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS.
Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ''menabung'' -kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.
Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya.
Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia.
Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana .

Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)
Share:

2.10.08

Desak Pembeli Dengan Menciptakan Urgensi


PEMBELI sering disebut sebagi raja, karena itu seringkali mereka menunda-nunda kepastian pembelian tanpa menimbang perasaan kita yang kadang panas dingin dalam ketidakpastian itu. Sikap menunda itu sangat mengganggu sistem kerja dan performa penjualan kita.
Harus ada yang ditempuh dengan benar, ketika kita memasuki status ’gantung’, dimana pihak pembeli tidak segera memberikan kepastian. Belum lagi ketidakpastian itu berupa penundaan yang mengarah kepada pembatalan seperti janji calon pembeli yang mengatakan akan menghubungi kita beberapa waktu kemudian. Janji akan menelepon kembali biasanya jarang menjadi kenyataan.
Dalam konsep menjual, ada sebuah prinsip bahwa anda tidak akan mendapatkan jika anda tidak memintanya. Jelas bahwa langkah proaktif menjadi sangat harus dikerjakan manakala berhadapan dengan calon pembeli yang senang ’menggantung’ rencana pembeliannya.
Ada 7 langkah strategis yang biasanya cukup bisa ’menggoda’ para pembeli yang suka ’menggantung’ rencana pembeliannya.

Tawaran Khusus (Spesial Offer)
Tawaran ini mestinya benar-benar istimewa dan tidak biasa. Kali ini kata-kata khusus tidak memiliki kekuatan yang dasyat, karena sudah terlalu banyak orang menggunakan kata itu. Seperti setiap restoran pasti memiliki menu nasi goreng istimewa. Cobalah ganti dengan istilah lain yang memiliki kekuatan menggerakan dan makna yang sama.
Tawaran khusus akan menjadi menarik jika memang isisnya menarik, bukan sekadar judul yang mengatakan ada tawaran khusus.
Pertimbangan yang paling menonjol dalam penentuan penawaran ini adalah perbandingan. Harus ada perbandingan yang mencolok dan jelas antara kondisi biasa dengan kondisi luar biasa yang ditawarkan secara khusus. Jika perlu, perbandingannya terlihat secara visual sehingga calon pembeli segera memahaminya.
Perbandingan yang mencolok itu biasanya cukup sakti untuk mengarahkan pembeli ragu-ragu untuk segera memutuskan untuk membeli.

Keterbatasan Persediaan (Limited Availability)
Ancam pembeli ragu-ragu dengan informasi keterbatasan persediaan. Pastikan pikiran pembeli berada dalam pilihan yang tidak bisa memilih; membeli sekarang atau rugi.
Kalimat promosi dengan kata-kata “Persediaan terbatas”, dulu pernah lumayan sukses, tetapi mengingat banyaknya penjual yang menggunakan kata-kata tersebut, ada baiknya kita menciptakan kata-kata baru dengan makna dan daya pengaruh yang sama.
Jika keterbatasan bisa diujudkan dalam hitungan angka dengan makna yang memang sedikit, maka menyebutkan angka adalah langkah yang bijak. Misalnya,”Tinggal 40 buah saja!”.
Taktik mengancam dengan keterbatasan persediaan hanya berlaku untuk produk-produk yang memang diminati oleh pasar yang berpotensi menjadi rebutan. Tetapi, jika produk yang ditawarkan adalah produk yang memang tidak laku dipasaran, strategi ini menjadi aneh dan kontra produktif.

Keterbatasan Waktu (Limited Period)
“Berlaku untuk hari ini saja” atau “50 % Diskon hanya pada jam 14.00 s/d 15.00 WIB. Atau “Harga diskon hanya berlaku saat pameran”.
Pembatasan secara waktu adalah ancaman dan desakan kepada calon pembeli agar segera mengambil keputusan sesuai waktu yang kita kehendaki.


