it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

31.5.08

Mencari Tuhan di Penggorengan Pisang Raja


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 26 mei 2008, dihalaman bisnis dan teknologi

SORE hari terasa lezat jika disisipi beberapa potong pisang goreng dan teh manis hangat. Setelah lelah berdiri beberapa jam menyampaikan materi pelatihan, laju mobil saya mengantarkan saya ke sebuah warung gorengan yang tidak jauh dari komplek perhotelan mentereng di negeri ini.
Kaca mata bisnis saya selalu saja senang memperhatikan geliat orang-orang yang berani menolong diri sendiri dan keluarganya melalui usaha halal dalam bentuk apapun. Melihat warung ini, saya mencoba mengkalkulasikan kira-kira berapa besar nilai bisnisnya. Bagaimana pengelolaannya, bagaimana pemasarannya, teknik jual si pelayan dan berbagai hal-hal teoritis lainnya.
Seorang paruh baya menyodorkan sepiring pisang goreng ke hadapan saya sambil tersenyum ramah dan berbasa-basi mempersilahkan saya untuk mencicipinya sekaligus menanyakan minuman apa yang saya minati. Pemilik wajah yang begitu teduh dan damai itu bernama Sudiro yang akhirnya saya tahu bahwa panggilan akrabnya adalah Wak Diro.
Menikmati pisang goreng terasa lebih hangat dengan obrolan ringan bersama Wak Diro. Dalam guyonan yang mengalir saya tahu ternyata Wak Diro adalah perantau asal Kudus yang sudah 16 tahun menjual gorengan pisang. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan satu tandan besar dan hasil penjualannya bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga menjadi sarjana. Wak Diro rupanya jebolan fakultas teknik universitas negeri tertua di Jogjakarta, walau ia hanya bisa sampai semester 5.
Kenapa tidak bisnis yang lain Wak? Atau menjadi pegawai negeri? Tanya saya menyelidik. Belum sempat menjawab pertanyaan saya, ia menggukkan badan tanda permisi kepada saya karena datang satu mobil Kijang Inova baru yang mendekat. Ternyata mobil itu dikemudikan oleh istrinya yang mengantarkan sesuatu.
Pikiran saya berputar tak tentu. Tanpa sadar saya sedang menakar kantong orang tua ini. “Seorang penjual pisang goreng mampu menguliahkan keempat anaknya hingga sarjana dan kini didepan mata saya, si Istri datang dengan mobil baru yang tidak murah harganya”.

