it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

28.7.08

Kepemimpinan itu seperti berenang; (Tak bisa dipelajari hanya dengan membacanya)

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada di halaman ekonomi & bisnis pada tanggal 28 juli 2008.

PERSETERUAN dan perjuangan untuk menjadi seseorang, dengan menjadi pemimpin dalam satu organisasi menjadi penyakit mewabah bagi banyak orang disekitar kita akhir-akhir ini. Panggilan ’ketua’ adalah sesuatu yang membuat bengkak kepala orang sehingga semua orang ingin mendapat sebutan itu.
Disisi lain, stephen covey mengatakan, ”A Leader is the one who climbs the tallest tree, surveys the entire situation, and yell; ’Wrong jungle!’” Stephen Covey menggambarkan bagaimana seorang pemimpin adalah seseorang yang sanggup menaiki pohon tertinggi, mengamati sekeliling dan berteriak, “ini hutan yang salah”.
Pemimpin itu bisa mengarahkan dan menjadi panutan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Tetapi jangan salah mengira bahwa berada dipuncak pohon sama dengan berada di puncak organisasi. Kempemimpinan sesungguhnya ada disemua level organisasi.
Ketika kita berfikir bahwa pemimpin adalah orang-orang di posisi puncak, itu adalah kesalahan dan berpotensi mengesampingkan orang-orang lain didalam organisasi yang berpotensi menjadi pemimpin. Banyak orang salah memandang. Mereka berfikir menjadi pemimpin adalah menjadi seseorang yang berkuasa. Bisa mengendalikan dan bisa suka-suka. Itu keserakahan yang menyesatkan. Memimpin adalah tanggungjawab yang tiada henti, melayani dan bukan dilayani. Jika sejarah ada mencatat banyak pemimpin sukses yang dipatuhi oleh pengikutnya, itu terjadi karena sebuah proses yang panjang.
Banyak diantara kita yang ingin menjadi pemimpin untuk menciptakan perbedaan. Sayangnya terlalu banyak membuang waktu hanya untuk mempromosikan diri sendiri dan tidak memiliki cukup waktu untuk mengamati serta membangun jembatan yang menghubungkan diri dengan orang-orang. Padahal dalam konteks kepemimpinan, mendengar adalah bagian penting dan harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum masanya seseorang di eluk-elukan.
Orang-orang harus tahu siapa diri si pemimpin dan harus tahu apa yang diperjuangkannya sebelum mereka menyetujui untuk dipimpin. Kepemimpinan adalah kesepakatan. Seseorang memimpin semestinya atas sebuah kesepakatan. Jika seorang pemimpin mengindikasikan citra diri yang tidak konsisten dan tidak menguatkan integritas, biasanya orang-orang akan menolak untuk dipimpin olehnya. Yang menarik adalah dalam beberapa kasus orang-orang menyimpan dalam-dalam rasa tidak setujunya, sehingga kempimpinan yang terjadi adalah sebuah kepalsuan. Rawan penolakan dan pembangkangan.
Rasa hormat, patuh dan segan tidaklah bisa dibeli dengan uang dan ancaman. Rasa itu tumbuh karena usaha keras dari pemimpin dalam melayani.

Memimpin
Nyawa kepemimpinan adalah hubungan antara satu orang dengan banyak orang. Seorang Lord Byron bahkan mengatakan bahwa, “Ketika kita berfikir bahwa kita memimpin, ketika itu juga sebenarnya kita sendang dipimpin”. Pemimpin sejati merasakan apa-apa saja yang mendesak dan penting. Itu menyangkut kemampuan keterlibatan diri kedalam situasi dan orang-orang yang dipimpin, bukanlah sebagai agen perubahan dari luar. Pemimpin hebat bisanya mengalir bersama perubahan, mereka bukan mengaturnya, tetapi seperti peselancar yang tidak menciptakan ombak yang mereka selancari.
Berlaku sebagai pemimpin bukan berarti dia adalah seorang pemimpin.
Saya pernah mendengar bahwa McKinsey –konsultan—ada mengumpulkan banyak jawaban dari banyak orang yang atas sebuah pertanyaan, “Apa yang membuat lingkungan pekerjaan menjadi fantastic?”. Tiga besar atas jawaban itu adalah, satu; jujur dan terbuka; kuncinya adalah rasa percaya kepada pemimpinnya. Kedua; keterlibatan dan nilai diri; seseorang harus merasa terikat dan jika mereka tidak ada, ada rasa bahwa mereka dirindukan. Lalu ketiga; ijin untuk mengambil keputusan; para responden memilih untuk tidak diberi tugas-tugas, tetapi diberi kesempatan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan tanggungjawabnya.
Pendiri VISA –Dee Hock— memberikan tips untuk mengetahui bagaimana menjadi pemimpin ideal sebenarnya mudah-mudah saja, pertama, ingat boss-boss yang anda kenal. Lalu buat daftar hal-hal yang tidak disukai darinya. Kedua, jangan pernah kerjakan itu. Ketiga, buat daftar hal-hal yang anda sukai dari seorang pemimpin yang anda kenal. Keempat, kerjakan itu.
Pemimpin adalah orang biasa yang juga tidak sempurna. Tetapi pemimpin yang baik adalah orang-orang tangguh yang mampu melewati banyak kesulitan, kejatuhan, kegagalan dan bangkit kembali. Bagi pemimpin yang tangguh, membuat kesalahan adalah hal penting, sejauh kesalahan yang tercipta adalah selalu kesalahan yang baru.

