it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

5.1.10

“Tidak Ada Cabang di Manapun”


FENOMENA bolu gulung Meranti menjadi menarik melengkapi Bika Ambon Zulaika dalam hal oleh-oleh dari Kota Medan. Mereka berdua seolah-olah begitu saja datang dari langit, lalu melejit terkenal dan menjadi ‘maskot’ kota Medan.

Beberapa tahun lalu, saya pribadi bahkan mengenal bolu gulung untuk pertama kalinya itu atas pesanan rekan di Jakarta, padahal sebelumnya tidak pernah mendengar tentang nama itu. Kini tak lengkap rasanya membawa oleh-oleh jika hanya bika ambon tanpa bolu gulung tersebut. Hingga sangat mudah menebak seseorang apakah dari medan adalah dari kotak oleh-oleh yang dibawanya saat mendarat di bandara kota tujuannya, (yang ternyata didominasi oleh kotak-kotak kardus dari kedua produk diatas).

Yang menarik dari bolu gulung Meranti ini adalah bahwa dirinya mengaku tidak ada membuka cabang di manapun. Pengusahanya membuat papan reklame yang cukup besar di persimpangan jalan menuju tokonya. Dalam papan reklame itu tertulis dengan jelas bahwa tidak memiliki cabang.

Pesan dalam papan reklame itu dengan jelas ingin menyebutkan bahwa jika ada yang lain yang tampil seperti atau mirip Bolu Meranti itu adalah bukan yang sebenarnya. Pesan itu serasa mengingatkan khalayak ramai untuk tidak membeli produk bolu gulung selain dari tokonya.

Pesan serupa juga sering kita jumpai pada bisnis-bisnis lain yang sudah mulai terganggu oleh kehadiran para pengekor yang mengacaukan perhatian pasar sehingga menjadi pesaing yang berpotensi mengancam bisnisnya.

The other only can follow

Itulah yang disebutkan oleh rokok A-Mild dalam reklame-nya pada ulang tahunnya yang ke 10. kesuksesan A-Mild memancing produsen-produsen rokok yang lain untuk juga memproduksi rokok dengan kondisi yang sama denan A-Mild. Lalu muncullah beragam jenis rokok ‘mild’ yang mengaku bernikotin dan ber-tar rendah. Kalau saya tidak salah catat, ada lebih dari 8 rokok yang mengaku dirinya di kelas Mild, menyusul setelah suksesnya A-Mild.

Kata-kata The other only can follow (yang lain hanya bisa mengekor), bisa saya tafsirkan sebagai ungkapan pengakuan diri sekaligus menjatuhkan pesaing-pesaingnya. Terasa begitu gemas manajemen A-Mild dengan banyaknya pengekor yang muncul. Persis seperti gemasnya pemilik Bolu Gulung Meranti itu yang menyebutkan “Tidak ada buka cabang dimanapun”.

Proteksi

Mengatakan tidak memiliki cabang dimanapun adalah upaya proteksi bisnis. Sebuah strategi yang menekankan keaslian yang hanya ada ditempat yang disebutkan sekaligus mengingatkan pesiangnya akan keunggulannya.

Tentu saja setiap strategi memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari strategi ini adalah orisinalitas. Sebuah strategi yang ditujukan untuk memastikan semua pihak bahwa yang orisinil hanya ada ditempat yang ditentukan.

Konsekuensi logisya adalah bahwa harus ada keistimewaan yang layak diandalkan sehingga kepercayaan diri menyebutkan tidak ada cabang menjadi unggul dan masuk akal. Ini sangat mungkin terjadi kalau produknya adalah produk unggul yang tercipta sebagai pemimpin pasar. Mungkin saja juga karena produk tersebut adalah produk pertama yang menonjol dan dikenal publik dan diekori oleh pesaing-pesaing lainnya.

Pemilihan strategi ini mestinya mempertimbangkan potensi pelebaran bisnis jangka panjang. Artinya, peluang-peluang untuk ekspansi dengan membuka cabang-cabang baru jelas tertutup kemungkinannya.

Tidak berniat membuka cabang baru, semestinya muncul dari keyakinan bahwa bisnis tersebut memang hanya layak jika dilakukan di satu outlet saja. Mungkin saja proyeksi pengembangan hanya berupa pelebaran lokasi atau sistim distribusi lain.

Dengan hanya membuka satu gerai saja, maka distribusi merupakan pilihan yang menarik. Pola pesan antar juga berpotensi meningkatkan penjualan jika tingkat kunjungan pembeli sudah mencapai puncaknya.

Jenuh

Tantangan dari strategi ini adalah jika pasar sudah mencapai titik jenuh. Semua bisnis pasti ada puncaknya dan jika sudah mencapai tahap tersebut, maka ide membuka cabang baru menjadi tertutup karena sejak awal disebutkan tidak membuka cabang dimanapun.

Setelah saya amati, ternyata strategi menyebutkan tidak ada buka cabang dimanapun biasanya dilakukan oleh pengusaha-pengusaha bergaya klasik. Umumnya dikerjakan oleh usaha-usaha skala kecil menengah dimana peran pengusaha sangat dominan. Tentu saja, grafik performa perusahaan dengan tipe ini sangat berhubungan langsung dengan karakter pengusahanya.

Jika pengusahanya sedang bersemangat dan penuh motivasi, maka kinerja usahanya pun mencolok dan penuh vitalitas. Demikian juga ketika pengusahanya sedang malas dan tidak selera, maka performa perusahaan secara umum juga menurun, mengikuti kondisi mental tuannya. Disisi lain kita menyadari bahwa semua manusia memiliki karakter mental yang berubah-ubah. Komitmen yang tinggi bisa saja sesekali berubah turun dan melemah. Manusiawi...

Ceritanya menjadi komplek ketika bisnis tersebut dilanjutkan oleh generasi berikutnya yang menganut gaya manajemen bisnis modern. Atau paling tidak jika pengusahanya berniat mengembangkan usaha dengan membuka cabang baru. Pada saat itulah, pemilihan strategi orisinalitas yang menyebutkan tidak ada cabang lain berubah menjadi bumerang.

Bijaksana

Menetapkan diri menggunakan strategi orisinalitas dengan menyebutkan tidak memiliki cabang dimanapun layaknya diputuskan dengan bijaksana. Pertimbangkan potensi pelebaran pasar dan ekspansi bisnis dimasa yang akan datang.

Memang terasa menggemaskan jika pengekor memanfaatkan upaya kita sejak awal dan mereka hanya tinggal menikmati hasilnya saja. Untuk itu memilih strategi ini pantas jika pengekor terindikasi merugikan dari sisi kompetisi.

Jikalah strategi ini sudah terlanjur ditempuh dan pada saatnya harus membuka cabang baru, maka upaya re-lounching yang istimewa akan menjadi sebuah keharusan. Cabang baru harus memiliki kesamaan yang persis dengan induknya. Kesamaan itu berupa setting dekorasi, setting pelayanan bahkan jika diperlukan adalah profile pengusahanya yang seolah-olah hadir di cabang tersebut. Lalu publikasi yang luas dan besar-besaran menjadi sebuah pilihan wajib.

Sesudahnya, informasikan ke publik dengan mengganti pesan dalam reklame yang pertama dengan “Hanya buka cabang di...”



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com





Bookmark and Share


Share:

Balada Agen Dunia




AZIZ, demikian saya mengenal namanya. Orangnya sangat dinamis. Terlihat dari penampilan dan gaya hidupnya. Ia mengenal banyak orang dari kalangan manapun. Dia saya kenal sebagai agen. Saya tidak bisa menceritakan agen apa, tetapi sepertinya dia mengagenkan semua hal. Dari properti, jasa surat kendaraan bermotor, hasil bumi, hingga proyek-proyek listrik. Tidak salah kalau orang-orang menyebutnya sebagai agen dunia.

Dunia saya memungkinkan bertemu dengan orang-orang seperti Aziz. Ada yang proffesional dan ada juga yang serabutan tidak menentu. Salah satunya adalah Bebi, dia ini seorang perempuan yang ligat, terlihat berkelas dan mengenal banyak pejabat pemerintahan. Ia memangil Walikota dan Gubernur tidak lagi dengan sebutan Bapak, tetapi dengan sebutan Abang. Bebi adalah agen khusus masalah proyek-proyek dari pemerintahan.

Salah satu kenalan saya yang lain adalah Togap. Ia bukan pegawai departemen hukum dan ham, tetapi ia seperti berkantor di kejaksaan dan pengadilan. Togap inilah yang sering dijuluki sebagai makelar peradilan. Ia konon bisa ‘memperingan’ hukuman bahkan kalau mulus bisa ‘membebaskannya’.

Ada lagi Mustafa, pada awal perkenalan hingga pertemuan yang ke 4 saya baru tahu kalau ternyata dia adalah agen penjualan pesawat helicopter dari Rusia. Pembelinya adalah pemerintah dan kalangan atas yang memerlukan helicopter untuk sarana transportasinya.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang seperti Aziz yang mengandalkan hidupnya menjadi ’perantara’. Terutama bagi mereka-mereka yang masih menjadi ’agen dunia’, masih mencari bentuk dan belum fokus dalam bidang layanan tertentu.

Mediator

Secara sederhana, agen adalah orang-orang di posisi tengah. Yang menghubungkan pembeli dan penjual. Mereka memuluskan urusan orang-orang yang membutuhkan jasanya. Dalam sejarah transaksi di dunia ini, peran-peran mediator seperti itu tidak pernah ada habisnya.

Mereka tetap dibutuhkan karena seringkali penjual tidak memiliki konsidi yang pas untuk berjualan. Mungkin alasan waktu, lokasi, keterbatasan sumber daya atau karakter yang tidak pas untuk berjualan. Sementara itu pembeli juga sangat mungkin tidak memiliki wawasan luas akan produk yang akan dibelinya.

Mediator juga memungkinkan bertemunya berbagai potensi bisnis sehingga terjadi kesepakatan kerjasama yang lebih baik untuk semua pihak.

Karakter

Di level agensi apapun, saya melihat beberapa karakter dasar yang penting untuk menjadikan seorang agen sukses dibidangnya.

Yang pertama adalah bergaul. Aziz, Bebi, Togap dan Mustafa memiliki pergaulan yang luas, dikenal dan mengenal banyak orang. Populer tapi tidak menonjol. Dan mereka tidak saja hanya mengenal nama, tetapi juga tahu serba-serbi jaringannya secara pribadi. Orang-orang seperti Bebi bahkan sangat tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh Pak gubernur. Orang seperti Bebi tahu keluh kesah Pak Gubernur yang tidak diketahui ajudannya.

Mereka ’membina’ hubungan dengan calon-calon pemimpin potensial, karena suatu saat mereka akan mendapatkan keuntungan dari para binaannya tersebut.

Mereka bergaul dan memiliki kekuatan pergaulan yang ibaratnya bisa digerakkan hanya dengan satu kali telepon.

Yang kedua adalah pengumpul informasi. Agen-agen yang sukses seperti call center yang mengumpulkan dan memanfaatkan informasi dengan baik. Bukan sekadar informasi peluang-peluang bisnis, tetapi juga informasi-informasi lain yang penting bagi kliennya. Orang-orang seperti Mustafa lebih tahu dari seorang Kapolda tentang siapa-siapa yang akan menjabat di jajaran markas besar kepolisian. Meraka bahkan tahu, siapa-siapa saja yang ’berminat’ mengejar jabatan terntentu di kalangan kliennya.

Yang ketiga adalah pengingat yang baik. Mereka memiliki sistem mengingat yang luar biasa. Mereka ingat kapan saja anggaran di syahkan oleh sebuah badan atau perusahaan setiap tahunnya. Mereka ingat siapa yang ditemuinya dan berpotensi dalam hal apa saja. Mereka bahkan mengingat ulang tahun kliennya satu per satu.

Yang keempat adalah rendah hati dan sangat penolong. Mereka bisa merendahkan dirinya sangat rendah bagi kliennya dan akan senang hati menolong kliennya dalam masalah apapun. Kesemuanya adalah investasi yang suatu saat akan dipanen jika sudah tiba waktunya. Semakin banyak menanamkan hutang budi, semakin mudah urusan dikemudian hari.

Mereka memiliki ketrampilan yang hebat dalam hal melayani dan menyelami pribadi targetnya. Mereka bisa menjadi diplomat, sahabat, salesman, saudara, informan, bahkan bisa jadi menjadi pengancam yang efektif.

Yang kelima adalah memiliki yang orang lain tidak miliki, dalam hal ini adalah bahwa agen-agen ini memiliki hal-hal yang tidak dimiliki oleh pembeli dan penjual, baik berupa informasi, jaringan dan hal-hal lainnya.

Mereka menjadi sumber solusi bagi para kliennya. Mereka seperti superman yang seolah-olah sanggup mengerjakan apapun.

Yang keenam adalah negosiator yang handal. Mereka mampu menciptakan suasana ketergantungan. Penjual bergantung kepadanya dan pembeli juga seolah tak bisa hidup tanpanya. Mereka bisa memainkan peran sandiwara yang luar biasa hebat. Sehingga kadang mereka mendapatkan keuntungan dari kedua belah pihak. Dari penjual dan dari pembeli sekaligus.

Yang ketujuh adalah berjiwa petaruh. Mereka saya kira memiliki kemampuan diri dalam hal bertaruh. Kadang seperti penjudi tanpa kartu joker dan meja rollet. Mereka sangat tahu kapan memasang dadu pergaulan. Berani menggertak dan berani berspekulasi. Sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang.

Senior

Secara sederhana saya simpulkan yang membedakan antara agen pemula yang disebut agen dunia dengan agen senior adalah tingkat fokusnya. Pemula biasanya mengagenkan apapun, sehingga disebut agen dunia.

Para agen proffesional biasanya hanya berfokus pada satu bidang tertentu yang dia geluti secara utuh. Tentu saja, dengan fokus dan membatasi diri pada bidang tententu saja, maka kualitas keagenannya semakin bagus.

Dengan fokus pada bidang terntentu, jelas tidak membingungkan kliennya, karena klien dan jaringannya akan mudah mengenal dan mengingatnya.

Tentu saja untuk menjadi senior dan sukses diperlukan perjalanan yang panjang. Tidak serta merta menjadi sukses. Jadi, jika anda masih menjadi agen dunia, silahkan teruskan saja hingga anda mendapatkan pola dan format yang cocok untuk anda fokus kepadanya.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

KOPI dan PERDAMAIAN DUNIA

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 23 november 2009 pada halaman bisnis dan teknologi

Wajah lelaki berbaju seragam POLRI itu pelahan menjadi semringah menyusul seruputan kedua dari bibir cangkir kopi panas yang disajikan Kang Dirno. Sementara pemuda berseragam bersih disebelahnya sudah mulai bercakap ringan dengan pengunjung kedai kopi lainnya. Disisi kanan 3 meja panjang penuh terisi orang-orang yang mengisi perutnya dan merasakan sengatan kopi hitam yang panas menyegarkan. Berjejer di depan mereka cangkir-cangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Asap inilah yang menjadi pertanda dimulainya hari ini.

Kedai Kang Dinro ini berdiri di sekitar Hotel Bintang Lima terbesar di Kota Medan. Ia dan istrinya sudah melayani pembeli sejak tahun 1980 di tempat yang sama. Mereka hafal siapa-siapa pelanggan tetapnya. Kang Dirno yang ramah kadang menyapa yang datang dengan nama paggilanya, satu per satu.

Semakin tahun, pelanggan Kang Dirno ini justru tak berkurang. Kalau saya amati tidak sangat istimewa tempat ini, karena tempat ini hanyalah kedai kecil dipinggir jalan, tetapi pelanggan itu datang dan pergi dengan setia hampir setiap hari.

Barista

Saya menyebut ahli penyeduh kopi dengan istilah ini –barista—. Mereka seperti bartender tetapi khusus kopi. Mereka memerlukan waktu yang panjang dan pengalaman segudang untuk bisa disebut sebagai barista.

Saya kewalahan saat ingin menyebut profesi Kang Dirno ini, kalau saya sebut barista, dia bahkan hanya mengenal 2 jenis kopi. Kopi hitam dan cappucino sachet, itu saja. Dia tidak tahu apa itu espresso, machiato, late dan sebagainya. Dia tidak tahu beda kopi Makasar dan Kopi dari Kilimanjaro. Apalagi filosofi kopi seperti yang di tuliskan Dee di buku kumpulan cerpennya.

Tetapi, dari kaca mata bisnis kelas mikro, Kang Dirno saya angap cukup berhasil mempertahankan pelanggannya hingga kini. Aliran cash-nya sangat bagus. Dari pertanyaan saya, hanya 2 orang saja yang dia ijinkan berhutang, itupun karena faktor tetangga.

Adalah jiwa pelayanan Kang Dirno yang menarik, mengingatkan saya kepada Rudi seorang Bartender di salah satu Lounge di tepian pantai Scheveningen, Den Haag. Mereka berdua seperti seorang konselor yang memahami psikologi manusia. Mereka berdua tahu kapan harus diam membiakan si Tamu sendiri, atau harus mengajak si Tamu berbicara. Bahkan mereka berdia tahu saat berbicara harus memilih topik lucu atau ala kadarnya saja.

Mereka berdua bahkan lumayan tahu rahasia-rahasia para pelanggannya. Dan mereka berdua menutup erat-erat informasi rahasia itu seperti janji kode etik profesinya. Mereka sangat lihai memposisikan diri sebagai pihak yang selalu enak diajak bicara. Bahkan mereka tahu kapan waktunya membiarkan tamu saling berdebat atas topik-topik obrolan yang muncul, sejauh tidak ada perkelahian.
PERDAMAIAN DUNIA

Kopi dan perdamaian dunia? Ah ... apa hubungannya? Begitulah pikir saya. Tapi bagi Kang Dirno itu sangat benar dan dia yakini. Selama puluhan tahun melayani orang minum kopi, iya meyakini bahwa kopi memberikan pengaruh yang istimewa kepada peminumnya.

Setelah meminum kopi, biasanya mata jadi awas dan tidak ngantuk. Konsentrasi bekerja lebih baik dan perasaan senang menjalar bersama panasnya kopi memasuki tenggorokan peminumnya.

Menurut Kang Dirno, hati yang suntuk dan gundah, akan sedikit terhibur dengan secangkir kopi yang lezat. Bahkan kebekuan hubungan bisa dilunakkan dengan ngopi bersama.

Kang Dirno tidak lagi sanggup menghitung dan mengingat berapa kasus pertengkaran dan sengketa bisa terselesaikan dikedainya tentu sambil minum kopi. Tidak sedikit kesepakatan-kesepakatan bisnis, perencanaan projek sosial, musyawarah keluarga dan bahkan rentetan kisah cinta hingga perkawinan, semuanya sudah dia lihat terjadi di warungnya dan semuanya terselesaikan dengan secangkir kopi.

Mungkin sedikit naif, tetapi alasan bahwa kopi adalah salah satu unsur penting demi tercapainya perdamaian dunia bagi saya bisa diterima. Apalagi filosofi itu saya kira adalah bahasa motivasi diri bagi Kang Dirno untuk tetap bersemangan dan senang melayani pembeli.

Kang Dirno tidak lagi terbudak dan terpaksa menjadi penjual kopi, tetapi bergema dalam pikiran dan bawah sadarnya bahwa ia melakukan hal yang jauh lebih mulia daripada sekadar seorang penjual kopi. Dalam pikirannya, ia adalah pelayan istimewa yang melayani terciptanya perdamaian dunia. Ia senang ketika wajah-wajah buram itu berubah senang dan tersenyum setelah meminum kopinya. Ia senang jika banyak orang terbantu dan merasa senang.

Ia yakin perdamaian dunia akan tercipta oleh orang-orang berwajah senang dan bersemangat, bukan wajah-wajah teruk, loyo dan pucat.

Alasan

Semua hal bisa dilihat dari berbagai sisi. Termasuk alasan bekerja atau berbisnis. Alasan yang mulia biasanya akan menghasilkan karya yang mulia juga. Itulah yang saya petik dari sikap yang dipilih Kang Dirno.

Ia memilih sesuatu yang mulia dan besar. Ia melakukan tindakan nyata mendamaikan dunia melalui tangan kecilnya yang hanya 2 buah itu dengan karya sederhana.

Alasan itu memang tidak serta merta merubah rasa kopi dan penjualannya, tetapi jika Kang Dirno hanya menggunakan alasan mencari uang dan berjualan kopi, niscaya ia hanya akan bertahan beberapa waktu saja. Bosan dan muak, lalu ia tutup kedai itu dan berganti proffesi lain.

Kang Dirno sudah membuktikan komitmen dirinya selama puluhan tahun tetap setia melayani dan menjaga perdamaia dunia melalui kopinya. Ia tetap menjaga senyumnya kepada wajah-wajah suram yang datang kepadanya. Ia tetap setia menghibur mereka-mereka yang ingin mengajaknya ngobrol sambil memberikan resep mujarab kesegaran berupa kopi hitam panas!

Saya terinspirasi oleh jiwa pelayanan dan alasan yang diyakini Kang Dirno, saya yakin karena itulah saya ingin membaginya kepada anda. Apapun profesi dan pekerjaan kita, pasti ada alasan mulia yang bisa kita yakini selain dari hanya sekadar mencari uang!



Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com



Share:

4.1.10

Jual Nama

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 16 november 2009, pada halaman bisnis dan teknologi



Pria tengah baya ini bernama Rianto. Dan nama inilah yang menjadi semacam jaminan bagi orang-orang disekitarnya. Jaminan atas terselesaikannya berbagai macam urusan yang tidak bisa dikerjakan orang lain di kelompoknya.

Nama Rianto benar-benar seperti kunci bagi semua permasalahan. Mulai dari permasalahan sambungan listrik, percetakan, kredit bank, catering, pengurusan STNK, pengurusan paspor, memasang iklan, mencari pembantu, hingga pembersihan savety-tank (penampungan tinja).

Pria hebat ini menjadi andalan. Namanya menjadi jaminan berbagai keputusan. Bahkan anggota dalam kelompok itu akan menolak apapun yang ditolak oleh Rianto. Rianto bukanlah raja, bukan manajer, bukan ketua dan bukan atasan dari kelompoknya. Justru Rianto menjadi orang yang selalu disuruh-suruh oleh anggota kelompok lainnya.

Singka cerita, rianto adalah password penting dikelompoknya. Ia orang serba bisa, serba bisa menyelesaikan permasalahan dan urusan yang repot. Saya habiskan hampir 1 jam untuk mewawancarainya dan membutuhkan waktu lebih dari 4 hari untuk membuktikan kalimatnya.

Pembaca yang budiman, Rianto ternyata bukanlah seorang superman, tapi ternyata Rianto memiliki superteam. Dibalik sukses Rianto, ada sederet nama-nama lain yang tidak dikenal oleh orang-orang disekitar Rianto, atau memang orang-orang itu tidak mau perduli kecuali sebuah nama yaitu Rianto. Yang menarik lagi, sederetan nama itu jelas-jelas bukan anak buah atau bawahan Rianto.

Secangkir kopi luwak menjadi penghantar pembicaraan dengan Rianto yang selalu senyum klecam-klecem Rianto mengaku bahwa dirinya hanya bermodal pergaulan. Dia punya sahabat agen pengurusan STNK dan Pasport yang selalu siap kapan saja membantu Rianto. Dia punya kawan sekolah yang menjadi pengusaha periklanan, ada kawan main bola yang kerjanya menggalas kambing ke kampung-kampung, ada kawan yang tukang listrik karena sering ketemu di mesjid dan ada kawan bagian pemasaran di sebuah bank karena pernah dibantunya mencari pembantu rumah tangga.

Rianto tiap waktu –disadarinya atau tidak—telah manambah terus jumlah jaringan dan memperkuatnya. Dalam percakapan itu, bahkan Rianto sanggup mengurus surat tanah, urusan notaris, urusan tender disalah satu perusahaan perkebunan milik pemerintah dan urusan rumah sakit.

Rianto sangat ramah dan ringan tangan, senang membantu siapa saja dan sikap itulah yang ‘menjerat’ hati dan simpati orang-orang dilingkungannya. Kepada kawan-kawan dalam jaringannya, Rianto juga cukup cerdas berbagi. Tiap ada keuntungan project, Rianto selalu membaginya dengan transparan. Rianto tidak keberatan menerima bagian yang lebih kecil dari yang diterima rekanannya itu. Dalam pikiran Rianto, kerjanya toh hanya memesan saja, sedang yang mengerjakan kan orang lain, jadi jika mendapat bagian yang sedikitpun tetap saja untung dan menyenangkan, dia bilang, “Yang pusing dan berkeringat kan mereka, bukan saya”. Rianto mengaku, tak apa kalau dapat kecil tapi kan projectnya banyak, jadi walau kecil-kecil toh akhirnya dapat besar juga.

Agensi

Namanya wak Chaniago, sering kami panggil Wak Chan. Dia penjahit terkenal disudut luar kampung kami. Wak Chan ini juga salah satu contoh superman yang muncul dengan kecerdasan khas urang Minang.

Ditoko-nya, Wak Chan hanya memajang 2 mesin jahit, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk seorang pegawai. Yang aneh adalah, Wak Chan berkumis ini menerima saja semua pesanan dan ia sanggup mengerjakannya. Wak Chan dan anggotanya seperti raja siluman yang sanggup membuat sesuatu dalam satu detik. Jika rata-rata seorang penjahit bisa menyelesaikan satu baju dalam satu hari, wak chan dan anggotanya bisa menyelesaikan 20 hingga 80 pasang baju dalam 1 minggu. Benar-benar mengherankan!

Lagi-lagi secangkir kopi menemukan saya dengan raja siluman ini yang mengaku berasal dari desa kecil di Kabupaten Agam Sumbar. Pria yang selalu berpakaian rapih ini membongkar rahasianya. Ia punya 20 pasang tangan yang tidak terlihat. Ia memiliki 20 pasang kaki yang tidak ia tunjukkan di tokonya. Ia memiliki 20 penjahit yang bekerja di rumah masing-masing. Mereka akan menerima order dari Wak Chan dalam bentuk kain yang sudah terpotong berpola lengkap dengan kelengkapannya (benang, kancing dan asesoris lainnya).

Inilah yang saya sebut dengan cerdas. Wak Chan mempekerjakan orang lain atas nama dirinya. Semua pelanggan Wak Chan hampir tidak ada yang tahu kalau Wak Chan praktis hanya menjadi juru terima pesanan, mengukur dan mempola saja, selebihnya ada pekerja lain yang bekerja untuk dirinya. Mereka bekerja tanpa ikatan tertulis, mereka bekerja borongan. Dan Wak Chan selalu menambah 2 hari batas waktu yang dijanjikan kepada pelanggan lebih lama dari kesanggupan pekerjanya menyelesaikan jahitan itu.

Saya menyebut pekerjaan Rianto dan Wak Chan sebagai pekerjaan agensi. Walaupun sebenarnya mereka sudah memiliki merek yang bagus. Nama mereka menjadi jaminan kualitas produknya. Orang-orang percaya dan jadilah bisnis itu.

Jual Nama

Banyak sekali pengusaha yang tidak pernah bisa berproduksi lebih dan tidak bisa maju pesat, karena mereka hanya mengandalkan kedua tangannya. Mereka tidak pernah terfikir dan terlatih untuk menggunakan tangan-tangan lain untuk dirinya.

Itulah yang disebut dengan pengusaha pelit. Semuanya mau dimakan sendirian. Dan batas akhir kepelitan itu adalah produktifitas yang terbatas. Saya sebut pelit karena tidak mau berbagi pekerjaan dan berbagi rejeki. Semuanya mau dikerjakan sendiri. Jelas sesuatu yang pasti ada batasnya.

Mungkin ada yang berkilah bahwa ketidakmauan untuk berbagi adalah karena takut mengecewakan pelanggan. Bahkan mungkin sudah ada yang melakukannya tapi selalu gagal. Boleh saja beralasan demikian, tetapi ingatlah bahwa gagal itu sesuatu yang wajib ada, untuk memicu sukses.

Ada kecerdasan hebat jika bisa menggunakan pikiran, tenaga dan uang orang lain untuk bisnis kita sendiri. Rianto dan Wak Chan, contoh dari kecerdasan itu. Dan kecerdasan yang paling hebat dalam hal ini adalah kemampuan diri mengelola dan mengendalikan orang lain. Itulah rahasinya. Semua delegasi adalah seni pengendalian diri dan orang lain. Selamat mencoba



Konsultasi & Pelatihan; Tj@cahyopramono.com



Share:

Promosi Tanpa Mulut

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 9 november 2009, pada halaman bisnis dan ekonomi.





PEREMPUAN itu merengut saja, mukanya jutek, lelah dan bosan. Tiap ada tamu yang datang, tanpa diminta secara otomatis ia menyodorkan selembar kartu nama dengan ekspresi datar. Terlihat ada beberapa orang yang berusaha bertanya kepadanya tetapi ia langsung menyibukkan diri dengan menundukkan kepala.

Pada pameran promosi yang cukup mahal ini, perempuan penjaga stand tadi tidak lagi memikirkan betapa pentingnya promosi dan penjualan produknya. Ia terjajah oleh rasa bosan dan lelah yang berlebihan. Betapa sebuah promosi yang kontra-produktif.

Penasaran dengan pemandangan itu, saya mendekat dan menawarkan kopi panas dalam kemasan sekali pakai. Sesaat setelah saya ajak bercanda, si perempuan ini mulai menampakkan senyum manisnya. Ternyata perempuan pemilik senyum mempesona ini menjadi korban cara berpromosi yang masih primitif.

Perempuan penjaga stand pameran ini merasa muak setelah menjawab pertanyaan yang sama selama lebih dari 6 jam pameran, “Mba, harganya berapa?” akunya sambil menyeruput kopi panasnya. Singkat cerita, saya iseng-iseng menuliskan besar-besar sebuah harga di kertas HVS dengan spidol tebal, “Hanya Rp. 15.000,-/kotak”, lalu saya tunjukkan ke si penjaga stand tadi dan memberikan isyarat untuk ditempelkan di kaca dekat pemajangan produknya.

Tawa yang renyah meledak dari mulut perempuan penjaga stand itu ketika tidak sampai 5 menit dari pemasangan tulisan itu, ada seorang yang datang menghampiri kami tanpa berkata apapun langsung menyodorkan uang Rp.15.000,- dan memberikan isyarat meminta 1 kotak dengan jari telunjukknya. “Terimakasih” itu saja kata si pembeli tadi begitu ia mendapatkan barangnya.

Tawa itu terjadi setelah menyadari betapa tulisan harga yang sederhana tadi menjadi begitu sakti. Menghemat tenaga, memudahkan informasi dan membedakan pembeli sebenarnya dan orang yang hanya ingin sekadar bertanya.

Saya jadi teringat jalam dulu masih sekolah, sekali waktu sepulang les saya naik angkot. Saya duduk di depan di samping pak sopir. Perjalanan dengan angkot ini menjadi melelahkan dan panjang. Tiap ada orang berdiri di tepi jalan, selalu saja pak sopir menjalankan ritual yang berulang. Ritual itu berupa; Pasang lampu tanda ke kiri, klakson dua kali, minggir dan mendekat ke orang yang berdiri di tepi jalan tadi dan meneriakkan satu nama terminal sebagai tujuan trayeknya.

Tidak pernah angkot ini melaju kencang dengan gigi mesin di angka 4, karena tiap beberapa meter pak sopir ini mengulangi ritual yang sama, Pasang lampu tanda ke kiri, klakson dua kali, minggir dan mendekat ke orang yang berdiri di tepi jalan tadi dan meneriakkan satu nama terminal sebagai tujuan trayeknya.

Merasa sebal dengan teriakan-teriakan pak sopir, saya sobek satu lembar kertas gambar saya dan dengan krayon saya tuliskan nama terminal yang sedari tadi diteriakkan pak sopir lalu saya tempelkan di kaca depan sebelah kiri. Adan tentu bisa menebak kisah ini, selanjutnya pak sopir tidak lagi perlu berteriak dan bahkan tidak harus memberhentikan angkotnya, dia hanya berusaha untuk membuat sedikit pelan sehingga calon penumpang bisa membaca dengan jelas tujuan yang akan dilewati mobil angkot kami.

Tanpa Mulut

Membiarkan team promosi/penjualan mengandalkan mulutnya adalah langkah yang kurang bijaksana. Tentu harus ada media-media bantu yang memudahkan penjualan bahkan ketika seseorang tidak bisa mengucapkannya.

Buatlah media promosi yang membantu meringankan beban mulut. Informatif, singkat, efktif dan mengundang. Apalagi informasi itu adalah informasi yang jamak ditanya. Mudah menjawabnya dan berulang kali ditanyakan.

Dalam pengamatan saya, para penjual yang selalu terjebak dalam menjawab pertanyaan rutin itu bukan tidak pintar, tetapi mereka kadang tidak menyadari betapa berulang kali mereka menjawab pertanyaan yang sama dan mereka tidak menyadari arti penting pesan-pesan tertulis itu.

Jangan heran ketika banyak penjual yang sulit senyum selama melayani pembeli karena kesalahan rutinitas tersebut.

Membahas “tanpa mulut”, juga harus dilakukan di material promosi/penjualan yang tertulis tersebut. Sampai sekarang masih banyak penjual yang harus berbicara menjelaskan brosur atau surat penawaran yang disampaikanya. Betapa sebuah pekerjaan yang sia-sia. Informasi tertulis yang dibuat tidak cukup menginformasikan segala-sesuatunya sehingga harus ada keterangan lain dari mulut si penjual.

Hingga kini masih banyak pembuatan media promosi yang harus didampingi mulut si penjual untuk mejelaskan makna gambar dan kondisi-kondisinya. Lagi-lagi gaya penjualan yang paling primitiflah yang terjadi.

Media promosi yang masih harus ditambah mulut itu, biasanya terjadi karena kekurang mampuan dalam menyampaikan pesan melalui media tertulis, atau juga karena ada potensi menipu yang diniatkan oleh si penjual.

Sangat mungkin penjual merencanakan kebusukan yang dengan sengaja tidak menginformasikan kekurangan dan potensi kejelekkan produk atau sistem penjualannya. Penjual yang seperti ini menunggu silap si pembeli saja. Jelas sebuah langkah yang tidak bisa ditolerir.

Yang terakhir, memang diperlukan ketrampilan untuk bisa menyampaikan sesuatu dengan media tulisan. Tetapi itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Hanya diperlukan kemauan belajar dan mencobanya. Toh itu untuk kebaikan anda sendiri.

Saya jadi ingat sewaktu naik kereta api kelas ekonomi yang sepanjang perjalanan tidak pernah sepi dengan penjual asongan. Sebuah romantisme kereta rakyat yang memberikan kesempatan perputaran uang recehan demi perut yang sejengkal ini. Para pedagang asongan itu memiliki suara yang lantang dan sepertinya Mereka tidak perduli apapun, walaupun seseorang sedang tertidur lelap pun mereka akan tetap membangunkannya demi menawarkan produk dagangannya.

Hingga suatu ketika ada seorang pemuda yang bisa tidur lelap tanpa diganggu oleh para pedagang songan karena ia menutupi kepala dan wajahnya dengan kertas karton berwarna kuning dengan tulisan spidol, “saya tidak mau beli apapun, jangan ganggu saya”



Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share:

Jenjang Penghargaan

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 02 november 2009, di halaman ekonomi dan bisnis



MANUSIA diciptakan Tuhan dengan lengkap termasuk nafsu didalamnya. Nah, komponen yang satu itulah konon menjadi motor sifat serakah bagi kebanyakan manusia. Keserakahan itu dimiliki oleh kebanyakan manusia yang diantaranya adalah para Tenaga Penjualan, Tenaga Pemasaran dan orang-orang yang membantu bisnis anda.

Jangan salah sangka, dibalik tundukan kepalanya dan sikap hormatnya saat mereka menghadap anda, mereka juga menghendaki segala-sesuatu yang didapatnya terus bertambah, meningkat, lebih banyak, lebih baik dan ingin mendapatkan semua kebaikan lainnya.

Pada saat pertama sekali mereka melamar pekerjaan kepada anda, kebanyakan dari mereka akan menggunakan ilmu PUN, “Apa pun, Kapan Pun, Dimana Pun, Berapa Pun”. Mereka memohon dan merendahkan dirinya hingga menyentuh lantai dengan mengatakan akan menerima pekerjaan apapun itu, entah seberapa lama pun pekerjaannya, walaupun dibagian pembersih wc di ujung dunia sekalipun. Lalu mereka juga berjanji untuk setia, disiplin dan berprestasi dengan gaji seberapapun itu.

Betapa sebuah lelucon yang menggelikan. Ironisnya, saya dan anda juga pernah mengalaminya menjadi orang yang meminta itu dengan skala memohon yang berbeda-beda.

Begitu diterima proposal pekerjaan itu dan mulailah dijalani pekerjaan itu, biasanya tidak sampai empat bulan, sudah akan ada tanda-tanda bisul pecah. Tanda-tanda keserakahan yang terpendam erat dan tak kuasa ditahan. Mulai dari munculnya kemalasan, pengurangan kecepatan kerja, hingga menuntut tambahan gaji dan berbagai bentuk tuntutan yang jelas berlawanan dengan ilmu “PUN” yang dirapalkan pada awal perekrutan dulu.

Dari menganggur, orang ingin bekerja walau digaji harian, dari status harian ingin menjadi honorer, dari hononer mau jadi pewagai kontrak, dari status kontrak ingin menjadi status permanen.

Demikian juga dengan posisi dan jabatan, mulai dari klerk, ingin naik menjadi kepala regu, lalu naik mejadi kepala seksi, kepala bagian, hingga pemimpun umum. Anda sudah bisa membayangkan, berapa besar peningkatan gaji yang dikehendakinya.

Tak ada kata cukup dan puas dalam eskalasi kebutuhan itu. Persis seperti pelajan kaki yang merindukan sepeda, dan yang naik sepeda merindukan sepeda motor, lalu pengendara sepeda motor merindukan bisa naik mobil dan pemikik mobil menginginkan mobil lebih berkualitas lagi.

Bosan dan Cukup

Rasa senang dan puas atas pencapaian sesuatu itu hanya bertahan beberapa waktu saja. Selebihnya manusia akan merasakan bosan. Rutinitas yang membosankan akan mengumpulkan semua keluh kesah dan gerutu. Rutinitas akan mengobarkan jiwa pemalas dan keinginan besar untuk bersenang-senang lebih banyak daripada harus bekerja dengan serius.

Untuk itulah diperlukan perubahan-perubahan untuk membuat rutinitas menjadi lebih berwarna dan bervariasi sehingga kebosanan bisa diredakan sementara waktu. Perubahan-perubahan tersebut tentu saja diperlukan juga dalam hal penghargaan. Itu penting, karena penghargaan yang itu-itu saja jelas akan membosankan. Dana dalam semua kondisi, bosan adalah akar dari segala kejahatan atas sebuah komitmen.

Mungkin karena segala ciptaan Tuhan itu berubah, jadi segala bentuk rutinitas tidak menjadi hal menarik bagi kebanyakan orang. Rutin dan bosan adalah penyebab kebodohan dan ketololan yang tidak disadari. Saya masih ingat, seorang kawan yang pengusaha kaya itu menggunakan stik golf-nya berharga jutaan rupiah untuk mengganjal pintu selama lebih dari 4 tahun terus menerus. Kawan saya itu jelas secara akademik menggondol ijazah S2 dari luar negri, pengusaha yang piawai, pemimpin yang cerdas, tapi cukup tolol untuk permasalahan sepuluh ribu rupiah yang berupa ganjal pintu. Itu terjadi karena kebiasaan dan rutinitas!



Eskalasi

Jika anda memiliki anggaran untuk gaji pegawai pemula antara 1 juta hingga 5 juta per bulannya. Pastikan anda tidak langsug memberikan 5 juta pada kesempatan pertama. Berikan seminimal mungkin sesuai kewajaran, lalu perlahan-lahan naikkan pada waktu-waktu tertentu setelah evaluasi hingga mencapai angka 5 juta tersebut.

Contoh sederhana adalah ketika anda naksir lawan jenis anda. Kalau anda berkenalan sore hari dan malamnya anda ajak dia tidur, pasti besoknya langsung anda tinggalkan. Berbeda jika anda tertarik dengan melihatnya, lalu anda berusaha mencari tahu nama dan alamatnya, setelah sekian lama anda baru bisa berkenalan dengan bersalaman. Lalu anda bisa berteleponan setelah sekian waktu. Setelah anda berusaha, anda bisa mengajaknya makan malam bersama. Setelah usaha pada kesempatan lain anda bisa mengajaknya menonton bioskop bersama dan seterusnya anda melamar dan menikahinya.

Dalam contoh yang kedua, saya yakin anda akan menikmati semua prosesnya tanpa rasa bosan. Tiap kali anda maju satu langkah, anda akan merayakannya dengan senang hati. Anda ingin terus lebih dalam dan lebih jauh mengenal dan bersama lawan jenis yang anda taksir tersebut.

Jadi demikian juga dalam hal penghargaan. Buatlah jenjang penggajian yang bertahap. Termasuk nilai komisi atau incentif yang diberlakukan. Jenjang ini juga berlaku untuk semua hal lain seperti fasilitas akomodasi dan hal-hal lain yang dirasakan oleh para pegawai tersebut. Kalau anda memberikan fasilitas wisata karyawan yang pertama kali langsung di hotel bintang 4, tentu untuk selanjutnya mereka ingin mendapatkan hotel bintang 5, bukan bintang 3 atau dibawahnya.

Eskalasi ini juga bagus jika diaplikasikan pada eselon atau golongan pekerjaan. Dalam struktur organisasi bisnis, memang semakin sederhana akan semakin efektif. Tetapi secara psikologis, jangan lupa jika bosan dan rutin itu sangat berbahaya. Jadi susunlah urutan jabatan sepanjang mungkin. Misalnya antara klerk dengan manajer bagian jangan langsung, tetapi ada kolom jabatan wakil manajer, lalu dibawahnya ada senior supervisor, lalu dibawahnya lagi ada junior supervisor, lalu ada senior clerk dan clerk di urutan paling bawah.

Eskalasi atau jenjang jabatan itu penting dalam jangka panjang, jenjang itu bermanfaat agar pegawai tahu urutan jabatan yang harus dikejarnya, dan itu potensial untuk menghilangkan kebosanan.

Yang amat penting bagi kita adalah; biarkan rasa bosan itu hanya ada dalam hati mereka, bukan hati kita, kita harus pandai mencukupkan diri, sehingga bisa merasa puas lalu bisa bersyukur. Saat kita bisa bersyukurlah, berkah Allah akan mengalir lebih deras...



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive