it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

24.4.10

Mengapa Pelayanan di Rumah Makan Minang lebih cepat?

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada tanggal 08 februari 2010 di halaman ekonomi bisnis


gambar www.groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/82019


BAGI mereka yang terbiasa dilayani dengan cepat oleh pelayan rumah makan minang tentu saja mereka akan mendapat kesan yang berbeda danjauh lembih lambat jika berkunjung ke rumah makan jenis lainnya.

Pelayannya ramah, gesit dan seperti senang membantu siapapun. Mereka terlihat seperti haus untuk memberikan bantuan kepada semua tamu-nya. Tidak seperti kebanyakan pegawai di tempat lain, umumnya mereka tampil dengan kualitas kerja yang diatas rata-rata.
Setelah saya pelajari, ternyata itu terjadi karena cara berfikir mereka umumnya tidak bekerja tetapi sedang mengelola bisnis miliknya. Ya benar-benar milik mereka sendiri. Sehingga batin dan pikiran pun hadir dalam melayani semua pembelinya.

Dalam suatu rumah makan minang, pihak-pihak yang terkait dengan usaha ini secara umum adalah pemilik, tukang masak, tukang sanduak, kasir, pelayan, dan tukang cuci piring. Peranan pemilik adalah sebagai pemodal dan penetap kebijaksanaan operasional. Kekuatan rumah makan jelas ditentukan oleh kualitas makanan hasil keterampilan dan keahlian tukang masak. Kepuasan tamu dan pelanggan akan ditentukan juga oleh kualitas pelayanan dalam bentuk kecepatan dan kerapihan dalam menghidangkan. Kebersihan alat makan akan ditentukan oleh tukang cuci piring, sedangkan tertib keuangan akan ditentukan oleh keterampilan dan kejujuran kasir.

Bagi hasil

Dalam sistim manajemen rumah makan Minang, hubungan antara pemilik dengan para pekerja seperti tukang masak, dan lain-lain itu bukan didasarkan pada sistim imbalan yang berupa gaji. Di sini digunakan sistim bagi hasil berdasarkan ”mato” atau persentase pembagian hasil.

Bisnis tersebut dianggap sebagai usaha bersama antara pihak-pihak yang terlibat tersebut (termasuk pemilik), dan masing-masing memperoleh bagian keuntungan usaha berdasarkan persentase yang disepakati bersama. Persentase ini didasarkan pada peranan masing-masing, yang akan menentukan kesuksesan jalannya usaha; “gadang kayu gadang bahannyo, ketek kayu ketek bahannyo”= besaran hasil sesuai dengan kontribusi.

Dengan dasar pemikiran demikian, pembagian “mato” bisa sebagai berikut : pemilik 50 mato, tukang masak 15 mato, tukang sanduak 10 mato, kasir 10 mato, pelayan 5 mato, tukang cuci piring 5 mato, dan zakat 5 mato. Ini tentunya bisa bervariasi antara satu rumah makan dengan lainnya.

Tunjangan
Pembagian hasil usaha dilakukan setiap 100 hari. Kebijaksanaan lainnya adalah bahwa karyawan berhak untuk memperoleh pinjaman sebelum waktu 100 hari tersebut, disamping bahwa karyawan memperoleh makan, minum, dan uang rokok.

Dapatlah dibayangkan kalau seseorang anak muda pergi merantau, pepatah Minang mengatakan untuk mereka yang pergi ke negeri orang yang masih asing bagi mereka : “…..sanak cari saudara cari…induk semang cari dahulu…”.

Kalau dia dapat induk semang seorang pemilik rumah makan Minang, atau dengan kata lain dia bekerja di rumah makan Minang sebagai tukang cuci piring sebagai jabatan yang paling bawah, maka minimal makan, minum dan uang rokok sudah ditangan. Ditambah pula 5 % dari keuntungan usaha setiap 100 hari. Kalau nanti sudah berpengalaman, karierpun dapat naik ke jenjang yang lebih tinggi; pelayan, juru masak, atau bahkan kasir.

Rasa memiliki
Sistim manajemen tersebut diatas sangat menjamin adanya “sense of belonging” yang tinggi dari seluruh unsur usaha ini. Rasa memiliki itulah yang menjadi kunci masakan enak, pelayanan cepat dan ramah, dan semua roda operasional berjalan baik.