Pemimpin Hebat
Ingat, pemimpin bukanlah manajer utama. Tetapi siapapun yang sanggup mengendalikan, dialah pemimpin. Bisa saja ia seorang supervisor, kepala bagian, atau bahkan hanya kepala regu. Pempimpin-pempin sejati ini umumnya tidak menempati posisi-posisi tertinggi didalam sebuah organisasi. Mereka sering menolak promosi tinggi karena alasan integritas. Dan pemimpin hebat bukanlah mereka yang hanya sanggup mengarahkan bawahan, tetapi juga sanggup mempengaruhi atasan.
Dalam hal mempengaruhi atasan, pemimpin hebat, bukanlah raja forum. Pemimpin hebat tidak hanya pandai cakap, presentasi di layar power-point dan berteori, tetapi pemimpin hebat itu juga harus mampu mengerjakannya. Seperti falsafah jawa, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani. Dalam situasi ini, boss pada akhirnya akan mengakui ide-ide dari pemimpin (yang secara struktural ada dibawah) setelah melihat dan merasakan perubahan yang ditawarkannya.
Pemimpin-pemimpin yang bernafsu atas posisi lebih mengejar untuk menjadikan dirinya seseorang, bukan mencapai sesuatu. Dan pemimpin yang demikian melihat potensi-potensi dibawahnya sebagai pesaing dan ancaman bagi dirinya. Begitu mereka terserang penyakit ini, mereka tidak lagi menjadi pemimpin, tetapi menjadi pemain tunggal yang ingin menonjol dengan meginjak orang-orang yang mendukungnya. Lalu pastilah pemimpin ini hanya menduduki jabatan tetapi tidak menduduki batin terdalam dari orang-orang yang mendukungnya.

Pemimpin Menciptakan Pemimpin
Yang terakhir, pemimpin hebat bukanlah mereka-mereka yang hanya mampu merekrut pengikut, tetapi mereka-mereka yang sanggup menciptakan pemimpin-pemimpin berikutnya. Pemimpin yang lupa memperkuat pengikutnya serta lupa mempersiapkan pemimpin beriktunya adalah pemimpin yang gagal. Mereka itu adalah pemimpin yang egois dan saya pikir sedikit sakit jiwa.
Pemimpin hebat, tidak pernah takut dengan potensi bawahannya. Pemimpin hebat justru memberikan kesempatan maju bagi pengikutnya. Pemimpin hebat terus berkembang meningkatkan kualitas dirinya. Kemudian mereka terus maju dan tidak pernah menghambat pertumbuhan pengkikutnya.
Share:

21.7.08

“Tidak Seindah Khayalan…”

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 21 Juli 2008 di halamam bisnis dan teknologi
“Mau Jadi Presiden…..” teriak kita saat masih anak-anak dan hingga kini saya pikir semua anak-anak akan meneriakkan harapan yang sama ketika ditanya mau jadi apa mereka nanti kalau sudah besar. Memang ada profesi lain seperti tentara, dokter, insinyur, guru dan lain sebagainya. Dalam bayangan kita, berbagai kebaikan tercermin dari profesi tersebut diatas.
Apakah memang demikian kenyataannya?
Dalam beberapa waktu saya pernah telibat dalam sebuah hajatan menyambut Presiden Negeri kita ini. Mengikuti semua proses persiapan, hingga pelaksanaan. Kesempatan itulah yang membawa saya kepada pengertian betapa berat menjadi seorang presiden.
Sebelumnya saya kira, menjadi presiden itu enak, menjadi penguasa negara, dihormati bahkan ditakuti oleh banyak orang, mendapat fasilitas kelas premium, mau apa-apa tinggal bilang dan tak ada alasan untuk tidak terpenuhi. Ternyata tidak hanya demikian adanya.
Disamping kemudahan-kemudahan diatas, ternyata menjadi presiden itu kerjanya jauh lebih repot. Apapun yang dikerjakannya setiap hari serba diatur. Bahkan pekara sederhana seperti makan pun susahnya luar biasa. Mulai dari menu yang dibatasi lalu di uji terlebih dahulu, kemudian jam makan juga dibatasi, bahkan lokasi makan juga diatur hingga terkadang seorang presiden benar-benar tidak memiliki pilihan selain harus menurut apapun kehendak protokoler.
Setelah seharian penuh dengan berbagai kegiatan yang serba formal, seorang presiden masih harus mengerjakan tugas-tugas administrasi pada malam hari atau memperkaya wawasan dengan membaca hingga dini hari. Lalu, beberapa jam kemudian seorang presiden harus bangun untuk ibadah dan aktifitas lainnya.
Sama seperti iming-iming para ‘perayu’ dari jaringan pemasaran berjenjang. Mereka menjanjikan, jika kita mencapai tingkat tertentu, kita tidak lagi terbelenggu waktu, kita bebas menentukan mau kita, dari seberapa jam kita mau bekerja atau bahkan kita dijanjikan pendapatan ’pasif’ yang sering dianggap sebagai tidak kerja tetapi akan mendapatkan hasil yang besar. Tanpa melihast prosesnya, tentu semua orang akan mengatakan iya, jika tidak kerja tetapi memiliki pendapatan yang besar dan terus-menerus.
Saya juga teringat, ketika masih menjadi seorang clerk, saya ingin sekali menjadi pemimpin utama sebuah perusahan. Saya pikir menjadi boss itu enak, boleh suka-suka dan mendapat gaji lebih besar. Ternyata tidak hanya itu. Memang gaji bisa jadi lebih besar. Memang menjadi boss tidak dituntut mengeluarkan kekuatan fisik secara berlebihan. Tidak cukup berkeringat. Tetapi yang pasti bukan tidak capek.

