it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

9.8.10

Kena Denda

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan. pada hal bisnis dan teknologi pada tanggal 12 April 2010

“AWAS pak, jangan sampai terlambat, yang sekarang dendanya Rp.1.000.000,-” begitu kata seorang konsultan pajak mengingatkan laporan SPT saya. Ternyata kawan-kawan saya masih juga ada yang telambat melaporkan SPTnya. Walah....

Cerita denda dan penalti ini menjadi percakapan kami ketika itu. Kini sudah menjadi jamak diberbagai kesepakatan bisnis yang mencantumkan ancaman denda jika ada pihak-pihak yang tidak menepati janji dalam kesepakatannya. Ada seorang kawan yang menjadi pemborong proyek-proyek properti juga benar-benar memikirkan fenomena tersebut. Ia pernah dua kali menanggung denda itu, gara-gara terlambat menyelesaikan proyeknya. Dendanya pun tidak sedikit, salah satunya bahkan sempat tidak menyisakan sedikitpun keuntungan untuk dirinya.

Seorang rekan yang menjadi pemasok barang dagangan di beberapa pasar modern juga mendapati hal yang sama. Ia harus membayarkan denda jika ia tidak sanggup memasok sesuai kebutuhan yang disepakati bersama dengan pihak pasar modern tersebut.

Kasus yang sama juga di alami rekan-rekan eksportir, jasa ekpedisi, bahkan manajer artis. Bisnis pad dasarnya dilakukan untuk mencari laba, tapi apa lacur kalau ternyata laba itu kandas gara-gara denda yang besar.

Dalam perkara kecil tetapi bisa menjadi besar adalah pemutusan aliran listrik dan air PDAM jika kita telat membayarkan tagihannya, sama seperti sambungan telepon. Sepertinya urusan sepela itu justru bisa mengakibatkan keluarnya biaya yang lebih besar, waktu yang lebih banyak dan operasional yang terganggu karena putusnya aliran itu.

Mungkin anda juga pernah mengalami adalah keterlambatan pembayaran kartu kredit yang mengakibatkan denda yang lebih besar. Sesuatu yang harusnya bisa dihindari tapi kadang kita tidak menyadarinya.

Masa berlaku KTP dan SIM biasanya di set sesuai tanggal kelahiran pemiliknya, tapi tidak sedikit orang yang terlewat tidak memperpanjangnya. Hingga akhirnya denda dan biaya proses pembuatan yang baru menjadi lebih repot dan memakan waktu.

Masalah waktu tidaklah berdiri sendiri, karena otomatis akan bersinggungan dengan biaya langsung dan kerugian pemanfaatan waktu untuk hal yang lebih bermanfaat dan menghasilkan uang.



Lalai

Konon asal kata manusia adalah dari bahasa Arab –nasia—yang bermakna lupa. Jadi sangat manusiawi jika kita memiliki potensi lupa dan lalai. Karakter lain dari manusia adalah ketidakmampuannya untuk mendua. Sangat jarang seseorang bisa mengerjakan banyak hal bersamaan dengan kesadaran penuh.

Sekarang cobalah anda julurkan tangan dan acungkan jempol ke atas. Lalu lihatlah jempol itu, jika anda menyadari saat itu juga anda tidak mampu melihat dengan jelas benda-benda lain yang jaraknya lebih jauh dibalik jempol anda. Sebutlah ada lemari pakaian yang terletak 5 meter di depan anda, pada saat anda melihat lemari itu –dalam keadaan tangan masih menjulur—pasti jempol anda tidak akan terlihat dengan jelas. Bagi saya, itu bermakna bahwa kita tiada bisa mendua.

Artinya, sangat mungkin kita terlupa untuk memperhatikan hal-hal kecil seperti jatuh tempo SPT pajak, perpanjangan karti SIM, STNK dan KTP.

Kecuali, kita memposisikan diri menjadi lebih awas, waspada dan penuh perhatian. Atau kita membekali diri kita dengan alat-alat pengingat. Seperti kita menyetel jam weker untuk membangunkan tidur kita.



Alat bantu

Menyadari kerugian yang lebih besar dan kerusakan yang lebih parah, sepertinya kita harus memiliki kemampuan manajemen diri dalam hal kewaspadaan dalam mengingat sesuatu baik itu berupa janji atau kesepakatan-kesepakatan lainnya.

Mengingat kemampuan kita yang terbatas, maka perlu di buat alat-alat bantu pengingat. Karakter pengingat tersebut haruslah sesuatu yang bisa dilihat setiap waktu, dapat diperbaharui setiap waktu dan memberikan informasi lebih awal dari sebelum jatuh tempo pekerjaan atau hal yang dimaksudkan untuk diingat.

Jaman dahulu dan mungkin sekarang pun masih digunakan banyak orang, yaitu menuliskan pengingat itu di kalender yang tergantung di dinding atau di meja kerja. Sayangnya media ini tidak bisa memuat banyak tulisan dan tidak mudah dibawa-bawa. Artinya jika ada janji dan tidak sedang di meja atau dekat dinding tempat kalender itu, jelas kita sulit menuliskannya.

Lalu ada alat lain berupa agenda. Agenda ini berupa buku, tapi bukan buku kosong seperti notes. Buku Agenda ini sudah tercetak didalamnya hari, tanggal dan kolom-kolom pembagian jam sepanjang tahun. Buku agenda ini masih jauh lebih baik daripada menuliskan sesuatu dai kalender. Buku agenda bisa dibawa kemana-mana. Hanya saja setiap tahun kita harus mengupdate secara manual. Kita harus menuliskan lagi hal-hal rutin tahunan, seperti ganti KTP, ulang tahun keluarga atau kerabat dan lain sebagainya.

Bagi anda yang sudah memiliki alat digital berupa komputer, telepon genggam pintar atau perangkat sejenisnya yang memiliki fasilitas agenda, anda bisa mengkondisikan sekali memasukkan data yang bisa digunakan selama bertahun-tahun kemudian. Dan kelebihan lain dari alat digital ini adalah kemampuannya memberikan alarm atau tanda-tanda yang bisa mengundang perhatian seperti bunyi-bunyian sembari memunculkan tanda pengingat sesuai yang anda kehendaki pada waktunya.

Bahkan kini alarm pengingat in bahkan bisa disimpan secara maya didunia internet.



Aturan kesepakatan

Kembali kepada bahaya dan kerugian jika harus berurusan dengan denda. Selain membangun kewaspadaan diri, sebenarnya ada hal lain yang perlu diperhatikan dengan serius. Yaitu pada saat membangun kesepakatan dengan pihak lain yang berakibat penalti dan denda.

Hal penting itu adalah pada saat menetukan tenggat waktu. Berhati-hatilah! Cermatlah menghitung kemampuan dan kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi terpenuhinya janji.

Ini menjadi penting karena jika kita mematok waktu lebih panjang, tentu partner bisnis tidak suka dan berpotensi lari ke pesaing kita. Kalau waktu yang di pator terlalu cepat dari kemampuan wajar kita, tentu kita terancam penalti itu.

Yang pasti, usahakan berjanji sedikit lebih lama dari kemampuan kita, agar kita memiliki cadangan waktu jika ada hal-hal yang terjadi diluar kendali kita.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com





Share:

Nasi Bungkus

http://i49.photobucket.com/albums/f296/ayinda/IMG_6100.jpg
tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis tanggal 05 April 2010

SEBUNGKUS nasi hangat dengan sejumput sayur, sepotong lauk, sesendok sambal dan setakaran kuah di sajikan dalam bungkusan daun pisang. Ehm..... lezat....

Gulai dan kari secara otomatis tercampur dengan sempurna tanpa harus menghabiskan sepiring gulai atau kari. Memakan nasi bungkus juga tidak memerlukan formalitas dan basa-basi yang tidak perlu. Tidak harus berdandan untuk makan di restoran, tidak perlu mengeluarkan biaya lebih banyak, tidak harus menggunakan banyak piring sajian, tetapi sudah membuat kenyang dan terasa mantap. Habis itu, tak perlu lagi mengeluarkan energi dan biaya untuk mencuci piring, tinggal dibuang. Ringkas! Itulah sebabnya, hingga kini nasi bungkus masih menjadi pilihan banyak orang.

Nasi bungkus di konsumsi hampir semua kalangan dari semua level kasta sosial, latar belakang budaya dan keyakinan. Dari tua hingga yang muda. Sayangnya masih banyak rumah makan yang tidak memperhitungkan potensi ini. Mereka masih saja mengunggulkan tamu-tamu yang datang dan makan didalam restorannya.

Take Away

Bahasa pebisnis kuliner menyebutkan bentuk bisnis nasi bungkus dengan istilah take-away –dibawa pulang--. Selain dine in —dimakan di dalam resotan--, delivery—pengantaran--, kali ini, kita akan bahas lebih dalam tentang model membawa pulang makanan.

Jelas bahwa pembeli memiliki selera yang berbeda-beda. Ada yang ingin makan langsung di restoran yang mereka kunjungi, ada juga yang ingin dilayani dengan pengantaran hingga ke pembeli serta ada juga pembeli yang datang ke restoran dan membeli makanan untuk dibungkus dan dibawa pulang.

Dalam paradigma para pengusaha makanan, nasi bungkus kadang diposisikan dalam pandangan yang salah. Mereka menganggap bahwa nasi bungkus bukanlah sumber pemasukkan yang bagus, tentu saja karena alasan harganya murah.

Tetapi perlu dipertimbangkan hal-hal berikut ini; yang pertama bahwa nasi bungkus yang dibawa pulang, itu tidak memerlukan tempat yang banyak, tidak perlu meja, tidak perlu kursi dan tidak perlu ruangan yang luas. Dalam hal ini, kebutuhan logis dari penyediaan tempat menjadi berkurang, misalnya biaya penerangan biaya pendingin ruangan dan air jelas menjadi minimal. Ruangan yang tidak digunakan oleh pembeli nasi bungkus, jelas bisa dimanfaatkan untuk tamu-tamu lain.

Kedua biaya nasi bungkus juga cenderung lebih sedikit, lihatlah bahwa sayuran dan kuah biasanya ditaruh dengan ala kadarnya saja. Tidak seperti nasi kotak yang didalamnya ada setakaran/porsi sayuran dan kuah serta lauk yang volumenya jauh lebih besar daripada nasi bungkus. Lalu, nasi bungkus juga tidak memerlukan biaya piring dan ongkos pencuciannya.

Yang ketiga, konsep nasi bungkus tidak memerlukan pelayanan yang banyak dan memakan waktu lama. Hanya diperlukan penerima order, pembungkus dan kasir. Tidak lebih.

Yang keempat, konsep nasi bungkus memberikan efek promosi keluar dari lokasi rumah makan. Karena bungkus makanan tersebut dilihat oleh orang-orang lain di tempat-tempat lain juga.

Yang kelima dan yang paling penting adalah bahwa pasar hingga saat ini masih menyenangi konsep nasi bungkus ini. Artinya pasarnya sudah tersedia.
Optimalisasi

Melayani pembelian model nasi bungkus jelas sesuatu yang menguntungkan, asal benar-benar diamati dan diperhatikan. Konon, restoran cepat saji dari Amerika yang berlogo huruf M, justru mendapatkan omzet terbesarnya dari penjualan paket makanan yang paling murahnya. Lalu penjualan dengan sistem drive through (penjualan dengan cara melayani pembeli langsung ke jendela mobil pembeli, artinya penumpang tidak perlu turun) juga semakin hari semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Mengamati kenyataan tersebut, kenapa tidak dicoba dioptimalkan pola penjualan nasi bungkus itu? Yang saya maksud dengan optimalisasi adalah, diusahakan sebuah strategi untuk meningkatkan omzet dan keuntungan dari penjualan dengan tipe ini. Berikut pemikiran saya;

Yang pertama; tempatkan pembeli pola nasi bungkus juga sebagai pembeli yang memerlukan layanan wajar dan baik. setidaknya ada tempat duduk yang nyaman untuk menunggu giliran dilayani. Syukur-syukur bisa diberikan tempat yang sejuk dan sekadar minuman.

Yang kedua Mudahkan sistem pelayanan, dari proses order, nenunggu hingga membayarkan. Sudah saatnya dihindari proses mengantri dengan berebut untuk diyalani. Konsep menggunakan nomor urut juga bisa diaplikasikan untuk memberikan giliran yang adil. Bukan mendahulukan mereka-mereka yang bersuara lantang atau yang berbadan besar saja. Selanjutnya perlu diatur posisi pemesanan, posisi pengambilan pesanan hingga posisi kasir, agar alur perjalanan pembeli tidak berbelit, memutar atau bolak-balik. Ini penting agar pembeli menjadi lebih mudan sekaligus mempercepat proses layanan.

Sistem pembayaran selayaknya dipermudah, misalnya ada semacam nota khusus dari pihak pembungkus yang menyebutkan nilai transaksi, sehingga pembeli segera tahu berapa uang yang harus dibayarkan kepada kasir.

Yang ketiga aturlah posisi pembeli agar mudah melihat produk yang dijual dalam pajangan, sehinga mereka dengan mudah memilih sesuai dengan seleranya. Melihat langsung produk yang mau dibeli biasanya memberikan efek kepuasan tersendiri. Disamping kita bisa menyarankan produk untuk dibeli jika pembeli terlihat belum menentukan pilihannya.

Sangat penting, agar penerima order bisa menawarkan pesanan lain yang mungkin berhubungan dengan pesanan awal, misalnya pembeli hanya meminta nasi bungkus, mungkin bisa ditawarkan hidangan penutup berupa buah atau pudding, agar nilai penjualannya lebih banyak lagi.

Promosi

Tentu saja, promosi adalah hal wajib agar produk yang kita luncurkan mendapat tanggapan baik dari pasar. Memberikan daftar menu dalam ukuran brosur kecil kepada pembeli nasi bungkus juga cukup cerdas, karena diharapkan orang-orang yang menitip beli nasi bungkus juga tahu , produk apa saja yang disediakan.

Menawarkan kepada tamu-tamu yang makan di dalam restoran untuk membawa pulang makanan juga bisa dilakukan, sambil memberikan selebaran pemberitahuan bahwa kini sudah ada jasa nasi bungkus dengan pelayanan yang lebih baik.

Selamat mencoba...!





Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

26.7.10

Warna dalam pemasaran

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 29 maret 2010, pada kolom inspirasi di halaman bisnis dan teknologi
foto: na
KEINDAHAN rasanya mucul dari keberagaman. Salah satunya adalah warna. Sepertinya gairah hidup kok nggak akan tercipta kalau yang terlihat hanya satu warna saja. Bayangkan betapa membosankan jika semuanya hanya terlihat putih atau hanya terlihat hitam saja untuk waktu yang lama.

Warna sangat berpengaruh kepada emosi dan perilaku. Sepertinya setiap warna memiliki kekuatan dan daya dorong emosi yang berbeda-beda. Seperti warna-warna bendera kebangsaan, warna-warna itu memainkan perasaan kita sehingga kita ’diarahkan’ untuk berperilaku seperti muatan warna tersebut. Warna bisa menggugah emosi dan suasana hati, mampu menciptakan kesan, menyampaikan pesan, bahkan menggugah ingatan.

Warna merupakan unsur pertama yang terlihat dan mudah diingat. Saya terkadang lebih sering ingat baju seseorang yang baru saya kenal ketimbang namanya. Bukankah begitu?

Lalu, apakah anda menyadari, bahwa mode warna tertentu secara serempak membanjiri pasar, dicari, dan dikenakan orang, lalu selang beberapa waktu kemudian digantikan warna-warna lain.

Kecenderungan warna yang bergonta-ganti tidak hanya terlihat dalam busana atau produk mode saja, melainkan juga di pernak-pernik dan dekorasi rumah, peralatan elektronik, grafis, berbagai produk konsumen, otomotif, dan sebagainya. Itulah tren warna, yang dalam kehidupan modern sekarang ini, semakin berperan dan tak mungkin lagi diabaikan.

Kini warna bukan saja menjadi sekadar ‘penghias’, tetapi sudah menjadi peluru untuk kepentingan pemasaran. Produsen-produsen besar, tidak asal memberi warna produknya, tetapi mereka benar-benar memperhatikan pasar dan tren yang disenangi pasar.

Bagi para produsen, warna adalah unsur penting yang harus ikut berubah mengikuti perkembangan berbagai bidang. Dengan mengubah warna, baik sedikit maupun total, kesan dan suasana yang hadir pun jadi baru. Dan atas nama pasar, kini tren warna menjadi panduan penting bagi produsen yang nantinya dimodifikasi sesuai kebutuhan dan ciri produk.

Bukan mengherankan bila konon, riset menunjukkan bahwa sekitar 65 persen keputusan belanja konsumen ditentukan oleh warna dan kemasannya.

Tren warna

Di Negara maju umumnya memiliki kelompok-kelompok yang mempelajari dan mengembangkan arahan warna. Mereka adalah para designer dan ahli perancang warna. Mereka berlatar belakang mode, dan berbagai industri yang berkaitan dengan warna. Di negara barat sana, mereka membuat pertemuan setahun dua kali untuk menentukan tren warna.

Dalam pertemuan pendahuluan sebelumnya ada studi dan kajian mengenai warna-warna yang berpotensi menojol di pasar atau merencanakan warna-warna yang akan tampil di pasar dalam siklus berikutnya. Mereka melakukan pertemuan berkali-kali dan hasil kajian itu dikemas dalam bentuk Color Forecast atau "Prediksi Warna" yang akan berlaku untuk 18-24 bulan ke depan. Dari sinilah demam warna dunia dimulai.

Dari sanalah media-media yang berhubungan dengan mode memulai kiprahnya. Ada semacam mekanisme yang beruntun hingga akhirnya warna-warna itu mewabah mewarnai berbagai produksi baru di seantero jagad. Tidak heran, jika kini ada rumah mungil di sudut Pulau Samosir yang menggunakan warna-warna minimalis.

Tidak Pasti sama

Tentu saja kesepakatan warna para perancang itu tidak serta merta menjadi warna dunia. Karena media informasi dan komunikasi yang semakin merata serta media transportasi juga semakin mudah, maka trend warna yang diluncurkan itu relatif bisa bergerak cepat menjangkau seluruh penjuru dunia dalam hitungan bulan.

Dan sudah pasti trend warna tersebut tidak otomatis teraplikasikan di seluruh penjuru dunia. Masing-masing daerah akan menyesuaikannya dengan warna-warna kultural yang mereka anut. China dengan warna merahnya dan Arab dengan warna putihnya jelas sulit tergantikan. Walaupun warna-warna itu bermain dibidang lain, seperti kendaraan, elektronik, rumah dan lain sebagainya.

Aplikasi

Nah, sekarang saya ingin mengajak anda memikirkan penerapannya untuk bisnis kita sendiri. Mungkin bagus jika kita mulai mengamati kembali pewarnaan kita. Baik dalam bentuk produk, kemasan, bahasa promosi, kantor ataupun seragam. Sebelum melihat referensi warna-waran terbaru. Amatilah apakah warna itu cukup memberikan pengaruh rasa positif?

Lalu langkah yang berikutnya adalah mengamati bagaimana harapan pasar terhadap warna tersebut. Apakah sudah saatnya untuk diubah dan diperkenalkan ulang? Efek apakah yang anda harapkan dari perubahan warna tersebut.

Bagi anda yang menghedaki pemahaman tentang warna dan efeknya, saya pikir ada lebih dari 10 buku yang beredar di pasaran yang membahas masalah ini secara detail. Belum lagi majalah-majalah mode yang terus bergerak memberikan informasi terbaru.

Referensi tersebut akan membahas secara detail makna-makna warna dan pengaruhanya, seperti; warna kuning mencerminkan sifat ceria, kegembiraan, santai, mempunyai cita-cita yang tinggi seperti sifat matahari yang ada di tempat tinggi, terlihat indah, menghangatkan dan memberikan ilmu pengetahuan. Bisa mengubah perasaan yang sedang murung menjadi lebih ceria dan bersemangat.

Jingga bersifat komunikasi karena membawa keceriaan, kegembiraan, kehangatan, rasa humor dan keakraban di dalam ruangan sehingga baik sekali untuk meningkatkan kreativitas dan semangat di ruang kerja dan bisa meningkatkan konsentrasi di ruang belajar.

Biru memberi kesan menenangkan, damai, memberikan efek yang dapat memperlambat denyut jantung, menurunkan tekanan darah, menghapus stress, dan membuat kita dapat bernafas lebih dalam, tentunya dengan penggunaan warna biru yang tepat dan tidak berlebihan.

Hijau bisa meningkatkan rasa bangga. Warna ini mampu memberikan efek sejuk pada mata seperti halnya warna biru dan putih. Hijau identik dengan warna modern yang mampu menguatkan kesan futuristik dan kecanggihan teknologi.

Kini, tren warna global adalah; terang Irma, palet warna dilatarbelakangi isu lingkungan dan kebutuhan akan stabilitas akibat situasi yang tidak pasti. Warna-warna yang muncul bisa terang (jingga, kuning, hijau daun), lembut (peach, lavender), keras (fuschia, merah), dan gelap (hijau gelap, abu-abu tua) sebagai cerminan kompleksitas warisan budaya etnik Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika.



Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



*diolah dari berbagai sumber


Share:

Rasa Lezat itu di Mata

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 22 maret 2010



Sobekan pisau tajam si Koki mengiris tipis kebab yang menjulang itu. Asap beraroma sedap sedikit mengepul dari tumpukan daging panggang ala timur tengah itu. Dari bentuknya, saya bisa merasakan betapa lembut daging itu. Dengan melihat meleleh minyaknya saya bisa merasakan resapan bumbu-bumbu sedapnya, belum lagi saus pedasnya. Ehm... lidah saya bermain memberi tanda bahwa makanan itu lezat.

foto: mike.brisgeek.com
Pada saat yang sama, hati saya bimbang karena disebelahnya ada stall kambing guling yang hangat segar diatas panggangan, lalu stall makanan pasta yang berisi belasan jenis pasta yang didominasi mie. Baik mie asia maupun mie dari eropa, mau di kukus, di rebus atau digoreng, semua terserah selera si pemilih. Disudut ada stall piza yang dikerjakan secara terbuka didepan tamu-tamu lengkap dengan oven yang diset seperti tungku bakar asli.

Disudut yang lain hidangan penutup menawarkan banyak pilihan dari es krim, berbagai jenis tiramusi, kue-kue tradisional hingga buah-buahan segar. Pada saat itu saya terprofokasi oleh kelezatan makanan dan minuman bahkan sebelum saya mencicipinya.

Tata letak makanan, tata cahaya hinga tata pewarnaan tampilan makanan, benar-benar mengundang selera yang dasyat walaupun saya belum mencicipinya. Ya bahkan sebelum saya mencicipinya.

Sebelum dicicipi

Bayangkan anda sedang memegang sebuah daftar menu sesaat sebelum anda memesan makanan. Pada saat itu anda ingin sekali makan ayam panggang, dan disana hanya ada dua pilihan menu yang berhubungan dengan ayam. Pilihan pertama adalah Ayam Panggang Kalasan dan yang kedua Ayam Panggang Gosong. Saya yakin kita akan memilih menu pertama. Dalam hal ini bukan karena pilihan pertamanya memang lezat, tetapi jelas pilihan yang lain adalah ayam yang gosong. Dalam pikiran kita, gosong berarti terbakar habis dan seperti menjadi arang, arang itu jorok dan pahit. Jadi, pasti ayam panggang gosong bukanlah menu yang pantas utuk dipilih. Itulah salah satu bukti bahwa kelezatan itu bermula dari mata.

Kemudian, jika anda melihat daftar menu yang juga menampilkan foto dari makanan yang disajikan, pasti kita akan lebih mudah memilihnya. Dari tampilan foto itu kita bisa mengira-ira besaran porsi, apa saja yang ditampilkan di permukaan makanannya dan dari warna dan bentuknya, kita bisa ‘merasakan’ lezat dan tidaknya sebuah makanan atau minuman. Hanya dengan gambar itu, bahkan kita bisa membayangkan kelembutan tekstur makanannya, kerenyahan serta tingkat pedasnya. Wow....

Persis seperti pada siang hari di bulan Ramadhan, rasanya semua makanan dan minuman yang tampil di pesawat televisi adalah makanan dan minuman yang amat lezat. Jika itu minuman, bahkan kita bisa seolah-olah bisa merasakan dinginya tetesan embun yang mencair di badan gelas minuman itu. Warna-warna minuman itu terasa memberikan gambaran tingkatan rasa manisnya. Dan jika itu menyangkut rasa buah-buahan, warna-warna yang digunakan dalam iklan tersebut rasanya seperti menghadirkan nuansa buah yang dimaksud. Dan kita langsung memahami kelezatannya.

Artinya, ilustrasi menu makanan menjadi unsur penting dalam membantu terpromosikannya pilihan menu tersebut.

Kini, banyak sekali rumah makan yang menawarkan kesempatan kepada tamu-tamunya untuk melihat langsung proses pembuatan makanannya. Baik berupa front cooking (masak langsung didepan meja tamu) maupun menggunakan dapur transparan yang kadang hanya terbatasi oleh sebilah kaca jernih sehingga orang bisa melihat langsung kedalam dapur. Konsep ini menantang, karena dituntut untuk masak dengan tontonan. Artinya pihak restoran memotifasi dirinya untuk selalu tampil bersih, higenis, teratur dan atraktif, karena semua orang bisa melihat prosesnya secara langsung.

Seperti cara jugling (memainkan gelas, botol pengkocok dan botol minuman dalam bentuk atraksi) oleh bartender, proses mempersiapkan makanan dan minuman menjadi hiburan tambahan. Dan pada saat yang bersamaan tamu-tamu tidak merasa bosan menunggu dan bahkan menstimulasi rasa lezat sebelum memakannya nanti.
Berhati-hati

Berhati-hatilah dengan konsep terbuka ini. Tidak semua orang bisa menerima teknik proses pembuatannya. Ada beberapa proses yang harus dilakukan dengan sentuhan tangan langsung. Misalnya pada saat pengadonan dan saat penyajian. Tangan yang tanpa pembungkus berpotensi mengundang bermacam-macam pikiran. Tentu ada yang bagus dan ada juga yang nyleneh dan menjijikan. Belum lagi badan si pemasak, jika rambutnya terurai berantakan tanpa penutup kepala, jelas itu mencurigakan, anda bisa menafsirkan ketombe atau rambut yang jatuh bukan?

Sekarang banyak sekali tayangan program kuliner di televisi nasional. Bagus sekali ide program ini, tetapi kadang mereka lupa bahwa kebanyakan makanan enak itu diproses dengan cara yang tidak kita terima secara preferensi. Misalnya makanan gorengan. Kita menghendaki proses pengorengannya menggunakan sendok untuk meletakkannya di penggorengan, bukan dengan tangan langsung tanpa pembungkus tangan. Kita juga menghendaki minyak goreng yang higinis bukan yang sudah hitam gelap seperti parit tercemar oli bekas.

Saya pikir, sebenarnya banyak sekali makanan lezat yang diolah dengan cara yang tidak kita terima di perasaan, tetapi begitulah adanya. Ada yang harus diinjak-injak dengan kaki telanjan, ada yang harus diaduk-aduk dalam panas dan pengaduknya berkeringat habis, ada juga proses yang harus diasapkan dalam gantungan penuh lawa-lawa.

Dari mata turun ke lidah

Saya jadi ingat pertama kali saya terpesona oleh makanan hot plate (makanan yang disajikan menggunakan piring tanah panas sehingga pada saat disajikan masih ada kepulan asapnya). Kepulan asapnya seperti kereta api uang, menyembul dari ceronbongnya, berjalan dari dapur hingga meja pemesan. Lalu tak berapa lama uap itu hilang dan meninggalkan aropa makanan yang lezat keseantero ruangan.

Saat itu saya pikir makanan itu yang memang panas sehingga berasap, padahal ternyata piringnyalah yang dipanaskan dan sedikit tetesan kuah atau saus yang membuatnya mendidih dan mengeluarkan asap harum.

Saat itulah saya percaya lezat itu bermula dari mata, bukan dari lidah.



Konsulatasi & Pelatihan tj@cahyopramono.com

Share:

Muatan Humas dalam “Pisah Sambut”

tulisan ini sudah dimuat di harian waspada medan, tanggal 15 maret 2010 pada halaman bisnis dan teknologi.



...

molo adong na salah

manang na hurang pambahmanenakki

sai anju ma au,

sai anju ma au,

ito hasian....

foto bisnis indonesia
Lagu ini merdu melantun dari mulut seorang Bugis yang sudah beberapa tahun tingal di Medan. Diatas panggung itu dia bersungguh mencoba menorehkan sebuah pesan. Dari matanya yang berkaca-kaca, saya mengartikanya seolah ingin mengatakan permohonan maaf yang paling dalam jika ada kesalahan dalam pergaulannya selama ini dengan sepenuh hati.

Sekian banyak kejadian dan pengalaman hidupnya selama tinggal di kota Medan jelas sangat sulit diucapkan dalam sebuah pidato perpisahan, tetapi lagu itu dia jadikan pengantar suasana hati untuk kami kawan-kawannya yang hadir pada acara itu. Dan kami memakluminya dengan iklas.

Dalam acara itu, selain kata perpisahan dari sahabat yang akan meninggalkan kota medan, ada juga acara memperkenalkan penggantinya. Disebutkan dalam kesempatan itu, hal-hal yang menjadi latar belakang si pendatang baru itu. Pada kesempatan ramah tamah, kami bertukar kartu nama, nomor kontak dan mulai berbasa basi dan kami semua jadi mengenalnya lebih baik.

Kawan-kawan saya suka mengatakan; datang kelihatan wajah, pergi kelihatan punggung. Sesuatu yang menggambarkan sopan-santun ketimuran dalam pergaulan. Sebuah sikap dimana pada saat mendatangi satu tempat baru, idealnya kita permisi kepada yang sudah tinggal disana dan pada saat akan meninggalkan tempat itu, kita pun harus permisi dengan baik-baik sebelum meniggalkanya.

Tetapi, selama acara temu pisah itu, saya menyadari betapa ini adalah sebuah strategi pemasaran dan langkah Hubungan Masyarakat yang sangat efektif. Dimana ada proses memperkenalkan dan upaya menjembatani pergantian jabatan itu dengan jaringannya. Satu langkah yang cerdas untuk memastikan relasi dan pendukung tetap terhubung satu dengan yang lain dengan baik walaupun ada perubahan pejabatnya.

Penghubung
Acara pisah sambut, sejatinya bukan saja sebuah resepsi dan jamuan makan, tetapi sebenarnya ada sebuah proses interaksi hubungan yang personal antara pejabat yang akan pergi dan pejabat yang datang kemudian dengan jaringan pergaulan yang sudah terbentuk sebelumnya.

Dalam acara ini jelas akan terjadi sentuhan-sentuhan emosional antara undangan dengan pihak yang akan pergi. Tentu saja tergantung kualitas hubungan yang selama ini terjadi diantara mereka. Jadi tidak mengherankan bila yang pergi biasanya akan menjadi ‘tokoh’ dalam acara itu.

Tetapi bagaimanapun juga, jangan lupa bahwa dalam acara itu ada unsur memperkenalkan dengan pejabat yang baru datang. Artinya harus ada ruang disana untuk memperkenalkan siapa yang akan datang sehinga hubungan kerjasama yang akan erjalin menjadi lebih mudah dengan kesepahaman yang lebih baik.

Proses perkenalan itu diharapkan mejadi efisien dan lumrah, karena ada proses perkenalan, ada proses menginformasikan keberadaan pejabat baru sehingga diharapkan muncul kesan yang tetap positif. Oleh karenanya sebaiknya di design sebuah acara yang memastikan kebutuhan penghubung ini berjalan dengan sukses.



Acara
Karena misi dasar pisah sambut adalah memastikan hubungan bisnis tetap terjaga, maka setting acara menjadi komponen yang penting. Ada beberapa hal yang saya ingin bagikan kepada anda jika hendak membuat acara serupa ini;

Yang pertama, udangan. Dalam point ini, hal yang perlu diperhatikan adalah daftar siapa saja yang akan diundang. Tentukan skala prioritas untuk memilih relasi yang akan diundang. Berikutnya konfirmasi kehadiran, sehingga tidak perlu cemas mengestimasikan jumlah undangan yang akan datang. Seperti idealnya sebuah acara, sebaiknya kertas undangan juga memuat thema acara tersebut.

Yang kedua, acara. Penting untuk mendesign acara ini. Jangan biarkan acara mengalir tanpa panduan. Lalu pastikan porsi-porsi urutan acara dan siapa-siapa saja yang akan tampil di panggung. Selain pihak yang akan pergi, pastikan pihak yang datang juga mendapatkan porsi yang luas untuk meperkenalkan diri.

Sangat bagus jika ada kesempatan yang bisa mempresentasikan jasa dan prestasi pihak yang pergi serta latar belakang serta kelebihan-kelebihan pihak pendatang. Dalam budaya timur, alangkah baiknya proses ini dilakukan oleh pihak lain, bukan oleh yang bersangkutan, karena banyak pengakuan-pengakuan prestasi yang akan disebutkan dalam acara tersebut.

Kegiatan informal selama acara penting di setting dengan ruangan yang tidak berkursi, tujuannya agar semua tamu memiliki kebebasan untuk saling sapa dengan banyak orang lain. Jika ada kursi, biasanya mereka akan berkumpul dengan tamu yang sama dan segan pindah-pindah lokasi untuk bertemu dengan yang lain. Dalam kesempatan inilah pejabat yang baru dan lama akan secara aktif berkomunikasi dengan banyak orang secara personal.

Yang ketiga. Jangan lupa kelengkapan acara. Mungkin seperti paket sovenir yang juga memuat surat permohonan diri dari pihak yang pergi dan profile pejabat yang datang. Ini penting, karena bisa saj apesan-pesan lisan dalam pidato tidak cukup lengkap atau terlupa. Sangat bagus jika pendatang yang baru juga sudah memiliki kartu nama dengan kelengkapan posisi terbarunya.

Yeng keempat. Pastikan ada pesan yang jelas bahwa perusahaan akan terus melanjutkan kerjasama yang baik selama ini dengan semua relasi dan bahkan akan meningkatkannya dengan kehadiran pejabat yang baru.
Tindak lanjut
Seusai pesta, bukan berarti selesai kerja. Terutama bagi pihak pejabat baru. Pastikan ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan komunikasi dengan tamu-tamu yang sudah ditemuinya pada saat acara pisah sabut. Daftar tamu dan kartu nama yang didapat bisa menjadi alat untuk menghubungi relasi tersebut.

Kontak komunikasi tersebut bisa dimulai dengan surat atau telepon bahkan sangat bagus jika bisa langsung bertemu dengan berkunjung ke kantor relasi tersebut.
.......

Melalui kesempatan ini, saya ingin mengucapkan selamat jalan untuk Bung Yusran Yunus, terimakasih untuk diskusi-diskusi serta kerjasamanya yang baik selama ini. Lagu Sai Anjuma Au mengantarkanmu untuk sukses pada jabatan yang terbaru.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com




Share:

Kata Siapa?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 08 maret 2010, di halaman bisnis dan teknologi
foto by andre
Suatu waktu, kami berlima menghadiri undangan makan malam dari seorang kawan. Dia dengan sedikit memaksa meminta kami mencicipi resep temuannya. Subhanallah... jika pantas, kami benar-benar ingin muntah setelah mencicipinya.

Dia sangat bangga dan memakannya dengan sangat lahap. Tapi sungguh lidah kami yang jarang berpetualang ini benar-benar kaget atas kombinasi rasa pedas yang aneh, getir, asin dan sedikit bau daun mentah.

Pada kesempatan lain, kami berkelompok selalu merasa yakin bahwa kami adalah orang-orang dengan talenta menyanyi yang tidak bisa disepelekan. Dari karaoke ke karaoke, dari satu pesta ke pesta lain; kami selalu yakin dengan penampilan vokal kami. Bahkan kami dengan percaya diri merekamkan suara kami dengan bantuan studio mini seorang sahabat. Memang kami tidak sebagus Harvey Malaiholo hingga rekaman hanya dicetak untuk diri sendiri dan tidak kami pasarkan.

Kala itu belum ada acara-acara yang seperti American Idol atau Akademi Fantasi Indosiar, jadi kami pun tidak pernah ikut acara yang demikian. Tetapi kemudian setelah memperhatikan tayangan-tayangan proses audisi dalam acara reality show itu, terutama pada bagian peserta-peserta yang gagal, kami semua mulailah menyadari bahwa kami sebenarnya hanya penyanyi kamar mandi yang hanya layak tampil di karaoke pribadi.

Melihat si Sinis Simon Cowel –juri American Idol-- dalam memberikan komentar kepada peserta yang jelek dan tereliminasi, rasanya seperti kami menjadi orang-orang itu. Tersentak dan tersadar bahwa kami hanya merasa habat, tetapi tidak dalam pandangan orang lain.

Sungguh pegalaman itu menjadi catatan penting dalam pemikiran saya mengenai persepsi yang berhubungan dengan konsep pemasaran. Bayangkan jika kawan saya itu membuka restoran yang menjual masakan ciptaannya.
PeDe yang nyalah

Kredibilitas diri memang layaknya bukan dilihat dari pengakuan diri, tetapi bagusnya adalah merupakan aksi yang ditunjukkan sehingga mendapatkan pengakuan dari orang lain. Artinya, sekadar percaya diri tanpa pendapat dari pihak luar, biasanya berakibat buruk jika dihubungkan dengan banyak orang.

Hal ini yang sering saya termui dalam dunia pemasaran. Contohnya, saya sering sekali mendengar atau membaca pengakuan sebuah media bahwa dirinya khusus untuk kalangan menengah keatas. Mereka mengaku bahwa segmen pasar mereka adalah orang-orang elit. Ketika ditanya, “itu kata siapa?”, biasanya menurut survey internal. Sesuatu yang tidak cukup layak untuk dipercaya.

Karena siapapun boleh-boleh saja mengaku sebagai apapun. Jangan-jangan saya pun boleh mengaku bahwa saya adalah anak dari seorang raja yang hebat. Tetapi toh orang-orang juga tahu apakah saya memang berperilaku dan berlatar belakang seorang anak raja. Mengaku hebat, seringkali adalah refleksi dari ketidak hebatannya saja.

Artinya, jika mencoba meyakinkan seseorang untuk membeli sesuatu bagusnya bukan sekadar pengakuan diri, tetapi merupakan rekomendasi dari orang lain.

Dalam membangun media-media promosi, tidak sedikit pelaku pemasaran yang tidak melakukan upaya ‘mendengar’ dan ‘melihat’ dari sudut pandang orang lain. Mereka merasa bahwa design yang dibuatnya sudah sangat sempurna tanpa memperhatikan apa yang akan dipikirkan dan dirasakan oleh calon konsumen yang membaca pesan-pesan itu.

Rekomendasi

Nah disinilah kuncinya. Kata orang lain. Orang akan lebih percaya jika ada pengakuan yang merupakan rekomendasi dari pihak lain. Jadi jika kawan anda memberitahukan kepada kawan-kawan yang lain bahwa anda adalah orang baik, tentu akan sangat mudah diterima dan dimaklumi. Berbeda jika anda sendiri yang mengaku bahwa anda adalah orang yang baik dan sebagainya.

Semua calon pemimpin daerah yang akan mengikuti pemilihan biasanya mengaku dirinya baik, cerdas, santun, penolong, tegas dan lain sebagainya, tetapi akan lebih dipercaya jika yang menyampaikannya adalah orang lain.

Berbicara tentang calon pemimpin daerah yang kalah. Secara umum sebelum proses pemilihan, mereka merasa dirinya mendapat dukungan dari semua orang. Padahal itu hanya dari perasaan dirinya sendiri atau orang-orang yang terbatas dilingkungannya tanpa studi yang objektif dan luas.

Semestinya harus ada upaya mencari pendapat-pendapat orang yang luas sesuai dengan sasaran penciptann strategi untuk mendapatkan gambaran akhir dari sebuah asumsi.

Meminta rekomendasi dari para ahli juga merupakan pilihan cerdas, tetapi jangalan bergantung kepada satu sumber untuk memastikan rekomendasinya benar dan tepat.

Sisi lain PeDe

Jikalah suatu ide adalah sebuah karya cipta yang didedikasikan untuk menjadi motor perubahan, tidak salah jika rasa percaya diri itu dibangun dengan kuat tanpa harus banyak mempertimbangkan pendapat banyak orang. Banyak sejarah dunia membuktikan bahwa perbedaan jusru menciptakan hal yang istimewa.

Mungkin kita masih ingat bagaimana seorang Gustaf Eifel --penggagas menara eifel di Paris—sangat sulit saat memulai pembangunan menara yang kini menjadi kebanggaan negera Perancis itu. Gustaf Eifel mendapat cemoohan dan penolakan-penolakan yang lumayan hebat dari masyarakat Kota Paris. Mereka menganggap bahwa menara itu sangat jelek, tanpa keindahan apapun karena hanya terdiri dari susunan besi-besi hitam. Tetapi Gustaf Eifel terus saja menutup telinga dan membangun keyakinan dirinya dan kini kita menikmati karyanya itu.

Demikian juga dengan penemu jam digital yang ditertawakan oleh ahli-ahli jam di Swiss yang merasa lucu dengan ide pembuatan jam digital, dan kini jam digital menjadi pilihan yang tidak bisa dilupakan.

....

Kembali ke jamuan makan malam dari kawan kami, malam itu kami sangat kekenyangan air karena harus minum lebih banyak demi mendorong makanan yang terpaksa kami jejalkan ke mulut. Mungkin karena kami tidak ingin mengecewakannya, kami terpaksa berkorban berpura-pura menyukainya.

Dan yang kami lakukan adalah pembodohan. Menipu diri dan menipu kawan dengan membiarkan dia merasa sukses tanpa memberi masukan yang konstruktif. Dan saya rasa hampir semua orang lebih banyak memilih bersikap seperti kami.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Share:

15.6.10

Mau gulai lemak, tak mau kelapa pecah

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 01 maret 2010.

SENDA gurau kami membuat semua orang terpingkal-pinkal ketika berkumpul beberapa pengamat politik lokal membincangkan para calon Walikota Medan yang sedang bertanding menduduki posisi no satu di Kota ini.

Kala itu sampai kepada pembicaraan tentang beberapa orang yang memaksakan diri untuk maju mencalonkan diri tapi pelit dalam anggaran biaya politik yang harus dikeluarkannya. Disitulah muncul kata-kata “Mau Gulai Lamak, Tak Mau Kelapa Pecah”. Sebuah ironi yang tajam dan menyakitkan bagi yang melakukannya.

Dalam keseharian kita meyakini pepatah No pain no gain atau orang jawa sering menyebutnya, jer basuki mowo beo. Bahwa semua ada biayanya, semua ada syaratnya, semua ada kondisi yang harus ditempuh (dikorbankan) demi tujuan atau cita-cita yang diharapkan.

Saya tidak hendak membahas perpolitikan yang sedang hangat terjadi di banyak kota kabupaten, tetapi saya juga sering menemukan pebisnis dengan fenomena yang sama. Maunya beruntung banyak tanpa bermodal, maunya cepat sukses tanpa melalui proses penguatan, maunya bermimpi terus dan tak bangun-bangun, karena bangun dan nyadar adalah hal yang menyakitkan.
Mimpi dan Nyata

Berkali-kali orang datang ke saya yang mengatahui bahwa saya memimpin sebuah forum UKM di Sumatera Utara ini. Mereka menceritakan mimpi mereka yang indah tetapi belum dipindahkan menjadi cita-cita. Mereka pikir saya memiliki mantra sakti yang bisa membuat sebuah bank mengucurkan kredit sebanyak yang mereka mau pada saat itu juga. Begitu saja. Ya begitu saja tanpa syarat apapun.

