it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

18.11.09

Kualitas dan Selera

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 26 oktober 2009, pada halaman bisnis dan teknologi.





TERNYATA Kualitas pada cara pandang tertentu bukan berarti harus yang terbaik. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan selera. Jelas berkualitas ini menjadi sangat subjektif dan kadang menggelikan.

Makanan bakso adalah salah satu makanan yang merakyat dan cukup terkenal seantero negeri ini. Bakso tidak saja menjadi sekadar makanan, tetapi juga gaya hidup. Saya rasa hampir semua pasangan pernah melalui masa pacaran di warung bakso. Kembali ke topik kualitas. Rasa-nya butir bola bakso yang berkualitas menurut sebagian besar orang adalah butir bola bakso yang tidak seratus persen berisi melulu daging. Butir bakso yang berisi seratur persen daging malah terasa aneh dan tidak selezat butiran bakso di kaki lima yang berisi lebih banyak tepungnya dibanding dagingnya.

Orang Sumatera sudah terlanjur turun temurun menikmati kopi yang tidak seratus persen kopi, tetapi yang sudah dicampur dengan jagung, beras, pinang dan entah campuran apa lagi. Bahkan konon campurannya itu mendominasi bubuk kopi itu, hingga kopi aslinya hanya 20 persen saja. Tentu saja pemunim kopi yang sudah biasa meminum kopi campuran, akan merasakan ketidak nikmatan kopi asli. Dalam hal ini, kopi campuranlah yang dianggap sebagai kopi berkualitas dan lezat rasanya. Kenyataan ini mengingatkan saya dengan istilah “Kopi krismon” yang beredar sekitar tahun 1998 hingga awal 2000. kopi ini terlihat hitam seperti kopi biasa, terasa seperti kopi biasa tetapi sungguh, tak sejumputpun ada kopi asli dalam racikannya. Hingga harga kopi krismon sangat murah dan terbeli oleh masyarakat pada saat krisis moneter melanda negeri ini.

Sesekali singgahlah ke Babutong di Simalungun sana. Disana ada pabrik teh yang ada sejak jaman kolonial. Disana ada produk teh berkualitas export yang konon disebut dengan BOP-1. Teh tersebut sangat nikmat, harum dan berwarna merah-coklat pada hitungan detik pertama sejak diseduh dengan air panas. Sayangnya produk ini tidak beredar dipasaran lokal.

Yang beredar dipasaran lokal adalah teh kelas urutan ke 4, 5 dan 6 bahkan 7 setelah BOP-1 tersebut. Bagi orang-orang yang belum pernah mencicipi BOP-1, jelas menyebut teh kelas bawah itu sebagai teh terlezat.

Pembaca yang budiman, terutama pencinta jengkol, pete dan durian. Bagi mereka-mereka yang menyenanginya, jelas buah diatas adalah buah terlezat yang mereka sebut sebagai berkualitas. Mereka sungguh mengabaikan unsur bau yang menyengat dan mengganggu.

Konon, bagi orang tertentu di eropa, keju yang terlezat bagi mereka adalah keju yang membikin kita muntah mendadak. Keju itu sudah busuk, berulat dan menciptakan aroma ‘mematikan’. Tentu bagi peminatnya, keju itu adalah keju berkualitas yang istimewa.

Bagi para pencinta tuak, muniman berwarna putih yang bermau (maaf) seperti kencing kuda itu jelas merupakan minuman berkualitas bagi penikmatnya.



Selera

Kalau sudah menyangkut selera, sepertinya tidak ada lagi cerita kualitas berdasarkan logika. Selera bukan matematika dan ilmu pasti. Artinya, produk yang berkualitas dalam konteks selera bukanlah harus sempurna secara logika.

Selera bisa memutar-balikkan pemikiran secara umum. Kewajaran logika dalam hal selera tidak lagi menjadi pautan wajib. Tidak hanya sebatas makanan dan minuman, tetapi apapun itu yang berhubungan dengan cita-rasa.

Sentuhan cita rasa dalam hal selera juga terjadi pada jenis koran yang dibaca, jenis mobil yang dipilih, bentuk rumah yang diidamkan, jenis sepatu yang dikenakan, hingga model pasangan yang cocok dihati.

Model tatanan rambut, jenis musik dang-dut atau jazz, hingga club sosial yang dipilih secara umum merupakan pilihan berdasar selera.

Meyakini bahwa kualitas dan selera bukanlah sesuatu yang harus sesuai logika, maka tidaklah kita harus tergopoh-gopoh untuk menciptakan atau merubah produk kita sesuai nalar logika kita. Apalagi jika produk kita sudah dikenal masyarakat dan cukup menjawab selera mereka.

Perubahan-perubahan yang mendadak atas produk berbasis selera, baik dari kemasan, isi dan cara penyajian akan menjauhkan kita dari pasar loyal yang sudah lama menjadi pelanggan kita.

Yang perlu diingat adalah bahwa anda itu bukan produk anda. Jangan paksa produk anda menjadi apapun sesuai dengan selera anda. Misalkan sekarang anda pencinta Jazz, bukan berarti anda tidak bisa mencari makan dengan musik dangdut. Ketika anda mendadak lebih senang memakan hidangan eropa, bukan berarti warung nasi minang anda harus diganti dengan makanan eropa.

Ingat berkualitas dalam hal selera bukanlah hal-hal logis yang dipaksakan.



Merubah selera

Selera umumnya terbentuk karena kebiasaan. Dan kebiasaan jugalah yang akan merubah selera. Misalkan anda perokok merek A selama ini, lalu anda diberi rokok merek B, tentu anda tidak akan mengkonsumsi rokok B tersebut. Kecuali dalam keadaan terpaksa. Dan keterpaksaan yang berulang dalam jangka waktu tertentu akan menciptakan kebiasaan baru. Lalu kebiasaan baru akan mengalihkan ‘logika’ selera itu kepada pilihan lain yang dibiasakannya itu.

Jadi, untuk merubah selera pangsa pasar baru menjadi ‘berselera’ kepada produk anda, yang harus dilakukan adalah mengajaknya mencoba merasakan secara langsung dalam waktu tertentu. Waktu yang ideal untuk terjadinya perubahan selera adalah kelipatan 40 kali.

Untuk itulah, penting sekali program sampling yang menunjukkan kepada pasar yang ditargetkan. Berikan contoh/sample dan beri kesempatan mereka merasakan secara langsung. Biarkan mereka lama-lama akan terhipnotis dengan pesona produk baru tersebut.

Dan jika anda berniat untuk merangkul pasar baru yang seleranya berbeda dengan produk anda yang sudah ada, lagkah yang ditempuh seyogyanya bukan mengganti produk yang sudah ada, tetapi menciptakan produk baru yang diperkirakan cocok dengan mereka – mereka yang akan kita tuju.

Kebosanan yang menjadi keluhan banyak orang sangat mudah diantisipasi dengan perubahan-perubahan kesan tanpa harus merubah produknya. Perubahan kesan tidak juga harus berupa perubahan kemasan, tetapi bisa saja berupa perubahan cara menyampaikan, cara promosi dan masih banyak lagi strategi lain yang menciptakan penyegaran tanpa merubah produk yang ada.

Jadi, tidak perlu anda bersering-sering melihat orang lain selain pasangan anda, karena anda lama-lama akan tergoda untuk merubah selera. Berhat-hatilah...!



Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

MENU BINGUNG

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 19 oktober 2009, pada halaman bisnis dan teknologi






NASI GORENG, kopi dan Jus Jeruk... Sarapan pagi nasi gorang, minumnya kopi. Makan siang nasi goreng, minumnya jus jeruk. Makan malam akhirnya juga nasi goreng dan minumnya lagi-lagi Jus Jeruk. Begitulah pilihan rekan perjalanan bisnis saya selama beberapa hari. Betapa garing pilihan menu itu. Saya yang tidak ikut memilih menu itu menjadi merasa bosan dengan alternatif yang hanya satu itu.

Awalnya saya diam dan membiarkan kawan seperjalanan itu terus saja asyik dengan nasi gorengnya. Tetapi ketiak perjalanan sudah memasuki hari ke empat dan menu pilihan kawan saya masih tetap sama, timbul juga rasa penasaran dan saya memberanikan diri untuk bertanya.

“Saya bingung, mau pilih makanan apa!” aku kawan saya itu,”Semua menu dalam bahasa asing yang saya tidak kenal, takut salah pula”. Pegakuan itu mengakhiri penasaran saya.

Pada kesempatan lain, saya mendapati kawan-kawan lain yang juga senang memesan Nasi Goreng dan Jus Jeruk, setelah saya ajak bicara, secara umum mereka merasa bingung mau memilih menu apa, hingga secara cepat mereka menyebut nasi goreng dan jus jeruk.

Puluhan tahun saya berkecimpung di dunia yang berhubungan dengan jasa restoran, setelah kejadian diatas, saya baru menyadari bahwa jika sebuah restoran mampu menjual nasi goreng dan jus jeruk dalam hitungan yang banyak, itu bukan berarti hebat. Itu bukan berarti bahwa juru masaknya hebat. Itu bukan berarti nasi gorengnya lezat. Tetapi ada kemungkinan bahwa para tamu yang datang kebingungan memilih menu yang lain.

Sekarang saya sering tersenyum mendapati harga nasi goreang di sebuah restoran hotel berbintang yang nilainya Rp. 135.000,- per porsi. Lebih tertawa lagi ketika mendapati jawaban manajernya yang dengan bangga mengaku bahwa nasi gorengnya sangat lezat dan paling banyak di pilih oleh tamu-tamunya. Dan saya semakin tak sanggup menahan geli ketika menemukan daftar menunya tertulis dalam bahasa perancis tanpa penjelasan dalam bahasa indonesia sama sekali.



Fenomena Gudang

Saya menyebut fenomena nasi goreng dan jus jeruk diatas sebagai fenomena tumpukan gudang. Situasinya seperti barang yang banyak bertumpuk digudang sehingga orang yang melihatnya menjadi bingung dan malas, lalu asal ambil barang yang terlihat atau dia tahu saja.

Fenomena tumpukan gudang itu tidak hanya terjadi pada nasi goreng itu saja. Tetapi juga terjadi pada bisnis-bisnis lain. Fenomena itu terjadi manakala produk yang ditawarkan semakin banyak alternatifnya.

Selain faktor banyak pilihannya juga faktor nama produk serta pemajangannya yang tidak cukup bijaksana. Faktor nama produk yang tidak cukup mudah dipahami pembeli, biasanya tidak akan mendapat perhatian yang baik. Terlalu banyak pilihan juga akan memusingkan pembeli. Belum lagi pemajangan yang tidak indah dan rapih, jelas membuat pembeli malas melihatnya. Kalau melihat saja sudah malas, pasti membelipun lebih malas lagi.

Contoh sederhana dari pilihan nama produk yang terlalu banyak adalah produk telekomunikasi. Lihatlah betapa masing-masing perusahaan jasa telekomunikasi memiliki lebih dari 6 produk layanannya. Jelas sampai kini, penjualan pulsa untuk bertelepon dan ber SMS masih lebih banyak dibanding produk-produk lainnya. Mengapa? Karena bertelepon dan ber-sms sama mudahnya dengan menyebut nasi goreng serta jus jeruk.

Contoh sederhana dari opsi pemajangan yang mempengaruhi perilaku pembeli adalah pemajangan di kedai sampah (toko kelontong) dengan pemajangan di swalayan. Hanya dari konsep pemajangan ini saja sudah membedakan jumlah penjualan antara kedai dengan swalayan. Pembeli di kedai kelontong hanya membeli apa-apa yang sudah dia rencanakannya sedang pembeli di swalayan akan membeli apa-apa yang sudah direncanakan untuk dibeli plus barang-barang yang menggoda perhatiannya selama proses mencari barang yang diinginkannya.



Kenal dan sayang

Belajar dari daftar menu yang akhirnya berujung ke pilihan nasi goreng dan jus jeruk, sepertinya kita harus waspada dan sesekali mencoba berkaca diri, dengan beberapa pertanyaan. Yang pertama, apakah nama dan produk mudah dilihat, dijangkau atau dipahami oleh calon pembeli.

Yang kedua, apakah nama-nama danm produk yang kita jual cukup dikenal oleh calon pembeli? Sebera banyak dan sering kita men-sosialisasikannya kepada publik? Menggunakan media apa saja? Apa indikator bahwa publik mengenal produk yang kita promosikan?

Yang ketiga, apakah pilihan produk atau daftar produk yang kita jual cukup banyak? Jika iya, bagaimana calon pembeli menjadi mudah untuk melihat dan memahaminya? Upaya mengelompokkan produk-produk yang banyak tersebut kedalam kelompok-kelompok sederhana pasti akan memudahkan calon pembeli dalam menentukan pilihannya. Pengelompokkan ini dilakukan di dalam daftar secara tertulis semacam daftar menu, daftar harga atau daftar lain. Lalu pengelompokkan yang sama juga dilakukan dalam pemajangannya.



Festival

Inilah salah satu cara memperkenalkan produk-produk yang kurang mendapat perhatian selama ini. Konsep festival dalam dunia makanan adalah suatu kegiatan promosi dimana dalam jangka waktu tertentu gerai makanan tersebut hanya menyajikan makanan-makanan yang di festivalkan. Maaf ini bukan perlombaan, tetapi semacam usaha untuk mengunggulkan menu yang dipromosikan tersebut. Misalnya selama bulan november, satu restoran akan menyelenggarakan festival pasta. Maka, selama bulan november tersebut, sajian yang ada adalah serbaneka pasta dengan kelengkapanya.

Dengan festival makanan seperti diatas, maka ada alasan untuk berpromosi. Ingat, promosi selalu memerlukan alasan. Jadi memberikan harga lebih murah atau menampilkan menu baru akan menjadi lumrah dan diterima masyarakat.

Konsep festival ini bisa diadopsi oleh bisnis-bisnis lain. Misalnya toko suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor, bisa saja sesekali mempromosikan produk-produk yang berhubungan dengan kendaraan off-road. Bisa saja selama masa festival tersebut ditampilkan produk-produk yang berhubungan dengan mobil off-road atau sepeda motor trail. Mulai dari mesin, suku cadang hingga aksesorisnya. Mungkin ditambah dengan pameran mobil atau sepeda motor tersebut. Dan sangat mungkin disajikan kegiatan-kegiatan kreatif yang berhubungan dengan tema tersebut.

Pada kesempatan lain, silahkah ganti tema-nya. Mungkin saja festival sound-siystem mobil, mungkin festival knalpot, festival cat dan sebagainya. Selamat mencoba.



Konsultasi & Pelatihanl tj@cahyopramono.com

Share:

Bahasa dan Transaksi

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 05 oktober 2009, di halaman bisnis dan teknologi.






”BU, berapa harga batik yang ini?” tanya seorang pembeli dengan logat Medan kepada seorang penjual kain di Pasar Bringharjo, Jogjakarta belum lama ini. Ibu penjual tadi menjawab, ”Silahkan mbak, hanya seratus enam puluh saja kok, murah...!”. Selanjutnya terjadi tawar menawar yang cukup alot dan harga finalnya adalah seratus dua puluh lima ribu rupiah.

Sedikit iseng, saya mendekati ibu penjual lagi dan bertanya sambil menunjuk batik yang persis ditawar oleh orang berlogat Medan tadi, ”Mbak yu, batik niki pinten reginipun njih?” (kak, batik yang ini berapa harganya ya?) lalu ibu penjual itu menjawab, ”Nek niku njih namung sangang ndoso gangsal mas!” (kalau itu ya hanya sembilan puluh lima ribu rupian, bang). Kaget sekali saya dengan jawaban itu. Saya lanjutkan menawar dan berakhir di angka tujuh puluh lima ribu rupiah.

Pengalaman serupa terjadi di Pasar Baru, Bandung. Saya bertanya ”Bang, baju ini berapa harganya ya? Saya mendapat harga yang bernilai enam puluh ribu lebih mahal dari kawan saya yang memulai bertanya dengan bahasa sunda, ” Kang, sabaraha hargi acuk ieu?”

Kisah serupa ketika berbelanja di Pasar Atas Bukittinggi, ”Bara harago sajadah iko uda? (Berapa harga sajadah ini bang?) Tanya seorang kawan yang fasih berbahasa minang, dan dijawab ”Murah sey nyo, cuma tigo puluah limo ribu rupiah” (murah saja kok, hanya tiga puluh lima ribu rupiah saja) Sementara wisatawan yang tidak berbahasa minang, mendapat sedikit perbedaan harga yang lebih mahal.

Inang, sadia sakilo mangga muna on? (Bu, berapa harga sekilo mangga ini?) Tanya seorang kawan bermarga Simanjorang saat mau membeli mangga di sudut kota kecil Parapat, dan dijawab ianng penjual mangga itu, "Mura do... Holan sapulu dua ribu ito!" (murah saja... hanya dua belas ribu rupiah saja), lalu kini sementara wisatawan lain yang tidak berbahasa Batak mendapatkan harga rata-rata delapan hingga sepuluh ribu diatas harga tadi.

Transaksi yang sama di pasar Buah Berastagi, untuk rekan yang berbahasa karo “Sekai erga manggandue nande?” Dia menadapat jawaban, ”Morah ngenca, pitu ribu lima ratus”. Harganya hanya tujuh ribu limaratus rupiah. Untuk yang tidak berbahasa daerah ini, biasanya akan mendapatkan harga yang lebih mahal tentunya.

Kisah-kisah tersebut diatas mengingatkan saya kepada perihal yang serupa di Pajak Krueng Geukueh, aceh utara, sekitar 15 km dari lhokseumawe. Pertanyaan yang sederhana, “Padub kupie nyo Nyak? “, jawabannya, “Murah mathong, nyan duablah ribe” (dua belas ribu rupiah saja). Sementara kawan yang baru datang dari jawa mendapatkan harga yang lebih mahal.



Bahasa dan persamaan

Ternyata ada perasaan sama begitu seseorag menggunakan bahasa yang kita gunakan. Ada perasaan senasib dan merasakan solidaritas teritorial yang semakin mendalam.

Persamaan dalam bernegosiasi menjadi hal sangat penting. Karena persamaan menuju pintu kepercayaan dan pintu kepercayaan membuka gerbang keyakinan. Kalau seseorang sudah yakin, saya pikir semua hal akan menjadi mudah dan lancar.

Penjual-penjual tadi, begitu mendengar bahasa pembeli yang tidak seperti bahasa kampungnya pasti langsung merasa bahwa tamu yang dlayaninya adalah orang lain, orag jauh yang tidak sering kali datang. Artinya, ada perasaan berani untuk sedikit tega memberikan harga yang lebih tinggi guna mendapatkan keuntungan yang lebih. Banyak orang berfikir bahwa para pembeli itu, mereka adalah wisatawan yang sesekali saja datang dan tidak setiap waktu akan datang lagi.

Inilah fenomena umum di daerah kunjungan wisata. Karena keyakinan bahwa seseorang tidak akan datang setiap hari, maka harga pun dipatok tidak wajar. Bukan hanya objek tujuan wisata, tetapi pos-pos seperti terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan saja sudah mengindikasikan mahalnya harga-harga.

Sebuah pola pikir mencari keuntungan sesaat yang berpotensi merusak citra daerah/lokasi tersebut. Hingga orang-orang akan menganggap bahwa daerah tersebut adalah daerah mahal.



kepastian harga

Dewasa ini, semakin jelas bahwa kemampuan menawar tidak dimiliki oleh banyak orang. Generasi muda penghuni perkotaan hari ini, cenderung tidak lagi pernah menawar jika ingin memberli sesuatu, karena mereka terbiasa berbelanja di supermarket yang harganya sudah pasti tanpa ada proses tawar menawar. Jangankan menawar, orang-orang kini bahkan berbelanja tanpa bercakap sama sekali, kecuali ucapan terimakasih dari petugas kasir pada saat membayar yang hanya dibalas dengan senyum sederhana dari pembelinya.

Jumlah orang-orang yang tidak pandai menawar semakin hari semakin besar dan sudah pasti mereka akan berusaha menghidari pasar tradisional yang tidak memberikan harga pasti.

Ini tantangan menarik bagi pengelola pasar tradisional dan pedagang yang masih tidak juga menggunakan pola harga pas dan tidak menyebutkan atau menunjukkan daftar harganya kepada publik.

Kepastian harga adalah jaminan bagi pembeli dan dengan jaminan itu, rasa percaya kepada penjual akan bertambah naik. Bagi sebagian penjual, kepastian harga kadang dianggap sebagai upaya membocorkan rahasia dari lirikan pesaing serta menutup peluang untuk mendapatkan keuntungan berlipat jika bertemu dengan pembeli yang ’bisa dikerjain’.

Kepastian harga saat ini itu menjadi sangat penting, karena jelas akan menghemat waktu, menghemat energi dan mempercepat pelayanan.

Yang terkahir, selain faktor kepastian, faktor persamaan diatas memang nyata adanya. Jadi memiliki karyawan bagian pelayanan dan penjualan dari berbagai latar belakang budaya, biasanya akan memberikan keuntungan kepada kita. Tentu saja, semua pasar dari berbagai eknik bisa dihandel oleh pegawai –pegawai tersebut.

Perihal bahasa ini, mengingatkan saya ketika berbelanja sendal jepit di Gorontalo, kami harus membayar sepasang sendal dengan harga sebelas ribu rupiah, tidak seperti kawan yang bisa berhasa daerah itu, “Barapa ini na'ale ini uwti? Yang dijawab penjualnya “Cuma murah uwti, bo wopato lihu limolo hetuto” (hanya empat ribu lima ratus rupiah saja)





konsultasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Bidik Pasar Ala Garuda

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 28 september 2009, pada halaman bisnis dan teknologi





KUETIAW daging sapi ini terasa amat lezat. Disajikan hangat dengan cara olahan yang khas. Tekstur daging sapinya lembut dan mirasa. Dressing-nya campuran saus Barbeque dengan sentuhan oriental.

Makan siang dengan menu kuetiaw daging sapi kali ini serasa seperti sedang menikmati fine dining di restoran Italia pemenang Michelin Star di sudut kota Brusell. Tak lupa hidangan penutup berupa es krim dalam skoop kecil, segar dan lembut menggoda. Petualangan kuliner ini menjadi lengkap dengan secangkir Kopi panas dan krimer yang tepat takarannya.

