it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

23.4.08

Hipnotis dan NLP : Dari Penyembuh Fobia, Percepatan Belajar hingga Kesaktian

Written by ronnyfr on 27 December 2006 – 5:56 pm - (Artikel ini pernah dimuat di http://www.pembelajar.com/, hasil wawancara antara Rab A. Broto dengan saya.) Seperti diketahui bahwa belakangan training tentang hipnotis, yang biasanya diembel-embeli istilah NLP, atau sebaliknya, seolah tak ada jenuhnya diiklankan di berbagai media cetak. Bila disimak hampir setiap hari ada saja koran atau majalah yang memuat iklan tentang seminar hipnotis dan NLP ini. NLP dan Perkembangannya Beberapa sumber menyatakan mempelajari NLP mirip dengan mempelajari manual otak manusia. Kadang disebut sebagai people skill technology atau juga psychology of exellence. Prinsipnya adalah bagaimana mempelajari cara kerja otak agar seseorang bisa menjadi tuan dan bukan menjadi budaknya. Sedangkan penggagas NLP–Richard Bandler yang pakar matematika dan programming komputer dan John Grinder yang profesor linguistik–merumuskan NLP sebagai the study of subjective experience. Keduanya mengembangkan dasar-dasar ilmu dan teknis penerapannya sejak tahun 1970-an. Neuro merujuk pada otak atau pikiran dan bagaimana orang mengorganisasikan kehidupan mentalnya. Lingusitic tentang bahasa dan bagaimana orang menggunakannya dalam kehidupan. Sedangkan programming tentang urutan proses mental yang berpengaruh pada perilaku dalam mencapai tujuan dan bagaimana memodifikasinya. Awalnya pencipta NLP mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang amat sukses di bidangnya. Misalnya Fritz Perls (Gestalt Psychotherapist), Virginia Satir (terapis keluarga), Gregory Bateson (antropolog dan sibernetik) dan Milton Erickson (hipnoterapis). Metode yang digunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut ilmu meniru (modelling). Setelah bertahun-tahun memodel, keduanya berhasil mengembangkan teknik mental yang sangat berguna bagi dunia terapi. Oleh keduanya ilmu ini dikembangluaskan untuk meniru berbagai keunggulan manusia yang berkiprah di berbagai bidang. Dalam perkembangannya NLP dipopulerkan oleh Anthony Robbins sehingga dikenal di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Nama besar yang tercatat menggunakan NLP untuk meraih kesuksesannya adalah Bill Clinton, Andre Agassi, Lady Di, Nelson Mandela dan lain-lain. Singkat cerita dari dua tokoh pendiri itu selanjutnya berkembang sejumlah “aliranâ€Â besar NLP dengan modifikasi dan sebutannya. Sejak aliran Neuro Associative Conditioning (NAC) Anthony Robbins, New Code NLP dari Grinder, hingga pengembangan NLP ke arah DHE (Design Human Engineering) oleh Bandler yang menyebut alirannya sebagai Pure-NLP. Selain itu ada Michael Hall dan Bob Bodenhamer mengembangkan NLP menjadi Neuro Semantics (NS) atau Meta NLP. Yang terakhir ini biasanya digolongkan aliran akademis. Tokohnya akademis NLP lainnya adalah pendiri NLP University (NLPU) Robert Dilts. NLPU yang berkedudukan di California merupakan salah satu komunitas NLP terbesar dari ratusan komunitas yang ada di dunia. Sedangkan dedengkot (pengembang) NLP jumlahnya hingga kini kurang dari 100 orang. Selain nama yang telah disebut ada Steve Andreas, Judith De-Lozier, Leslie-Cameron Bandler, Joseph O’Connors, John LaValle dan lain-lain. Bicara aliran NLP tidak dimaksudkan untuk memperbandingkan mana yang terbaik, namun untuk merunut arah pengembangan yang cenderung spesifik. Setahu saya awal pertama kali masuk Indonesia sekitar tahun 1998-an, oleh beberapa orang. Saat ini saya lihat beragam sekali background pelatih NLP di Indonesia, beberapa orang Indonesia lulusan NLPU, ada yang murid langsung Bandler, ada yang lulusan NAC, selain itu ada yang mengusung berbagai aliran. NLP mulai dikenal luas di publik Indonesia sekitar 2003-an. Saya sendiri menggabungkan NLP dengan berbagai aliran hypnotism secara ekstensif. Ada lagi yang menggabung NLP dengan Mind Power yang tidak secara jelas mengusung aliran yang mana. Tentu saja masih ada individu lain yang saya tidak terlalu mengenalnya namun juga pelatih NLP. Mereka semua menawarkan program seminar atau pelatihan ke publik berbentuk aplikasi NLP, dan ada yang menangani permintaan dari perusahaan. Secara umum permintaan training NLP ini sedang dan terus meningkat pesat hingga beberapa tahun mendatang. RE dan RI Yang terpenting adalah memahami soal model. Penjelasannya gambar manusia dengan otaknya. Apa pun yang masuk ke lima indera, baik lewat hidung, mata, telinga, lidah, tangan, akan diubah menjadi sinyal listrik (biolistrik) ke sistem syaraf dan dibawa ke otak. Fakta yang ada di luar diri disebut realitas eksternal (RE) yang dalam istilah NLP disebut territory. Begitu masuk lewat indera, RE diubah menjadi realitas internal (RI) yang dalam psikologi disebut persepsi atau sudut pandang, dan lain lain. Contoh handphone (HP) di tangan saya. Saat melihat HP ini yang terlintas pada Anda mungkin kata jorok karena keypad-nya sudah jelek. Sedangkan saya berpikir ini HP kesayangan, kuno tapi masih enak dipakai. RE-nya sama. Tapi bagaimana kita merepresentasikan realita itu dalam pikiran masing-masing berbeda. Itulah RI yang dalam istilah NLP disebut map atau mental map atau peta pikiran. Jadi saat disebut map is not the territory artinya RI bukan RE. Nah ironisnya mazhab psikologi di awal perkembangannya (Psikoanalisis, Behaviorisme), gagal memahami hal ini. Bahwa manusia tidak bereaksi terhadap RE, tapi dia bereaksi terhadap RI-nya sendiri. Baru psikologi mahzab keempatlah yang memahami fenomena ini. Mahzab Behaviorisme tidak berhasil menjelaskan hal ini. Dan NLP awalnya muncul merupakan reaksi terhadap behaviorisme yang menganggap manusia seolah tak punya daya/pilihan untuk memberikan respons berbeda pada suatu stimulus yang sama. Contoh lain saya teriak ‘asu’ ke Anda. Realitanya cuma ujaran satu kata itu. Tapi begitu masuk pikiran, tergantung Anda mengartikannya. Kalau RI Anda mengatakan ‘Ronny cuma bercanda’, Anda akan tertawa. Kalau RI Anda mengatakan, ‘ke orang lebih tua kok bilang begitu kurang ajar’, Anda akan marah. Marah tidaknya Anda berarti tidak tergantung ujaran ‘asu’ tadi. Tapi tergantung bagaimana Anda memaknai ucapan itu. Nah ketika RE diberikan makna melalui suatu proses tertentu, maka itu kemudian menjadi RI. Jadi map is not the territory, peta bukanlah yang sebenarnya atau RI bukanlah RE. Sedihnya, manusia sering tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya bereaksi (berespon) terhadap RI, tapi mereka mengira reaksi (respon) mereka adalah terhadap RE. Dulu kita sering mendengar istilahsuccess is the mind game, sukses adalah permainan pikiran. Maksudnya it doesn’t matter with RE, yang penting RI-nya. Efektif tidak orang itu memahami RE? Ini basic NLP. Kalau Anda mau mengubah dunia apa yang dilakukan paling dulu? RI-nya to. Begitu mengubah RI, cara pandang Anda terhadap dunia berubah. Kebanyakan yang sakit jiwa adalah orang-orang yang selalu mengira RI-nya adalah RE. Orang sehat seperti kita kadang sadar kadang enggak. Kalau orang gila bener-bener RI dikira RE. Wong edan RI dikira RE. Kalau orang sukses adalah orang yang bisa memilih untuk membuat (menciptakan pilihan) RI secara sadar terhadap suatu RE. Core NLP adalah menguasai berbagai tools mengenai RI. Intinya nguplek-uplek RI, milik sendiri ataupun punya orang lain. Makanya di buku NLP Vol 1, Bandler menyebut bahwa NLP adalah the study of subjective experience atau NLP adalah kajian tentang pengalaman subjektif atau RI. Jadi model NLP itu intinya Anda belajar menguasai pengalaman subjektif sehingga menjadi efektif dalam melihat dunia. Pikiran juga lebih efektif karena Anda menjadi master atau tuan atasnya. Modelling itu meniru, mengambil esensi excellency atau keunggulan orang atau diri sendiri agar bisa direplikasi di waktu dan tempat berbeda. Contoh kongkrit Misalnya, dalam hidup Anda pernah sangat percaya diri. Terus Anda diminta presentasi di depan BOD (Board Of Director) nggak pede. Saya (dengan menggunakan NLP) bisa membantu ‘mengambil’ pede Anda saat sangat percaya diri itu, saya bawa dan di-install di waktu lain di saat mau presentasi itu Anda bisa mengakses lagi pede tadi. Itu namanya Anda melakukan modelling diri sendiri. Memodel orang lain juga bisa. Kita bisa meniru Walt Disney, ataupun memodel orang lain yang masih hidup. Bahkan pionir NLP Robert Dilts dalam artikelnya di http://www.nlpu.com/ menulis cara untuk dapat memodel keunggulan Yesus dalam hal wisdom (buka http://www.nlpu.com/Articles/article5.htm). Esensi modelling adalah menduplikasi bakat dengan berbagai tools. Tools dalam NLP banyak sekali, salah satunya adalah hipnotis. Dalam kaitan ini NLP relatif tidak mengakui adanya bakat, yang supranatural sekali pun. Bakat adalah strategi atau urutan proses mental yang efektif dan bisa ditiru. Orang bisa punya bakat, yang seolah-olah turunan, karena dibiasakan atau terbiasa melihat bapaknya atau entah siapa. Secara unconscious hal itu menularkan pola pemikiran yang efektif. Perkakas yang lain Perkakas yang lain antara lain klarifikasi, anchor, reframing dan metafor. Ada ratusan tools, teknik atau pola-pola yang siap pakai. Nah kebanyakan orang di dunia itu cuma belajar tools tapi mengira sudah mengetahui NLP. Diajari teknik presentasi dengan NLP, setelah itu mengklaim saya sudah tahu NLP. Sedihnya kalau mereka merasa gagal, dibilang NLP nggak jalan. Ibaratnya orang yang baru membaca buku psikologi praktis terus merasa sudah tahu psikologi, kalau gagal dia bilang ‘Aalah psikologi nggak jalan kok’. Padahal yang diketahui sebenarnya hanya satu teknik di psikologi. Tools ini hanya hasil akhir paling praktis yang paling gampang dilihat. Memang ini penting, tapi kalau itu saja yang dilihat terus menyimpulkan ‘NLP tidak jalan’ itu kan sama saja bohong. Jika diibaratkan di bidang teknik, maka orang yang seperti itu hanya jadi semacam tukang saja. Sedangkan bila menguasai ilmu NLP kita bisa jadi orang yang mampu menciptakan semua perkakas yang akan dipergunakan oleh para tukang. Kalau hanya belajar tools, kita hanya jadi tukang batu atau tukang kayu. Singkatnya belajar NLP adalah bahkan belajar menciptakan perkakas baru. Perbandingannya diberi pancing dengan diberi ikan. Esensi yang terpenting itu saja dan selebihnya merupakan sejumlah terminologi dan teknik yang Anda harus dengan cepat menguasai. Saat belajar tools NLP, orang juga juga sering bingung karena banyaknya istilah, seperti di disiplin lain, yang satu sama lain kadang artinya bertabrakan atau malah tak berhubungan sama sekali. Misalnya anchor, yang artinya jangkar, dipakai sebagai istilah lain untuk picu. Istilah through time dalam Time-Line Therapy sering membingungkan jika disejajarkan dengan istilah in time, istilah submodality dalam NLP sering diperbandingkan dengan meta-modality dalam Neuro Semantic dan lain-lain. Kaitannya dengan proses belajar Saat Anda belajar apapun, lumrahnya tanpa sadar melalui empat tahap. Unconscious-incompetent, kedua conscious-incompetent, lalu conscious-competent dan terakhir unconcious-competent. Kalau tidak bisa nyetir, Anda tidak tahu apa tepatnya yang tidak bisa, Anda tidak tahu apa yang Anda tidak mampu (unconscious-incompetent). Saat seseorang mulai belajar nyetir, dibilang harus begini begitu lho, mindah gigi persneling, melihat kaca spion, ngerem dan lain-lain, akhirnya Anda jadi sadar kalau tidak kompeten (conscious-incompetent). Lantas Anda belajar secara bertahap untuk bisa