Berkali-kali orang datang ke saya menceritakan mimpi mereka tentang konsep bisnis yang luar biasa. Mereka menceritakannya dalam hitungan menit. Sesingkat pegalaman bisnis taipan properti Ciputra dalam sebuah wawancara cepat. Seperti kisah sukses Bill Gates yang ditulis dalam 5 paragraf. Mereka lupa bahwa sukses 2 orang itu dibangun bertahun-tahun dengan lusinan kegagalan dan hambatan. Mereka tidak sadar bahwa sukses, kaya dan pandai adalah hasil dari sebuah proses. Dan mereka bahkan belum memulainya sama sekali.

Berkali-kali orang datang mengkisahkan asyiknya menjadi pengusaha sukses. Enaknya memiliki banyak pabrik, enaknya wisata kemana-mana, enaknya bermobil mahal dan enaknya hidup merdeka dari tekanan ekonomi. Sementara hari ini mereka masih menjadi pelanggan tetap angkot Mr X jurusan Amplas.

Saya bukan anti mimpi. Saya sangat senang jika ada orang yang berani mimpi, tetapi mimpi yang berkepanjangan hanya menjadikan orang bertambah malas. Mimpi yang tidak segera dirubah menjadi cita-cita adalah langkah bodoh seperti menggali tanah untuk dijadikan kuburan sendiri.

Perubahan minpi menjadi cita-cita adalah langkah penghubung untuk mengupayakan mimpi itu menjadi kenyataan. Cita-cita adalah mimpi yang tersusun dengan strategis, terukur, terencana, dipecah dalam urutan-urutan dan tahapan-tahapan yang terjangkau dan realistik.
Proses

Berkali-kali saya menyampaikan bahwa dunia ini terjadi dalam sebuah proses. Tidak ada orang yang langsung mendadak kaya, sukses, besar dan pintar. Pasti bermula dari miskin, gagal, kecil dan bodoh.

Tinggal perjalanan proses itu yang berbeda-beda tergantung masing-masing. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Ada yang cenderung mudah dan ada pula yang lebih bersusah payah. Tetapi jika sekali anda mencoba dan sukses, jangan lalu anda merasa sukses yang permanen, karena bisa jadi itu kemujuran sang pemula. Lanjutkan ke proses selanjutnya, nantikan kegagalan-kegagalan berikutnya.

Berbahagialah menyambut kegagalan atau kejatuhan, karena semua itu adalah makanan wajib untuk mereka-mereka yang ingin sukses. Semua proses sulit dan berat adalah indikasi kenaikan kelas. Gagal dan jatuh adalah hal yang biasa, tetapi bangun dan bangkit kembali adalah hal yang luar biasa.

Ingatlah, bahwa semua sakit yang tidak membunuh kita, justru akan memperkuat kita.

Jadi yang penting pada saat anda menginginkan sesuatu, segeralah lakukan prosesnya. Jangan tunda lagi. Dan sadari apa yang menjadi penghambat proses itu.

Sejauh pengamatan saya, pada para pemula, biasanya yang menjadi hambatan adalah mimpi bensar itu sendiri. Pemula merasakan jarak yang sangat jauh antara situasi nyata pada saat ini dan hasil mimpinya yang jauh, tinggi dan seperti tidak terjangkau diatas awan.

Abjad bermula dari “A”, baru “B”, “C” dan seterusnya. Tetapi semua ada awalnya. Boleh lah bermimpi tentang abjad “Z”, tetapi huruf “A” sebagai awalnya.
Ganteng, Kaya, Tajir, Terkenal

Jikalah anda seorang pria lajang yang muda, ganteng, kaya, tajir, tekenal, santun, cerdas dan bergaul pasti akan dengan mudah mendapatkan wanita cantik sesuai idamannya. Itu hal yang sangat-sangat biasa! Tidak ada istimewanya.

Bayangkan jika anda seorang pria yang tidak lagi muda, tidak cukup ganteng, miskin, kurang bergaul, sedikit tidak pintar dan bisa mendapatkan wanita cantik yang ideal. Inilah yang saya sebut sebagai luar biasa.

Jadi, untuk menjadi pengusaha sukses, pelajar yang pintar, jabatan publik yang terkenal dan apapun yang anda kehendaki dan anda tidak dalam kondisi sangat ideal untuk mendapatkan sukses itu, itu yang saya sebut sebagai luar biasa.

Berbisnis dengan modal yang berlebih itu hal yang biasa. Tetapi berbisnis dengan modal yang kurang atau pas-pasan, itu baru luar biasa.

Tentu saja keluarbiasaan itu terjadi karena upaya yang juga luar biasa. Keyakinan yang luar biasa serta kemampuan bertahan terhadap cobaan-cobaan yang menguatkan dirinya.

Tulisan ini saya anggap sudah menjawab pertanyaan sdr. Amir siregar di Tebing, sdr. Lukman di Medan, Sdr. Irwansyah di Unimed, Sdr. Basuki yang tidak menyebutkan alamatnya dan sdri. Indriana yang juga tidak menyebutkan alamatnya.

Kepada mereka yang saya sebutkan diatas, saya berharap agar saudara segera saja mengaktualisasikan mimpi-mimpi itu. Bergeraklah dengan potensi yang ada saat ini. Sebelum anda memiliki modal cukup untuk menjadi distributor utama, jadilah sub agen. Jika modal menjadi sub agen tidak juga cukup, jadilah pengecer dahulu. Selamat berjuang.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Menjual dengan Peragaan



tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada pada tangal 22 februari 2010 di halaman bisnis dan teknologi


SORE itu sepuluhan wisatawan dari luar negeri mengerubungi seorang perempuan yang sedang menenun ulos model Simalungun di lobby salah satu hotel terbesar di Kota Parapat, Danau Toba. Mereka begitu terpesona oleh gerakan tubuh si penenun yang lincah penuh ketelitian dan kesabaran sehingga tercipta sebuah kain yang indah dan rapih.

Di depan penenun ditampilkan hasil tenunan yang sudah selesai dan siap jual serta contoh tenunan buatan mesin yang jauh lebih kasar dari hasil tenuan tangan. Jelas para wisatawan lebih senang dengan hasil tenunan tangan yang halus dan penuh seni, apalagi mereka tahu bahwa diperlukan paling tidak satu minggu untuk menghasilkan satu buah olus –sebuah karya yang sulit dan langka--. Seperti yang dibayangkan, setelah menikmati tontonan itu, mereka beramai-ramai memborong ulos yang dijual dilokasi itu.

Seperti juga pengalaman melihat proses pembuatan sepatu kayu ala Belanda –klompen—di Lake Land, Belanda. Pengunjung yang datang bisa langsung melihat proses pembuatannya. Dari kayu gelondongan, dipotong, di serut, di lubangi hingga penghalusan dan proses finishing dengan warna cat. Semuanya bisa dilihat sambil berdialog dengan pengrajinnya.

Kita bisa tahu perbedaan ujung klompen yang runcing atau yang bulat. Biasanya nelayan menggunakan yang runcing dan pekerja ladang memilih yang bulat. Dari para pekerja pembuat klompen itu kita bisa tahu fungsi lain klompen, selain kuat untuk kerja kasar, yaitu untuk menendang sapi jika bandel dan tidak mau di arahkan (ini disampaikan dengan canda).

Selain keju, apalagi oleh-oleh dari negeri Belanda selain klompen? Tentu saja para pengunjung lebih senang membelinya karena tahu proses pembuatannya. Seolah-olah mereka mengalami sendiri dalam proses itu.

Selain Gondola dan nyanyian pendayungnya, Venesia juga terkenal dengan gelas tiupnya yang terbuat dari bahan pasir dan bahan lainnya. Lagi-lagi para wisatawan di hipnotis dengan proses pembuatannya yang dapat dilihat secara langsung, yang dimulai dengan proses pembakaran dengan panas lebih dari 900 derajat celcius.

Peragaan pembuatan gelas tiup di set dengan baik, pembuatnya terlihat memiliki keahlian khusus, hasil jadinya pun sangat indah. Dalam dialog yang tercipta, Mereka mengaku masih menggunakan cara dan bahan tradisional sejak zaman dahulu.

Dari situlah muncul keyakinan para wisatawan untuk memborong barang-barang yang dijual disana. tidak hanya berbentuk cangkir, tapi ada pula pajangan dan perhiasan serta peralatan makan. Untuk memudahkan wisatawan membawa pulang hasil buatan mereka, kemasan yang kuat dan aman sudah disiapkan.

Mungkin konsep serupa terjadi di Pande Sikek, Sumatera Barat dengan ukirannya. Atau di Sokaraja, Jawa Tengah dengan Gethuk Sokaraja-nya. Atau empek-empek Palembang di Kota Palembang. Atau pembuatan Batu Akik di Martapura, Kalimantan Selatan.

Pemasaran berbasis mengalami

Apa yang saya contohkan diatas adalah salah satu aplikasi dari pemasaran berbasis mengalami yang pada dasarnya memiliki 4 elemen dasar agar pasar bertekuk lutut serta menurut untuk mengikuti apa yang kita kehendaki. Ya... membeli.

Kelima komponen tersebut adalah; yang pertama melihat, merasakan, mencicipi, yang kedua ikut memikirkan, yang ketiga terlibat dalam aksi dan yang keempat tetap terhubung.

Elemen yang pertama adalah stimulasi menarik bagi indra dengan tujuan untuk menciptakan pengalaman indrawi melalui penglihatan, suara, sentuhan, rasa, dan bau. Elemen ’rasa’ dalam konsep pemasaran ini dapat digunakan untuk membedakan perusahaan dan produk, untuk memotivasi pelanggan, dan untuk menambah nilai produk.

Konsep ini sangat memerlukan pemahaman tentang bagaimana untuk mencapai dampak sensoris. Tidak heran jika kini banyak restoran yang tidak lagi merahasiakan dapurnya tertutup dengan tembok kuat. Mereka kini malah membuka diri dengan membuat kaca transparan sebagai dindingnya, dengan harapan para pelanggan dapat melihat langsung kedalam, melihat proses produksinya yang bersih dan proffesional serta bisa melihat tampilan makanan dengan tujuan membuka rasa ingin mencicipinya.

Elemen pertama ini juga digunkan oleh beberapa pengusaha roti modern dengan cara menyebarkan aroma roti produknya secara sengaja. Mereka sengaja menyebarkan esen/inti aroma roti yang dikipaskan ke seluruh areal sekitar tokonya agar orang-orang yang jauh pun jadi merasa lapar dan ingin mencoba kenikmatan rotinya.

Elemen yang kedua adalah ikut memikirkan. Dalam kerangka ini, menarik jika pasar diajak ikut memikirkan apapun yang kita kehendaki. Konsep ini menarik bagi para intelek dengan tujuan untuk menciptakan situasi kognitif.

Dalam contoh pembuatan ulos, pelanggan dibawa kepada berbagai macam pemikiran. Wawancara saya dengan mereka, menyimpulkan bahwa mereka awalnya begitu tidak percaya saat ini masih ada orang yang begitu sabar membuat sehelai kain dalam waktu seminggu dengan hasil yang sangat halus. Dalam perkembangannya mereka secara berfariasi ada yang memikirkan bagaimana kalau penenun itu akhirnya tidak ada lagi yang meneruskan kepada generasi selanjutnya. Mereka memikirkan apakah tidak ada teknologi tepat guna untuk membantu mempermudah proses pembuatan tenun dan banyak lagi pemikiran yang lain.

Elemen ketiga dan ke empat, terlibat dan tetap terhubung, pada dasaranya adalah keterlibatan pasar dalam proses menjadi menarik. Misalnya menanyakan pendapat pelanggan dan memberi kebebasan memilih kepada pemilih atas ukuran, warna, model, harga dan apapun dalam proses produksi.

Lalu komunikasi yang terbangun mengalir lancar penuh rasa percaya. Dalam hal ini perlu media-media komunikasi yang baik dan efektif (sudah dibahas dalam tulisan lain).
Peragaan

Betul bahwa peragaan memerlukan biaya tambahan. Perlu bahan, alat dan tempat. Tapi hasilnya akan lebih maksimal. Karena yang menyaksikan peragaan itu akan memasukkan data ke pikirannya melalui berbagai pintu, tidak sekedar melihat, tetapi juga merasakan, menyentuh, mendengar dan sebagainya.

Peragaan mengarahkan pembeli kepada situasi mengalami. Pengalaman itulah yang akan tersimpan dalam alam bawah sadar dan akan mempengaruhi perilaku mereka yang mengalaminya.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

Belanja di kedai sendiri


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 15 februari 2010 di halaman bisnis dan teknologi




Selamat Pagi pembaca yang budiman. Tulisan ini dibuat dalam suasana indahnya tahun baru Imlek dan suana hari Valintine. Kepada yang merayakannya, saya ucapkan selamat, semoga perayaan itu membawa kebaikan hari ini dan yang akan datang.

Pembaca yang budiman, adalah seorang broker saham yang selalu berusaha mencari pelanggan baru, menjaga pelanggan lama dan intinya selalu bergaul ke sana–sini. Pertemuan yang sering mereka lakukan biasanya di restoran, cafe atau lounge hotel-hotel berbintang.

Kawan broker tadi amat banyak mulai dari agen asuransi, agen property, wiraniagara otomotif dan masih banyak lagi. Mereka semua selalu duduk-duduk di tempat yang sama. Karena tuntutan pekerjaannya, mereka sangat tahu semua tempat duduk-duduk di kota mereka.

Sampai suatu ketika salah seorang dari mereka mengusulkan sebuah ide untuk membuat bisnis yang sama. Mereka berniat membuat sebuah restoran dan cafe yang nyaman untuk duduk dan berbicara. Cafe itu tertata dengan baik dan mencitrakan kelas yang mapan. Dengan pertimbangan, toh mereka sendiri juga selalu mengeluarkan uang hampir tiap hari untuk membayar minuman dan makanan mereka sendiri dalam rangka berhubungan dengan para relasinya. Jadi kalau uang itu dibayarkan ke restorannya sendiri, pada akhirnya mereka juga akan mendapatkan keuntungannya.

Lalu dikumpulkanlah 40 orang kawan-kawan mereka yang memeliki ketertarikan yang sama dan jadilah ke 40 orang itu sebagai pemegang saham. Kekuatan keloktif itu menarik perhatian saya. Karena dengan jumlah pemilik saham yang banyak, maka nilai investasi tidaklah amat besar bagi masing-masing pemegang sahamnya. Masing-masing investor memandang bisnis ini menjadi semacam tabungan yang tidak mengganggu arus keuangannya.

Ke 40 orang itu sendiri adalah orang-orang yang memiliki jaringan perkawanan masing-masing. Mereka memiliki kawan yang tidak sedikit dan mereka sendiri adalah pelanggan dari bisnis mereka sendiri; belanja di kedai sendiri.

Tentu saja karena restoran mereka tertata dengan baik, maka pelanggan lain yang bukan pemegang saham juga lumayan besar jumlahnya. Dan jadilah bisnis itu menguntungkan dan berkembang cepat dan pesat.

Tulisan ini saya sengaja untuk memberikan inspirasi bahwa konsep ini sangat mungkin dilakukan dimanapun anda berada. Karena duduk di warung kopi dan bersosialisasi adalah kebutuhan kultur kita, dari desa hingga ke kota, budaya dasarnya itu tidaklah ada perbedaannya.

Investasi bersama

Ide dasarnya mirip dengan koperasi; dimana kekuatan kolektif adalah kuncinya. Lalu semakin banyak investornya, semakin bagus permodalan dan pemasarannya, karena pemodal pada akhirnya adalah pelanggan pertamanya. Ketika saya menyebut banyak, bukan berarti sangat banyak, karena akan menyelitkan koordinasi lanjutannya.

Tentu saja, ada persyaratan yang idealnya dipenuhi untuk memilih para pemegang saham. Yang pertama, idealnya pemegang saham adalah pelanggan jasa/produk sejenis yang aktif. Artinya jika ingin membuat sebuah cafe, pastinkan pemegang sahamnya adalah orang-orang yang memang sering ke cafe, bukan orang rumahan yang tidak pernah keluar bersosialisasi.

Yang kedua; pastikan pemegang saham itu bedomisili di kota lokasi bisnis, bukan jauh diluar kota yang tidak akan pernah menjadi pelanggannya. Ini menjadi penting karena bisnis ini harus berjalan dan pelanggan utamanya adalah pemegang saham itu sendiri.

Yang keempat; pastikan bahwa para pemegang saham itu tidak memiliki bisnis yang sejenis dengan usaha bersama ini. Karena akan terjadi cambrukan peran dan preferensi. Akan ada persaingan dalam pelaksanaannya.

Yang kelima; pastikan para pemegang saham adalah orang-orang yang paham etika berinvestasi bersama. Karena nantinya group ini akan mempekerjakan pekerja profesional. Dan para pemegang saham tidak terlibat langsung dalam praktik bisnis sehari-harinya. Ini penting untuk menghindarkan konflik-konflik kecil dalam operasional kesehariannya.

Yang keenam; bisnis ini umumnya berputar dalam hitungan tahunan sehingga pembagian hasil juga dilakukan setelah beroperasi setahun. Jadi pastikan pemegang sahamnya adalah orang-orang yang tidak tidak memiliki dana pas-pasan sehingga tidak terganggu keuangannya dengan berinvestasi dalam bisnis itu sendiri.

Kedai bersama

Praktek bisnis bersama ini idealnya sudah mulai diformat bentuknya jauh hari sejak awal. Ada semacam gambaran yang jelas mengenai jenis bisnis, lokasi, perkiraan nilai investasi, siapa yang akan mengoperasionalkannya, perkiraan nilai keuntungan dan gambaran-gambaran lainnya. Biasanya rencana ini disusun oleh pihak yang berinisiatif dan diperbaiki dengan menampung pendapat bersama.

Gambaran tersebut digunakan untuk mengarahkan pihak-pihak yang hendak diajak bergabung menanamkan saham dan semacam bayangan kepada pihak pelaksana operasional bisnis.

Dalam pelaksanaan operasional bisnisnya, tentu saja tidak ada perbedaan yang mendasar antara konsep ini dengan konsep bisnis yang regular pada umumnya. Perbedaan hanya terletak pada komposisi dan jumlah pemegang sahamnya saja.

Perlakuan terhadap para pemegang saham juga relatif sama dengan perlakukan serta pelayanan kepada pelanggan-pelanggan biasa lainnya. Sampai pada akhirnya, para pelanggan tidak bisa membedakan siapa tamu biasa dan siapa si pemegang saham. Karena pemegang saham pun akan membayar persis seperti pelanggan lainnya setiap kali ada transaksi.

Mungkin yang sedikit membedakan adalah adanya pemberian diskon dalam nilai tertentu kepada para pemegang saham jika melakukan transaksi. Dalam pemberian diskon harus sangat bijaksana, karena kalau diskon yang diberikan berlebihan dan melewati ambang wajar, justru inilah yang nantinya akan menjadi bumerang dan merugikan usaha bersama.

Untuk mengantisipasi permintaan khusus dari pra pemegang saham, mungkin bisa saja dibuatkan format point reward. Artinya, setiap transaksi dari pemegang saham, akan dicatat dan diberi tanda, hingga pada akhirnya akan diberikan penghargaan berdasar jumlah poin tersebut.

Bentuk penghargaannya bisa berpola seperti pembagian sisa hasil usaha dalam koperasi. Artinya yang lebih banyak bertransaksi harusnya mendapat kelebihan karena mereka itu memberikan tambahan omzet yang jelas bagi usaha bersama ini.

Konsep usaha bersama ini terbukti sukses di terapkan di salah satu restoran ternama di Jalan Patimura Medan dan di Komplek Club tertua di kota Medan.

foto = http://boysandgirlsagency.files.wordpress.com/

Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

24.4.10

Mengapa Pelayanan di Rumah Makan Minang lebih cepat?

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada tanggal 08 februari 2010 di halaman ekonomi bisnis


gambar www.groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/82019


BAGI mereka yang terbiasa dilayani dengan cepat oleh pelayan rumah makan minang tentu saja mereka akan mendapat kesan yang berbeda danjauh lembih lambat jika berkunjung ke rumah makan jenis lainnya.

Pelayannya ramah, gesit dan seperti senang membantu siapapun. Mereka terlihat seperti haus untuk memberikan bantuan kepada semua tamu-nya. Tidak seperti kebanyakan pegawai di tempat lain, umumnya mereka tampil dengan kualitas kerja yang diatas rata-rata.
Setelah saya pelajari, ternyata itu terjadi karena cara berfikir mereka umumnya tidak bekerja tetapi sedang mengelola bisnis miliknya. Ya benar-benar milik mereka sendiri. Sehingga batin dan pikiran pun hadir dalam melayani semua pembelinya.

Dalam suatu rumah makan minang, pihak-pihak yang terkait dengan usaha ini secara umum adalah pemilik, tukang masak, tukang sanduak, kasir, pelayan, dan tukang cuci piring. Peranan pemilik adalah sebagai pemodal dan penetap kebijaksanaan operasional. Kekuatan rumah makan jelas ditentukan oleh kualitas makanan hasil keterampilan dan keahlian tukang masak. Kepuasan tamu dan pelanggan akan ditentukan juga oleh kualitas pelayanan dalam bentuk kecepatan dan kerapihan dalam menghidangkan. Kebersihan alat makan akan ditentukan oleh tukang cuci piring, sedangkan tertib keuangan akan ditentukan oleh keterampilan dan kejujuran kasir.

Bagi hasil

Dalam sistim manajemen rumah makan Minang, hubungan antara pemilik dengan para pekerja seperti tukang masak, dan lain-lain itu bukan didasarkan pada sistim imbalan yang berupa gaji. Di sini digunakan sistim bagi hasil berdasarkan ”mato” atau persentase pembagian hasil.

Bisnis tersebut dianggap sebagai usaha bersama antara pihak-pihak yang terlibat tersebut (termasuk pemilik), dan masing-masing memperoleh bagian keuntungan usaha berdasarkan persentase yang disepakati bersama. Persentase ini didasarkan pada peranan masing-masing, yang akan menentukan kesuksesan jalannya usaha; “gadang kayu gadang bahannyo, ketek kayu ketek bahannyo”= besaran hasil sesuai dengan kontribusi.

Dengan dasar pemikiran demikian, pembagian “mato” bisa sebagai berikut : pemilik 50 mato, tukang masak 15 mato, tukang sanduak 10 mato, kasir 10 mato, pelayan 5 mato, tukang cuci piring 5 mato, dan zakat 5 mato. Ini tentunya bisa bervariasi antara satu rumah makan dengan lainnya.

Tunjangan
Pembagian hasil usaha dilakukan setiap 100 hari. Kebijaksanaan lainnya adalah bahwa karyawan berhak untuk memperoleh pinjaman sebelum waktu 100 hari tersebut, disamping bahwa karyawan memperoleh makan, minum, dan uang rokok.

Dapatlah dibayangkan kalau seseorang anak muda pergi merantau, pepatah Minang mengatakan untuk mereka yang pergi ke negeri orang yang masih asing bagi mereka : “…..sanak cari saudara cari…induk semang cari dahulu…”.

Kalau dia dapat induk semang seorang pemilik rumah makan Minang, atau dengan kata lain dia bekerja di rumah makan Minang sebagai tukang cuci piring sebagai jabatan yang paling bawah, maka minimal makan, minum dan uang rokok sudah ditangan. Ditambah pula 5 % dari keuntungan usaha setiap 100 hari. Kalau nanti sudah berpengalaman, karierpun dapat naik ke jenjang yang lebih tinggi; pelayan, juru masak, atau bahkan kasir.

Rasa memiliki
Sistim manajemen tersebut diatas sangat menjamin adanya “sense of belonging” yang tinggi dari seluruh unsur usaha ini. Rasa memiliki itulah yang menjadi kunci masakan enak, pelayanan cepat dan ramah, dan semua roda operasional berjalan baik.

Sekarang sebagian rumah makan Minang sudah meninggalkan sistim ini dan menggantinya dengan sistim yang lebih kapitalistik : pemilik modal membuat suatu usaha dan menggaji karyawan yang dibutuhkannya. Porsi karyawan dalam usaha tersebut adalah gaji ditambah sejumlah imbalan lain, tapi tidak berhak atas pembagian keuntungan. Kalaupun ada bonus karena perusahaan meraih keuntungan yang memadai, besarnya terserah kepada pemilik usaha. Dalam sistim seperti ini, rasa memiliki kalaupun ada akan sangat minim.

Keterlibatan
Pada ide yang sederhana tapi mendasar; Jika seorang pegawai belajar bagaimana sebuah perusahaan mendapatkan keuntungannya, maka ia akan mulai berpikir seperti seorang pemilik bisnis juga.

Pada tahun 1982, SRC adalah sebuah divisi kecil dari Harvester International yang sedang bangkrut. Orang-orang kehilangan pekerjaan.

Jack Stack berpikir bahwa jika Ia dapat membeli divisi itu, maka 119 pekerjaan dapat diselamatkan, termasuk pekerjaannya sendiri. Harga yang diminta adalah 9 juta dolar.

Bermodal resume bisnis yang yang sederhana dan naif, Jack mencoba mendapatkan pinjaman. Ia ditolak berulang kali karena kurangnya pemahaman tentang ekonomi. Selama ini ia dan setiap orang pada umumnya belajar bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar, bukan diajari bagaimana melakukan bisnis.

Bank hanya peduli kalau uang yang mereka pinjamkan akan kembali. Bank ingin melihat keuangan perusahaan yang sehat. Lalu ide ini muncul di dalam benak Jack. Jika ini yang dibutuhkan bank, mengapa tidak semua orang dapat membaca neraca perusahaan?

karena itu, Jack terinspirasi untuk mengajarkan kepada setiap pegawai untuk mengevaluasi kondisi keuangan pribadi dalam perusahaan sebelum memutuskan apakah mereka dapat memiliki kartu kredit, kredit kepemilikan rumah, atau bahkan memiliki anak.

Jack mempraktekkan konsep ini diperusahannya; contoh pegawai dibagian engineering tahu keuntungan kotor dari setiap produk yang mereka buat. Di bagian engine assembler juga tahu berapa nilai impas dari peralatan yang mereka pakai. Banyak orang yang menjalankan divisinya seperti sebuah bisnis kecil miliknya sendiri. Jack menyebutnya Great Game on Business, semua pegawai adalah pemilik dari perusahaan.

Dalam 10 tahun, SRC telah menghasilkan 20 bisnis baru yang sebagiannya dibangun oleh buruh yang pernah bekerja di pabrik tersebut. Sejak 1983, SRC Holdings Corportation telah tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang memiliki 17 bisnis dalam berbagai industri. Penjualan meningkat dari $16 juta pada 1983 ke $270 juta. Nilai saham telah naik dari 10 sen per share ke $134 pada 2005.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share
Share:

Blog Archive