Potongan Harga Tambahan (Additional Discount)
Tawaran diskon berlipat adalah cara sederhana untuk memberikan kesan bahwa kita memberikan harga yang luar biasa rendah. Ingat manusia selalu memenuhi keinginannya yang bereskalasi, terus naik secara bertahap. Demikian juga diskon, jika kali ini diberikan 50 %, maka jika berikutnya diberikan 30 % akan tertolak secara otomatis.
Tawaran diskon tambahan bisa saja atas tanggungan kita, atau bekerjasama dengan beberapa lembaga perbankan yang mengelola kartu kredit. Lihatlah betapa kini para banker begitu giat mempromosikan kartunya dengan memberikan sponsor atas kegiatan-kegiatan promosi bersama.

Peningkatan Harga dalam Waktu Dekat
Desakan lain yang bisa dilakukan adalah salah satunya adalah dengan memberikan ’bocoran’ informasi yang mengindikasikan potensi kenaikan harga dalam waktu segera. Konsep ini adalah sebuah aktifitas kesengajaan yang dikemas seolah-olah tidak sengaja.
Anda bisa mengkreasikan informasi internal yang mengindikasikan kenaikan harga. Mudahnya begini, buat memo internal dengan imbuhan kata-kata ’rahasia’. Memo ini seolah-olah muncul dan bererdar haanya dikalangan manajemen atas.
Para salesman akan menunjukkan kepada pembeli dengan pura-pura membuka memo itu. Ketika pembeli melihatnya, si salesman harus ‘mengaskan’ Kepada pembeli yang mencuri pandang itu dengan kata-kata yang tegas bahwa ini hádala rahasia perusahaan.
Selain iklan dan material promo lain, masih ada satu lagi strategi untuk mendesak calon pembeli dengan memunculkan isu-isu kenaikan harga-harga melalui berita-berita di media massa. Ajak rekan-rekan wartawan melihat kenyataan dan potensi kenaikan harga. Ini tidak begitu sulit, karena umumnya media indonesia lebih senang yang bombastis dan ‘maaf’ cenderung bernuansa mengkhawatirkan khalayak ramai.

Daftar Tunggu
Begitu pembeli dimasukkan kedalam daftar tunggu, maka mereka akan merasa bahwa mereka bukan orang yang beruntung. Mereka merasa bahwa keinginan mereka untuk mendapatkan apa yang mau dibelinya menjadi teramcam.
Kesan yang lain yang akan muncul adalah bahwa produk kita memang menjadi rebutan. Tentu saja orang berebut untuk sesuatu yang baik dan bernilai.
Daftar tunggu ini juga bisa dilakukan dengan membayar orang banyak untuk antri membeli produk kita. Ini sangat efektif saat bisnis kita baru mulai. Mungkin waktu-waktu pertama setelah peresmian pembukaan. Ada beberapa retail dan restoran di indonesia yang sangat jelas berhasil dengan strategi ini.

“Terjual”
Ketika daftar produk yang ditunjukkan oleh salesman penuh dengan tanda khusus bertuliskan ’Sold’ atau ’Terjual’, tentu pembeli berikutnya menjadi merasa harus segera membeli, karena tanda-tanda laku sudah tingggi.
Pola ini cocok untuk produk seperti rumah, komplek perumahan, lokasi yang dijual / disewakan, tempat pameran, produk pameran dll. Kata ”Terjual” yang mencolok sungguh merupakan godaan pagi pembeli selanjutnya untuk segera memutuskan.
Ingatlah bahwa anda tidak akan mendapatkan jika anda tidak memintanya. Mintalah dan desaklah mereka dengan cara yang elegan dan santun.
Yang terakhir, penulis mengharap maaf dan apunan dari sidang pembaca atas kesalahan dan khilaf bertutur kata. Selamat Hari Raya Idul Fitri .
Share:

