it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

18.11.09

Kualitas dan Selera

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 26 oktober 2009, pada halaman bisnis dan teknologi.





TERNYATA Kualitas pada cara pandang tertentu bukan berarti harus yang terbaik. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan selera. Jelas berkualitas ini menjadi sangat subjektif dan kadang menggelikan.

Makanan bakso adalah salah satu makanan yang merakyat dan cukup terkenal seantero negeri ini. Bakso tidak saja menjadi sekadar makanan, tetapi juga gaya hidup. Saya rasa hampir semua pasangan pernah melalui masa pacaran di warung bakso. Kembali ke topik kualitas. Rasa-nya butir bola bakso yang berkualitas menurut sebagian besar orang adalah butir bola bakso yang tidak seratus persen berisi melulu daging. Butir bakso yang berisi seratur persen daging malah terasa aneh dan tidak selezat butiran bakso di kaki lima yang berisi lebih banyak tepungnya dibanding dagingnya.

Orang Sumatera sudah terlanjur turun temurun menikmati kopi yang tidak seratus persen kopi, tetapi yang sudah dicampur dengan jagung, beras, pinang dan entah campuran apa lagi. Bahkan konon campurannya itu mendominasi bubuk kopi itu, hingga kopi aslinya hanya 20 persen saja. Tentu saja pemunim kopi yang sudah biasa meminum kopi campuran, akan merasakan ketidak nikmatan kopi asli. Dalam hal ini, kopi campuranlah yang dianggap sebagai kopi berkualitas dan lezat rasanya. Kenyataan ini mengingatkan saya dengan istilah “Kopi krismon” yang beredar sekitar tahun 1998 hingga awal 2000. kopi ini terlihat hitam seperti kopi biasa, terasa seperti kopi biasa tetapi sungguh, tak sejumputpun ada kopi asli dalam racikannya. Hingga harga kopi krismon sangat murah dan terbeli oleh masyarakat pada saat krisis moneter melanda negeri ini.

Sesekali singgahlah ke Babutong di Simalungun sana. Disana ada pabrik teh yang ada sejak jaman kolonial. Disana ada produk teh berkualitas export yang konon disebut dengan BOP-1. Teh tersebut sangat nikmat, harum dan berwarna merah-coklat pada hitungan detik pertama sejak diseduh dengan air panas. Sayangnya produk ini tidak beredar dipasaran lokal.

Yang beredar dipasaran lokal adalah teh kelas urutan ke 4, 5 dan 6 bahkan 7 setelah BOP-1 tersebut. Bagi orang-orang yang belum pernah mencicipi BOP-1, jelas menyebut teh kelas bawah itu sebagai teh terlezat.

Pembaca yang budiman, terutama pencinta jengkol, pete dan durian. Bagi mereka-mereka yang menyenanginya, jelas buah diatas adalah buah terlezat yang mereka sebut sebagai berkualitas. Mereka sungguh mengabaikan unsur bau yang menyengat dan mengganggu.

Konon, bagi orang tertentu di eropa, keju yang terlezat bagi mereka adalah keju yang membikin kita muntah mendadak. Keju itu sudah busuk, berulat dan menciptakan aroma ‘mematikan’. Tentu bagi peminatnya, keju itu adalah keju berkualitas yang istimewa.

Bagi para pencinta tuak, muniman berwarna putih yang bermau (maaf) seperti kencing kuda itu jelas merupakan minuman berkualitas bagi penikmatnya.



Selera

Kalau sudah menyangkut selera, sepertinya tidak ada lagi cerita kualitas berdasarkan logika. Selera bukan matematika dan ilmu pasti. Artinya, produk yang berkualitas dalam konteks selera bukanlah harus sempurna secara logika.

Selera bisa memutar-balikkan pemikiran secara umum. Kewajaran logika dalam hal selera tidak lagi menjadi pautan wajib. Tidak hanya sebatas makanan dan minuman, tetapi apapun itu yang berhubungan dengan cita-rasa.

Sentuhan cita rasa dalam hal selera juga terjadi pada jenis koran yang dibaca, jenis mobil yang dipilih, bentuk rumah yang diidamkan, jenis sepatu yang dikenakan, hingga model pasangan yang cocok dihati.

Model tatanan rambut, jenis musik dang-dut atau jazz, hingga club sosial yang dipilih secara umum merupakan pilihan berdasar selera.

Meyakini bahwa kualitas dan selera bukanlah sesuatu yang harus sesuai logika, maka tidaklah kita harus tergopoh-gopoh untuk menciptakan atau merubah produk kita sesuai nalar logika kita. Apalagi jika produk kita sudah dikenal masyarakat dan cukup menjawab selera mereka.

Perubahan-perubahan yang mendadak atas produk berbasis selera, baik dari kemasan, isi dan cara penyajian akan menjauhkan kita dari pasar loyal yang sudah lama menjadi pelanggan kita.

Yang perlu diingat adalah bahwa anda itu bukan produk anda. Jangan paksa produk anda menjadi apapun sesuai dengan selera anda. Misalkan sekarang anda pencinta Jazz, bukan berarti anda tidak bisa mencari makan dengan musik dangdut. Ketika anda mendadak lebih senang memakan hidangan eropa, bukan berarti warung nasi minang anda harus diganti dengan makanan eropa.

Ingat berkualitas dalam hal selera bukanlah hal-hal logis yang dipaksakan.