Berhenti Adalah Mati
Setelah melewati berbagai jabatan dari junior clerk, asisten supervisor. Supervisor, asisten manajer, manajer bagian, hingga pimpinan umum, saya merasa bahwa sebenarnya tiada istilah berhenti. Sepertinya sesaat ingin menikmati jawabatan, tetapi tetap saja justru jabatan dan tanggungjawab yang diemban, semakin menuntut dedikasi yang lebih tinggi lagi.
Demikian juga ketika memulai bisnis, semakin besar bisnis, semakin besar pekerjaan yang harus dilakukan. Kenyataan-kenyataan yang ada menuntut tanggungjawab yang semakin besar. Kenyataan itu menyadarkan diri bahwa impian semasa kecil, tidaklah sesederhana yang kita khayalkan.
Begitu juga orang-orang yang sukses dalam pola jaringan pemasaran berjenjang, mereka yang sukses itu tidak pernah berhenti. Memang benar mereka mungkin tidak lagi repot-repot jualan sendiri, tetapi mereka harus terus mengembangkan jaringan, memotivasi orang-orang dibawahnya dan aktif memposisikan dirinya di masyarakat dan urutan jaringannya.
Terjebak dalam kondisi selalu bersantai dan menikmati fasilitas adalah langkah bodoh seperti menggali kuburan sendiri. Dibelakang kita masih banyak lagi yang memacu lebih kencang, masih banyak pesaing yang akan mengambil porsi kita, jika kita lengah. Bagi saya, berhenti berarti mati, karena berhenti adalah pembodohan dan itu membiarkan diri kita terduduk lalu tertinggal dan kalah lalu terlupakan begitu saja. Boleh saja kita berpesta merayakan setiap sukses, tetapi mengasah senjata untuk melanjutkan perjuangan adalah hal wajib yang tidak boleh dilupakan.
Lihatlah tokoh-tokoh publik datang dan pergi, tetapi tetap saja ada yang terus bertahan karena kemampuannya untuk selalu berubah dan memperbaiki diri. Lihatlah merek-merek yang sudah puluhan tahun, mereka tetap berjaya karena tidak berhenti, terus berubah dan terus menyempurnakan diri.

Proses
Ini yang sangat penting. Semua posisi unggul, sukses dan berbagi pencapaian adalah sebuah hasil atas berbagai daya upaya. Tentu saja usaha tersebut akan memakan waktu, biaya, kekuatan mental dan kemampuan manajemen plus ridha Allah YME. Tidak ada sukses yang mendadak, tidak ada kekayaan yang begitu saja datangnya, tidak ada kepandaian yang begitu saja datangnya.
Semuanya berproses, dari kecil hingga besar, dari miskin hingga kaya, dari bawahan hingga kemudian menjadi pemimpin/atasan, dari pekerja hingga menjadi pengusaha.
Proses yang tidak natural, seperti buah yang matang karena karbit. Buah karbitan memang cepat masak, tetapi akan terasa asam. Umumnya, buah yang asam tidak diminati oleh pembeli. Demikian juga kebalikannya, proses yang terlalu lambat juga kontra-produktif. Itu namanya melawan azaz kemajuan.
Menjalani proses sebagaimana mestinya itu sangat penting untuk menjadikan diri kita sebagai insan yang paripurna, lumrah dan membumi.

Paripurna
Bagi saya manusia paripurna adalah manusia yang sejalan antara pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan. Mereka adalah orang-orang yang sanggup menyatukan angan-angan keberhasilannya dalam pikiran yang teguh, perasaan dan optimisme yang terucap dalam perkataanya serta nyata dalam tindakannya.
Lihatlah betapa banyak pecundang yang berkhayal menjadi sesuatu atau menciptakan sesuatu, tetapi tidak segera menerapkannya dalam aksi nyata. Mereka masih tetap saja berkhayal dan tidak segera memulai prosesnya.
Bersiapdirilah untuk menduduki bangku sukses, termasuk konsekuensi-konsekuensi logisnya, agar tidak kaget dan tidak menghayal yang bukan-bukan. Ingat semakin tinggi pohon menjulang, semakin deras angin bertiup menerpanya.
Share:

15.7.08

Lupakan Dulu Ijasahmu…

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada halaman bisnis dan teknologi, tanggal 14 juli 2008

Menjadi manusia yang mumpuni ternyata tidak harus ‘sangat cerdas’. Menjadi jawara kelas di sekolah ternyata tidak otomatis menjadi jawara di dunia nyata.
Beberapa pelaku bisnis yang menurut saya cukup sukses, ternyata bukan mantan bintang kelas. Kawan-kawan saya yang dulu bintang kelas, ternyata lebih banyak menjadi pegawai yang memperkaya orang-orang non bintang kelas atau paling-paling menjadi konsultan dan dosen.
Semakin saya lihat bahwa para bintang kelas, biasanya tidak cukup ‘terancam’ dalam konteks pelajaran, sehingga tidak cukup ‘terpaksa’ untuk menggunakan pikiran. Para bintang kelas, sepertinya mengerjakan sesuatu dengan pola yang sama, logis dan prosedural. Tetapi bagi mereka-mereka yang tidak masuk tataran jenius, jelas tidak ada pilihan lain selain memaksa diri ‘berfikir’ dan memaksimalkan potensi pikiran ‘terbatasnya’.
Bagi orang-orang yang tidak sangat jenius, yang muncul adalah kreatifitas dan berbagai terobosan sebagai akibat keterbatasan kemampuan pikirannya. Orang yang tidak jenius lama-lama terbiasa untuk menggunakan pikirannya dan saya kira itulah yang membuat orang kurang sangat jenius akan menjadi orang-orang yang kreatif dan penuh terobosan.
Jika ujian atau test sekolah adalah sebuah permainan yang harus dimenangkan, tentu orang jenius akan mengandalkan kemampuan logikanya yang memang sudah premium. Berbeda dengan orang-orang yang kurang jenius, mereka terpaksa mencari solusi lain, seperti mencontek, untung-untungan, berdukun atau secara ekstrim ada yang menyogok. Dalam konteks sportifitas permainan, jelas itu bukan sesuatu yang terpuji, tetapi dari sisi kemampuan penyelesaian masalah, itulah yang membuat orang-orang yang tidak cukup jenius memaksa pikirannya untuk bisa menyelesaikan masalah.

Ijasah dan Dunia Nyata
Sekarang, sudah menjadi kesadaran bersama bahwa ternyata kurikulum di kebayakan sekolah tidak berhubungan sama sekali dengan upaya-upaya menjadikan diri si siswa menuju kekayaan yang luar biasa.
Jikalah para lulusan sekolah itu masuk ke dunia industri, biasanya akan mengalami kekagetan-kekagetan yang luar biasa. Mereka terlanjur dicekoki konsep-konsep yang menyesatkan oleh pihak kampus. Menurut sebagian kalangan kampus yang sedikit kurang bijak, para mahasiswa D1 dan D2 adalah orang-orang untuk level supervisor. Dan D3 serta S1 adalah untuk menduduki jabatan manajer. Bagaimana mungkin mematok seorang S1 untuk menjadi seoarang manajer, jika kompetensi kurikulumnya meragukan?
Bagi saya, ijazah hanyalah sebuah kunci (yang tidak harus) untuk memasuki dunia kerja. Itu saja! Selanjutnya, untuk menjamin seseorang bisa sukses atau tidak, bukan ijazahlah yang menentukannya.
Saya meyakini ada beberapa hal yang penting untuk meningkatkan kualitas seseorang terlepas dari ijazah yang mereka milikiyaitu seberapa banyak referrensi yang dibaca, seberapa banyak orang yang ditemui serta seberapa banyak tempat yang dikunjungi.

Referensi
Sangat naif, bagi seorang sarjana yang lulus 20 tahun yang lalu untuk tetap sanggup berkompetisi dengan anak baru gedhe tapi tidak pernah membaca apapun. Sayangnya lagi, sarjana itu juga tidak pernah mengikuti pelatihan-pelatihan selama kurun waktu karirnya itu. Satu-satunya referensi yang dimilikinya adalah pesawat TV dan sesekali koran, itupun sebatas hiburan, berita olahraga, gosip dan kriminal.
Orang-orang yang aneh ini biasanya selalu ingin maju dan berkembang, mereka takut bersaing dengan anak muda. Mereka iri jika yang lain dipromosikan. Tetapi jangankan mereka mencari referensi bacaan atau pelatihan, sekadar mencari bahan bacaannya saja mereka tidak pernah lakukan. Bukankah buku adalah jendela dunia?
Pertanyaan sederhana untuk kita renungkan sendiri-sendiri, “Kapankah terkahir kali kita membaca buku?” dan, “Buku apa yang kita baca”. Jawabannya seiring dengan kualitas kita saat ini.

Bergaul
Terlepas dari ijazah apapun, pembelajaran dan pengayaan wawasan tidak saja datang dari orang-orang berlabel guru, pengajar, pelatih atau konsultan. Bagi saya guru sejati adalah orang-orang yang bisa memberikan pencerahan walaupun hanya setitik dan itu mungkin saja datang dari orang-orang yang tidak kita duga.
Bergaul dan bertemu dengan berbagai orang adalah pembelajaran yang istimewa. Obrolan dan pengalaman bersama orang-orang dari berbagai latar belakang akan memperkaya wawasan kita. Mereka akan mengantarkan pemahaman kita kepada hal-hal yang tidak tersebur dalam kurikulum sekolah dan mungkin tidak tersebut dengan khas di buku-buku manapun.
Bergaul tidak saja memberikan keuntungan wawasan, tetapi berpotensi memberikan dukungan jaringan. Pergaulan akan mengantarkan kita kepada zona-zona sosial yang tertentu. Pergaulan akan menghasilkan dukungan yang penting untuk kemajuan karir serta bisnis. Lebih dari itu, pergaulan akan mengantarkan kita kepada wawasan religi yang mungkin tidak terbatas.
Pertanyaan untuk mengukur jaringan pergaulan kita adalah, “Seberapa banyak orang yang kita temui?” lalu , “Apakah hari ini saya sudah bertemu orang baru?”

Perjalanan
Tidak lengkap wawasan yang kita miliki jika tidak melihat dan merasakan tempat-tempat lain di muka bumi ini. Setiap tempat memiliki alam yang berbeda, lain lubuk, lain pula ikannya. Setiap tempat juga memiliki aturan dan norma yang berbeda-beda. Setiap tempat juga dihuni oleh orang-orang dengan perilaku dan kultur yang berbeda-beda.
Otak manusia biasanya akan lebih mudah mempelajari sesuatu jika itu bersifat ‘dialami dan dirasakan’. Mengunjungi tempat-tempat yang berbeda adalah salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas wawasan dan pengalaman kita sendiri.
Pertanyaan selanjutnya, “Seberapa banyak tempat yang pernah kita kunjungi?”

Manfaat
Buku, orang-orang dan berbagai tempat berbeda akan memberikan manfaat besar bagi siapa saja yang bisa mendapatkannya. Contoh sederhana adalah jika kita ingin mendapatkan beasiswa atau kredit dari sebuah bank.
Bagaimana kita tahu ada fasiliatas beasiswa atau fasilitas kredit jika kita tidak memiliki referensi mengenai hal itu. Lalu, bagaimana kita akan mudah didalam mendapatkannya jika kita tidak mengenal orang-orang yang bisa mengantarkan kita ketujuan itu? Dan bagaimana mungkin kita mendapatkan kemudahan lain kalau kita tidak pernah berkunjung ke kantor penyedia beasiswa atau bank yang memberikan fasilitas kredit itu?
Kunci sukses mengakses ketiga hal tersebut kembali kepada diri kita sendiri, apakah kita hanya sekadar ingin sukses atau memang benar-benar ingin sukses. Semua terjawab dari pertanyaan sederhana diatas.
Share:

10.7.08

ONE-MAN SHOW Sudah tidak jamannya lagi…! (Leadership)


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada desember 2006, pada halaman ekonomi & Bisnis
BERHENTILAH, cobalah sadari bahwa masih banyak potensi yang bisa ditingkatkan jika anda melepaskan gaya kepemimpinan manajemen One Man Show. Ingatlah bahwa anda bukan pemimpin bisnis yang serba super seperti malaikat, anda hanya manusia biasa. Tentu anda tidak sempurna. Gunakan pikiran, potensi, tenaga dan kalau perlu modal dari orang lain. Percayalah, hasilnya akan berbeda, lebih berkembang dan positif.
Sekarang adalah akhir tahun, kala banyak orang melakukan renungan-renungan, evaluasi dan perencanaan untuk tahun berikutnya. Diantara sederet daftar kegagalan, kendala dan peluang yang terlewatkan, dosa gaya kepemimpinan anda adalah komponen yang paling strategis untuk dievaluasi.
Jika anda ingin mengembangkan usaha dan bukan sekedar menjalankan usaha, ingin hidup lebih sehat dan berbahagia, segeralah tinggalkan konsep One Man Show. Mengapa?

Anda akan cepat mati
Mati memang urusan Tuhan, tetapi logika kita sangat jelas menunjukkan kepada kita faktor-faktor umum penyebab kematian. Selain faktor kecelakaan, faktor sakit adalah pembunuh yang paling kejam. Yang menarik adalah sebuah studi yang mengungkap bahwa 70% penyakit manusia adalah disebabkan faktor psikosomatik. Faktor pikiran dan manajemenya.
Dengan tetap menerapkan gaya One Man Show, anda akan terbebani oleh banyak hal yang merugikan pikiran dan perasaan anda. Kelebihan tekanan terhadap mental anda akan secara langsung mempengaruhi kinerja jantung, paru-paru, lever, pankreas, ginjal, otak dan berbagai macam pemicu penyakit fisik lainnya. Saat ini bukan gurauan jika statistik berbagai penyakit semakin meningkat tajam, seperti hipertensi, gula darah, stroke, asam urat, lever, dll. Beban yang berlebihan itu akan menuntun anda kepada liang lahat yang anda gali sendiri.
Saya tidak tahu siapa yang pertama kali memunculkan istilah ini, tetapi untuk menyamakan pandangan, yang saya maksud dengan One-Man Show adalah sebuah gaya kepemimpinan yang serakah, yang serba ingin menguasai segala sesuatunya. Pemimpin dengan gaya ini, akan melibatkan dirinya dari awal hingga akhir. Ia akan mengikuti semua detail. Gaya ini biasanya diterapkan oleh para pengusaha kecil dan menengah. Mengapa?
Tentu saja jawabaannya adalah karena pada umumnya pelaku usaha kecil dan menengah tidak cukup memiliki kapital dan potensi yang cukup, sehingga semuanya ia kerjakan sendiri; dari mulai perencanaan, pembelian bahan baku, pengolahan, pengawasan, keungan, pembayaan, hingga ke penjualan produknya juga dilakukan oleh si pengusaha itu sendiri. Inilah yang saya maksud dengan gaya One Man Show.
Konsekuensi logis dari gaya ini, tentu lembaga usaha hanya akan berkembang seiring dengan perkembangan kedewasaan pengusaha. Jika semangat si pengusaha sedang naik, maka kinerja bisnis akan juga naik. Jika semangat si pekerja sedang down, maka lembaga usahu itu juga akan ikut down.
Gaya One Man Show cenderung membawa anda kepada beban pikiran dan mental yang belebihan, karena itu anda sengaja, maka anda sebenarnya sedang melakukan praktek bunuh diri secara perlahan. Pada saat yang sama anda sedang melakukan pengingkaran atas konsekuensi tanggungjawab kepada diri sendiri, keluarga bahkan Tuhan.

Tidak sehat
Gaya One Man Show, tidak saja terbatas kepada praktik pelaksanaan yang semuanya dikendalikan secara langsung, tetapi juga kepada praktik-praktik delegasi yang tanggung-tanggung. Jelas perilaku ini amatlah tidak sehat, mengapa?
Yang pertama, anda menderita penyakit tidak percaya kepada orang lain. Sehingga semuanya anda pikir memerlukan keterlibatan anda dalam pelaksanaannya. Anda harus menyadari bahwa setiap delegasi pasti memiliki potensi kesalahan. Karena volume kemampuan setiap individu amatlah berbeda-beda.
Delegasi juga memerlukan penyesuaian dan pengajaran. Anda harus mengakui perbedaan volume kemampuan kerja setiap individu yang berbeda-beda. Anda harus ingat bahwa segala-sesuatu memerlukan proses. Jika seseorang melakukan kesalahan karena masih belajar, tentu itu adalah hal yang wajar harus kita terima. Bimbinglah mereka seperti anda membimbing anak kecil yang akan belajar naik sepeda. Ia akan jatuh dan menabrak pada awalnya, jika latihan dilanjutkan niscaya suatu saat ia akan mampu naik sepeda dan mengendalikannya tanpa harus khawatir menabrak atau jatuh.
Yang kedua, anda sedang membodohi diri sendiri. Anda membatasi kemampuan anda untuk mengerjakan hal-hal rutin, sederhana dan itu hanya membuang-buang waktu. Seharusnya anda bisa mengosongkan setengah dari volume pikiran anda agar anda memiliki kesempatan untuk melihat masa depan dengan lebih kreatif.
Yang ketiga, dengan tetap menggunakan gaya One Man Show, anda sebenarnya sedang membodohi orang lain. Anda tidak akan pernah menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang akan membantu meringankan beban anda. Anda hanya memiliki orang-orang dengan kekuatan otot saja tanpa memanfaatkan sisi otak yang mereka miliki. Nantikanlah waktu dimana semua orang hanya akan berusaha untuk menyenangkan anda, bukan menguntungkan anda.
Penyakit anda akan lebih berbahaya jika anda tidak memiliki sistem dan alat-alat bantu manajerial anda. Jika masih semuanya disimpan di dalam kepala tanpa bantuan tulisan, agenda, daftar kerja dll, sudah pasti anda hanya akan menjadi pemimpi yang pelit, penuh curiga dan cenderung merusak kinerja anda sendiri.
Yang keempat, karena secara teori anda cenderung menjalankan bisnis, maka tingkat keuntungan juga tidak sangat maksimal. Lalu anda menjadi semakin pelit dan tidak lagi berorientasi kepada efektifitas kerja.
Cobalah anda renungkan, mungkin dengan gaya ini, anda akan mendapatkan keuntungan sesaat yang lebih banyak, tetapi jangan lupa, jika anda memiliki banyak orang pintar yang bekerja untuk anda, pasti keuntungan akan lebih maksimal dan berjangka lebih panjang. Bukan sedikit contoh orang-orang sukses dengan latar belakang pendidikan minimal tetapi mampu membayar banyak proffesor dan doktor untuk kepentingan bisnisnya. Walaupun anda memiliki banyak orang yang lebih pintar dari anda, percayalah anda tetap dianggap sebagai boss mereka.
Yang terakhir, saya sarankan agar anda menyayangi diri sendiri, memiliki waktu yang cukup untuk diri sendiri dan keluarga serta memiliki wawasan yang jauh kedepan untuk pengembangan bisnis dengan meninggalkan praktek-praktek One Man Show. Semoga renungan ini bermanfaat untuk persiapan menjelang tahun baru yang lebih bermakna, produktif dan sehat.
Share:

7.7.08

Membebaskan diri dari Belenggu Sukses

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada halaman bisnis & teknologi, pada tanggal 07 juli 2008


MAJALAH Business Week melaporkan bahwa 95% orang AS menolak anggapan bahwa tujuan satu-satunya sebuah korporasi adalah menghasilkan uang. Selain itu, 39% investor AS mengatakan mereka selalu atau sering meneliti praktik-praktik bisnis, nilai-nilai dan etika dari perusahaan yang dituju sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
Spiritualitas ini terpicu oleh para pemimpinnya yang makin ‘religius’. Contohnya; konon seorang Bill Gates mengalokasikan 40% dari keuntungan bersihnya untuk amal. CEO Honda konon hanya tinggal di rumah sederhana dan tidak mewariskan sedikitpun harta miliknya kepada anak-anaknya. Ia malah memilih membuang kekayaannya untuk kegiatan sosial. Seorang George Soros yang amat kaya, justru mengarahkan keuntungannya kepada negara-negara yang miskin dan memerlukan dukungan.
Wujud spiritualitas dalam bisnis yang dimotori oleh para CEO, secara sederhana berarti mewujudkan nilai-nilai personal; kejujuran, integritas dan kualitas kerja yang baik. Dalam prakteknya, ada yang berpendapat spiritualitas adalah memperlakukan semua stake holder dengan cara yang bertanggungjawab dan peduli.
Wujud spiritual yang demikian akan membawa pebisnis kepada kesejatian. Kata spiritualitas atau nilai-nilai dan etika mengacu pada hal saya sebut kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual itu adalah potensi, dan hanya akan muncul apabila telah melalui serangkaian proses pengasahan.
Mengasah kemampuan ini memerlukan satu ujian dan pembelajaran untuk mencapai kesejatian. Dari referensi kuno, kita ini memiliki 7 cakra kesempurnaan untuk mencapai kesejatian hidup. Sayangnya cakra-cakra itu kadang tertutup, sehingga potensinya tetap terpendam.

Cakra Tanah/Bumi,
Adalah cakra yang berhubungan dengan kemampuan bertahan hidup. Cakra ini membawa seseorang kepada keteguhan dan semangat perjuangan untuk tetap hidup serta menegakkan eksistensi dirinya.
Konon cakra ini terletak di bawah tubuh, tentang tempatnya ini saya tidak begitu tertarik. Tetapi yang penting adalah bahwa cakra ini terkunci rapat oleh rasa ketakutan.
Para CEO sukses dan pemilik bisnis yang sukses, umumnya mampu melawan ketakutan, kekhawatiran dan keragu-raguan.
Melawan ketakutan yang efektif adalah dengan menghadapinya, bukan lari menghindar. Dalam bisnis, hasil dan manfaat itu berbanding lurus dengan peluang resiko. Lebih tinggi resiko, lebih tinggi peluang untungnya.
Sekarang coba ukur, seberapa besar anda berani berhutang. Selanjutnya anda pasti sudah memahami pesan saya.

Cakra Air
Cakra ini berhubungan dengan kemampuan diri dalam menikmati, bersenang dan kebahagiaan. Lihatlah betapa kita sering sekali membuat berbagai persyaratan untuk bisa bahagia.
Cakra ini konon tertutupi oleh perasaan bersalah. Bersalah pada masa lalu atau bahkan kekhawatiran bersalah dimasa yang akan datang. Untuk bisa mengendalikan rasa ini, para bijak menyarankan untuk menerima kenyataan yang terjadi. Terima dengan pikiran positif dan jangan pernah biarkan perasaan-perasaan itu menggelapkan dan meracuni hidup kita. Ada masanya kita berani untuk mengendalikan diri secara positif dengan memaafkan diri sendiri.

Cakra Api
Cakra yang konon terletak di perut, memiliki kekuatan pada hal yang berhubungan dengan kekuatan keinginan. Semua sukses dan karya-karya agung, selalu diawali oleh kekuatan keinginan. Tanpa keinginan, mustahil manusia bisa menapakkan kakinya di bulan. Tanpa keinginan mustahil bagi kita bisa menikmati semua sarana modern dalam kehidupan sehari-hari kita.
Tanpa keinginan, tidak akan ada pengusaha yang sukses.
Cakra penting ini biasanya di selubungi oleh kabut peka yang bernama perasaan malu. Setiap keinginan besar, sering kali terhambat hanya karena rasa malu yang tidak proporsional. Jika ada kesempatan, cobalah amati, Kekecewaan atau pemikiran diri apa yang membuat kita merasa malu?
Yakinlah, bahwa malu tidak akan membuat kita kenyang, malu tidak akan menyekolahkan anak kita. Malu tidak akan menciptakan rumah yang layak. Malu tidak akan membuat kita kaya.

Cakra Cinta
Cakra yang bersemayam di dalam hati ini konon tertutupi oleh rasa duka cita. Kesedihan yang mendalam akan menghilangkan potensi kasih sayang yang ada dalam batin jernih kita. Kasih sayang dan cinta adalah satu bentuk energy dasyat yang beterbangan mengitari kita.
Kekuatan cinta sudah membuktikan adanya kejadian-kejadian spektakuler. Bisnis yang dibangun dengan kekuatan cinta, niscaya akan memiliki potensi kekuatan untuk bertahan dan berkembang dengan baik.
Kesedihan yang mendalam akan menutup cakra ini. Lagi-lagi kesadaran dan pikiran positif serta kesediaan untuk bangkit adalah obat yang paling manjur bagi penyebab tertutupnya cakra ini.

Cakra Suara Kebenaran
Konon menurut para pendahulu, cakra ini berada di tenggorokan. Cakra inilah yang menyuarakan kebenaran, kesejatian dan kebaikan. Sayangnya cakra ini sering tertutup oleh kebohongan.
Semua bentuk kebohongan, walaupun disebut bohong putih, tetap saja merupakan kebohongan. Segala kebohongan akan mematikan suara-suara kebenaran dan sekali kita berbohong, sebenarnya kita sedang meminum air laut, semakin kita minum makin terasa haus.

Cakra Cahaya
Cakra yang terletak di tengah-tengah dahi ini adalah cakra yang berhubungan dengan pencerahan. Cahayalah yang menyebabkan kita bisa melihat segala sesuatu. Cakra ini memberikan kita kesempatan untuk bisa melihat dengan lebih luas dan bijaksana.
Sayangnya, cakra yang penting ini biasanya tertutup oleh ilusi. Sebuah pandangan semu, bukan kesejatian seperti fatamorgana. Ilusi yang terbesar di dunia ini adalah ilusi atas perbedaan, pembagian-pembagian. Sesuatu yang terlihat/dikira terpisah dan berbeda, sebenarnya merupakan satu kesatuan dan sama. Kita mahluk yang sama, tetapi kita hidup seolah-oleh terpisahkan dan berbeda-beda. Dalam kerangka 4 elemen dasar Besi adalah bagian dari bumi yang sudah dimurnikan dan diolah.

Cakra Pikiran
Cakra inilah sumber pengolahan energi cosmik yang murni. Ini cakra utama, terletak di ubun-ubun. Cakra ini biasanya tertutupi oleh keterikatan duniawi. Keterikatan duniawi tidak pernah akan membebaskan pikiran kita untuk merdeka, maju dan berkembang.
Ketika cakra ini dibuka, kita memasuki tingkat kesempurnaan yang muncul dengan kontrol penuh dan kesadaran tinggi atas semua langkah kehidupan.
Share:

Peringatan bagi bawahan (7 hal yang dibenci atasan)

tulisan ini sudah diterbitkan diharian waspada medan,pada halaman bisnis & teknologi, tgl 30 juni 2008
SEBENARANYA 7 hal yang akan saya tuliskan bukanlah hanya dibenci oleh atasan, tetapi juga oleh orang-orang lain, bahkan oleh orang-orang yang mengaku sayang kepada kita.
Saya menuliskan 7 hal ini karena saya pernah melakukannya dan sekarang sebagai atasan saya meyadari betapa itu adalah perilaku bodoh yang sangat berpotensi menghambat perkembangan karir saya.
Saya dan sebagian dari anda pasti pernah dengan sengaja mengerjakannya. Waktu itu kita menganggap bahwa tindakan bodoh itu adalah bentuk perlawanan kita kepada atasan, tetapi kini saya tahu bahwa yang rugi saya sendiri. Saya terjebak delam pikiran negatif dan memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk memperbaikinya.
Dalam berhubungan dengan ”Boss” – terutama boss dari indonesia—kita tidak bisa melepaskan status hubungan peran dan relasi. Dimana kita tidak saja dituntut bekerja dengan sempurna seperti peran dan posisi kita, tetapi juga kita dituntut untuk menjadi bawahan seperti layaknya junior dalam budaya ketimuran. Bukankah begitu?
Lalu disini, rasa senang dan tidak senang bercampur dalam kepala boss atas dasar prestasi kerja dan prestasi kepribadian yang kita tampilkan. Mempelajari betapa saya pernah menderita kerugian atas pemikiran yang negatif itu, maka saya mencoba mengingat kembali 7 hal jelek yang bisa merugikan semua bawahan;

Tidak Jujur
Dibohongi terasa sangat menyakitkan dan memalukan. Mungkin kerugian materialnya tak seberapa. Tetapi jelas bahwa selain kita mendapatkan data palsu, kita juga merasa malu, karena kita ditempatkan oleh si pembohong dalam urutan paling bawah. Ia menyepelekan kita dan menganggap enteng diri kita. Itu artinya kita tidak dihargai.
Berbohong tidak ada yang putih dan tidak ada yang hitam. Semua tindakan yang tidak jujur adalah penipuan. Satu sikap yang jelas membeda antara yang diucapkan dan yang dipikirkannya. Bisa saja kita berbohong agar tidak dimarahi, tetapi pada kenyataannya atasan akan lebih marah ketika kita membohonginya. Dengan alasan apapun. Lihatlah betapa tidak jujur bisa membawa kita kepada kemungkinkan PHK tanpa hormat.

Tidak Disiplin
Aturan diciptakan untuk kebaikan bersama. Aturan diciptakan dan diundangkan untuk memastikan semua hak terpenuhi. Ingatlah betapa saat kita melamar dulu, kita sudah menghiba dan memelas sambil berjanji bahwa kita akan menjadi disiplin setiap saat asal kita diterima kerja disana.
Namanya saja manusia, mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki daya lupa dan lalai. Demikian juga dengan bawahan yang lalai atas janji yang pernah diucapkannya.
Pengingkaran itu biasanya berupa ketidak disiplinan. Bermula dari rasa bosan, ingin mencoba-coba, hingga akhirnya karakter tidak disiplin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kita.
Coba bayangkan betapa marah seorang pimpinan yang mendapati bawahannya sering terlambat masuk kantor, tidak pakai seragam, tidak menjalankan aturan yang ditetapkan, sering absen tanpa alasan, dan sebagainya.
Yang pasti ketidakdisiplinan ini bukan saja menjengkelkan, tetapi juga seperti penyakit yang mudah menular pada karyawan lain.

Pengecut
"Bukan saya, tapi mereka yang...," seperti inilah yang diucapkan oleh pengecut demi membebaskan dirinya dari tanggung jawab. Para pengecut akan berusaha mencari berbagai dalih untuk melemparkan tanggungjawab kepada orang lain.
Yang membuat sial operasional adalah jika aksi lempar tanggungjawab ini terjadi antar bagian secara berantai. Coba banyangkan, ketika seorang satpam pengecut ditegur kenapa tidak mengganti bola lampu yang sudah mati, ia akan menyalahkan bagian tehnik/perawatan, dan teknik/perawatan akan menyalahkan bagian gudang, bagian dugang akan menyalahkan bagian pembelian, bagian pembelian akan menyalahkan bagian yang lain dan seterusnya. Coba bayangkan, bukankah itu adalah sebuah awal dari bencana?

Selalu Mengeluh
Yang sangat pasti adalah bahwa kita harus sadar bahwa perusahaan bukanlah surga, dan atasan bukan Tuhan yang bisa memberikan kesempurnaan. Saya yakin bahwa tidak ada perusahaan dimanapun yang sanggup menjanjikan kesenangan serta perasaan bahagia.
Jika kita tidak pandai menciptakan kebahagiaan sendiri, maka kita hanya akan menjadi pengeluh ulung. Kita dibayar dengan tugas untuk meringankan beban atasan bukan menambahinya dengan beban baru berupa keluhan-keluhan yang tak bermutu.

Pembangkang
Atasan mana yang tak kesal jika perintahnya dianggap angin lalu. Kesepakatan yang terjadi antara atasan dan bawahan pada saat pemberian tugas, haruslah dikerjakan bukan untuk dibiarkan atau ditunda-tunda, kecuali sejak awal kita memberitahukan kondisinya.
Berinisiatif memang bagus, tetapi jika kesepakatan sudah terjadi, bagusnya semua orang melaksanakannya sesuai kesepakatan. Lebih berbahaya lagi jika pembangkangan dilakukan atas dasar rasa tidak suka dan berdalih kesepakatannya tidak bagus.
Kebiasaan serba meng-iya-kan apapun kata atasan adalah awal dari aksi pembangkangan ini.

Loyo
Perang sekecil apapun tidak akan dimenangkan jika prajuritnya loyo tidak bersemangat. Keloyoan ini bisa tercermin dari muka murung, tampang mengantuk, atau pakaian acak-acakan. Bisa juga terlihat kalau sedang mengerjakan tugas dengan malas-malasan, atau setengah hati, lamban,
dan akhirnya mengganggu kelancaran pekerjaan.

Miskin Dedikasi
Dedikasi saya terjemahkan sebagai ketulusan pengabdian. Seorang bawahan yang berdedikasi tak hanya menyelesaikan tugasnya dengan baik tetapi berusaha untuk hasil yang terbaik. Ia akan berusaha melibatkan semua potensi dan kemampuannya untuk hasil terbaik.
Bawahan yang selalu berhitung untung rugi hanya mau mengerjakan tugasnya sendiri dengan seadanya tanpa mau mengejar prestasi. Dia pulang selalu tepat waktu, bahkan jam kerja belum lagi usai dia sudah berkemas-kemas. Bila diberi tugas di luar jam kerja mungkin masih mau menerima tetapi dengan muka masam atau langsung menolak. Sifat semacam ini sungguh menggemaskan atasan.
Yang terakhir, perlu dipahami bahwa tulisan ini bukan untuk membela atasan, tetapi marilah kita mengaca diri. Sebelum menuntut seorang atasan yang ideal, apakah kita sudah menjadi bawahan yang baik?

Referensi "7 Sifat yang Tak Disukai Atasan", Buntje Harboenangin
Share:

Blog Archive