Bukan cari uang
Sekali lagi saya jarah lagi semua sudut warung kecil itu. Penataan dagangan lumayan menarik, tetapi tidak istimewa. Kualitas produknya berupa gorengan juga terasa sama seperti pisang goreng ditempat lain. Atmosfir warung juga sama seperti warung-warung lain, walau yang ini terlihat lebih bersih dan terjaga. Sarana promosi sangat sederhana, hanya tulisan Pisang Goreng Panas yang ditulis tangan dengan kuas biasa. Daftar harga tercetak di selembar kertas terlaminasi yang ditempel di dinding sebelah kiri. Ada dua orang pegawai yang membantu menggoreng, membuat minuman dan melayani pelanggan sekaligus. Tetapi jumlah pembelinya silih berganti, tidak sederah air pancuran, tetapi datang satu-satu seperti tiada henti.
Tak lama kemudian istri Wak Diro pergi, kata Wak Diro, istrinya harus mengantar beberapa kertas tisue ke lima cabangnya yang lain. Dan informasi itu membuat saya memilih untuk bertahan lebih lama demi mengetahui apa rahasia sukses bisnis ini.
Setelah melewati beberapa basa-basi, lalu ia bertanya kepada saya, “Mas, sampean apa percaya sama Gusti Allah?”. Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena saya tidak bisa memperkirakan kemana arah pemikirannya.
Lalu tanpa menunggu jawaban saya, Wak Diro menjelaskan bahwa dalam 8 tahun terakhir Ia tidak lagi mencari uang semata, tapi Ia mencari Tuhan. “Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah”.
Seperti pengakuan kebanyakan manusia, Ia meyakini bahwa hanya Tuhan yang sanggup mengarahkan dirinya kepada kondisi apapun.“Mas, saya bukan jualan pisang gorang lho”, aku Wak Diro, “Saya ini sedang membantu orang-orang agar bisa beribadah dengan baik”. “Wow...” pikir saya, apakah penjual pisang goreng ini masih waras?
“Saya ini senang membantu banyak orang dengan mengganjal perutnya agar ibadah shalat Ashar dan Maghrib-nya berjalan dengan baik, karena jam makan malam biasanya setelah Shalat Isya” terang Wak Dirno. Saya mulai memahami apa maksud kalimat Wak Diro sebelumnya, “Uang bagi saya hanyalah sekadar bonus atas pencarian dan pengabdian saya ke Gusti Allah”.
Kini saya paham, mengapa ia begitu ramah menyambut tamu-tamunya, kualitas gorengan tetap terjaga baik ukuran maupun takarannya dan ruangan kedai ini tetap terjaga kebersihannya. Jelas bukan karena sekadar mencari uang, tetapi Wak Dirno sedang beribadah. Mencari keridhaan Tuhan. Seperti dijanjikan Allah ketika kita bersyukur, maka nikmat itu terus bertambah dan mengalir lancar.
Saya benar-benar terbayang betapa saya dan banyak sahabat saya yang kerja mati-matian siang -malam hanya sekadar mencari uang. Bayangan itu begitu asam terasa setelah mendengar pengakuan Wak Dirno itu. Betapa Wak Dirno sudah menemukan kunci dasar sukses bisnis. Ia tidak sekadar menjual jajanan, ia muncul dengan alasan yang lebih mulia. Pisang goreng hanya media mendapatkan ridha Sang Khalik. Semua bentuk kerja dan bisnis dikerjakannya dengan menghadirkan batin, tulus dan iklas.

Khawatir
“Bagian saya adalah mempermudah ibadah orang lain, bagian Gusti Allah menjaga saya Mas” “Saya hanya pasrah dan memohon agar selalu dituntun Gusti Allah” aku Wak Dirno. “Apapun langkah saya, saya percaya Gusti Allah akan menyelamatkan saya. Jika saya dibawa ke kubangan Kebo sekalipun, saya tetap percaya kalau itu adalah kehendak Gusti Allah dengan maksud tertentu agar saya mendapatkan hikmah atas perjalanan itu”.
Menyelesaikan pisang terakhir, saya bertanya, “Wak, apakah sampean tidak khawatir dengan kenaikan BBM?”, dengan ringan Wak Dirno menjawab, “Lha wong, saya sudah serahkan hidup saya ke Gusti Allah, kok mesti kuatir?”. Sambil mengulurkan uang kembalian ke saya, ia berujar, ”Saya kan cuma kawulo, apakah pantes kalau saya ikut campur tangan ‘ngatur kerjaan Kanjeng Gusti?”
Share:

12.5.08

HARGA BBM PASTI NAIK


Tulisan ini sudah dimuat di harian waspada pada tanggal 12 mei 2008, di halaman bisnis dan teknologi



“Bismillahir rahmanir rahim, uriping zatullah, metu murub, Allah mobah jroning ambegan, Allah mosik jroning ati, ya rasa, ya Rasul, ya rasaning pangeran,Gusti Allah ingkang kuwasa, ingkang murba sejati, kawula nyuwun enget, nyuwun slamet, nyuwun ngapura, nyuwun gampang anggen kawula padhos sandhang tedha, sarinane sawengi, salawase, sajeg kawula gesang, samarga-margane pinaringan gampang, gampang sarining gampang, saking karsaning Allah.”

Rapal doa diatas sering diucapkan almarhum kakek saya dahulu sebelum berangkat di subuh pagi untuk berdagang ke kota. Rapal doa itu begitu merdu dalam telinga saya dan sepertinya mengantarkan diri kakek untuk selalu sukses dalam berbisnis.
Saya rasa kini saatnya untuk kembali memanjatkan rapal doa itu karena ditunggu atau tidak, matahari pagi akan tetap datang demikian juga dengan kenaikan harga BBM kita. Sepertinya tidak ada pilihan selain menerima kenyataan bahwa pemerintah masih belum sanggup mengayomi dan melindungi rakyatnya dengan baik. Entah apa saja yang diurus pemerintah kita hingga kita harus membayar BBM yang lebih mahal dari saat ini.
Kini semua bentuk kepanikan dan ketakutan terlihat dengan kentara diberbagai media massa. Ancaman kemiskinan global dan krisis total babak lanjutan sepertinya sudah diambang pintu.
Biaya produksi yang terus meningkat tidak sejalan dengan daya beli pasar yang melemah belum lagi ditambah kompetisi yang semakin keras. Apakah ini adalah halaman terakhir dari bisnis kita? Trus kita bagaimana? Siapa yang akan menolong kita? Sedang pemerintahan yang berkuasa saja tiada memiliki daya!
Saya ajak anda untuk sejenak berhening diri menyadari bahwa itu bukan akhir dari segalanya. Tidak ada kebahagiaan jika tidak ada kesusahan. Tidak ada nelayan yang tangguh jika gelombang lautnya tidak bergolak. Dan itu semua adalah proses yang harus kita lewati menuju perbaikan diri.
Mohon digaris-bawahi bahwa tulisan ini sungguh bukan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang diterapkan pemerintah, tetapi ini hanya sekadar pemikiran untuk bisa menolong diri sendiri dari cobaan ekonomi yang terpaksa harus kita lalui ini.

Menolong diri sendiri
Ini sangat penting. Siapa lagi yang perduli dan mau urusin kita kecuali diri sendiri? Siapa lagi selain kita sendiri dan Tuhan. Jadi menolong diri sendiri adalah langkah wajib agar kita mampu bertahan. Bentuk pertolongan pertama yang paling esensi adalah membangun serta menguatkan pemikiran dan keyakinan bahwa ‘badai pasti akan berlalu’ juga keyakinan bahwa ‘semua penderitaan yang tidak membuat kita mati, justru akan memperkuat diri kita sendiri’.
Pertolongan yang kedua adalah menerapkan sekali lagi efisiensi dan efektifitas. Pengendalian biaya idealnya berprinsip kepada penghematan dan ketepatan sasaran. Lagi-lagi kini saatnya mengurangi unsur perasaan dalam pengumpulan data dan pengambilan keputusan. Gunakan data yang objektif dan akurat. Berikutnya aplikasikan secara tepat waktu dengan ketelitian dalam pengontrolan serta kesadaran yang bagus dalam pelaksanaannya.
Pertolongan ketiga adalah pertolongan dari pegawai. Bisnis kita melibatkan banyak orang lain, tentu saja, mereka memiliki pemikiran yang berbeda-beda atas pengertian efisiensi yang kita kehendaki. Tentu saja mananya juga manusia; maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk menumbuhkan kesadaran semua pihak akan arti pentingnya upaya-upaya penghematan.
Hindarkan praktik-praktik yang kontra-produktif, hindarkan perilaku pihak dalam perusahaan yang berperilaku boros dan tidak peduli. Cari terobosan untuk membangkitkan kesadaran dan keikhlasan seluruh pegawai melaksanakannya. Ini adalah momen yang istimewa dan sangat baik untuk menciptakan hubungan yang lebih mesra antara manajemen dengan karyawan.
Biarkan semua pihak merasa bersama-sama menanggung kesulitan yang ada. Yang perlu disadari adalah bahwa pertolongan baik itu harus dibalas dengan kebaikan lain diwaktu yang lain. Kenyataan bahwa keterbukaan juga harus dilakukan tidak hanya pada saat sulit, tetapi juga pada saat senang. Jika tidak, pihak manajemen akan dituding sebagai penghianat dan akan terjadi pembalasan dalam bentuk yang sama.

Pertolongan dari Tuhan
Siapa lagi yang Maha Besar selain diriNya? Siapa yang Maha Kuasa? Jadi jelas permintaan pertolongan yang terbaik adalah kepadaNya yang memiliki segala kehendak dan menguasai semesta ini.
Saya yakin kini saatnya tingkat keyakinan dan iman kita sedang dalam masa yang penuh tantangan. Terkadang kita khawatir kalau bisnis kita rugi dan jatuh miskin, terlilit hutang atau resiko lainnya. Sialnya konsep berhemat berhimpitan tipis dengan perilaku kikir yang disisi yang lain, adalah sikap yang menunjukkan bahwa pelakunya tidak pernah beriman dan yakin kepada kekuasaan kasih sayang Tuhan yang akan melindungi dan memastikan rekeji mahluknya. Orang kikir cenderung tidak menyadari bahwa pada saat ia menahan uangnya, ia sedang mulai tidak percaya bahwa Tuhan akan membantunya jika menghadapi kesulitan.
Jika boleh pelan-pelan direnungkan; Kekhawatiran yang kita miliki karena efek kenaikan BBM, hanyalah salah satu efek dari kesombongan insaniah plus ketidakyakinan insaniah bahwa Tuhan akan menolong umatnya, seperti yang Ia janjikan.
Inilah waktunya kita berserah diri dan memohon agar Tuhan menggandeng diri kita. Yakin saja bahwa dalam gandengan Tuhan kita akan selamat. Jikapun perjalanan yg dilewati adalah lumpur, badai dan tebing curam, yakinlah bahwa itu adalah kehendak Tuhan dengan rencanaNya yang secara khusus diberikan kepada kita.
(Bismillahirahmanirahim, Hidupnya Dzat Allah, menyala memancar, Allah bergerak dalam nafas, Allah bersemayam di dalam hati, ya rasa, ya rasul, ya rasa-nya junjungan, Allah yang berkuasa, yang sejati, saya memohon sekali, memohon keselamatan, memohon maaf, memohon dimudahkan dalam saya mencari nafkah, sandang, pangan, siang dan malam, selamanya, sepanjang hayat saya, semua-semuanya mendapatkan kemudahan, mudah semudah mudahnya, karena kehendak Allah.
Share:

5.5.08

Bisnis itu harus didelegasikan


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 05 mei 2008 di halaman bisnis dan teknologi

"FEELBAB"adalah slank dengan makna (maaf) "Feeling Babi". Istilah ini digunakan dengan seloroh oleh team adventure yang saya pimpin jika ingin menyebutkan seseorang yang tidak memiliki perhitungan navigasi dan berjalan di dalam kesesatan, asal jalan tanpa aturan yang benar.

Jika seseorang tersesat di hutan lebat, dan tak tahu arah mana yang harus ditempuh, semestinya ia tidak terus berjalan, atau membabat semak sana-sini. Yang seharusnya dilakukan adalah berhenti sejenak, menghitung dimanakah sesungguhnya posisi diri ini berada, menengadah ke langit mencari cahaya mentari atau rembulan, menunduk ke bumi mengukur bayang-bayang diri. Baru setelah itu menentukan kembali arah yang harus dituju, lalu berjalan penuh hati-hati, sembari terus mengukur bayang-bayang. Penjelajah yang sejati tahu kapan harus bergerak, berhenti dan beristirahat.

Jika Anda tersesat dalam kesibukan yang Anda sendiri tak tahu mengapa melakukan apa. Semestinya Anda juga berhenti sejenak. Membuka peta diri Anda, merujuk kembali pada tujuan besar hidup Anda, lalu meniatkan hati untuk melangkah. Tujuan tercapai karena kita tahu mana yang sedang dituju, dengan cara apa dan alat bantu apa. Kemudian kita bergerak dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan.

Demikian juga pesona dunia bisnis yang sering �memaksa� pebisnis larut dan terjebak didalamnya. Mereka �terpaksa� menjadi super hero, pahlawan yang tak tertandingi, serba hebat dan lagi-lagi hanya dirinyalah yang dianggap mampu mengerjakan semua hal. Dan itu saya sebut dengan pengusaha dengan kemampuan feelbab.

Seperti petualang di alam liar, pengusaha juga berpotensi memainkan permainan nekat dan feelbab. Mereka bukan orang-orang yang gagal, tetapi mereka akan selalu merasa kekurangan 20 jam dari jatah 24 jam sehari yang diberikan Tuhan kepadanya. Sudah pasti mereka akan mencapai puncak kemampuannya yang terbatas dan sangat sulit menembus batas-batas kemakmuran seperti yang dinikmati Bill Gates, Oprah W, George Soros, dan berbagai nama muti-milioner sukses lainnya.

Pengusaha-pengusaha dengan feelbab, memang bisa kaya, tetapi tidak akan pernah mencapai kursi sangat kaya. Kenapa? Jelas karena mereka membatasi peluang suksesnya dengan menyibukkan diri sendiri terjebak dalam rutinitas tak berarti.
Sangat menggelikan, bahwa banyak pengusaha kaya yang tidak pernah menikmati liburan dengan layak. Banyak pengusaha kaya yang tidak tahu cara makan dan berpakaian yang layak sesuai aturannya. Banyak pengusaha kaya yang tidak punya kawan pergaulan yang �berkelas�. Itu terjadi karena mereka begitu sibuk mengurus segalanya sendirian.

Delegasi
Tidak ada manusia yang sempurna (superman) tetapi seseorang bisa menciptakan superteam. Tangan manusia hanya dua, kaki juga hanya dua, otak satu dan berbagai keterbatasan lainnya. Tetapi dengan mendelegasikan pekerjaan, kita bisa mendapatkan perangkat yang lebih dan tidak terbatas.
Kini saatnya untuk menggunakan tenaga dan pikiran orang lain untuk memudahkan urusan kita. Lalu semua waktu, tenaga dan pikiran kita yang tersisa akan sangat bermanfaat untuk lebih melipatgandakan volume bisnis kita.
Jawabanya sudah jelas, bisnis itu harus di delegasikan. Secara mudahnya pengusaha harus mempunyai orang kepercayaan yang setiap saat bisa menjalankan, mengawasi dan meningkatkan bisnis kita secara proffesional.
Lalu pertanyaannya adalah siapa yang paling tepat kita jadikan delegasi untuk bisnis kita? Untuk bisnis skala kecil dan bagi para pengusaha dengan tingkat kecurigaan yang berlebihan, alternatif yang paling dekat adalah pasangan hidupnya entah itu istri atau suaminya. Karena keunggulannya adalah ketika kita mendelegasikan pada pasangan kita ikatan batin lebih kuat, ada kejelasan perasaan memiliki, sehingga ketika terjadi sesuatu dia akan merasa sangat ikut memiliki bisnis tersebut dan selalu akan sungguh-sungguh dalam mengelola.
Tetapi ingat, bahwa keunggulan tentunya tak lepas dari kelemahan. Kelemahan utama adalah waktu yang tidak maksimal, dan rawan timbul konflik yang disebabkan permasalahan di lapangan misalnya karena perbedaan selera dan orientasi bisnis/operasional.

Alternatif kedua adalah mencari pegawai yang kita plot secara bertahap menjadi orang kepercayaan. Dari pengalaman saya, diperlukan paling tidak 10 orang pegawai dalam proses untuk mendapatkan 2 orang pegawai kepercayaan. Ingat mereka bukan komputer yang bisa diprogram tanpa kesalahan, setiap proses pembelajaran selalu beresiko kesalahan/kegagalan pada awalnya. Dan sistem yang baik harusnya bisa mengendalikan dan mengawasi mereka tanpa harus kita mandori secara langsung.
Untuk bisnis pemula, gangguan yang akan selalu timbul adalah sebuah pertanyaan bagimana nanti kita mbayar gajinya sementara bisnis tersebut belum lancar, distribusi masih belum bisa kemana mana, penjualan belum maksimal dsb.
Kasus seperti ini pas sekali dengan perumpamaan siapa duluan antara ayam dan telor? Menurut saya pebisnis sejati akan selalu berani ambil resiko, hati-hati dan waspada perlu tetapi ketika itu menghambat penjualan, dan menghambat perkembangan bisnis kehati-hatian yang membelengu itu harus dihilangkan. Ketika kita rekrut pegawai baru, kita terpacu untuk meningkatkan berbagai upaya agar bisnis harus semakin meningkat.

Konon, ada sebuah perusahaan jasa pindahan barang, dimana si pengusaha adalah pegawai kantoran. Dia sadar bahwa dia tidak mempunyai cukup pengetahuan mengenai bisnis ini, dia juga sadar bahwa dia kurang punya banyak waktu untuk mengelola bisnis ini sendirian. Ia sangat paham bahwa ia membutuhkan �pertolongan� berupa otak, otot dan waktu orang lain yang lebih sanggup. Kemudia dia "membajak" direktur operasional perusahaan ekspedisi kelas internasional yang berkebangsaan asing yang gajinya saja hampir 100 juta/bln belum lagi fasilitas lain seperti apartemen buat si bule tersebut dan lain sebagainya. Dia ambil resiko, dia lakukan itu dengan yakin dan akhirnya yang terjadi adalah, omzet bulanan jasa pindahan barang ini dalam satu bulannya rata-rata mendekati 1 Milyar.
Share:

2.5.08

Motifasi VS Stress


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada tanggal 28 april 2008 di halaman ekonomi bisnis.

STRESS, selain menjadi dirinya sendiri dan hasil dari dirinya, juga merupakan penyebab stress itu sendiri.—Hans Selye, Psikolog.

BANYANGKAN anda adalah seorang manajer kesebelasan sepak bola. Jika tim anda yang tertekan dan kaku sedang bermain, apakah anda bisa mengharapkan pemain itu mampu melakukan lemparan bebas lalu mereka dapat melakukan taktik dan strategi penyerangan dengan bagus? Apakah pemain anda yang sedang yang stress itu bisa menendang bola dengan bebas dan memasukkannya ke gawang lawan dengan mudah?
Katakanlah anda seorang pecinta group musik yang sedang menonton group musik favorit anda, tetapi semua pemusik tersebut tampil dalam kondisi tegang, kaku dan tertekan, apakah anda akan bisa menikmati sajian musik seperti yang anda harapkan?
Kini coba anda bayangkan, kalau anak yang anda cintai mengikuti sebuah lomba pidato, ia berjalan dengan panik, kaku dan tertekan saat naik keatas podium. Apakah anda akan mendapatkan sebuah kemenangan dari anak anda?
Saya pikir tidak. Mereka itu, para pemain sepak bola, pemusik, artis, para pemimpin disemua level, bawahan anda termasuk anak anda, tidak akan bisa berprestasi dengan baik mengerjakan sesuatu dengan perasaan tertekan, tegang dan kaku.
Saya pikir orang tidak akan memiliki akses yang baik kepada kemampuan dan intelegensinya dalam keadaan panik dan tertekan. Mereka akan menjadi patung yang bisa bernafas. Mereka hanya akan menjadi robot yang bekerja atas teriakan dan perintah-perintah yang keras. Mereka tidak akan menciptakan keindahan dan tidak akan ada karya-karya berkualitas dari orang-orang yang bernasib sial itu.

Perduli VS Panik
Pengalaman praktikal saya memiliki beberapa team kerja yang berbeda-beda, mengantarkan saya kepada sebuah pengertian yang ingin saya bagikan kepada anda.
Di salah satu team kerja saya, saya mendapatkan orang-orang yang selama ini dibesarkan dengan kemarahan, koreksi, peringatan dan hukuman. Mereka benar-benar bebal sehingga jika tidak diteriakin atau ditendang pantatnya, mereka tidak akan bekerja dengan baik.
Sekali saja mereka diberikan kesempatan untuk bekerja sendiri, mereka akan lupa diri dan lagi-lagi berbuat kesalahan. Sialnya, situasi ini membuat manajemen memilih untuk tidak mempercayai mereka dan hanya membuat mereka menjadi robot yang tidak dituntut untuk berfikir.
Tanpa mempelajari lebih lanjut, saya membagikan keperdulian saya dengan sesekali membagikan stress kepada mereka. Saya perkenalkan kepada mereka kepanikan-kepanikan yang dialami pihak manajemen. Mulai dari pencapaian target yang jauh dari harapan, beban perusahaan dan harapan ratusan pewagai atas kinerja perusahaan sehingga mereka tidak mengalami tindak PHK.
Saya mencoba menyalakan semangat team dengan mengirimkan energi kecemasan kepada team kerja ini. Dari kisah pemain sepak bola, pemusik dan lomba pidato diatas pasti membuat anda paham, bagaimana yang terjadi dengan team kerja saya itu.
Di salah satu team kerja yang lain, nyaris sekalipun saya tidak pernah berteriak kepada mereka. Senyum dan tatapan mata saya seolah-olah bisa dibaca dan dimengerti. Mereka menikmati pekerjaan seperti mereka menikmati sebuah makanan lezat. Mereka mendedikasikan dirinya untuk kesempurnaan pekerjaannya.
Obrolan dan diskusi yang terjadi selalu dinamis, komunikatif dan berkembang. Tiap pertemuan adalah awal dari terciptanya kreasi-kreasi baru yang cerdas. Kami berani mencoba hal-hal ‘gila’ dengan cara ‘gila’ yang akhirnya menciptakan sesuatu yang positif dan memuaskan.
Perbedaan kedua kelompok itu sangat jelas. Sebelum saya menyalahkan kelompok kerja yang pertama, saya mencoba menganalisa dan merenungkan kondisi tersebut. Ternyada ada kontribusi kesalahan saya dalam hal ini kepada team pertama. Saya lebih menekan mereka dengan kecemasan-kecemasan dari pada memotifasinya dengan hal-hal yang kreatif dan positif.

Super team
Menganalisa performa kedua team kerja saya diatas, saya mencatat beberapa hal sebagai berikut. Pertama. Rasa takut berbeda dengan rasa segan. Team kerja yang pertama diatas lebih takut kepada saya dari pada kelompok yang kedua. Rasa takut itu membuat pikiran buntu dan negative. Rasa takut itu membuat mereka tidak menghargai saya. Mereka cenderung menjadi maling ketika saya tidak memandori mereka.
Dikelompok kedua, kami tidak saling menakuti, kami melihat yang lain dengan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Kami menerima apa adanya dan memberikan hormat atas peran-peran yang masing-masing kami emban. Di kelompok kedua kata maaf justru sering muncul dari orang-orang yang belum sempat di koreksi oleh anggota kelompok yang lainnya. Ironiknya di kelompok pertama, hampir tidak ada dialog, yang ada monolog. Jika mereka diajak bicara dalam pertemuan mereka hanya diam tidak berekspresi, bahkan pernah saya tanya hal sederhanapun mereka tidak bergeming, diam dengan pandangan kosong menunggu selesai pertemuan.
Kedua. Perduli berbeda dengan tekanan. Di kelompok pertama definisi perduli berubah menjadi tekanan. Itu terjadi karena kultur yang terlanjur terpola lama sebelum saya serta gaya pendekatan saya yang keliru. Saya meyakini bahwa stress/tekanan akan membuat seseorang mengerjakan tugasnya menjadi lebih buruk. Di kelompok yang kedua, rasa perduli benar-benar seperti vitamin yang memancing suasana rileks dan focus kemudian itu akan memancing semua sumberdaya yang seolah-olah secara magis mengantarkan kepada ketenangan yang terfokus kepada pencapaian-pencapaian dasyat yang luar biasa.
Ketiga. Ice breaking. Perlu upaya-upaya meleburkan kebekuan yang ada. Perlu secara perlahan dibuat budaya baru yang lebih percaya, sehingga bisa rileks dan tenang. Semua pihak harus mengembangkan pikiran positif dan meyakini bahwa konsekuensi logis dari pembelajaran adalah terjadinya kesalahan atau kegagalan. Itu hal yang harus diterima jika kita mau lebih cerdas dan lebih baik.
Membangun budaya baru itu seperti mempola sebuah bangsa, harus ada upaya bersama-sama mengembangkan persamaan-persamaan sederhana, sehingga keyakinan lama-lama bisa berubah. Menghindari pekerjaan yang monoton tanpa variasi. Membangun kesetaraan hak tanpa mengurangi rasa hormat. Menghargai peran-peran dan membedakannya dengan unsur pribadi. Inilah awal dari upaya membangun team yang super, karena kita tidak bakal bisa menjadi superman, tetapi pasti kita bisa membuat superteam.
Share:

Blog Archive