nyetir. Saat baru bisa nyetir mobil pasti akan ingat langkah demi langkah sejak hidupin mesin, nginjak kopling, masukin gigi. Inilah kita sadar kalau kita mampu (conscious-competent), itu kan kondisi paling stres. Skill yang conscious itu kan paling tidak enak. Apapun yang baru kita kuasai, kita harus mikir dulu, kagok sebelum melakukannya. Setelah itu lama-lama menjadi unconscious-competent, ilmu itu sudah dikuasai bahkan di bawah sadar. Jadi sudah seperti otomatis dilakukan. Jadi biasanya orang belajar melibatkan kesadaran (conscious), padahal goal-nya supaya apa yang dipelajari bisa dilakukan secara unconscious. Nggak mau kan nyetir mobil tapi conscious terus? Lewat NLP atau hipnotis tahap belajar itu bisa loncat, tanpa melalui tahap dua dan tiga, tak melibatkan kesadaran. Kan enak. Tahu-tahu kita bisa. Ini dinamakan unconscious installation, sekalipun di dalam aliran NS-NLP kurang diakui. NLP juga membantu orang bisa melakukan pemercepatan belajar (accelerated learning), caranya dengan: mengoptimalkan ke lima indera supaya terlibat sehingga kedua belahan otak terlibat, menggunakan anchor, mengupayakan state of mind tertentu (meta state, dll), menggunakan bahasa hipnotik dan seterusnya. Jadi accelerated learning bukan hanya ilmu menggunakan musik untuk mengiringi belajar saja. Itu bisa berlaku saat belajar yang bersifat konseptual maupun keterampilan atau skill. Yang namanya skill dalam istilah NLP adalah mind to body atau mind to muscle. Apa yang kita pikirkan sudah ‘membodi’ dan masuk di ‘kesadaran’ otot. Nah ini di unconscious juga dikelolanya. Bisa dikatakan semua mekanisme di tubuh kita ini pada prinsipnya kan dikelola di unconscious. Tubuh kita itu kan kata orang seperti gunung es: 12% alam sadar, 88% alam bawah sadar. Karena tubuh itu dikelolanya pada alam bawah sadar itulah teknik hipnotis bisa dimanfaatkan secara optimal. Kaitannya dengan Kemampuan Supranatural Pertama ada baiknya kita pilahkan dunia ‘ngelmu’ dalam dua kategori, pertama olah Kekuatan Supranatural/Linuwih dan kedua penggunaan Kekuatan Pinjaman dari mahluk lain (dunia lelembut). Nah, disini kita hanya membahas yang pertama saja, ilmu-ilmu linuwih itu. Ilmu tersebut biasanya diperoleh dengan suatu lelaku atau diberikan oleh orang lain. Semua teknik menurut saya bisa dilihat dari states management (mengelola kondisi pikiran). Dalam dunia ngelmu , cara states management ini dilakukan melalui puasa mutih dan ritual lainnya. Dalam NLP kita mengakses STATES ini dengan cara lain yang lebih modern, misalnya dengan anchor, dan lain-lain. Di sini kita mulai mengerti, kenapa NLP sering disebut demistifying tools. Beberapa orang yang belajar NLP untuk mengolah kemampuan ini sering salah paham, mengira NLP adalah klenik atau dianggap aliran New Ages belaka. Suatu saat saya ingin mengumpulkan rekan-rekan yang suka klenik dan penggemar mind-power untuk sehari khusus diskusi terarah. Sebab saya sangat yakin bahwa ilmu yang aneh-aneh itu akan terjelaskan dengan NLP dan bisa diduplikasikan dengan lebih mudah. Misalnya ada seorang teman yang dulu saya anggap apa yang dilakukannya tidak masuk akal (linuwih). Tapi sekarang kita bisa meniru beberapa kemampuannya tanpa menggunakan ritual, mantra, puasa apapun. Sebutlah seorang teman (paranormal) jika mau menolong membantu ‘menyembuhkan’ orang dengan mempraktikkan tenaga prana atau tenaga dalam. Dia bilang awalnya cuma dengan membayangkan sosok Semar. Ketika sudah terbayang jelas dan dia merasa jadi Semar, tahu-tahu kemampuan itu keluar dengan sendirinya. Saat saya mau menerapkan itu ternyata tidak bisa, karena Semar bukan tokoh favorit yang bermakana apapun bagi saya. Setelah kita kaji, maka terlihat disini bahwa Semar itu hanyalah anchor atau picu untuk membangkitkan state of mind tertentu. Begitu dia membayangkan Semar, maka dia bilang Semar itu menimbulkan state : rasa welas-asih yang tak terbatas. Di sini berarti saya harus mencari simbol lain yang lebih cocok. Suatu simbol yang jika saya bayangkan akan meng-generate rasa ‘welas asih’. Bagi saya, membayangkan anak sendiri atau orang tua saya justru akan membangkitkan rasa itu di pikiran dan mental saya. Hal semacam ini bisa dipakai juga untuk tujuan memperoleh kemampuan linuwih lainnya. Semuanya hanyalah soal ‘ cracking’ atau ‘ unlocking the code’ . Bagaimana nge-crack bakat metafisikanya seseorang, sehingga bisa diduplikasi. Jadi sebenarnya adalah teknik mengetahui bagaimana sesuatu itu diketahui polanya. Intinya itu. Begitu ketahuan polanya ya selesai. Semua orang bisa mempunyai kemampuan metafisik itu. Itu sudah banyak dibuktikan misalnya dengan menduplikasi kharisma, seperti yang dilakukan Bandler dengan pelatihan Charisma Enhancement, untuk kemampuan public speaking/trainer. Pembangkitan Reiki dengan Hypnosis Sebagai contoh, dalam suatu kelas training NLP, saya menghipnotis 30 orang. Sebenarnya saya hanya sedikit bisa reiki tapi tak bisa membangkitkan (meng-attune) kemampuan itu pada orang lain. Saat mereka terhipnotis, dengan memberi instruksi untuk membayangkan aliran energi ini itu dan sebagainya, eh, tiba-tiba mereka bisa menyalurkan reiki. Dalam memahami fenomena hipnotis diatas, harus disadari yang ’sakti’ bukanlah si penghipnotis. Yang ’sakti’ itu imajinasi orang-orang yang dihipnotis karena berhasil berkonsentrasi dan membayangkan pembangkitan kemampuan reikinya. (kata sakti, saya beri tanda kutip). Yang tidak berhasil mengimajinasikan ya tidak bangkit. Hypnosis Penghipnotis itu pada dasarnya cuma fasilitator. Saat saya menghipnotis Anda, yang terjadi saya memfasilitasi proses internal Anda. Begitu proses berjalan, Anda menghipnotis diri Anda sendiri. Jadi yang namanya hipnotis itu tidak ada, yang ada self hypnotic . Saya memfasilitasi proses internal Anda untuk sampai terhipnotis. Artinya tanpa saya, Anda bisa menghipnotis diri sendiri. Dan sekilas hipnotis itu memang lebih mudah dibantu orang lain, melalui cara percaya pada orang lain. Hipnosis modern (western) itu berbasis pada ilmu komunikasi dan ini berbeda dengan sihir / mejik yang menggunakan kekuatan di luar diri sendiri (mistik). Beberapa pihak sering menyebut cara mejik / sihir ini sebagai ilmu gendam**. Ini agak salah kaprah, salah tapi sudah kaprah. Yang dibicarakan di NLP adalah hipnosis yang merupakan kemampuan internal seseorang, yakni dalam menggunakan kekuatan komunikasi melalui kata-kata dan bahasa tubuh. Soal Fobia Sekarang kita bicara tools. Fobia itu apa? Fobia itu selalu terjadi saat high atau peak emotion of experience. Saat emosinya puncak, di titik ini visualnya atau auditorialnya melihat sesuatu dan terkunci (locked). Orang yang fobia sama tikus karena saat melihat penginderaannya seperti terkunci pada objek itu. Kalau dalam istilah NLP momen itu disebut V/K association atau visual kinesthetic association. Stimulus visual menimbulkan reaksi kinestetik tak terkontrol atau kepanikan luar biasa. Kemudian ketika RE-nya (tikusnya) sudah tidak ada, dikageti “Hi.. tikus!” saja, atau membayangkan tikus saja, dia sudah ketakutan dan megap-megap. Jadi membayangkan tikus pun takut. Membayangkan itu letaknya di RI kan. Begitu kita bisa mengubah RI-nya -tidak dengan nasehat, tapi dengan terapi- reaksi ketakutan itu akan berubah. Ibaratnya komputer, saat programnya diedit, di-save dan software-nya di-upload ulang, kan sudah berubah. Dari berbagai pelatihan bisa diuji bahwa ternyata memori dalam pikiran itu ada warnanya. Selama ini kita jarang menyimak soal ini. Biasanya memori yang kurang penting/tidak penting disimpan dalam bentuk ingatan hitam-putih, sedangkan memori yang penting disimpan dalam modus berwarna. Setiap orang beda-beda karena ada yang sebaliknya: yang tidak penting justru berwarna. Itu disebut sebagai blue-print .. Orang fobia tikus, biasanya memori-nya warna-warni dan associated . Prinsip penyembuhan fobianya adalah mengubah struktur memorinya. Kalau gambarnya semula berwarna-warni, jadikan hitam-putih sehingga jadi tidak penting. Jika semula associated, maka ubahlah menjadi dis-associated. Begitu pula kalau sebaliknya. Dan terapinya memang sesederhana itu. Asyik ya? He.. he.. Kadangkala instruksinya ya di-zoom out gambarnya, digerakkan, didiamkan, terus dibuat lukisan, seperti itu. Bandingannya file yang kita simpan di komputer yang pasti punya atribut, yaitu hidden, archive, read only dan systems. Kalau hidden-nya kita aktifkan, file-nya jadi tak kelihatan. Kalau di-off, jadi kelihatan. Kalau read only -nya dihidupkan tak bisa di-delete. Kan gitu. Memori manusia juga seperti itu. Warna hitam-putih. Bergerak atau diam. Jauh atau dekat. Atas atau bawah. Itu disebut submodality. Itulah yang merepresentasikan bagaimana Anda mengorganisasi memori Anda. Saat pengorganisasiannya diubah, sifat memorinya pun berubah. Tentu saja harus dipermanenkan. Jadi saat tikus dijadikan hitam-putih warnanya terus diberi anchor dan dipermanenkan, begitu melek lagi, tikus tadi sudah bukan objek menakutkan. Itulah prinsipnya editing memori. Prinsip dasar mengubah submodality ini terutama untuk menyembuhkan orang trauma yang kalau dilakukan dengan benar akan mengubah drastis reaksinya. Begitu pula pada orang yang ingin berhenti merokok juga dengan mengubah submodality memorinya. Ini untuk ingatan yang positif maupun negatif karena semua memori punya content dan konteks atau struktur. Fobia itu content-nya negatif yaitu cemas. Tapi konteks atau strukturnya positif. Positifnya : sekali dilihat, ingat seumur hidup. Masalahnya yang dilihat yang jelek. Kalau itu content-nya diganti gimana? Nah mekanisme photoreading adalah seperti kejadian fobia ini. Sekali suatu buku dibaca maka akan diingat seumur hidup. Enak banget karena orang bisa ingat isi sebuah buku dari depan sampai belakang tanpa perlu membacanya halaman demi halaman. Kenyataannya ada orang berkemampuan memori fotografis seperti ini. Belajar photoreading dengan NLP adalah dengan cara memodel orang berkemampuan seperti memory-photografic itu, sehingga setiap orang biasa juga akan bisa melakukannya tanpa harus punya bakat . === )** Catatan tentang gendam. Ada banyak simpang siur tentang gendam. Ada yang mengatakan gendam adalah hipnotis ada pula yang mengatakan adalah sihir. Keduanya adalah benar, maksudnya kedua “kubu” yang bertentangan itu sebenarnya membiarakan hal berbeda namun menggunakan istilah yang yang sama. Misal kata “buku”, yang satu bilang buku adalah batasan ruas jari tangan, sedangkan yang satunya buku adalah sekumpulan kertas yang dijilid. Keduanya adalah benar, membicarakan hal yang berbeda namun istilahnya sama. Kesimpangsiuran semacam ini disebabkan belum dibakukannya istilah-istilah mistik semacam ini dalam bahasa Indonesia. Adapun pihak yang mengartikan “gendam” adalah ilmu mistik untuk tujuan membuat seseorang tidak sadar. Biasanya ilmu ini bisa diperoleh melalui laku tertentu, tirakat, azimat, amalan (mantra). Alirannya bisa putih maupun hitam, intinya adalah ini bukan ilmu komunikasi seperti hipnotis, namun penggunaan “daya linuwih “. Saya rasa boleh saja mereka menyebutnya sebagai gendam juga, meskipun sebenarnya akak salah kaprah. Di sisi lain, beberapa pihak menyebut “gendam” sebagai bagian hipnotis, ini juga benar. Gendam adalah salah satu teknik hipnosis yang menggunakan shock, pemutusan pola (pattern interrupt), dan pembingungan suyet (distraction/confusion ) sebagai jalan induksi. Istilah gendam yang ini menjadi populer semenjak banyak kejahatan yang menggunakan cara ini di jalan-jalan.
Share:

NLP Presuppositions : Agar Hidup Lebih Mudah

Written by ronnyfr on 18 February 2007 – 11:27 pm

Kita boleh saja meyakini bahwa watak kita ditentukan oleh komposisi alam semesta pada saat lahir, boleh pula meyakini bahwa karena terlahir pada tahun / bulan / tanggal tertentu maka hidupnya akan sial, juga tidak dilarang untuk meyakini bahwa kita tidak cocok punya karier ini dan bisnis itu. Semua boleh saja jadi keyakinan kita, lha wong ada cukup banyak bukti yang mendukung, namun jangan pula lupa bahwa banyak pula bukti yang tidak mendukung.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah : apakah keyakinan ini berguna untuk dianut? Apakah keyakinan ini akan membawa anda pada kemudahan dalam “mengarungi samudra kehidupanâ€Â di dunia ini atau justru akan mempersulit?


NLP menganjurkan kita untuk meyakini beberapa hal, yang jika diyakini sepenuh hati maka kehidupan kita akan menjadi lebih mudah dan lebih menyenangkan. Hal-hal yang sebaiknya diyakini itu disebut sebagai NLP presupposition, atau lebih mudah dimengerti sebagai asumsi.

NLP presupposition adalah sejumlah ide utama dalam NLP yang merupakan sintesa dari hasil pemikiran orang-orang yang di model di awal perkembangan NLP, antara lain Virginia Satir, Firtz Pearls, dan Milton Erickson. Sintesa in diperoleh berdasarkan modelling yang dilakukan oleh sepasang co founder NLP (Bandler dan Grinder) pada ketiga orang diatas.

Seperangkat pemikiran ini bisa dilihat sebagai semacam belief system yang akan membuat para penganutnya memiliki suatu cetak biru sukses di area NLP. Sebagai seorang praktisi NLP, meyakini dan menjadikan presuposisi ini sebagai belief system merupakan suatu kebutuhan penting, dan bisa dijadikan sebagai suatu sikap sebagai seorang praktisi.

Jika Anda beruntung pernah belajar NLP-Neuro Semantic, maka anda bisa mengubah presuposisi ini menjadi lebih membumi (melebur dalam diri Anda) dengan menggunakan Mind to Muscle Pattern. Suatu pola teknik NSNLP yang mengubah suatu ide (mind) menjadi perilaku (muscle).

1. The map is not the territory.
Realitas internal (peta mental mengenai dunia) bukanlah realitas eksternal (dunia itu sendiri).

2. People respond according to their map of reality
Orang bereaksi menurut realitas internalnya sendiri

3. There is no failure, only feedback. Feedback is simply information
Tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah umpan balik. Umpan balik hanyalah informasi biasa.

4. The meaning of the communication is the response it elicit
Makna (kualitas) komunikasi diukur dari hasil respon yang diperoleh, bukan dari maksud.

5. If what you are doing is not working, do something different
Jika yang dilakukan tidak menghasilkan, lakukan secara berbeda

6. You can not not communicate
Anda tak bisa tidak berkomunikasi

7. People have all the resources they need to achieve their desired outcome. They just need access, strengthen and sequence them
Orang sudah punya semua sumberdaya yang diperlukan untuk meraih hasil. Tinggal diakses, diperkuat dan diurutkan.

8. Every behavior has a positive intention
Perilaku seseorang didorong oleh suatu niatan yang berguna

9. People are much more than behavior
Manusia lebih dari sekedar jumlah perilakunya

10. The mind and the body are interlinked and affect each other
Pikiran dan tubuh saling berterkaitan dan saling mempengaruhi.

11. Having choice is better than not having choice
Memiliki pilihan lebih baik dari tidak memilikinya

12. Modelling successful performance leads to excellence
Meniru orang sukses membawa kita ke ekselen

13. It’s never too late to have a happy childhood
Tidak ada kata terlambat untuk punya masa kecil yang berbahagia

14. Resistance indicates the lack of rapport
Penolakan mengindikasikan kurangnya rapport
Share:

Blitz-Reading : Membaca Secepat Kilat


Written by ronnyfr on 22 February 2007

Saya tidak tahu, apakah Anda termasuk orang yang ingin bisa membaca dengan kecepatan fantastik dalam hitungan selembar buku kurang dari sedetik, laiknya seperti memotret atau memfotocopy? Sebagai catatan, tentunya yang saya maksudkan ini berbeda dan jauh lebih cepat dari speed reading. Benar-benar mirip melakukan fotokopi atau memotret halaman bacaan. Dalam cara speed reading, kita masih membaca, dalam arti huruf / kata / kalimat masih dibaca, hanya saja dengan kecepatan cepat. Sedangkan yang saya maksud di sini adalah bukan lagi membaca, namun semacam mendownload, memfotokopi ke pikiran.


Inilah Blitz-Reading (BR), teknik mendownload informasi yang melibatkan pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconsious mind) secara simultan. Berbeda dengan membaca cara biasa, termasuk speed reading, yang cenderung hanya melibatkan pikiran sadar saja.

Tidak terlalu banyak orang yang tahu bahwa pikiran bawah sadar memiliki potensi yang amat besar dalam hal meng-akuisisi suatu pengetahuan dan ketrampilan, bahkan jauh besar daripada kemampuan pikiran sadar. Perlu dicatat bahwa hampir-hampir semua ketrampilan yang kita miliki sebenarnya selalu pada dataran unconsious competence (kompetensi bawah sadar). Semisal saat menyetir mobil, tentunya kita tidak berminat kalau setiap menyetir harus terus menerus mengingat apakah pedal kopling sudah diinjak dengan kaki kiri dan seterusnya. Kita lebih senang melakukan semuanya secara otomatis alias unconsious competence. Capek sekali rasanya jika seluruh ketrampilan berada di level conscious competence, alias kompetensi di pikiran sadar.

Blitz-Reading memanfaatkan kehebatan pikiran bawah sadar ini dalam hal membaca, dilakukan dengan cara memby-pass proses masuknya informasi yang masuk ke mata agar langsung menuju ke bawah sadar, tanpa melewati pikiran sadar yang penuh dengan filter. Melalui Blitz-Reading informasi di download secara mental-fotografis, bukan dibaca. Seperti kerja sebuah alat scanner atau mesin fotokopi yang mencopy bahan langsung selembar, bukan kata perkata. Beberapa orang mengira teknik ini dilakukan dengan cara memfokuskan / mengkaburkan fokus mata seperti melihat gambar stereogram, bukan seperti itu cara kerjanya.
Blitz-Reading memerlukan 3 tahap sebagai berikut :

1. Persiapan
2. Blitz-Reading
3. Konversi

TAHAP 1 : PERSIAPAN
a. Accelerated Learning dan Anchoring
Proses BR juga harus dilakukan dalam kondisi accelerated learning (percepatan belajar), yakni kondisi ideal untuk membaca karena tubuh fisik kita rileks namun pikiran kita siaga. Pada kondisi pikiran ini, kita akan mudah untuk memahami secara keseluruhan, lebih mengingat, dan memanggil kembali yang pernah dibaca. Latihannya sangat mudah, prinsipnya adalah menurunkan gelombang otak pada kondisi alpha/theta, yakni gelombang pikiran yang lebih rendah dari kondisi biasa kita sehari-hari.

Ada berbagai cara menurunkan gelombang itak, yang paling mudah, murah dan meriah adalah dengan cara relaksasi progresif, yakni mengendorkan/merilekskan seluruh otot tubuh, lakukan dengan tersenyum, damai dan bernafas panjang namun santai (tidak dipaksakan panjang). Berlatih selama beberapa saat, akan membuat Anda mencapai titik seperti mengambang atau memasuki dimensi lain (silahkan dicoba saja, anda akan mengerti sendiri). Setelah bisa mencapai kondisi ini, buatlah anchor sehingga mudah diakses lagi.

Beberapa orang memilih menggunakan cara brain entrainment , yakni stimulasi gelombang otak secara langsung dengan menggunakan suara-suara tertentu melalui telinga kanan dankiri secara berbeda frekuensi. Ada berbagai software semacam ini yang tersedia di pasar, mulai yang berformat khusus dan harus diputar di komputer, ada juga yang menjual alat khusus langsung siap pakai, sedangkan yang paling praktis (dan murah) adalah yang berformat mp3. Dengan format mp3, maka anda bisa memutarnya melalui mp3 player biasa.

Saran saya, berhati-hati dalammemilih software semacam ini, karena anda bermain-main dengan gelombang otak. Baca review dan komentar pemakai lain, cri sertifikat keamanannya. Yang terpenting, jika saat memakai terasa pusing, segera berhenti. Salah satu software yang sangat terkenal karena merupakan pelopor adalah brainwave generator, temukan di www.bwgen.com, silahkan baca review-nya sebelum memutuskan menggunakan. Ada edisi gratisnya, dan banyak ‘preset’ ciptaan para penggemarnya, hati-hati dalam memilih. Jika Anda sukses dengan cara ini, dan berhasil memasuki level accelerated learning, segeralah buat anchor agar lebih mudah diakses lagi.

Saat hendak menggunakan untuk Blitz-Reading, piculah anchor tersebut sehingga anda memasuki tahap ‘accelerated learning’. Lantas secara perlahan bayangkan/rasakan mata Anda berpindah ke atas telinga anda. Caranya dengan menyentuh kepala anda menggunakan jari tangan, tepat di kepala bagian atas telinga (bagian yang biasanya diimajinasikan ada tanduk, hehehe). Lihatlah dari atas seolah mata anda ada disana, jika anda lakukan hal ini dengan benar akan merasakan suatu pergeseran medan penglihatan. Anda akan melihat dengan pheripheral viewing (PV), dengan suatu sensasi meluasnya bidang pandangan anda.

Kondisi ini akan mempermudah Anda mengelola informasi jauh lebih banyak dari biasanya, karena kedua jenis pikiran kita terlibat. Saat Anda gunakan untuk membaca buku, maka anda akan bisa melihat tangan yang memegangi buku itu, karena luasnya medan penglihatan Anda.

b. Menentukan tujuan, dan gunakan afirmasi
Tahap ini begitu sederhana kelihatannya namun sangat penting, karena pikiran bawah sadar perlu diberi arah, sebab jika tidak ia akan berjalan sendiri. Memberi arah pada pikiran dilakukan dengan Menyatakan Tujuan secara Jelas dan Spesifik (dalam NLP disebut sebagai welformed outcome). Tujuan spesifik ini sebaiknya diucapkan sebagai suatu afirmasi. Ada dua buah afirmasi penting dalam BR ini, afirmasi pertama adalah mengenai tujuan, afirmasi kedua adalah mengenai Keyakinan Sukses dalam menjalani proses BR. Ingat afirmasi ini akan sukses jika pikiran anda berada pada kondisi alpha / theta, sehingga tidak direcoki alam sadar yang kritis.

Saya berikan beberapa contoh dari 2 jenis afirmasi ini, silahkan pilih, dan palingbaik afirmasinya adalah buatan anda sendiri.

Afirmasi Goal :

Setelah selesai melakukan BR, saya ingin mengerti bacaan ini terutama dalam hal logika berpikir penulisnya
Saya ingin melakukan BR agar mengerti dan mengingat fakta spesifik dari ilmu fisika ini.
Dan sebagainya.
Afirmasi Keyakinan Sukses :

Saat melakukan Blitz-Reading, saya yakin dapat berkonsentrasi dengan baik dan stabil.
Semua yang saya Blitz-Reading akan masuk ke ingatan jangka panjang pada pikiran bawah sadar saya, sehingga siap dipergunakan kapanpun.
c. Mendapatkan Kerangka Pikiran


Pikiran bawah sadar sangat familier dengan pola (pattern), dengan demikian anda perlu memberikan kerangka pikiran buku tersebut pada pikiran bawah sadar, agar struktur/pola informasinya jelas. Kerangka pikiran diperoleh paling mudah dengan cara mencerna beberapa bagian dari buku secara cepat (2-5 menit), sekedar dibaca dan mendapatkan perasaan mengerti atas susunan pokok pikiran buku tersebut.

Judul dan sub judul
Tulisan di sampul dan punggung belakang buku
Daftar isi (kerangka)
Halaman pertama dan akhir
Kata / konsep kunci biasanya dicetak dalam kotak
Teks yang dicetak tebal atau italic)
Gambar, ilustrasi, tabel atau grafik
Indeks, terutama pada kata yang sering muncul di banyak halaman
Kesimpulan

TAHAP 2 BLITZ-READINGa. Masuki kondisi pikiran fotografis-mental


Kondisi fotografis-mental berguna untuk menyiapkan hubungan langsung dengan pikiran bawah sadar bagi masuknya informasi visual. Dilakukan bukan dengan cara memfokuskan mata secara tajam atau mengkaburkannya. Juga bukan dengan cara membaca ide kalimat, ataupun membaca sekelompok kata sekaligus seperti speed reading. Perlu digaris bawahi, fotografis-mental bukanlah membaca, boleh diulangi sekali lagi bukanlah membaca. Jadi Anda tidak membaca apa-apa dari sebuah buku pada tahap ke 2 ini. Sebab kalau kita memfokuskan diri pada kata-kata, justru akan berurusan dengan pikiran sadar, padahal yang kita butuhkan adalah kemampuan pikiran bawah sadar.



Caranya adalah dengan melihat keseluruhan dari sebuah buku terbuka, laiknya anda memotretnya. Pandanglah pada keseluruhan halaman putihnya dengan pandangan yang santai dan meluas, hindari melihat pada kata-katanya. Lakukan dengan pandangan yang lembut, maka anda akan melihat halaman secara lebih jernih dan lebih dalam, seolah-olah 3 dimensi.

Ada berbagai cara dalam mengakses fotografis-mental ini, saya hanya akan mengulas satu saja yang paling mudah yakni sistem X. Perhatikan buku yang terbuka tepat di tengah lipatannya, secara santai perluas medan penglihatan sehingga dapat melihat ke empat sudut buku sekaligus. Perlembut pandangan anda sehingga huruf cetakan tidak dalam fokus yang tajam. Perhatikan tepian kosong dan ruangan putih di antara paragraf dan bayangkan ada sebuah garis silang (X) imajiner yang menghubungkan ke empat sudut buku.

Jika dilakukan dengan benar, maka di tengah lipatan buku (batas ke 2 halaman), akan muncul sebuah halaman sempit yang berujung bundar (seperti gulungan kertas ditengah buku). Jika pada awal tidak terlihat, hal itu biasa saja. Hal yang terpenting adalah tetap memperhatikan ke empat sudut buku dan garis silang (X) penghubung imajinernya, serta menghidari membaca kata-katanya. Ingat melihat gulungan kertas imajiner bukanlah ukuransukses, itu hanya salah satu side effect saja.

b. Ritme dan Postur Tubuh
Lakukan proses membalik halaman secara cukup cepat dan stabil, dengan cara tangan kiri memegangi buku, sementara tangan kanan membalik halamannya. Jangan cemas dengan halaman yang tidak terbuka (halaman dobel), toh anda akan bisa mengulanginya lagi nanti. Serahkan dan percayakan saja pada alam bawah sadar, meminjam kata Anthony Robbins : “trust your unconscious mind”.

Lihat langsung kedua halaman dengan pandangan lembut, selama satu detik atau kurang. Pandangan anda memperhatikan empat sudut buku dan garis imajinernya (X) serta ruangan putih dan bukan kata-katanya. Beberapa orang bahkan melakukannya dengan buku terbalik, agar tidak tergoda membacanya.

Postur ideal dalam Blitz-Reading adalah duduk tegak, letakkan buku bersudut miring sehingga terlihat tegak lurus dari mata anda. Tempelkan ujung lidah di belakang gigi atas (sepert mengucapkan huruf ‘L’), dan tarik sedikit dagu anda ke dalam. Tulang belakang usahakan lurus agar energi mengalir lebih baik ke otak anda. Usahakan kedua kaki menapak di lantai dan tidak bersilangan. Jaga nafas anda agar tetap dalam dan rata (jangan dipaksa, atu agar alami).

c. Akhiri dengan Perasaan ‘berhasil’Kecenderungan kritis dari pikiran sadar -secara alami- akan mempertanyakan apa hasil Blitz-Reading? Kok seperti nggak terasa apa-apa, nggak jadi ngerti , dan seterusnya…. Hindari mengikuti pemikiran ini agar informasi yang sudah anda download tidak tersabotase secara percuma.

Hal terbaik yang bisa anda lakukan pada alam sadar adalah, memintanya untuk mengakhiri proses in dengan suatu rasa ‘berhasil dengan baik’. Hal ini akan memberikan suatu jalur neurologis awal bagi otak anda agar memiliki akses ke informasi yang sudah di Blitz-Reading. Gunakan afirmasi berikut (jaga tetap dalam alpha), atau anda buat afirmasi Anda sendiri :

“Saya yakin sudah berhasil memasukkan informasi ke alam bawah sadar saya dengan baik. Sekarang silahkan tubuh dan pikiran saya memproses pemikiran ini dan akan saya gunakan dengan baik setelahnya.”

TAHAP 3 KONVERSI
Konversi dalam Blitz-Reading adalah memindahkan dan mengubah (konversi) pemahaman bawah sadar Anda ke level sadar. Proses Konversi setelah Blitz-Reading berbeda dengan proses ‘memanggil ulang’ (recall) apa yang sudah anda pernah baca dengan cara biasa (cara normal). Teknik Konversi didisain untuk merangsang ulang dan memperkuat hubungan sirkuit syaraf yang baru saja terbentuk setelah Blitz-Reading .

Beberapa orang dikaruniai pengalaman suatu konversi spontan, suatu proses konversi yang terjadi dengan sendirinya tanpa stimulasi khusus. Jadi semacam efek ‘Aha!’, pengalaman secara tiba-tiba mendapatkan solusi dari problem yang sudah menghantui berhari-hari. Konversi spontan bisa terjadi karena kita sudah memiliki pola syaraf efektif dalam otak yang kita rekam saat Blitz-Reading. Dan karena suatu pemicu (alami) yang pas, maka pola itu muncul ke permukaan secara spontan.

Perlu dicatat, sekalipun terasa bak mukjizat dan sangat menggairahkan, namun mengalami Konversi secara spontan tidak menunjukkan bahwa orangnya memiliki suatu ‘bakat’ tertentu atau ‘keunggulan’ tertentu dibanding orang yang tidak mengalaminya. Ingat semangat NLP, jika ada orang yang bisa melakukan sesuatu, maka kita juga bisa melakukannya. Kita semua sudah punya semua sumberdaya, tinggal mengakses, memperkuat dan mengurutkannya.

Nah, penjelasan berikut adalah mengenai Konversi manual. Yakni suatu cara sengaja untuk mempercepat perangsangan ulang otak, mengkonversi informasi yang ada di pikiran bawah sadar untuk dipindahkan ke pikiran sadar.

a. Lakukan Pengendapan
Kita perlu memberikan kesempatan pada alam bawah sadar untuk melakukan sistematisasi / pembuatan pola dan jalur sirkuit saraf. Secara sederhana sebut saja sebagai pengendapan di pikiran bawah sadar. Setidaknya 15 - 30 menit cukup bagi yang terlatih, namun yang paling baik adalah mengendap dalam tidur, khususnya tidur di malam hari. Saat pengendapan, kita memberikan waktu pada otak untuk mengintegrasikan informasi baru dengan jalur sirkuit syaraf yang sudah ada. Lakukan juga afirmasi sebelum anda melakukan pengendapan ini, ingat selalu melakukan afirmasi dalam kondisi alpha / theta.

b. Memberikan rangsangan pada pikiran
Perangsangan pada pikiran, akan berefek seperti kita menowel-nowel agar pikiran menggeliat dan terpicu. Cara terbaik memberikan rangsangan pikiran adalah dengan cara pengajuan pertanyaan pada diri sendiri, sambil membangkitkan rasa ingin tahu :

Hmmm, apa yang akan terjadi jika saya menguasai buku ini sepenuhnya?
Emmm, apa nilai pentingnya buku ini bagi saya ya?
Akan seru jika saya ingat, apa point utamanya nih?
Wow, apa saja manfaat dari bahan ini?
Oke, apa yang perlu saya ketahui dari buku ini agar ujian saya berhasil?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menstimulasi rasa ingin tahu dan mengirimkan rangsangan pada sistem penyimpanan bawah sadar yang terdalam. Membuka sumbat saluran-saluran informasi dan menyalurkan jawabannya kepada anda. Stimulasi ini akan membuat ujung-ujung sinaps syaraf kita memancarkan sinyal listrik untuk membuat sambungan baru.

Pada level ini jangan terlalu berharap mendapatkan jawaban seketika. Bahkan jangan sekali-kali MEMIKIRKAN DENGAN SENGAJA apa jawabannya, karena bisa membuat frustasi. Ajukan saja pertanyaan dengan penuh rasa ingin tahu, hindari memikirkan jawabannya. Jawaban yang kita harap akan muncul dengan sendirinya, bukan dengan jalan dianalisis, seperti ‘pop up’ dalam pikiran.

Sebagai variasi bisa juga minta beberapa kawan yang tertarik isi buku itu untuk berdiskusi, atau mintai beberapa kawan untuk mengetes Anda dengan berbagai pertanyaan sembari mereka membaca buku itu. Lakukan secara fun dan santai. Jangan cemas kalau belum bisa menjawab, tujuannya hanya membuat pancingan saja ke alam sadar.

c. Lakukan scanning
Buka buku perlahan, ikuti kata hati anda, jika ada halaman atau kalimat yang terasa menggerakkan hati, baca bagian itu. perlakukan secara penting. Baca satu atau dua kalimat sampai anda merasa bahwa anda sudah menerima apa yang anda inginkan dari bagian itu. Kemudian lanjutkan membuka-buka buku itu lagi sampai menemukan rasa tergerak lagi.

d. Membuat Peta Pikiran
Secara umum, kita mengenal dua jenis cara mencatat, pertama secara linear seperti di sekolah, kedua menggunakan peta pikiran ala Tony Buzan. Peta pikiran ala Tony Buzan ini amat baik untuk dipergunakan sebagai alat Konversi. Peta pikiran dibuat dengan menggunakan kerangka pikiran (kata kunci) yang sudah anda catat di bagian awal BR ini, gambarlah mulai dari tengah kertas, gunakan pena warna, dan gunakan simbol/gambar jika perlu.

Sebagai variasi, pada bagian awal saat anda memahami kerangka sebelum BR, anda bisa langsung membuat peta pikiran ini dulu. Setelah selesai dan sudah melalui pengendapan, gambarlah ulang peta pikiran itu lantas bandingkan untuk saling melengkapi.

PENUTUP
Nah, komplit sudah ulasan mengenai Blitz-Reading, untuk lebih puas Anda bisa mengikuti pelatihannya. Sebenarnya ada satu hal yang saya khawatirkan, akan banyak penulis dan toko buku mengeluh karena bukunya tidak laku. Kita akan melihat orang-orang berjongkok di toko buku melakukan BR setiap hari.

Satu ide yang penting di akhir tulisan ini, beberapa kali lakukan BR pada kitab suci dari agama Anda. Jangan ditunda, setiap ada waktu kosong atau menjelang tidur, BR-lah kitab suci Anda. Pilih kitab suci yang ada terjemahan dalam bahasa Indonesia. Nah, pada suatu saat Anda tengah dirundung masalah, ambil kitab suci itu. Tentukan niat ingin mendapat jawaban persoalan apa, lantas lakukan scanning (membuka cepat) dengan cara rileks. Hasilnya? Silahkan dipraktekkan dan sharing pada bagian komentar di bawah ini.
Share:

The Secret dan “Alam Semesta Sebagai Hologram”

Written by ronnyfr on 16 June 2007 – 10:07 am
http://ronnyfr.com/index.php/2007/06/16/the-secret-dan-alam-semesta-sebagai-hologram/

Periode tahun 1997 - 1999, saya lupa tepatnya kapan, yang jelas saya masih bekerja di suatu perusahaan, adalah awal mula saya menjadi pembelajar NLP melalui literatur-literatur. Saya belum belajar melalui training apapun mengenai NLP, jadi yang saya lakukan adalah mencari buku dan mencari sumber melalui internet yang waktu itu masih cukup langka. Saat itu, saya berkorespondensi dengan salah satu pakar fisika di ITB menggunakan email. Saya memforward salah satu tulisan mengenai Pengantar NLP padanya, dan beliau membalas balik mengirimkan artikel berjudul Alam Semesta Sebagai Sebuah Hologram. Dalam dataran wacana, artikel itu cukup menggetarkan paradigma saya, sekalipun pada sat itu pengaruhnya dalam dunia realitas saya belum terasa.

Aneh, tadi malam saya mendapati di maibox nongol suatu email yang berisikan artikel yang sama. Tidak pernah dituliskan secara jelas siapa yang menulis artikel ini, yang jelas artikel ini menarik sekali jika Anda senang memikirkan mengenai hakekat alam semesta, prinsip spiritualitas dan hal-hal bathin.

Sudah pernah saya ceritakan di artikel yang dimuat di pembelajar.com bahwa sejak dulu saya senang mendalami prinsip-prinsip yang relevan dengan LOA (Law Of Attraction) secara serius. Saya mengenal konsep-konsep sejenis LOA ini sudah sangat lama, semenjak masih mahasiswa di Yogyakarta, di mana kita belajar bahwa melalui kekuatan bathin bisa dilakukan proses materialisasi. Waktu itu, saya sempat merasa mentok, karena jarang sekali, saya mengalami kesuksesan dalam men-create materialisasi. Waktu itu, saya akhirnya berpikir bahwa diperlukan suatu bakat tertentu dan suatu ilmu bathin yang amat tinggi untuk dapat mempraktekkan hal-hal semacam LOA ini.

Yang menarik adalah, setelah cukup lama mempelajari NLP, dan khususnya mendalami modelling (proses penduplikasian keunggulan manusia), saya dipertemukan dengan konsep The Secret yang mengusung prinsip yang sama (LOA). Saya katakan menarik karena dengan pemahaman NLP saat ini, konsep LOA menjadi lebih mudah dipahami. Banyak sekali hal-hal yang saya anggap dulu adalah berkah, bakat, perlu “ngelmuâ€Â, kegaiban dan seterusnya menjadi gampang dimengerti dan diduplikasi / direplikasi. Hadirnya email ini lagi semalam dalam mailbox saya seolah mengingatkan saya untuk mengaitkan lagi pemahaman mengenai The Secret dengan konsep Alam Semesta Sebagai Hologram.

Silahkan Anda simak artikel berikut, yang ditulis di awal tahun 90-an, Anda akan menemui bahwa dengan melihat Alam Semesta Ini sebagai Suatu Hologram, maka konsep The Secret (LOA) menjadi lebih mudah dijelaskan. Silahkan dikunyah secara nikmat bagian yang menjelaskan mengenai kuanta / kuantum. Berikut ini artikelnya :

ALAM SEMESTA SEBAGAI HOLOGRAM
(Penulis Tidak Diketahui)

Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang merasa temuannya itu mungkin akan mengubah wajah sains.

Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama lain.

Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.

Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna. Untuk memahami mengapa Bohm sampai membuat pernyataan yang mengejutkan ini, pertama-tama kita harus memahami sedikit tentang hologram. Sebuah hologram adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto.

Ketika pelat itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan gelap. Tetapi ketika foto itu disoroti oleh sebuah sinar laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ. Sifat tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar itu secara lengkap (tetapi lebih kecil).

Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa, setiap bagian sebuah hologram mengandung semua informasi yang ada pada hologram secara keseluruhan. Sifat “keseluruhan di dalam setiap bagian” dari sebuah hologram, memberikan kepada kita suatu cara pemahaman yang sama sekali baru terhadap organisasi dan order. Selama sebagian besar sejarahnya, sains Barat bekerja di bawah prinsip yang bias, yakni bahwa cara terbaik untuk memahami fenomena fisikal –baik seekor katak atau sebuah atom– adalah dengan memotong-motongnya dan meneliti bagian-bagiannya. Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan itu. Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil.

Pencerahan ini menuntun Bohm untuk memahami secara lain temuan Aspect. Bohm yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik mampu berhubungan satu sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang memisahkan mereka adalah bukan karena mereka mengirimkan isyarat misterius bolak-balik di antara satu sama lain, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi. Bohm berkilah, bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, partikel-partikel seperti itu bukanlah entitas-entitas individual, melainkan merupakan perpanjangan [extension] dari sesuatu yang esa dan fundamental.

Agar khalayak lebih mudah membayangkan apa yang dimaksudkannya, Bohm memberikan ilustrasi berikut: Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisinya. Ketika Anda menatap kedua layar televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan itu.

Kalau yang satu berbelok, yang lain juga membuat gerakan yang berbeda tapi sesuai; jika yang satu menghadap kamera, yang lain menghadap ke suatu sisi. Jika Anda tidak menyadari seluruh situasinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa kedua ikan itu saling berkomunikasi secara seketika, tetapi jelas bukan demikian halnya.

Menurut Bohm, inilah sesungguhnya yang terjadi di antara artikel-partikel subatomik dalam eksperimen Aspect itu. Menurut Bohm, hubungan yang tampaknya “lebih cepat dari cahaya” di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.

Partikel-partikel seperti itu bukanlah “bagian-bagian” yang terpisah, melainkan faset-faset dari suatu kesatuan (keesaan) yang lebih dalam dan lebih mendasar, yang pada akhirnya bersifat holografik dan tak terbagi-bagi seperti gambar mawar di atas. Dan oleh karena segala sesuatu dalam realitas fisikal terdiri dari apa yang disebut “eidolon-eidolon” ini, maka alam semesta itu sendiri adalah suatu proyeksi, suatu hologram. Di samping hakekatnya yang seperti bayangan, alam semesta itu memiliki sifat-sifat lain yang cukup mengejutkan. Jika keterpisahan yang tampak di antara partikel-partikel subatomik itu ilusif, itu berarti pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam segala sesuatu di alam semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.

Elektron-elektron di dalam atom karbon dalam otak manusia berhubungan dengan partikel-partikel subatomik yang membentuk setiap ikan salem yang berenang, setiap jantung yang berdenyut, dan setiap bintang yang berkilauan di angkasa. Segala sesuatu meresapi segala sesuatu; dan sekalipun sifat manusia selalu mencoba memilah-milah, mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi berbagai fenomena di alam semesta, semua pengkotakan itu mau tidak mau adalah artifisial, dan segenap alam semesta ini pada akhirnya merupakan suatu jaringan tanpa jahitan.

Di dalam sebuah alam semesta yang holografik, bahkan waktu dan ruang tidak dapat lagi dipandang sebagai sesuatu yang fundamental. Oleh karena konsep-konsep seperti lokasi’ runtuh di dalam suatu alam semesta yang di situ tidak ada lagi sesuatu yang terpisah dari yang lain, maka waktu dan ruang tiga dimensional –seperti gambar-gambar ikan pada layar-layar TV di atas– harus dipandang sebagai proyeksi dari order yang lebih dalam lagi.

Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.

Apakah ada lagi yang terkandung dalam superhologram itu merupakan pertanyaan terbuka. Bila diterima –dalam diskusi ini– bahwa superhologram itu merupakan matriks yang melahirkan segala sesuatu dalam alam semesta kita, setidak-tidaknya ia mengandung setiap partikel subatomik yang pernah ada dan akan ada — setiap konfigurasi materi dan energi yang mungkin, dari butiran salju sampai quasar, dari ikan paus biru sampai sinar gamma. Itu bisa dilihat sebagai gudang kosmik dari “segala yang ada”.

Sekalipun Bohm mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui apa lagi yang tersembunyi di dalam superhologram itu, ia juga mengatakan bahwa kita tidak mempunyai alasan bahwa superhologram itu tidak mengandung apa-apa lagi. Atau, seperti dinyatakannya, mungkin tingkat realitas superholografik itu “sekadar satu tingkatan”, yang di luarnya terletak “perkembangan lebih lanjut yang tak terbatas.”

Bohm bukanlah satu-satunya peneliti yang menemukan bukti-bukti bahwa alam semesta ini merupakan hologram. Dengan bekerja secara independen di bidang penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas Stanford, juga menerima sifat holografik dari realitas. Pribram tertarik kepada model holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alih-alih tersimpan dalam suatu lokasi tertentu, ingatan tersebar di seluruh bagian otak.

Dalam serangkaian penelitian yang bersejarah pada tahun 1920-an, ilmuwan otak Karl Lashley menemukan bahwa tidak peduli bagian mana dari otak tikus yang diambilnya, ia tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum dioperasi. Masalahnya ialah tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme penyimpanan ingatan yang bersifat “semua di dalam setiap bagian” yang aneh ini.

Lalu pada tahun 1960-an Pribram membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasan yang telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan sebuah hologram. Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung dalam lima set Encyclopaedia Britannica).

Demikian pula telah ditemukan bahwa di samping sifat-sifatnya yang lain, hologram mempunyai kapasitas untuk menyimpan informasi — hanya dengan mengubah sudut kedua sinar laser itu jatuh pada permukaan pelat film, dimungkinkan untuk merekam banyak gambar berbeda pada permukaan yang sama.

Telah dibuktikan bahwa satu sentimeter kubik pelat film dapat menyimpan sebanyak 10 milyar bit informasi. Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik. Jika seorang teman minta Anda mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran ketika ia menyebut “zebra”, Anda tidak perlu tertatih-tatih melakukan sorting dan mencari dalam suatu file alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai kepada suatu jawaban. Alih-alih, berbagai asosiasi seperti “bergaris-garis”, “macam kuda”, dan “binatang dari Afrika” semua muncul di kepala Anda dengan seketika.

Sesungguhnya, salah satu hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi-silang dengan setiap butir informasi lain– ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh karena setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu sama lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik dari alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi. Penyimpanan ingatan bukan satu-satunya teka-teki neurofisiologis yang lebih dapat dijelaskan dengan model otak holografik Pribram.

Teka-teki lain adalah bagaimana otak mampu menerjemahkan serbuan frekuensi-frekuensi yang iterimanya melalui pancaindra (frekuensi cahaya, frekuensi suara, dan sebagainya) menjadi dunia konkrit dari persepsi manusia. Merekam dan menguraikan kembali frekuensi adalah sifat terunggul dari sebuah hologram. Seperti hologram berfungsi sebagai semacam lensa, alat yang menerjemahkan frekuensi-frekuensi kabur yang tak berarti menjadi suatu gambar yang koheren, Pribram yakin bahwa otak juga merupakan sebuah lensa yang menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk secara matematis mengubah frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra menjadi persepsi di dalam batin kita. Sejumlah bukti yang mengesankan mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk menjalankan fungsinya.

Sesungguhnya, teori Pribram makin diterima di kalangan pakar neurofisiologi. Peneliti Argentina-Italia, Hugo Zucarelli, baru-baru ini memperluas model holografik ke dalam fenomena akustik. Menghadapi teka-teki bahwa manusia dapat menetapkan sumber suara tanpa menggerakkan kepalanya, bahkan jika mereka hanya memiliki pendengaran pada satu telinga saja, Zucarelli menemukan prinsip-prinsip holografik dapat menjelaskan kemampuan ini. Zucarelli juga mengembangkan teknologi suara holofonik, suatu teknik perekaman yang mampu mereproduksi suasana akustik dengan realisme yang mengagumkan. Keyakinan Pribram bahwa otak kita secara matematis membangun realitas “keras” dengan mengandalkan diri pada masukan dari suatu domain frekuensi juga telah mendapat dikungan sejumlah eksperimen. Telah ditemukan bahwa masing-masing indra kita peka terhadap suatu bentangan frekuensi yang jauh lebih lebar daripada yang dianggap orang sebelum ini. Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa sistem penglihatan kita peka terhadap frekuensi suara, bahwa indra penciuman kita sebagian bergantung pada apa yang sekarang dinamakan “frekuensi osmik”, dan bahkan sel-sel tubuh kita peka terhadap suatu bentangan luas frekuensi.

Temuan-temuan seperti itu menandakan bahwa hanya di dalam domain kesadaran holografik saja frekuensi- frekuensi seperti itu dipilah-pilah dan dibagi-bagi menjadi persepsi konvensional. Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa apa yang ada “di luar sana” sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?

Secara sederhana, realias obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi. Kita ini sebenarnya adalah “pesawat penerima” yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu.

Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik, dan sekalipun banyak ilmuwan memandangnya secara skeptik, paradigma itu menggairahkan sementara ilmuwan lain. Suatu lingkungan kecil ilmuwan –yang jumlahnya makin bertambah– percaya bahwa paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai sains.

Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik. Dalam suatu alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat holografik itu. Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Khususnya, Grof merasa bahwa paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan “kesadaran yang berubah” [altered states of consciousness].

Pada tahun 1950-an, ketika melakukan penelitian terhadap anggapan bahwa LSD adalah alat penyembuhan psikoterapi, Grof mempunyai seorang pasien wanita yang tiba-tiba merasa yakin bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna pada sisi kepalanya.

Yang mengejutkan Grof ialah bahwa, sekalipun wanita itu sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal itu, suatu percakapan dengan seorang ahli zoologi belakangan menguatkan bahwa pada beberapa spesies reptilia tertentu bagian-bagian berwarna dari kepala memainkan peran penting untuk membangkitkan birahi. Pengalaman wanita itu bukan sesuatu yang unik. Selama penelitiannya, Grof bertemu dengan pasien-pasien yang mengalami regresi dan mengenali dirinya sebagai salah satu spesies dalam deretan evolusi. Tambahan pula, ia mendapati bahwa pengalaman-pengalaman seperti itu sering kali mengandung informasi zoologis yang jarang diketahui yang belakangan ternyata akurat. Regresi ke dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi teka-teki yang ditemukan Grof. Ia juga mempunyai pasien-pasien yang tampak dapat memasuki alam bawah sadar kolektif atau rasial. Orang-orang yang tidak terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman yang lain adalah orang-orang yang memberikan uraian yang meyakinkan tentang perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan lampau.

Dalam riset-riset lebih lanjut, Grof menemukan bentangan fenomena yang sama muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika]. Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalaman seperti itu tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, Grof menyebut fenomena itu sebagai “pengalaman transpersonal”, dan pada akhir tahun 1960-an ia membantu mendirikan cabang psikologi yang disebut “psikologi transpersonal” yang sepenuhnya mengkaji pengalaman-pengalaman seperti itu.

Sekalipun perhimpunan yang didirikan oleh Grof, Perhimpunan Psikologi Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology], menghimpun sekelompok profesional yang jumlahnya semakin bertambah, dan telah menjadi cabang psikologi yang terhormat [di kalangan sains], selama bertahun-tahun Grof maupun rekan-rekannya tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka saksikan. Tetapi semua itu berubah dengan lahirnya paradigma holografik.

Sebagaimana dicatat Grof baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh. Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains “keras” seperti biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak menghasilkan kesadaran.

Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan perwujudan dari otak — termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita yang kita tafsirkan sebagai fisikal. Pembalikan cara melihat struktur-struktur biologis seperti itu menyebabkan para peneliti mengatakan bahwa ilmu kedokteran dan pemahaman kita mengenai proses penyembuhan juga dapat mengalami transformasi berkat paradigma holografik ini. Jika struktur yang tampaknya fisikal dari badan ini tidak lain daripada proyeksi holografik dari kesadaran, maka jelas bahwa masing-masing dari kita jauh lebih bertanggung-jawab bagi kesehatan diri kita daripada yang dinyatakan oleh pengetahuan kedokteran masa kini.

Apa yang sekarang kita lihat sebagai penyembuhan penyakit yang bersifat “mukjizat” mungkin sesungguhnya disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam kesadaran yang pada gilirannya mempengaruhi perubahan-perubahan dalam hologram badan jasmani. Demikian pula, teknik-teknik penyembuhan baru yang kontroversial, seperti visualisasi, mungkin berhasil baik oleh karena dalam domain pikiran yang holografik gambar-gambar pada akhirnya sama nyatanya dengan “realitas”. Bahkan berbagai vision dan pengalaman yang menyangkut realitas yang “tidak biasa” dapat dijelaskan dengan paradigma holografik.

Dalam bukunya “Gifts of Unknown Things”, pakar biologi Lyall Watson menceritakan pertemuannya dengan seorang dukun perempuan Indonesia yang dengan melakuan semacam tarian ritual, mampu melenyapkan sekumpulan pepohonan. Watson mengisahkan, sementara ia dan seorang pengamat lain terus memandang perempuan itu dengan takjub, ia membuat pepohonan itu muncul kembali, lalu melenyapkannya dan memunculkannya lagi beberapa kali berturut - turut. Sekalipun pemahaman saintifik masa kini tidak mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa seperti itu, berbagai pengalaman seperti ini menjadi lebih mungkin jika realitas “keras” tidak lebih dari sekadar proyeksi holografik.

Mungkin kita sepakat tentang apa yang “ada” atau “tidak ada” oleh karena apa yang disebut “realitas konsensus” itu dirumuskan dan disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas. Jika ini benar, maka ini adalah implikasi paling dalam dari paradigma holografik, oleh karena hal itu berarti bahwa pengalaman-pengalaman sebagaimana dialami oleh Watson adalah tidak lazim hanya oleh karena kita tidak memprogram batin kita dengan kepercayaan-kepercayaan yang membuatnya lazim.

Di dalam alam semesta yang holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas. Yang kita lihat sebagai ‘realitas’ hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Segala sesuatu adalah mungkin, mulai dari membengkokkan sendok dengan kekuatan batin sampai peristiwa-peristiwa fantastik yang dialami oleh Castaneda selama pertemuannya dengan dukun Indian. Jadi sebenarnya bahkan sihirpun tidak lebih dan tidak kurang adikodratinya daripada kemampuan kita menghasilkan realitas yang kita inginkan ketika kita bermimpi.

Sesungguhnya, bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana ditunjukkan oleh Pibram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu bersifat determined. ‘Sinkronisitas’ atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri tertentu yang mendasarinya.

Apakah paradigma holografik Bohm dan Pribram akan diterima oleh sains atau tenggelam begitu saja masih akan kita lihat, tetapi pada saat ini agaknya dapat dikatakan bahwa paradigma itu telah berpengaruh terhadap pemikiran sejumlah ilmuwan. Dan bahkan jika kelak terbukti bahwa model holografik tidak memberikan penjelasan terbaik bagi komunikasi seketika yang tampaknya berlangsung bolak-balik di antara partikel-partikel subatomik, setidak-tidaknya, sebagaimana dinyatakan oleh Basil Hiley, seorang pakar fisika di Birbeck College di London, temuan Aspect “menunjukkan bahwa kita harus siap mempertimbangkan paham-paham baru yang radikal mengenai realitas.”

Note : Bagi penggemar Harun Yahya, ada artikel yang sangat erat hubungannya dengan tulisan diatas, silahkan ikuti link ini : http://www.harunyahya.com/indo/artikel/077.htm
Share:

The Power of Anchor : Memicu orgasme pasangan Anda

Written by ronny fr
http://ronnyfr.com/index.php/2007/02/19/the-power-of-anchor-memicu-orgasme-pasangan-anda/

Anchor adalah suatu hal yang jika terjadi akan memicu suatu perasaan atau emosi tertentu. Dalam istilah psikologi klasik, anchor adalah suatu stimulus yang memicu reaksi khusus. Anchor dapat terjadi dengan sendirinya (alami), dapat pula di ciptakan secara sengaja.

Sebagai contoh anchor alami adalah suatu phobia, yakni reaksi takut yang berlebihan (tidak masuk akal) pada suatu stimulus (anchor) tertentu. Misal melihat kecoa, langsung memicu takut dan tidak berani berjalan mendekatinya. Artikel ini akan membahas mengenai cara menciptakan anchor agar pasangan bisa orgasme lebih mudah.


Anchor yang diciptakan dengan sengaja misalkan adalah lampu merah lalu lintas. Karena melihat asosiasi berkali-kali antara warna merah dan berhenti, maka mata kita mejadi terlatih. Begitu melihat warna merah lampu lalu lintas, maka secara otomatis kita akan berhenti. Disiplin psikologi sudah meletakkan dasar-dasar teknik anchor dengan sangat baik. Pavlov melakukan percobaan yang terkenal dengan cara menciptakan anchor dengan mekanisme reward-punishment dan dilakukan berulang-ulang pada anjingnya.

Pendekatan NLP, mengembangkan lebih jauh dengan cara membuat suatu anchor dalam sekali gebrak. Caranya akan dibahas dibagian akhir tulisan ini. Ancor dapat diciptakan dengan cara memberikan stimulus pada salah satu atau lebih dari kelima indra (VAKOG) kita untuk memicu terbentuknya mental map. Jadi anchor dapat berbentuk misal : suatu kata (auditorial) gerakan (kinestetik/visual), simbol (visual), sentuhan (kinestetik), bau (kinestetik).

Di bawah ini terdapat daftar anchor yang umum. Dengan merenungkannya, maka anda dapat mengidentifikasikan sistem representasionalnya (VAKOG).

Peluit Polisi
Lagu favorit
Sirine
Bel Pintu
Senyuman
Kepalan tangan
Tangisan bayi
Lampu rem belakang mobil
Dering telfon
Parfum si Doi
Dering jam weker, dll


Anchor cara NLP Secara NLP, anchor diciptakan dengan cara membawa seseorang mengalami emosi puncak tertentu (rasa takut, gembira, cemas, ngeri, dll). Pada saat puncaknya, kita melakukan suatu suatu tindakan tertentu, misal mengucapkan kata tertentu / gerakan anggota tubuh tertentu / menunjuk simbol tertetu / memberikan sentuhan di tempat tertentu.

Semakin tinggi dan mendekati puncak emosi maka akan semakin kuat anchor itu akan menetap. Ini yang terjadi pada orang phobia, pada saat ketakutan memuncak matanya melekat pada objek tertentu yang kemudian menjadi anchornya (misal kecoa). Anchor bisa menggunakan kata-kata, nada-nada, gerakan, dehem, batuk kecil, telengan kepala. Anchor yang baik adalah yang jarang digunakan, sebab kalau terlalu sering digunakan menjadi tidak efektif lagi.

Contoh :

Pada saat presentasi sales bersama kompetitor, dan kita sempat melihat kompetitor gelisah/cemas. Maka lakukan kalibrasi dan pada saat terjadi puncak cemas/gelisah buatlah anchor, misal dengan dehem kecil (semacam batuk). Kemudian saat presentasi selesai dan calon klien menanyakan pendapat mereka mengenai ini itu. Maka anda dapat menyalakan anchor (fire the anchor) anda dengan melakukan berdehem yang sama. Maka jika semuanya dilakukan dengan tepat waktu dan akurasi kalibrasi maka kompetitor tiba-tiba merasa cemas tanpa sebab.

Menganchor Orgasme Pasangan

Suatu contoh praktis lain adalah mengeset anchor dengan sengaja pada saat pasangan kita (suami/istri) sedang orgasme. Di tengah orgasme (tepat sebelum puncaknya), buatlah sebuah anchor yang spesifik dengan suatu kata tertentu, atau tatapan mata lekat-lekat, atau gerakan tertentu. Lakukan dengan mantap pada saat yang tepat. Sebagai catatan, anchor juga bisa digabungkan, misal suara sekaligus gerakan tertentu. Nah, pada saat yang lain dimana akan dilakukan hubungan suami istri, maka setelah foreplay dan akan mulai lebih jauh, segera piculah anchor Anda (fire the anchor ). Jika semua dilakukan dengan tepat, niscaya pasangan Anda akan orgasme lebih cepat.

Perlu kami ingatkan agar tidak memicu anchor ini sembarangan, misal saat pasangan Anda sedang mau ke kantor lantas dipicu Anchor. Bisa-bisa pasangan Anda nggak jadi ke kantor dan minta lembur di rumah terus.
Share:

Irresistible Communication : Komunikasi Tanpa Penolakan

Written by ronny f r

Mungkin Anda pernah kenal seseorang seperti Jaka yang nampak selalu sukses di kantor? Secara konstan kariernya terus melaju, sekalipun tak pernah secara jelas kualitas yang dimilikinya. Jika diamati, bahkan tak ada sedikitpun tanda tanda memiliki kecerdasan yang luar biasa, atau gelar akademik dari luar negeri.

Kedengarannya, apapun yang dilakukannya cenderung mendapat anggukan dari atasan. Saat meeting, pendapatnya kerap mendapat support dari rekan kerjanya. Bawahannya pun betah bekerjasama. Mereka senang memberikan bantuan kepadanya. Orang semacam Jaka, sekalipun acapkali tidak berhasil menyelesaikan suatu tugas dengan baik, namun ia selalu tetap dipertimbangkan untuk mengerjakan project selanjutnya. Jaka tidak memanfatkan senioritas, tidak pula bermain intrik atau menggunakan keterdekatannya dengan Pimpinan. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?


Jika diamati lebih dekat, kita akan menemukan suatu kekuatan yang ia miliki yang mungkin diperoleh secara alamiah. Itulah ketrampilan menjalin hubungan. Atau dalam istilah Neuro Linguistic Programming (NLP) disebut sebagai the skill of rapport building. Kekuatan semacam ini yang seolah olah membuatnya selalu dapat tune in dalam ‘panjang gelombang’ yang sama dengan setiap orang. Ia memiliki kemampuan ‘menjual’ dirinya secara konsisten pada setiap orang disekelilingnya. Ia menyadari bahwa dalam setiap situasi perlu menciptakan persahabatan agar dimasa depan dapat melakukan hubungan dalam bentuk win win. Bukankah seringkali kita mendengar orang menyesal semacam ini “Ah, seandainya saya kenal si A dengan baik, tentu saja saya akan bisa minta tolong dengan lebih nyaman sekarang”.

Kabar baiknya sekalipun kita tak punya kemampuan seperti Jaka, yang seakan bawaan lahir, ternyata kita bisa mempelajarinya dengan cukup mudah. Saat ini sudah berkembang pesat sebuah bidang baru yang dikenal dengan Neuro Linguistic Programming (NLP). Melalui NLP orang dapat memodel keunggulan setiap orang lain, karena NLP mampu memecah kode kode sukses yang dimiliki orang orang yang berhasil sehingga dapat diduplikasi oleh setiap orang.

Ada berbagai teknik rapport yang dikembangkan dalam NLP. Dalam tulisan ini kita akan mempelajari beberapa teknik yang basic. Jangan terkecoh dengan istilah basic, karena dibalik kesederhanaan hal basic itu menyimpan kekuatan hubungan yang sangat powerful. Teknik ini bahkan Anda dapat pergunakan pada orang yang baru Anda kenal. Yang penting adalah keberanian dan konsistensi melatihnya. Sejalan dengan seringnya dilatih, maka akan terasa berjalan normal dan wajar.

Rapport Building
Komunikasi ternyata mirip dengan situasi penjualan, sekitar 83% keberhasilannya ditentukan jika pembeli menyukai penjual. Kata kunci dari menyukai adalah adanya rasa kesamaan di antara keduanya. Seseorang menyukai orang lain jika ada sesuatu yang sama antara dirinya dengan diri orang lain tersebut.

Anda pasti pernah berkenalan dengan kawan baru, jika tertarik dengannya, maka pembicaraan secara otomatis akan mencari kesamaan diantara anda berdua. Misal menanyakan asal usul daerah, asal sekolah, atau hal yang lainnya. Jika ternyata kita memiliki kesamaan, rasanya tiba tiba dekat dengan kawan baru itu. Kesamaan membuat orang saling menyukai, jika sudah suka akan mempercepat munculnya proses percaya (trust).

Kepercayaan kepada kita akan membuat mereka merasa Anda berada di pihaknya. Orang membeli kepercayaan terlebih dahulu, baru membeli ide kita. Dalam berbagai percobaan sosial, para peneliti telah melaporkan bahwa kepercayaan itu amat penting bagi sukses komunikasi. Kalau sudah ada kepercayaan, orang akan lebih mudah menerima saran saran, memberikan lebih banyak waktu dan secara terbuka berbicara dengan kita, bahkan pada hal-hal yang terkadang sensitif.

Secara umum NLP menganjurkan 2 cara membangun pondasi kesamaan agar kita disukai orang lain dalam berkomunikasi, yaitu :
1. Bangun pondasi kesamaan fisiologis / postur tubuh
2. Bangun pondasi kesamaan dalam berkata kata.

Dua hal ini yang akan memunculkan suatu kepercayaan jika dibangun dengan sungguh sungguh, yang kemudian akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang mulus dan harmonis.

Sebagai ilustrasi pondasi yang pertama, Lady Diana terkenal pandai menjalin hubungan dengan semua orang, bahkan pada anak yang masih kecil. Namun sedikit yang tahu bahwa itu bukan bakat yang dibawa sejak lahir. Lady Diana belajar memodel dunia anak anak dari guru NLP, Anthony Robbins. Saat mendekati anak, Lady Di akan berjongkok dan memasang muka seperti anak-anak. Berjongkok berarti menyamakan fisiologis / postur dalam hal ketinggian tubuh, agar dapat masuk ke model dunia (model of the world) anak anak. Ia juga memasang mimik muka anak-anak, supaya tidak terlihat wajah analitis yang hanya dimiliki orng dewasa. Bisa dicatat disini, menyamakan postur fisiologi orang lain adalah cara tercepat untuk membentuk hubungan, cara ini biasa disebut mirrorring (bercermin).

Pengalaman mendermin tanpa sadar ini mungkin pernah terjadi pada Anda. Pada saat berbicara dengan kawan akrab dan terjadi kecocokan, makin lama posisi tubuh keduanya semakin mirip satu sama lain seperti layaknya orang bercermin. Bahkan jika anda perhatikan lebih jauh, sepertinya saling menirukan tanpa disadari. Proses pencerminan ini terjadi dalam level alam bawah sadar.

Dari kedua contoh di atas, maka dengan sengaja kita dapat melakukan pencerminan untuk mendapatkan rapport pada orang lain secara mendalam dan cepat. Menariknya, yang dapat kita cermin bukan hanya postur tubuh (gesture), namun kita juga bisa mencermin pola nafas (kecepatan, posisi tekanan), gerak mata, rona wajah, tinggi rendah suara, kecepatan berbicara, dll. Kurangi atau tambah kecepatan bicara Anda sesuai dengan kecepatan lawan bicara. Anda, demikian juga dengan tinggi rendah nada suara. Mereka akan merasa sangat nyaman, karena merasa sama dengan kita.

Mirrorring berbeda dengan “mimicking”, mirrorring harus dilakukan dengan sangat subtle (tidak kentara), sehingga alam sadar lawan bicara tidak mengenalnya namun dikenali oleh alam bawah sadar. Untuk meningkatkan ketidakkentaraan, Anda dapat melakukan cross mirrorring, yakni melakukannya dengan sedikit berbeda namun esensinya mirip. Semisal lawan bicara menggerakkan tangan kiri, maka Anda dapat menggerakkan tangan kanan. Semisal ia menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, maka Anda dapat melakukan dengan menyilangkan kaki kanan di depan kaki kiri tanpa menumpangkannya. Anda juga bisa melakukan yang disebut matching, yakni jika lawan bicara menyilangkan tangan maka kita menyilangkan kaki. Matching adalah melakukan pencerminan dengan bagian anggota tubuh yang berbeda.

Harus dicatat, mirrorring memiliki esensi respek , yakni ingin memhami alam pikiran orang lain karena kita merespeknya dengan cara menyamakan posisi tubuhnya. Sedangnya mimicking adalah meniru-niru gerakan orang lain tanpa respek.

Pondasi kesamaan yang kedua adalah menyamakan kata kata (verbal mirrorring). Menyamakan kata-kata dalam NLP tidaklah sekedar menyamakan kata yang diucapkan oleh lawan bicara. Yang disamakan adalah sesuatu yang disebut predikat, yang menunjukkan preferensi pikiran lawan bicara dalam mengolah informasi.

PREFERENSI SISTEM PENAFSIRAN DAN PREDIKAT
NLP secara umum membagi empat cara dasar manusia dalam menafsirkan dunia sekitar mereka: orang dengan preferensi Visual (V), orang dengan preferensi Auditorial (A), orang dengan preferensi Kinestetik (K) dan orang dengan preferensi Auditorial Digital (Ad).

Orang dengan preferensi V melihat dunia, orang dengan preferensi A mendengarnya, orang dengan preferensi K merasakannya, sedangkan orang dengan preferensi Ad mendengarkannya dengan kata-kata sendiri (konseptualisasi). Keempat cara ini akan membentuk peta peta mental, yakni cara seseorang mengorganisasikan semua stimulus yang diterima. Sistem sistem itu menolong kita memahami dunia dan berhubungan dengannya. Dengan peta peta mental ini sebagai petunjuk, kita membuat keputusan keputusan tentang bagaimana menanggapi apa saja yang terjadi di sekitar kita. Penggunaan peta mental ini berlangsung secara tak sadar. Seseorang secara tidak secara sadar memilih peta mana yang akan digunakannya untuk berkomunikasi dan terjadi secara konsisten.

Oleh sebab itu, bila Anda mengetahui bagaimana membaca peta mental seseorang, berarti Anda memiliki alat yang maha dahsyat untuk mengetahui bagaimana pikiran seseorang bekerja. Para manajer yang mengetahui peta peta mental yang digunakan oleh anak buahnya, akan memperoleh hasil lebih balk. Dasarnya adalah karena secara harfiah, mereka dapat memahami cara anak buahnya dalam berpikir dan mengolah informasi selama bekerja.

Salah satu cara untuk mengetahui peta mental orang lain termasuk preferensinya dapat dilakukan dengan jalan mengamati predikat yang digunakan dalam berbicara. Orang preferensi visual akan mengatakan: “Saya bisa melihat point penting yang Anda maksudkan”. Sedangkan orang preferensi auditorial akan mengatakan “Kedengarannya ide Anda cukup menarik”. Sementara orang preferensi kinestetik akan mengucapkan “Saya dapat merasakan kekuatan yang tersembunyi dari gagasan Anda.” Disisi lain seorang bepreferensi Ad akan mengatakan “Setelah saya renungkan , gagasan Anda bisa saya terima.

Dengan mengamati kecenderungan penggunaan predikat yang dipergunakan oleh seseorang secara ekstensif, maka kita bisa mengetahui preferensi berpikirnya. Dengan demikian, saat berbicara dengannya, gunakan predikat yang cenderung sama dengan yang dipergunakannya. Misalkan calon pembeli mengatakan “Hhmmm, nampaknya menarik, namun saya belum melihat apa keuntungan saya jika membeli jasa yang Anda tawarkan?”. Maka kita bisa menjawab: “Oke, kelihatannya Anda sangat menguasai persoalan ini, jika jasa ini kita pandang dari perspektif investasi, maka…”

Dengan jalan ini lawan bicara tak perlu menerjemahkan ulang kata kata kita dalam modus yang cenderung mereka sukai, sehingga ia terhindar dari kebingungan menangkap maksud kita. Jadi bila Anda tidak berkomunikasi dengan orang lain menurut cara yang mereka sukai, bahayanya adalah pembicaraan Anda akan menjadi tidak mudah dicerna oleh lawan bicara.

Mempraktekkan ketiga hal basic ini saja sudah akan menjadikan Anda sebagai irresistible communicator (selalu diterima orang lain). Terlebih jika Anda. mampu menguasai skill dan teknik NLP lainnya. Tentunya ketrampilan yang kita bahas diatas bisa dipergunakan dalam lingkup keluarga, hubungan pertemanan, sosial, pacaran dan sebagainya.
Share:

Apakah NLP itu?


Written by Ronny F. Ronodirdjo.

Saat ini NLP (Neuro Linguistic Programming) seolah tengah menjadi suatu bidang baru yang digandrungi oleh berbagai pihak di Indonesia. Mulai dari eksekutif papan atas, pengusaha, psikolog, dokter, olahragawan, dosen, bintang film bahkan sampai politisi. Sebenarnya apakah NLP itu ?

Beberapa sumber menyatakan mempelajari NLP mirip dengan mempelajari manual otak manusia, terkadang disebut sebagai people skill technology, atau disebut juga psychology of excellence. Intinya adalah mengetahui bagaimana cara kerja otak agar seseorang bisa menjadi tuan atasnya, bukan menjadi budaknya. Sedangkan para pengagas NLP sendiri merumuskan NLP sebagai The study of subjective experience .

Neuro merujuk pada otak / pikiran, bagaimana kita mengorganisasikan kehidupan mental kita. Linguistic adalah mengenai bahasa, bagaimana kita menggunakan bahasa untuk mencipta makna dan pengaruhnya pada kehidupan kita. Programming adalah mengenai urutan proses mental yang berpengaruh atas perilaku dalam mencapai tujuan tertentu, dan bagaimana melakukan modifikasi atas proses mental itu.


Sejarah dimulai ketika seorang ahli Mathematika / Computer Programming (Dr. Richard Bandler) dan seorang Profesor Linguistik (Dr. John Grinder) mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang teramat sukses di bidangnya.

Metode yang dipergunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut sebagai modelling (ilmu memodel). Tokoh-tokoh awal yang dimodel adalah : Fritz Perls (Gestalt Psychotherapist), Virginia Satir (Family Therapist), Gregory Bateson (Anthropologist, cybernetics) dan Milton Erickson (Hypnotherapist). Setelah bertahun-tahun memodel, mereka berdua berhasil mengembangkan seperangkat teknik mental yang yang sangat berguna dalam dunia terapi.

NLP lantas dipopulerkan oleh Anthony Robbins hingga meluas di USA dan seluruh dunia, belakangan Anthony Robbins membuat merek sendiri, yakni NAC (Neuro Associations Conditioning). Barisan pelopor NLP lantas mulai mengibarkan sayapnya merambah dataran aplikasi di luar terapi. Ilmu memodel ini dikembangluaskan untuk memodel berbagai keunggulan manusia; antara lain untuk memodel keunggulan dari orang yang berprestasi unggul di bidang komunikator, olahraga / atlit, leadership, sales, pengajar, bisnisman, karyawan, penyanyi, meditasi, dan berbagai orang sukses lainnya.

Modelling dalam NLP memungkinkan untuk mempelajari dan menduplikasi keahlian seseorang. Aplikasi modelling ini sungguh tak terbatas, nyaris bisa dikatakan “Bila ada seseorang pernah melakukan sesuatu hal, maka dengan modelling kita juga dapat menduplikasi agar bisa melakukannya juga”.

Melalui NLP kita bisa melakukan coding suatu perilaku unggul manusia dan memetakannya dalam suatu pola-pola inti tertentu. Pola-pola inilah yang kemudian disusun ulang dengan urutan dan kombinasi tertentu akan menjadi model of excellence yang dengan mudah untuk diduplikasikan kepada orang lain.

Beberapa nama besar yang tercatat menggunakan ilmu NLP dalam meraih kesuksesannya adalah : Bill Clinton, Andre Agassi, Lady Di, dan Nelson Mandela, dan masih banyak lagi.

Untuk belajar NLP, seseorang bisa memilih 2 macam pendekatan :

1. Mendalami ilmu NLP, yakni dengan mengambil sertifikasi berikut : NLP Practitioner (biasanya 7-14 hari), NLP Master Practitioner (biasanya 14 hari), NLP Trainer, dan NLP Master Trainer.
Umumnya orang-orang yang mendalami ilmu NLP memiliki goal untuk menjadi trainer, coach atau ahli di bidang NLP.
2. Mempelajari aplikasi NLP tanpa mendalami ilmu NLP-nya sendiri. Misal mempelajari NLP at Work, NLP for Sales, NLP for Trainer, NLP For Customer Services, Objection Mastery, Personal Mastery, Therapy with NLP, Interview with NLP dan seterusnya. Biasanya training dilakukan dalam waktu 1-3 hari saja dengan biaya yang lebih terjangkau.
Umumnya, para pengusaha, eksekutif, olahragawan, pengajar, politisi dan lain-lain yang tidak punya waktu lebih suka mempelajari NLP dengan cara ini. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi meramu / memikirkan ulang bagaimana menggunakan NLP untuk keperluan mereka, tinggal dipraktekkan secara langsung.


Ronny F. Ronodirdjo.
Share:

Merancang Kinerja Ekselen dengan NLP by Yodhia Antariksa April 21st, 2008


sumber = http://strategimanajemen.net/2008/04/21/merancang-kinerja-ekselen-dengan-nlp/#more-361

NLP barangkali merupakan salah satu kata kunci yang paling banyak dibincangkan oleh para praktisi perilaku manusia (human behavior) di tanah air beberapa tahun belakangan ini. Apa sebenarnya NLP itu? Dan apa pula metode-metode kunci yang acap diaplikasikan dalam penerapan NLP? Tulisan pendek ini mencoba secara ringkas – namun padat – menjelaskan pengetahuan kunci mengenai NLP. Dengan itu, diharapkan aura magis yang selama ini menyelimuti konsep NLP pelan-pelan bisa mulai terkuak.

NLP sendiri merupakan singkatan dari neuro linguistic programming (wuih, singkatannya serem banget!). Dikembangkan pertama kali oleh Richard Bandler (pakar psikologi dari University of California) dan John Grinder (pakar linguistik), metode ini muncul pertama kali saat mereka meneliti para great performers (kebetulan dalam penelitian ini, profesi para great performers yang diriset adalah para ahli terapis yang sukses. Dalam riset ini, digunakan tiga terapis sukses sebagai responden, yakni : Virginia Satir, Milton Erickson dan Fritz Perls). Pertanyaan kunci Bandler dan Grinder adalah : mengapa tiga terapis ini menjelma menjadi terapis hebat nan ekselen? Apa pola komunikasi, konfigurasi bahasa, dan model perilaku yang dipraktekkan ketiga terapis itu sehingga mereka menjadi sukses dalam menangani para kliennya?

Nah, serangkaian temuan yang di-ekstrak dari riset panjang itu lalu mereka olah dan racik menjadi metode NLP. Esensi dasar dari metode ini sebenarnya adalah optimalisasi pendayagunaan belief (neuro), pola komunikasi (linguistic) dan model perilaku agar kita bisa menuju kinerja yang ekselen. Nah, disini NLP kemudian juga menyodorkan serangkaian metode yang bisa dilakukan agar pola belief dan pola perilaku kita menjadi lebih efektif; dan pada gilirannya mampu menjadikan diri kita lebih optimal kinerjanya.

Lalu apa saja metode yang ditawarkan oleh NLP itu? Berikut ini saya akan mencoba mengeksplorasi tiga metode yang acap digunakan dalam aplikasi NLP (jika Anda ingin mengetahui lebih banyak mengenai NLP, silakan datang ke blog rekan saya, Ronny FR, yang juga merupakan praktisi andal NLP).

Modelling Excellence
Metode ini secara sederhana adalah teknik menduplikasi dan mencangkokkan “keistimewaan” para great performers ke dalam diri kita. Bahasa awamnya adalah : meneladani kisah keberhasilan orang lain. Para pegiat NLP percaya bahwa salah satu cara yang paling powerful untuk meningkatkan kinerja seseorang adalah dengan cara modelling excellence ini. Inilah metode yang diberangkatkan dari satu keyakinan bahwa ketrampilan (skills), pengetahuan dan perilaku dari para excellent performers bisa ditransfer dan direplikasi (penjelasan rinci mengenai langkah demi langkah melakukan modelling excellence ini akan saya bahas dalam tulisan di kesempatan berikutnya. So, keep visiting this blog, bro).

Metode Anchoring
Metode ini adalah sebuah upaya agar kita selalu berada pada kondisi psikologis yang kita inginkan dalam beragam situasi yang mungkin kita hadapi. Caranya pertama-tama Anda mesti membangun situasi psikologis yang ingin Anda simpan, misalnya suasana hati yang kalem dan relax. Lalu ingat dalam situasi apa Anda pernah benar-benar bisa mengalami suasana tenang dan relax; misal ketika Anda bangun di waktu subuh yang sunyi, atau ketika Anda duduk sendirian di pinggir pantai di suatu sore yang teduh.

Rasakan dan resapkan setiap detil dari momen-momen itu, sehingga secara emosional Anda benar-benar merasa tenang dan relax setiap kali mengingat situasi ketika Anda berada di pinggir pantai yang teduh itu. Simpan memori ini kuat-kuat kedalam otak Anda, dan secara berkala “aktifkan” memori itu dengan misalnya, sebuah kode bisikan dalam hati. Sehingga, setiap kali Anda berbisik dalam hati : “relax….”, maka seketika itu pula Anda benar-benar merasa tenang dan relax persis seperti suasana psikologis ketika Anda duduk sendirian di pinggir pantai. Lakukan proses pengaktifan ini secara berulang-ulang, sehingga proses “anchoring” itu berlangsung dengan sempurna dan otomatis.

Apa gunanya proses anchoring itu? Nah, bayangkan suatu ketika Anda harus berbicara di depan publik serta para bos Anda, dan Anda benar-benar merasa nervous. Kalau proses anchoring Anda telah terlatih, maka Anda tinggal membisikkan satu kata di hati : relax……dan abrakadabra, detik itu juga Anda akan berada pada situasi psikologis yang nyaman dan relax (persis seperti saat Anda mengalaminya pada sore yang teduh di pinggir pantai itu). Selanjutnya……..Anda bisa berbicara di depan para petinggi Anda itu dengan nyaman, tenang dan relax.

Proses anchoring ini tentu juga bisa diterapkan dalam situasi lain, semisal : ketika Anda sedang stres dan panik karena deadline pekerjaan, atau juga ketika Anda sedang emosi dengan pasangan hidup Anda. Setiap kali Anda menghadapi situasi rumit seperti ini, maka Anda tinggal bisikkan kata dalam hati : relax, dan seketika itu juga suasana batin Anda bisa lebih tenang dan “nyaman”, sehingga tindakan Anda dalam merespon situasi problematis itu menjadi lebih efektif.

The Map is Not the Territory
Kalimat ini merupakan kalimat favorit para NLP-ers. Intinya : sebuah even (fakta, kejadian, peristiwa) selalu bersifat netral, yang lebih penting adalah persepsi kita terhadap even itu. Anda mungkin pernah mendengar cerita berikut ini : suatu ketika ada dua salesman sepatu dikirim ke sebuah negara seberang. Dua hari setelah melakukan observasi, salesman pertama langsung minta dikirim pulang ke negaranya. Alasannya : tidak ada satupun penduduk di negeri seberang itu yang memakai sepatu. Salesman yang kedua, setelah juga melakukan observasi, langsung mengirimkan fax ke kantor pusatnya, minta dikirimi segera sepatu sebanyak-banyaknya. Alasan dia sama : tidak ada satu pun penduduk di negeri seberang itu yang memakai sepatu. You got the point, right?

Esensinya adalah ini : persepsi kita atas sebuah peristiwa – dan bukan fakta peristiwa itu sendiri – yang akan mempengaruhi pola perilaku dan kinerja kita dalam memaknai perjalanan kehidupan ini. Dalam konteks ini, para pelaku NLP memberi saran, agar kita selalu melihat “sisi positif” dan “peluang” yang ada dibalik setiap kejadian/fakta/peristiwa. Kita mesti bisa melakukan “reframing” terhadap setiap jejak peristiwa dalam sejarah hidup kita : apa hikmah positif yang bisa kita petik dari kejadian ini; apa perspektif lain yang bisa kita kedepankan agar bisa tercapai solusi hidup yang makin optimal.

Dengan kata lain, persepsi kita akan sebuah kejadian bukanlah sebuah kebenaran tunggal – ada persepsi dan sudut pandang lain yang boleh jadi lebih mendekatkan kita pada solusi yang lebih optimal. Tugas kita adalah selalu mencoba mengeksplorasi beragam persepsi dan sudut pandang itu, agar keputusan dan tindakan yang kita ambil benar-benar efektif dan berdaya guna tinggi. Sebab dengan itu, nasib kita mungkin akan lebih baik dibanding salesman sepatu yang pertama itu……

Photo Credit by :Hamed Masoumi under common creative license.
Share:

Blog Archive