Sekarang sebagian rumah makan Minang sudah meninggalkan sistim ini dan menggantinya dengan sistim yang lebih kapitalistik : pemilik modal membuat suatu usaha dan menggaji karyawan yang dibutuhkannya. Porsi karyawan dalam usaha tersebut adalah gaji ditambah sejumlah imbalan lain, tapi tidak berhak atas pembagian keuntungan. Kalaupun ada bonus karena perusahaan meraih keuntungan yang memadai, besarnya terserah kepada pemilik usaha. Dalam sistim seperti ini, rasa memiliki kalaupun ada akan sangat minim.

Keterlibatan
Pada ide yang sederhana tapi mendasar; Jika seorang pegawai belajar bagaimana sebuah perusahaan mendapatkan keuntungannya, maka ia akan mulai berpikir seperti seorang pemilik bisnis juga.

Pada tahun 1982, SRC adalah sebuah divisi kecil dari Harvester International yang sedang bangkrut. Orang-orang kehilangan pekerjaan.

Jack Stack berpikir bahwa jika Ia dapat membeli divisi itu, maka 119 pekerjaan dapat diselamatkan, termasuk pekerjaannya sendiri. Harga yang diminta adalah 9 juta dolar.

Bermodal resume bisnis yang yang sederhana dan naif, Jack mencoba mendapatkan pinjaman. Ia ditolak berulang kali karena kurangnya pemahaman tentang ekonomi. Selama ini ia dan setiap orang pada umumnya belajar bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar, bukan diajari bagaimana melakukan bisnis.

Bank hanya peduli kalau uang yang mereka pinjamkan akan kembali. Bank ingin melihat keuangan perusahaan yang sehat. Lalu ide ini muncul di dalam benak Jack. Jika ini yang dibutuhkan bank, mengapa tidak semua orang dapat membaca neraca perusahaan?

karena itu, Jack terinspirasi untuk mengajarkan kepada setiap pegawai untuk mengevaluasi kondisi keuangan pribadi dalam perusahaan sebelum memutuskan apakah mereka dapat memiliki kartu kredit, kredit kepemilikan rumah, atau bahkan memiliki anak.

Jack mempraktekkan konsep ini diperusahannya; contoh pegawai dibagian engineering tahu keuntungan kotor dari setiap produk yang mereka buat. Di bagian engine assembler juga tahu berapa nilai impas dari peralatan yang mereka pakai. Banyak orang yang menjalankan divisinya seperti sebuah bisnis kecil miliknya sendiri. Jack menyebutnya Great Game on Business, semua pegawai adalah pemilik dari perusahaan.

Dalam 10 tahun, SRC telah menghasilkan 20 bisnis baru yang sebagiannya dibangun oleh buruh yang pernah bekerja di pabrik tersebut. Sejak 1983, SRC Holdings Corportation telah tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang memiliki 17 bisnis dalam berbagai industri. Penjualan meningkat dari $16 juta pada 1983 ke $270 juta. Nilai saham telah naik dari 10 sen per share ke $134 pada 2005.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share
Share:

14.4.10

Manajer Pemasaran Gratis

tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada medan, pada halaman ekonomi dan bisnis pada tanggal 01 februari 2010

MEMILIKI seorang Manajer Pemasaran yang handal adalah sesuatu yang diidam-idamkan oleh semua pemilik bisnis. Sayangnya seorang itu biaya gaji dan tunjangannya cukup mahal untuk usaha dibawah skala kecil dan mikro.

Meskipun begitu, tidak tertutup kemungkinan bagi anda untuk mendapatkan analisa-analisa dan data pesaing hingga ide-ide cemerlang dari orang-orang yang secara sukarela berkenan memberikannya kepada anda.

Mereka itulah biasanya adalah yang kita sebut dengan pelanggan. Mereka memang sebagai pihak yang menikmati produk dan jasa layanan kita, tetapi dari mereka jugalah segala hal yang berhubungan dengan pengembangan bisnis bisa kita dapatkan.

Merekalah yang sangat tahu rasa dan fenomena menikmati produk jasa yang kita berikan. Mereka sangat tahu keperluan dan keinginan mereka sendiri dalam kontek produk atau jasa yang kita tawarkan.

Kadang-kadang, beberapa diantara mereka itu sangat senang jika kita dengarkan pendapat dan masukkannya. Beberapa diantara mereka sangat ingin untuk memberikan masukkan kepada kita, dengan cara apapun. Bukan sekadar masukan, konon keluhan juga merupakan hal penting dalam pengembangan dan perbaikan bagi kita yang menerimanya.