Merubah selera

Selera umumnya terbentuk karena kebiasaan. Dan kebiasaan jugalah yang akan merubah selera. Misalkan anda perokok merek A selama ini, lalu anda diberi rokok merek B, tentu anda tidak akan mengkonsumsi rokok B tersebut. Kecuali dalam keadaan terpaksa. Dan keterpaksaan yang berulang dalam jangka waktu tertentu akan menciptakan kebiasaan baru. Lalu kebiasaan baru akan mengalihkan ‘logika’ selera itu kepada pilihan lain yang dibiasakannya itu.

Jadi, untuk merubah selera pangsa pasar baru menjadi ‘berselera’ kepada produk anda, yang harus dilakukan adalah mengajaknya mencoba merasakan secara langsung dalam waktu tertentu. Waktu yang ideal untuk terjadinya perubahan selera adalah kelipatan 40 kali.

Untuk itulah, penting sekali program sampling yang menunjukkan kepada pasar yang ditargetkan. Berikan contoh/sample dan beri kesempatan mereka merasakan secara langsung. Biarkan mereka lama-lama akan terhipnotis dengan pesona produk baru tersebut.

Dan jika anda berniat untuk merangkul pasar baru yang seleranya berbeda dengan produk anda yang sudah ada, lagkah yang ditempuh seyogyanya bukan mengganti produk yang sudah ada, tetapi menciptakan produk baru yang diperkirakan cocok dengan mereka – mereka yang akan kita tuju.

Kebosanan yang menjadi keluhan banyak orang sangat mudah diantisipasi dengan perubahan-perubahan kesan tanpa harus merubah produknya. Perubahan kesan tidak juga harus berupa perubahan kemasan, tetapi bisa saja berupa perubahan cara menyampaikan, cara promosi dan masih banyak lagi strategi lain yang menciptakan penyegaran tanpa merubah produk yang ada.

Jadi, tidak perlu anda bersering-sering melihat orang lain selain pasangan anda, karena anda lama-lama akan tergoda untuk merubah selera. Berhat-hatilah...!



Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

MENU BINGUNG

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 19 oktober 2009, pada halaman bisnis dan teknologi






NASI GORENG, kopi dan Jus Jeruk... Sarapan pagi nasi gorang, minumnya kopi. Makan siang nasi goreng, minumnya jus jeruk. Makan malam akhirnya juga nasi goreng dan minumnya lagi-lagi Jus Jeruk. Begitulah pilihan rekan perjalanan bisnis saya selama beberapa hari. Betapa garing pilihan menu itu. Saya yang tidak ikut memilih menu itu menjadi merasa bosan dengan alternatif yang hanya satu itu.

Awalnya saya diam dan membiarkan kawan seperjalanan itu terus saja asyik dengan nasi gorengnya. Tetapi ketiak perjalanan sudah memasuki hari ke empat dan menu pilihan kawan saya masih tetap sama, timbul juga rasa penasaran dan saya memberanikan diri untuk bertanya.

“Saya bingung, mau pilih makanan apa!” aku kawan saya itu,”Semua menu dalam bahasa asing yang saya tidak kenal, takut salah pula”. Pegakuan itu mengakhiri penasaran saya.

Pada kesempatan lain, saya mendapati kawan-kawan lain yang juga senang memesan Nasi Goreng dan Jus Jeruk, setelah saya ajak bicara, secara umum mereka merasa bingung mau memilih menu apa, hingga secara cepat mereka menyebut nasi goreng dan jus jeruk.

Puluhan tahun saya berkecimpung di dunia yang berhubungan dengan jasa restoran, setelah kejadian diatas, saya baru menyadari bahwa jika sebuah restoran mampu menjual nasi goreng dan jus jeruk dalam hitungan yang banyak, itu bukan berarti hebat. Itu bukan berarti bahwa juru masaknya hebat. Itu bukan berarti nasi gorengnya lezat. Tetapi ada kemungkinan bahwa para tamu yang datang kebingungan memilih menu yang lain.

Sekarang saya sering tersenyum mendapati harga nasi goreang di sebuah restoran hotel berbintang yang nilainya Rp. 135.000,- per porsi. Lebih tertawa lagi ketika mendapati jawaban manajernya yang dengan bangga mengaku bahwa nasi gorengnya sangat lezat dan paling banyak di pilih oleh tamu-tamunya. Dan saya semakin tak sanggup menahan geli ketika menemukan daftar menunya tertulis dalam bahasa perancis tanpa penjelasan dalam bahasa indonesia sama sekali.



Fenomena Gudang

Saya menyebut fenomena nasi goreng dan jus jeruk diatas sebagai fenomena tumpukan gudang. Situasinya seperti barang yang banyak bertumpuk digudang sehingga orang yang melihatnya menjadi bingung dan malas, lalu asal ambil barang yang terlihat atau dia tahu saja.

Fenomena tumpukan gudang itu tidak hanya terjadi pada nasi goreng itu saja. Tetapi juga terjadi pada bisnis-bisnis lain. Fenomena itu terjadi manakala produk yang ditawarkan semakin banyak alternatifnya.

Selain faktor banyak pilihannya juga faktor nama produk serta pemajangannya yang tidak cukup bijaksana. Faktor nama produk yang tidak cukup mudah dipahami pembeli, biasanya tidak akan mendapat perhatian yang baik. Terlalu banyak pilihan juga akan memusingkan pembeli. Belum lagi pemajangan yang tidak indah dan rapih, jelas membuat pembeli malas melihatnya. Kalau melihat saja sudah malas, pasti membelipun lebih malas lagi.

Contoh sederhana dari pilihan nama produk yang terlalu banyak adalah produk telekomunikasi. Lihatlah betapa masing-masing perusahaan jasa telekomunikasi memiliki lebih dari 6 produk layanannya. Jelas sampai kini, penjualan pulsa untuk bertelepon dan ber SMS masih lebih banyak dibanding produk-produk lainnya. Mengapa? Karena bertelepon dan ber-sms sama mudahnya dengan menyebut nasi goreng serta jus jeruk.

Contoh sederhana dari opsi pemajangan yang mempengaruhi perilaku pembeli adalah pemajangan di kedai sampah (toko kelontong) dengan pemajangan di swalayan. Hanya dari konsep pemajangan ini saja sudah membedakan jumlah penjualan antara kedai dengan swalayan. Pembeli di kedai kelontong hanya membeli apa-apa yang sudah dia rencanakannya sedang pembeli di swalayan akan membeli apa-apa yang sudah direncanakan untuk dibeli plus barang-barang yang menggoda perhatiannya selama proses mencari barang yang diinginkannya.



Kenal dan sayang

Belajar dari daftar menu yang akhirnya berujung ke pilihan nasi goreng dan jus jeruk, sepertinya kita harus waspada dan sesekali mencoba berkaca diri, dengan beberapa pertanyaan. Yang pertama, apakah nama dan produk mudah dilihat, dijangkau atau dipahami oleh calon pembeli.

Yang kedua, apakah nama-nama danm produk yang kita jual cukup dikenal oleh calon pembeli? Sebera banyak dan sering kita men-sosialisasikannya kepada publik? Menggunakan media apa saja? Apa indikator bahwa publik mengenal produk yang kita promosikan?

Yang ketiga, apakah pilihan produk atau daftar produk yang kita jual cukup banyak? Jika iya, bagaimana calon pembeli menjadi mudah untuk melihat dan memahaminya? Upaya mengelompokkan produk-produk yang banyak tersebut kedalam kelompok-kelompok sederhana pasti akan memudahkan calon pembeli dalam menentukan pilihannya. Pengelompokkan ini dilakukan di dalam daftar secara tertulis semacam daftar menu, daftar harga atau daftar lain. Lalu pengelompokkan yang sama juga dilakukan dalam pemajangannya.



Festival

Inilah salah satu cara memperkenalkan produk-produk yang kurang mendapat perhatian selama ini. Konsep festival dalam dunia makanan adalah suatu kegiatan promosi dimana dalam jangka waktu tertentu gerai makanan tersebut hanya menyajikan makanan-makanan yang di festivalkan. Maaf ini bukan perlombaan, tetapi semacam usaha untuk mengunggulkan menu yang dipromosikan tersebut. Misalnya selama bulan november, satu restoran akan menyelenggarakan festival pasta. Maka, selama bulan november tersebut, sajian yang ada adalah serbaneka pasta dengan kelengkapanya.

Dengan festival makanan seperti diatas, maka ada alasan untuk berpromosi. Ingat, promosi selalu memerlukan alasan. Jadi memberikan harga lebih murah atau menampilkan menu baru akan menjadi lumrah dan diterima masyarakat.

Konsep festival ini bisa diadopsi oleh bisnis-bisnis lain. Misalnya toko suku cadang dan aksesoris kendaraan bermotor, bisa saja sesekali mempromosikan produk-produk yang berhubungan dengan kendaraan off-road. Bisa saja selama masa festival tersebut ditampilkan produk-produk yang berhubungan dengan mobil off-road atau sepeda motor trail. Mulai dari mesin, suku cadang hingga aksesorisnya. Mungkin ditambah dengan pameran mobil atau sepeda motor tersebut. Dan sangat mungkin disajikan kegiatan-kegiatan kreatif yang berhubungan dengan tema tersebut.

Pada kesempatan lain, silahkah ganti tema-nya. Mungkin saja festival sound-siystem mobil, mungkin festival knalpot, festival cat dan sebagainya. Selamat mencoba.



Konsultasi & Pelatihanl tj@cahyopramono.com

Share:

Bahasa dan Transaksi

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 05 oktober 2009, di halaman bisnis dan teknologi.






”BU, berapa harga batik yang ini?” tanya seorang pembeli dengan logat Medan kepada seorang penjual kain di Pasar Bringharjo, Jogjakarta belum lama ini. Ibu penjual tadi menjawab, ”Silahkan mbak, hanya seratus enam puluh saja kok, murah...!”. Selanjutnya terjadi tawar menawar yang cukup alot dan harga finalnya adalah seratus dua puluh lima ribu rupiah.

Sedikit iseng, saya mendekati ibu penjual lagi dan bertanya sambil menunjuk batik yang persis ditawar oleh orang berlogat Medan tadi, ”Mbak yu, batik niki pinten reginipun njih?” (kak, batik yang ini berapa harganya ya?) lalu ibu penjual itu menjawab, ”Nek niku njih namung sangang ndoso gangsal mas!” (kalau itu ya hanya sembilan puluh lima ribu rupian, bang). Kaget sekali saya dengan jawaban itu. Saya lanjutkan menawar dan berakhir di angka tujuh puluh lima ribu rupiah.

Pengalaman serupa terjadi di Pasar Baru, Bandung. Saya bertanya ”Bang, baju ini berapa harganya ya? Saya mendapat harga yang bernilai enam puluh ribu lebih mahal dari kawan saya yang memulai bertanya dengan bahasa sunda, ” Kang, sabaraha hargi acuk ieu?”

Kisah serupa ketika berbelanja di Pasar Atas Bukittinggi, ”Bara harago sajadah iko uda? (Berapa harga sajadah ini bang?) Tanya seorang kawan yang fasih berbahasa minang, dan dijawab ”Murah sey nyo, cuma tigo puluah limo ribu rupiah” (murah saja kok, hanya tiga puluh lima ribu rupiah saja) Sementara wisatawan yang tidak berbahasa minang, mendapat sedikit perbedaan harga yang lebih mahal.

Inang, sadia sakilo mangga muna on? (Bu, berapa harga sekilo mangga ini?) Tanya seorang kawan bermarga Simanjorang saat mau membeli mangga di sudut kota kecil Parapat, dan dijawab ianng penjual mangga itu, "Mura do... Holan sapulu dua ribu ito!" (murah saja... hanya dua belas ribu rupiah saja), lalu kini sementara wisatawan lain yang tidak berbahasa Batak mendapatkan harga rata-rata delapan hingga sepuluh ribu diatas harga tadi.

Transaksi yang sama di pasar Buah Berastagi, untuk rekan yang berbahasa karo “Sekai erga manggandue nande?” Dia menadapat jawaban, ”Morah ngenca, pitu ribu lima ratus”. Harganya hanya tujuh ribu limaratus rupiah. Untuk yang tidak berbahasa daerah ini, biasanya akan mendapatkan harga yang lebih mahal tentunya.

Kisah-kisah tersebut diatas mengingatkan saya kepada perihal yang serupa di Pajak Krueng Geukueh, aceh utara, sekitar 15 km dari lhokseumawe. Pertanyaan yang sederhana, “Padub kupie nyo Nyak? “, jawabannya, “Murah mathong, nyan duablah ribe” (dua belas ribu rupiah saja). Sementara kawan yang baru datang dari jawa mendapatkan harga yang lebih mahal.



Bahasa dan persamaan

Ternyata ada perasaan sama begitu seseorag menggunakan bahasa yang kita gunakan. Ada perasaan senasib dan merasakan solidaritas teritorial yang semakin mendalam.

Persamaan dalam bernegosiasi menjadi hal sangat penting. Karena persamaan menuju pintu kepercayaan dan pintu kepercayaan membuka gerbang keyakinan. Kalau seseorang sudah yakin, saya pikir semua hal akan menjadi mudah dan lancar.

Penjual-penjual tadi, begitu mendengar bahasa pembeli yang tidak seperti bahasa kampungnya pasti langsung merasa bahwa tamu yang dlayaninya adalah orang lain, orag jauh yang tidak sering kali datang. Artinya, ada perasaan berani untuk sedikit tega memberikan harga yang lebih tinggi guna mendapatkan keuntungan yang lebih. Banyak orang berfikir bahwa para pembeli itu, mereka adalah wisatawan yang sesekali saja datang dan tidak setiap waktu akan datang lagi.

Inilah fenomena umum di daerah kunjungan wisata. Karena keyakinan bahwa seseorang tidak akan datang setiap hari, maka harga pun dipatok tidak wajar. Bukan hanya objek tujuan wisata, tetapi pos-pos seperti terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan saja sudah mengindikasikan mahalnya harga-harga.

Sebuah pola pikir mencari keuntungan sesaat yang berpotensi merusak citra daerah/lokasi tersebut. Hingga orang-orang akan menganggap bahwa daerah tersebut adalah daerah mahal.



kepastian harga

Dewasa ini, semakin jelas bahwa kemampuan menawar tidak dimiliki oleh banyak orang. Generasi muda penghuni perkotaan hari ini, cenderung tidak lagi pernah menawar jika ingin memberli sesuatu, karena mereka terbiasa berbelanja di supermarket yang harganya sudah pasti tanpa ada proses tawar menawar. Jangankan menawar, orang-orang kini bahkan berbelanja tanpa bercakap sama sekali, kecuali ucapan terimakasih dari petugas kasir pada saat membayar yang hanya dibalas dengan senyum sederhana dari pembelinya.

Jumlah orang-orang yang tidak pandai menawar semakin hari semakin besar dan sudah pasti mereka akan berusaha menghidari pasar tradisional yang tidak memberikan harga pasti.

Ini tantangan menarik bagi pengelola pasar tradisional dan pedagang yang masih tidak juga menggunakan pola harga pas dan tidak menyebutkan atau menunjukkan daftar harganya kepada publik.

Kepastian harga adalah jaminan bagi pembeli dan dengan jaminan itu, rasa percaya kepada penjual akan bertambah naik. Bagi sebagian penjual, kepastian harga kadang dianggap sebagai upaya membocorkan rahasia dari lirikan pesaing serta menutup peluang untuk mendapatkan keuntungan berlipat jika bertemu dengan pembeli yang ’bisa dikerjain’.

Kepastian harga saat ini itu menjadi sangat penting, karena jelas akan menghemat waktu, menghemat energi dan mempercepat pelayanan.

Yang terkahir, selain faktor kepastian, faktor persamaan diatas memang nyata adanya. Jadi memiliki karyawan bagian pelayanan dan penjualan dari berbagai latar belakang budaya, biasanya akan memberikan keuntungan kepada kita. Tentu saja, semua pasar dari berbagai eknik bisa dihandel oleh pegawai –pegawai tersebut.

Perihal bahasa ini, mengingatkan saya ketika berbelanja sendal jepit di Gorontalo, kami harus membayar sepasang sendal dengan harga sebelas ribu rupiah, tidak seperti kawan yang bisa berhasa daerah itu, “Barapa ini na'ale ini uwti? Yang dijawab penjualnya “Cuma murah uwti, bo wopato lihu limolo hetuto” (hanya empat ribu lima ratus rupiah saja)





konsultasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Bidik Pasar Ala Garuda

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 28 september 2009, pada halaman bisnis dan teknologi





KUETIAW daging sapi ini terasa amat lezat. Disajikan hangat dengan cara olahan yang khas. Tekstur daging sapinya lembut dan mirasa. Dressing-nya campuran saus Barbeque dengan sentuhan oriental.

Makan siang dengan menu kuetiaw daging sapi kali ini serasa seperti sedang menikmati fine dining di restoran Italia pemenang Michelin Star di sudut kota Brusell. Tak lupa hidangan penutup berupa es krim dalam skoop kecil, segar dan lembut menggoda. Petualangan kuliner ini menjadi lengkap dengan secangkir Kopi panas dan krimer yang tepat takarannya.

Mungkin sedikit berlebih, tetapi saya sungguh mendapatkan kenikmatan makan siang itu di pesawat GA 186 dari Jakarta ke Medan akhir pekan lalu. Kualitas makanan dalam kemasan mini itu sungguh tidak mengecewakan. Betapa penerbangan ini tidak salah memilih penasehat kuliner seorang William W.Wongso, seorang ahli kuliner yang sering berkelana keliling dunia menikmati dan mengekplorasi sajian-sajian berkelas.

Bukan sedang menyanjung penerbangan pembawa bendera negara ini, tetapi selain makanan, banyak fasilitas lain yang memudahkan pelanggannya, Mulai dari sebelum check-in, selama penerbangan hingga sesudah penerbangan. Walaupun itu terjadi pada saat super sibuknya arus mudik.

Semua orang percaya, bepergian pada saat musim mudik tidaklah nyaman, akan persis seperti di berita-berita televisi. Sebegitu hebohnya, hingga konon dalam waktu 2 minggu sudah tercatat lebih dari 450 orang meninggal dunia karena kecelakaan dalam perjalanan mudik. Belum lagi kesan berdesakan, berebut kursi, suasanan pelayanan sarana publik yang berengsek, tingkat kejahatan yang meninggi, macet, emosi dan berbagai hiruk pikuk perjalanan mudik lainnya.

Kembali kepada penerbangan tadi, jelas semua orang tahu, harga tiket yang di patok biasanya masih lebih mahal dari rata-rata yang diberlakukan oleh penerbangan lain, tetapi mengapa orang masih memilih Garuda ini? Ternyata ada pasar yang tidak sensitif dengan harga. Siapa tahu, anda sebenarnya berpotensi mengelola pasar yang ini, persis seperti pasarnya Garuda Indonesia.



Nilai

Kepergian saya meninggalkan kota Medan seminggu sebelumnya menggunakan Garuda Indonesia dengan pesawat jenis Boing 747-400. untuk memudahkan ingatan anda, pesawat ini memiliki ruang kabin bertingkat dengan daya angkut penumpang yang sangat banyak. Saya sendiri heran, untuk penerbangan domestik, Garuda menggunakan pesawat sebesar ini, artinya penumpangnya banyak dan bisnis sedang cukup baik tentunya.

Perjalanan ke Jogja dari Jakarta masih menggunakan maskapai yang sama dengan jenis Boing 747-800, pesawat yang relatif baru yang juga penuh penumpangnya. Lalu saya secara iseng bertanya kepada sekitar 8 orang yang saya temui dalam penerbangan tadi. Berikut alasan mereka mengapa mereka memilih penerbangan yang ‘mahal’ ini.

Saya coba rangkumkan secara sederhana dari pendapat mereka, yang pertama, mereka percaya bahwa maskapai ini kredibel dan profesional. Keyakinan itu begitu mendalam sehingga mereka mempercayakan perjalanan dan mungkin keselamatan nyawa-nya kepada maskapai ini.

Yang kedua, nyaman dan terjamin dalam layanan. Tingkat keterlambatan yang terus rendah. Kualitas layanan yang semakin baik. Mereka merasa yakin, jika mengeluh akan didengar oleh manajemen penerbangan.

Yang ketiga, dibanding yang lain cenderung lebih tepat waktu. Yang keempat, --ini menarik-- pelanggannya nggak rese, jadi terbiasa tertib hingga cenderung memudahkan pelayanan. Yang kelima, secara umum nilai yang didapat setimpal dengan uang yang dikeluarkan.

Saya ada mencatat beberapa komentar yang tidak saya klasifikasikan seperti; prestisius, menunjang gengsi, jatah perusahaan, rute dan waktu, serta pengaruh kawan-kawan seperjalanan.

Penasaran dengan komentar ke 8 orang yang saya temui, malam harinya saya menyebar pertanyaan kepada jejaring sosial saya melalui internet. Lagi-lagi, 70% responden memilih Garuda Indonesia untuk penerbangannya jika anggaran tidak menjadi masalah. Bukan tanpa keluhan, tetapi maskapai ini tetep menjadi top minded –menjadi urutan pertama dalam benak orang banyak--.



Peluang Bisnis Nilai

Lihatlah masih tetap ada banyak orang yang memilih nilai daripada harga. Lihatlah masih banyak orang yang tidak sekadar mau murah tanpa jaminan kualitas. Sadarilah bahwa diantara perang harga yang sering ditantangkan pesaing, masih ada pasar yang tidak menjadikan harga sebagai alasan utama.

Masih ada orang yang ingin merasa labih nyaman. Masih ada pasar yang ingin mendapatkan kemudahan, jaminan dan bantuan-bantuan. Jelas masih banyak orang yang ingin tampil prestisius, sehingga latar belakang transaksi yang dilakukanya sering menimbang faktor gensi.

Artinya, diantara sempitnya persaingan, mungkin kita harus tersadar, bahwa tidaklah kita harus ikuti semua pertempuran pasar. Tidak semua medan laga harus kita datangi, tidak semua persaingan harus kita ladeni. Karena ternyata jelas pasarnya masih ada hingga saat ini.

Penerbangan nasional Garuda Indonesia adalah salah satu bukti bahwa dimasa krisis seperti sekarang, masih ada orang yang memiliki uang serta mempunyai kekuatan beli dan yang lebih penting lagi adalah bahwa jumlah orang-orang ini tidak sedikit. Artinya, pasar dengan kemampuan beli itu jumlahnya banyak.

Indikator lain yang menunjukkan bahwa masih ada pasar ber-uang tersebut adalah tipe mobil yang mahal yang banyak berkeliaran di Kota Medan atau kota-kota lain di Sumatera akhir-akhir ini. Mobil-mobil impor itu berharga milyaran rupiah.

Indikator lain yang membuktikan bahwa pasar Sumatera masih potensial adalah bahwa hingga kini antrian untuk naik haji sudah penuh sampai tahun 2012, sementara kita tahu berapa biaya pendaftaran haji dan biaya untuk perjalanan ke tanah suci Mekah tersebut.

Konon, secara nasional pesawat telepon Blackberry beredar paling banyak di Kota Medan, artinya makin banyak orang memiliki kemampuan bayar dan peningkatan intelektual melalui dunia internet.

Sekarang, sambil memfokuskan pasar, kira-kira kemana lagi tujuan liburan berikutnya ya?



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Share:

Menghadapi ‘Orang-Orang Gila’

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada pada tanggal 14 september 2009 pada halaman bisnis dan teknologi





Berbisnis sebagi ibadah untuk memenuhi kebutuhan keluarga terkadang tidak berjalan dengan mulus karena ulah orang-orang gila yang mengganggu kita.

Sebutlah sekian kasus konflik merek dimana biasanya pemilik merek asli tidak mendaftarkan ke instansi resmi, lalu ada orang lain yang mengaku miliknya dan mendaftarkan merek tersebut serta mematenkannya, lalu si perampok merek ini menuntut pemilik merek asli dan mengajukan gugatan dengan tujuan agar mendapatkan uang dari kasus itu.

Sebutlah sekian banyak kasus di pengadilan yang berhubungan dengan tipu-menipu. Mulai dari pengingkaran kontrak, pengingkaran pembayaran dan banyak pengingkaran lainnya. Perkawanan bahkan persaudaraan pada awal kerjasama menjadi buyar dan hancul karena pengingkaran tersebut.

Sebutlah aksi-aksi persaingan busuk dimana salah satunya adalah upaya pesaing untuk mematikan pesaing lainnya dengan cara-cara penyebaran fitnah dan pembusukan karakter. Seperti kisah lama, pesaing jahat yang memasukkan kecoa kedalam makanan di rumah makan pesaing lainnya dengan tujuan menjatuhkannya.

Sebutlah oknum-oknum penguasa yang mengatasnamakan hari raya sebagai alasan untuk meminta yang bukan menjadi hak-nya. Sebutlah preman-preman jalanan yang memaksa meminta bagian sementara mereka tidak membantu apapun.

Sebutlah tingkah tetangga yang seenaknya memancangkan tiang bangunan dengan keras-keras di dekat kantor kita sehingga semua dinding menjadi retak dan terasa seperti gempa dan mereka tidak merasa bersalah sama sekali.

Sebutlah tetangga yang dengan sengaja membuang dan menumpukkan sampahnya di areal tanahnya yang tepat di depan toko kita sehingga pelanggan kita merasa tidak nyaman dan menjauhi kita.

Semua contoh tersebut diatas bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk mereka-mereka yang selama ini dikenal sebagai orang yang baik, bermasyarakat dan lain sebagainya. Situasinya seperti di jalan raya, jika kita tidak berhati-hati kita bisa celaka, dan saat kita sudah berhati-hatipun, tidak dijamin bahwa pengguna jalan yang lain juga berhati-hati. Kita bisa celaka karena ulah diri sendiri atau ulah orang lain yang tidak berhati-hati.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi mereka yang terntindas oleh ulah orang-orang gila yang mengganggu ketenangan bisnis dan kehidupannya sebagai bentuk ibadahnya kepada sang Khaliq. Dengan harapan agar mereka itu tetap tabah dan sabar dalam menjalani prosesnya.



Hukum Negara

Semua contoh diatas selayaknya diselesaikan secara hukum, sehigga jelas siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Lalu kemudian bisa dengan jelas ditentukan bagaimana hukuman bagi yang bersalah.

Sayangnya, kita –orang indonesia kebanyakan—tidak banyak mengenal dunia hukum dan tidak terbiasa bersabar dengan proses hukum yang bertele-tele, panjang, lama dan melelahkan. Dan dalam proses itu jelas akan keluar biaya-biaya.

Kebanyakan dari kita, cenderung ingin serba cepat dan efisien dan hukum berpihak kepada kita. Disinilah bisa terjadi ajang unjuk kekuasaan, unjuk uang dan bahkan mungkin unjuk rasa. Belum lagi, proses dan prosedur yang panjang dan tidak melihat latar belakang permasalahan, sehingga bisa saja si korban diadukan sebagai pelaku.

Untuk kasus yang demikian, mengunakan jasa pengacara atau orang-orang yang tahu hukum sangatlah tepat. Hindari mendengar suara-suara dari orang-orang yang tidak berkompeten. Mereka jelas-jelas hanya bisa berkomentar dan biasanya berpotensi menyesatkan. Tetapi berhati-hatilah memilih penasehat hukum, karena mereka juga manusia biasa yang juga berpotensi bermain gila.



Hukum masyarakat

Rasa malu sudah tidak lagi menjadi jiwa kita dalam bermasyarakat. Saya masih ingat betapa dahulu orang-orang selalu berusaha menghindari tindakan-tindakan yang bisa merugikan orang lain. Dahulu kita segan dan malu jika mengganggu tetangga. Dahulu kita bahkan berusaha untuk menyenangkan tetangga walaupun harus sedikit berkorban.

Rasa malu kita sekarang tidak lagi diukur dari hubungan dalam bermasyarakat, tetapi cenderung kepada pengutamaan kepentingan diri sendiri dan melupakan kepentingan bersama dalam bermasyarakat.

Sebagian dari kita konon tidak lagi merasa malu dikucilkan masyarakat. Sebagian dari kita justru berkeinginan tidak bergaul sama sekali, seolah-olah mereka bisa hidup sendirian.



Hukum Tuhan

Mungkin inilah yang jawaban terakhir bagi mereka-mereka yang tidak lagi mendapatkan jaminan hukum dari negara dan masyarakat. Kekuasaan Tuhan jugalah yang akan melindungi orang-orang yang dipilihNya. Dan kekuasaan Tuhan jugalah yang akan menghukum mereke-mereka yang berbuat salah.

Hukum Tuhan jelas pasti, hanya saja diperlukan kesabaran dan ketabahan serta ketidakputusasaan dalam menjalani prosesnya. Bagi mereka yang sabar dan tak putus asa, Tuhan pasti akan menunjukkan kuasa dan kebesaranNya.

Orang-orang gila yang saya maksudkan diatas adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa Hukuman Tuhan itu pasti. Mereka pikir, mereka labih Akbar dari Sang Pencipta dan orang-orang gila itu pasti akan mendapatkan balasannya –yang jauh lebih berat—dalam bentuk-bentuk yang ditentukan Tuhan.

Jikalah ada diantara anda ada yang sedang terzalimi oleh orang-orang gila seperti diatas, bersabarlah, iklaskan Tuhan menangani masalah anda. Biarkan si Gila itu menari-nari diatas airmata kita, karena itu tak kan lama. Azab Tuhan pasti segera akan dirasakannya. Hanya masalah waktu saja hingga si Gila itu jatuh kedasar neraka jahanam bahkan sebelum hari kiamat dan mereka akan terjerembab jatuh senista-nistanya!

Sekarang, mumpung masih di bulan suci, biarkan damai menguasai hati kita. Semua ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan adalah indikasi bahwa kita sedang dilanda krisis iman kepada Tuhan. Harus ditanamkan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan mendengar doa-doa hambanya. Apalagi doa mereka-mereka yang tertindas atau terzalimi. Tetaplah berusaha dan jangan pernah menyerah, berusahalah dengan cara yang terbaik, bisnis dengan batin yang jernih dan hidup dengan kedamaian yang utuh.

Maklumi saja kegilaan mereka dan berdoalah agar kegilaan itu segera sembuuh dan dengan tuntunan Tuhan, bisnis kita kelak akan lebih berjaya lagi seteleh lewat masa sulit ini. Semoga.... amin...



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

E-Mail untuk Promosi

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 07 september 2009 pada halaman bisnis dan teknologi



ELECTRONIC mail atau yang sering disingkat dengan e-mail adalah surat elektronik yang menggunakan jaringan internet. Prosesnya hampir sama dengan surat biasa, yang membedakan adalah bahwa e-mail tidak perlu perangko, tidak perlu di cetak, tidak perlu anvelope dan bisa diterima oleh alamat tujuan dalam hitungan detik. Kemudahan dan kecepatannya membuat e-mail menjadi keharusan bagi para pemakai internet.

Sebelum lebih lanjut, saya memohon maaf kepada para pembaca yang belum ramah dengan internet, karena topik ini akan mudah dipahami bagi mereka yang sudah melakukan aktifitas menggunakan e-mail.

Baiklah, e-mail itu langsung tertuju kepada orang tertentu, artinya tingkat efektifitasnya lebih tinggi. Ibarat menelepon ke Handphone yang langsung dijawab oleh pemiliknya dari pada menelepon ke nomor rumah yang dijawab oleh siapa saja sebelum orang yang benar-benar kita tuju. Karena sasarannya personal, maka email menjadi cukup efektif untuk menyampaikan pesan-pesan pemasaran.



E-mail marketing

Media komunikasi apapun yang digunakan untuk berpromosi, tidak boleh mengabaikan profil karakter penerima pesannya. Berbicara mengenai perilaku penerima e-mail, secara umum juga persis seperti penerima surat biasa, mereka akan medahulukan surat-surat personal yang penting, surat-surat tagihan dan baru kalau ada waktu membaca surat promosi.

Orang pasti akan memilih mendahulukan membaca surat yang mana jika yang datang setumpukkan jumlahnya. Orang pada akhirnya mau menerima pesan-pessan sejauh cocok dengan pikiran dan perasaannya. Orang juga tidak suka dengan Spamming (tindakan mengirimkan email kepada ribuan orang yang tidak meminta). Masalahnya adalah, semakin banyak orang menerima e-mail, semakin sedikit mereka menaruh perhatian pada masing-masing isi e-mail tersebut.

Maka untuk tampil beda, para pemasar online harus berupaya untuk menarik perhatian dari para tagetnya. Argumen salah yang sering dikatakan adalah: "Jika saya berteriak lebih keras dan lebih sering, pasti para calon pelanggan akan mendengarkan saya." Kalau sekadar terdengar memang betul, tetapi terdengar bukan berarti didengar. Apa reaksi mereka dan tanggapan mereka terhadap banjir e-mail tersebut? Apakah mereka akan senang? Atau sebaliknya mereka akan mengatakan dengan mengirim e-mail balik “Keluarkan aku dari daftar e-mail Anda dan jangan kirimi lagi!"



5 kaidah

Lima hal berikut ini adalah poin-poin penting yang harus dihindari pemasar via e-mail. Pertama e-mail promosi yang bertele-tela. Beberapa e-mail promosi cenderung bertele-tele, dengan penyampaian yang tidak langusng ke tujuannya. Hal ini menyebabkan penerima harus melakukan “scroll down”. Karena itu ingatlah bahwa e-mail Anda bukanlah satu-satunya e-mail yang sampai di inbox mereka, dan kata-kata Anda hendaknya singkat dan “to the point”.

Kedua e-mail promosi yang tidak fokus. Pemasar kadang berfikir serakah, mereka ingin semua-semua hal bisa disampaikan dalam satu lembar surat itu. Mereka tanpa diminta menawarkan sejumlah item atau produk atau pun jasa dan tidak fokus pada satu inti penawaran dan para penerima e-mail disuguhkan banyak pilihan item yang tidak mereka perlukan. Pesan yang tidak fokus akan membuyarkan perhatian penerima dan tidak memiliki daya tarik yang baik.

Ketiga e-mail yang terlalu Sering. Beberapa orang berdalih bahwa kunci untuk pemasaran e-mail yang berhasil adalah frekuensinya. Karena itu mereka mengirimkan email promosi sesering mungkin. Sebagian dari mereka berfikir bahwa dalam pemasaran tradisional agar pesan iklan Anda tetap diingat, Anda harus sering menampilkannya sesering mungkin. Dan dalam pemasaran offline, memang begitu seharusnya, namun pemasaran online sama sekali berbeda. Anda bisa bayangkan bahwa masyarakat sudah terlalu sering dibombardir dengan pesan-pesan komersial di TV, Radio, Reklame dan Koran, kemudian Anda membombardir mereka lewat e-mail. Akibatnya Anda akan mendapat reputasi buruk dan mereka akan melewatkan e-mail Anda begitu saja tanpa membacanya dan akan mengabaikannya di kemudian hari sewaktu menerima e-mail Anda pula.

Keempat e-mail yang salah alamat. Karena biaya mengirim promosi via e-mail dirasa murah, mereka lupa akan perlunya menerapkan strategi segmentasi dan membidik target market yang relevan. Akibatnya adalah para calon pelanggan Anda itu sama sekali tidak berminat dengan tawaran Anda. Coba bayangkan anda membuka salon keriting rambut di Papua. Apakah anda pikir akan banyak pelanggannya? Jelas tidak, karena mayoritas orang Papua berambut keriting.

Kelima e-mail promosi yang tidak menarik. Membaca teks surat yang ditulis dengan baik biasanya menyenangkan dan mudah dibaca. Untuk itu tulislah dengan jelas, sederhana dan penuh rasa hormat. Penulisan e-mail promosi yang buruk adalah rintangan yang besar bagi para penerima surat untuk menuangkan perhatian mereka pada e-mail yang Anda kirim.

Pastikan Anda memiliki teknik menulis yang baik, lakukan perenungan dan tidak tergesa-gesa. Jika perlu lihat contoh-contoh lainnya atau ajak pihak lain untuk membantu anda.

Inbox adalah tempat yang bersifat pribadi, dan di situlah Anda dapat menjumpai calon kastemer Anda dan berbicara dengannya secara individu. Maka apabila tulisan e-mail promosi Anda tidak menghormati kaidah di atas maka e-mail Anda tidak akan dibaca. Persis seperti sebuah proses menawarkan barang dagangan, prinsip bagusnya adalah jangan terlalu banyak meminta namun seolah-olah lebih banyak memberi. Pastikan penulisannya memiliki nilai yang bermutu bagi si penerima e-mail. Gunakan rasio isi e-mail 80% : 20% artinya 80% berisi hal yang berguna bagi penerima pesan dan 20% berisi penawaran Anda. Itu yang disebut dengan menghormati calon pelanggan yang telah dengan senang hati membuang waktunya untuk membaca pesan anda.



Media jejaring sosial lain

Sama dengan e-mail, saat ini banyak sekali media jejaring sosial seperti face book, friendster dan lain sebagainya. Tentu saja jejaring itu juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi media promosi. Saya pikir prinsip kerjanya sama dan kaidah tersebut diatas juga cukup tepat diterapkan untuk media-media tersebut.





Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive