it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

31.7.09

Segera Mulai Bisnismu

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 27 juli 2009, di halaman bisnis dan terknologi
========

Angankan apa yang engkau ingin angankan;
pergilah kemana engkau ingin pergi;
jadilah seperti yang engkau kehendaki

Sebab hidup hanya satu kali dan engkau hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan segala hal yang engkau ingin lakukan

Semoga engkau punya cukup kebahagiaan untuk membuatmu tersenyum,
cukup pencobaan untuk membuatmu kuat,
cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi, dan
cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia.
(sumber tidak diketahui)

JIKA angan dan mimpi untuk berbisnis datang, segeralah lakukan. Jangan tunda-tunda. Kesempatan tidak datang berkali-kali. Proses pembelajaran semesta akan membawa anda menjadi pebisnis seperti yang dicita-citakan. Tentu saja dengan merealisasikannya sesegera mungkin. Bukan menunggu tak menentu apalagi sekadar berkhayal. Ingat kesempatan tidak datang berkali-kali.
MEMULAI sebuah bisnis ternyata tidak saja membutuhkan kekuatan material dan teknikal, tetapi lebih banyak membutuhkan kekuatan mental. Diperlukan kenekatan dan keberanian untuk segera memulainya. Berani sukses dan berani gagal, apapun yang terjadi nanti.
Semua kemampuan teknikal saya yakin mudah dipelajari, keperluan material juga bisa dipenuhi. Tetapi kekuatan mental untuk bisa segera mulai, sabar didalam melaksanakannya, tangguh bertahan dalam kesulitan dan daya kreativitas untuk berkembang adalah harta yang teramat penting.
Disisi lain, waktu terus berjalan dan mengurangi jatah kita untuk hidup di bumi ini. Konon kesempatan juga lebih banyak datang hanya sekali.
Tulisan ini saya dedikasikan kepada para pengirim pertanyaan melalui email yang saya anggap sudah mampu untuk memulai berbisnis tetapi masih terlalu banyak berfikir, menimbang atau bahkan ketakutan untuk segera memulainya.
Bagi saya bisnis hanyalah sebagaian dari berbagai permainan hidup yang harus kita pilih dan jalani. Semua permainan itu tentu ada konsekuensi logisnya. Termasuk jika kita kalah dalam permainan itu. Dan kalah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari menang. Artinya, berani menang harusnya juga berani kalah.
Itu adalah alasan yang bagus untuk tidak lagi terganggu dengan potensi-potensi kekalahan. Karena semuanya berpotensi yang sama, artinya tetap ada peluang untuk menang dan sukses. Lalu bagaimana anda akan tahu kalau anda akan sukses, jika anda tidak segera mencobanya.

Hobby
Baiklah, sekadar untuk menghibur hati akan ketakutan kegagalan, ada baiknya anda memilih bisnis dari yang anda senangi. –tentu lebih baik bisnis hobby yang dikerjakan tanpa baying-bayang rasa takut untuk gagal--.
Berbisnis dari hal-hal yang disenangi, akan memberikan efek totalitas, dimana batin dan pikiran akan fokus kepadanya. Karena alasan kesenangan juga, jika kita bertemu hal-hal yang sedikit berbau kesusahan atau sedikit rugi pada awalnya jelas tidak akan memberikan efek sakit yang mendalam.
Kehadiran batin dalam bisnis sangatlah penting, karena akan memberikan efek fokus kepadanya. Batin yang hadir akan membawa keperdulian yang dalam. Keperdulian akan membawa diri kepada kewaspadaan dan kesadaran yang sangat penting untuk kepentingan bisnis itu sendiri.

Takkan lari gunung dikejar
Seperti filosofi menaiki gunung tinggi, sebenaranya bukanlah kita menaklukan gunung tersebut, karena alam tak pernah bisa ditaklukkan. Tetapi yang ada adalah proses menaklukkan diri sendiri. Mencoba mengalahkan berbagai hambatan batin dan pikiran-pikiran negative untuk bisa memompa motivasi diri agar sanggup menapaki gunug tersebut.
Menaiki gunung, seharusnya tidak secara emosional hanya berfikir puncaknya saja. Tetapi beri kesempatan agar kita menikmati prosesnya. Tahap demi tahap, langkah demi langkah dengan tetap berorientasi kepada puncaknya. Demikian juga dalam berbisnis. Jangan lupakan proses untuk mencapai sukses. Semua sukses dibangun dengan proses. Ikuti tahap-tahapnya.
Hindarkan untuk meghalalkan segala cara dalam berupaya mencapai puncaknya. Hormati juga lingkungan. Pahami potensi-potensi lingkungan. Pahami dimana saja sumber air, lokasi berteduh dan potensi cuaca. Waspadai potensi hujan badai, potensi tebing curam dan batuan yang mudah longsor. Begitu juga dalam berbisnis. Pelajari semua potensi yang ada, pelajari situasi lingkungan, apa saja hal-hal yang bisa mendukung dan memudahkan bisnis dan pelajari ancaman Galanglah semua potensi-potensi tersebut. Manfaatkan semaksimal mungkin tanpa harus merusaknya. Karena kita akan memerlukannya suatu saat nanti.
Jika ternyata kita merasa lelah yang amat sangat, beristirahatlah, tapi ingat, jangan pernah menyerah dan mengundurkan diri. Dan istirahat yang tidak terlalu lama adalah istirahat yang baik. Istirahat yang terlalu lama, akan membangkitkan jiwa malas. Istirahat yang terlalu lama sebelum mencapai puncak, hanya akan mengumpulkan segunung alasan agar kita tidak sukses. Istirahat yang terlalu lama akan membelai jiwa untuk menenangkan diri dengan berbagai alasan agar kita menghalalkan kegagalan. Ingat selalu peribahasa kuno ini;
Kalau anda lunak terhadap diri anda, Kehidupan akan keras terhadap diri anda.
Kalau anda keras terhadap diri anda, Kehidupan akan lunak terhadap diri anda


Mental pemenang
Semua orang memiliki potensi untuk menjadi pemenang. Hanya saja ada yang mengasahnya dengan baik dan ada juga yang membiarkannya terkulai lemah dan terpendam.
Semua itu memerlukan pelatihan dan pembiasaan. Begitu kita biarkan diri kita untuk mencoba berjalan, mencoba bangkit setiap kali jatuh, mencoba tegar manakala badai perasaan melanda dan seterusnya, lama-lama kita akan terbiasa untuk tidak mudah patah dan kalah. Semuanya memerlukan pembiasaan.
Yang terakhir, sekali lagi bagi anda yang masih ragu untuk segera mulai bisnis anda, saya katakana tidak ada alasan untuk menundanya. Jikalah anda rugi secara financial, pasti anda akan tetap beruntung dalam pengalaman dan wawasan yang akan membawa kedewasaan batin yang lebih baik.
Jangan tunggu siapa-siapa lagi. Tak usah tunggu semuanya menjadi sempurna dahulu baru kemudian bergerak. Karena dunia ini tidak ada yang sempurna. Segeralah tolong diri anda sendiri, karena orang lain hanya bisa melihat.

Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis sementara semua orang di sekelilingmu tersenyum. Jalani hidupmu sedemikian rupa, hingga pada akhirnya engkaulah satu-satunya yang tersenyum sementara semua orang di sekelilingmu menangis.
Konsultasi & Pelatihan, tj@cahyopramono.com
Share:

Belajar Menjual ke Multi Level Marketing


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 13 juli 2009 di halaman bisnis dan teknologi.

ALKISAH, seorang penjual topi berjalan melintasi hutan. Karena cuaca panas, ia memutuskan beristirahat sejenak dibawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan disampingnya. Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut.
Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak keatas dan betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet. Yang semuanya mengenakan topi-topinya.
Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garuk kepalanya. Ternyata monyet-monyet itu menirukan tingkah lakunya. Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Ternyata monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama.
Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Ketika terbangun iapun menyadari kalau monyet-monyet dipohon tersebut telah mengambil semua topi-topinya.
Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi-topi itu erat-erat.
Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang dilemparkan oleh cucu penjual topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata, “Emangnya cuman elo aja yang punya kakek…?”


Kisah diatas adalah sedikit gambaran tentang manfaat belajar. Kini banyak sekali kursus-kurus atau seminar singkat yang mengajarkan trik-trik menjadi pandai dalam menjual. Secara teori, kursus-kursus tersebut lumayan bagus, bahkan ada kalanya dilengkapi dengan sedikit praktek singkat.
Saya pikir anda sependapat dengan saya, bahwa tidak ada orang yang dilahirkan langsung pandai menjual. Tetapi siapapun bisa menjadi pandai menjual jika berusaha secara serius mempelajarinya.
Sayangnya untuk menjadi pandai menjual sebenarnya memerlukan lebih dari sekadar teori. Sangat sedikit orang yang sukses dengan hanya mengaplikasikan teori tanpa belajar praktek dan pendampingan dari orang yang lebih dahulu mengetahuinya. Salah satu pola pembelajaran yang saya yakini masih ‘mempan’ untuk orang Indonesia adalah belajar dengan didampingi seorang mentor.