Mungkin sedikit berlebih, tetapi saya sungguh mendapatkan kenikmatan makan siang itu di pesawat GA 186 dari Jakarta ke Medan akhir pekan lalu. Kualitas makanan dalam kemasan mini itu sungguh tidak mengecewakan. Betapa penerbangan ini tidak salah memilih penasehat kuliner seorang William W.Wongso, seorang ahli kuliner yang sering berkelana keliling dunia menikmati dan mengekplorasi sajian-sajian berkelas.

Bukan sedang menyanjung penerbangan pembawa bendera negara ini, tetapi selain makanan, banyak fasilitas lain yang memudahkan pelanggannya, Mulai dari sebelum check-in, selama penerbangan hingga sesudah penerbangan. Walaupun itu terjadi pada saat super sibuknya arus mudik.

Semua orang percaya, bepergian pada saat musim mudik tidaklah nyaman, akan persis seperti di berita-berita televisi. Sebegitu hebohnya, hingga konon dalam waktu 2 minggu sudah tercatat lebih dari 450 orang meninggal dunia karena kecelakaan dalam perjalanan mudik. Belum lagi kesan berdesakan, berebut kursi, suasanan pelayanan sarana publik yang berengsek, tingkat kejahatan yang meninggi, macet, emosi dan berbagai hiruk pikuk perjalanan mudik lainnya.

Kembali kepada penerbangan tadi, jelas semua orang tahu, harga tiket yang di patok biasanya masih lebih mahal dari rata-rata yang diberlakukan oleh penerbangan lain, tetapi mengapa orang masih memilih Garuda ini? Ternyata ada pasar yang tidak sensitif dengan harga. Siapa tahu, anda sebenarnya berpotensi mengelola pasar yang ini, persis seperti pasarnya Garuda Indonesia.



Nilai

Kepergian saya meninggalkan kota Medan seminggu sebelumnya menggunakan Garuda Indonesia dengan pesawat jenis Boing 747-400. untuk memudahkan ingatan anda, pesawat ini memiliki ruang kabin bertingkat dengan daya angkut penumpang yang sangat banyak. Saya sendiri heran, untuk penerbangan domestik, Garuda menggunakan pesawat sebesar ini, artinya penumpangnya banyak dan bisnis sedang cukup baik tentunya.

Perjalanan ke Jogja dari Jakarta masih menggunakan maskapai yang sama dengan jenis Boing 747-800, pesawat yang relatif baru yang juga penuh penumpangnya. Lalu saya secara iseng bertanya kepada sekitar 8 orang yang saya temui dalam penerbangan tadi. Berikut alasan mereka mengapa mereka memilih penerbangan yang ‘mahal’ ini.

Saya coba rangkumkan secara sederhana dari pendapat mereka, yang pertama, mereka percaya bahwa maskapai ini kredibel dan profesional. Keyakinan itu begitu mendalam sehingga mereka mempercayakan perjalanan dan mungkin keselamatan nyawa-nya kepada maskapai ini.

Yang kedua, nyaman dan terjamin dalam layanan. Tingkat keterlambatan yang terus rendah. Kualitas layanan yang semakin baik. Mereka merasa yakin, jika mengeluh akan didengar oleh manajemen penerbangan.

Yang ketiga, dibanding yang lain cenderung lebih tepat waktu. Yang keempat, --ini menarik-- pelanggannya nggak rese, jadi terbiasa tertib hingga cenderung memudahkan pelayanan. Yang kelima, secara umum nilai yang didapat setimpal dengan uang yang dikeluarkan.

Saya ada mencatat beberapa komentar yang tidak saya klasifikasikan seperti; prestisius, menunjang gengsi, jatah perusahaan, rute dan waktu, serta pengaruh kawan-kawan seperjalanan.

Penasaran dengan komentar ke 8 orang yang saya temui, malam harinya saya menyebar pertanyaan kepada jejaring sosial saya melalui internet. Lagi-lagi, 70% responden memilih Garuda Indonesia untuk penerbangannya jika anggaran tidak menjadi masalah. Bukan tanpa keluhan, tetapi maskapai ini tetep menjadi top minded –menjadi urutan pertama dalam benak orang banyak--.



Peluang Bisnis Nilai

Lihatlah masih tetap ada banyak orang yang memilih nilai daripada harga. Lihatlah masih banyak orang yang tidak sekadar mau murah tanpa jaminan kualitas. Sadarilah bahwa diantara perang harga yang sering ditantangkan pesaing, masih ada pasar yang tidak menjadikan harga sebagai alasan utama.

Masih ada orang yang ingin merasa labih nyaman. Masih ada pasar yang ingin mendapatkan kemudahan, jaminan dan bantuan-bantuan. Jelas masih banyak orang yang ingin tampil prestisius, sehingga latar belakang transaksi yang dilakukanya sering menimbang faktor gensi.

Artinya, diantara sempitnya persaingan, mungkin kita harus tersadar, bahwa tidaklah kita harus ikuti semua pertempuran pasar. Tidak semua medan laga harus kita datangi, tidak semua persaingan harus kita ladeni. Karena ternyata jelas pasarnya masih ada hingga saat ini.

Penerbangan nasional Garuda Indonesia adalah salah satu bukti bahwa dimasa krisis seperti sekarang, masih ada orang yang memiliki uang serta mempunyai kekuatan beli dan yang lebih penting lagi adalah bahwa jumlah orang-orang ini tidak sedikit. Artinya, pasar dengan kemampuan beli itu jumlahnya banyak.

Indikator lain yang menunjukkan bahwa masih ada pasar ber-uang tersebut adalah tipe mobil yang mahal yang banyak berkeliaran di Kota Medan atau kota-kota lain di Sumatera akhir-akhir ini. Mobil-mobil impor itu berharga milyaran rupiah.

Indikator lain yang membuktikan bahwa pasar Sumatera masih potensial adalah bahwa hingga kini antrian untuk naik haji sudah penuh sampai tahun 2012, sementara kita tahu berapa biaya pendaftaran haji dan biaya untuk perjalanan ke tanah suci Mekah tersebut.

Konon, secara nasional pesawat telepon Blackberry beredar paling banyak di Kota Medan, artinya makin banyak orang memiliki kemampuan bayar dan peningkatan intelektual melalui dunia internet.

Sekarang, sambil memfokuskan pasar, kira-kira kemana lagi tujuan liburan berikutnya ya?



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Share:

Menghadapi ‘Orang-Orang Gila’

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 14 september 2009 pada halaman bisnis dan teknologi





Berbisnis sebagi ibadah untuk memenuhi kebutuhan keluarga terkadang tidak berjalan dengan mulus karena ulah orang-orang gila yang mengganggu kita.

Sebutlah sekian kasus konflik merek dimana biasanya pemilik merek asli tidak mendaftarkan ke instansi resmi, lalu ada orang lain yang mengaku miliknya dan mendaftarkan merek tersebut serta mematenkannya, lalu si perampok merek ini menuntut pemilik merek asli dan mengajukan gugatan dengan tujuan agar mendapatkan uang dari kasus itu.

Sebutlah sekian banyak kasus di pengadilan yang berhubungan dengan tipu-menipu. Mulai dari pengingkaran kontrak, pengingkaran pembayaran dan banyak pengingkaran lainnya. Perkawanan bahkan persaudaraan pada awal kerjasama menjadi buyar dan hancul karena pengingkaran tersebut.

Sebutlah aksi-aksi persaingan busuk dimana salah satunya adalah upaya pesaing untuk mematikan pesaing lainnya dengan cara-cara penyebaran fitnah dan pembusukan karakter. Seperti kisah lama, pesaing jahat yang memasukkan kecoa kedalam makanan di rumah makan pesaing lainnya dengan tujuan menjatuhkannya.

Sebutlah oknum-oknum penguasa yang mengatasnamakan hari raya sebagai alasan untuk meminta yang bukan menjadi hak-nya. Sebutlah preman-preman jalanan yang memaksa meminta bagian sementara mereka tidak membantu apapun.

Sebutlah tingkah tetangga yang seenaknya memancangkan tiang bangunan dengan keras-keras di dekat kantor kita sehingga semua dinding menjadi retak dan terasa seperti gempa dan mereka tidak merasa bersalah sama sekali.

Sebutlah tetangga yang dengan sengaja membuang dan menumpukkan sampahnya di areal tanahnya yang tepat di depan toko kita sehingga pelanggan kita merasa tidak nyaman dan menjauhi kita.

Semua contoh tersebut diatas bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk mereka-mereka yang selama ini dikenal sebagai orang yang baik, bermasyarakat dan lain sebagainya. Situasinya seperti di jalan raya, jika kita tidak berhati-hati kita bisa celaka, dan saat kita sudah berhati-hatipun, tidak dijamin bahwa pengguna jalan yang lain juga berhati-hati. Kita bisa celaka karena ulah diri sendiri atau ulah orang lain yang tidak berhati-hati.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi mereka yang terntindas oleh ulah orang-orang gila yang mengganggu ketenangan bisnis dan kehidupannya sebagai bentuk ibadahnya kepada sang Khaliq. Dengan harapan agar mereka itu tetap tabah dan sabar dalam menjalani prosesnya.



Hukum Negara

Semua contoh diatas selayaknya diselesaikan secara hukum, sehigga jelas siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Lalu kemudian bisa dengan jelas ditentukan bagaimana hukuman bagi yang bersalah.

Sayangnya, kita –orang indonesia kebanyakan—tidak banyak mengenal dunia hukum dan tidak terbiasa bersabar dengan proses hukum yang bertele-tele, panjang, lama dan melelahkan. Dan dalam proses itu jelas akan keluar biaya-biaya.

Kebanyakan dari kita, cenderung ingin serba cepat dan efisien dan hukum berpihak kepada kita. Disinilah bisa terjadi ajang unjuk kekuasaan, unjuk uang dan bahkan mungkin unjuk rasa. Belum lagi, proses dan prosedur yang panjang dan tidak melihat latar belakang permasalahan, sehingga bisa saja si korban diadukan sebagai pelaku.

Untuk kasus yang demikian, mengunakan jasa pengacara atau orang-orang yang tahu hukum sangatlah tepat. Hindari mendengar suara-suara dari orang-orang yang tidak berkompeten. Mereka jelas-jelas hanya bisa berkomentar dan biasanya berpotensi menyesatkan. Tetapi berhati-hatilah memilih penasehat hukum, karena mereka juga manusia biasa yang juga berpotensi bermain gila.



Hukum masyarakat

Rasa malu sudah tidak lagi menjadi jiwa kita dalam bermasyarakat. Saya masih ingat betapa dahulu orang-orang selalu berusaha menghindari tindakan-tindakan yang bisa merugikan orang lain. Dahulu kita segan dan malu jika mengganggu tetangga. Dahulu kita bahkan berusaha untuk menyenangkan tetangga walaupun harus sedikit berkorban.

Rasa malu kita sekarang tidak lagi diukur dari hubungan dalam bermasyarakat, tetapi cenderung kepada pengutamaan kepentingan diri sendiri dan melupakan kepentingan bersama dalam bermasyarakat.

Sebagian dari kita konon tidak lagi merasa malu dikucilkan masyarakat. Sebagian dari kita justru berkeinginan tidak bergaul sama sekali, seolah-olah mereka bisa hidup sendirian.



Hukum Tuhan

Mungkin inilah yang jawaban terakhir bagi mereka-mereka yang tidak lagi mendapatkan jaminan hukum dari negara dan masyarakat. Kekuasaan Tuhan jugalah yang akan melindungi orang-orang yang dipilihNya. Dan kekuasaan Tuhan jugalah yang akan menghukum mereke-mereka yang berbuat salah.

Hukum Tuhan jelas pasti, hanya saja diperlukan kesabaran dan ketabahan serta ketidakputusasaan dalam menjalani prosesnya. Bagi mereka yang sabar dan tak putus asa, Tuhan pasti akan menunjukkan kuasa dan kebesaranNya.

Orang-orang gila yang saya maksudkan diatas adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa Hukuman Tuhan itu pasti. Mereka pikir, mereka labih Akbar dari Sang Pencipta dan orang-orang gila itu pasti akan mendapatkan balasannya –yang jauh lebih berat—dalam bentuk-bentuk yang ditentukan Tuhan.

Jikalah ada diantara anda ada yang sedang terzalimi oleh orang-orang gila seperti diatas, bersabarlah, iklaskan Tuhan menangani masalah anda. Biarkan si Gila itu menari-nari diatas airmata kita, karena itu tak kan lama. Azab Tuhan pasti segera akan dirasakannya. Hanya masalah waktu saja hingga si Gila itu jatuh kedasar neraka jahanam bahkan sebelum hari kiamat dan mereka akan terjerembab jatuh senista-nistanya!

Sekarang, mumpung masih di bulan suci, biarkan damai menguasai hati kita. Semua ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan adalah indikasi bahwa kita sedang dilanda krisis iman kepada Tuhan. Harus ditanamkan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan mendengar doa-doa hambanya. Apalagi doa mereka-mereka yang tertindas atau terzalimi. Tetaplah berusaha dan jangan pernah menyerah, berusahalah dengan cara yang terbaik, bisnis dengan batin yang jernih dan hidup dengan kedamaian yang utuh.

Maklumi saja kegilaan mereka dan berdoalah agar kegilaan itu segera sembuuh dan dengan tuntunan Tuhan, bisnis kita kelak akan lebih berjaya lagi seteleh lewat masa sulit ini. Semoga.... amin...



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

E-Mail untuk Promosi

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 07 september 2009 pada halaman bisnis dan teknologi



ELECTRONIC mail atau yang sering disingkat dengan e-mail adalah surat elektronik yang menggunakan jaringan internet. Prosesnya hampir sama dengan surat biasa, yang membedakan adalah bahwa e-mail tidak perlu perangko, tidak perlu di cetak, tidak perlu anvelope dan bisa diterima oleh alamat tujuan dalam hitungan detik. Kemudahan dan kecepatannya membuat e-mail menjadi keharusan bagi para pemakai internet.

Sebelum lebih lanjut, saya memohon maaf kepada para pembaca yang belum ramah dengan internet, karena topik ini akan mudah dipahami bagi mereka yang sudah melakukan aktifitas menggunakan e-mail.

Baiklah, e-mail itu langsung tertuju kepada orang tertentu, artinya tingkat efektifitasnya lebih tinggi. Ibarat menelepon ke Handphone yang langsung dijawab oleh pemiliknya dari pada menelepon ke nomor rumah yang dijawab oleh siapa saja sebelum orang yang benar-benar kita tuju. Karena sasarannya personal, maka email menjadi cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pemasaran.



E-mail marketing

Media komunikasi apapun yang digunakan untuk berpromosi, tidak boleh mengabaikan profil karakter penerima pesannya. Berbicara mengenai perilaku penerima e-mail, secara umum juga persis seperti penerima surat biasa, mereka akan medahulukan surat-surat personal yang penting, surat-surat tagihan dan baru kalau ada waktu membaca surat promosi.

Orang pasti akan memilih mendahulukan membaca surat yang mana jika yang datang setumpukkan jumlahnya. Orang pada akhirnya mau menerima pesan-pessan sejauh cocok dengan pikiran dan perasaannya. Orang juga tidak suka dengan Spamming (tindakan mengirimkan email kepada ribuan orang yang tidak meminta). Masalahnya adalah, semakin banyak orang menerima e-mail, semakin sedikit mereka menaruh perhatian pada masing-masing isi e-mail tersebut.

Maka untuk tampil beda, para pemasar online harus berupaya untuk menarik perhatian dari para tagetnya. Argumen salah yang sering dikatakan adalah: "Jika saya berteriak lebih keras dan lebih sering, pasti para calon pelanggan akan mendengarkan saya." Kalau sekadar terdengar memang betul, tetapi terdengar bukan berarti didengar. Apa reaksi mereka dan tanggapan mereka terhadap banjir e-mail tersebut? Apakah mereka akan senang? Atau sebaliknya mereka akan mengatakan dengan mengirim e-mail balik “Keluarkan aku dari daftar e-mail Anda dan jangan kirimi lagi!"



5 kaidah

Lima hal berikut ini adalah poin-poin penting yang harus dihindari pemasar via e-mail. Pertama e-mail promosi yang bertele-tela. Beberapa e-mail promosi cenderung bertele-tele, dengan penyampaian yang tidak langusng ke tujuannya. Hal ini menyebabkan penerima harus melakukan “scroll down”. Karena itu ingatlah bahwa e-mail Anda bukanlah satu-satunya e-mail yang sampai di inbox mereka, dan kata-kata Anda hendaknya singkat dan “to the point”.

Kedua e-mail promosi yang tidak fokus. Pemasar kadang berfikir serakah, mereka ingin semua-semua hal bisa disampaikan dalam satu lembar surat itu. Mereka tanpa diminta menawarkan sejumlah item atau produk atau pun jasa dan tidak fokus pada satu inti penawaran dan para penerima e-mail disuguhkan banyak pilihan item yang tidak mereka perlukan. Pesan yang tidak fokus akan membuyarkan perhatian penerima dan tidak memiliki daya tarik yang baik.

Ketiga e-mail yang terlalu Sering. Beberapa orang berdalih bahwa kunci untuk pemasaran e-mail yang berhasil adalah frekuensinya. Karena itu mereka mengirimkan email promosi sesering mungkin. Sebagian dari mereka berfikir bahwa dalam pemasaran tradisional agar pesan iklan Anda tetap diingat, Anda harus sering menampilkannya sesering mungkin. Dan dalam pemasaran offline, memang begitu seharusnya, namun pemasaran online sama sekali berbeda. Anda bisa bayangkan bahwa masyarakat sudah terlalu sering dibombardir dengan pesan-pesan komersial di TV, Radio, Reklame dan Koran, kemudian Anda membombardir mereka lewat e-mail. Akibatnya Anda akan mendapat reputasi buruk dan mereka akan melewatkan e-mail Anda begitu saja tanpa membacanya dan akan mengabaikannya di kemudian hari sewaktu menerima e-mail Anda pula.

Keempat e-mail yang salah alamat. Karena biaya mengirim promosi via e-mail dirasa murah, mereka lupa akan perlunya menerapkan strategi segmentasi dan membidik target market yang relevan. Akibatnya adalah para calon pelanggan Anda itu sama sekali tidak berminat dengan tawaran Anda. Coba bayangkan anda membuka salon keriting rambut di Papua. Apakah anda pikir akan banyak pelanggannya? Jelas tidak, karena mayoritas orang Papua berambut keriting.

Kelima e-mail promosi yang tidak menarik. Membaca teks surat yang ditulis dengan baik biasanya menyenangkan dan mudah dibaca. Untuk itu tulislah dengan jelas, sederhana dan penuh rasa hormat. Penulisan e-mail promosi yang buruk adalah rintangan yang besar bagi para penerima surat untuk menuangkan perhatian mereka pada e-mail yang Anda kirim.

Pastikan Anda memiliki teknik menulis yang baik, lakukan perenungan dan tidak tergesa-gesa. Jika perlu lihat contoh-contoh lainnya atau ajak pihak lain untuk membantu anda.

Inbox adalah tempat yang bersifat pribadi, dan di situlah Anda dapat menjumpai calon kastemer Anda dan berbicara dengannya secara individu. Maka apabila tulisan e-mail promosi Anda tidak menghormati kaidah di atas maka e-mail Anda tidak akan dibaca. Persis seperti sebuah proses menawarkan barang dagangan, prinsip bagusnya adalah jangan terlalu banyak meminta namun seolah-olah lebih banyak memberi. Pastikan penulisannya memiliki nilai yang bermutu bagi si penerima e-mail. Gunakan rasio isi e-mail 80% : 20% artinya 80% berisi hal yang berguna bagi penerima pesan dan 20% berisi penawaran Anda. Itu yang disebut dengan menghormati calon pelanggan yang telah dengan senang hati membuang waktunya untuk membaca pesan anda.



Media jejaring sosial lain

Sama dengan e-mail, saat ini banyak sekali media jejaring sosial seperti face book, friendster dan lain sebagainya. Tentu saja jejaring itu juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi media promosi. Saya pikir prinsip kerjanya sama dan kaidah tersebut diatas juga cukup tepat diterapkan untuk media-media tersebut.





Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

5.10.09

Belajar dari Geliat bisnis diantara Penerbit Koran hingga Pembaca


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 31 agustus 2009, pada halaman bisnis dan teknologi


SURAT kabar yang anda baca ini sudah melawati setidaknya tiga hingga empat tangan. Mereka bekerja saat gelap malam begitu pekat sehingga saat anda terbangun pada pagi harinya bisa langsung membaca berita.

Mereka adalah pihak penerbit, pihak agen utama, sub agen lalu pengecer atau pengantar koran. Mereka adalah pasukan elit yang jarang terlihat tetapi begitu penting untuk kelangsungan hidup penerbitan. Bisnis ini begitu khas dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi mengingat di Indonesia, konon pembeli pengecer lebih banyak daripada yang berlangganan.

Ada hal yang aneh tetapi nyata dalam mata rantai bisnis ini. Dilihat dari tingkat kemudahan operasional, bisnis ini lumayan menyenangkan. Hanya memelukan rutinitas dan sentuhan hubungan personal yang baik. Untuk setiap produk yang lewat tangan agen utama, ada komisi sebesar 12 hingga 40 persen dari harga jual (tergantung kesepakatan masing-masing). Secara mudah agen tinggal mengalikan berapa ribu eksemplar, kali berapa jenis produk.

Yang menarik lagi adalah bahwa beban biaya produksi bukan tanggunganya. Agen sama sekali tidak memikirkan materi isi media tersebut yang pontang-panting dipersiapkan oleh tim redaksi. Pengeluaran untuk promosi pun ditanggung penerbit. Tinggal duduk menunggu dan membiarkan sistem bekerja sendiri. Orang-orang menyebutnya ini bisnis beresiko rugi sangat kecil sekali. Untuk kondisi tertentu, toh kalau barang dagangan tidak terjual, tinggal menumpuk dan akan diambil –return-- oleh prinsipal penerbitan. Tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa dalam bisnis pers yang pertama-tama memperoleh keuntungan secara jelas adalah agen: perantara dalam bisnis pers.



Agen besar

Agen utama yang memonopoli distribusi koran atau produk cetak lain biasanya memiliki ’kekuasaan’ yang lumayan besar. Mereka menjadi penyalur resmi yang diakui dan ditunjuk oleh penerbit. Tak ada persyaratan umum atau khusus tentang siapa yang perlu diangkat sebagai agen atau bukan yang diberlakukan oleh grup penerbitan yang satu dengan yang lainya. Mereka yang menjadi agen, lebih karena dari kepercayaan dan karena hubungan masa lalu.

Kepercayaan karena bisa saja selama ini hubungan pembayaran tidak pernah bermasalah. Hubungan masa lalu, mungkin karena sudah berhubungan sejak lama. Konon penerbitan yang berjaya saat ini mempunyai sejarah yang panjang dan dengan cara begitulah pada awalnya.

Kalau dilihat dalam hubungan kerja. Agen utama membawahi beberapa sub agen. dalam hubngan kerja dan komando, sub agen tidak punya tanggungjawab kepada penerbit. segala macam perhitungan bisnis, laporan keuangan subagen dilakukan secara mandiri. Yang menarik adalah bahwa agen utama tidak bisa memonopoli sub agen. karena sub agen ini bisa saja berinduk kesatu atau lebih agen utama yang ada. Demikian juga pada tataran pengecer dibawahnya.

Posisi agen-agen ini sulit digeser atau digantikan karena mereka terlihat terlibat hubungan dalam waktu yang lama. Seperti hubungan agen utama dengan penerbit, hubungan sub agen dengan agen pun menyangkut yang namanya piutang. Jumlahnya bisa sangat banyak. Penerbit tak bisa semena-mena putus hubungan dengan agen, karena hal yang sama. Piutang hampir tak ada berhentinya, karena produk koran atau majalah terus menerus mengalir. Pola yang sama sampai ke pengecer yang selama ini banyak menggunakan sistem pembayaran dua-satu. mengambil dua kali, membayar satu kali.



Tumbuh bersama

Konsep membiarkan penerbit berjalan sendiri dan agen penyalur juga berjalan sendiri itu adalah system kerja yang tidak lagi tepat untuk situasi sekarang ini. Tingkat persaingan yang semakin tajam, bukan saja sesama penerbitan tetapi juga sudah ada koran online dalam bentuk e-papper atau web-online.

Kini semestinya harus ada sinergi diantara keduanya. Sebuah kerjasama yang positif dan membawa efek tumbuh bersama-sama. Penerbit sungguh tergantung ke pola distribusi yang dilakukan agen dan agen membutuhkan materi berita yang berkualitas. Penerbit bisa memanfaatkan agen yang memiliki jaringan langsung ke pelanggan. Dan semua kerjasama itu berpotensi saling membesarkan satu dan lainnya.

Masing-masing pihak selayaknya secara proaktif menawarkan dukungan untuk saling membantu. Misalnya agen memberikan imput dan saran tentang keluhan pelanggan atau pihak penerbitan yang membantu berpromosi bersama agen.

Langkah-langkah strategis dalam hal pelayanan pelanggan semestinya dikuasai secara prinsip oleh penerbit. Lalu taktik-taktik promosinya dilakukan bersama-sama. Tentu saja dalam hal bekerja bersama, pasti harus ada kontribusi dari masing-masing pihak. Jika ada salah satu pihak yang tidak mau berkontribusi, jelas itu akan mematikan semangat kerjasamanya.

Studi bersama bisa dilakukan demi peningkatan kinerja bisnis. Studi itu bisa berupa pemetaan potensi pelanggan. Studi efektifitas jalur distribusi. Studi efisiensi waktu pengiriman atau bahkan studi mengenai perilaku pelanggan dalam hubungannya dengan produk yang dipasarkan.

Sangat disayangkan jika koran yang terjual sangat bergantung ke isi materi beritanya. Semestinya harus ada cara agar penjualan tetap terjadi walaupun sesekali isi beritanya tidak sangat menarik atau bisa jadi sesekali ada salah cetak.

Mendasarkan pasar dalam format eceran sangat beresiko tidak terjual jika isi berita tidak menarik atau salah percetakan. Tetapi kalau pasar bertumpu kepada mayoritas pelanggan tetap, maka keluhan tersebut bisa diabaikan. Memiliki pelanggan tetap dalam jumlah mayoritas akan memudahkan bisnis, memudahkan sistem keuangan bahkan memudahkan pihak redaksi untuk memahami kehendak pembacanya.

Yang terakhir, bisnis serupa ini dalam bentuk yang lain jelas banyak sekali. Mungkin dengan mengenal pola binsis yang saya tuliskan, anda menjadi tersadar bahwa pola bisnis yang sama mungkin saja anda alami saat ini. Kini sudah saatnya saling berangkulan antara produsen dengan distributor, agar tujuan bersama segera terwujud. Memang produsen dan distributor memiliki filosofi dan cara yang berbeda dalam memandang sebuah bisnis, tetapi selama keduabelah pihak tidak saling memahami, pasti kerjasama tidak akan terwujud.



Konsultasi & Pekatihan, tj@cahyopramono.com
Share:

Genggam pasar dengan amati perulangan Trend



tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 24 agustus 2009


MUSIM di alam ini terus berulang, jika tahun ini ada musim dingin, tahun depan juga akan ada musim yang sama. Jika tahun ini ada musim hujan, biasanya pada bukan-bulan yang sama di tahun depan juga akan terjadi hal yang sama.

Perbedaan musim memaksa manusia memiliki kebutuhan yang berbeda juga. Mulai dari pakaian, kelengkapan rumah tangga dan banyak lagi lainya. Bukankah itu sebuah peluang bisnis?

Hal serupa terjadi dengan musim perayaan dan even. Yang namanya ramadhan, natal, tahun baru, kenaikan kelas, hari valentine, hari kemerdekaan dan pemilihan umum akan terjadi lagi pada tahun-tahun berikutnya.

Amatilah pergerakan pasar pada musim-musim even tersebut. Ada banyak hal musiman yang hanya terjadi pada saat itu saja. Contohnya, lihatlah bahwa penjualan kurma dan hidangan buka puasa menjadi banyak pada tiap ramadhan. Kebutuhan terigu dan gula meningkat karena masyarakat banyak membuat kue lebaran.

Lihatlah betapa penjualan bunga mawar meningkat tajam pada hari valentine. Penjualan buku tulis, seragam sekolah, sepatu sekolah dan perlengkapan sekolah terus meningkat pada saat tahun ajaran baru. Demikian juga aktifitas promosi dengan menggunakan material promosi menjadi sangat tinggi pada saat kampanye pemilihan umum.

Pola yang sama juga berlaku pada situasi yang bertumbuh, misalnya dengan mengamati angka kelahiran pada tahun ini, maka sudah bisa diprediksi kebutuhan sekolah TK pada 4-5 tahun mendatang, kebutuhan sekolah SD, SMP dan SMA, bahkan kebutuhan perumahan, kendaraan dan lain-lainnya pada tahun-tahun yang akan datang.

Saya tidak membahas trend fashion yang jelas sangat berpotensi berulang. Kalau kita lihat pakaian anak muda sekarang dengan celana ketat model Cangcuter, jelas itu pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.



Mempelajari Trend

Mempelajari tren yang terjadi di pasar selayaknya menjadi kebutuhan bagi semua usaha. Tidak terkecuali bagi mereka yang masih tergolong dalam kategori Usaha Kecil Menengah (UKM), apalagi yang sudah berorintasi ekspor. Setiap detik, pasar selalu penuh dengan produk baru dari seluruh produsen. Dan bagi mereka yang berorientasi ekspor, persaingan ketat terjadi untuk mendapatkan perhatian dari para pembeli. Disinilah kemudian fungsi dari mempelajari tren tersebut. Contoh sederhana, kombinasi tren-tren di Amerika dan Eropa bisa menciptakan kesempatan bagi produsen produk interior rumah dari Indonesia.

Mempelajari tren, hendaknya dilakukan secara kontinyu. Karena pada dasarnya tren ini selalu berubah. Tidak jarang banyak tren yang bermunculan sekaligus dan membentuk beberapa pilihan aliran gaya dan juga tidak jarang yang bahkan kadang juga berbenturan.

Trend sebenarnya identik dengan wabah influenza yang menyebar tanpa bisa diketahui asal muasalnya. Saling mempengaruhi dan memiliki masa inkubasi. Kadang sifatnya circular atau berulang, dimana konsep lama kembali menjadi trend baru. Banyak faktor yang menyebabkan adanya trend ini, yang semuanya berasal dari sumber external. Bisa karena gejala yang terjadi di sekitar kita, seperti fashion, TV, system, politik, dsb.

Bagi usaha yang sensitif terhadap perubahan trend, dengan mempelajari trend maka strategi bisnis akan menjadi lebih baik. Dengan cara itu juga pemilihah tren akan dilakukan sesuai dengan kekuatan yang dimiliki perusahaan, berikutnya strategi membidik target konsumen akan lebih folus dan akurat.

Satu yang perlu diperhatikan dari tren ini adalah masa hidup dari suatu produk. Perubahan tren yang selalu terjadi membuat suatu produk hanya bisa bertahan tidak lebih dari 18 buan saja. Tidak jarang, masa hidup produk ini hanya cuman 6 bulan saja untuk di beberapa negara tertentu. Walau begitu, tren ini akan selalu berulang. Tidak pasti memang jangka waktunya, dan ini perlu kejelian tertentu.



Antisipasi

Dalam hal trend pasar yang berulang dan kadang tidak terbaca arah perubahannya, ada baiknya sikap antisipasi dilakukan dengan bijaksana.

Kecerobohan yang paling banyak dilakukan manajemen bisnis adalah keterlambatan aksi. Seringkali even-even yang berulang seperti ramadhan, lebaran dll tidak cukup diperhatikan dan akhirnya terkaget-kaget begitu saatnya tiba.

Tiap produk membutuhkan waktu untuk memproduksinya. Demikian juga perlengkapan dan segala konsep pemasaran dan promosinya. Jadi mempersiapkan produk harusnya sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Contohnya, produk untuk tahun baru, seharusnya sudah selesai dipersiapkan paling tidak pada bulan November.

Hambatan yang sering muncul adalah karena tidak ada team perencana dan team pelaksana yang berbeda. Sehingga fungsi-fungsi perencanaan terpaksa diabaikan karena faktor pelaksanaan hari demi hari.

Idealnya ada team perencana untuk setiap even atau musim yang berbeda. Sehingga persiapan-persiapan produk baru tidak memecahkan konsentrasi pelaksana operasional harian.

Kisah perebutan stand di Ramadhan Fair kota Medan, salah satunya terjadi karena para calon pedagang tidak cukup memperhatikan trend ini. Telepas dari faktor-faktor lain, Mestinya mereka paham bahwa tiap ramadhan akan ada even tersebut, artinya 3 atau 4 bulan sebelum ramadhan seharusnya sudah dilakukan upaya mencari informasi dan mendaftarkan diri agar mendapatkan stand seperti yang diinginkan.

Bagi pengusaha kecil yang tidak cukup banyak anggotanya, atau lebih cenderung bekerja sendiri (one man show), penting sekali untuk membekali dirinya dengan catatan dan agenda. Pasang pengingat di buku agenda kapan-kapan saja dan melakukan apa saja. Teknologi kini memungkinkan pengingat itu bersuara dan mendapat perhatian dari kita. Kini, hampir semua produk handphone memiliki fasilitas calender dan agenda. Sangat bagus kalau kita memiliki komputer dan terinstall program semacam Outlook. Silahkan gunakan fasilitas kelendernya.

Hindarkan menggunakan otak anda untuk mengingat semua hal. Itu langkah pintar yang akan memperbodoh diri anda sendiri. Karena daya tampung otak ada batasnya, dan memaksa otak bekerja berlebihan akan memberikan efek stress dan menumpulkan kreatifitas.





Konsultasi & pelatihan tj@cahyopramono.com
Share:

Memanfaatkan Usia Isue


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 10 agustus 2009 pada halaman bisnis dan teknologi.

KEMARIN dulu dunia Indonesia disibukkan dengan berita tentang mbah Surip. Lagu Tak Gendong bolak-balik dikumandangkan di radio dan televisi. Semakin heboh lagi ketika secara mendadak Mbah Surip meninggal dunia. Semua media massa seolah tanpa henti memberitakan kematian tokoh fenomenal ini.

Berita-berita tentang Mbah Surip menutup celah popularitas pemberitaan tentang kematian raja pop dunia Michel Jacson yang berhari-hari mewarnai pemberitaan sebagai besar media massa di Tanah Air.

Mulai Sabtu dini hari kemaren, semua pemberitaan itu terputus habis dan tergantikan dengan upaya Densus 88 Anti Teror yang menggrebeg sarang teroris di Bekasi serta drama pengepungan persembunyian gembong teroris di Magelang.

Media televisi nasional, media cetak dan radio serta media online secara umum memberitakan drama beberapa jam tersebut. Secara detail walaupun sebagian dari mereka menyebutnya sebagai breaking news.

Terlupakan

Semua isu dan berita itu silih berganti meminta perhatian publik. Kecepatan pergantiannya luar biasa cepat dan tanpa disadari.

Kini orang-orang di Sumatera Utara sudah tidak lagi ingat bencana banjir bandang di Bukit Lawang. Kita tidak lagi mendengar pakah semua pengungsinya sudah mendapatkan perumahan yang layak. Apakah masih ada yang tinggal dibarak-barak?

Kita sudah melupakan korban-korban angin ribut di Deli Serdang. Kita sudah lupa betapa dasyatnya tsunami di Aceh. Kita sudah mulai lupa hebohnya kenaikan harga BBM. Kita sudah lupa kisah kampanye Pemilihan Calon Legislatif yang menghajar semua pepohonan di jalanan. Kita sudah banyak lupa.

Kecepatan kita ‘melupakan’ apa yang terjadi memang karena kita adalah pihak-pihak yang diarahkan oleh media massa. Mereka membawa kita kepada informasi-informasi baru yang begitu cepat dengan kemampuan pengaruh yang luar biasa.

Kita cenderung menampung apapun yang diberitakan kepada kita hingga akhirnya kita menjadi overcommunicate. Dalam bahasa sederhana kita menjadi tidak sensitif dan kelebihan data sehingga kita cenderung menolak data-data baru.
Overcommunicate

Coba perhatikan. Apakah akhir-akhir ini anda pernah membaca sampai habis kata-kata dalam kemasan makanan yang anda santap? Apakah anda masih sempat membaca spanduk disimpang-simpang jalan? Apakah anda masih sempat membaca hingga habis brosur promosi yang anda terima?

Saya yakin sebagian besar dari kita menjawab ‘tidak’. Itu terjadi karena memang kita sudah terlalu lebih menerima informasi. Konon, dalam 1 detik gambar bergerak di tivi adalah merupakan sambungan dari 7 buah gambar yang diputar beruntun. Lalu, jika kita membaca koran dengan jumlah lebih 34 halaman, kita membutuhkan waktu lebih dari 28 jam untuk bisa menyelesaikannya. Itupun harus dengan kecepatan membaca yang tinggi diatas rata-rata.

Impactnya adalah, bahwa iklan yang benar adalah berusaha mencuri perhatian publik yang sudah sedemikian komplek arus informasinya. Iklan dan reklame yang biasa pasti langsung dilupakan. Iklan yang biasa dalam bentuk, format, gaya, isi dan modelnya tentu akan tersingkirkan begitu saja –kalah sebelum bertanding--.

Usia Isu

Pada saat orde-baru, seingat saya rata-rata usia isu akan melemah pada hari ke 90. mulai meledak pada minggu-minggu pertama dan mulai mereda pada rata-rata minggi ke tiga dan ke empat. Sehingga jika seseorang atau satu bisnis digosipkan, biasanya itu akan terlupakan secara otomatis pada bulan ke empat.

Kini lama isu tersebut sangat bisa sepanjang itu, kecuali kasus-kasus yang berhubungan dengan hukum yang memang memakan waktu lebih panjang dari kasus umum lainnya. Untuk berita yang lain, biasanya usia pemberitaan jarang lebih dari empat minggu. Bahkan banyak yang sudah terlupakan pada minggu ke tiga.

Tentu saja ini menjadi pertimbangan yang sangat penting bagi para praktisi bisnis yang ingin memanfaatkan usia isu. Isu promosi yang kita iklan-kan tanpa kekuatan yang sangat besar pasti akan hilang terlupakan pada minggu ke 3.

Tentu saja, kekuatan isu promosi akan bertahan dalam perhatian/pikiran publik itu sangat tergantung kepada isi isu-nya sendiri. Semakin aneh dan menggelitik, biasanya akan segera mendapat respon positif dari publik.

Selain isi, isu yang bisa bertahan lama biasanya dikomunikasikan melalui berbagai media. Semakin banyak jenis media, semakin serng disebutkan, dan semakin banyak jumlah persebarannya, maka perjalanan isu promosi semakin baik.

Memperpanjang usia isu

Layaknya sebuah cerita bersambung, isu promosi bagusnya juga disetting untuk bisa bertahan lama. Semakin lama isu bertahan, tentu harapan sukses penyampaian promosi semakin besar.

Kini iklan yang bersambung juga semakin banyak beredar. Baik berupa sambungan langsung dari setting kisah yang terputus atau merupakan iklan dengan pola yang hampir sama dengan pendahulunya.

Semoga anda ingat, salah satu produk kecantikan menghadirkan sebuah kisah tentang perjuangan seorang perempuan muda melawan tirani yang dilakukan oleh ibu kandung cowoknya. Dimana perusahaan ibu itu akan menggusur semua areal publik untuk sebuah bisnis dan resort area, hingga akhirnya pohon terkahir yang dipertahankan sepenuh hatinya.

Kisah bersambung dengan satu tema adalah ketika sebuah perusahaan telekomunikasi menggunakan kesebalasan papan atas dari eropa untuk promosinya. Mereka memanfaatkan kunjungan klub ini yang akan melawan kesebelasan pilihan dari Indonesia. Salah satu ‘jembatan’ yang digunakan untuk menghadirkan ke-Indonesiaan pada para pemain klub asing tersebut adalah manakala mereka membuat iklan berisi pelajaran berbahasa Indonesia kepada para pemain asing tersebut.

Kata-kata ‘Ini Budi...” sangat indonesia. Dimana sebagian besar dari kita mulai melek huruf dengan kata-kata itu. Saya sangat senang dengan ide kreatif tersebut. “Budi bermain bola”.

Hingga akhirnya terorisme membatalkan kunjungan dan pertandingan persahabatan itu. Lagi-lagi saya salut dengan pemilihan pesan/isu dari pihak pengiklan agar usia promosinya terus berlanjut. Meraka membuat billboard dengan latar belakang warna hitam –warna duka/berkabung—dan menuliskan pesan, “Budi, tetaplah bermain bola”.



Pelatihan & Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Share:

Basa-basi Menjelang Negosiasi


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 3 agustus 2009 di halaman bisnis dan teknologi

MUNGKIN sudah tradisi orang timur. Setiap kali akan menyampaikan sesuatu biasanya dimulai dengan basa-basi, sedikit berputar hingga pada putaran akhir pembicaraanya baru akan disampaikan kehedak niatnya.
Basa-basi dalam negosiasi akan menjadi bagus dan menarik jika dilakukan tidak bertele-tele dan berlarut-larut. Basa-basi bisa menjadi komponen penentu sukses negosiasi bila ditangani dengan tepat.
Kini, basa-basi dan kesantunan konon semakin sulit dibedakan orang. Kadang basa-basi menjadi penting karena dianggap sebagai suatu kesantunan yang mempengaruhi sikap penerimanya; sebaliknya bagi sementara orang, kesantunan kurang penting karena dianggap sebagai basa-basi yang hanya akan membuang waktu dan energi saja.
Secara prinsip keduanya memang berbeda. Basa-basi hanyalah bagian dari komunikasi yang lebih bersifat artifisial, misalnya sapaan, atau mungkin bisa juga “ice breaking” yang berfungsi lebih sebagai pengantar. Tergantung pada pelaku dan tujuannya, kata-katan yang dipilih, dan cara serta suasana penyampaiannya, basa-basi bisa menjadi interaksi yang bagus atau malah mejadi tingkah memuakkan. Tak heran jika basa-basi belakangan ini lebih berkonotasi negatif karena sering dimunculkan dalam bentuk puja-puji yang berlebihan.
Sebaliknya kesantunan lebih merupakan cara berkomunikasi. Berakar dari nilai-nilai luhur para pendahulu dimana kita diajarkan untuk menghormati orang lain. Banyak orang menganggap kesantunan juga semacam basa-basi yang merepotkan untuk dikerjakan. Sementara ego dan nafsu kita berkehendak untuk menggelembungkan diri kita, kesantunan memerlukan kesabaran untuk mengecilkan diri sendiri terhadap orang kepada siapa kita sedang berinteraksi. Namun bila kerendahan hati itu diungkapkan dengan cara yang berlebihan maka kesantunan juga bisa jatuh ke jurang basa-basi yang berkesan negatif. Di sisi lain interaksi yang tidak santun juga akan menjadi negatif karena diasa tidak sopan dan kasar. Cepat atau lambat, ketidak sopanan itu akan berbuntut pada perselisihan atau negosiasi yang gagal.

Ice breaking
Berbasa-basi bisa menjadi pemecah kebekuan. Bisa mencairkan suasana dan membuka pintu kemudahan dalam bernegosiasi. Basa-basi yang benar akan mengantarkan kita kepada situasi dimana kedua belah pihak bisa saling menjajagi karakter lawan negosiasinya.
Siapapun orangnya, pasti tidak akan mau menolak kenyamanan (dalam batin/perasaam). Untuk itu, tahapan berbasa-basi pada awal negosiasi adalah kesempatan yang baik untuk menciptakan suasana yang cocok dan nyaman bagi keduabelah pihak.
Menggunakan kalimat-kalamat yang berjawab ‘iya’ atau persetujuan adalah langkah cerdas untuk memastikan lawan negosiasi berkenan. Kata ‘iya’ memiliki muatan psikologis yang istimewa. Seseorang mengatakan ‘iya’ biasanya dengan menganggukkan kepala dan senang. Pada saat itu seolah-olah semua sistem tubuh mendukung dan tenang.
Kebalikannya adalah kata ‘tidak’. Hindarkan lawan negosiasi menjawab kalimat-kalimat kita dengan kata ‘tidak’. Dan itu harus dilakukan sejak awal pertemuan. Kata “tidak” diikuti dengan gelengan yang memusingkan. Bahkan, jika kata “tidak” diucapkan dengan keras, akan terjadi ketegangan di leher, pundak, kepalan tangan, gigi yang bertaut keras dan otomatis sistem tubuh meresponnya dengan tidak bagus. Dan ini adalah tanda penolakan.
Selanjutnya, dalam masa tersebut, hindarkan sikap-sikap yang berlebihan, sehingga pihak lain menilai kita secara tidak proporsional.

Membangun keyakinan
Melalui percakapan basa-basi, kita bisa membangun keyakinan lawan negosiasi. Keyakinan ini sangat penting, karena jika lawan tidak percaya dan tidak yakin, maka peluang gagal menjadi lebih tinggi lagi. Untuk itu diperlukan gaya pendekatan yang bisa membangun rasa nyaman, aman bagi kedua belah pihak.
Seseorang menjadi yakin itu setelah melewati beberapa tahapan proses. Yang pasti proses sebelumnya adalah proses menjadi percaya. Sayangnya Kepercayaan itu tidak datang begitu saja, tetapi melalui serenteten proses yang lain. Dalam hal ini persamaan-persamaan cenderung membantu menuju proses tersebut. Disinilah basa-basi menjadi komponen yang tidak terpisahkan dari tahapan-tahapan bernegosiasi.
Persamaan-persamaan itu dibangun dari hal-hal sederhana seperti topik pembicaraan, intonasi, bahasa tubuh dan posisi tubuh.
Jangan paksakan memilih topik obrolan yang kita sukai. Akan lebih bijaksana jika memilih topik obrolan basa-basi yang disenangi lawan bicara kita. Dengan memilih topik yang tidak disukai lawan bicara, itu sama saja dengan menciptakan perbedaan-perbedaan. Dan jika perbedaan itu menjadi kuat pada awalnya, niscaya perbedaan yang lebih besar akan terjadi pada saat bernegosasi.
Disinilah arti penting kedewasaan batin untuk sanggup menahan diri agar tidak menjadi sombong dengan hanya perduli dengan kesenangan diri tetapi lebih banyak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menikmati topik obrolan kesukaannya. Kita juga harus bersabar jika topik disukai lawan biacara kita adalah hal yang mungkin kita benci selama ini.
Intonasi bicara dan volume suara akan sangat mempengaruhi arus kesepakatan negosiasi. Jika salah satu pihak berbicara dengan lambat seperti tokoh lembut wayang kulit jawa dan pihak lain bersuara keras dan cepat seperti orang Batak pada umumnya, maka peluang pertemuan kesepakatan akan menjadi jauh dan sulit.
Selanjutnya, posisi tubuh juga sangat penting dalam perbincangan untuk membangun keyakinan. Upayakan kita berada pada posisi yang sama dengan lawan bicara. Usahakan mata kita setinggi mata lawan bicara. Saling berhadapan dan tidak membelakangi. Hindarkan untuk berposisi seperti kebanyakan foto politikus di koran-koran yang posisinya sedang bersalaman tapi tidak saling melihat.
Dengan membangun persamaan-persamaan tadi, biasanya lawan bicara akan segera mulai percaya dan yakin bahwa anda adalah orang yang tepat. Dan itu berarti anda sudah memenangkan setengah dari negosiasi tersebut.
Yang terakhir, jika semua usaha positif yang anda lakukan tetap juga tidak memberikan perubahan, anda tidak boleh kecewa, karena bisa jadi lawan negosiasi anda benar-benar tidak waras atau memang tidak berminat berbisnis dengan anda. Untuk itu, lupakan saja dan cari calon pelanggan yang lain.

Konsulasi dan peatihan. tj@cahyopramono.com
Share:

31.7.09

Segera Mulai Bisnismu

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 27 juli 2009, di halaman bisnis dan terknologi
========

Angankan apa yang engkau ingin angankan;
pergilah kemana engkau ingin pergi;
jadilah seperti yang engkau kehendaki

Sebab hidup hanya satu kali dan engkau hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan segala hal yang engkau ingin lakukan

Semoga engkau punya cukup kebahagiaan untuk membuatmu tersenyum,
cukup pencobaan untuk membuatmu kuat,
cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi, dan
cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia.
(sumber tidak diketahui)

JIKA angan dan mimpi untuk berbisnis datang, segeralah lakukan. Jangan tunda-tunda. Kesempatan tidak datang berkali-kali. Proses pembelajaran semesta akan membawa anda menjadi pebisnis seperti yang dicita-citakan. Tentu saja dengan merealisasikannya sesegera mungkin. Bukan menunggu tak menentu apalagi sekadar berkhayal. Ingat kesempatan tidak datang berkali-kali.
MEMULAI sebuah bisnis ternyata tidak saja membutuhkan kekuatan material dan teknikal, tetapi lebih banyak membutuhkan kekuatan mental. Diperlukan kenekatan dan keberanian untuk segera memulainya. Berani sukses dan berani gagal, apapun yang terjadi nanti.
Semua kemampuan teknikal saya yakin mudah dipelajari, keperluan material juga bisa dipenuhi. Tetapi kekuatan mental untuk bisa segera mulai, sabar didalam melaksanakannya, tangguh bertahan dalam kesulitan dan daya kreativitas untuk berkembang adalah harta yang teramat penting.
Disisi lain, waktu terus berjalan dan mengurangi jatah kita untuk hidup di bumi ini. Konon kesempatan juga lebih banyak datang hanya sekali.
Tulisan ini saya dedikasikan kepada para pengirim pertanyaan melalui email yang saya anggap sudah mampu untuk memulai berbisnis tetapi masih terlalu banyak berfikir, menimbang atau bahkan ketakutan untuk segera memulainya.
Bagi saya bisnis hanyalah sebagaian dari berbagai permainan hidup yang harus kita pilih dan jalani. Semua permainan itu tentu ada konsekuensi logisnya. Termasuk jika kita kalah dalam permainan itu. Dan kalah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari menang. Artinya, berani menang harusnya juga berani kalah.
Itu adalah alasan yang bagus untuk tidak lagi terganggu dengan potensi-potensi kekalahan. Karena semuanya berpotensi yang sama, artinya tetap ada peluang untuk menang dan sukses. Lalu bagaimana anda akan tahu kalau anda akan sukses, jika anda tidak segera mencobanya.

Hobby
Baiklah, sekadar untuk menghibur hati akan ketakutan kegagalan, ada baiknya anda memilih bisnis dari yang anda senangi. –tentu lebih baik bisnis hobby yang dikerjakan tanpa baying-bayang rasa takut untuk gagal--.
Berbisnis dari hal-hal yang disenangi, akan memberikan efek totalitas, dimana batin dan pikiran akan fokus kepadanya. Karena alasan kesenangan juga, jika kita bertemu hal-hal yang sedikit berbau kesusahan atau sedikit rugi pada awalnya jelas tidak akan memberikan efek sakit yang mendalam.
Kehadiran batin dalam bisnis sangatlah penting, karena akan memberikan efek fokus kepadanya. Batin yang hadir akan membawa keperdulian yang dalam. Keperdulian akan membawa diri kepada kewaspadaan dan kesadaran yang sangat penting untuk kepentingan bisnis itu sendiri.

Takkan lari gunung dikejar
Seperti filosofi menaiki gunung tinggi, sebenaranya bukanlah kita menaklukan gunung tersebut, karena alam tak pernah bisa ditaklukkan. Tetapi yang ada adalah proses menaklukkan diri sendiri. Mencoba mengalahkan berbagai hambatan batin dan pikiran-pikiran negative untuk bisa memompa motivasi diri agar sanggup menapaki gunug tersebut.
Menaiki gunung, seharusnya tidak secara emosional hanya berfikir puncaknya saja. Tetapi beri kesempatan agar kita menikmati prosesnya. Tahap demi tahap, langkah demi langkah dengan tetap berorientasi kepada puncaknya. Demikian juga dalam berbisnis. Jangan lupakan proses untuk mencapai sukses. Semua sukses dibangun dengan proses. Ikuti tahap-tahapnya.
Hindarkan untuk meghalalkan segala cara dalam berupaya mencapai puncaknya. Hormati juga lingkungan. Pahami potensi-potensi lingkungan. Pahami dimana saja sumber air, lokasi berteduh dan potensi cuaca. Waspadai potensi hujan badai, potensi tebing curam dan batuan yang mudah longsor. Begitu juga dalam berbisnis. Pelajari semua potensi yang ada, pelajari situasi lingkungan, apa saja hal-hal yang bisa mendukung dan memudahkan bisnis dan pelajari ancaman Galanglah semua potensi-potensi tersebut. Manfaatkan semaksimal mungkin tanpa harus merusaknya. Karena kita akan memerlukannya suatu saat nanti.
Jika ternyata kita merasa lelah yang amat sangat, beristirahatlah, tapi ingat, jangan pernah menyerah dan mengundurkan diri. Dan istirahat yang tidak terlalu lama adalah istirahat yang baik. Istirahat yang terlalu lama, akan membangkitkan jiwa malas. Istirahat yang terlalu lama sebelum mencapai puncak, hanya akan mengumpulkan segunung alasan agar kita tidak sukses. Istirahat yang terlalu lama akan membelai jiwa untuk menenangkan diri dengan berbagai alasan agar kita menghalalkan kegagalan. Ingat selalu peribahasa kuno ini;
Kalau anda lunak terhadap diri anda, Kehidupan akan keras terhadap diri anda.
Kalau anda keras terhadap diri anda, Kehidupan akan lunak terhadap diri anda


Mental pemenang
Semua orang memiliki potensi untuk menjadi pemenang. Hanya saja ada yang mengasahnya dengan baik dan ada juga yang membiarkannya terkulai lemah dan terpendam.
Semua itu memerlukan pelatihan dan pembiasaan. Begitu kita biarkan diri kita untuk mencoba berjalan, mencoba bangkit setiap kali jatuh, mencoba tegar manakala badai perasaan melanda dan seterusnya, lama-lama kita akan terbiasa untuk tidak mudah patah dan kalah. Semuanya memerlukan pembiasaan.
Yang terakhir, sekali lagi bagi anda yang masih ragu untuk segera mulai bisnis anda, saya katakana tidak ada alasan untuk menundanya. Jikalah anda rugi secara financial, pasti anda akan tetap beruntung dalam pengalaman dan wawasan yang akan membawa kedewasaan batin yang lebih baik.
Jangan tunggu siapa-siapa lagi. Tak usah tunggu semuanya menjadi sempurna dahulu baru kemudian bergerak. Karena dunia ini tidak ada yang sempurna. Segeralah tolong diri anda sendiri, karena orang lain hanya bisa melihat.

Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis sementara semua orang di sekelilingmu tersenyum. Jalani hidupmu sedemikian rupa, hingga pada akhirnya engkaulah satu-satunya yang tersenyum sementara semua orang di sekelilingmu menangis.
Konsultasi & Pelatihan, tj@cahyopramono.com
Share:

Belajar Menjual ke Multi Level Marketing


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 13 juli 2009 di halaman bisnis dan teknologi.

ALKISAH, seorang penjual topi berjalan melintasi hutan. Karena cuaca panas, ia memutuskan beristirahat sejenak dibawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan disampingnya. Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut.
Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak keatas dan betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet. Yang semuanya mengenakan topi-topinya.
Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garuk kepalanya. Ternyata monyet-monyet itu menirukan tingkah lakunya. Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Ternyata monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama.
Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Ketika terbangun iapun menyadari kalau monyet-monyet dipohon tersebut telah mengambil semua topi-topinya.
Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi-topi itu erat-erat.
Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang dilemparkan oleh cucu penjual topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata, “Emangnya cuman elo aja yang punya kakek…?”


Kisah diatas adalah sedikit gambaran tentang manfaat belajar. Kini banyak sekali kursus-kurus atau seminar singkat yang mengajarkan trik-trik menjadi pandai dalam menjual. Secara teori, kursus-kursus tersebut lumayan bagus, bahkan ada kalanya dilengkapi dengan sedikit praktek singkat.
Saya pikir anda sependapat dengan saya, bahwa tidak ada orang yang dilahirkan langsung pandai menjual. Tetapi siapapun bisa menjadi pandai menjual jika berusaha secara serius mempelajarinya.
Sayangnya untuk menjadi pandai menjual sebenarnya memerlukan lebih dari sekadar teori. Sangat sedikit orang yang sukses dengan hanya mengaplikasikan teori tanpa belajar praktek dan pendampingan dari orang yang lebih dahulu mengetahuinya. Salah satu pola pembelajaran yang saya yakini masih ‘mempan’ untuk orang Indonesia adalah belajar dengan didampingi seorang mentor.

Mentoring
Seorang Chip R. Bell mengartikan mentoring adalah proses seseorang membantu orang lain untuk belajar sesuatu dan bila proses tadi tidak terjadi, maka pembelajarannya menjadi kurang baik, lebih lamban, atau bahkan sama sekali tidak akan terjadi.
Saya mengartikan mentoring ini sebagai proses belajar yang didampingi oleh pengasuh/guru secara langsung dan pribadi. Satu per satu.
Mentor yang baik tidak menampilkan diri sebagai sosok pemimpin yang memerintah dan berkuasa melainkan sebagai seorang rekan atau pembimbing. Seorang mentor adalah seperti seorang bidan yang membantu seorang ibu yang siap mengadakan persalinan. Dia membutuhkan sepasang tangan yang lembut dan bukannya sepasang tangan dengan otot yang kekar.
Selama proses mentoring, baik mentor maupun mentee belajar bersama. Mentee dan mentor akan mempelajari sesuatu hal baik dari proses yang ada ketika mereka menyediakan ruang bagi sentuhan yang baik.
Mentor harusnya menyukai proses pembelajaran dan menginspirasikan menteenya. Ia bukan merupakan seorang pemimpin yang gemar untuk mengajari saja. Ia juga menciptakan suasana belajar sehingga menteenya akan menyukai proses belajar.
Sikap saling mempercayai haruslah menjadi landasan dari proses tersebut. Tanpa saling percaya, maka mentoring menjadi suasana penuh kalkulasi dan dominasi.

Belajar di Multi Level Marketing
Tentu saja, jika anda mencari kursus dengan pola ini, pasti harganya sangat mahal. Karena satu murid dilayani satu guru. Dalam pengamatan saya, ada satu bentuk mentoring yang sangat hemat bahkan cenderung gratis. Itulah yang saya sebut dalam judul diatas. Sistem jaringan yang diterapkan dalam multi level marketing didukung oleh sistem yang mengarahkan pengikutnya kedalam pola-pola penjualan yang bagus.
Karena nasib up-line juga tergantung dari down-linenya maka tidak heran kalau posisi up-line juga berusaha agar down-linenya pintar dan produktif. Semakin pintar down-line dan semakin produktif si down-line, semakin beruntunglah si up-line tadi.
Para upliner yang sukses, biasanya menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang juga merangkap sebagai mentor atau pendamping. Mereka dengan sabar mendampingi bawahannya mulai dari memperkenalkan, memberitahu, mengajari, memberi contoh sampai akhirnya membiarkan downliner-nya bekerja sendiri sesuai dengan kemampuan barunya.
Itulah sebabnya mengapa saya rekomendasikan penjual pemula untuk belajar ke kelompok multi level marketing. Dalam kelompok-kelompok tersebut (terutama yang sudah mapan), mereka sudah memiliki sistem yang rapih dan terukur. Mereka memiliki format-format pembelajaran dan pola-pola motivasi yang baik. Mereka sudah memetakan permasalahan-permasalahan penjualan yang umum terjadi dan sekaligus solusinya.
Anda tidak harus berprestasi di dalam kelompok tersebut. Disana anda bisa mempelajari cara menjual yang sederhana hingga cara-cara yang sistematik. Bersamaan dengan proses itu, anda akan mendapatkan kawan dan jaringan baru yang akan memberikan keuntungan dikemudian hari.
Yang terakhir, ingat bahwa mentoring sangat tergantung kedua belah pihak. Artinya seorang mentor yang baik pun akan gagal, jika mantee-nya juga tidak aktif.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

“Nyicip”


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 06 juli 2009 di halaman bisnis dan teknologi.

“MANIS....” kata seorang kawan yang baru saja mencicipi buah manggis atas sodoran penjualnya. Satu kata yang keluar dari mulut kawan ini seperti sebuah mantra ajaib. Singkat kata, kami serombongan mencicipi juga buah tropis ini dan kata “Manis” kembali terucap oleh semua dari kami. Lalu kemudian seluruh buah manggis yang ada di lapak itu berpindah ke mobil kami. Si panjual tersenyum senang, hari itu dia berjualan hanya 30 menit.
Cerita lain adalah seorang kawan yang kini menghisap rokok kretek merek tertentu dan sudah berjalan bertahun-tahun. Menurut pengakuannya, dia dulunya mengkonsumsi jenis rokok putih. Perpindahan selera itu terjadi manakala dulu bertugas di salah satu lembaga yang memungkinkan dia mendapat semacam ‘jatah’ rokok kretek dari salah satu rekanannya. Pada awalnya, setiap mendapat rokok kretek itu, selalu dia berikan kepada orang lain atau dia simpan, karena memang bukan jenis rokok yang dia sukai. Hingga pada suatu saat dia kehabisan rokok dan tidak ada kedai yang buka, sehingga dengan terpaksa ia mencoba rokok gratisan yang ia dapatkan itu. Sekali, dua kali dan seterusnya sehingga menjadi biasa dan bisa menikmati rokok jenis kretek itu.
Minggu ini saya membeli sebuah produk kalung kesehatan, sesuatu yang selama ini sulit saya percayai. Kisah ini bermula ketika seorang saudara memberikan kesempatan kepada saya untuk mencoba kalung itu selama beberapa waktu tanpa menyuruh saya untuk membelinya. Hingga dalam beberapa hari saya merasakan manfaat dari produk ini dan tidak sampai satu minggu saya sudah dengan rela mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli produk yang saya pakai ini.
Topik ini mengingatkan saya kepada seorang sahabat yang dulu pernah menjadi kepala pemasaran sebuah koran. Koran ini baru saja terbit dan berkompetisi dengan pendahulunya yang sudah besar dan terkenal. Ketika itu saya sarankan untuk melakukan trik berlangganan gratis selama 3 bulan. Saya ingat, sekitar 75 eksempar koran diantarkan gratis kepada 75 orang yang sudah menjadi pelanggan koran terdahulu. Setiap hari selama 3 bulan berturut-turut. Bukan sesuatu yang mengherankan jika ternyata pada bulan ke-4 sudah ada 58 permintaan berlangganan dari 75 orang itu. Konon berlangganan itu terus berlanjut hingga mereka merubah nama korannya pada tahun ke-4.
Contoh-contoh kisah diatas adalah petunjuk atas salah satu proses transaksi dan upaya menciptakan loyalitas pelanggan. Proses ini cocok digunakan untuk produk-produk yang berhubungan dengan cita-rasa. Produk tersebut digunakan dengan menikmatinya.
Di sisi lain, semua orang tahu bahwa perkara selera adalah sesuatu yang sulit dirubah. Selera dan cita-rasa sulit dialihkan. Membutuhkan usaha yang khas untuk bisa mendapatkan perhatian calon pembeli dan mengalihkan perhatianya kepada produk yang kita kehendaki.

Indra penikmat
Manusia bisa menikmati sesuatu secara visual untuk hal-hal yang bisa dilihat. Menikmati secara audio untuk sesuatu yang bisa didengar dan secara kinestetik untuk sesuatu yang dirasakannya, baik secara pencerapan, penciuman ataupun rabaan.
Mempresentasikan produk-produk yang terlihat akan cenderung mudah dan sederhana, demikian juga produk yang bersuara. Tetapi ketika produk itu menyangkut selera, jelas merasakannya sendiri adalah cara yang penting untuk dilakukan. Untuk inilah ada istilah mencicipi, food test, test drive, sampling, dan lain sebagainya.
Memang setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengirimkan pesan kepada otaknya. Ada yang cenderung dengan melihat, dengan mendengar atau dengan merasakannya. Namun bersamaan dengan proses pengiriman data itu, seseorang akan mencoba menikmati pesan-pesan itu, hingga pada akhirnya, selera dan cita-rasanya menentukan pilihannya.
Katakanlah sebuah perhiasan lebih cendrung dinikmati dengan penglihatan, tetapi akan menjadi mudah dinikmati jika pembeli diberikan kesempatan untuk mencoba terlebih dahulu. Pada saat mencoba, calon pembeli akan merasakan apakah kata batinnya merasa cocok atau tidak dengan perhiasannya itu. Artinya, faktor cita-rasa dan selera menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Acemmana awak tahu?
Begitulah gerutu seorang bapak yang diejek oleh anaknya, karena masih menggunakan sepatu olahraga berteknologi jaman purba. Si anak mencoba memberikan keterangan tentang kecanggihan teknologi sepatunya seperti konsep peredaran udara, bentuk tapak anti kejut, pola tapak yang disesuaikan dengan penggunaan sepatu, apakah untuk aerobik, lari, tennis atau basket. Diterangkan juga pola tapak sepatu yang memiliki gelembung udara, jenis kain yang digunakan untuk meringankan bobot sepatu serta teknologi anti jamur yang dimilikinya.
Pada awalnya si bapak hanya diam mendengar keterangan si anak, otaknya mengatakan bahwa sepatu anaknya memang bagus tapi tetap tidak menggodanya. Hingga kemudian si bapak mencoba sepatu itu. Dia berjalan kesana kemari dan sambil tersenyum ia mengakui kelembutan dan ringannya sepatu itu. Dia merasakan persendian kakinya tidak lagi merasa terantuk pada saat kakinya berpijak.
Anda sudah bisa menebak kisah selanjutanya.

Mencoba
Saya pikir, mencoba adalah sebuah perangkat penting dalam proses menjual. Khususnya untuk produk-produk yang dimanfaatkan berdasarkan selera cita-rasa pembelinya. Bagi mereka yang belum pernah merasakan produk sejenis, mencoba adalah cara termudah untuk memahami dan merasakannya. Ingat pepatah, tidak kenal maka tak sayang...!
Bagi mereka yang sudah pernah merasakan produk sejenis milik pesaing, tentu mencoba akan memberikan data baru baginya. Mereka bisa membandingkan. Paling tidak mereka bisa merasakan perbedaan setelah mencobanya.
Tentu saja, mengalihkan selera jelas sesuatu yang membutuhkan proses. Selera jelas sesuatu yang terbentuk menjadi sebuah keyakinan. Tentu upaya mencoba dalam waktu yang lebih lama, maka keyakinan itu akan lebih mudah untuk dirubah.
Yang terakhir, menyediakan produk untuk dijadikan contoh memang berbiaya, tetapi bagi saya ini sama saja dengan memasang umpan di mata kail. Memancing jelas membutuhkan umpan dan ikan yang didapat pasti lebih besar dari umpannya walaupun kita harus merelakan kehilangan umpan manakala kita mendapatkan ikannya.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive