it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

23.9.08

Kekuasaan Kata-kata




ANDA pasti ingat dengan kata-kata berikut ini;
”........., Mencuci Paling Bersih”,
”........., Berani Kotor Itu Baik”,
Apakah anda sudah membayangkan sebuah merek sabun detergen yang sangat familiar dengan pasar di Indonesia.
Berikutnya, apakah anda segera nyambung dengan kata-kata berikut ini;
”Terus Terang ...... Terang Terus”
Lalu, apakah yang anda ingat dengan kata-kata;
”Bukan Basa-Basi..”
”Apa kata Dunia..?”
”Bukan Telepon Biasa ..”
Saya yakin mayoritas dari anda, sanggup menebak merek-merek dagang atau institusi yang terwakili oleh kata-kata tersebut diatas. Pesona kata-kata diatas, tidak saja mewakili produk yang dipromosikan, tetapi juga membimbing kita untuk mempercayai pesan-pesan promosi tersebut.
Kata-kata sungguh berdaya. Gabungan-gabungan huruf itu tidak saja bersuara, tetapi juga mampu menggerakan manusia. Kata-kata positif akan membuat pendengarnya optimis, percaya diri, semangat, inovatif, kreatif, energik, bahagia dan sejenisnya. Ada kebangkitan semangat hidup disana. Dunia terasa lebih indah dan seolah-olah lebih menjanjikan.
Coba cermati, kalimat ini; “...., Gigi putih seputih Mutiara”. Perbandingan gigi dengan mutiara adalah perbandingan yang memberikan harapan, kesan positif, optimis dan menyenangkan. Produk yang ditawarkan seolah-olah memiliki kekuatan yang positif untuk hal positif bagi penggunanya.
Sebaliknya, kata-kata negatif dapat membuat kondisi sebaliknya. Pendengarnya akan menjadi pesimis, minder, tidak percaya diri, frustrasi, patah hati, antipati, sedih, kecewa, merana, tercampakkan, teraniaya, terluka atau terkebiri. Hidup terasa hampa, mengalir tanpa warna, tidak ada daya dan tidak ada upaya. Semuanya pasrah, pasrah dan pasrah. Biar nasib yang bekerja sendiri. Inilah konsekuensi logis dan nyata dari pengaruh kata-kata.
Jika kalimat, “..., Gigi putih seputih Mutiara” diatas, kita ganti dengan kalimat, “...., Gigi putih seputih Kapur Tulis”. Bagaimana perasaan anda dengan kalimat terakhir itu? Apakah ada kekuatan positif yang sanggup menggerakan anda dari kalimat itu?

Cerdas Berkata
Menyadari kekuatan kata-kata, pemilihan dan penggunaannya ada baiknya dilakukan upaya penyaringan yang dilakukan terlebih dahulu ketika berhadapan dengan para pelanggan. Kata-kata kurang baik sebaiknya ditelan saja demi menjaga hubungan relasi agar tetap baik. Seorang tokoh besar Inggris, Sir Winston Churchill, punya pribahasa yang tepat soal ini, ‘by swallowing evil words unsaid, no one has ever harmed his stomach.' Denyut perut yang mulas dan menggelisahkan tidak akan terjadi jika kata-kata kurang baik batal diucapkan kepada orang lain.
Bayangkan, jika anda datang ke sebuah toko ingin membeli sesuatu, lalu anda bertanya kepada pelayan tentang satu tipe produk yang anda inginkan dan si pelayan begitu saja segera menjawab, “Wah... maaf itu mahal, sangat mahal”. Begitu anda mendengar kalimat itu, kira-kira apakah anda masih mau bertahan dilayani oleh pelayan toko tersebut?
Kalimat pelayan diatas berpotensi merendahakan diri anda, seolah-olah si pelayan tidak yakin bahwa anda memiliki uang untuk membayarnya, atau paling tidak anda merasa di cap ‘miskin’ oleh si palayan.
Kata-kata positif pada dasarnya diproduksi oleh pikiran yang positif serta batin yang harmonis. Untuk itu diperlukan pelatihan dan pengamatan agar kita mampu memilih dan menyaring kata-kata untuk mendukung sukses bisnis dan pembawaan diri kita. Ingat pepatah lama, mulutmu harimaumu.

Perang Kata
Berbagai jenis iklan sering kita lihat di TV, didengar di radio, dibaca di media cetak, namun yang sangat berpengaruh biasanya iklan yang ditayangkan di TV karena audience dapat langsung menikmati suguhan visual dibandingkan jika harus menghayalkan iklan dari radio atau gambar dua dimensi media cetak. Dari sekian jenis iklan yang ada, ada yang menghibur namun juga ada yang tidak menarik sama sekali.
Terlalu banyak pemasang iklan yang serba memaksakan kehendak agar orang-orang tahu apa produk yang ditawarkan, tanpa menimbang bahwa seseorang menyetujui sesuatu jelas melalui beberapa proses dasar. Seseorang akan setuju, jika ia percaya dan membutuhkannya.
Para orang tua jaman sekarang, percaya bahwa anak-anaknya perlu banyak belajar dengan berbagai pengalaman nyata. Para orang tua membutuhkan media-media agar anak kesayangannya bisa belajar. Proses belajar dengan cara apapun itu baik, termasuk belajar sesuatu dengan konsekuensi tertentu. Jadi orang tua jaman ini tidak keberatan jika pakaian anaknya menjadi kotor, asal anaknya mendapat pejaran penting untuk diri si anak, walaupun harus berkotor-kotor. Disinilah mucul pernyataan berani kotor itu baik.
Iklan yang ditawarkan kepada publik atas pernyataan berani kotor itu baik, ditawarkan dengan visualisasi beberapa anak yang berlajar menjadi montir mobil-mobilan, bermain sepak bola di lapangan berlumpur dan lain sebagainya. Iklan yang muncul berlaku juga sebagai media edukasi kepada publik bahwa kini bukan jamannya lagi khawatir pakaian si anak kotor, karena dibalik kekotoran itu ada pelajaran yang jauh lebih penting. Sementara itu perkara kotor adalah urusan detergen yang diiklankan.
Propaganda dalam iklan terkadang membawa produsen kepada terjadinya perang iklan antar produk. Perang itu kini semakin tajam dan kadang tercium aroma saling menjatuhkan pesaingnya. Saya ingin pastikan bahwa muncul dan sukses dengan ‘cara katak’ – menyodok samping dan menginjak yang dibawah—jelas tidak akan bertahan lama. Menjelekan pesaing untuk meningkatkan kredibilitas diri berpotensi mengundang rasa yang tidak simpati.
Apakah produk itu bagus atau tidak toh kembali kepada konsumen yang menilai. Memang tidak dipungkiri kekuatan iklan juga berpengaruh kepada pikiran seorang konsumen dalam memilih produk. Jika konsumen merasa produk yang dibeli sesuai dengan janji di iklan maka kemungkinan besar dia akan loyal kepada produk tersebut. Sebaliknya jika produk yang dibeli tidak sesuai dengan janji dalam iklan maka pembeli yang kecewa itu akan mempropagandakan pengalaman jeleknya lewat gerutu dalam perbincangan dengan lingkungnnya maupun melalui surat pembaca di media massa.
Share:

18.9.08

Bahagiakah pasangan yang menikah hanya karena cinta? (joke)


Barangkali kisah ini bisa menjadi renungan bagi kita, utamanya yang ingin berumah tangga:

Alkisah, seorang pemuda miskin bernama Yogi Prasetyo, berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Keluarganya hanyalah keluarga sederhana, kalau tidak bisa disebut miskin. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai tukang jahit di desanya.

Karena kegigihannya, Yogi berhasil kuliah di FE UGM walaupun dengan biaya seadanya. Semasa semester 4 di kampus, Yogi jatuh hati pada seorang gadis bernama Ayu Wulaningrum, juga sama-sama kuliah di faculty yang sama.

Ayu adalah putri seorang bupati ternama di daerah Yogyakarta & juga masih keturunan keraton. Walaupun secara economy mereka jauh berbeda, namun tidak menghalangi keduanya untuk saling mencintai.