Mentoring
Seorang Chip R. Bell mengartikan mentoring adalah proses seseorang membantu orang lain untuk belajar sesuatu dan bila proses tadi tidak terjadi, maka pembelajarannya menjadi kurang baik, lebih lamban, atau bahkan sama sekali tidak akan terjadi.
Saya mengartikan mentoring ini sebagai proses belajar yang didampingi oleh pengasuh/guru secara langsung dan pribadi. Satu per satu.
Mentor yang baik tidak menampilkan diri sebagai sosok pemimpin yang memerintah dan berkuasa melainkan sebagai seorang rekan atau pembimbing. Seorang mentor adalah seperti seorang bidan yang membantu seorang ibu yang siap mengadakan persalinan. Dia membutuhkan sepasang tangan yang lembut dan bukannya sepasang tangan dengan otot yang kekar.
Selama proses mentoring, baik mentor maupun mentee belajar bersama. Mentee dan mentor akan mempelajari sesuatu hal baik dari proses yang ada ketika mereka menyediakan ruang bagi sentuhan yang baik.
Mentor harusnya menyukai proses pembelajaran dan menginspirasikan menteenya. Ia bukan merupakan seorang pemimpin yang gemar untuk mengajari saja. Ia juga menciptakan suasana belajar sehingga menteenya akan menyukai proses belajar.
Sikap saling mempercayai haruslah menjadi landasan dari proses tersebut. Tanpa saling percaya, maka mentoring menjadi suasana penuh kalkulasi dan dominasi.

Belajar di Multi Level Marketing
Tentu saja, jika anda mencari kursus dengan pola ini, pasti harganya sangat mahal. Karena satu murid dilayani satu guru. Dalam pengamatan saya, ada satu bentuk mentoring yang sangat hemat bahkan cenderung gratis. Itulah yang saya sebut dalam judul diatas. Sistem jaringan yang diterapkan dalam multi level marketing didukung oleh sistem yang mengarahkan pengikutnya kedalam pola-pola penjualan yang bagus.
Karena nasib up-line juga tergantung dari down-linenya maka tidak heran kalau posisi up-line juga berusaha agar down-linenya pintar dan produktif. Semakin pintar down-line dan semakin produktif si down-line, semakin beruntunglah si up-line tadi.
Para upliner yang sukses, biasanya menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang juga merangkap sebagai mentor atau pendamping. Mereka dengan sabar mendampingi bawahannya mulai dari memperkenalkan, memberitahu, mengajari, memberi contoh sampai akhirnya membiarkan downliner-nya bekerja sendiri sesuai dengan kemampuan barunya.
Itulah sebabnya mengapa saya rekomendasikan penjual pemula untuk belajar ke kelompok multi level marketing. Dalam kelompok-kelompok tersebut (terutama yang sudah mapan), mereka sudah memiliki sistem yang rapih dan terukur. Mereka memiliki format-format pembelajaran dan pola-pola motivasi yang baik. Mereka sudah memetakan permasalahan-permasalahan penjualan yang umum terjadi dan sekaligus solusinya.
Anda tidak harus berprestasi di dalam kelompok tersebut. Disana anda bisa mempelajari cara menjual yang sederhana hingga cara-cara yang sistematik. Bersamaan dengan proses itu, anda akan mendapatkan kawan dan jaringan baru yang akan memberikan keuntungan dikemudian hari.
Yang terakhir, ingat bahwa mentoring sangat tergantung kedua belah pihak. Artinya seorang mentor yang baik pun akan gagal, jika mantee-nya juga tidak aktif.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

“Nyicip”


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 06 juli 2009 di halaman bisnis dan teknologi.

“MANIS....” kata seorang kawan yang baru saja mencicipi buah manggis atas sodoran penjualnya. Satu kata yang keluar dari mulut kawan ini seperti sebuah mantra ajaib. Singkat kata, kami serombongan mencicipi juga buah tropis ini dan kata “Manis” kembali terucap oleh semua dari kami. Lalu kemudian seluruh buah manggis yang ada di lapak itu berpindah ke mobil kami. Si panjual tersenyum senang, hari itu dia berjualan hanya 30 menit.
Cerita lain adalah seorang kawan yang kini menghisap rokok kretek merek tertentu dan sudah berjalan bertahun-tahun. Menurut pengakuannya, dia dulunya mengkonsumsi jenis rokok putih. Perpindahan selera itu terjadi manakala dulu bertugas di salah satu lembaga yang memungkinkan dia mendapat semacam ‘jatah’ rokok kretek dari salah satu rekanannya. Pada awalnya, setiap mendapat rokok kretek itu, selalu dia berikan kepada orang lain atau dia simpan, karena memang bukan jenis rokok yang dia sukai. Hingga pada suatu saat dia kehabisan rokok dan tidak ada kedai yang buka, sehingga dengan terpaksa ia mencoba rokok gratisan yang ia dapatkan itu. Sekali, dua kali dan seterusnya sehingga menjadi biasa dan bisa menikmati rokok jenis kretek itu.
Minggu ini saya membeli sebuah produk kalung kesehatan, sesuatu yang selama ini sulit saya percayai. Kisah ini bermula ketika seorang saudara memberikan kesempatan kepada saya untuk mencoba kalung itu selama beberapa waktu tanpa menyuruh saya untuk membelinya. Hingga dalam beberapa hari saya merasakan manfaat dari produk ini dan tidak sampai satu minggu saya sudah dengan rela mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli produk yang saya pakai ini.
Topik ini mengingatkan saya kepada seorang sahabat yang dulu pernah menjadi kepala pemasaran sebuah koran. Koran ini baru saja terbit dan berkompetisi dengan pendahulunya yang sudah besar dan terkenal. Ketika itu saya sarankan untuk melakukan trik berlangganan gratis selama 3 bulan. Saya ingat, sekitar 75 eksempar koran diantarkan gratis kepada 75 orang yang sudah menjadi pelanggan koran terdahulu. Setiap hari selama 3 bulan berturut-turut. Bukan sesuatu yang mengherankan jika ternyata pada bulan ke-4 sudah ada 58 permintaan berlangganan dari 75 orang itu. Konon berlangganan itu terus berlanjut hingga mereka merubah nama korannya pada tahun ke-4.
Contoh-contoh kisah diatas adalah petunjuk atas salah satu proses transaksi dan upaya menciptakan loyalitas pelanggan. Proses ini cocok digunakan untuk produk-produk yang berhubungan dengan cita-rasa. Produk tersebut digunakan dengan menikmatinya.
Di sisi lain, semua orang tahu bahwa perkara selera adalah sesuatu yang sulit dirubah. Selera dan cita-rasa sulit dialihkan. Membutuhkan usaha yang khas untuk bisa mendapatkan perhatian calon pembeli dan mengalihkan perhatianya kepada produk yang kita kehendaki.

Indra penikmat
Manusia bisa menikmati sesuatu secara visual untuk hal-hal yang bisa dilihat. Menikmati secara audio untuk sesuatu yang bisa didengar dan secara kinestetik untuk sesuatu yang dirasakannya, baik secara pencerapan, penciuman ataupun rabaan.
Mempresentasikan produk-produk yang terlihat akan cenderung mudah dan sederhana, demikian juga produk yang bersuara. Tetapi ketika produk itu menyangkut selera, jelas merasakannya sendiri adalah cara yang penting untuk dilakukan. Untuk inilah ada istilah mencicipi, food test, test drive, sampling, dan lain sebagainya.
Memang setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengirimkan pesan kepada otaknya. Ada yang cenderung dengan melihat, dengan mendengar atau dengan merasakannya. Namun bersamaan dengan proses pengiriman data itu, seseorang akan mencoba menikmati pesan-pesan itu, hingga pada akhirnya, selera dan cita-rasanya menentukan pilihannya.
Katakanlah sebuah perhiasan lebih cendrung dinikmati dengan penglihatan, tetapi akan menjadi mudah dinikmati jika pembeli diberikan kesempatan untuk mencoba terlebih dahulu. Pada saat mencoba, calon pembeli akan merasakan apakah kata batinnya merasa cocok atau tidak dengan perhiasannya itu. Artinya, faktor cita-rasa dan selera menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Acemmana awak tahu?
Begitulah gerutu seorang bapak yang diejek oleh anaknya, karena masih menggunakan sepatu olahraga berteknologi jaman purba. Si anak mencoba memberikan keterangan tentang kecanggihan teknologi sepatunya seperti konsep peredaran udara, bentuk tapak anti kejut, pola tapak yang disesuaikan dengan penggunaan sepatu, apakah untuk aerobik, lari, tennis atau basket. Diterangkan juga pola tapak sepatu yang memiliki gelembung udara, jenis kain yang digunakan untuk meringankan bobot sepatu serta teknologi anti jamur yang dimilikinya.
Pada awalnya si bapak hanya diam mendengar keterangan si anak, otaknya mengatakan bahwa sepatu anaknya memang bagus tapi tetap tidak menggodanya. Hingga kemudian si bapak mencoba sepatu itu. Dia berjalan kesana kemari dan sambil tersenyum ia mengakui kelembutan dan ringannya sepatu itu. Dia merasakan persendian kakinya tidak lagi merasa terantuk pada saat kakinya berpijak.
Anda sudah bisa menebak kisah selanjutanya.

Mencoba
Saya pikir, mencoba adalah sebuah perangkat penting dalam proses menjual. Khususnya untuk produk-produk yang dimanfaatkan berdasarkan selera cita-rasa pembelinya. Bagi mereka yang belum pernah merasakan produk sejenis, mencoba adalah cara termudah untuk memahami dan merasakannya. Ingat pepatah, tidak kenal maka tak sayang...!
Bagi mereka yang sudah pernah merasakan produk sejenis milik pesaing, tentu mencoba akan memberikan data baru baginya. Mereka bisa membandingkan. Paling tidak mereka bisa merasakan perbedaan setelah mencobanya.
Tentu saja, mengalihkan selera jelas sesuatu yang membutuhkan proses. Selera jelas sesuatu yang terbentuk menjadi sebuah keyakinan. Tentu upaya mencoba dalam waktu yang lebih lama, maka keyakinan itu akan lebih mudah untuk dirubah.
Yang terakhir, menyediakan produk untuk dijadikan contoh memang berbiaya, tetapi bagi saya ini sama saja dengan memasang umpan di mata kail. Memancing jelas membutuhkan umpan dan ikan yang didapat pasti lebih besar dari umpannya walaupun kita harus merelakan kehilangan umpan manakala kita mendapatkan ikannya.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

22.7.09

X Banner


tulisan ini sudah diterbitkan di kolom inspirasi pada harian waspada medan, tanggal 29 juni 2009 di halaman bisnis dan teknologi

STANDING banner atau sebagian orang menyebutnya dengan X banner, kini menjadi pajangan yang lazim diberbagai tempat. Karena harganya menjadi terjangkau, banyak orang memanfaatkannya dengan berlebihan, berjajar penuh dan saling mencuri perhatian.
Jika kita mengacu kepada kaidah dasar poster, X banner ini adalah karya seni atau desain grafis yang memuat komposisi gambar dan huruf di atas kertas berukuran besar. Pengaplikasiannya dengan ditempel di dinding atau permukaan datar lainnya dengan sifat mencari perhatian mata sekuat mungkin. Karena itu X banner biasanya dibuat dengan warna-warna kontras dan kuat. Seni terapan ini lebih ditujukan untuk propaganda dan reklame atas produk-produk yang dimuat didalamnya. Disebut sebagai standing banner karena memang berbentuk seperti spanduk yang berdiri. Disebut dengan X Banner karena dilakangnya ada tulang untuk menjaganya berdiri dan tulang ini berbentuk seperti huruf X.
X banner yang berukuran poster itu muncul dengan berbagai model, gaya, pesan dan bentuk. Ada yang lucu, serius dan banyak yang ‘sangat tidak lucu’ yang sama sekali tidak mengirimkan pesona apapun lalu terabaikan begitu saja dari perhatian orang yang melewatinya. Banyak pengusaha mikro, kecil dan menengah yang latah menggunakan media promosi ini. Sayangnya media promosi ini terlihat menyedihkan (sebagian usaha besar juga begitu).
Sebagian pengusaha yang latah membuat x-banner ini berharap agar orang ‘melihat’ produknya. X-banner ini dijadikan media pajangan, menggantikan produk aslinya. Sebagian lagi menggunakan x-banner ini untuk menginformasikan daftar menu dan daftar harga. Memang boleh-boleh saja memanfaatkan media promosi tersebut untuk menyampaikan apapaun. Tetapi harus diingat bahwa fungsi dasar promosi hanyalah satu, yaitu meyakinkan orang untuk bertindak.
Biasanya, aksi atau tindakan yang diharapkan adalah pembelian, pendaftaran atau upaya penjagaan peluang bisnis. Pengenalan nama atau sekadar pemberitahuan jelas sangat tidak cukup untuk memaksa seseorang bertindak sesuai dengan kemauan kita.
Bagi anda yang sedang mendesign sarana promosi semisal poster atau x-banner ini. Saya ingatkan akan sebuah konsep lama yang sering orang singkat dengan AIDA. AIDA adalah akronim dari bahasa inggris yang berisi Attention, Interes, Desire dan Action.
Konsep ini diharapkan bisa membimbing kita menciptakan alam pikiran promotif yang mendesak penentuan keputusan. Bayangkan seperti jika anda berjalan mendekati orang asing lalu anda tanyakan kepadanya, apakah dia mau menikahi anda? Sebesar apa peluang anda mendapatkannya? Atau bagaimana jika anda berminat menikahi kekasih anda tapi anda tak pernah mengatakannya.

Attention
Dalam bahasa sederhana attention ini bermakna perhatian; atensi; gubrisan; sorotan dan seterusnya. Artinya, x-banner yang benar dari sisi promosi seharusnya memiliki daya pikat yang tinggi sehingga x-banner ini mendapat perhatian dari khalayak ramai yang melihatnya. Tanpa upaya menjadikan dirinya sebagai sumber perhatian, x-banner bisa disebut tidak eksis.
Teringat beberapa tahun yang lalu, poster dikerjakan dengan goresan tangan, sehingga sulit untuk mendapatkan hasil yang sama dan ilustrasi yang indah. Kala itu, saat kita ingin mempromosikan sebuah salon kecantikan, sagatlah sulit untuk membuat ilustrasinya. Kini, apapun yang bisa di foto, otomatis bisa dicetak, bahkan rekayasa computer bisa memperindah yang kurang indah. Kini, semua pesona gambar bisa direkayasa menjadi menarik dan terlihat hidup.
Prinsip dasar atensi seharusnya menjadi perhatian dasar. Jika anda bukan seorang pakar advertising, setelah design anda selesai dibuat, coba saja meminta pendapat orang-orang awam di daerah anda untuk berkomentar setelah melihat design anda dalam waktu 30 detik. Jika kebanyakan mereka memahami apa yang anda sampaikan memalui media promosi tersebut, artinya design promo anda menarik.
Prinsip design poster atau x-banner ini, menuntut kesederhanaan pesan sehingga bisa dipahami dalam hitungan 30 detik serta dibaca dari jarak pendek – kurang dari 5 meter--. Berbeda dengan spanduk yang harus dipahami dalam hitungan 3-4 detik saja. Juga berbeda dengan brosur yang bisa dinikmati dengan waktu yang lebih lama serta isi yang dikonsumsi sambil duduk. Artinya, brosur bisa diisi dengan pesan-pesan lebih lengkap dan banyak, karena membacanya dengan dipegang. Atas dasar inilah maka hindarkan membuat brosur di x banner atau membuat spanduk dengan x banner.

Interest
Ini bermakna ketertarikan, minat dan animo. Artinya, setelah orang memberikan perhatian kepada x-banner kita, selanjutnya harus tercipta ketertarikan kepada isi x-banner tersebut. Mungkin anda memiliki logo yang indah dan anda pasang dengan ukuran yang besar, jelas itu akan mencuri perhatian seseorang, tetapi jelas itu tidak cukup untuk membangkitkan ketertarikan dan minat untuk berbisnis dengan anda.

Desire
Bagaikan melihat minuman dingin pada siang hari saat puasa ramadhan. X-banner juga harus menerbitkan keinginan, kemauan, hasrat, gairah, idaman, perdambaan, sikap mengingini dan menghendaki. Ingat bahwa orang menggunakan logika hanya untuk menilai tetapi mereka membeli dengan emosinya.
Bayangkan anda melihat iklan makanan panas dan segar ditengah malam. Anda tahu bahwa itu kurang baik, tetapi anda menjadi lapar karenanya.

Action
Pada akhirnya, pembaca pesan x-banner diharapkan untuk bertindak, beraksi, melangkah, dan melakukan apa yang disebut dalam x-banner itu. Masukkan di dalamnya panggilan untuk beraksi. Ini waktunya untuk menjadikan deal bisnis. Arahkan mental konsumen memikirkan kesegeraan untuk beraksi. Ancam mereka dengan urgensi. Misal, “Hanya untuk hari ini saja”.
Terlalu sering saya melihat iklan restoran yang baik dan saya berkata dalam hati untuk kapan-kapan mencobanya, tapi hingga kini saya tak pernah kesana.
Yang terakhir, pastikan penempatan x-banner berada dilokasi yang strategis, terlihat dengan baik dan tidak berdiri bersama serombongan x-banner lainnya. Lalu, X-banner yang sudah lusuh, pudar dan tidak berdiri dengan tegak, semestinya diganti dengan yang baru. Mengganti isi x-banner secara periodic juga bijaksana sehingga kesan baru selalu ada.


Konsultasi & Pelatihan; Tj@cahyopramono.com
Share:

Muatan Marketing Di Pakaian Seragam


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 22 juni 2009 pada halaman bisnis dan teknologi

DALAM tetralogi Laskar Pelangi, diceritakan betapa ayah seorang Ikal begitu senang melihat orang berpakaian seragam. Dalam pikiran dan keyakinannya, orang berseragam biasanya lebih pintar dari orang kebanyakan. Maka tak heran betapa si ayah langsung tersenyum sambil berlinang air mata ketika melihat anaknya pulang dengan pakaian seragam –walaupun itu hanya sekadar seragam doorman/Penjaga pintu--
Hari ini ijinkan saya membahas tentang Pakaian Seragam dari sudut pemasaran. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari baju seragam itu. Pakaian seragam jelas membangun rasa persamaan agar tidak terjadi kecemburuan, karena si pemakai seragam berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda. Pakaian Seragam merangsang tumbunya perasaan senasib dan persahabatan.
Pakaian Seragam memberikan pengaruh perilaku bagi pemakainya. Pemakai pakaian yang terlihat seperti tentara, biasanya akan berperilaku seperti tentara, hingga ada semacam lelucon pemakai pakaian yang seperti itu nampak seperti orang yang gila tentara. Pakaian sunguh mengarahkan seseorang kepada perilakunya. Jika anda sedang mengenakan baju koko, bersarung dan berkopiah, apakah anda akan merasa senang mengenakannya di ruang diskotik?
Seragam juga merangsang kebanggaan atas korps-nya serta menjadi media untuk menumbuhkan loyalitas terhadap korps. Seragam yang dikerjakan dengan baik dan rapih, akan memberikan rasa bangga bagi pemakainya dan menumbuhkan perasaan yang kuat bahwa si pemakai adalah bagian yang tidak terpisah dari korpsnya. Hingga pada gilirannya si pamakai akan menjunjung tinggi martabat korpsnya.

Branding
Kini, baju seragam semakin bervariasi dengan desain yang semakin inovatif, berani, dan beberapa diantaranya bahkan tampil sangat ekstrim. Kecenderungan ini berjalan bersama dengan semakin banyaknya perusahaan dan merek yang menyadari seragam karyawan adalah citra perusahaan dan merek.
Karena seragam yang baik harus mampu mencerminkan visi dan misi perusahaan atau merek, sehingga pembuatannya pun menuntut konsep terpadu termasuk munculnya kesadaran bahwa pakaian adalah media promosi yang paling mobile, dekat dan murah. Terbawa kemana-mana, terbaca oleh orang yang dekat dan langsung terjadi dialog jika seseorang ingin menanyakannya.
Pakaian Seragam adalah identitas yang juga mewakili perusahaan atau produk yang kita luncurkan. Orang-orang yang mengenakan pakaian seragam dan orang-orang yang melihatnya akan otomatis mengidentifikasikan Pakaian Seragam itu dengan perusahaan atau produk. Bahkan orang awam akan menyebutkan seseorang sebagai orang tertentu dari seragamnya.
Penambahan pesan-pesan promosi sesuai dengan rencana pemasaran juga sangat mungkin disematkan dalam design pakaian seragam. Jaman sekarang, jelas anda masih dibolehkan memilih pakain seragam berupa kemeja putih dan celana hitam, tapi jika anda bisa memanfaatkan media seragam itu dengan lebih maksinal, mengapa tidak dicoba?
Sudah banyak perusahaan yang menggunakan badan pegawainya sebagai papan promosi yang berjalan. Ditempelkannya berbagai jenis produk yang mereka miliki dalam pakaian seragam karyawanya. Tentu saja dengan design dan tata letak yang ideal.
Merancang pakaian seragam mungkin akan bagus jika diserahkan kepada designer yang profesional dibindangnya. Perancang mode biasanya memiliki informasi tentang trend dan ketika memahami filosofi perusahaan serta jenis pekerjaan si pemakai seragam, mereka akan dengan mudah menerjemahkannya ke dalam pola kain.
Kini perancang busana tidak saja hanya mengenal keindahan, tetapi juga mulai mengenal kaedah-kaedah pemasaran dan promosi sehingga keinginan branding dari pihak perusahaan bisa mereka akomodir.
Sementara itu, kualitas produk kain saat ini sudah sangat maju. Kini Sudah banyak perusahaan kain yang menekankan pada riset pengembangan kain, antara lain dengan membuat kain yang cepat menguapkan air termasuk keringat dan air hujan serta melepaskan suhu tubuh ke udara (moisture management) serta antikotor dengan soil release technology.

Karakter usaha/produk
Rancanglah pakaian seragam dengan dua pertimbangan dasar, yang pertama adalah pertimbangan teknikal dan yang kedua pertimbangan seni dan yang ketiga adalah pertimbangan karakter produk/usahanya. Dalam hal ini saya tidak akan membahas sisi pembiayaan.
Pertimbangan teknikal adalah upaya-upaya memahami fungsi pakaian seragam secara teknik. Misalnya untuk bagian apa, digunakan dalam ruangan atau dilapangan, sebagai pelaksana atau manajer. karakter yang dihubungkan dengan kebutuhan teknis dari pemakai seragam. Apakah harus lengan panjang atau lengan pendek. Apakah harus menggunakan kerah baju atau oblong saja.
Dalam pendekatan pencitraan dan promosi, Karakter usaha/produk adalah acuan dasar menentukan seperti apa seragam yang cocok. Karakter dilihat dari ciri khas yang ingin ditonjolkan dan kesan apa yang ingin didapat dari orang-orang yang melihatnya serta orang-orang yang mengenakannya.
Langkah yang sederhana adalah upaya mendiskripsikan karakter usaha/produk kita. Misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. Ini untuk segmen apa? Perinci dengan detail segmen itu, sehingga ditemukan kedetailan yang terang. Misalnya; untuk usia berapa? Laki-laki atau perempuan? Kelas sosial apa? Tinggal dimana? Kebiasaan segmen itu apa saja dan seterusnya.
Selanjutnya tambahkan kesan apa yang ingin ditampilkan melalui pakaian seragam itu. Apakah bisnis anda ingin dikenal sebagai bisnis atau produk yang religius? apakah ingin dikenal sebagai bisnis atau produk yang cerdas? Yang mahal? Yang murah? Yang terkini? Yang antik? Yang maskulin? Yang feminin? Yang dinamis? Yang ramah? Yang berwibawa? Yang relax? Yang formal? Yang manja? Yang santun?
Pertanyaan-pertanyaan itu akan membimbing kita dan perancang mode menentukan bentuk seragam yang akan dikenakan. Kita tahu bahwa warna dan bentuk cukup bisa mempengaruhi orang agar bersikap dan berfikir.
Yang terakhir, benar karyawan akan mengikuti semua ketentuan perusahaan termasuk memakai pakain seragam yang diberikan kepadanya. Tetapi ingat, bahwa selain fungsi promosi dan pencitraan seragam memiliki fungsi-fungsi psikologis. Harus diperhitungkan kerelaan dan mental pihak karyawan yang akan mengenakan pakaian seragam tersebut.fungsi-fungsi promosi juga tidak akan tercapai jika si karyawan itu sendiri tidak memberikan dukungan. Dalam hal ini sosialisasi dan penjelasan kepada karyawan adalah hal yang sangat penting dilakukan sebelum pembagian pakaian seragam tersebut.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Meraut Sisi Pemasaran Yang Tumpul


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 15 juni 2009 pada halaman bisnis dan teknologi.


SELAMAT pagi para pembaca yang budiman. Apa kabar anda dihari ini? Apakah jawaban anda atas pertanyaan saya ini? Kalau saya coba mengira, mungkin banyak yang menjawab dengan nada riang, “Luar biasa..., Terimakasih”, ada juga yang menjawab, “Bagus..., terimakasih”, mungkin ada yang hanya menjawab “Baik” saja, atau “Biasa...!” atau jawaban-jawaban bernuansa ketidakbaikan yang tercermin dari nada yang melemah, tarian nafas hampa, raut wajah yang memelas atau tegang dan pilihan katanya tidak berkekuatan.
Pagi ini saya ingin mengajak anda berwisata sejenak di areal bisnis anda masing-masing. Mohon luangkan waktu sambil membaca terus tulisan ini. Anda tidak memerlukan apapun selain sedikit perhatian dan konsentrasi.
Yang pertama, lihatlah dinding kantor/kedai/outlet/bangunan anda. Apakah masih bersih seperti saat pertama dahulu di cat? Kapan terakhir anda mengecatnya? Waspadalah bagi anda yang mendapatkan cat dinding anda sudah mulai luntur dan kotor. Lebihlah kewaspadaan anda jika anda sudah menyadari kekotoran itu selama beberapa waktu tetapi tidak juga memperbaikinya.
Yang kedua, lihatlah peralatan pendukung penjualan. Mulai dari counter pelayanan, meja-meja resepsionis, ruang tunggu, kursi-kursi tamu, kamar mandi tamu dan semua kelengkapan untuk pelanggan. Lihatlah apakah masih sebersih saat baru? Apakah masih berfungsi sebagaimana mestinya? Apakah terasa nyaman menggunakannya?
Coba duduk diposisi tamu duduk, lihatlah dari kaca mata tamu. Lihatlah semuanya, apakah anda merasakan sambutan yang ramah? Apakah anda merasakan fasulitas itu memudahkan anda? Apakah anda merasa diutamakan? Apakah anda merasa segar dan bersemangat dengan dekorasi ruangan serta peralatannya?
Yang ketiga, lihatlah bagaimana pegawai kita melayani pelanggan. Lihatlah apakah mereka masih bersikap seperti ketika pertama kali bekerja? Apakah mereka masih sopan, membantu dan bersemangat dalam menjual produk-produk anda? Apakah mereka berpakaian dengan rapi sebagaimana seharusnya diatur dalam ketetuan dahulu?
Lihat bawah meja pegawai anda, apakah ada sendal jepit disana? Apakah ada banyak tumpukkan barang tak perlu? Lihatlah dan rasakan, apakah ada kesan usang dan bosan disana? Apakah ada kesan rutinitas yang statis?
Yang keempat, lihatlah perlengkapan promosi dan penjualan. Lihat design brosur yang ada, apakah design itu masih layak? Lihat juga tempat dudukan brosurnya. Lihat daftar harga, katalog serta semua hal yang berhubungan dengan peragkat penjualan. Apakah anda merasakan aliran pesona yang menarik dari perlengkapan tersebut? Atau anda langsung kehilangan selera setelah melihatnya.
Yang kelima, Jika anda ingat, lihatlah kegiatan-kegiatan pemasaran dan penjualannya, apakah ada pembaharuan-pembaharuan atau sekadarnya saja berulang setiap waktu? Apakah even promosi tetap berpola sama hingga anda merasakan kebosanan terlihat dimana-mana?

Usang
Bisa jadi grafik penjualan dan kinerja secara umum mengindikasikan peningkatan, tetapi jika kelima poin diatas ternyata mengindikasikan ‘ke-usangan’, mestinya anda harus waspada. Kelima hal tersebut diatas adalah buah dari pribadi-pribadi yang terseret rutinitas dan biasa.
Situasi biasa itulah yang akan menciptakan probadi-pribadi biasa saja. Pribadi-pribadi yang biasa-biasa saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang luarbiasa. Apalagi jika kesan usang benar-benar berpendar dalam kelima poin diatas.
Siapa yang suka sesuatu yang usang? Memang ada pengumpul barang tua, tapi pengumpul barang tua menghargai usia dan tingkat antiknya, bukan usangnya. Bisakah saya katakan bahwa usang lebih dekat dengan sampah, daripada tingkat antiknya. Orang datang ke musium bukan untuk mencari barang rongsokan, tetapi mencari nilai atas barang lama.
Sekarang, apakah anda merasakan kesan ‘usang’ itu dilinkungan anda? Apakah anda bisa merasakan bahwa tingkat kesibukan yang dialami pada akhirnya melupakan hal-hal sepele seperti lima point diatas. Pembiaran-pembiaran menjadi kebiasaan yang ditolerir. Itu sangat berbahaya. Itulah awal dari keusangan yang dihindari pelanggan.
Usang dihindari pelanggan karena bermakna lama dan sudah tidak bagus lagi. Usang juga bermakna tidak terurus, terlupakan dan tidak serius. Jangan pernah ijinkan kesan usang ada pada saat pelanggan berhubungan dengan kita. Hindarilah...!

Penyegaran dan Pemasaran
Awal pikiran yang membiasakan kekurangan-kekurangan sederhana, pada akhirnya akan memberikan toleransi yang berlebihan atas kekurangan-kekurangan besar. Kekurangan-kekurangan besar itulah yang akan menjadi penghambat kreatifitas. Bisa jadi anda mencurahkan tenaga habis-habisan tetapi hasilnya tidaklah sebesar pengorbanan anda.
Jika lima check-list diatas terjadi pada anda, selayaknya sudah perlu sedikit serius untuk menciptakan peyegaran-penyegaran. Apalagi imbas dari ke’biasaan’ itu adalah mengenai langsung ke jantung pemasaran dan penjualan.
Mulailah melakukan penyegaran fisik dan mental. Secara fisik adalah hal-hal sederhana yang menjadi ‘dunia’ team pemasaran dan penjualan. Mulai dari sarana fisik, pelengkapan, gedung dan lain sebagainya.
Penyegaran secara mental menjadi sangat penting, karena dari mental-mental inilah akan muncul produk-produk pemasaran yang baik dan unggul. Penyegaran ini bisa melalui kegiatan non job bersama-sama seperti rekreasi atau pelatihan-pelatihan serta perjalanan dinas yang berbeda suasananya.
Sebagian pemimpin memilih untuk secara rutin mengganti petugas penjualan. Merotasinya atau bahkan mengganti yang baru. Mereka sangat berkonsentrasi kepada kualitas layanan dan penjualan yang selalu baru, dinamis dan berkembang.
Jaman membawa bisnis kepada era persaingan yang semakin tajam dan keras. Pesaing menggunakan trik-trik cerdas dan kreatif. Pasar semakin pintar dan suka membandingkan. Jaman yang demikian tidak bisa ditembus dengan strategi yang begitu-begitu saja. Kompetisi ini tidak bisa dimenangkan oleh orang yang begitu-begitu saja.
Penyegaran menjadi vital dan penting. Tentu saja, konsep ini mustahil dikerjakan oleh satu orang yang itu-itu saja. Bentuklah satu forum atau tim yang memiliki kesempatan untuk menciptakan hal-hal kreatif. Forum itu membuka kesempatan kepada semua pihak untuk mengkontrinbusikan ide-ide cemerlangnya menjadi strategi-strategi bagus.
Yang terakhir, bangunlah budaya pembaharuan. Budaya yang memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bersuara dan beride. Budaya yang menghargai ide-ide baru. Budaya yang menghapuskan monoton. Budaya yang mengijinkan pribadi-pribadi didalamnya untuk berkembang maju.


Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Pemain Lama


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis dan teknologi pada tanggal 08 juni 2009

KETIKA pengusaha baru harus membayarkan uang sewa lokasi disebuah pusat perbelanjaan yang baru dibangun dengan jumlah yang mahal, ada perusahaan retail terkenal yang diberikan tempat dengan gratis oleh pemilik gedung pusat perbelanjaan tersebut.
Tawaran gratis itu karena diyakini bahwa perusahaan terkenal itu akan mendatangkan pengunjung lebih banyak lagi ke gedung tersebut. Dengan banyaknya pengunjung, tentu gedung pusat perbelanjaan itu menjadi ramai dan banyak transaksi sehingga menghidupkan pedagang-pedagang lain yang lebih baru karena sudah diharuskan membayar sedikit lebih mahal.
Ketika para pebisnis pemula sulit mencari pinjaman, para Pemain Lama malah dikejar-kejar oleh pihak Bank agar mereka meminjam dari Bank tersebut.
Ketika para pebisnis pemula membayar transaksi didepan sebagai jaminan, para Pemain Lama mendapatkan kemudahan pembayaran dengan waktu yang cukup tanpa jaminan apapun.
Ketika para pebisnis pemula mencari-cari pasar, para Pemain Lama malah diperebutkan. Pasar mengantri untuk mendapatkan para pemain lama.
Rasanya seperti ada kekuatan tersendiri yang dimiliki oleh Pemain Lama ini sehingga mereka mendapatkan kemudahan. Itu juga berlaku untuk tokoh-tokoh masyarakat. Lihatlah bagaimana mereka di’kedepankan’ ketika waktu memerlukannya.
Jadi, akhirnya sang waktu-lah yang mencatat siapa-siapa saja yang bertarung dalam arena laga serta siapa-siapa saja yang menang dan mampu bertahan.
Bagi para praktisi bisnis, tentu saja sering bertemu dengan para pebisnis yang lama bertahan serta merajai dunianya. Mereka-merekalah yang memupuskan harapan para pemula dibidangnya. Mereka-merekalah yang seolah-olah menjadi penguasa yang seolah-olah selalu mendapatkan kemudahan-kemudahan dibanding yang lainnya.
Sekadar menyamakan persepsi, biasanya pemain lama akan mendapatkan keutamaan atau kemudahan pada saat pemesanan. Pemain lama biasanya lebih dimudahkan dalam hal pembayaran. Mereka boleh kredit dengan waktu yang lebih lama. Pemain lama juga sepertinya mendapat kemudahan dari penguasa, seolah-olah lancar saja urusan perijinan dan segala hal yang berhubungan dengan penguasa itu.
Jika pemain lama adalah pesaing kita, merekalah yang membuat kita gemas dan penasaran, bagaimana bisa mereka selalu lebih mudah dalam persaingan? Bagaimana mereka bisa lebih?
Bagi Pemain Lama, saya harap tulisan ini bisa menjadi cermin untuk menjadikannya lebih baik lagi dan bagi pemula, saya pikir tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagaimana bisa menjadi seperti mereka atau menemukan celah saat berkompetisi dengan mereka.

Keunggulan Pemain Lama
Terlahir lebih awal seperti layaknya berlari jauh sebelum tanda start dikibarkan. Terlahir lebih awal memberikan kesempatan yang lebih banyak. Tentu saja semua kelahiran, tumbuh dan membesar adalah sebuah proses yang tidak mungkin terhindar dari segala kesulitan dan pembelajaran.
Mereka-mereka yang saat ini besar karena sudah menjadi pemain lama, juga menghadapi tantangan yang sama seperti para pemula yang hadir diwaktu berikutnya. Pasti mereka juga melewati masa krisis, masa sulit dan semua hambatan dalam perjalanannya.
Kini setelah para pemain lama berhasil melawan dan mengalahkan rintangan-rintangan itu, mereka muncul menjadi lebih kuat dan lebih tangguh.
Para Pemain lama, jelas memiliki pengalaman yang mumpuni terhadap segala kemungkinan-kemungkinan yang biasanya terjadi. Ibarat supir bus, sopir bus yang lama pasti lebih mengenal jalan yang dilewatinya. Lebih tahu dimana ada lubang dan segala belokan berbahaya.
Para Pemain lama berpotensi memiliki sumberdaya yang lebih banyak serta lebih lengkap yang menjadi daya saing yang unggul.
Para Pemain Lama sudah menabung hubungan baik dengan banyak pihak. Jaringan terbentuk kesemua sektor dilingkup bisnisnya, dari pemasok, pendukung serta pembeli sekalipun. Jaringan itu menjadi lebih sulit ditembus karena kerekatannya terjalin diantara sesama pemain lama.
Para Pemain Lama sudah menanamkan kesan baik dalam pencitraan sehingga tingkat kepercayaan publik jauh lebih besar.
Layaknya berdiri di puncak bukit, semuanya terlihat indah, berpandangan jauh serta tidak lagi sesulit mereka-mereka yang sedang mendaki. Tetapi mendaki adalah kewajiban sebelum sampai puncaknya itu.

Potensi Kelemahan Pemain Lama
Tiada yang sempurna di dunia ini. Demikian juga dengan mereka-mereka para Pemain Lama. Ada saja kekurangan-kekurangan yang menempel di diri mereka.
Pemain Lama yang tiada memiliki pembaharuan, jelas seperti ‘barang lama’. Mereka bisa menjadi usang dan tidak lagi menarik. Untuk berkompetisi dengan Pemain Lama yang demikian, bermainlah dengan inovasi dan perbedaan serta ‘nilai-nilai baru’.
Pemain Lama belajar dari hal-hal lama. Termasuk strategi yang dianut juga strategi lama yang tidak lagi pas untuk menyelesaikan permasalahan masa depan. Bersaing dengan tipe pemain lama ini, harus dengan memahami apa yang terjadi pada hari ini. Karena hari ini adalah hasil masa lalu dan hari ini adalah penyebab masa depan.
Pemain Lama yang tidak mempersiapkan pemimpin masa depan, ibarat mempertinggi tempat untuk jatuh. Biasanya mereka akan terjerembab pada generasi kedua atau generasi ketiga. Ini banyak ditemukan di bisnis-bisnis keluarga. Bersaing dengan tipe Pemain Lama ini cukup mudah karena hanya waktu yang akan menyelesaikannya. Biarkan saja kebodohan para pendahulunya yang tidak mempersiapkan pemimpin berikutnya.
Pemain lama bisa menjadi sombong serta mengacuhkan anak-anak muda. Ingat bagaimana kalangan bankir terbahak-bahak mendengar ide mesin ATM yang disampaikan anak muda? Kini lihatlah, mesin ATM justru sangat mendukung bisnis perbankan. Ingat bagaimana para ahli jam senior di Swis yang melecehkan ide pembuatan jam digital yang disampaikan oleh anak muda? Kini lihatlah akhirnya jam digital beredar luas di seluruh penjuru dunia. Atau mungkin pemain lama sudah semakin dewasa, sehingga terlalu banyak berfikir dan menimbang, sehingga kecepatannya melemah?
Yang pasti, bagaimana orang lama dengan pikiran lama bisa menyelesaikan masalah kedepan?

Konsultasi & Pelatihan; Tj@cahyopramono.com
Share:

11.7.09

Numpang Nampang


tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis dan teknologi, tangal 01 juni 2009.

JAKARTA, KOMPAS.com — Produk sepatu bermerek JK Collection Shoes yang dipasarkan pada pameran industri di Gedung Departemen Perindustrian Jakarta laris karena diminati pengunjung.
"Tiga hari pameran yang dijadwalkan ditutup, Jumat sore, meraup pendapatan sekitar Rp 11 juta," kata seorang perajin sepatu, Adeng Sugiarto, di Jakarta, Jumat (8/5).
Sepatu bermerek Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla itu diproduksi perajin dari Cibaduyut, Kota Bandung.
Sebelum membeli, konsumen memeriksa sepatu secara teliti hasil produksinya sambil memakai untuk membandingkan sepatu tersebut dengan buatan pabrik maupun impor. "Tidak kalah kualitasnya dengan produksi pabrikan maupun impor," ujar seorang ibu yang mengaku bernama Shinta.
Sepatu perempuan ditawarkan bervariasi antara Rp 130.000 dan Rp 180.000 per pasang tergantung jenisnya.
Sejumlah pria juga tertarik dengan sepatu kantor dan santai dengan harga Rp 300.000. "Seorang bapak mengaku asal Kalimantan, kemarin (Kamis), membeli langsung lima pasang karena tertarik kualitas dan mode," ujar Adeng.
Dia mengaku terinspirasi memakai label JK setelah Wapres mengunjungi Cibaduyut. "Saya beruntung karena tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk promosi karena Wapres sudah terkenal sehingga pastinya menarik minat masyarakat," katanya.
Dia berharap, pemerintah yang telah memotivasi masyarakat agar memanfaatkan produksi sepatu dalam negeri itu dan mengatur mekanisme pasar sehingga sepatu lokal dipakai masyarakat.
"Rasanya kualitas tidak kalah bersaing dengan produksi pabrik dan impor. Sekiranya, pemerintah membekali perajin dengan kemudahan kredit, pelatihan bagi perajin dan peralatan," kata Adeng Sugiarto
.

Numpang Nampang
Dalam berita diatas, pengrajin sepatu Cibaduyut itu memanfaatkan popularitas Jusuf Kalla –JK--. Karakter yang dimiliki JK melekat terhadap sepatu tersebut. Pasar mengasosiasikan produk sepatu itu sebagai sesuatu yang dibanggakan, sebuah produk dalam negeri yang murah tetapi berkualitas dan bergengsi, karena juga disukai oleh seorang petinggi yang terkenal.
Seperti tanaman yang baru tumbuh, biasanya tidak cukup tangguh untuk berdiri, mereka memerlukan ajir --tonggak pengikat—agar tananam itu bisa berdiri hingga saatnya mereka mampu berdiri sendiri dengan akarnya yang kokoh.
Konsep pemasaran yang menumpang ‘tampang’ seseorang juga merupakan upaya untuk mempengaruhi konsumen. Upaya meningkatkan kepercayaan, mengalihkan konsentrasi, meningkatkan loyalitas dan lain sebagainya.
Ketika bencana Gunung Merapi mengancam sebagian warga sekitarnya, muncullah seorang kuncen yang pada saat itu terbukti kebenaranya bahwa Merapi tidak akan meledak. Dialah mbah Marijan yang kemudian menjadi sangat populer di berbagai media.
Ke’tangguhannya’ menginspirasi sebuah jamu yang mencitrakan keperkasaan. Konon dengan dibintanginya iklan produk Kuku Bima Energy oleh Mbah Marijan, Chris John serta Rieke, penjualan produk jamu laki-laki itu melonjak hingga 60 persen pada Agustus tahun ini.
Dalam sebuah kesempatan di Jogja, pihak produsen jamu mengaku sampai kewalahan dan kekurangan stock melayani permintaan pasar. Tapi, menurut Irwan –pimpinan perusahaan jamu tersebut--, kesuksesan promo produknya itu bukan saja karena Mbah Marijan sebagai penjaga Merapi atau Chris John sebagai petinju kelas dunia. Melainkan, karena mereka adalah orang-orang yang punya nilai, rendah hati, dan jujur.

Referensi
Dua contoh diatas adalah satu bentuk bukti bahwa tokoh-tokoh yang digunakan untuk mengkampanyekan sebuah produk menjadi sangat penting. Mereka menetukan perilaku pasar, mengapa? Tentu saja karena sebagian besar pasar adalah trend follower ¬¬–pengikut mode--. Hanya sedikit orang-orang yang menjadi trend setter –pencipta mode--.
Sebutlah seorang penyanyi Afgan yang menjadi penyebut bentuk model kaca mata. Kini orang-orang menyebut kaca mata dengan frame lebar dengan sebutan, kaca mata Afgan. Itu terjadi karena si penyanyi ini kerap menggunakan kaca mata seperti itu. Lalu banyak orang ikut mengenakan jenis model yang sama karena mencontoh si penyanyi tadi.
Kini celana panjang anak muda kembali mengulang mode beberapa tahun yang lalu. Tetapi sebutannya baru; celana Cangcuter. Karena group band ini selalu muncul dengan model celana sempit yang ngepress sekujur kakinya. Bukankah sekarang hampir semua anak muda berpakaian yang serupa?
Pernah seorang Agnes Monika menjadi sebutan untuk sebuah model rambut, semua salon ikut mempopulerkanya. Pernah seorang Said -- tokoh peran dalam sintron Bajai Bajuri – menjadi sebutan model celana panjang jeans yang sobek di lututnya. Demikian juga Vokalis Group musik Radja yang menjadi sebutan jenis model kaca mata hitam.
Dalam hal ini, ketokohan menjadi penting untuk mengarahkan perilaku pasar agar berorientasi kepada produk atau bisnis yang dipromosikannya.

Tokoh Gratis
Nah ini yang penting karena tidak semua dari kita yang memiliki modal besar untuk membayar tokoh-tokoh publik tersebut. Tetapi sebuah kenyataan bahwa tidak semua tokoh yang ada juga harus dibayar. Seperti seorang JK yang dimanfaatkan oleh pengrajin sepatu Cibaduyut.
Banyak radio siaran yang meminjam suara artis-artis terkenal untuk mempromosikan radionya dan itu gratis. Tidak sedikit rumah makan yang memajang foto-foto artis atau tokoh terkenal di ruang restorannya, sekadar mengatakan kepada publik, bahwa orang ‘hebat’ itu juga pernah makan disana.
Setiap kota, sekecil apapun itu, biasanya memiliki tokoh-tokoh yang diangap terhormat, atau menonjol pada sisi tertentunya. Adalah langkah cerdas menggunakan mereka –para tokoh itu—untuk mempromosikan produk yang kita miliki. Entah itu adalah seorang Walikota, Bupati, Pejabat militer atau tokoh masyarakat. Seperti seingat saya, ada sebutan kedai Durian Pejabat di Kota Langkat, karena banya pejabat yang datang makan durian disana.
Teknik sederhananya adalah hadirkan tokoh tersebut kelokasi yang kita miliki. Atau jika produk berupa sesuatu yang bisa dikenakan, berikan kepada tokoh tersebut untuk memakainya. lalu dokumentasikan dan publikasikan. Tentu saja, semakin terkenal tokoh itu, semakin besar kemungkinan produk kita juga ikut terkenal.
Tertapi berhati-hatilah memilih tokoh, karena setiap tokoh memiliki karakter yang khas. Upayakan pilih tokoh yang sesuai dengan karakter produk. Pilih tokoh dengan catatan sejarah yang positif. Seperti Pepsi Cola membatalkan kontrak dengan Michel Jackson karena sekali waktu ia sakit dehidrasi –kekurangan cairan--.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

KREDIT Bank


tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada medan, pada tanggal 25 mei 2009, pada halaman bisnis dan teknologi.

TERLALU banyak pertanyaan kepada saya tentang bagaimana caranya mendapatkan kredit dari bank. Sebagian dari penanya berfikir bahwa kredit adalah satu-satunya solusi bagi permasalahannya.
Sebelum saya menuliskan sedikit pengetahuan saya tentang persyaratan dan prosedur mendapatkan kredit dari bank, saya perlu sekali menegaskan bahwa, pertama bank bukan lembaga sosial. Artinya, mereka tidak akan pernah membantu siapapun. Jadi tak ada istilah bantuan kredit, karena bank juga mau hidup dengan mendapatkan bunga dari kredit kita.
Kedua, meminjam uang ke bank tidak seperti meminjam uang ke saudara yang bisa kapan-kapan saja dikembalikan. Ketiga, jika penjualan tidak bertambah setelah mendapatkan pinjaman, itu awal dari kebangkrutan. Keempat, cermatlah membaca bahasa bank dan bersabar mengikuti prosesnya. Kelima, berhubungan dengan bank umumnya sulit diawalnya saja, selanjutnya mudah dan semakin mudah (bukan dalam artian bunga, karena pihak bank tak pernah mau rugi sepeserpun). Dalam tahap tertentu, justru pihak bank yang akan mengejar kita serta memohon kepada kita.
Berikut adalah gambaran umum prosedur kredit dari beberapa sumber perbankan yang saya olah. Untuk jelasnya saya persilahkan menghubungi bank anda.

Sebelum ke bank
Sebaiknya persiapkan beberapa dokumen penting, antara lain berupa proposal permohonan kredit yang memenuhi syarat perbankan yang meliputi: data historis usaha; perkembangan usaha (neraca dan rugi laba); sumber dan penggunaan dana; jenis, jumlah, dan penggunaan kredit; penerimaan dan pengeluaran dalam bentuk arus kas (cashflow); Administrasi dan legalitas usaha.
Peminjam perseorangan akan diminta untuk memberikan: Fotokopi identitas diri; Fotokopi akte nikah. Dalam hal ini Akte nikah digunakan oleh bank untuk mengetahui apakah harta yang dijaminkan merupakan harta bersama suami-istri atau bukan, sehingga baik istri atau suami peminjam dapat dimintai persetujuannya dan turut bertanggung jawab terhadap harta yang dijaminkan ke bank berikut sejumlah utangnya.
Data yang lain adalah Fotokopi kartu keluarga (KK). Data ini digunakan bank untuk mengetahui apakah calon peminjam juga menanggung biaya hidup orang lain selain dirinya sendiri. Lalu juga Fotokopi rekening koran/rekening giro atau kopi buku tabungan di bank manapun antara enam hingga tiga bulan terakhir. Data ini diperlukan bank untuk melakukan analisa keuangan calon debiturnya, sehingga dapat diukur seberapa besar penghasilan debitur yang dapat disisihkan untuk membayar angsuran pinjaman tiap bulannya.
Adapun peminjam yang berbentuk perusahaan meliputi bentuk badan usaha seperti CV, PT, firma dan lain-lain. Persyaratan yang diminta antara lain: Fotokopi identitas diri dari para pengurus perusahaan (direktur & komisaris ); Fotokopi NPWP; Fotokopi SIUP ( Surat Izin Usaha Perdagangan ); Fotokopi Akte Pendirian Perusahaan dari Notaris; Fotokopi TDP ( Tanda Daftar Perusahaan ); Fotokopi rekening koran/giro atau buku tabungan di bank manapun selama enam hingga tiga bulan terakhir. Disusul Data keuangan lainnya, seperti neraca keuangan, laporan rugi laba, catatan penjualan dan pembelian harian, dan data pembukuan lainnya.
Jika Anda telah menyiapkan semua dokumen dan berkas sebagai penunjang permohonan kredit, langkah selanjutnya Anda menemui petugas bank di bagian kredit. Biasanya Anda akan diberikan formulir (isian) permohonan kredit.
Di bank tertentu, formulir permohonan kredit Anda diisi oleh petugas bank. Jadi, Anda hanya diwawancarai saja. Namun, tidak menutup kemungkinan, di bank lain Anda akan mengisi formulir sendiri. Formulir tersebut pada umumnya berisi tentang data pribadi, profil usaha, pengalaman usaha, jumlah pengelola, jumlah karyawan, jenis dan pemasaran produk (barang atau jasa) termasuk bahan bakunya, omset usaha, profit margin rata-rata, modal, jaminan, tujuan penggunaan kredit, kebutuhan kredit, kepemilikan Jaminan, dan lain sebagainya.

Analisa
Bisa jadi akan ada Wawancara. Gunanya untuk untuk mencari kebenaran data di dalam formulir permohonan kredit dan data tambahan yang diperlukan bank. Lalu ada kunjungan pihak bank ke tempat usaha Anda; lalu dibuat laporan kunjungan; lalu Analisa Lanjutan yang berisi Analisa Keuangan menyangkut: Likuiditas, kemampuan usaha dalam membayar utang yang jatuh tempo. Leverage, mengukur seberapa besar asset calon debitur yang dibiayai oleh bank (kreditur). Kalkulasi ini dapat dilihat melalui komparasi total utang yang dimiliki dengan modal sendiri dan perbandingan antara pendapatan bersih dengan bunga yang harus dibayar. Aktivitas usaha, dinilai oleh bank melalui perbandingan pembayaran yang diterima dengan persediaan barang, perbandingan-perbandingan penjualan dengan persediaan total asset, serta perputaran modal kerja dalam setahun. Profitabilitas atau kemampuan menghasilkan keuntungan, diukur melalui perbandingan laba bersih dengan total asset, serta perbandingan laba bersih dengan modal sendiri.
Lepas dari analisa keuangan selanjutnya adalah Analisa Usaha/industri, Analisa Manajemen, Analisa Yuridis Usaha, Analisa Karakter dan Analisa Jaminan. Jaminan yang diminta oleh bank untuk kredit pemilikan rumah biasanya adalah rumah yang akan dibeli tersebut. Pada kredit pemilikan mobil, mobil yang akan dibeli itulah yang biasa dijadikan jaminan.
Sedangkan jaminan yang diminta untuk kredit usaha dan kredit serba guna, biasanya lebih bervariasi seperti tanah, rumah tinggal, ruko, apartemen, kendaraan, pabrik dan lain-lain. Jaminan yang kita ajukan biasanya dinilai kembali oleh tim tersendiri dari bank.

Persetujuan/Penolakan Kredit
Setelah melakukan analisa-analisa tersebut diatas, bank akan menyetujui atau menolak permohonan kredit Anda. Jika bank menyetujuinya, maka Anda (calon debitur) akan memperoleh offering letter (surat persetujuan prinsip bersyarat) dari bank yang bersangkutan.
Bila Anda (calon debitur) setuju atas persyaratan yang termuat dalam offering letter, maka akan dilanjutkan dengan pengikatan pembiayaan (kredit) dan jaminan. Proses selanjutnya adalah pencairan dana. Tiap bank mempunyai kebijakan berbeda.
Itulah prosedur standard yang dilakukan oleh pihak bank, sepertinya tidak mudah, tetapi semua orang sepakat bahwa tidak ada istilah saudara untuk perkara uang. Dan pemenangnya adalah mereka yang bersabar mengikuti prosesnya.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Ada air tawar mengapa minum air laut? Catatan kecil untuk Penjual Mangga Parapat


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 18 Mei 2009, pada halaman bisnis dan teknologi. www.cahyopramono.com

“Satabi Inang, adong na naeng hu dokkon”. Dengan segala hormat dan kerendahan hati, ijinkan saya memberikan catatan kecil untuk para pejuang kehidupan yang luar biasa; para inang penjual mangga di Kota Turis, Parapat.
Bertahun-tahun saya memahami apa yang terjadi dalam romantisme kisah penjualan mangga kecil-kecil –mangga udang-- yang sering di sebut Mangga Parapat. Kisah Mangga Parapat benar-benar selalu menjadi topik hangat setiap kali kepariwisataan Danau Toba diperbincangkan. Mulai dari rasa yang khas, bentuk yang khas hingga pengalaman-pengalaman pahit mendapatkan mangga yang asam padahal saat mencicipi rasanya sangat manis.
Sekali waktu seorang mantan Pejabat di Salah Satu Kabupaten di pinggiran Danau Toba bahkan bercanda dengan menyebutkan, “Kalau tanpa trik itu jelas bukan Mangga Parapat!” dalam keprihatinannya, ia mengaku juga bahwa memang benar banyak wisatawan yang tertipu, tapi mereka tetap saja tidak jera untuk membeli mangga pada kesempatan kunjungan berikutnya.

Perjuangan Hidup
Atas nama kehidupan dan penghidupan, para laskar ekonomi keluarga ini –penjual mangga—sudah mewarnai kota Parapat sejak jaman dahulu. Sejak kota itu sepi hingga ramai lalu sepi lagi seperti saat ini.
Bertahun-tahun saya mencoba mengobservasi pola penjualan mereka, hingga kini saya bisa memahami bagaimana mereka yang menyalah adalah untuk bertahan hidup. Hingga muncullah berbagai lelucon tentang Mangga ini -- jikalah ada lelucon dan contoh-contoh negatif dalam tulisan ini, saya nyatakan itu tidak terjadi dan tidak dilakukan oleh semua pedagang. Saya sekali lagi menegaskan bahwa pedagang yang jujur dan tulus jumlahnya sangat banyak--.
Ada lelucon mengenai pembeli yang mengeluh karena 3 kg mangga yang dibeli semuanya asam dan busuk. Lalu dalam lelucon itu si penjual mangga menjawab bahwa tak usah mengeluh dan marah, “Baru 3 Kg saja Kau sudah berisik, tengoklah, punyaku 3 keranjang saja aku diam saja”.
Seorang penjual mangga pernah berkata kepada saya, “Amang, kami ini menjual ciptaan Tuhan, Cuma Dia yang tahu mana yang asam dan mana yang manis” lalu “Dan kami harus cepat menjualnya, kalau tak mau semuanya membusuk dan kami rugi”.
Ada juga kisah pedagang yang selalu berganti-ganti marga sesuai dengan marga pembelinya. Itu dilakukan agar terjadi kedekatan dan memuluskan transaksi. Demikianlah kisah perjuangan hidup berjalan selangkah demi selangkah; mulai dari kondisi timbangan yang tidak lagi sesuai ukurannya. Sangat bisa terjadi mangga 8 Ons akan menggerakkan jarum ukur hingga ke angka 1 Kg.
Semua bermula dari kualitas mangga yang diterima pedagang dan tawaran harga yang disepakati dengan pembeli. Jika mangga yang diterima pedagang bagus adanya, maka besar kemungkinan pembeli mendapatkan mangga yang manis. Berikutnya, berhati-hatilah jika harga yang disepakati jauh dari harga awal yang disebut pedagang. Itu artinya pedagang sudah terdesak harus menjual mangga itu karena kurang laku atau karena mengejar usia bertahannya buah tersebut sebelum menjadi busuk.
Untuk keterdesakan itu, biasanya ada pedagang yang meminta kompensasi, salah satunya adalah dengan mempraktekkan kelihaian tangannya; Begitu proses pemilihan mangga dilakukan oleh pembeli, bersamaan itu pula penjual ikut memasukkan mangga pilihannya kedalam wadah yang disediakan. Jelas pedagang yang sudah bertahun-tahun bergelut dengan mangga akan sangat tahu mana mangga yang baik dan mana yang kurang baik. Saat pembeli baru memilih satu – dua butir mangga, si pedagang sudah memasukkan empat – lima butir mangga. Jika pembeli meminta 1 Kg, maka pedagang akan memasukkan mangga dengan jumlah lebih dari 1 Kg, sehingga ada alasan untuk mengurangi mangga dari wadahnya. Nah disaat itulah pedagang akan mengambil keluar buah-buah yang berkualitas baik dari dalam wadahnya, hingga yang terbawa oleh pembeli adalah mangga dengan kualitas rendah.
Dalam kejadian lain, mungkin wadah akan dipegang oleh pembeli sehingga pedagang tidak memiliki kesempatan untuk bermain. Tetapi jelas itu bukan akhir dari segalanya; strategi yang lain menggantikan bungkusan terpilih dengan bungkus ‘cadangan’. Bungkus ‘cadangan’ sudah disediakan di meja dibalik keranjang buah pajangan berisi mangga dengan kualitas jelek dalam berbagai ukuran, sesuai rata-rata berat orang membeli mangga.
Tehnik permainannnya adalah, ketika semua proses penimbangan sudah dilakukan, maka berikutnya adalah proses mengikat bungkus plastik –wadah--. Pada saat pengikatan itulah proses penggantian ke ‘bungkus cadangan’ dilakukan. Saran paling sederhana saat berbelanja mangga Parapat adalah jangan pernah menawar terlalu rendah...!

Tidur Nyenyak
Saya meyakini bahwa masih ada langkah-langkah lain yang positif untuk bisa hidup layak tanpa harus membutakan batin. Sejauh kita berniaga dengan jujur dan iklas, niscaya kita akan bisa tidur dengan nyenyak tanpa merasa khawatir. Perniagaan yang diawali dengan kecurangan itu persis seperti meminum air laut, tidak akan ada rasa puasnya.
Terlepas dari faktor filosofi perniagaan, berikut ada beberapa langkah praktis untuk perniagaan yang terbuka, dan meningkatkan kepercayaan pembeli.
Yang pertama adalah daftar harga. Para pelancong yang bukan penduduk asli jelas tidak cukup paham akan situasi daerah kita. Ada perasaan ragu, apakah harga yang didapatkannya adalah harga terbaik atau harga yang menjebak penuh tipuan. Penggunaan daftar harga atau tanda harga, akan memudahkan pembeli memilih sesuai keinginannya.
Yang kedua, kumpulan produk sesuai kelasnya. Ada kelompok berdasar rasa dan ukuran. Mungkin manis dan besar, sedang, kecil lalu ada juga yang asam atau berkualitas rendah. Masing-masing kumpulan memiliki harga yang berbeda-beda. Disinilah margin keuntugan bisa didongkrak, karena harga bisa didongkrak naik untuk mangga dengsan kualitas yang baik. Ketiga bangkitkan rasa nyaman pembeli dengan menjamin perasaan amannya dari ancaman penipuan dll. Kalau perlu biarkan pembeli menimbang sendiri dengan alat ukur yang jujur dan benar.
Keempat bangkitkan semangat kasih sayang, bayangkan jika kita sendiri atau anak-cucu sendiri yang menjadi pembeli dan diperlakukan dengan penuh tipu daya oleh penjualnya. Memuliakan tamu adalah cara terbaik untuk memastikan anak cucu kita bisa selamat dan sejahtera dalam perantauan mereka.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive