it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

29.1.08

Bulan Dalam Air (Strategi kompetisi - Marketing)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tgl 28 januari 2008 pada halaman bisnis & teknologi

TERDUDUK saya di sebuah pulau seukuran lapangan basket pada suatu malam dan menikmati tenangnya air danau. Langit begitu cerah, kemudian pada detik pertengahan malam menyeruak cahaya bulan yang membersihkan segala langit hingga cahaya terangnya menembus danau yang jernih itu. Ada bulan di dalam air!
Cahaya Bulan itu amat terang tapi lembut, meliputi seluruh areal permukaan hingga dasar danau sekaligus menerangi keadaan dilingkungannya tanpa memberikan sengatan seperti sengatan matahari. Cahaya itu begitu ramah, sejuk, bersahabat, bernuansa kasih sayang, mengundang sikap terbuka kerjasama dan kehangatan.
Cahaya Bulan yang menerangi seluruh danau ini mengingatkan saya kepada sebuah pengalaman memainkan strategi sederhana memasuki wilayah musuh, mengamati dan menguasainya tanpa harus menimbulkan konflik dan gejolak.
Dalam kancah persaingan bisnis, kita tidak bisa lepas dari pesaing-pesaing dengan kehebatan masing-masing. Mereka terus akan bergerak maju dan berpotensi meninggalkan kita dibelakangnya. Persaingan menjadi sesuatu yang melekat erat dalam konsep bisnis siapapun dan itu adalah sebuah permainan untuk dimenangkan. Untuk bisa bermain seindah cahaya bulan untuk memasuki wilayan pesaing, berikut pengalaman saya;

Menjadi bulan
Cobalah menjadi bulan. Atau minimal terkesan oleh pesaing anda bahwa anda adalah bulan. Anda yang tampil dengan kemasan bulan akan terlihat sebagai orang yang memberikan kehangatan pada saat dingin, kesejukan pada saat panas dan penerangan di kegelapan. Pesaing anda harus mengenal anda sebagai bulan yang kehadirannya tidak memberikan ancaman.
Kesan sangat bersahabat ini harus dimunculkan sehingga pesaing tidak berposisi protektif dan tidak memasang kuda-kuda untuk bertahan atau melawan balik. Karena pada dasarnya semua pihak saling tahu bahwa mereka adalah pesaing dalam arena yang sama.
Ini sedikit sulit jika kita berhadapan dengan pesaing yang memiliki filosofi kempetisi picik, dimana mereka melihat persaingan sebagai permusuhan. Jika pesaing menganggap kita sebagai musuh, maka mereka akan berusaha untuk tidak membuat kontak apapun dengan kita dan mereka akan menutup semua pintu bagi kita untuk ‘melihat’ keberadaan mereka akan menjadi lebih sulit.
Memancarkan cahaya bulan kepada pesaing memerlukan pertimbangan waktu dan tempat yang tepat, apalagi untuk pesaing yang menganggap kita sebagai musuh.

Menyinari Gelap Malam
Mulailah dengan Pilihlah waktu dan tempat yang menguatkan potensi bulan. Pancarkan pesona bersahabat pada saat mereka kesepian, pesona hangat pada waktu mereka kedinginan, pesona sejuk saat mereka kepanasan, pesona terang saat mereka berada di kegelapan. Pesona itu akan lebih mudah bersinar jika anda tidak membawa bendera bisnis anda sendiri. Pilihlah media yang efektif untuk ajang tebar pesona ini seperti forum-forum atau kegiatan yang tidak secara langsung membahas bisnis.
Ada ajang olah-raga, kesenian atau hiburan termasuk hobby. Atau lebih bagus lagi adalah menggunakan forum-forum bisnis yang membahas permasalahan bersama. Forum-forum yang terbangun atas kesamaan penderitaan dan kesamaan tujuan. Misalnya asosiasi pengusaha. Sekarang sudah sangat banyak persatuan/persekutuan/asosiasi pengusaha/pebisnis/eksekutif bisnis atau apapun namanya yang fokus kepada sektor-sektor tertentu.
Berbagung dalam sosiasi/lembaga bisnis dengan anggota yang sejenis bisnisnya dengan anda adalah cara halus untuk memasuki wilayah persaingan. Ya, sangat indah, karena kita memasuki zona permasalahan bersama dan itulah areal yang tepat untuk memposisikan persamaan awal. Begitu sudah ada frekuensi persamaan, maka disitulah gerbang untuk masuk lebih lanjut.
Manfaatkan media-media tersebut karena media tersebut mengumpulkan para kompetitor anda. Dari forum-forum bisnis tersebut memberikan sedikit gambaran siapakah mereka-mereka itu yang menjadi pesaing anda.
Penting disadari bahwa man behind the gun adalah kunci utama persaingan. Artinya, apapun senjata yang digunakan, harus diperhatikan siapakah orang yang memegangnya. Sebatang pensil bagi kita hanya untuk menulis, tetapi bagi seorang ahli bela diri, pensil itu bisa dijadikan senjata yang mematikan.
Karena itulah, mengenal orang-orang yang menjadi pesaing kita sangatlah penting. Karena dari merekalah muncul berbagai strategi persaingan. Dengan mengenal karakter dan cara berfikirnya, kita bisa memastikan strategi apa saja yang akan mereka munculkan dikemudian hari.
Itulah artinya bahwa bergaul dengan pesaing adalah hal penting lalu yang paling penting adalah upayakan kitalah yang melakukan observasi bukan kebalikannya.

Menempel Lekat
Cahaya bulan yang lembut memberikan kesempatan bagi kita untuk mengamati alam semesta ini dengan dalam dan tenang. Demikian juga dengan konsep cahaya bulan, kita bisa mengamati pesaing dengan detail tanpa kecurigaan.
Karakater cahaya bulan tidak sekeras cahaya matahari. Konsep strategi cahaya bulan meminta kita untuk melakukan upaya observasi melekat. Artinya sejauh pesaing tetap merasa ‘sejuk’, kita harus terus masuk kedalam dengan pelan, tenang dan merasakan ritme objek kita.
Ikuti saja apapun gerakan pesaing, lengket dan melekat seperti bayangan di cermin. Dengan melakukan observasi yang lengket, maka kesimpulan pengamatan akan lebih jelas dan gamblang.
Observasi dengan gaya cahaya bulan ini memerlukan waktu yang sedikit panjang, artinya observasi yang dilakukan sekali dua kali tidaklah cukup menjamin adanya penggambaran yang jelas dan terang.

Bulan diatas
Bulan yang sesungguhnya tidak pernah berada di dalam air. Bulan yang sesungguhnya tetap diangkasa. Perumpamanan kata bulan yang saya gunakan ini adalah konsep observasi pesaing seperti bulan di air. Bulan ini memancarkan cahaya sehingga masuk kedalam air, menerangi semuanya tetapi ia tetap tangguh bertengger di angkasa.
Langkah observasi itu harus dilakukan dengan kontrol kesadaran penuh. Harus kita yang ‘mengendalikan’, bukan pesaing! Ini bukan pekerjaan berat tetapi memang sedikit memerlukan praktek dan latihan.
Latihan pertama yang mudah adalah berusaha bertanya lebih banyak dari pada bercerita. Lalu berlatih berpuasa menceritakan diri sendiri dan pilih topik yang sesuai saja dengan pihak lawan kita. Biarkan kala itu menjadi panggungnya pesaing anda, tetapi sebenarnya kita sedang menguasainya. Sebuah kemenangan yang elegan.
Share:

’Tiupkan Ruh Kehidupan’ ke Produk Anda (marketing)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tgl 21 januari 2008 pada halaman bisnis & teknologi


MATI adalah hal negatif bagi sebagian besar manusia. Mati sama dengan kegelapan, ketidakpastian, sepi, sendiri, dingin, kehilangan, ketidak berdayaan dan segala situasi yang tidak menyenangkan. Sebegitu besar momok jelek kematian itu, membuat orang lebih senang hidup dan takut mati.
Ya HIDUP...! hidup adalah pertanda positif dan lawan dari semua hal yang berbau kematian. Kata hidup menyimpan kesan pasti, jelas, terang, bahagia, bernafas, tumbuh, hangat, ramai, berdaya dan seterusnya.
Orang-orang yang percaya dengan aliran Neuro Linguistic Programming percaya bahwa otak manusia mengerahkan lebih dari 80% dari potensinya untuk menghindari kematian dan 20%-nya untuk mencari kehidupan. Jadi mereka percaya bahwa itulah yang menggerakkan manusia apapun.
Begitu besarnya pesona kehidupan bagi manusia, hingga semua benda mati ciptaan manusia juga dituntut untuk ’memiliki nyawa’. Jika ’nyawa’ tidak tertiup dalam produk/merek itu, maka penolakan sering lebih banyak didapat. Pasar menuntut sesuatu yang hidup, bukan yang mati.
Kisah kebutuhan akan jiwa/ruh dalam produk ciptaan manusia terinspirasi oleh kebesaran Tuhan dalam proses penciptaannya. Konon, jika Tuhan tidak tiupkan Ruh kedalam diri manusia, maka manusia adalah mahluk terlemah yang pernah ada di planet ini. Bayangkanlah betapa tanpa Ruh Tuhan itu, manusia tidaklah sekebat gajah yang sanggup mengangkat beban berat. Manusia tidak sehebat burung yang bisa terbang diangkasa, tidak sehabat ikan yang sanggup berenang dan menyelam dalam waktu yang amat lama. Manusia juga tidak sehebat cacing yang bisa tinggal didalam tanah. Manusia juga tidak sehebat kutu yang bisa masuk ke sel-sel tubuh manusia tanpa disadari si pemilik badan itu sendiri.
Demikian juga dengan merek / prduk ciptaan kita. ia dituntut memiliki ‘jiwa’, ‘ruh’ dan ‘nyawa’, hingga akan diterima oleh pasar dan terhindar dari ‘kematian’.

Ruh Produk/Merek
Jaman dahulu, merek-merek sering mengunakan bentuk-bentuk yang hidup, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Berbagai jenis binatang dari garuda, elang, merpati, ular, kuda, ikan hingga kalajengking menjadi perlambang. Berbagai tumbuhan seperti padi, gandum, kapas, pohon kelapa, bunga mawar, bunga matahari dan berbagai buah-buahan yang menggambarkan kehidupan dijadikan nyawa merek.
Jaman terus berkembang seiring persepsi manusia dalam memaknai kehidupan itu sendiri. Kini jiwa kehidupan sudah diterjemahkan kepada berbagai media. Mulai dari warna, ukuran, jenis huruf, tata letak hingga pola.
Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa warna memiliki jiwa tertentu, ada warna kehidupan yang penuh semangat, warna kebijaksanaan, warna keberanian, warna kesucian dan warna duka, warna janda dan berbagai makna lainnya.
Ada kesepakatan lain dalam memaknai bentuk. Bentuk taring, tanduk setan dan parang mewakili kegelapan. Bentuk bulat bisa menggelinding dan berkembang dimanis, bentuk yang berkaki dan berbagai penafsiran lainnya.
Merek-merek tertentu memerlukan bantuan icon/maskot yang menggambarkan kehidupan. Banyak maskot dengan berbagai bentuk animasi yang mengisyaratkan itu. Ada gambar jempol yang diberi mata, mulut, tangan dan kaki demi kesan kehidupan itu. Ada gambar kaleng yang ‘dimanusiakan’ bahkan mobil-mobil jaman tertentu memiliki wajah depan yang mirip wajah manusia.
Sekarang coba lihat merek anda, apakah ada tanda-tanda kehidupan disana? Apakah anda merasakan adanya ‘ruh’ atau ‘jiwa’ tertentu dalam merek anda?

Jiwa
Jiwa adalah energi mental yang memiliki kekuatan untuk dapat memotivasi terjadinya proses perilaku yang menjadi bentukan aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Pesan-pesan dalam produk/merek seharusnya mengacu kepadanya.
Jiwa ditandai dengan emosi yang berperasaan. Kesan apa yang ingin dimunculkan, apakah kesan kasih sayang, kesan sedih dan duka, kesan kekuatan, kesan kedewasaan dan kebijaksanaan atau kesan kekanak-kanakan.
Nyawa kehidupan terlihat jiwa yang bersemayam dalam merek/produk. Jiwa itu terbaca, terdengar dan terasakan sebelum pelanggan anda menikmatinya. Pesan itu harus sangat mencolok dan menancap tegas kedalam relung hati pasar anda.
Secara mudah anda bisa merasakan waktu anda melihat merek-merek terkenal tertentu yang memiliki jiwa kemewahan, kemapanan dan janji kelas sosial yang tinggi. Merek-merek tersebut benar-benar mengibarkan pesona yang secara otomatis kita bisa rasakan. Pasti anda bisa bayangkan bagaimana kalau sudah benar-benar merasakan produknya.
Merek-merek sukses bahkan mampu menempatkan dirinya sebagai standard kualitas jiwa dan hidup pemakainya. Bagaimana dengan merek anda?

Bertumbuh
Hidup adalah bertumbuh, berkembang dan proses itu menjadi penting. Produk/merek juga harus memiliki kesan itu. Proses mendidik pasar sangat penting dengan pola yang terus berkembang, berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan pasar.
Jika dirasa perlu, penggantian merek, kemasan dan pesan-pesan promosi adalah bagian penting yang menandakan kehidupan yang bertumbuh itu. Perubahan logo Pertamina adalah contoh jelas untuk bahasan ini.
Bagi produk yang sudah mantap, pertumbuhannya diwakili oleh pertumbuhan pesan-pesan promosinya. Untuk kasus ini saya senang membahas pola bertumbuhnya pesan-pesan promosinya Sampoerna A Mild. Ia tumbuh dan berkembang dengan memimpin pasar lainnya. Ia bertumbuh dengan kecerdasan melalui pesan-pesan promosi sederhana yang tidak diperkirakan oleh kebanyakan orang.
Pada tataran tertentu, hidup diwakili oleh eskalasi kebutuhan yang berkembang dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan tertinggi seperti yang dipikirkan oleh Maslow. Perlu juga diyakini, bahwa pada tahap tertentu filosofi kemapanan, kesempurnaan, kebenaran universal dan kesejatian adalah sasaran semua manusia. Cobalah menggunakan kaidah-kaidah itu untuk menandai pertumbuhan merek/produk anda.
Jiwa bertemu Jiwa. Rasa bertemu rasa. Ruh bertemu ruh. Sebagai pemilik merek/produk anda sangat tahu, kemana produk anda arahkan, kepada siapa ditujukan dan bagaimana menyampaikannya. Anda pasti tahu karakter sasaran anda. Jiwa yang seperti apa? Rasa yang seperti apa? Hingga anda bisa memilih ‘ruh’ apa yang harus anda tiupkan dalam merek/produk anda.
Share:

14.1.08

SLOGAN (Marketing – Promotion)


Tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada medan tgl 14 januari 2008 pada halaman bisnis dan teknologi

TIGA kata “Malaysia Truly Asia”, benar-benar bercerita, motivatif, prokalamatif, dan kompetitif. Malaysia menyatakan dirinya sebagai Asia sebenarnya. Seolah-olah negeri ini mengatakan bahwa kalau mau cari Asia, datang saja ke Malaysia, tak usah kemana-mana karena di Negeri inilah segala sesuatunya tersedia jika berhubungan dengan Asia. Slogan itu membuat negara-negara asia lain menjadi ngiri dan pasar pariwisata dunia menjadi tergeming. Yang lebih dasyat adalah nilai motivasi internal dalam negeri mereka sendiri yang semakin positif dan mendongkrak rasa percaya diri dalam kancah persaingan internasional.
Apalah arti sebuah kata Nokia tanpa slogan Connecting People. Apalah arti Sampoerna a Mild tanpa slogan Bukan Basa Basi. Apalah Arti SBY-JK tanpa slogan Bersama Kita Bisa.
Menurut wikipedia, Slogan adalah motto atau frasa yang dipakai pada konteks politik, komersial, agama, dan lainnya, sebagai ekspresi sebuah ide atau tujuan. Bentuk slogan bervariasi, dari yang tertulis dan terlihat, sampai yang diucap dan yang vulgar.
Dalam dunia komunikasi yang makin serba cepat dan arusnya semakin deras, merek saja tidaklah cukup tanpa rambu-rambu berupa slogan yang bisa mengantarkan persepsi publik kepada tujuan pemilik merek.
Metro TV boleh berusia 7 tahun, tetapi slogan yang digunakannya saat ini lumayan “menggerakkan”. Memang banyak lembaga pembiayaan, tetapi hanya ada satu lembaga yang “menyelesaikan masalah tanpa masalah”. Barack Obama kandidat presiden Amerika Serikat mendulang banyak dukungan karena slogannya, Bagaimana dengan anda?

Bermutu
Slogan adalah bahasa kampanye yang sangat berpotensi mempengaruhi persepsi dan perilaku targetnya. Itu bisa tercipta jika pemilihan kata-katanya tepat, pas dan mengena. Memang diperlukan kreativitas yang tinggi untuk memastikan penciptaan slogan yang bermutu.
Slogan bermutu adalah slogan yang orisinil dan bukan contekan. Artinya slogan itu akan menjadi satu-satunya penjelas atas merek tersebut. Persepsi target akan otomatis tersambung dengan merek jika slogan disebutkan.
Slogan yang bermutu di susun dengan mempertimbangkan efek persepsi yang akan muncul. Jadi persyaratan diferensiasi dan penempatan –ositioning—menjadi absolut. Pertimbangannya menjadi kompleks mulai dari bahasa, pilihan kata, kemudahan penyebutan, kesamaan persepsi yang ditimbulkan, kekuatan makna dan daya dobrak yang dimilikinya. Anda lebih terpengaruh dengan kata-kata “Putih seputih kapur tulis atau Putih seputih mutiara”?
Slogan diciptakan bukan karena latah tetapi sebuah penterjemahan atas makna visi dan misi perusahaan yang diselaraskan dengan tujuan / sasaran pemasaran yang ditetapkan.
Contoh ke-latahan yang tidak bermutu adalah slogan “Kami memang beda”. Slogan itu jelas latah dan tidak lagi memiliki kekuatan menggerakkan. Jika anda membaca slogan itu, jelas anda akan berkata-kata dalam hati, “Beda atau sama itu urusanmu, apa untungnya buat aku?”
Untuk sekadar berlatih, lihatlah slogan-slogan bakal calon Gubernur Sumatra Utara. Apakah anda cukup “terganggu” untuk mendukungnya?

Mendidik
Pasar pada dasarnya adalah orang asing yang tidak paham apapun mengenai produk kita. Artinya kita harus mendidik mereka agar mengerti, menyetujui, simpati, syukur-syukur jatuh cinta dan pada akhirnya membeli dan mengkonsumsi/emnggunakan produk kita.
Mendidik konsumen dengan slogan yang tepat akan memudahkan proses itu sendiri. Lihatlah betapa Aqua bolak-balik dari awal selalu mengajari pasar akan pentingnya kesehatan, proses penciptaan produk hingga jaminan kualitas dengan mengaku memiliki saringan terbanyak dll.
Rinso meyakinkan semua orang bahwa berani kotor itu baik. Yakult dan Pocary Sweat juga mendidik pasar dengan gencar. Mereka memberikan edukasi bahwa tubuh tidak sekadar butuh air, tetapi unsur-unsur penting lain yang ada dalam kandungan produk mereka.

Berkembang,
Trend pasar terus berubah dan kecerdasannya juga berkembang. Itu yang menjadi dasar evaluasi apakah slogan kita tetap memimpin pasar atau semakin tertinggal dan dianggap barang tua yang sudah usang?
Saya tertarik mengamati Rinso yang terus berkembang mengikuti pasarnya. Anda ingat, “Mencuci Sendiri” lalu “Mencuci Lebih Bersih” dan seterusnya hingga kini sampai pada pernyataan yang sangat kontroversial, “Berani Kotor Itu Baik”.
Rinso jelas tetap terjaga dan selalu waspada terhadap perkembangan targetnya. Tidak salah kalau ia tetap menjadi TOP MINDED dan menempati papan atas penjualan produk ditergen.
Samperna Amild, mulai dengan HOW LOW CAN YOU GO pada saat mulai mendidik pasar akan arti pentingnya “kesehatan” bagi perokok dengan memunculkan produk yang paling rendah nikotin dan tar-nya. Begitu era reformasi bergulir, A Mild memanfaatkan situasi untuk tetap memimpin dengan slogan-slogan “berani” dengan kata dasar BUKAN BASA BASI. Dan seterusnya hingga pada usianya yang ke 10, rokok ini mengklaim bahwa pesaing lain hanya bisa mengekor dengan slogan The Others Only Can Follow. Bagaimana dengan anda?

Gagal
Tidak sedikit merek yang gagal slogannya, tetapi bukan berarti tertutup peluang untuk memperbaikinya. Dirjen Pajak Dianggap tidak cukup sukses dengan Orang Bijak Taat Pajak, tetapi kini mereka hadir dengan cukup cerdas, “Apa kata Dunia?”, walaupun masih harus diiringi sesi edukasi pemahaman tentang penggunaan pajak.
Sekarang giliran anda. Anda ingin dikenal secara pribadi sebagai apa? Atau produk anda ingin muncul sebagai apa? Perilaku apa yang anda harapkan dari publik atas pribadi atau produk anda? Segera ciptakan slogan anda dan segera publikasikan.
Slogan apapun tidak akan berguna dalam membantu pemasaran jika tidak dipublikasikan dengan benar. Pembicaraan publikasi akan saya bahas pada kesempatan yang lain, tetapi pastikan anda memiliki slogan yang bermutu dan menggerakkan.
Ingat, harus dikerjakan bukan dicoba. Orang bijak bilang, mencoba adalah gagal yang terhormat. Apalah arti kehormatan jika hanya untuk gagal!
Share:

9.1.08

Surat Untuk Winarto Kartupat (Manajemen Umum)


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 07 januari 2008

Pembaca yang Budiman, ijinkan saya sekali ini menuliskan pesan untuk seorang sahabat, Winarto Kartupat seorang seniman serba bisa, penuh keunggulan dan memiliki ‘mimpi’ untuk menjadi orang besar lalu terkenal sebelum mati menjemput.
Sengaja saya buat surat ini secara terbuka sehingga Winarto-Winarto yang lain bisa mendapat manfaatnya.

Asalamualaikum,
Kang Winarto ‘sedulurku’, mengulang ‘percakapan langit’ pekan lalu, aku ingin kembali mengingatkan bahwa kehebatan seorang seniman itu seperti kehebatan prajurit pejuang dan menjadi terkenal setelah mereka mati. Kalau kita harus berjuang untuk menjadi terkenal setelah kita mati apalah artinya buatmu? Apalah makna anumerta jika tidak dapat menikmatinya?
Aku setuju jika seniman juga manusia biasa yang butuh uang untuk hidup, syukur-syukur bisa menikmati kemasyurannya sebelum tutup usia. Dan itu juga tidak sedikit yang bisa melakukannya. Jika kamu seorang Peter Gonta, kamu bisa merekam musik jazzmu dengan biayamu sendiri. Jika kamu seorang Setiawan Jodi, kamu masih tetap bisa berkarya tanpa mikir biaya. Jika kamu seorang David Coperfiled, kamu masih tetap mempesona tanpa kelaparan.
Permasalahannya adalah sudah berapa lama kuasmu kamu goreskan, sudah berapa lama perkusimu menyajikan bunyi-bunyian indah dan sudah berapa lama bendera teater kamu kibarkan? Kemudian, apakah kamu sudah kaya karena itu? Jangan kamu kira aku mengajarimu untuk menjadi materialistis, tetapi selama kamu masih berpijak di bumi, kamu perlu uang. Itu pasti.
Jika aku bertanya, apakah kamu ingin sukses? Apakah kamu ingin terkenal? Apakah kamu ingin kaya? Apakah kamu ingin mapan? Sudah kupastikan jawabanya iya. Karena sukses, terkenanl, kaya dan mapan adalah impianmu yang tiada henti seperti kebulan asap dari 20 batang rokokmu setiap harinya.
Semua itu hanya pertanyaan dasar yang tak penting untuk dibahas. Yang sangat penting dan mendesak adalah pertanyaan, apa saja yang sudah dan sedang dikerjakan untuk mencapai mimpi-mimpimu itu?

Nyali besar dan Fokus
Kang Winarto sang maestro, lukisan pasirmu adalah roket yang sangat bagus untuk membawamu keliling dunia, menaklukan kancah perupa yang penuh intrik. Apakah roket itu sudah cukup terpelihara dengan sempurna?
Terlalu banyak bidang seni yang kamu gauli, membuatmu dangkal dan membiaskan perhatian pasar. Bolehlah kamu berfikir holistik tetapi pasar hanya memiliki satu lensa yang tidak bisa melihat dua objek yang berbeda bersama-sama. Jadi fokuslah pada satu pegangan hingga mengantarkanmu sampai kepuncak dunia. Ingatlah jika kamu menggali tanah yang lebar, maka galian dangkal yang akan kamu ciptakan. Tetapi jika kamu menggali tanah yang sempit, maka galianmu bisa sangat dalam.
Nyali besar sangat diperlukan untuk mencapai mimpi-mimpi itu. Nyali besar bukan untuk membunuh siapapun kecuali lasaknya pikiranmu sendiri yang serakah ingin menguasai segalanya. Berjihadlah ‘sedulur’, karena sebelum menguasai pengagummu, kamu harus terlebih dahulu menguasai dirimu sendiri. Jadilah raja atas dirimu. Merdekalah, jangan jadikan dirimu hamba atas angan-angan tak berujung itu. Carilah alat-alat bantu untuk memudahkan dirimua, mulai dari agenda, catatan komitmen dan alat ukur pencapaiannya.

Marketing
Sebelum kulanjutkan, coba betulkan dulu letak kaca matamu yang melorot itu. Sesudah kamu kuasai diri sendiri, kini waktunya kamu kuasai dunia. Sun ztu, Miyamoto Musashi, Hitler dan Van de kok pada jamannya, mereka memerlukan satu pasukan tentara dan ilmu perang. Jaman kita kini yang kita perlukan adalah ilmu manajemen pemasaran. Kamu harus terkenal, punya nama dan akhirnya karyamu bernilai uang yang tidak sedikit.
Jika belum terasa tamparanku, coba kamu ingat-ingat; kamu ini Winarto apa? Winarto pelukis? Winarto Perupa? Winarto pemain musik atau Winarto Aktivis Teater? Kamu ingin dikenal sebagai apa? Serba bisa memang bagus, tapi menyulitkan orang untuk mengingatnya.
Pilihlah salah satu yang bisa membuatmu terkenal karena kamu orang pertama yang mengerjakannya. Mengapa pertama? Karena kamu pasti tidak tahu siapa orang kedua yang berjalan dibulan, siapa orang kedua yang mencapai puncak Everest, siapa orang kedua yang menemukan Benua Amerika. Sekali lagi, jadilah kamu orang yang pertama.
Setelah itu pilihlah media-media yang pas untuk memajang nama dan karya besarmu. Dalam hal ini kamu hanya perlu stempel bernuansa kesan. Ingat kesan akan menciptakan persepsi dan dalam pikiran pasar persepsi adalah realita. Coba lihat betapa seseorang lulusan UGM akan merasa lebih tinggi saat berdampingan dengan seorang sarjana lulusan universitas swasta yang tidak terkenal. Walaupun sebenarnya mereka mendapat kurikulum yang sama dengan waktu belajar yang juga sama. Kini tentukan targetmu kapan bisa pameran di Milan, Paris, Tokyo dan London. Ingat dasar pemasaran produk yang awal adalah kemasannya, bukan isinya.

Sekarang
Rubah mimpimu mejadi sebuah strategic plan. Rencana strategi seperti Repelita jaman Soeharto. Segera tulis dan realisasikan setahap demi setahap. Jangan berhenti sebelum wajah berkumismu memenuhi sampul majalah TIME sebagai Man of the Year.
Ingat betapa kamu sangat setuju bahwa internet adalah media penting untuk mengantarkan dirimu mengapai puncak itu. Tetapi kenyataanya kamu sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk membuat sebuah domain dengan nama kamu, sehingga seluruh dunia bisa mengenalmu. Kamu bahkan tidak tahu kemana mendapatkannya, berapa harganya dan bagaimana cara kerjanya.
Berhentilah menyia-nyiakan waktu dengan membuangnya di asap rokok itu. Kerjakan saat ini juga, dari yang kecil-kecil hingga akhirnya menjadi besar. Gunung sekecil apapun tidak akan terlampaui jika kita tidak segera melangkah, step by step.
Jangan tunggu ada seorang dewa yang melamar untuk menjadi manajer pembimbingmu. Itu tidak pernah ada kecuali di sinetron-sinetron tv yang penuh khayalan. Segeralah bangkit dan jadi manajer untuk dirimu sendiri.
Ingat, kamu ingin benar-benar sukses atau sekadar merasa sukses.
Share:

2.1.08

Banyak Kendaraan Menuju Roma

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 31 desember 2007 di halaman bisnis dan teknologi

10.000 warna yang bisa dibedakan oleh mata kita sebenarnya berasal dari 5 warna dasar saja. Jutaan karya musik tercipta dari tangga nada yang hanya 7 not dasar saja. Jutaan menu makanan dengan rasa yang serbaneka tercipta dari 5 rasa dasar saja.
Dari warna dasar yang terbatas, nada dasar yang terbatas dan rasa dasar yang juga terbatas jika diolah dan dicampur maka jumlahnya sungguh tidak akan terbatas. Lalu apakah kini masih ada alasan untuk merasa bahwa produk kita terbatas sehingga berpotensi kalah dalam percaturan bisnis dengan pesaing? Apakah sekarang masih ada alasan untuk membiarkan konsumen merasa bosan dan lari kepada pesaing lain? Tentu tidak bukan?

Tidak terbatas
Tulisan ini saya tujukan untuk anda yang sedang mencari ide tambahan untuk pengembangan produk sekaligus menjawab pertanyaan saudara Andi Siregar di USU, Saudari Nindawati di Tebingtinggi dan Bapak Multazam di Medan.
Tentang warna, nada dan rasa sebenarnya sudah dibicarakan secara umum sejak jaman dahulu. Salah satunya oleh Miyamoto Musasi pada abad 16 atas inspirasi Sun Tzu dalam kitabnya legendarisnya (400 sebelum masehi).
Lalu secara praktikal, tahukan anda bahwa ubi kayu bisa diolah menjadi sekitar 120 jenis makanan yang berbeda nama, rasa, bentuk, warna dan ukuran? Tahaukan anda bahwa mie kuning bisa diolah menjadi 130 jenis makanan yang berbeda-beda? Tahukah anda bahwa tepung terigu bisa diolah menjadi 547 jenis makanan yang berbeda?
Gambaran lain yang perlu saya sampaikan adalah bahwa perusahaan telekomunikasi, pada dasarnya hanya menjual jaringan untuk komunikasi. Tetapi mereka bisa membuat serangkaian produk agar potensi pendapatannya meningkat, mengantisipasi poin-poin yang tidak efektif, memastikan terjadinya optimalisasi penjualan dam mendapatkan keuntungan yang maksimal dan berkelanjutan.
Aplikasi dalam bisnis Perusahaan Telekomunikasi; saat ini kita bisa melihat beberapa contoh. Misalnya dalam menjual pulsa, satu perusahaan telekomunikasi, biasanya memiliki 2 atau 3 jenis kartu yang diberi nama berbeda dengan keunggulan yang seperti dibeda-bedakan. Padahal produknya sama, jaringan yang dipakai sama dan fasilitas dasarnya juga sama.
Lalu dari dasar penjualan pulsa, mereka melebarkan sayap kepada layanan lain, seperti SMS, GPRS, sambungan internet, sambungan vidio, bahkan kini mereka menjual rekaman musik menjadi nada sambung pribadi. Mereka ada yang menambah produknya dengan beberapa fasilitas berita, info-info belanja, info ibadah dan berbagai macam produk lainnya.
Apakah anda pernah mendengar bahwa salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini, hanya memerlukan penjualan SMS selama 6 hari saja untuk memenuhi gaji ribuan karyawan mereka di seluruh Indonesia. Coba bayangkan seberapa besar penjualan dari produk-produk lainnya.
Kembali kepada penjualan pulsa, untuk produk pra-bayar, mereka memiliki banyak alternatif dengan voucher atau electronik. Voucher yang dijual juga bervariasi harganya, dari yang hanya Rp.10.000,- hingga Rp.100.000,- per lembarnya.
Apakah anda sudah mencium ide dasar yang saya contohkan diatas?
Bukti dan contoh diatas seharusnya memberikan inspirasi kepada kita untuk yakin bahwa kita bisa mengembangkan produk kita kepada pilihan-pilihan yang juga tidak terbatas. Penciptaan pilihan-pilihan itu sangat penting karena pangsa pasar kita memiliki karakater dan budaya membeli yang berbeda-beda. Untuk itulah kita harus memudahkan pelanggan kita sehingga mampu memenuhi hampir semua kebutuhannya dan seleranya dengan menciptakan beberapa pilihan dari produk yang kita tawarkan.

Analisa Produk Dasar
Langkah pertama yang penting adalah memastikan kita mengenal dengan baik produk dasar kita yang terbatas itu. Lalu koneksikan dengan pola kultural belanja dari pelanggan potensial kita. Budaya dan karakter belanja pelanggan kita akan menjelaskan kepada kita bagaimana mereka berbelanja, datang langsung atau via telephone?, membayar cash atau kredit? Membeli produk mahal atau produk murah? Berbelanja tahunan, bulanan, mingguan atau harian? Kapan mereka belanja? Pada pagi hari, siang hari, sore hari atau malam hari? Dan berbagai pertanyaan lain yang lebih detail.
Yang berikutnya adalah memastikan apakah produk kita memiliki potensi untuk dipecah-pecah sesuai dengan kebutuhan pelanggan? Apakah produk kita memiliki keunggulan saing? Produk mana yang paling laku dan mana yang paling tidak laku? Seberapa lama produk tersimpan di pajangan dan seberapa cepat perputarannya?

Memecah Produk
Pisahkan produk berdasarkan beberapa kriteria yang cocok, misal berdasarkan harga, karakter produk seperti ukuran, warna, dan bentuk, lalu berdasarkan kualitas, berdasarkan jam belanja atau lokasi.
Contoh pemecahan produk hotel misalnya, ada beberapa jenis kamar yang berbeda harga dan fasiliatasnya, lalu berbeda pada waktu ramai dan waktu sepi. Produk Padio dan TV yang menjual siaran, dibagi dalam jam tayang istimewa dan jam tayang biasa. Lalu mereka bagi-bagi produknya dalam bentuk acara yang berbeda-beda. Dan iklan yang dijual juga berbeda-beda.
Produk swalayan membedakan lokasi rak pajangan, antara yang mudah terlihat terjangkau dengan yang tidak mudah terjangkau. Produk properti membagi zona dan tipe bagunan. Produk otomotif membagi kelas berdasar kapasitas mesin dan kegunaannya dan lain sebagainya.

Menjual Pecahan
Mulailah membuat paket-paket panjualan dari pecahan-pecahan tersebut. Sering terjadi pecahan itu memberikan pesona harga yang sangat murah, sehingga bisa dijadikan bahan utama dalam berpromosi.
Menjual pecahan-pecahan tersebut akan memudahkan pembeli memilih sesuai dengan seleranya. Mereka seolah-olah diberikan kemerdekaan memilih. Tentu saja syarat dan kondisi transaksi ini berbeda-beda dan jelas aturannya.
Menjual dengan bagian-bagian tertentu memerlukan struktur harga dan pencatatan yang lebih banyak, promosi yang lebih gencar. Konsekuensi logisnya, kita bekerja sedikit lebih banyak, tetapi itu biaya yang layak untuk keuntungan yang lebih besar.
Yang pasti, bolehlah kita merasa memiliki produk yang terbatas, tetapi bukan berarti kita harus membatasi pikiran. Ingat selalu warna, rasa dan nada, mereka terbatas tetapi sangat mungkin menjadi yang tidak terbatas. Biarkan semuanya bercampur menjadi sebuah keindahan dan harmoni.
Share:

The Second Man(kepemimpinan)

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tgl 24 desember 2007 pada halaman bisnis dan teknologi

MOUNT EVEREST adalah puncak dunia, 8.848 meter DPL. Tenzing Norgay adalah seorang Sherpa (pemandu) yang paling akrab dengan Himalaya. Semua pendaki besar dunia mengakui, bahwa orang yang paling layak menjadi orang pertama yang mencapai puncak dunia adalah Tenzing Norgay. Pada tanggal 29 Mei 1953 jam 11.30 Sejarah mencatat Tenzing Norgay sebagai orang kedua yang menaklukan puncak dunia setelah Edmund Hillary. Sebuah prestasi ini menghantarkan Edmun Hillary mendapatkan gelar Kebangsawanan dari Ratu Inggris
Sesaat setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya:
Reporter : Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?
Tenzing Norgay : Senang sekali
Reporter : Andakan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest ?
Tenzing Norgay : Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia.
Reporter : Mengapa Anda lakukan itu?
Tenzing Norgay, “Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN nya”.

Sukses
Cuplikan kisah tersebut adalah “dongeng” wajib bagi petualang alam liar professional dimanapun di dunia ini. Kisah itu selalu menjadi inspirasi keteguhan hati, komitment, ketulusan kasih dan rasa hormat yang tinggi kepada jalan profesi demi sebuah Sukses.
Sukses adalah sebuah proses, bukan tujuan. Tercapainya sebuah keinginan adalah salah satu dari proses itu sendiri. Menjadi nomor satu adalah impian semua orang, konon berada diatas adalah sorga yang paling menyenangkan.
Kompetisi terjadi sejak manusia meninggalkan rahim ibunya. Ketika genderang perlombaan menuju puncak ditabuh, semua orang berusaha menapaki jenjang karirnya untuk mencapai puncak kesuksesan. Semua modal dan perlengkapan dipersiapkan, dari bekal pendidikan, rangkuman pengalaman, koneksi dan permainan perpolitikan kantor, sejumlah uang hingga berbagai hal irasional mengikutinya.
Pertanyaannya adalah, apakah semua orang harus menduduki posisi puncak? Lalu kapan seseorang harus meninggalkan posisi itu untuk digantikan oleh seseorang yang lain? Jika seseorang tidak sampai posisi puncak, apakah berarti gagal?

Pemimpin
Pemimpin apa? Apakah pemimpin secara struktural dengan sebutan jabatan Manajer, Direktur, presiden komisaris atau CEO? Atau kepemimpinan “terselubung” yang sukses “memimpin” orang-orang lain termasuk memimpin sang pemimpin demi tercapainya sebuah tujuan?
Dalam keyakinan saya, kepemimpinan sejati bukanlah karena kita menduduki jabatan pemimpin dan bisa mengendalikan bawahan. Itu hal biasa yang tidak istimewa. Karena semua bawahan pada dasarnya akan patuh dan hormat kepada atasannya.
Kepemimpinan sejati yang saya yakini adalah saat kita mampu dan bisa mengendalikan siapapun termasuk orang-orang yang menduduki jabatan diatas posisi formal kita. Disinilah potensi jiwa kepemimpinan ditantang. Keunggulan dari jiwa ini adalah kemampuan pengendalian diri untuk tidak selalu harus muncul dan terkenal. Kemenangan kepemimpinan seperti inilah yang saya sebut sebagai kemenangan absolut. Biarlah orang lain sekadar merasa menang tetapi kemangan sejati adalah milik seseorang yang berhasil menciptakan orang lain untuk mencapai kemenangan itu sendiri. Seperti kemenangan seorang Tenzing Norgay.
Pemimpin yang bisa menciptakan sebuah perintah sebagai ide “milik” bawahan, adalah pemimpin yang hebat. Ia menyadari benar bahwa bawahan memerlukan pengakuan dan ia tidak sangat perlu, karena ia dan orang-orang tahu bahwa ia adalah pemimpin yang sebenarya.

Mengendalikan pemimpin
Mengendalikan pemimpin adalah sebuah seni agar pemimpin formal kita mengikuti kehendak-kehendak kita. Ini adalah seni perang yang sangat indah. Hanya pejuang-pejuang sejati yang bisa mengerjakannya dengan baik.
Seni mengendalikan ini sangat mengasyikan, karena lawan yang kita hadapi bukanlah diri si pemimipin tetapi diri kita sendiri. Kita harus mampu menguasai diri untuk logowo menjadi orang pada urutan kesekian, lalu kita harus menyampaikan semua “perintah“ itu dengan halus dan menghindari pola-pola instruktif.
Yang paling pertama harus diyakini adalah bahwa semua gemerlap sukses adalah hak si pemimpin formal. Sukses kita adalah sukses pemimpin. Relakan itu terjadi. Jika kita tidak pernah rela dengan hal itu, simpanlah itu rapat-rapat dalam hati sampai tiba waktunya kita berkesempatan menjadi pemimpin formal itu sendiri.
Yang kedua, pahami mental dan karakter pemimpin formal itu, sehingga kita bisa dengan mudah “mengendalikannya”. Yang ketiga, harus diingat bahwa pemimpin juga manusia biasa yang pasti punya kelemahan. Untuk itu cara yang paling efektif mengendalikan pemimpin adalah dengan “meringankan” beban kepemimpinannya.
Yang keempat, berlakukan secara aktif. Jangan tunggu pemimpin memerintahkan sesuatu yang rutin kepada kita. Kerjakan hal itu sebelum si pemimpin meminta. Jika ada perintah untuk menyelesaikan suatu permasalahan, berikan ia beberapa pilihan penyelesaian. Biarkan seoalah-olah dia yang menentukan keputusan, karena kita tahu bahwa keputusan apapun itu adalah salah satu dari yang kita usulkan. Memberikan satu pilihan penyelesaian kepada atasan sangatlah berbahaya, karena ia akan berfikir lagi dan itu akan berakibat kepada penyelesaian yang berkepanjangan. Ingat, memilih lebih mudah daripada berfikir.
Yang ke lima, ingatlah benar-benar, bahwa pemimpin mempekerjakan kita untuk memudahkan pekerjaannya bukan membayar kita agar kita menyuruh dia selalu marah-marah memperingatkan kita.

Pemimpin sukses
Pemimpin sukses adalah pemimpin yang bisa membawa lembaga dan pengikutnya mencapai tujuan bersama serta mampu menciptakan pemimpin-pemimpin berikutnya. Pemimpin yang tidak memiliki pemimpin-pemimpin lanjutan adalah pemimpin yang egois dan ia tidak pernah benar-benar menikmati kesuksesan sejati. Pemimpin sukses adalah orang-orang yang menyadari bahwa ada “pemimpin” lain yang membawanya menuju posisi puncak tersebut.
Dunia menghormati Sir Edmund Hillary karena ketekunannya mewujudkan impian menjadi orang nomor satu, Sir Edmund Hillary menghormati Tenzing Norgay karena dengan tulus membantunya untuk menjadi orang nomor satu. Ketika orang-orang bertanya, kenapa dia memberi kesempatan Edmund Hillary untuk menjadi orang pertama? Dengan rendah hati dia menjawab: "If it is a shame to be the second man on Mount Everest, then I will have to live with this shame."
Share:

Blog Archive