it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

18.11.08

PROMOSI YANG MEREMBES

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada,pada halaman bisnis dan teknologi, tanggal 17 nobember 2008

SAMPAI pada suatu masa, produk kita cukup dikenal oleh target pasar yang dikehendaki. Tentu saja untuk meningkatkan penjualan, kita perlu menjaga agar pasar tersebut tetap loyal, publik tetap menyadari kehadiran produk kita, pasar baru yang petensial terbuka untuk kita dan kita juga tetap menjaga pesaing agar tidak sampai mengalahkan kita.
Untuk mencapai harapan-harapan diatas, kita perlu tetap melakukan langkah-langkah promosi. Strategi promosi yang terbuka dan langsung, memang umumnya lumayan cocok untuk masa awal agar sesegera mungkin orang mengenal produk kita. Berbeda dengan promosi di awal pengenalan, strategi promosi yang bersifat ‘mempertahankan’ dan ‘menjaga’ kadang kala harus berbeda dengan strategi awal.
Perbedaannya adalah bahwa publik dianggap sudah mengetahui pesan-pesan awal, sehingga tidak perlu berlebihan mengulang pesan-pesan karena pengulangan yang berlebihan cenderung akan mendapatkan penolakan.
Disinilah kita perlu menciptakan strategi promosi yang halus, santun dan merembes. Saya gunakan istilah merembes, seperti air hujan yang tidak diketahui tetesannya tetapi jelas dinding atau langit-langit kita menjadi basah.
Promosi ketika pertama kali, mestinya seperti hujan deras! Jelas terlihat airnya, jelas terlihat basahnya, jelas terdengar suara airnya, jelas terasakan dinginnya. Semuanya jelas dan tegas. Selanjutnya, tahap susulan cukup sesekali seperti hujan gerimis. Lalu stategi rembesan akan menjadi cukup efektif pada masa ’mempertahankan’ atau ’menjaga’.
Konsep promosi yang merembes, memberikan efek nyata tanpa disadari proses kedatangannya. Ini penting karena kebanyakan orang akan menolak apapun yang bersifat ’menjual’ atau berbau ’promosi’. Sekali lagi saya gambarkan, betapa orang dengan segera mengganti channel tv begitu ada iklan. Kini orang-orang hampir tidak lagi membaca spanduk di jalanan karena mereka berfikir itu adalah pesan promosi. Atau mungkin anda sendiri merasa ’terganggu’ ketika petugas promosi atau penjual dari suatu perusahaan berusaha menemui anda di rumah atau di kantor. Masih ingat, bagaimana perasaan anda saat penjual polis asuransi berusaha menemui anda?
Konsep promosi yang merembes, mengurangi penolakan dan perlawanan, tetapi pada akhirnya terasa sangat jelas dan publik yang kita tuju benar-benar merasakan hal itu.

Aplikasi
Di daerah Klambir Lima, Kecamatan Haparan Perak, Kabupaten Deli Serdang ada seorang pengusaha persewaan alat-alat perlengkapan pesta. Dia memiliki tenda-tenda dalam berbagai ukuran, kursi, perlengkapan makan, perlengkapan dapur, lengkap hingga mesin pompa dan generator listriknya. Saya memanggilnya Haji Yatno.
Seingat saya kini Haji Yatno juga menerapkan konsep promosi terselubung yang merembes itu. Di lingkungan sekitar Ia tinggal, Ia dengan cepat dan sigap berusaha memberikan tenda tratak secara gratis jika ada yang tertimpa kemalangan. Lalu, memahami banyak tetangganya yang tidak memiliki kalender, Ia juga mencetak kalender yang menonjolkan pesan-pesan religius sesuai dengan keyakinannya. Pesan itu jauh lebih menonjol daripada pesan bisnisnya. Karena Ia memahami sudah dalam tahapan dikenal, sehingga tidak lagi perlu menyampaikan pesan-pesan khusus selain informasi alamat usahanya. Ia hanya memastikan bahwa orang harus tahu jika bisnisnya masih tetap ada.
Terlepas dari niatan ibadah yang dikerjakan Pak Haji Yatno, jelas langkah-langkah itu memiliki nilai promosi yang merembes dan efektif. Disisi lain, masyarakat penerima ’pesan’ atas tindakan Pak Haji menganggap bahwa tindakan Pak Haji sebagai hal yang wajar, sederhana dan meringankan beban orang lain. Sebuah langkah yang terpuji.
Kegemaran Pak Haji beribadah dengan menolong sesama, aktif dalam pengajian di kampung serta aktifitas sosial yang lain, mengantarkan Pak Haji kepada poluaritas sosial. Pada gilirannya opularitas ini menempatkan nama Pak Haji dalam urutan pertama diingatan setiap orang di kampungnya saat memerlukan perlengkapan pesta.

Merembes
Promosi yang merembes atau terselubung menyesuaikan dirinya dengan situasi target, lalu memasuki dunia target dengan pendekatan yang halus serta tidak mengejutkan. Pola-pola merembes bisa dianggap sebagai promosi yang santun, menyentuh kebenaran universal, mendidik, membawa perubahan-perubahan kearah positif dan manusiawi.
Konsep promosi yang merembes dan santun ini bisa berisi hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan produk atau perusahaan kita sama sekali. Tetapi pada akhirnya publik akan menyadari bahwa dibalik pesan-pesan mulia itu ada kita, lalu seolah-olah, kita senyawa dengan pesan-pesan mulia tersebut.
Secara sederhana, jelas kita menyadari bahwa orang masih sering mencampur adukan siapa berkata dan apa katanya. Artinya, walaupun kita tidak menyebut diri kita secara berlebihan, orang jelas tahu bahwa penyampai pesan-pesan itu adalah kita.
Seperti rembesan air hujan, kita tidak menyadari bagaimana air itu datang, tetapi jelas air itu ada merembes di dinding atau di langit-langit rumah, meninggalkan noda dan berpotensi menghancurkan cat dan kayu yang dilewatinya.

Bentuk
Pada koran yang anda pegang saat ini, ada beberapa promosi. Yang secara jelas menggunakan iklan dan yang secara terselubung menggunakan penulisan berita. Jika menggunakan iklan, jelas kita tahu bahwa itu adalah promosi. Sementara itu, kita juga mengakui ada berita-berita yang bermuatan promosi, walaupun dikemas dalam bahasa jurnalistik.
Untuk bisa dan layak berpromosi melalui berita, kita harus membuat sesuatu yang bernilai berita. Lalu atas kegiatan tersebut, ada alasan untuk memberitakannya. Contoh sederhana, minggu lalu ada sebuah bank swasta yang menerima sekelompok murid SD yang ingin mengetahui dan belajar menabung. Jelas kegiatan itu bernilai terpuji, berisi informasi yang mendidik dan hampir semua orang setuju bahwa budaya menabung harus dimulai sejak kecil. Begitu foto yang muncul adalah petinggi bank tersebut, mulailah kita menyadari bahwa ada unsur promosi didalamnya.
Apapun bentuk-bentuk promosi yang ’halus’ ini, akan semakin mudah diterima jika pesan-pesan yang disampaikan memuat kebenaran universal, sesuatu yang diakui positif oleh publik. Syukur-syuklur bisa lintas batas, lintas suku, lintas religi dan menjunjung upaya-upaya membela yang lemah dan miskin serta kelompok-kelompok yang tidak beruntung.
Yang terakhir, berhati-hatilah dengan citra yang sudah sedikit salah kaprah. Memunculkan pesan-pesan positif dengan membaca citra negatif juga sedikit akan menunai perlawanan. Hanya perlu waktu yang lebih lama agar publik bisa menerimanya. Contoh yang saya maksud adalah beberapa perusahaan eksplorasi tambang / mineral dan perusahaan pemanfaat hasil hutan yang jelas terlihat sebagai perusak lingkungan lantas berusaha mengkampanyekan planet hijau dengan memberikan dukungan aktifitas-aktifitas publik yang mengarah kepada pelestarian alam. Sedikit aneh tapi...?
Share:

Swalayan? Mengapa Tidak

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halaman bisnis & teknologi, tanggal 10 November 2008

Kini berbagai jasa toko swayalan menjamur dengan subur. Dari yang menyebut dirinya mini market hingga hypermarket. Kehadiran pemilik group swalayan nasional ke wilayah sumatera bagian utara akhir-akhir ini tidak lagi bisa dibendung dan konon itu mengkhawatirkan pedagang tradisional.
Sekarang model berbelanja juga berganti. Kini masyarakat sudah mulai terbiasa dan menikmati berbalanja dengan memilih dan mengambil barangnya sendiri. Tata ruang pamer barang sudah menjadi ilmu tersendiri. Tata ruang toko sudah menjadi ajang wisata belanja bagi orang kota. Bahkan dengan ruang publik yang semakin terbatas, pusat-pusat perbelanjaan adalah objek wisata yang ’terpaksa’ dipilih oleh orang-orang kota.
Gaya belanja yang sudah demikian berubah. Datang ke toko, mengantri dilayani oleh seorang penjual dan menunggu si penjual mengambilkan barangnya, memilihnya, dan menukarnya jika tidak cocok jelas sudah semakin tidak lagi menarik. Ada kepuasan tersendiri bagi pembeli yang diperbolehkan memilih sendiri barang yang hendak dibelinya.

Gaya Berbelanja
Gaya dan model memang terus berkembang dan pada akhirnya akan berulang. Nah kembali ke topik Swalayan. Saya pikir kini masyarakat cukup terdidik dan terbiasa untuk melayani dirinya sendiri. Ada kenikmatan yang khas, seperti membandingkan sendiri produk sama dengan merek yang berbeda. Bisa membandingkan kemasan dan takaran isinya. Bisa menentukan sendiri harga yang pas sesuai dengan selera. Berbelanja di swalayan sudah menjadi kultur baru dan itulah hal yang perlu kita perhatikan.
Tiap orang memiliki kesenangannya masing-masing. Kesenangan sederhana yang menarik. Seperti dua kawan saya, memiliki perbedaan gaya berbelanja yang sederhana tetapi prinsip bagi mereka yaitu tentang wadah belanjaan. Kawan pertama senang pakai troli karena mudah dan tidak berat, bahkan anaknya pun bisa ia masukkan ke troli yang didorongnya. Kawan kedua lebih memilih dengan keranjang, karena ia bisa memaksa diri berhemat dan tidak terpancing untuk membeli barang-barang diluar rencananya, karena keranjang muatannya sedikit dan akan terasa berat jika terlalu banyak isinya. Keranjang juga membuatnya tidak akan berlama-lama berbelanja.
Bukankah budaya ini cukup menarik untuk dimanfaatkan?

Menjadi Swalayan

Mungkin sudah saatnya dipertimbangkan pelayanan di toko kita dirubah menjadi berbentuk swalayan. Ada beberapa keuntungan jika kita memilih merubahnya menjadi swalayan.
Yang pertama, kita jelas mengikuti budaya baru yang sudah lumrah dalam belanja. Dengan ketertarikan pembeli melayani dirinya sendiri jelas itu merupakan peluang untuk menarik pembeli. Bukankah rasa senang bagi pembeli adalah kunci bisnis yang bekelanjutan?
Kedua, budaya swalayan sudah tercipta, sehingga kita tidak perlu banyak mendidik konsumen untuk menerima konsep swalayan tersebut.
Ketiga, potensi menghemat biaya pegawai pelayanan akan terbuka lebar, karena swalayan tidak membutuhkan banyak pelayan. Disisi lain, sistem swalayan akan mempercepat pelayanan karena pelayan tidak sibuk mencari dan membantu semua tahapan transaksi.
Keempat, potensi penjualan akan semakin terbuka lebar. Toko yang bisa, pada umumnya tidak cukup bisa mempengaruhi pelanggannya untuk bertransaksi lebih dari yang sudah direncanakannya. Karena pelanggan tidak banyak bisa melihat atau memegang produk yang dijual. Sedang tata pemajangan produk di swalayan memberikan kesempatan pelanggan untuk melihat-lihat barang-barang lain yang diluar rencana belanjanya. Saya pikir anda pernah terpancing untuk membeli sesuatu walaupun tidak merencanakannya begitu melihat barang itu terpajang di swalayan.
Kelima, produk swalayan tidak saja menjual produk dagangan, tetapi juga menjual lokasi. Pihak-pihak suplier sangat senang jika produknya dipajang diareal yang strategis, mudah dilihat dan dijangkau. Produk lainnya adalah kerumunan orang. Kerumunan orang ini juga mengundang pemasang iklan untuk mendekati swalayan kita. Dalam tataran swalayan modern, hingga saat ini swalayan sudah memiliki lebih dari 24 jenis pintu pendapatan dari pengelolaan swalayan dan itu baru pendapatan dari pihak suplier misalnya dari listing fee, sampai promotional fee. Bisa bayangkan dari yang lainnya?

Konsekuensi
Semua keputusan akan membawa konsekuensi logis. Demikian juga keputusan untuk merubah pelayanan di toko menjadi swalayan. Berikut hal-hal sederhana yang biasanya akan terjadi;
Pertama, sistem swalayan menuntut sistem manajemen stok dan pencatatan yang cermat dan sistematis, bukan sekadar mengandalkan ingatan masing-masing penjaga toko. Tuntutan ini adalah tuntutan positif karena segala sesuatunya menjadi serba objektif, tidak main perasaan dan tidak bergantung kepada kapasitas ingatan yang tidak konstant.
Kedua, sistem swalayan memerlukan areal ruang pamer yang bisa jadi lebih besar dari toko yang biasa. Penataan yang lega dan memudahkan lalu-lintas pembeli dan berpotensi meingkatkan volume penjualan seiring tingginya tingkat kepuasan dan tingkat kenyamanan berbelanja.
Ketiga, karena pembeli bisa memegang langsung produk yang akan dibeli tanpa pengawasan langsung, maka ada potensi hilang, pecah dan rusak. Belum lagi perilaku pembeli yang suka mencoba-coba, merusak bungkus yang tersegel dll. Tentu saja hal ini bisa dikurangi dengan pengawasan dan kerjasama dengan suplier yang memungkinkan retour.
Keempat, pembeli yang diberi kebebasan terkadang tidak cukup menghormati tatanan penempatan barang. Kadang kala mereka mengambil produk A dan saat berada dipajangan produk C mereka berubah pikiran. Lalu begitu saja meletakkan produk A diareal produk C. Ini yang berpotensi mengacaukan pengaturan stock dan pengawasan masa berlaku sebuah produk.
Kelima, pengelolaan hubungan dengan pihak suplier sangat penting. Kepastian

Kombinasi
Jelas bahwa mode atau gaya terus berulang. Demikian juga dengan berbelanja. Masih saja banyak orang yang senang dilayani atau memang mereka tidak terlalu mampu menolong dirinya sendiri. Disinilah fungsi orang-orang yang sering kita sebut dengan SPG (Sales Promotion Girl), mereka memberikan pelayanan sekaligus menggenjot penjualan di arela swalayan.
Swalayan-swalayan besar bahkan menenpatkan orang-orangnya untuk menjadi agen pelayanan. Mereka dilatih untuk memberikan bantuan dengan serta merta ketika melihat ada pembeli yang kebingungan dan memerlukan bantuan. Semua usaha tetap ditempuh demi mengoptimalkan penjualan.
Selamat mencoba.
Share:

Prasasti

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada di halaman Bisnis & Teknologi pada tanggal 03 November 2008

PERJALANAN yang penuh dengan pemandangan indah, melewati beberapa tanjakan perbukitan, menyisir sederet pandati pasir putih dan hamparan keindahan laut, membawa saya dititik ini. Titik KM 0, belahan Indonesia yang paling barat di Pulau Sabang.
Sekarang saya berdiri di depan tugu tanda posisi KM 0 dan melihat jelas disekitar saya begitu banyaknya berserak prasasti ’swasta’ yang menempel dibebatuan besar dihalaman tugu. Prasasti itu terbuat dari pualam yang sepertinya sudah dipersiapkan dari asal para petualang tersebut.
Prastasi tersebut dibuat untuk menandai bahwa mereka sudah sampai di KM 0. mereka adalah orang-orang dari berbagai klub sepeda motor, club sekolah, mapala, asosiasi-asosiasi dan berbagai kelompok lainnya. Terlihat asal pemasang prasasti tersebut bukan saja dari kepulauan Sumatra tetapi juga dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
Tidak sekadar deretan prasasti, tetapi juga banyak grafity dari cat atau spidol bagi mereka yang tidak cukup bermodal dalam meninggalkan jejaknya. Pepohonan di depan tugu pun tidak dilewatkan, Nampak beberapa bendera club lengkap dengan daftar nama anggotanya melilit membungkus kulit pohon tersebut.
Saya menjadi teringat betapa beberapa situs penting sering juga mendapatkan perlakuan sama dari pengunjung-pengunjungnya. Di puncak Gunung Sinabung, Tanah Karo sekalipun keinginan untuk meninggalkan pesan jelas terlihat. Tanpa cat dan prasasti, para pendaki mengukir namanya dengan menyusun bebatuan diareal kawah mati. Satu persatu batu dirangkai menjadi huruf-huruf raksasa dan akhirnya membentuk nama dirinya.
Meniggalkan kenangan itu juga bisa kita lihat di Goa Jatijajar- Kebumen Jawa Tengah, Di Pangandaran -Jawa Barat, di Jembatan terpanjang - Batam, di Ngarai Sianok - Bukit Tinggi, dan diberbagai daerah lainnya. Tanda-tanda itu begitu menarik bagi banyak orang. Bukankah itu peluang baik untuk kepentingan bisnis kita.

Pengakuan
Keinginan manusia untuk diakui amatlah besar. Sehingga bisa saja mereka melakukan berbagai hal agar mendapat pengakuan itu. Sentuhan personal dan istimewa adalah perlakukan yang sangat diinginkan oleh semua orang.
Star Buck sekarang mengembangkan kebiasaan menarik dengan menuliskan nama pelanggan dengan pilihan kopi kesukaannya di papan tulis yang bisa dilihat publik. Sebuah ide penghargaan kepada pelanggan yang cerdas serta memancing pelanggan lain untuk lebih loyal sehingga suatu saat nama pelanggan tersebut juga akan tertulis di papan.
Beberapa restoran besar memajangkan botol-botol minuman pelanggan tetapnya lengkap dengan label namanya. Sehingga pelanggannya berlomba-lomba ingin memajangkan namanya juga disana. Tampilan rak tempat pemajangan botol-botol tersebut ditata di lokasi yang mudah dilihat dan mencolok. Sebuah pengakuan bahwa nama-nama pemilik botoil tersebut adalah kelompok tertentu yang istimewa. Sebuah strategi gunting bermata dua, membuat pelanggan loyal dan memancing pelanggan lain melakukan hal yang sama. Tentu saja ada syarat-syarat khusus untuk mendapatkan layanan itu, sehingga hanya orang-orang terpilih yang bisa melakukannya.
Jika anda merayakan bulan madu di Hotel Nuansa Maninjau Resort, maka anda akan dihadiahkan sebatang pohon untuk ditanam, lalu nama anda dan pasangan akan dituliskan di papan yang ditanjapkan didepan pohon kenangan tersebut. Betapa sebuah ide pemasaran yang cerdas. Pohon itu manjadi bukti kasih sayang tamu tersebut dan akan diingat sepanjang hidupnya. Suatu saat pasangan itu akan kembali lagi untuk melihat pohon kenangannya dan otomatis hotel itu akan mendapat bisnis lanjutan.
Dahulu, jika ada anak-anak naik pesawat terbang sendirian tanpa didampingi orang tuanya, kepada si anak akan diberikan kenang-kenangan berupa pin berujud Wing terbang yang disematkan di dadanya. Sebuah penghargaan atas keberanian si anak dan kepercayaan orang tuanya kepada perusahaan penerbangan tersebut. Wing itu akan menjadi prasasti yang tidak akan terlupakan oleh si anak. Bisa dibayangkan jika besar nanti, si anak akan memilih penerbangan apa untuk perjalanannya.

Kenangan
Kilometer 0 di Sabang tidak menjual apapun kecuali angka 0 itu sendiri. Keindahan alam hanyalah bumbu penyedapnya. Tidak ada sarana akomodasi bahkan tak ada penjual rokok atau souvenir layaknya di daerah wisata. Namun demikianlah produknya. Seseorang hanya ingin mencapai titik 0 lalu mengabadikannya dengan foto di lokasi ini.
Saya jadi teringat betapa kami sangat senang dengan foto bersama seoarang presiden, sehingga dengan senang hati kami perbesar foto tersebut dan kami pajang di kantor kami agar semua orang bisa melihatnya.
Kenangan yang membanggakan adalah hal penting untuk seseorang, seperti seorang sahabat yang sudah mengkoleksi lebih dari 200 sertifikat seminar, dia terus mengkoleksi sertifikat serupa dan dia ingat persis seminar apa saja yang pernah diikutinya.

Formulasi
Menciptakan kenangan dan pengakuan kepada pelanggan adalah hal penting untuk menjaga loyalitas pelanggan. Untuk menciptakan hal tersebut, selayaknya memenuhi beberapa kaidah dasarnya, yaitu;
Pertama, bersifat isimewa. Kenangan itu tidak diberikan kepada semua orang. Artinya harus diciptakan pembatasan-pembatasan agar yang mendapatkan merasa bahwa program tersebut adalah benar-benar program istimewa. Pembatasan bisa dari pemilihan secara subjektif manajemen atau berdasar kriteria terbuka yang diketahui oleh semua orang, misal untuk pelanggan yang sudah loyal selama beberapa tahun, atau pelanggan dengan nilai transaksi tertentu dan lain sebagainya.
Kedua, bersifat menghargai layaknya bintang tanda jasa. Seseorang harusnya merasa bangga dengan penghargaan tersebut. Selain alasan pemberiannya yang istimewa, tanda penghargaan itu juga tampil menarik dan istimewa.
Ketiga, diberitakan kepada orang banyak. Seseorang akan merasa bangga jika orang lain membanggakan dirinya. Dan pemberitahuan itu akan memancing orang-orang lain untuk bisa mendapatkan penghargaan tersebut.
Keempat, sistem prosedural pemberian penghargaan harus jelas dan dipahami semua pihak internal perusahaan kita. Berlaku secara standard dan bertindak lanjut.
Kini saya sedang ragu-ragu, haruskah saya tinggalkan jejal kaki saya di Kilometer ini? Atau biarkan saja kenangan itu terpatri dalam hati saya yang sudah merekam jelas keindahan pulau ini.
Share:

17.11.08

Menjadi istimewa Atau Sekadar saja?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 27 Oktober 2008, pada halaman bisnis & teknologi
Selamat pagi para pembaca yang budiman. Pagi ini saya ingin menjawab sebuah pertanyaan yang diberikan oleh beberapa pembaca yang sedang gamang, terutama untuk Sdr. Anthony S. yang belum juga bergerak setelah 5 tahun diwisuda.
Untuk memulainya, ijinkan saya menyadur kalimat bagus dari seorang motivator nasional Mario teguh;
“ Orang-orang yang mengenal mengapa dia harus berhasil, akan lebih tahan terhadap gangguan-gangguan ketidakpastian didalam proses bekerja, didalam proses hidup.
Orang-orang yang mengerti alasan mengapa dia harus bekerja keras, akan tahan terhadap sulitnya bekerja keras.
Orang-orang yang tahu mengapa, akan lebih mudah menangani pertanyaan bagaimana caranya.
Orang-orang yang tidak tahu mengapa, akan berhenti waktu tidak tahu caranya.
Itu sebabnya upayakan selalu tahu, mengapa anda harus bekerja keras, mengapa anda harus mencapai keberhasilan”.

Konon, ada informasi bahwa satu pon (sekitar setengah kilo) baja sesaat di tambang harganya sekitar 5 dollar (45.000 rupiah). Dengan harga itu, beberapa fungsi bisa dikerjakan oleh besi baja itu, dari pemberat meja, mengganjal pintu atau pemberat kertas. Lalu jika baja dengan berat yang sama dibuat sepatu kuda, harganya akan naik menjadi sekitar 50 dollar (450.000 rupiah). Kalau baja itu dibuat jarum suntik kedokteran, nilainya menjadi 500 dollar (4.500.000 rupiah). Dan begitu baja itu dibuat menjadi pegas atau per yang diperlukan dalam jarum buatan Swiss, maka satu pon baja itu menjadi senilai 5000 dollar (45.000.000 rupiah).
Kisah yang sama adalah sekaleng minuman cola berkarbonasi. Beberapa kaleng keluar dari produsen yang sama dengan pengiriman yang sama. Begitu sampai grosir, harganya sekira Rp.4.500,- lalu menjadi Rp. 5.000,- sesampainya ke pengecer di pinggir jalan. Akan menjadi hampir Rp.10.000,- jika disajikan dengan es dingin disebuah rumah makan. Kita akan mendapatkan minuman yang sama dengan harga Rp.70.000,-an begitu sampai ke Pub yang terkenal dan elit (tentu saja dengan ramuannya).
Yang manjadikan harga produk yang sama itu menjadi berbeda harganya, adalah karena ada subuah proses yang membedakan. Ada perlakuan-perlakuan khusus kepada bahan mentah itu. Dari pengolahan, penambahan, fariasi, penggabungan dan pengemasan. Kesemua proses itu akhirnya menciptakan sebuah hasil baru yang lebih bernilai.
Persis seperti kupu-kupu merupakan gambaran proses penyempurnaan yang menarik, dari telur, manjadi ulat, berubah menjadi kepompong hingga akhirnya muncul menjadi salah satu mahluk yang memiliki sayap terindah di muka planet ini.
Alih-alih proses dan tujuan, semua bermula pada simpul yang sama. Anda mau apa? Anda ingin apa? Mengapa anda menghendakinya?

Bagaimana dengan kita?
Sekarang apa yang bisa kita lakukan dengan bahan mentah yang Tuhan telah berikan pada kita? Jelas kita menuntut berbagai kesempurnaan dari pihak lain, baik dari keluarga, relasi, kolega, pasar, pelanggan, bahkan kita juga berharap adanya situasi-situasi berubah menjadi baik untuk kita. Pertanyaannya adalah kapan kita merubah diri sendiri.
Tuntutan kita kepada pihak lain agar berubah menjadi baik, seringkali disampaikan dengan energi yang berlebihan. Dengan marah atau bahkan dengan letusan senjata api. Tangan yang sama bisa digunakan untuk dua kepentingan yang berbeda. Tangan yang sama bisa saja digunakan untuk menodong dan merampok atau mengendalikan proses korupsi besar-besaran. Lalu tangan yang itu juga bisa digunakan untuk mencangkul, bertani, melukis, mengetik dan serangkaian kerja halal yang lainnya. Satu batu bata bisa dipakai untuk melempar jendela rumah tetangga atau menjadi bagian dari suatu bangunan yang indah.
Energi untuk menyesali hidup dan merengek sama besarnya jika digunakan untuk membangun kehidupan itu sendiri. Pikiran yang ragu-ragu serta khawatir untuk memulai usaha sama besarnya jika usaha itu langsung dikerjakan.
Sudahkan kita melihat potensi lengkap kita? Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk meningkatkannya? Apa yang bisa Anda lakukan di waktu mendatang untuk membuka bungkusan potensi Anda dan terlibat lebih jauh dengan kapasitas Anda untuk membuat dunia lebih baik?

Bagaimana dengan bisnis kita?
Bijih besi akan memiliki nilai tambah begitu ia diolah seperti layaknya masakan. Terampilah seperti seorang koki yang mencampur, meramu dengan pemanas, pendingin, bahkan penggilas, hingga tercipta sajian yang nikmat.
Belajarlah dari seorang pelukis, sang maestro, yang bisa mencampur warna-warna menjadi sebingkai lukisan berharga mahal.
Benar kini krisis global mengancam bisnis kita, tetapi daripada membuang energi memikirkan dan berkhawatir yang berlebihan, masih lebih bagus jika energi itu digunakan untuk mencipta, meramu dan mengolah agar bisnis kita terus bernilai tambah yang pada gilirannya akan memberikan keuntungan lebih bagi kita.
Lakukan dengan keberanian tinggi, jika perlu kerjakan dengan kenekatan yang tinggi. Mario Teguh berprinsip; Lebih terhormat gagal karena mengerjakan hal besar dari pada sukses melakukan hal-hal kecil.
”Gagal melakukan hal-hal besar itu tetap lebih terhormat daripada berhasil melakukan hal-hal kecil.
Orang-orang yang gagal melakukan hal-hal yang besar sudah pasti berhasil melakukan hal-hal kecil
Orang-orang yang mengambil tantangan-tantangan besar dalam hidupnya selalu mempunyai kesempatan dua yang baik sekali, satu untuk betul-betul berhasil atau kedua gagal dengan sangat terhormat.
Janganlah kita menjadi pribadi yang gagal pada urusan-urusan yang kecil lalu mengeluh bahwa hidup ini tidak fair.
Ambillah tantangan yang lebih besar, gigitlah lebih besar dari kemampuan mengunyah sehingga gagalpun kita tetap dihormati”.

Melengkapi usaha anda untuk memproses diri menuju sukses, ada orang bijak yang mengatakan “Agar dapat bahagia, isilah tanganmu dengan kerja, isi hatinmu dengan kasih sayang, isi pikiranmu dengan tujuan, isi ingatanmu dengan ilmu yang bermanfaat, warnai masa depanmu dengan harapan, dan isi perutmu yang lapar dengan makanan.
Share:

Blog Archive