it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

16.6.09

Ala Time Share (ide bisnis)


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 11 mei 2009, di halaman bisnis dan teknologi.www.cahyopramono.com

INGIN wisata ke Berastagi dan semua hotel penuh? Tidak usah khawatir. Kini sudah banyak bungalow atau villa milik pibadi yang bisa disewa. Suasananya sangat berbeda dibandingkan dengan tinggal di hotel. Rasanya seperti tinggal di rumah sendiri, ada ruang tamu, beberapa kamar tidur, ruang keluarga bahkan dapur yang disana anda bisa memasak sendiri makanan yang anda sukai.
Liburan akhir pekan lalu saya berkesempatan mengekplorasi beberapa villa yang disewakan tersebut. Masing-masing dari villa itu memiliki fasilitas dan kelengkapan yang berbeda-beda. Ada yang melengkapinya dengan karaoke set, air panas, perlengkapan dapur lengkap dan garasi tertutup.
Untuk keluarga dengan jumlah orang yang banyak, saya pikir mengunakan villa seperti ini lumayan cocok dan pas, apalagi kencenderungan harganya sedikit lebih murah dari pada hotel yang biasa. Apalagi dengan jumlah orang yang banyak biasanya tidak bisa terelakkan kegaduhan-kegaduhan kecil yang berpotensi menggangu tamu kamar lain jika tinggal di hotel. Alasan lainnya yang cukup menarik adalah bahwa tinggal di villa seperti ini, cenderung lebih tidak formal dan santai.
Mendapatkan villa-villa yang bisa disewa sungguh tidak susah karena menjelang akhir pekan atau hari libur, karena mereka biasanya mengiklankan villa-nya di koran-koran. Hubungi nomor teleponnya, tanya harga dan fasilitas lalu jadi. Anda akan mendapatkan kunci villa pada saat membayar atau saat berkunjung. Itu saja...
Villa yang dibangun untuk keperluan pribadi sudah biasa, bungalow untuk yang diswakan untuk umum juga sudah biasa. Tetapi villa pribadi yang sesekali disewakan untuk umum itu menjadi menarik. Kini kita bicarakan sisi bisnisnya. Bagaimana pemilik villa mendapatkan bisnisnya? Lalau bagaimana kalau mereka sendiri akan datang kesana? Apa memang membeli villa hanya untuk disewakan?

Time shared
Ini adalah sebuah konsep dari asas efisiensi. Menjadi kenyataan bahwa memiliki villa-villa di areal resor adalah seseutu yang menyenangkan. Tetapi semua orang tahu bahwa liburan tidaklah tidak dikerjakan sepanjang tahun. Dan tidak tiap liburan seseorang akan mengunjungi tempat yang sama. Sementara itu, biaya operasional villa tetap berjalan sepanjang tahun tanpa henti, dari biaya penjaga, kebersihan, listrik, air, pajak, perawatan dan sebagainya.
Bermula dari tahun 1960, di Eropa, konsep ini berkembang hinga saat ini menjalar keseluruh dunia. Konsep ini adalah konsep berbagai sesuai waktu yang disepakati. Boleh bertukar dengan pemilik yang lain atau variasi-variasi lainnya.
Yang saya ingin bahas dalam tulisan ini adalah konsep membagi kesempatan untuk bisa memiliki properti sekaligus mendapatkan keuntungan lebih dari propertinya. Artinya, villa yang dibeli tidak hanya untuk bersenang-senang dan berlibur, tetapi juga bisa menjadi mesin uang untuk si pemilik. Jika si pemilik villa tidak menggunakanya, villa bisa disewakan kepada publik.

Pribadi dan Publik
Saya pikir hanya sebatas masalah pemikiran saja, dimana pemilik properti mengijinkan atau merelakan properti pribadinya untuk digunakan bersama orang lain. Tentu saja ini hanya masalah pengaturan. Jika manajemen pengelolaannya bagus dan penatalaksanaan tata grahanya bagus, tentu tidak perlu khawatir atau merisaukan perkara ini.
Sepertu halnya pengaturan hotel yang baik dan bersih, maka memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menggunakaan proterti tersebut tidaklah menjadi sesuatu yang bermasalah.

Perijinan
Dibeberapa daerah, perijinan yang diberlakukan adalah yang berhubungan dengan ijin usaha kepariwisataaan. Tentu saja beda daerah, beda ketentuan aturan yang diberkalukan oleh pemerintah setempatnya. Dalam perijinan itu nanti ada beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai layaknya sebuah usaha penyewaan perhotelan/penginapan.

Pemasaran,
Tentu saja konsep ini sangat cocok bagi daerah-daerah yang pengunjungnya sudah banyak, atau tempat tersebut sudah terkenal sebelumnya. Selanjutnya, strategi promosi yang lumayan cocok adalah strategi follower/pengikut. Domplengkan promosi properti tersebut dengan aktifitas yang berhubungan dengan promosi sarana yang lebih besar atau promosi kedaerahan.
Harus dipahami bahwa model sarana akomodasi seperti ini menuntut karakter tamu atau pelanggan yang juga khas. Pelanggan tersebut haruslah mereka-mereka yang bisa melayani diri sendiri, tidak membutuhkan palayanan berlebihan. Mereka tidak memerlukan layanan kamar, layanan makanan, layanan pencucian baju, dan layanan-layanan lain layaknya di hotel yang biasa. Mereka juga adalah tamu-tamu dalam grup yang memiliki kedekatan tertentu seperti keluarga atau perkawanan.
Promosi yang efektif untuk tipe akomodasi demikian adalah menggunakan media-media untuk para traveler. Bagus juga menggunakan harian-harian yang banyak pembacanya, terutama mendekati hari libur. Jangan dilupakan bahwa karakter tamu dari sarana akomodasi ini sangat khas dan mereka saling menginformasikan kepada kawan-kawannya. Jadi berikan kesan positif kepada mereka sehingga mereka akan membantu mempromosikannya.
Jika perlu ajak beberapa hotel untuk bekerjasama. Jika mereka membantu menjualkan villa anda kepada tamunya yang mungkin datang pada saat hotel penuh, maka anda akan memberikan insentif berupa komisi dan sebagainya.
Jangan lupa, Jaringan komunikasi pribadi melalui internet juga potensial untuk dimanfaatkan.

Tata graha
Inilah salah satu kunci keberhasilannya; properti yang bersih, terawat dan terjaga. Siapa yang tidak senang mendapatkan tempat tinggalnya terjaga kebersihan dan terawat semua fasilitasnya.
Kalau ini jelas menyangkut sistem organisasi tata graha dan kebiasaan serta budaya bersih yang dianut oleh pelakunya. Dari beberapa villa yang saya kunjungi, ada beberapa yang sangat baik kebersihannya dan ada juga yang memprihatinkan, padahal masing-masing ada petugas kebersihannya.
Mengapa ini menyangkut budaya? Karena kebersihan apapun tidak bisa dikerjakan sebulan sekali, tetapi harus dikerjakan tiap hari dengan rutin. Ada atau tidak ada tamu, seharusnya langkah kebersihan dikerjakan setiap hari. Tentu saja kelengkapan kebersihan juga harus menunjang.
Saya menemukan ada villa yang handel pintunya rusak. Ada yang kamar mandinya bocor, ada yang tidak memiliki lampu penerangan, ada yang instalasi listriknya bergantungan tidak terawat. Dan jelas itu akan mengecewakan tamu yang datang. Bisnis jasa seperti ini jelas bertumpu kepada perasaan senang dan puas bagi pelanggannya. Jadi usahakan apapun juga untuk mencapainya.
Share:
Ala Time Share
(ide bisnis)
INGIN wisata ke Berastagi dan semua hotel penuh? Tidak usah khawatir. Kini sudah banyak bungalow atau villa milik pibadi yang bisa disewa. Suasananya sangat berbeda dibandingkan dengan tinggal di hotel. Rasanya seperti tinggal di rumah sendiri, ada ruang tamu, beberapa kamar tidur, ruang keluarga bahkan dapur yang disana anda bisa memasak sendiri makanan yang anda sukai.
Liburan akhir pekan lalu saya berkesempatan mengekplorasi beberapa villa yang disewakan tersebut. Masing-masing dari villa itu memiliki fasilitas dan kelengkapan yang berbeda-beda. Ada yang melengkapinya dengan karaoke set, air panas, perlengkapan dapur lengkap dan garasi tertutup.
Untuk keluarga dengan jumlah orang yang banyak, saya pikir mengunakan villa seperti ini lumayan cocok dan pas, apalagi kencenderungan harganya sedikit lebih murah dari pada hotel yang biasa. Apalagi dengan jumlah orang yang banyak biasanya tidak bisa terelakkan kegaduhan-kegaduhan kecil yang berpotensi menggangu tamu kamar lain jika tinggal di hotel. Alasan lainnya yang cukup menarik adalah bahwa tinggal di villa seperti ini, cenderung lebih tidak formal dan santai.
Mendapatkan villa-villa yang bisa disewa sungguh tidak susah karena menjelang akhir pekan atau hari libur, karena mereka biasanya mengiklankan villa-nya di koran-koran. Hubungi nomor teleponnya, tanya harga dan fasilitas lalu jadi. Anda akan mendapatkan kunci villa pada saat membayar atau saat berkunjung. Itu saja...
Villa yang dibangun untuk keperluan pribadi sudah biasa, bungalow untuk yang diswakan untuk umum juga sudah biasa. Tetapi villa pribadi yang sesekali disewakan untuk umum itu menjadi menarik. Kini kita bicarakan sisi bisnisnya. Bagaimana pemilik villa mendapatkan bisnisnya? Lalau bagaimana kalau mereka sendiri akan datang kesana? Apa memang membeli villa hanya untuk disewakan?

Time shared
Ini adalah sebuah konsep dari asas efisiensi. Menjadi kenyataan bahwa memiliki villa-villa di areal resor adalah seseutu yang menyenangkan. Tetapi semua orang tahu bahwa liburan tidaklah tidak dikerjakan sepanjang tahun. Dan tidak tiap liburan seseorang akan mengunjungi tempat yang sama. Sementara itu, biaya operasional villa tetap berjalan sepanjang tahun tanpa henti, dari biaya penjaga, kebersihan, listrik, air, pajak, perawatan dan sebagainya.
Bermula dari tahun 1960, di Eropa, konsep ini berkembang hinga saat ini menjalar keseluruh dunia. Konsep ini adalah konsep berbagai sesuai waktu yang disepakati. Boleh bertukar dengan pemilik yang lain atau variasi-variasi lainnya.
Yang saya ingin bahas dalam tulisan ini adalah konsep membagi kesempatan untuk bisa memiliki properti sekaligus mendapatkan keuntungan lebih dari propertinya. Artinya, villa yang dibeli tidak hanya untuk bersenang-senang dan berlibur, tetapi juga bisa menjadi mesin uang untuk si pemilik. Jika si pemilik villa tidak menggunakanya, villa bisa disewakan kepada publik.

Pribadi dan Publik
Saya pikir hanya sebatas masalah pemikiran saja, dimana pemilik properti mengijinkan atau merelakan properti pribadinya untuk digunakan bersama orang lain. Tentu saja ini hanya masalah pengaturan. Jika manajemen pengelolaannya bagus dan penatalaksanaan tata grahanya bagus, tentu tidak perlu khawatir atau merisaukan perkara ini.
Sepertu halnya pengaturan hotel yang baik dan bersih, maka memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menggunakaan proterti tersebut tidaklah menjadi sesuatu yang bermasalah.

Perijinan
Dibeberapa daerah, perijinan yang diberlakukan adalah yang berhubungan dengan ijin usaha kepariwisataaan. Tentu saja beda daerah, beda ketentuan aturan yang diberkalukan oleh pemerintah setempatnya. Dalam perijinan itu nanti ada beberapa hal yang harus dipenuhi sebagai layaknya sebuah usaha penyewaan perhotelan/penginapan.

Pemasaran,
Tentu saja konsep ini sangat cocok bagi daerah-daerah yang pengunjungnya sudah banyak, atau tempat tersebut sudah terkenal sebelumnya. Selanjutnya, strategi promosi yang lumayan cocok adalah strategi follower/pengikut. Domplengkan promosi properti tersebut dengan aktifitas yang berhubungan dengan promosi sarana yang lebih besar atau promosi kedaerahan.
Harus dipahami bahwa model sarana akomodasi seperti ini menuntut karakter tamu atau pelanggan yang juga khas. Pelanggan tersebut haruslah mereka-mereka yang bisa melayani diri sendiri, tidak membutuhkan palayanan berlebihan. Mereka tidak memerlukan layanan kamar, layanan makanan, layanan pencucian baju, dan layanan-layanan lain layaknya di hotel yang biasa. Mereka juga adalah tamu-tamu dalam grup yang memiliki kedekatan tertentu seperti keluarga atau perkawanan.
Promosi yang efektif untuk tipe akomodasi demikian adalah menggunakan media-media untuk para traveler. Bagus juga menggunakan harian-harian yang banyak pembacanya, terutama mendekati hari libur. Jangan dilupakan bahwa karakter tamu dari sarana akomodasi ini sangat khas dan mereka saling menginformasikan kepada kawan-kawannya. Jadi berikan kesan positif kepada mereka sehingga mereka akan membantu mempromosikannya.
Jika perlu ajak beberapa hotel untuk bekerjasama. Jika mereka membantu menjualkan villa anda kepada tamunya yang mungkin datang pada saat hotel penuh, maka anda akan memberikan insentif berupa komisi dan sebagainya.
Jangan lupa, Jaringan komunikasi pribadi melalui internet juga potensial untuk dimanfaatkan.

Tata graha
Inilah salah satu kunci keberhasilannya; properti yang bersih, terawat dan terjaga. Siapa yang tidak senang mendapatkan tempat tinggalnya terjaga kebersihan dan terawat semua fasilitasnya.
Kalau ini jelas menyangkut sistem organisasi tata graha dan kebiasaan serta budaya bersih yang dianut oleh pelakunya. Dari beberapa villa yang saya kunjungi, ada beberapa yang sangat baik kebersihannya dan ada juga yang memprihatinkan, padahal masing-masing ada petugas kebersihannya.
Mengapa ini menyangkut budaya? Karena kebersihan apapun tidak bisa dikerjakan sebulan sekali, tetapi harus dikerjakan tiap hari dengan rutin. Ada atau tidak ada tamu, seharusnya langkah kebersihan dikerjakan setiap hari. Tentu saja kelengkapan kebersihan juga harus menunjang.
Saya menemukan ada villa yang handel pintunya rusak. Ada yang kamar mandinya bocor, ada yang tidak memiliki lampu penerangan, ada yang instalasi listriknya bergantungan tidak terawat. Dan jelas itu akan mengecewakan tamu yang datang. Bisnis jasa seperti ini jelas bertumpu kepada perasaan senang dan puas bagi pelanggannya. Jadi usahakan apapun juga untuk mencapainya.
Share:

Waspadai Ulah Para Pengekor


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 04 mei 2009, di halaman bisnis dan teknologi.
Ada sebuah hotel berbintang di Sumatera Utara yang sama sekali tidak memiliki tenaga penjualan. Tetapi anehnya lumayan laku dan banyak mendapat bisnis. Anda tahu rahasianya?
Sebutlah dua buah hotel dengan bintang yang sama di sebuah kota pariwisata. Sebutlah Hotel “A” dan Hotel “B”. Hotel “A” berusaha melaksanakan kaidah-kaidah pemasaran dengan baik sedangkan hotel “B” sama sekali tidak melakukan hal itu. Hotel “A” memiliki banyak tenaga pemasaran sehingga lingkup promosi penjualannya semakin lebar. Mereka berpromosi, melakukan aksi-aksi pemasaran dan publikasi. Mereka dengan giat mengunjungi para calon pelanggan.
Manajemen Hotel “B” itu dengan sengaja tidak berpromosi seperti yang dikerjakan oleh manajemen hotel “A”. Hotel “B” sama sekali tidak menggunakan berbagai media promosi, juga tidak memiliki tenaga pemasaran sama sekali.
Sebagai akibat dari gencarnya promosi oleh pihak Hotel “A”, maka mulailah banyak perhatian untuk menginap di kota wisata tersebut diatas. Ketika calon tamu akan menginap atau membuat acara di kota dimana terletak kedua hotel tersebut, tentu saja calon tamu ingin membandingkan harga-harga hotel yang ada. Disinilah klik yang digunakan oleh hotel “B”. Walaupun mereka tidak promosi besar-besaran, tetapi mereka memanfaatkan calon pembeli yang menghubungi mereka sebagai akibat dari promosi pihak Hotel “A”.
Anda sudah bisa bayangkan apa yang terjadi berikutnya, pihak Hotel “B” dengan mudah menjual dengan harga yang lebih murah karena biaya promosi dan pemasarannya sangat sedikit. Hotel “B” yang sedianya hanya untuk pembanding, kini meraup keuntungan dari aksi promosi Hotel “A”.

Pengekor
Memang benar bahwa kompetisi sangat penting untuk memajukan sesuatu. Karena pada hakekatnya persaingan adalah satu bentuk natural dari pacuan untuk bertumbuh dan berkembang. Tanpa persaingan, pertumbuhan akan menjadi lambat atau mungkin berhenti sama sekali.
Dalam tataran ideal, sebagusnya persaingan yang sepadanlah yang akan memberikan hasil pembejalaran yang positif. Tetapi pada kenyataannya dunia ini kadang tidak adil. Kita sesekali dihadapkan kepada persaingan yang tidak adil. Salah satu diantaranya adalah pesaing pengekor. Mereka mencipta atau memasarkan sebuah produk seperti yang kita miliki. Mereka mendompleng peluang dari keberhasilan produk yang kita lakukan. Lalu mereka memberikan polesan sedikit-sedikit pada pola dan kondisi produksinya sehingga seolah-olah terlihat berbeda.
Atau bisa jadi mereka adalah junior-junior pendatang baru dalam bisnis yang tidak banyak berfikir. Mereka tidak menghitung laba atau rugi, karena orientasi mereka adalah belajar dan mencoba. Mereka tidak memiliki beban mental untuk menghadapi kegagalan. Mereka tidak menyadari bahwa langkah mereka berpotensi merusak pasar bersama.
Untuk menghadapi para pengekor ini, berikut ada beberapa tips yang mungkin bisa di aplikasikan dalam bisnis.

Mengenal pesaing
Kenalilah siapa orang-orang yang menjadi pesaing kita. Pelajari kelebihan dan kekurangannya. Ingat usahakan untuk mengenali orang-orangnya, bukan sekadar potensi manajemennya. Penting mengetahui kekuatan produk dan potensi pendukung manajemennya, tetapi lebih penting mengenal orang-orang yang menjalankan bisnis tersebut.
Pada produk tertentu, seringkali tidak bisa serta merta menandingi kualitasnya. Mungkin karena alasan keuangan dan lain-lainnya. Artinya, kita tidak sangat perlu mengkhawatirkan produk kita. Dengan mengenal para pesaing secara pribadi, kita akan bisa menafsirkan karakter dan kepribadianya. Kita akan tahu kencederungan pola pengambilan keputusannya.
Dari sanalah kita akan tahu strategi apa saja yang mungkin kedepannya akan dilakukan oleh pesaing kita itu. Senjata yang hebat tidak berarti apapun jika yang memegangnya tidak cukup hebat. Senjata yang biasa-biasa akan menjadi hebat jika pemegangnya juga hebat.

Persaingan harga
Biasanya, pengekor tahu dan sadar bahwa dirinya pendatang baru. Mereka tahu bahwa pasar akan mengenalnya sebagai pemula. Tentu saja publik belum bisa mempercayai krebilitasnya. Kecuali masalah harga. Biasanya harga yang dipakai adalah harga dengan keuntungan yang sangat sedikit.
Dalam hal ini, berarti kita menghadapi persaingan harga. Kompetisi menyeret anda kedalam kepanikan untuk pemberian diskon atau pengurangan harga. Saran saya, Usahakan untuk menghindarinya. Bertempur melawan pendatang baru dalam hal harga, jelas akan merugikan kita.
Kita jelas sudah mengeluarkan lebih banyak untuk menguasai pasar dan mereka baru saja memulainya. Konsekuensinya, pasar kita mungkin akan bergejolak, karena ada alternatif lain dengan harga yang lebih murah. Tetapi ingat, bahwa tidak semua orang sensitif terhadap harga. Masih banyak orang yang mengutamakan hal lain seperti kualitas dan lainnya.
Jika persaingan sudah sangat kuat dan cenderung mematikan bisnis, cobalah ubah strategi dengan mengesampingkan harga. Seperti beberapa developper yang beriklan di televisi. Mereka membuat iklan yang tidak semata-mata berjualan, tetapi meng-edukasi para konsumen tentang perlunya back to the city, lingkungan yang hijau, dan investasi yang menarik. Kini mereka sudah tidak lagi bicara harganya sekian dan diskon sekian.

Kekuatan distribusi dan ketersediaan
Pengekor biasanya akan berkonsentrasi kepada distribusi dan ketersediaan. Mereka akan mencoba mencari celah yang tidak terjangkau oleh mata dan perhatian kita. Mereka akan berusaha memastikan agar orang yang mencari produk kita suatu saat akan mencoba produknya jika produk kita tidak tersedia.
Alih-alih biaya promosi, mereka cenderung menggunakannya untuk menambah jumlah distribusi dan ketersediaan dipasaran. Menyogok jaringan distribusi agar mendapatkan tempat pajang yang strategis. Begitu kita khilaf, mereka dengan serta merta akan mengisi kekosongan itu.

Mental
Hanya pejuang yang gigih dengan mental positif yang akan bertahan dan memenangkan pertempuran. Demikian juga dengan persaingan menghadapi pengekor. Perbedaan posisi psikologis menempatkan beban mental yang berbeda.
Pemimpin pasar berfikir mempertahankan dan membesarkan sedang pengekor hanya melihat kepada satu titik. Jika gagal pengekor tidak memiliki beban mental yang terlalu berat.
Tetapi apapun itu, disinilah mental pejuang diasah dan dikembangkan. Bisnis bukan sekadar perkara uang dan kekayaan, tetapi juga media bagus untuk mendewasakan batin. Untuk menjadi orang yang istimewa.
Share:

Kejarlah Daku, Dikau Kutangkap.


Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 27 April 2009 di halaman bisnis dan teknologi
SELAMAT pagi para pembaca yang budiman. Saya pikir tidak salah jika saya berdoa untuk kebaikan anda sembari mengucapkan terimakasih sudah mengikuti tulisan saya selama ini.
Beberapa waktu yang lalu saya, memberikan pelatihan untuk praktisi media cetak dan praktisi media radio yang dilaksanakan secara terpisah. Secara kebetulan saya memberikan materi dengan topik yang sama dan kini saya ingin membaginya untuk anda. Saya arahkan tulisan singkat ini kepada para praktisi radio siaran, praktisi media massa, baik cetak maupun elektronik serta multi media.
Judul diatas memang terinspirasi dari sebuah film remaja beberapa tahun yang lalu, tetapi kini saya gunakan dalam konteks pemasaran. Untuk memudahkan memahami judul diatas dan konsep pemasaran, secara sederhananya begini;
Sasaran pemasaran media massa itu ada dua. Yang pertama adalah pembaca, pendengar atau penonton. Sasaran yang kedua adalah para pemasang iklan. Kedua sasaran ini sangat erat berhubungan dan saling mempengaruhi.
Pemasang iklan akan tertarik mengeluarkan uang untuk kita, jika pendengar, penonton atau pembaca media kita jumlahnya banyak dan sesuai dengan sasaran promosi mereka. Dalam hal ini praktisi media harus berusaha untuk tampil sempurna agar orang-orang membaca, menonton atau mendengarkan produk siarannya.
Kalau pemasang iklan membayar dengan uang, pendengar, pembaca dan penonton kita membayar dengan waktu dan bahkan membayar secara materi. Untuk itulah praktisi media berusaha merayu khalayak ramai dan selanjutnya menggunakan kekuatan keramaian itu untuk mempengaruhi pemasang iklan. Kejarlah daku, dikau kutangkap...

Berorientasi Pasar
Benar bahwa media massa memiliki daya pengaruh yang tinggi untuk menjadi trendsetter tetapi untuk sukses mendapat perhatian dan pada akhirnya mendapatkan pembayaran dari pasar, tentu perhatian dan orientasi kepadanya adalah hal yang penting.
Berorientasi kepada pasar berarti juga memperhatikan keinginan dan harapan pasar. Dalam hal ini ada dua pasar yang berbeda kebutuhan dan harapannya. Yang pertama menghendaki sajian yang bermutu dan yang kedua menghendaki keramaian yang khas. Bukan sekadar banyak, tetapi kekhasan yang sering orang sebut sebagai segmentasi.
Pemasang iklan akan menuntut kejelasan usia, kemampuan bayar, kecenderungan perilaku belanja dan berbagai latar belakang lainnya secara jelas. Pemasang iklan jelas tidak ingin bersia-sia mengeluarkan uang untuk sasaran yang tidak jelas.
Bayangkanlah jika anda seorang pemasar yang ingin mengiklankan produk anda yang berupa alat bantu dengar untuk lansia. Jelas anda tidak akan memasangnya di media yang mengumpulkan anak-anak muda.
Jika anda ingin beriklan untuk kalangan perkotaan, jelas radio bersiaran FM akan lebih tepat di banding radio yang mengudara pada frekuensi AM.
Media-media yang tidak secara khas membidik katakter keramaian tertentu yang spesifik, biasanya akan menjadi pilihan kesekian dari para pemasang iklan. Pertimbangannya sangat jelas, dalam keseharian jelas sulit terjadi penyatuan minat antara orang tua dengan anak remaja. Sama seperti kelompok pecinta olahraga dengan pecandu narkoba. Artinya, akan ada kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda-beda.
Seseorang akan berkelompok biasanya karena memiliki kesamaan-kesamaan baik nasib, pekerjaan atau minatnya. Seseorang akan berkelompok mungkin karena alasan jender, alasan kelas ekonomi, alasan hobby, alasan pekerjaan, alasan asal muasal nenek moyang, alasan religi atau alasan lainnya. Setiap kelompok itu bisa menggambarkan karakteristik orang-orang didalamnya yang bagi pemasang iklan sangat penting.
Sampai saat ini golf dianggap sebagai permainan papan atas dan mahal, tentu saja pemasang iklan menganggap bahwa pemain golf adalah orang-orang yang berada dikelas ekonomi mapan serta memiliki daya beli. Jika mereka menggunakan sarana tranportasi publik paling tidak akan menggunakan yang lebih nyaman walaupun berbiaya lebih mahal. Kalau mereka memilih hiburan mungkin jauh dari hingar bingar hebohnya musik jalanan. Kalau memilih rumah jelas mereka akan memilih rumah yang berukuran tertentu, dilokasi tertentu dan harga tertentu yang diangap mahal oleh kebanyakan orang.
Orang-orang dalam Perkumpulan Golf adalah sasaran yang bagus untuk mereka yang akan menjual properti, sarana akomodasi kelas atas, sarana tranportasi kelas eklusif, pertunjukan musik Jazz, Opera dan hal-hal yang bergengsi dengan harga yang mahal.
Praktisi media yang tidak mengelola medianya dengan orientasi pasar yang khas, jelas akan mengaburkan siapa audiencenya (pembaca, penonton dan pendengar). Audience yang kabur jelas tidak menarik pemasang iklan.
Jika masih ada pemasar dari media-medai massa yang latah mengaku medianya untuk kalangan menengah keatas, itu sudah ketinggalan jaman, karena dari tampilan dan kemasannya saja orang sudah bisa menafsirkan kemana arah mata panah media tersebut di arahkan.

Data base
Inilah yang sering dilupakan oleh para pemasar. Data base audience dan para pemasang iklan semestinya menjadi salah satu senjata yang sangat penting. Data ini bisa berisi informasi apapun yang berhubungan dengan audience menjadi sangat penting demi penjualan langsung dan promosi kepada pemasang iklan.
Saat ini jika kita akan berpromosi melalui pemilik jaringan e-mail di dunia internet, kita akan ditanya oleh mereka, “Anda ingin pasar apa? Di negara mana? Di kota apa? Usia berapa, laki-laki atau perempuan? Pecinta electronik atau olah raga dan sebagainya.
Mereka mempertanyakan itu karena mereka memiliki kelengkapan data yang bagus. Sehingga akurasi sasaran promosinya menjadi tepat dan akurat.

Kejar - Tangkap
Sangat sederhana, publik memilih media yang mempesona lalu media akan menggunakan publik tersebut untuk menarik keuntungan penjualan dari pemasang iklan. Sederhana bukan?!
Pesona-pesona yang ditebarkan oleh media bisa berupa kualitas cetak, isi berita, program acara dan lain-lainya yang saya yakin sudah dipahami secara gamblang oleh para praktisi media massa. Tetapi menghadirkan hubungan emosional antara audience dengan media jelas sesuatu yang sangat istimewa.
Bayangkan bahwa anda adalah juara salah satu cabang olehraga, lalu sekali waktu foto anda terpasang disebuah media cetak dengan berita yang baik, bagaimana perasaan anda? Itulah yang saya maksudkan.
Share:

Untuk Adik dan Anakku yang masih sekolah

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 20 april 2009 di halaman bisnis dan teknologi. SUDAH banyak email yang saya terima dari mahasiswa yang sudah menyadari bahwa dikampus mereka jelas tidak dipelajari cara untuk menjadi orang kaya. Mereka bertanya bagaimana ingin menjadi pengusaha sambil kuliah. Ada yang bertanya bagaimana mencari modal, hingga ada yang bertanya cara pisah kongsi dari usaha bersama kawannya. Sungguh membangakan manakala mendapati calon penerus bangsa sudah mulai menyadari bahwa menggantungkan diri kepada negara menjadi pegawai bukanlah kasta yang bisa cukup bagus untuk kesejahteraan mereka. Sungguh menyenangkan manakala anak – anak muda menyadari bertapa pentingnya kewirausahaan dalam upaya mencapai kesejahteraan finansial. Saya juga berterimakasih kepada mereka yang sering mengajak saya berdialog cerdas secara virtual pada saat mereka menyelesaikan tugas akhirnya yang sesuai dengan tulisan saya. Dibalik komunikasi-komunikasi itu, terbersit beberapa hal yang saya pikirkan tentang mereka. Pembaca yang budiman, ijinkan saya membagikan sedikit pemikiran kepada mereka yang sebagiannya saya dapat dari pidato seorang Bill Gates, orang terkaya di Amerika, di sebuah sekolah menengah disana. Saya merasa bahwa ini cukup penting, karena selama saya sekolah dahulu, poin-poin berikut ini hampir tidak pernah masuk dalam kurikulum pelajaran saya. Kehidupan Memulai dari pengertian yang mendasar, sadarilah bahwa secara sederhana hidup itu tidak adil. Tidak adil karena sering berbeda dengan khayalan yang kita kehendaki. Mungkin kita ingin selalu menjadi juara kelas, ingin terkenal, ingin punya banyak uang, tapi bisa jadi kenyataanya tidaklah demikian. Saran sederhana untuk ketidakadilan ini adalah; biasakanlah! Begitu kita membiasakan diri menerima ketidakadilan tersebut, kita akan mengalihkan energi kita kepada hal-hal yang lebih bermanfaat. Suatu saat kita akan menyadari bahwa yang ideal itu adalah realita itu sendiri. Penghargaan Dunia ini tidak akan perduli dengan pengakuan diri kalian. Mereka baru akan mengakui kalian ketika kalian menyelesaikan sesuatu yang bagus. Setelah itu kalian baru diijinkan merasa bangga. Ingatlah, bahwa kredibilitas seseorang bukan dari pengakuannya, tetapi dari apa yang ditunjukkannya. Kalian juga tidak akan mendadak mendapatkan gaji Rp.100juta per bulan begitu kalian lulus dari sekolah. Kalian juga tidak akan otomatis diangkat menjadi Vice President dengan mobil mewah sampai kalian berjuang dengan keras untuk mendapatkan keduanya. Lupakan pikiran kotor yang menyamakan jenjang pendidikan dengan jenjang posisi di dunia kerja. Dulu orang bilang, lulusan universitas adalah untuk posisi manajer, lulusan SMA untuk supervisor, lulusan SMP untuk posisi senior, lulusan SD untuk pekerja kasar. Sekali lagi lupakan konsep isap jempol itu. Keras Jika kalian pikir guru kalian saat ini teramat keras dan kejam, nantikan saatnya kalian memiliki boss dalam pekerjaan yang sebenarnya. Keras dan kejam yang terpikir kalian atas anjuran disiplin yang diberikan guru-guru kita hanyalah sebatas pembelajaran. Sedangkan boss tempat kalian akan bekerja nanti tidak lagi akan mendidik kalian. Begitu memasuki dunia kerja, kalian dianggap sudah mampu dan cukup proffesional untuk bisa disiplin dan bertanggungjawab, tentu saja boss kalian tidak akan membiarkan dan memaklumi kesalahan kalian seramah guru-guru kalian. Sekolah kalian mungkin berorientasi kepada pemenang, juara dan yang kalah atau pecundang, tapi hidup yang nyata tidaklah demikian. Pada beberapa sekolah, mereka menghapus rangking-rangking yang jelek lalu mereka memberikan kepada kalian kesempatan yang sebanyak-banyaknya hingga berkali-kali sampai kalian mendapatkan angka yang bagus. Kesemua itu tidak akan membantu secuilpun dari kenyataan hidup yang terjadi diluar sekolah. Hidup tidaklah dibagi per semester. Kalian tidak akan dapat liburan selama puasa Ramadhan. Di dunia bisnis nyata, sangat jarang ada pengusaha yang tertarik memberi bantuan kepada kalian untuk menemukan diri kalian sendiri. Sangat jarang ada senior yang rela mengajari kalian agar kalian mengambil tempat duduknya. Kerjakan itu dengan waktu kalian sendiri. Belajar Bekerja paruh waktu yang kotor dan berdebu bukanlah sesuatu yang hina, kakek kita menyebutnya dengan lebih santun dengan sebutan ‘peluang’. Jangan tunggu lulus sekolah baru belajar bekerja. Itu sangat terlambat. Jika kalian ingin mencari orang-orang yang sedikit ‘terbelakang’, datanglah ke tempat kursus-kursus ketrampilan, seperti bahasa kursus bahasa Inggris, kursus komputer dan lainnya. Disana bertebaran orang-orang yang tak tahu diri yang dengan terpaksa mengambil kursus karena tidak bisa melanjutkan kuliah dan tak juga bisa diterima bekerja. Selama ini mereka lebih senang mengabdikan diri kepada play station, main-main dan segala (maaf) ketololan anak muda. Jika kalian membuat kekacauan, itu bukan kesalahan orang tua kalian, jadi janganlah merengek karena kesalah-kesalahan itu, tapi belajarlah darinya. Berbuat banyak kesalahan sangatlah bagus dan bisa membuat kalian lebih cerdas, asal bukan kesalahan yang sama! Televisi bukanlah hidup yang sebenarnya. Pada kehidupan nyata, orang-orang haruslah bergegas meninggalkan kedai kopi dan segera bekerja. Kecuali bagi mereka yang tak punya muka untuk selalu mengemis kepada kawan semeja agar dibayari secangkir kopi-nya. Baik-baiklah ke orang-orang yang terlihat culun, karena ada potensi nasib kalian akan membawa kalian bekerja kepada mereka. Kalian tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi dengan kawan-kawan kalian yang terlihat seperti hantu sawah atau kawan-kawan kalian yang sok paten di sekolah kalian. Sebelum kalian lahir, orang tua kalian sangatlah tidak sebosan sekarang. Mereka begitu karena harus membayar semua biaya hidup kalian, membersihkan pakaian kalian, mendengarkan ocehan kalian saat kalian mengira kalian keren, hebat dan sebagainya. Artinya, sebelum kalian bisa menyelamatkan hutan tropis dari benalu-benalu dari generasi orang tua kalian, coba dululah belajar mengurus kloset di kamar mandi kalian sendiri. Uang Uang bukanlah produk langit yang mengucur begitu saja seperti hujan. Uang hanya dimiliki orang-orang yang paham perbedaaan aset dan beban. Uang berkumpul di kantong orang-orang yang mampu mengalahkan gengsinya. Gengsi tidak pernah membuat siapapun menjadi kaya. Dengan uang, anda bisa bergengsi, dengan gengsi, anda akan kehilangan uang. Orang bodoh bekerja untuk uang, orang cerdas membuat uang bekerja untuknya. Cari tahulah caranya.
Share:

Blog Archive