23.9.08

Kekuasaan Kata-kata




ANDA pasti ingat dengan kata-kata berikut ini;
”........., Mencuci Paling Bersih”,
”........., Berani Kotor Itu Baik”,
Apakah anda sudah membayangkan sebuah merek sabun detergen yang sangat familiar dengan pasar di Indonesia.
Berikutnya, apakah anda segera nyambung dengan kata-kata berikut ini;
”Terus Terang ...... Terang Terus”
Lalu, apakah yang anda ingat dengan kata-kata;
”Bukan Basa-Basi..”
”Apa kata Dunia..?”
”Bukan Telepon Biasa ..”
Saya yakin mayoritas dari anda, sanggup menebak merek-merek dagang atau institusi yang terwakili oleh kata-kata tersebut diatas. Pesona kata-kata diatas, tidak saja mewakili produk yang dipromosikan, tetapi juga membimbing kita untuk mempercayai pesan-pesan promosi tersebut.
Kata-kata sungguh berdaya. Gabungan-gabungan huruf itu tidak saja bersuara, tetapi juga mampu menggerakan manusia. Kata-kata positif akan membuat pendengarnya optimis, percaya diri, semangat, inovatif, kreatif, energik, bahagia dan sejenisnya. Ada kebangkitan semangat hidup disana. Dunia terasa lebih indah dan seolah-olah lebih menjanjikan.
Coba cermati, kalimat ini; “...., Gigi putih seputih Mutiara”. Perbandingan gigi dengan mutiara adalah perbandingan yang memberikan harapan, kesan positif, optimis dan menyenangkan. Produk yang ditawarkan seolah-olah memiliki kekuatan yang positif untuk hal positif bagi penggunanya.
Sebaliknya, kata-kata negatif dapat membuat kondisi sebaliknya. Pendengarnya akan menjadi pesimis, minder, tidak percaya diri, frustrasi, patah hati, antipati, sedih, kecewa, merana, tercampakkan, teraniaya, terluka atau terkebiri. Hidup terasa hampa, mengalir tanpa warna, tidak ada daya dan tidak ada upaya. Semuanya pasrah, pasrah dan pasrah. Biar nasib yang bekerja sendiri. Inilah konsekuensi logis dan nyata dari pengaruh kata-kata.
Jika kalimat, “..., Gigi putih seputih Mutiara” diatas, kita ganti dengan kalimat, “...., Gigi putih seputih Kapur Tulis”. Bagaimana perasaan anda dengan kalimat terakhir itu? Apakah ada kekuatan positif yang sanggup menggerakan anda dari kalimat itu?

Cerdas Berkata
Menyadari kekuatan kata-kata, pemilihan dan penggunaannya ada baiknya dilakukan upaya penyaringan yang dilakukan terlebih dahulu ketika berhadapan dengan para pelanggan. Kata-kata kurang baik sebaiknya ditelan saja demi menjaga hubungan relasi agar tetap baik. Seorang tokoh besar Inggris, Sir Winston Churchill, punya pribahasa yang tepat soal ini, ‘by swallowing evil words unsaid, no one has ever harmed his stomach.' Denyut perut yang mulas dan menggelisahkan tidak akan terjadi jika kata-kata kurang baik batal diucapkan kepada orang lain.
Bayangkan, jika anda datang ke sebuah toko ingin membeli sesuatu, lalu anda bertanya kepada pelayan tentang satu tipe produk yang anda inginkan dan si pelayan begitu saja segera menjawab, “Wah... maaf itu mahal, sangat mahal”. Begitu anda mendengar kalimat itu, kira-kira apakah anda masih mau bertahan dilayani oleh pelayan toko tersebut?
Kalimat pelayan diatas berpotensi merendahakan diri anda, seolah-olah si pelayan tidak yakin bahwa anda memiliki uang untuk membayarnya, atau paling tidak anda merasa di cap ‘miskin’ oleh si palayan.
Kata-kata positif pada dasarnya diproduksi oleh pikiran yang positif serta batin yang harmonis. Untuk itu diperlukan pelatihan dan pengamatan agar kita mampu memilih dan menyaring kata-kata untuk mendukung sukses bisnis dan pembawaan diri kita. Ingat pepatah lama, mulutmu harimaumu.

