it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

30.1.09

IKLAN MINI


tulisan ini sudah dimuat di harian waspada medan, tanggal 19 Januari 2009, di halamam binsis & teknologi.

BERMULA dari kunjungan periodik saya ke beberapa praktisi binis UKM di SUMUT, suatu hari sekira 5 minggu yang lalu saya menemui seorang pelaku UKM yang sedang membaca Koran dan melingkari iklan-iklan mini di lembaran Koran tersebut.
Dikesempatan lain, ada beberapa rekan pengusaha yang lebih senang membaca Koran dari belakang. Mereka lebih senang membaca iklan dulu baru beritanya. Sedikit aneh memang, jarang orang senang membaca iklan, tetapi perilaku tersebut mengarahkan saya untuk melakukan studi kecil-kecilan atas perilaku pengusaha mikro – kecil di daerah Kota Medan terhadap iklan koran, terutama iklan mini.
Selama beberapa waktu berikutnya hingga saya menurunkan tulisan ini, saya mendapatkan sekitar 73 responden dan yang mengagetkan saya adalah bahwa 32,23% dari mereka senang membaca iklan mini. Benar bahwa jumlah responden sangat kurang untuk bisa mewakili seluruh masyarakat Medan. Tetapi, jelas sekali angka ini bisa dijadikan bayangan. Akan lebih bagus jika pengguna media iklan mini atau pihak Koran meluangkan waktu membuat studi yang lebih dalam dan serius mengenai hal ini.
Responden yang saya dapatkan untuk studi ini adalah pengusaha kecil dan dari mereka saya dapatkan beberapa informasi yang menarik. Alasan terbanyak bagi mereka yang sering membaca iklan mini adalah bahwa mereka membutuhkan informasi mengenai supplier. Alasan berikutnya adalah mencari produk-produk yang sedang promosi. Alasan ketiga adalah melihat harga-harga pasaran. Lalu, dari sekian banyak alasan, Bagi saya ada satu alasan yang menarik dalam urutan ke delapan yaitu untuk melihat aktifitas pesaing.
Sungguh sebuah fenomena yang menarik, dalam pandangan saya terdahulu, iklan mini hanyalah sekadar informasi cepat yang tidak terlalu efektif. Tetapi kenyataan yang saya temui ini membuka pandangan saya bahwa iklan kecil ini juga memiliki celah menarik. Berbiaya relatif ringan sehingga pemunculannya bisa lebih sering.
Selama beberapa minggu berikutnya, saya mengamati lembar iklan mini di tiga Koran besar Sumut – Aceh. Saya melihat bahwa banyak produk/perusahaan yang selalu muncul tiap harinya. Mulai dari property, otomotif, elektronik, jasa pendidikan, jasa WC tumpat, jasa medical, lowongan kerja dan lain-lainnya. Dari pemunculannya yang setiah hari itu, jelas bahwa mereka mendapatkan manfaat yang lumayan positif dari iklan mini tersebut.
Lalu, saya berhasil menghubungi empat perusahaan yang selalu berpromosi melalui iklan mini tersebut, saya mengobservasi sekilas. Saya menemukan beberapa alasan menarik mengapa mereka memasang iklan mini dengan masa pasang yang lama. Alasan yang pertama adalah biaya yang cenderung jauh lebih murah, yang kedua mereka meyakini bahwa pembeli malas membaca buku direktori yang diterbutkan oleh perusahaan telekomunikasi, jadi pembeli lebih senang melihat di Koran sekalian mereka membaca berita. Alasan ketiga adalah bahwa mereka sangat yakin pembaca Koran tempat memasang iklan tersebut adalah pangsa pasar potensial mereka. Mereka bisa merasakan jumlah penelpon akan bertambah jika iklan dipasang.

Karakater
Mempelajari fenomena ini, saya mencatat ada beberapa hal penting sehubungan dengan karakater iklan mini di koran.
Yang pertama, iklan ini dalam ukuran kecil, sehingga tidak cukup menonjol dan merebut perhatian pembaca awam. Yang kedua, iklan-iklan kecil ini berkumpul dalam kelompok yang sama dan cenderung dihindari oleh pembaca pembenci iklan. Dan dengan berkumpulnya iklan-iklan kecil ini dalam lembar yang sama, berarti iklan kita berkompetisi dengan iklan lain dengan jelas dan tegas.
Yang ketiga, usia iklan koran adalah 1 hari. Dimana koran lain akan muncul pada hari berikutnya. Jadi peluang utamanya adalah pada tingkat distribusi yang luas sejumlah tiras koran yang bersangkutan.
Yang keempat, namanya juga iklan mini, berarti ukurannya juga mini. Ini berarti tidak semua informasi bisa diletakkan didalamnya –walaupun masih banyak pemasang iklan yang memaksakan diri menulis semua informasi sehingga hurufnya menjadi sangat halus dan sulit dibaca--.
Yang kelima, sasaran iklan menjadi sangat spesifik, yaitu pembaca yang memiliki karakter memerlukan informasi bisnis, seperti pedagang, bagian pembelian, bagian cost control, dan pembeli yang benar-benar ingin membeli. Bukan pembaca umum lainnya.

Tips
Mempelajari hasil studi kecil-kecilan yang saya lakukan, berikut ada saran-saran sederhana untuk memastikan kita mendapat hasil positif dari beriklan mini di koran;
Kelebihan iklan di koran dibanding dengan brosur adalah bahwa, koran memuat berita-berita yang dibutuhkan khalayak ramai, artinya orang tidak saja membaca iklan tetapi juga mendapatkan informasi lain yang dibutuhkannya.
Membuat brosur memerlukan beberapa biaya tambahan, seperti separasi warna, biaya cetak dan biaya distribusi. Tentu saja biaya itu tidak muncul pada saat berpromosi melalui koran.
Seperti karakter iklan mini yang saya sebut diatas, alangkah baiknya jika design iklan dibuat sedikit mencolok misalnya dengan membuat latar belakang yang hitam nge-blok. Atau memempatkan gambar yang bisa sedikit mencolok di areal yang sempit.
Penggunaan kata-kata juga harus dihemat, misalnya kata ”Informasi” disingkat menjadi ”info”, kata ”Hubungi” menjadi ”Hub” atau tuliskan saja langsung no telepon anda.
Untuk yang menonjolkan harga, gunakan kata mulai dari Rp..... –harga terendah—daripada harus menyebutkan semua harga-harga yang mengakibatkan pencaplokkan area iklan sehingga menjadi tidak menarik.
Hubungi bagian iklan di koran yang anda kehendaki. Tanyakan format grafis apa yang mereka gunakan dalam sistem komputer koran tersebut. Kirimkan kepada mereka format digitalnya saja sehingga pihak koran tidak lagi perlu mendesign ulang yang berpotensi perbedaan hasil dari yang kita kehedaki. Mengirimkan format design secara manual akan memakan waktu yang lama bagi pihak koran untuk mendesign ulang di komputer mereka.
Mintalah kepada pihak koran untuk ditempatkan diurutan pertama dari masing-masing kelompok jenis produk dalam lembaran iklan mini-nya. Tentu saja ini tergantung dari kebijakan masing-masing koran untuk menyetujuinya, tapi tidak salah untuk mencoba toh?
Anda bisa menguji efektifitas beriklan mini dengan mencatat berapa banyak penelpon setelah pemasangan iklan. Anda juga bisa merangsang pembaca dengan memberikan diskon istimewa jika mereka membawa potongan iklan tersebut.
Selamat mencoba.
Share:

Latah Menengah Ke Atas


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada halamam bisnis & teknologi, tanggal 12 januari 2009.

BERADA di kelas sosial yang tinggi konon menyenangkan bagi banyak orang. Jika pun tidak bisa di posisi tertinggi, setidak-tidaknya bukan di posisi paling rendah. Bukankah begitu?
Kelas itu identik dengan segala kebaikan dan di sanalah seolah-olah sumber dari segala rejeki bermuara. Itulah kelas sosial yang sering diperlihatkan oleh sinetron-sinetron kita. Serba mudah, banyak uang, serba baik, serba rapi, serba menarik dan serba hebat.
Begitu besarnya keinginan menjadi hebat dengan kelas sosial itu, hingga banyak orang begitu obsesif dan latah, demikian juga gaya dalam berbisnis bagi sebagian orang.
Saya bertemu dengan banyak tenaga penjualan dan pemasaran dari berbagai perusahaan yang salah kaparah. Untuk mengenalnya lebih dalam, saya selalu bertanya apa produk yang dijual dan kira-kira untuk pasar yang seperti apa sasaran pasarnya?
Saya masih sering mendapatkan jawaban yang sedikit membuat saya geli dalam hati. Mereka dengan bangga menyebutkan bahwa pasarnya adalah golongan menengah ke atas. Padahal mereka adalah orang-orang yang menjual suatu produk dengan harga eceran sebesar tarif parkir. Mereka adalah para penjual produk dengan kemasan ala kadarnya yang jika menyentuh tangan, maka tinta pembungkusnya akan berpindah ke kulit telapak tangan. Mereka adalah agen penjual tiket sarana transportasi yang dijamin tidak akan nyaman jika menaikinya. Mereka adalah para agen real estat yang menjual rumah dipinggiran kota dengan tipe rumah 36.
Sungguh sebuah kenekatan para penjual yang bisa jadi karena bermuka tebal atau memang persis seperti orang-orang yang hanya bisa membedakan volume usaha mikro, kecil, menengah dan besar dari seberapa besar gedungnya. Persis seperti para nasabah bank yang menjadi korban likuidasi karena mereka pikir bank tersebut tangguh dan besar seperti gedung yang yang digunakannya.

Latah
Teringat saya dahulu ketika muncul konsep dan slogan slogan “Everybody is marketer.” Maksudnya semua karyawan adalah pemasar-pemasar yang ikut juga menjual layanan & produk perusahaannya. Tema ini di awal peluncurannya dapat diterima dengan suara bulat; Entah karena memang karyawan memahami gagasan yang sederhana itu atau karena memang ada kesadaran bahwa sudah semestinya semua pegawai ikut memasarkan jasa dan produk perusahaannya.
Bagi orang-orang akademis, gagasan ini dipandang lucu karena pemasaran tidak begitu saja bisa dilaksanakan. Orang-orang ini memandang bahwa untuk memasarkan harus belajar lebih dulu teorinya misalnya, pengetahuan produk, segmentasi, bauran pemasaran dsb. Pendeknya, pelajari dulu teori dan baru praktek memasarkan. Menurut mereka, sungguh lucu orang yang menjadi pemasar tapi tidak paham apa sesungguhnya pemasaran.
Di pihak lain, orang-orang yang praktis, inginnya langsung “bertempur” di lapangan. Menurut mereka, menjual adalah pemasaran. Konsep ini juga amat “dipahami” oleh semua orang. Jika kita bicara pemasaran, maka selalu orang yang “menjual” itulah si pemasar.

Segmentasi
Membagi-bagi sasaran kepada kelompok-kelompok pasar yang jelas, akan memberikan kemudahan dalam membidikan arah tembakan bagi para pemasar.
Dengan segmentasi, kita akan mudah membedakan kelas sosial, jenis kelamin, usia, status perkawinan, latar belakang pendidikan, jabatan, penghasilan, domisili, media yang dibaca, jenis kendaraan yang dimiliki, hobby dan yang lainnya.
Contoh kegunaan pengelompokan itu adalah; misalnya kita akan menjual flash modem untuk internet yang mobil,. Kira-kira kepada siapa produk ini layak dipromosikan? Tentu muncul kelompok pengguna Laptop dan yang membutuhkan sambungan internet. Biasanya kelompok terebut adalah kelompok yang cukup berpendidikan, bekerja pada pekerjaan dengan tingkat mobilitas tinggi, dan seterusnya.
Sekarang, coba bayangkan, ada sekelompok petani, jarang ke kota, penghasilannya hampir Rp.1 juta per bulan, kebanyakan laki-laki, sekolahnya rata-rata SD. Dari data tersebut, anda akan menjual apa? Kain Sarung atau Jas? Pesawat Radio atau Komputer? Kaset lagu-lagu dang-dut atau lagu-lagu jazz?

Kelas Bawah? Kenapa tidak!
Jika semua orang mengurus yang ditengah dan yang diatas, lalu siapa yang akan mengurusi yang dibawah? Bukankah yang dibawah selalu saja jumlahnya lebih banyak dari gabungan yang di tengah dan yang diatas.
Lihatlah betapa yang namanya uang, tidak pernah berbeda apakah itu muncul dari lantai kumuh atau dari lantai berlapis pualam yang mengkilat. Uang tetaplah uang.
Kalau saya amati sedikit dalam, ternyata orang-orang yang saya temui tadi adalah orang-orang yang merasa bergengsi jika ia dan bisnisnya dikonotasikan dengan kalangan menengah keatas lalu menjadi jatuh gengsinya jika dikonotasikan dengan kelas bawah.
Jika kita lihat pada industri motor, mengapa Honda demikian laku? Suzuki laku. Kawazaki laku, dan Motor Cina juga laku. Bukankah motor Cina sering dikatakan kualitasnya tidak sebagus motor Jepang? Tapi kenyataan yang terjadi motor Cina berkembang pesat. Sanex Motor konon punya lebih dari 300 dealer di negeri ini. Mengapa mereka bisa berkembang padahal produk mereka bukan yang terbaik? Jawaban sederhananya adalah karena mereka menjual kepada orang yang membutuhkan dan menginginkan produk itu. Sebuah langkah segmentasi yang benar.
Tontonan bernuansa Jazz baru-baru ini saja mulai laku di Indonesia, jenis musik klasik malah masih sulit untuk dijual. Saya masih ingat berberapa kawan yang gagal mengolah outletnya dan selalu gagal dalam hal penjualan jika Jazz menjadi suguhannya. Jelas berarti yang dianggap diatas bukan berarti hebat dari sisi bisnisnya.
Ada seorang kawan yang senang sekali dengan musik-musik pop barat yang berbisnis penyewaan organ tunggal. Pasarnya adalah penduduk ditepian kota Medan. Pernah beberapa kali saya lihat, group organ tunggalnya justru selalu memainkan musik-musik dang-dut. Teman saya mengatakan bahwa hobby dan bisnis itu perkara yang berbeda. Ia sadar benar kepada siapa ia arahkan produknya. Dia olah bisnisnya itu seperti harapan orang-orang yang membutuhkan dan menginginkan produk itu.
Share:

21.1.09

BULLSHIT FROM TEXAS & VOLCANIC STONE FROM TOBA


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 05 januari 2009 di halaman bisnis dan teknologi

TAHUN baru membawa tantangan baru. Sialnya, manusia diciptakan dengan daya ingat yang terbatas. Kita semua mudah melupakan apapun yang pernah kita lalui, nikmati dan kita janjikan.
Karena daya ingat yang terbatas itulah kemudian tercipta berbagai teknologi untuk menyimpan hal-hal yang mesti dikenang dan diingat. Ada foto, ada video, dan berbagai perkakas lainnya seperti souvenir.
Souvenir bisa membangkitkan kenangan akan sesuatu yang berhubungan dengannya, baik tempat, acara, orang, atau waktu yang istimewa. Perjalanan akhir tahun saya mengelilingi Danau Toba mengingatkan saya jika ternyata kita tidak memiliki banyak variasi souvenir yang bisa mengingatkan pangunjung akan keindahan Danau Toba yang kita cintai.
Memang ada berbagai jenis Ulos, T-Shirt, gantungan kunci dan berbagai souvenir yang persis sama dengan yang dijual di berbagai lokasi wisata seantero nusantara.
Timbul pertanyaan sederhana, apakah Danau Toba tidak memiliki produk souvenir yang khas? T-Shirt ada di semua lokasi wisata, gantungan kunci dan lainnya juga selalu ada. Apakah Danau Toba tidak bisa seperti Kota Medan yang memiliki Bika Ambon? Seperti Padang dengan Kerupuk Sanjai? Seperti Kota Banda Aceh dengan Kopi Ule Karengnya? Bukankah souvenir juga merupakan media promosi yang potensial?
Semoga tulisan mengenai souvenir ini bisa dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang sedang berupaya mempromosikan diri, bisnis atau daerahnya.

Refleksi
Sebuah souvenir harus bercerita tentang objek yang dimaksud. Kehadiran Objek harus terwakili oleh sebuah souvenir yang kecil dan bisa dibawa pulang itu.
Harus ada studi yang mendalam tentang objek --Dalam hal ini Danau Toba--. Sisi Danau Toba yang mana yang harus ditonjolkan. Apakah bagian budayanya? Wisata Alam? sejarah? Atau yang lainnya.
Budaya di Sekitar Danau Toba berangkat dari beberapa kelompok yang berbeda-beda, ada Simalungun, Toba, Karo, Dairi dan sebagainya. Jelas akan sedikit sulit menciptakan sesuatu yang bisa merefleksikan beberapa alternatif diatas. Belum lagi kegiatan dan produk kebudayaan adat yang tidak cukup banyak bisa dilihat oleh pengunjung.
Sejarah? Jelas sekali sejarah yang bisa digali masih terbatas ditataran akademik dan orang-orang tertentu dan Belem Sangay tersosialisasikan.
Suasana alam? Jelas itu salah satu kelebihan Danau Toba, tetapi bagaimana mengemasnya dalam sebuah souvenir yang istimewa? Sesuatu yang tidak biasa, sebiasa T’shirt, kartu pos dan gantungan kunci.

Volcanic Lake
Para ahli geologi mengakui bahwa Danau Toba adalah danau vuklanik terbesar di dunia. Sebuah danau alam yang tercipta karena proses vulkanis. Betapa besar ledakan-ledakan Gunung Toba yang terjadi sampai konon pernah menggelapkan sepertiga permukaan bumi ini selama beberapa tahun. Konon sebagian tanah yang ada di India dan Filipina adalah tanah yang terlempar dari Gunung Toba ini.
Melihat Danau Toba kini, bisa dengan jelas kita bayangkan seberapa besar Gunung Toba kala itu. Semua orang yang pertama kali melihatnya pasti akan merasakan ketakjuban yang luar biasa. Sisa-sisa aktifitas vulkanis masih terasa hingga saat ini. Bentuk patahan sisi pulau Sumatera dan bentuk Pulau samosir seperti sebuah landskap yang tidak terputus membentuk sebuah julangan gunung raksasa yang kokoh dan anggun.
Proses terciptanya Danau Toba secara keilmuan jelas memiliki satu versi yang sama. Memang ada juga kisah rakyat yang cukup legendaris tentang terciptanya Danau Toba ini. Tetapi secara geologi, semua pihak sepakat akan hal ini.
Sebelum saya lanjutkan untuk pengemasan souvenir yang cocok dengan proses terciptanya Danau Toba secara vulkanik, berikut ada certia menarik dari Texas;

Bullshit From Texas
Bullshit secara harfiah adalah –maaf—kotoran sapi. Lalu kata itu digunakan sebagai ungkapan yang menggambarkan sesuatu yang bohong, omong kosong dan tidak mungkin. Orang-orang Texas di daratan Amerika sana, sering menggunakan kata itu untuk mengekspreskan sesuatu yang dianggap bohong, omong kosong dan mustahil.
Karena perkembangan jaman, akhirnya istilah bullshit, orang tidak lagi dikaitkan dengan barang aslinya, tetapi orang langsung berfikir makna bahasa dengan pengertian yang lain; sesuatu yang bohong, omong kosong dan tidak mungkin. Mudahnya mungkin sama seperti orang Indonesia kini mendengar kata “KIJANG”. Orang mengasosiasikan kata ‘Kijang’ tidak lagi sebagai nama binatang, tetapi sebagai penyebutan sebuah mobil keluarga.
Saat saya belajar dulu, ada seorang dosen pemasaran yang pulang dari Amerika dan menunjukkan sebuahsouvenir berupa pemberat kertas dari bahan akrilik. Saya masih ingat saat dia menunjukkan kepada kami sambil mengatakan bahwa ini adalah bullshit dari Teksas –juga tertulis di akrilik tersebut--.
Kelas kami menjadi heboh dan ramai dengan tawa karena mendengar kata itu. Kami pikir bagaimana bisa kebohongan bisa dikemas. Lalu kami tertawa lebih keras ketika kami mendengar bahwa harganya sekitar seratus lima puluh ribu rupiah.
Tetapi kami menjadi terdiam ketika kami melihat dari dekat bahwa dibalik tulisan Texas Bullshit yang tertempel disouvenir itu terlihat dengan jelas ada kotoran sapi yang terbungkus rapat didalam pemberat kertas berbahan akrilik tersebut. Kami terkaget dan memikirkan kegilaan orang Texas yang menjual kepopuleran istilah Bullshit menjadi souvenir yang menghasilkan secara ekonomi. Souvenir itu mengingatkan kami kepada penggembaraan cow boy dan peternakan sapi di Texas dan popularitas kata Bullshit itu sendiri.
Bagi anda yang ingin melihat souvenir dengan bentuk pemberat kertas dengan isi kotoran sapi ini silahkan klik http://flickr.com/photos/groov3/52032525/
Saya hanya membayangkan jika bebatuan gunung yang ada di Pulau Samosir bisa dikemas seperti souvenir dari Texas itu, mungkin akan menjadi menarik. Seperti orang-orang yang suka membawa serpihan Tembok Berlin, membawa pulang air Zam-Zam atau membawa pulang Bunga Edelwies.
Hanya dibutuhkan kemasan dan penjelas bahwa ini adalah batu vulkanik dari ribuan tahun yang lalu dalam proses penciptaan Danau Toba. Selamat mencoba.
Share:

Catatan akhir tahun


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 22 desember 2009 di halaman bisnis dan teknologi

TAHUN baru 2009 tinggal 9 hari lagi. Tahun baru 1430 H juga tinggal 7 hari lagi. Mungkin kita merasa bahwa tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Seolah-olah baru kemaren saja suara terompet dan kembang api kita dengar.
Pembaca yang budiman, terutama para praktisi bisnis di skala usaha apapun. Di penghujung tahun ini, ijinkan saya menyampaikan selamat dan salut yang sebesar-besarnya bagi anda semua yang telah berjuang mensejahterakan diri dan keluarga.
Saya lagi-lagi ingin menyebutkan bahwa kejahatan yang sebenar-benarnya adalah kemiskinan. Dan kemiskinan itulah juga yang mendekatkan diri dari berbagai godaan menuju dosa.
Bisnis yang anda geluti adalah salah satu cara cerdas untuk menghindarkan diri dan ahi keluarga dari kejahatan-kejahatan tersebut. Benar bahwa kemiskinan bukan sekadar bermuara kepada uang dan harta, tetapi juga karakter dan mental. Betapa sial seseorang yang miskin harta juga miskin mental positif.
Ijinkan saya mendedikasikan tulisan ini lagi-lagi kepada pelaku bisnis, terutama pelaku bisnis skala mikro, kecil dan menengah.

Krisis
Efek tsunami moneter yang menggoncang ekonomi dunia akhir-akhir ini saya harapkan ditanggapi dengan bijaksana. Senang atau tidak, kita harus melewatinya.
Terlepas dari angka statistik dan segala teori manajemen modern, cobalah kita melihat bahwa semua yang terjadi dalam perjalanan hidup bisnis kita adalah sebuah kesengajaan semesta yang akan membawa kita kepada kebahagiaan sejati.
Saya tetap yakin bahwa hanya laut yang berombak dan penuh badai yang akan menciptakan nelayan-nelayan yang tangguh. Nelayan tangguh tidak meminta Tuhan untuk meredakan ombaknya, tetapi memohon perlindungan Tuhan agar ia dibimbing dan mampu melewati segala ombak tersebut.
Berbagai krisis dan tantangan akan datang silih berganti seperti yang dialami pendahulu-pendahulu kita. Dan krisis ini adalah salah satu permainan dunia untuk ‘memilih’. Setelah krisis ini, akan muncul para pemenang yang sanggup bertahan dan bergerak maju. Krisis ini seperti ujian kenaikan kelas. Hanya orang-orang hebat yang mampu melewati ujian tersebut.
Bersyukurlah dengan datangnya krisis ini, karena ia datang untuk memberikan sertifikasi kenaikan kelas dan kualitas kita.

Naik kelas

Bagi pemula, ombak besar adalah penyebab kekhawatiran dan ketakutan, tetapi bagi para peselancar yang sudah terlatih, ombak besar adalah idaman yang mereka nanti-nantikan. Ombak yang sama ditanggapi berbeda oleh orang-orang yang berbeda. Dan semua permulaan cenderung lebih sulit dan segera menjadi mudah begitu bisa melewatinya.
Saya pastikan bagi anda bahwa tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. Piala kemenangan tidak akan segera kita genggam kalau tidak segera kita mencobanya.
Krisis mengancam zona nyaman kita. Krisis mengancam kesenangan kita. Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang di idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan
Kenaikan kelas kita harus dilalui dengan cara berubah. Kita harus berubah, maju dan berkembang. Segala sesuatu yang tidak berubah di dunia ini akan terlambat dan tertinggal. Segala sesuatu yang tidak berubah akan sirnah. Segala sesuatu yang tidak berubah adalah melawan kodrat Illahi. Kalau kita tidak mau berubah, sama dengan kita menolak kehendak Illahi.

Berubah
Berubah adalah bertumbuh dan berkembang. Bukan pertumbuhan yang lambat yang harus kita takuti. Akan tetapi kita harus lebih takut untuk tidak tumbuh sama sekali. Jadi bukanlah lebih baik jika kita tumbuhka diri kita walaupun dengan kecepatan apapun.
Bukankah orang-orang yang berhenti belajar hal-hal baru, akan menjadi pemilik masa lalu?. Dan orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan?! Tentu saja pembelajaran dan perubahan membutuhkan keseriusan dan energi yang besar. Salah satu pembodohan terkejam dalam hidup adalah ketika kita membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.
Sekali lagi berubah memerlukan pengorbanan sebagai konsekuensi logisnya. Jangan menolak perubahan hanya karena kita takut kehilangan yang telah dimiliki, karena dengan menolaknyanya kita merendahkan nilai yang bisa kita capai melalui perubahan itu
Tentu saja kita tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila kita berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama kita. Kita akan disebut baru, hanya bila cara-cara kita baru. Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, persis seperti orang yang terus memeras kertas koran untuk mendapatkan santan. Jelas mustahil..!
Contoh perubahan adalah cara kita dalam bergaul. Bisa jadi, selama ini kita hanya bergaul dekat dengan mereka yang kita sukai. Kita lalu seringkali menghindari orang yang tidak tidak kita sukai. Padahal bila kita sadari benar-benar, dari dialah yang tidak kita sukai, kita akan mengenal sudut pandang yang baru.
Contoh lain adalah pertanyaan kepada diri sendiri, “Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita ketahui, kapankah kita akan mendapat pengetahuan yang baru?” bukankah melakukan yang belum kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan baru?
Orang-orang bijak menyarankan untuk jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin, kita akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin kita capai.
Konon hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Jadi, bila merasa takut, kita akan punya kesempatan untuk bersikap berani.
Yang terakhir; Waktu, mengubah semua hal, kecuali kita. Kita mungkin menua dengan berjalanannya waktu, tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus mengubah diri kita sendiri. Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik. Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memiliki waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan. Demi waktu dan masa, semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang merugi. Selamat tahun baru 1430 H dan 2009 M.
Share:

“Tunggu Apa Lagi?” Komentar Terbuka Untuk Pengusaha Sate Ikan Ponorogo

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada halamam teknologi dan bisnis, tanggal 15 desember 2008 gambar ilustrasi bukan yang sebenarnya SATE ikan yang satu ini sangat khas, daging ikannya masih utuh dalam tusukan yang pas. Ikan dan rasa amis biasanya sangat lekat, tetapi juru masak Sate Ikan Ponorogo ini benar-benar piawai meracik bumbu sehingga bau amis dan bau tanah dari ikannya bisa sirnah. Pembaca yang Budiman, ijinkan saya menuliskan saran-saran untuk pemilik gerai sate di Jalan Tempuling, Medan ini, karena saya yakin tulisan ini juga bisa di aplikasikan di bisnis makanan yang lain. Hobby Hobby bisa menjadi alasan bagus untuk memulai bisnis, seperti yang banyak dilakukan para pebisnis makanan. Kegemaran memasak atau menikmati masakah serta perhatian yang lebih terhadap dunia makanan adalah modal istimewa yang bisa menjadi bahan dasar pencetus ide berbisnis makanan. Produk masakan yang tercipta karena hobby, biasanya memiliki kelebihan cita rasa yang istimewa dan berkualitas prima, karena proses penciptaannya melibatkan rasa senang dan suasana batin yang positif. Produk itu muncul dengan latar belakang cinta. Cinta adalah bumbu masak yang paling istimewa. Itu bisa dibuktikan dengan komentar-komentar positif dari orang-orang disekitar yang pernah mencicipi hasil karya juru masak yang memang hobby memasak. Hoby memasak yang dimiliki pengusaha Sate Ponorogo itu adalah asset awal yang positif. Karena ada ketertarikan yang besar dalam menghasilkan produk-produknya. Ada keterlibatan ketulusan hati dalam memprosesnya. Hobby VS Tugas Memasak karena hobby biasanya dilakukan tidak setiap hari dan tidak dalam jumlah besar. Tentu saja kualitas masakan hobby cenderung lebih mudah dijaga, karena volume dan durasinya cenderung sedikit dan singkat. Itulah tantangan yang pertama saat menciptakan produk makanan dalam volume massal dan dilakukan setiap hari. Pertanyaannya adalah, apakah konsistensi kualitas produk tersebut bisa dijaga, dari potongan pertama hingga potongan yang kesekian kalinya. Apakah cita-rasa masih tetap bisa sama sejak hari pertama buka hingga beberapa waktu berikutnya? Apakah batin yang iklas penuh kasih sayang dalam menciptakan makanan masih bisa terjaga sejak masakan pertama hingga pengulangan yang kesekian kalinya? Apakah masih bisa tugas yang rutin dan banyak tetap diiringi rasa cinta dan kesungguhan batin? Sampai hari ini saya masih percaya dengan cinta kasih yang tulus bisa menembus seluruh relung batin manusia dari pojok manapun di dunia ini. Tentu saja produk dengan generator yang sama akan mendapatkan respons yang sama baiknya. Karakter bisnis makanan Nama aneh, adalah salah satu trik untuk memasuki dunia bisnis makanan yang jumlahnya sudah amat banyak. Apalagi untuk kapasitas investasi bisnis skala mikro dan kecil. Jika nama gerai sudah terlanjur dibuat dengan nama yang biasa-biasa saja, upayakan nama menunya juga yang istimewa, aneh dan jarang terdengar, sehingga akan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari para pembelinya. Ingat, nama nasi goreng istimewa sudah tidak lagi istimewa, karena memang kata-kata nasi goreng istimewa selalu ada di hampir seluruh rumah makan / restoran. Artinya, kata ’istimewa’ itu jelas-jelas tidak lagi istimewa. Bisnis makanan yang sudah banyak saingan, biasanya memiliki daur hidup yang pendek. Kita bisa lihat, gerai-gerai makanan yang ramai pada bulan-bulan pertama tetapi segera sepi pada bulan yang keempat. Upaya bertahan di bulan-bulan berikutnya menuntut banyak rahasia, misalnya lokasi yang strategis, suasana yang nyaman, variasi menu harian dan pelayanan yang khas serta memukau pengunjung. Pemasaran Cara sederhana dan klasik, penjualan dilakukan dengan menunggu pembeli datang. Tentu saja ini seperti memasang bubu di pojok sungai, sukur-sukur ada ikan yang masuk. Kini, sudah banyak cara lain dalam penjualan yang terbukti efektif. Salah satu cara itu adalah dengan jasa layanan antar. Sediakan no telepon yang mudah diingat, beritakan lepada khalayak ramai dan siapkan armada pengirimannya. Mungkin bagus jika dimulai dari areal sempit dalam radius sekitar 3 hingga 5 km dari gerai. Ini penting sebagai bahan penjajagan dan pembelajaran sebelum sampai radius yang lebih luas. Rahasia pesan antar adalah kecepatan dan ketepatan waktu. Ada dinamisme yang menarik di dalamnya. Pertama, harus ada standard pelayanan pemesanan dan standard kepastian identitas serta lokasi pemesan. Lalu yang kedua, harus ada pengaturan petugas dan alat transportasi dan selain proses pengolahan makanan yang pas, yang ketiga adalah standard kemasan, dimana kemasan harus mudah dibawa, aman (tidak berpotensi tumpah/bocor) dan kepastian kualitas makanan (panas/dingin/rasa) tetap terjaga selama masa pengantaran. Penjualan lain yang berpotensi mengeruk keuntungan adalah pelayanan pesta. Sudah sangat umum, pesta-pesta pernikahan, ulang tahun atau hajatan yang lain ada menyediakan makanan-makanan pendamping. Makanan seperti Sate Ikan Ponorogo adalah salah satu makanan yang pas untuk kepentingan itu. Oleh-oleh adalah salah satu produk potensial yang tidak memikirkan kenyang dan selera. Jika Sate Ikan Ponorogo bisa dikemas menjadi oleh-oleh, jelas potensi penjualannya akan meningkat tinggi. Keuntungan lain dalam pola penjualan take away ini adalah bahwa kita tidak harus menyediakan lokasi makan dan perlengkapannya. Cabang Membuka cabang --dalam versi bisnis klasik-- bisa dilakukan jika unit pertama mengindikasikan peningkatan usaha yang signifikan. Tetapi perlu disadari bahwa dalam bisnis makanan –yang bukan makanan pokok daerah yang bersangkutan—biasanya faktor trend/mode menjadi penentu penjualan. Sebuah makanan yang tidak lagi trend, biasanya akan tertinggal dan dilupakan. Untuk itu, sudah waktunya untuk segera membuka cabang dengan jumlah yang banyak secepatnya. Bisa dengan pola modal sendiri atau dengan sistem waralaba. Ini sangat penting karena, usaha promosi menempatkan citra produk akan memakan energi yang sama, baik untuk satu unit usaha maupun dalam jumlah yang banyak. Keuntungan lainnya adalah bahwa energi pikiran dan pengolahan bahan dasar juga relatif sama antara satu unit usaha maupun banyak unit usaha. Yang terakhir, percayalah bahwa tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Mengerjakan sesuatu dengan menunggu kesempurnaan bisa kita raih terlebih dahulu adalah faktor yang berlawanan dengan kenyataan universal. Dengan kata lain, jangan tunggu semuanya menjadi baik baru kita bergerak maju. Segeralah maju saat ini juga, biarkan kita bertumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan bersamaan dengan proses penyempurnaan itu sendiri.
Share:

Blog Archive