Ayah Ayu yang mengetahui putrinya begitu mencintai pemuda dari keturunan biasa, tak mampu mencegah gelora cinta putrinya. Maka begitu keduanya telah lulus, pernikahan keduanyapun diselenggarakan dengan megah. Pesta besar-besaran digelar untuk mengiringi pernikahan putrinya.

Ayah Yogi yang tak punya banyak harta, hanya bisa memberikan bantuan sumbangan pakaian, sprei, sarung bantal, yang semuanya ia buat & ia jahit sendiri khusus untuk pernikahan putranya.

Bahagiakah Ayu bersanding dengan Yogi?

Ternyata kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.

Tibalah saatnya malam pengantin tiba. Mereka berduapun memasuki peraduan dengan bahagia. Namun, ketika Yogi membuka pakaiannya & tinggal memakai celana kolor, berteriaklah Ayu dengan keras, sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri. Semua penghuni rumah dari kerabat & keluarga Ayu pun berdatangan melihat kejadian itu.

Yogi masih dalam kebingungan & mencari tahu kenapa istrinya hysterical & pingsan. Dilihatnya celana kolor yang ia pakai.

Aduh, Yogi lupa kalau celana kolor itu jahitan ayahnya, dibuat dari kain bekas wadah tepung terigu. Di tengah celana kolor itu masih terpampang jelas tulisan, "BERAT BERSIH 25 KG".

Tentu saja Ayu langsung pingsan melihatnya. Ayu tidak bisa membayangkan seberapa besar isinya dengan berat segitu.
Share:

15.9.08

Penyelesaian konflik bisnis dengan mediasi

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & ekonomi, tanggal 15 september 2008

ALAM reformasi yang begitu derasnya merambah semua bidang, sedikit membawa euphoria dan kelatahan beregu. Artinya, semua orang semakin berani menyuarakan haknya dan semakin berani mengatakan hal yang tidak ia sukai. Keberanian itu kadang terasa kebablasan sehingga cara penyampaian seringkali tidak lagi menggunakan kaedah norma dan sopan santun ketimuran yang selama ini dianut bersama.
Keberanian yang dirasakan orang-orang di jaman demokrasi ini terkadang masih membawa semangat bar-bar yang secara primitive masih tersimpan di dalam pikiran kotor kita. Kini orang-orang tidak lagi takut merampas hak orang lain, tidak takut lagi berhutang, tidak takut ingkar janji, dan tidak lagi malu jika ditagih, bahkan berani melawan sekalipun jelas mereka bersalah. Kini orang tak lagi mendahulukan kepentingan bersama selama kepentingan pribadinya belum terpenuhi.
Asal budaya latah inilah yang pada akhirnya menyirami benih-benih permusuhan serta konflik dalam kehidupan bisnis kita. Catatan perseteruan orang-orang antar bagian di semua lembaga bisnis semakin banyak. Konflik kepegawaian yang berlanjut hingga meja hijau juga semakin banyak. Konflik hutang-piutang yang melelahkan juga tidak sedikit.
Terlepas dari bentuk-bentuk konflik bisnis yang terjadi, saya kini melihat betapa pentingnya fungsi mediasi untuk menyelesaikan konflik tersebut dan memulihkan kembali hubungan di lingkup bisnis tersebut.

Pentingnya mediasi
Mediasi biasanya cekup efektif menyelesaikan permasalahan, karena masalah terbesar dalam dunia kerja dan bisnis adalah masalah manusianya, baik dari persepsi, ucapan dan tindakannya. Faktor manusia inilah yang biasanya akan memicu perbedaan. Perbedaan itulah yang berujung kepada konflik.
Mekanisme formal, biasanya tidak diiringi dengan kelegaan hati dan itu berarti tiap hari adalah sambungan dari konflik yang sudah terjadi. Terus menerus, beranak cucu dan menular.
Konflik selalu berbiaya, menelan stress, membuang waktu, membuang energi dan menurunkan produktifitas. Konflik mengalihkan fokus perhatian kepada hal-hal negatif dan membiarkan yang positif. Iklim bisnis dan kerja akan menjadi negatif, mendung, dingin dan hilang semangat. Jikapun ada semangat, semangat penghancuran saja yang akan muncul. Konflik yang ditangani dengan efektif bisa sekali berubah menjadi pemicu peningkatan prestasi dan menghindarkan stagnasi.

Memilih Mediasi
Setiap konflik bisa diselesaikan dengan negosiasi atau musyawarah, dengan mediasi, dengan arbitrasi atau dengan litigasi.
Dalam tingkatan konflik yang rendah dan atmosfir hubungan masih sejuk, musyawarah atau negosiasi biasanya menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang bagus bagi semua pihak yang terlibat. Prosesnya disepakatai oleh pihak-pihak yang terlibat dan dalam konflik tersebut.
Arbitrasi melibatkan arbiter walaupun dengan pola yang relatif informal. Mereka biasanya adalah para ahli yang independen dan netral. Prosesnya seperti studi oleh pihak-pihak yang terkait dan akhirnya arbiter memutuskan untuk semua pihak. Keputusan bisa dilakukan dengan kompromi antara yang diinginkan oleh pihak-pihal yang terlibat konflik berdasarkan bukti dan penilaian teknis.
Ligitasi bermuara kepada mekanisme hukum formal. Yang mengambil keputusan adalah hakim melalui persidangan meja hijau. Tingkat fomalitas legalnya sangat tinggi. Jika ada pihak-pihak lain yang telibat, kapasitasnya sebagi penasihat dan menghilangkan situasi oposisi. Tipe hasil yang muncul adalah menang atau kalah berdasarkan preseden legal dan pertimbangan bukti-bukti.
Sedangkan mediasi posesnya dilakukan oleh orang-orang yang terlibat konflik dengan bimbingan seorang mediator. Beda madiator dengan perantara yang lain adalah bahwa mediator bersifat seperti fasilitator, independen dan netral tetapi tetap tegas walaupun secara informal bersama pihak yang berkonflik. Sebagai fasilitator, mediator berpartisipasi penuh dalam proses pengambilan keputusan. Tipe hasil yang diharapkan muncul dengan mediasi adalah keputusan yang diatahkan kepada penerimaan bersama dan saling menguntungkan .
Karena sifatnya yang informal, mediasi cenderung labih murah, mudah, singkat dan efektif. Karena itulah banyak perusahaan yang menggunakan jasa mediator untuk keperluan penyelesaian konflik-konfliknya.
Kini banyak perusahaan menggunakan jasa mediator seperti perusahaan asuransi dan perbankan yang terlibat konflik transaksi. Bukan hanya itu, konflik perceraian saja sudah banyak yang tidak lagi menggunakan jasa pengacara. Jasa mediator dianggap lebih santun, lunak, murah dan cenderung dianggap menjaga martabat.

Konflik yang pas dimediasi
Tidak semua konflik memang tepat dilakukan dengan mediasi. Tetapi konsep mediasi akan sukses manakala kedua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk mencoba pendekatan mediasi sebagai solusinya. Keduabelah pihak memiliki masalah yang benar-benar ingin mereka selesaikan dengan cepat.
Lalu masalah yang mereka hadapi berada dalam kendai keduanya, artinya mereka bukan sekadar korban atas sebuah situasi yang diluar jangkauan kekuasaan mereka dan ada keseimbangan wewenang antar keduanya. Mediasi menjadi lebih mudah jika memang ada tuntutan untuk mengambil tindakan segera.
Mediasi menjadi penting ketika keduabelah pihak tidak menghendaki investigasi resmi dan keduanya menyadari pentingnya solusi yang akan dihasilkan. Adanya kesadaran atas resiko-resiko serius yang mungkin timbul jika tidak mencoba langkah mediasi.

Tugas Mediator
Dalam hal menyelesaikan konflik, mediator harusnya menstimulasi terjadinya keterbukaan atas pikiran dan perasaan yang dirasakan oleh semua pihak. Kemudian mediator merangsang pikiran positif sehingga semua pihak bisa saling mendengar.
Mediator memberikan kesempatan yang sama untuk berkomunikasi, bernegosiasi dan memikirkan kesempatan yang realistis serta adil kepada semua pihak. Mediator memastikan terhindarkannya segala bentuk penghujatan, penyalahgunaan, penyimpangan dan segala perilaku yang menghalangi orang melakukan negosiasi dengan adil.
Mediator tidak berpihak kepada salah satu pihak dan mengambil alih hal mengambil keputusan bagi pihak-pihak yang terlibat konflik.
Mediator tidak akan menyarankan atau mengatakan apa yang harus anda lakukan. Mediator akab membantu pihak yang terlibat untuk memikirkan solusi yang bisa dilakukan. Mediator juga kan menguji kemungkinan hasil hasil, mengklarifikasi apa yang akan terjadi kemudian, dan memikirkan apa hendaknya yang harus dilakukan jika ada sesuatu yang salah.
Share:

8.9.08

Kekuatan Testimoni

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 08 september 2008, halaman bisnis dan ekonomi


Berikut ini saya cuplikan komentar tentang sebuah buku berjudul Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata.
Garin Nugroho –Sineas--, “Di tengah berbagai berita dan hiburan televise tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah. Sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam humanisme yang menyentuh. Dalam sebuah web, ini komentar beberapa pembacanya;
dr. ahmad hudoyo - laskar pelangi 2007-10-07 16:34:00 saya nonton kickandy di Metro-tv 2 x, teman2 juga saya sms spy nonton. Buku Laskar Pelangi harusnya dibaca setiap anggota DPR dan juga setiap Menteri dalam Kabinet SBY, supaya terinspirasi: bahwa "Anggaran Pendidikan 20%" memang tidak bisa ditawar.
firo - Subhanalloh 2007-10-08 09:39:53 Saya nonton di Metro-tv, saya sampai terharu Semoga laskar pelangi bisa memberikan semangat untuk berjuang meraih kehidupan yang lebih baik bagi kita semua. Amin....
bangunbi - salut & kagum 2007-10-08 15:06:07 salut & kekaguman utk Andrea Hirata atas kontribusinya kepada kemajuan Satra Indonesia, Laskar Pelangi sangat disarankan utk dibaca oleh seluruh pejabat pemerintahan di Indonesia agar bener2 melaksanakan salah satu tujuan NKRI
tercinta ini...Mencerdaskan Kehidupan Bangsa...
Dasrizal - Salut.. 2007-10-09 07:57:38 Subhanallah, Saya sangat terharu melihat kegigihan dari Sdr Andrea, menggapai cita-citanya dari sekolah yang begitu sederhana hingga mendapat bea siswa ke luar negeri dan pengorbanan Ibu guru Muslimah yang tanpa pamrih, demi anak didiknya.
Tri H - Kehidupan adalah Rahasia Ilahi 2007-10-09 15:11:44 Hidup memang penuh misteri dan tidak ada seorang manusia-pun yang bisa meramalkannya, namun walaupun demikian kita bisa merangkai kehidupan itu untuk menggapai apa yang kita cita-citakan. Hidup adalah perjuangan, perjuangan adalah hidup....thanks buat inspirasinya Mas Andrea
Mas Parsiyo 2007-10-11 08:58:02 salut deh kau benar-benar laskar yang pantang menyerah. Mas hebat telah menginsparasi banyak orang
rien - mengharu biru, membuka hati, 2007-11-14 14:30:42 buku laskar pelangi, sepantasnya dijadikan buku wajib pegangan para pendidik dan seluruh orang tua. Setiap malam sebelum tidur saya membacakan buku tersebut kepada anak2 saya (kelas 3 dan 5 SD). Anak-anak sangat bisa menikmati ceritanya, dan bisa menginspirasi mereka agar tidak boleh putus asa/menyerah dari keadaan yang ada.
Beth 2008-01-16 18:37:32 tertawa, menangis, merenung.....ekspresi luar biasa ketika membaca LP, Sang Pemimpi dan Edensor. Ikal dan Laskar Pelangi, Jimbron dan Arai sungguh2 menjungkirbalikkan hidupku untuk akhirnya aku bisa bangkit Semakin percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah potongan-potongan mozaik dan bukan kebetulan Proficiat to Andrea Hirata
Hilmiyya Almuzibhi - benciii 2008-03-21 23:10:10 salamalikum. sumpah..! aku benci mas Andrea yg bikin aku nangis semalaman. Tau ga rasanya habis nangis langsung ketawa? asem! Keriting. berrrandalll.... ditunggu novel ke 4 nya awas telat
Masih banyak lagi komentar tentang buku ini yang tidak bisa saya cantumkan dalam tulisan kali ini. Setelah membaca komentar-komentar itu, spakah anda masih tidak ’terganggu’ untuk segera membaca buku ini? Lihatlah betapa natural komentar-komentarnya yang ditulis dengan bahasa asli si pemilik testimoni. Saya yakin, semakin banyak orang terdorong untuk membeli dan membaca buku ini.

Kekuatan testimoni;
Saya tidak sedang membantu Andrea Hirata dalam menjual bukunya. Tetapi saya ingin mengantarkan anda kepada sebuah pemikiran, bagaimana jikalau banyak orang memberikan testimoni positif atas produk anda dan testimoni itu memperkuat keinginan orang lain untuk membeli produk anda.
Saya sendiri mengamati buku laskar pelangi sempat dicetak lebih dari 18 cetakan selama hampir dua tahun. Jutaan buku tersebar hingga keluar negeri. Jutaan orang dengan sukarela mengeluarkan rupiah untuk mendapatkan buku tersebut. Tidak sedikit antrian di toko buku untuk mendapatkan buku tersebut. Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa di negeri yang tidak memiliki kultur membaca.
Bagaimana semua pembaca tersebut mendapatkan referensi untuk membeli buku tersebut, jelas melalui berbagai jalur referensi yang luar biasa mencolok. Benar ada promosi melalui toko buku, berita di media massa dlll, tetapi kekuatan terbesar dari larisnya buku tersebut adalah banyaknya testimoni dan komentar postif beredar luas di berbagai medai publik seperti internet dll. Satu persatu pembacanya dengan penuh semangat memberikan rekomendasi kepada orang lain untuk membaca buku tersebut. Dan itulah... kisah sukes dari sebuah produk unggul yang diperkuat oleh kekuatan testimoni.
Bagi saya, testimoni bermakna kesaksian, pembuktian melalui pengalaman langsung. Dan itu berarti apapun yang disebutkan dalam kesaksian itu adalah sebuah kenyataan yang pernah dialami seseorang. Tentu saja, jauh lebih bernilai daripada pengakuan seseorang atas dirinya sendiri. Ini sangat penting, karena publik mengakui kredibilitas seseorang bukan dari pengakuannya tetapi apa yang ditunjukkannya.

Promosi dengan testimoni
Ini sudah dilakukan oleh banyak usaha besar. Lihatnya di berbagai media, ada beberapa orang yang berbicara hebatnya sabun pembersih, sabun kecantikan dan oli mobil unggulan. Konsep promosi ini sangat tepat dengan kultur Indonesia yang menganggap membesarkan diri sendiri adalah sikap bodoh dan sombong.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam berpromosi melalui testimoni. Yang pertama, pilihlah nara sumber yang kredibel. Kan tidak lucu seorang petani mengomentari kecanggihan komputer. Kedua, pastikan nara sumber benar-benar pernah merasakan/mengalami menggunakan produk yang akan dipromosikan. Ketiga, gunakan bahasa si nara sumber secara natural dan tidak dibuat-buat. Keempat, ikuti kaedah-kaedah promosi sebagaimana biasanya. Seperti kontrak dengan nara sumber agar nara sumber mengijinkan kita menggunakan testimoninya untuk keperluan promosi kita.
Sekali lagi saya sampaikan bahwa sebagian besar penduduk negeri ini masih sangat percaya kepada referensi sebagai alasan dalam memutuskan sesuatu. Artinya, testimoni adalah satu bentuk kampanye promosi yang masih sangat efektif.
Share:

Memastikan binis menghasilkan uang ditangan


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & teknologi tanggal 25 agustus 2008



MISALKAN anda seorang pebisnis. Anda sudah mendapat hasil penjualan senilai A, lalu ada piutang senilai B dan pesanan yang belum dikirim senilai C. seberapa besar nilai uang yang anda dapat?
Ada yang mengatakan bahwa bisnis anda adalah total A + B + C. karena semuanya akan menjadi milik anda. Tetapi ada juga bilang bahwa uang dari bisnis anda adalah A saja. Mereka berfikir bahwa A-lah yang sudah pasti dan nyata ditangan kita. Sementara B dan C adalah masih potensial, belum menjadi kenyataan. Bisa saja dalam proses menagih B ada timbul masalah dan demikian juga ada potensi pembatalan untuk pesanan degan nilai C.
Cara pandang yang berbeda itu sepertinya menarik untuk dikombinasikan. Cara pandang pertama, banyak dipakai oleh pengusaha atau eksekutif yang oportunistik dan memberikan pengaruh optimis serta rasa harapan yang biasanya meningkatkan andrenalin dalam diri si pelaku. Potensi-potensi yang ada akan dikuak dan menjadi bantalan untuk langkah ‘berani’ selanjutnya.
Cara pandang kedua adalah pandangan yang realistik. Ini penting untuk memposisikan kaki kita tetap membumi dan nyata. Sayangnya jika salah menggunakan kacamata yang kedua ini, kita bisa terperangkap oleh rasa pesimis dan kekhawatiran yang berlebihan.
Dalam aplikasi manajemen keseharian, saya ada melihat cara ini digunakan secara berbeda oleh pemilik perusahaan dan para eksekutifnya. Perbedaan tersebut adalah cara melihat uang sebagai hasil dari bisnisnya. Pemilik perusahaan cenderung melihat uang yang nyata, yang ada di tangan kita sedang para eksekutif lebih senang menggunakan ukuran dari sisi seberapa besar pencapaiannya di laporan keuangan.
Ini jelas hanya sebuah perbedaan akademik dengan konsep klasik. Para eksekutif yang melewati pengalaman akademik, memahami segala sesuatunya melalui mekanisme dan menciptakan alat-alat bantu untuk memudahkannya, walau terkadang menjadi terkesan ribet dan menyulitkan serta jika tidak dikerjakan dengan lengkap, maka akan memberikan data yang tidak akurat.
Sementara itu, pemilik bisnis klasik yang bermula dari volume usaha sederhana juga akan menggunakan konsep sederhana dalam mengatur keuangannya. Tak cukup perduli dengan aturan hitungan, yang penting uang ditangan jelas jumlahnya.
Jikalah kita menggunakan dasar prinsip bisnis adalah mencari uang dan uang yang benar adalah uang yang ada ditangan kita, bukan sekadar dilaporan, berikut saya ada beberapa tips untuk mengoptimalkannya.

Prinsip uang
Untuk prinsip bahwa uang yang sebenarnya adalah uang ditangan, maka pastikan semua prinsip mengenai keuangan adalah kepada hal-hal yang bisa mengarahkan kepastian uang tersebut kearah kita.
Yang pertama adalah pola penjualan yang mengutamakan pembayaran dengan tunai atau pembayaran lunas. Hindarkan peluang-peluang permintaan kredit. Sekarang banyak gerai yang memberikan layanan pembayaran dengan kartu kredit atau katu debit untuk mengurangi resiko piutang.
Kedua, jikalah harus memberikan kredit, usahakan agar tidak seratus persen. Mintalah uang muka. Kemudian, ada kepastian kredit dimana terbentuk sebuah jaminan bahwa kredit tersebut akan dibayar pada waktu tertentu dan jumlah tertentu. Pasti jaminan itu harusnya ada memiliki kekuatan hukum.
Seyognyanya keputusan memberikan kredit kepada seseorang atau sebuah badan usaha, mestinya harus melalui sebuah proses yang benar. Proses itu bermula dari permohonan kebijakan kredit oleh pihak yang membutuhkan, yang berisi segala informasi keuangan atas seseorang atau lembaga peminta fasilitas kredit. Setelah itu, kita harus melakukan segala bentuk check dan ferifikasi sebelum menyatakan bahwa seseoarang atau sebuah lembaga tersebut layak diberikan kredit dengan nilai tertentu dan dalam masa waktu tertentu.
Ketiga, pada saat menerima pesanan, seharusnya secepatnya kita harus mengikat pemesan dalam sebuah kesepakatan. Ya kesepakatan yang tertulis dengan jelas apa-apa saja hak dan kewajiban masing-masing pihak serta penalti atas pengingkaran kesepakatan jika terjadi.
Pelajari pola pemesanan yang sering terjadi dalam bisnis kita. Kadang seorang negosiator cukup cerdas dalam menyebutkan jumlah pesanan yang tinggi, sehingga kita memberikan harga murah, tetapi pada pelaksanaannya terjadi banyak pengurangan dan kita tidak berdaya untuk mengenakan penalti dengan harga yang lebih mahal kepadanya. Itu terjadi karena tidak ada penyebutan penalti-penalti yang jelas jika ada perubahan-perubahan dalam pelaksanaan kesepakatan tersebut.
Sangat bagus jika pada saat pengikatan kesepakatan, kita juga meminta panjar kepada pemesan. Agar terjadi ikatan emosi yang lebih dalam dan kita mendapat keuntungan atas uang yang jelas kita terima lebih awal dari transaksi sebenarnya.
Pesanan apapun itu harusnya diklasifikasikan kepada beberapa status tingkatan kepastinannya, sehingga mudah dinilai. Misalnya istilah tentative untuk yang belum pasti, confirm untuk yang pasti dan postpond untuk yang ditunda dan cancel untuk yang batal. Lalu confirm juga harus dilegkapi apakan sudah bayar atau belum dan kejelasan status pembayarannya. Kadang-kadang ada orang yang suka asal pesan atau khilaf memberikan informasi batal, sementara kita menganggapnya pasti jadi.
Keempat, hindarkan segala sesuatu yang berpotensi menghambat proses penagihan. Buatlah catatan yang bisa membuka mata kita dengan jelas siapa saja yang berhutang dengan nilai hutang serta masa piutang yang jelas. Jika ada usia tagihan yang lebih dari masa kesepakatan, biasanya sudah pasti itu adalah petunjuk adanya sebuah permasalahan. Jangan biarkan data itu tanpa perhatian serius. Segera amati kira-kira masalah apa yang terjadi, apakah karena faktor internal kita atau karena masalah internal partner bisnis kita. Segera ambil tindakan dan jangan biarkan masalah itu mengambang berlarut-larut.
Kelima, hindarkan semua praktek yang berpotensi mengurangi pembayaran. Semua diskon, komisi atau apapun itu harus dilakukan atas kesepakatan di awal transaksi. Kebijakan ini bisa terasa kaku tetapi ini sangat penting untuk memastikan bahwa transaksi yang tercatat benar-benar terbayar seperti apa adanya.
Share:

Pidato Steve Job -- pendiri Apple & Pixar -- di Acara Wisuda Stanford University

Jobs memegang sebuah MacBook Air di Macworld Conference & Expo 2008
Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah.
Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul- betul putus kuliah.
Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir.
Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan"
dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.
Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya.
Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin bayi perempuan.
Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "kami punya bayi laki- laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat?
Mereka menjawab: "Tentu saja."
Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA.
Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi. Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.
Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya.
Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya.
Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.
Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik.
Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.
Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya.
Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan.
Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.
Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.

Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.
Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.
Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya.
Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.
Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.
Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang.
Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.


Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun.
Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.
Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30.
Dan saya dipecat.

Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi.
Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya.
Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan.
Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.

Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.
Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan.
Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya.
Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley ...

Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya.
Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.
Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya.
Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas.
Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya.
Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia.
Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple.
Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple.
Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya.
Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan.
Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai.

Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.
Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya.
Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya.
Jadi, teruslah mencari sampai ketemu.
Jangan berhenti.


Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih
berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri:
"Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.
Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar.
Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian.
Hanya yang hakiki yang tetap ada.
Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa.
Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan.

Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.
Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.
Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.
Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut.
Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor.
Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana , mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.

Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.
Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya.
Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak.
Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan.
Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda.
Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.
Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain.
Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda.
Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan.
Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.
Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park , dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya.
Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid.
Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran
Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.
Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.
Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda.
Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.
Di bawahnya ada kata-kata: "Stay Hungry. Stay Foolish." (Jangan Pernah Puas. SelaluMerasa Bodoh).
Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka.
Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.
Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.
Stay Hungry. Stay Foolish.

(Diterjemahkan oleh Dewi Sri Takarini, alumni sebuah perguruan tinggi di Australia )
Share:

Blog Archive