Perang Kata
Berbagai jenis iklan sering kita lihat di TV, didengar di radio, dibaca di media cetak, namun yang sangat berpengaruh biasanya iklan yang ditayangkan di TV karena audience dapat langsung menikmati suguhan visual dibandingkan jika harus menghayalkan iklan dari radio atau gambar dua dimensi media cetak. Dari sekian jenis iklan yang ada, ada yang menghibur namun juga ada yang tidak menarik sama sekali.
Terlalu banyak pemasang iklan yang serba memaksakan kehendak agar orang-orang tahu apa produk yang ditawarkan, tanpa menimbang bahwa seseorang menyetujui sesuatu jelas melalui beberapa proses dasar. Seseorang akan setuju, jika ia percaya dan membutuhkannya.
Para orang tua jaman sekarang, percaya bahwa anak-anaknya perlu banyak belajar dengan berbagai pengalaman nyata. Para orang tua membutuhkan media-media agar anak kesayangannya bisa belajar. Proses belajar dengan cara apapun itu baik, termasuk belajar sesuatu dengan konsekuensi tertentu. Jadi orang tua jaman ini tidak keberatan jika pakaian anaknya menjadi kotor, asal anaknya mendapat pejaran penting untuk diri si anak, walaupun harus berkotor-kotor. Disinilah mucul pernyataan berani kotor itu baik.
Iklan yang ditawarkan kepada publik atas pernyataan berani kotor itu baik, ditawarkan dengan visualisasi beberapa anak yang berlajar menjadi montir mobil-mobilan, bermain sepak bola di lapangan berlumpur dan lain sebagainya. Iklan yang muncul berlaku juga sebagai media edukasi kepada publik bahwa kini bukan jamannya lagi khawatir pakaian si anak kotor, karena dibalik kekotoran itu ada pelajaran yang jauh lebih penting. Sementara itu perkara kotor adalah urusan detergen yang diiklankan.
Propaganda dalam iklan terkadang membawa produsen kepada terjadinya perang iklan antar produk. Perang itu kini semakin tajam dan kadang tercium aroma saling menjatuhkan pesaingnya. Saya ingin pastikan bahwa muncul dan sukses dengan ‘cara katak’ – menyodok samping dan menginjak yang dibawah—jelas tidak akan bertahan lama. Menjelekan pesaing untuk meningkatkan kredibilitas diri berpotensi mengundang rasa yang tidak simpati.
Apakah produk itu bagus atau tidak toh kembali kepada konsumen yang menilai. Memang tidak dipungkiri kekuatan iklan juga berpengaruh kepada pikiran seorang konsumen dalam memilih produk. Jika konsumen merasa produk yang dibeli sesuai dengan janji di iklan maka kemungkinan besar dia akan loyal kepada produk tersebut. Sebaliknya jika produk yang dibeli tidak sesuai dengan janji dalam iklan maka pembeli yang kecewa itu akan mempropagandakan pengalaman jeleknya lewat gerutu dalam perbincangan dengan lingkungnnya maupun melalui surat pembaca di media massa.
Share:

18.9.08

Bahagiakah pasangan yang menikah hanya karena cinta? (joke)


Barangkali kisah ini bisa menjadi renungan bagi kita, utamanya yang ingin berumah tangga:

Alkisah, seorang pemuda miskin bernama Yogi Prasetyo, berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Keluarganya hanyalah keluarga sederhana, kalau tidak bisa disebut miskin. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai tukang jahit di desanya.

Karena kegigihannya, Yogi berhasil kuliah di FE UGM walaupun dengan biaya seadanya. Semasa semester 4 di kampus, Yogi jatuh hati pada seorang gadis bernama Ayu Wulaningrum, juga sama-sama kuliah di faculty yang sama.

Ayu adalah putri seorang bupati ternama di daerah Yogyakarta & juga masih keturunan keraton. Walaupun secara economy mereka jauh berbeda, namun tidak menghalangi keduanya untuk saling mencintai.

Ayah Ayu yang mengetahui putrinya begitu mencintai pemuda dari keturunan biasa, tak mampu mencegah gelora cinta putrinya. Maka begitu keduanya telah lulus, pernikahan keduanyapun diselenggarakan dengan megah. Pesta besar-besaran digelar untuk mengiringi pernikahan putrinya.

Ayah Yogi yang tak punya banyak harta, hanya bisa memberikan bantuan sumbangan pakaian, sprei, sarung bantal, yang semuanya ia buat & ia jahit sendiri khusus untuk pernikahan putranya.

Bahagiakah Ayu bersanding dengan Yogi?

Ternyata kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.

Tibalah saatnya malam pengantin tiba. Mereka berduapun memasuki peraduan dengan bahagia. Namun, ketika Yogi membuka pakaiannya & tinggal memakai celana kolor, berteriaklah Ayu dengan keras, sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri. Semua penghuni rumah dari kerabat & keluarga Ayu pun berdatangan melihat kejadian itu.

Yogi masih dalam kebingungan & mencari tahu kenapa istrinya hysterical & pingsan. Dilihatnya celana kolor yang ia pakai.

Aduh, Yogi lupa kalau celana kolor itu jahitan ayahnya, dibuat dari kain bekas wadah tepung terigu. Di tengah celana kolor itu masih terpampang jelas tulisan, "BERAT BERSIH 25 KG".

Tentu saja Ayu langsung pingsan melihatnya. Ayu tidak bisa membayangkan seberapa besar isinya dengan berat segitu.
Share:

15.9.08

Penyelesaian konflik bisnis dengan mediasi

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & ekonomi, tanggal 15 september 2008

ALAM reformasi yang begitu derasnya merambah semua bidang, sedikit membawa euphoria dan kelatahan beregu. Artinya, semua orang semakin berani menyuarakan haknya dan semakin berani mengatakan hal yang tidak ia sukai. Keberanian itu kadang terasa kebablasan sehingga cara penyampaian seringkali tidak lagi menggunakan kaedah norma dan sopan santun ketimuran yang selama ini dianut bersama.
Keberanian yang dirasakan orang-orang di jaman demokrasi ini terkadang masih membawa semangat bar-bar yang secara primitive masih tersimpan di dalam pikiran kotor kita. Kini orang-orang tidak lagi takut merampas hak orang lain, tidak takut lagi berhutang, tidak takut ingkar janji, dan tidak lagi malu jika ditagih, bahkan berani melawan sekalipun jelas mereka bersalah. Kini orang tak lagi mendahulukan kepentingan bersama selama kepentingan pribadinya belum terpenuhi.
Asal budaya latah inilah yang pada akhirnya menyirami benih-benih permusuhan serta konflik dalam kehidupan bisnis kita. Catatan perseteruan orang-orang antar bagian di semua lembaga bisnis semakin banyak. Konflik kepegawaian yang berlanjut hingga meja hijau juga semakin banyak. Konflik hutang-piutang yang melelahkan juga tidak sedikit.
Terlepas dari bentuk-bentuk konflik bisnis yang terjadi, saya kini melihat betapa pentingnya fungsi mediasi untuk menyelesaikan konflik tersebut dan memulihkan kembali hubungan di lingkup bisnis tersebut.

Pentingnya mediasi
Mediasi biasanya cekup efektif menyelesaikan permasalahan, karena masalah terbesar dalam dunia kerja dan bisnis adalah masalah manusianya, baik dari persepsi, ucapan dan tindakannya. Faktor manusia inilah yang biasanya akan memicu perbedaan. Perbedaan itulah yang berujung kepada konflik.
Mekanisme formal, biasanya tidak diiringi dengan kelegaan hati dan itu berarti tiap hari adalah sambungan dari konflik yang sudah terjadi. Terus menerus, beranak cucu dan menular.
Konflik selalu berbiaya, menelan stress, membuang waktu, membuang energi dan menurunkan produktifitas. Konflik mengalihkan fokus perhatian kepada hal-hal negatif dan membiarkan yang positif. Iklim bisnis dan kerja akan menjadi negatif, mendung, dingin dan hilang semangat. Jikapun ada semangat, semangat penghancuran saja yang akan muncul. Konflik yang ditangani dengan efektif bisa sekali berubah menjadi pemicu peningkatan prestasi dan menghindarkan stagnasi.

Memilih Mediasi
Setiap konflik bisa diselesaikan dengan negosiasi atau musyawarah, dengan mediasi, dengan arbitrasi atau dengan litigasi.
Dalam tingkatan konflik yang rendah dan atmosfir hubungan masih sejuk, musyawarah atau negosiasi biasanya menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang bagus bagi semua pihak yang terlibat. Prosesnya disepakatai oleh pihak-pihak yang terlibat dan dalam konflik tersebut.
Arbitrasi melibatkan arbiter walaupun dengan pola yang relatif informal. Mereka biasanya adalah para ahli yang independen dan netral. Prosesnya seperti studi oleh pihak-pihak yang terkait dan akhirnya arbiter memutuskan untuk semua pihak. Keputusan bisa dilakukan dengan kompromi antara yang diinginkan oleh pihak-pihal yang terlibat konflik berdasarkan bukti dan penilaian teknis.
Ligitasi bermuara kepada mekanisme hukum formal. Yang mengambil keputusan adalah hakim melalui persidangan meja hijau. Tingkat fomalitas legalnya sangat tinggi. Jika ada pihak-pihak lain yang telibat, kapasitasnya sebagi penasihat dan menghilangkan situasi oposisi. Tipe hasil yang muncul adalah menang atau kalah berdasarkan preseden legal dan pertimbangan bukti-bukti.
Sedangkan mediasi posesnya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat konflik dengan bimbingan seorang mediator. Beda madiator dengan perantara yang lain adalah bahwa mediator bersifat seperti fasilitator, independen dan netral tetapi tetap tegas walaupun secara informal bersama pihak yang berkonflik. Sebagai fasilitator, mediator berpartisipasi penuh dalam proses pengambilan keputusan. Tipe hasil yang diharapkan muncul dengan mediasi adalah keputusan yang diatahkan kepada penerimaan bersama dan saling menguntungkan .
Karena sifatnya yang informal, mediasi cenderung labih murah, mudah, singkat dan efektif. Karena itulah banyak perusahaan yang menggunakan jasa mediator untuk keperluan penyelesaian konflik-konfliknya.
Kini banyak perusahaan menggunakan jasa mediator seperti perusahaan asuransi dan perbankan yang terlibat konflik transaksi. Bukan hanya itu, konflik perceraian saja sudah banyak yang tidak lagi menggunakan jasa pengacara. Jasa mediator dianggap lebih santun, lunak, murah dan cenderung dianggap menjaga martabat.

Konflik yang pas dimediasi
Tidak semua konflik memang tepat dilakukan dengan mediasi. Tetapi konsep mediasi akan sukses manakala kedua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk mencoba pendekatan mediasi sebagai solusinya. Keduabelah pihak memiliki masalah yang benar-benar ingin mereka selesaikan dengan cepat.
Lalu masalah yang mereka hadapi berada dalam kendai keduanya, artinya mereka bukan sekadar korban atas sebuah situasi yang diluar jangkauan kekuasaan mereka dan ada keseimbangan wewenang antar keduanya. Mediasi menjadi lebih mudah jika memang ada tuntutan untuk mengambil tindakan segera.
Mediasi menjadi penting ketika keduabelah pihak tidak menghendaki investigasi resmi dan keduanya menyadari pentingnya solusi yang akan dihasilkan. Adanya kesadaran atas resiko-resiko serius yang mungkin timbul jika tidak mencoba langkah mediasi.

Tugas Mediator
Dalam hal menyelesaikan konflik, mediator harusnya menstimulasi terjadinya keterbukaan atas pikiran dan perasaan yang dirasakan oleh semua pihak. Kemudian mediator merangsang pikiran positif sehingga semua pihak bisa saling mendengar.
Mediator memberikan kesempatan yang sama untuk berkomunikasi, bernegosiasi dan memikirkan kesempatan yang realistis serta adil kepada semua pihak. Mediator memastikan terhindarkannya segala bentuk penghujatan, penyalahgunaan, penyimpangan dan segala perilaku yang menghalangi orang melakukan negosiasi dengan adil.
Mediator tidak berpihak kepada salah satu pihak dan mengambil alih hal mengambil keputusan bagi pihak-pihak yang terlibat konflik.
Mediator tidak akan menyarankan atau mengatakan apa yang harus anda lakukan. Mediator akab membantu pihak yang terlibat untuk memikirkan solusi yang bisa dilakukan. Mediator juga kan menguji kemungkinan hasil hasil, mengklarifikasi apa yang akan terjadi kemudian, dan memikirkan apa hendaknya yang harus dilakukan jika ada sesuatu yang salah.
Share:

Blog Archive