Sekarang, coba ingat-ingat anda sebagi pebisnis pasti pernah terlibat dalam perbindangan dengan pelanggan anda. Dalam perbincangan itu pasti ada masukan-masukan dari pelanggan tersebut. Diantara saran-saran tersebut, pasti ada hal-hal yang menarik, positif dan membangun. Dalam perbincangan itu, anda juga memiliki kesempatan untuk mengkonfirmasikan ide-ide anda kepada mereka. Anda bisa mencari umpan balik yang disesuaikan dengan kehendak dan kebutuhan mereka.

Nah, disinilah klik-nya. Anda bisa sekali mendapatkan masukan-masukan, kritik, ide dan saran dari pengguna langsung dan anda tinggal menyimpulkanya sebagai analisa yang baik. Dari kesimpulan itu anda bisa memutuskan strategi tertentu untuk kebiakan bisnis anda. Betapa beruntung, memiliki banyak “manajer pemasaran” yang gratis seperti mereka.

Memilih Manajer Gratis
Secara sederhana, para ‘manajer’ yang anda miliki tersebut adalah sumber data yang sangat bagus untuk rencana bisnis, monitoring dan evaluasi atas strategi anda. Karenanya, anda harus memilih dan menseleksi dengan baik, siapa-siapa saja yang layak anda jadikan referensi dan sumber datanya.

Dari sekian banyak pelanggan, tentu tidak semuanya berkenan dijadikan ‘manajer’ tersebut. Lalu, diantara yang berkenan, anda masih harus memilih, siapa diantara mereka yang memiliki ‘kecintaan’ kepada produk dan bisnis anda, sehingga mereka akan memberikan masukan dengan senang hati dan objektif.

Memang, yang terbaik adalah tidak menolak masukan dari siapapun, tetapi jelas ada beberapa orang yang tidak memiliki kapasitas memberikan masukan dan saran. Tidak sedikit pelanggan yang hanya bisa bilang. “Sudah bagus” pada saat kita tanya komentar mereka. Tidak sedikti juga pelanggan yang malas untuk memberikan masukan kepada anda.

Tetapi, secara umum, pelanggan akan merasa sangat senang jika diberikan kesempatan untuk bercerita dan menyampaikan pendapatnya. Apalagi untuk pasar Indonesia setelah era reformasi bergulir. Semua orang ingin bicara!

Memanfaatkan Manajer Gratis
Tentu saja harus ada media-media yang baik untuk mendapatkan manfaat dari ’manajer-manajer gratis’ tersebut. Yang pertama kita harus memiliki Complain and suggestion system (sistem keluhan dan saran), yaitu sebuah sistem untuk mengumpulkan data keluhan dan saran. Yang paling ideal adalah anda sendiri yang bertemu dengan mereka yang mengeluh dan memberikan saran, tetapi jelas anda tidak akan memilik banyak waktu untuk itu. Ada banyak contoh perusahaaan yang membuka kotak saran dan menerima keluhan yang dialami oleh pelanggan. Dengan kotak ini, diharapkan pelanggan akan menuliskan keluhan dan sarannya lalu memberikan kepada anda melalui kotak tersebut. Kotak tersebut diharapkan hanya dibaku oleh yang berwenang saja, sehingga yang mengeluh atau memberikan saran merasa terjamin bahwa yang disampaikannya akan sampai secara langsung.

Sayangnya, kotak saran tidak cukup bisa berjalan dengan baik setelah lewat dari 3 bulan. Biasanya kita akan lupa bahwa kita menyiapkan kotak tersebut. Kita mulai menyingkirkan kotak, atau membiarkannya terbengkalai begitu saja.

Ada juga perusahaan yang memberi amplop yang telah ditulis alamat perusahaan untuk digunakan menyampaikan saran, keluhan serta kritik. Saran tersebut bisa dikirimkan melalui jasa pos langsung kepada kita.

Cara lain untuk memanfaatkan para ’manajer’ tersebut adalah dengan Customer satisfaction surveys (survey kepuasan pelanggan). Kita melakukan survei untuk mendeteksi komentar pelanggan. Survei ini dapat dilakukan melalui pos, telepon, atau wawancara pribadi seperti yang kita bahas diatas atau pelanggan diminta mengisi angket.

cara yang lain adalah Ghost shopping (pembelian bayangan) Perusahaan mengirim utusan untuk melakukan pembelian ke perusahaan lain atau ke perusahaannya sendiri. Pembeli misterius tersebut melaporkan keunggulan dan kelemahan pelayan yang melayaninya. Juga dilaporkan segala sesuatu yang bermanfaat sebagai bahan pengambilan keputusan oleh manajemen. Sistem ini biasanya memerlukan biaya untuk transaksi ataupun untuk fee bagi pelakunya.

Cara penting yang jarang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kelas kecil-mikro adalah Lost customer analysis (analisa pelanggan yang hilang) Pelanggan yang hilang tersebut dihubungi kembali untuk mengungkapkan mengapa mereka berhenti atau pindah ke pesaing lain.

Mendengar
Kepuasan customer akan datang jika pelayanan yang diberikan terpenuhi bahkan melebihi harapan mereka. Dalam hal ini customer menjadi orang yang terpenting bagi perusahaan kita sebab customer adalah tujuan dari pekerjaan kita. Customer tidak bergantung pada perusahaan kita, tetapi justru sebaliknya perusahaan yang bergantung pada customer. Jika perusahaan sudah memahami persepsi ini maka perusahaan akan memberi pelayanan yang sebaik-baiknya untuk mempertahankan pelanggan dan menciptakan image yang positif bagi perusahaannya.

Untuk melakukannya, yang diperlukan hanyalah bertanya dan mendengar. Tidak lebih.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com




Bookmark and Share

Share:

Katakan dengan lagu

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada tgl 25 januari 2010, pada halaman ekonomi dan bisnis

KEBANYAKAN dari kita memiliki catatan khusus yang direkamkan dalam sebuah lagu. Biasanya karena momen itu terjadi bersamaan dengan populernya lagu itu atau kita merasa bahwa momen tersebut cocok dengan lagu tertentu yang kita kenal.

Lagu-lagu yang kita sukai itu bisa saja menyimpan kenangan akan seseorang, moment tertentu atau lokasi tertentu. Bisa saja dengan berjalannya waktu kita terlupa akan kenangan itu, tetapi sesekali kita mendengar lagu itu, ingatan kita akan terbawa melambung mengingat kembali kejadian-kejadian seperti yang kita rekamkan di lagu itu.

Semua kenangan yang tersimpan dalam lagu-lagu biasanya sangat pribadi dan mencokol amat kuat dalam ingatan seseorang. Lagu itu menjadi jangkar emosi yang sangat kuat menghujam batin perasaan seseorang.

Sekarang saya ingin memberikan contoh seperti teks lirik lagu berikut ini. Judulnya Jangan Menyerah yang dibawakan oleh d’Masiv

Tak ada manusia, Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali, Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah, Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini, Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada, Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini, Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia, Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali, Segala yang telah terjadi
Tuhan pasti kan menunjukkan, Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar, Dan tak kenal Putus asa
Jangan menyerah....

Bagi sebagian dari kita, lagu ini menyimpan catatan pribadi yang amat dalam. Ada yang menjadikannya motivasi untuk berbuat lebih baik, untuk tetap tabah dan kuat dan banyak lagi alasan sesuai fenomena masing-masing. Bagaimana dengan anda?

Theme song
Karena kekuatan daya rekam yang luar biasa dari sebuah lagu, maka tidak salah jika hampir semua film menggunakan lagu untuk soundtrack-nya. Lagu-lagu itu di pilih sesuai dengan tema dari film tersebut. Yang lebih menarik adalah bahwa lagu-lagu tema tersebut justru dijadikan alat promosi yang lebih efektif. Tidak jarang malah justru lagunya tersebut yang membuat film itu menjadi lebih dikenal dan laku dipasaran.

Sebutlah lagu Gita Cinta dari SMA, Laskar Pelangi, Prety Woman, Die Another day, donna-donna dan seterusnya.

Soundtrack ini juga di aplikasikan dalam iklan-iklan komersial. Bahkan kota Jogja menjadikan lagu karya KLA Project dengan judul nama kota itu sebagai lagu resmi kota itu. Konon, lagu Anak Medan yang dibawakan oleh Trio Lamtama, adalah lagu yang paling popular dinyanyikan oleh orang-orang yang ada di perantauan.

Bagi penggila bola, terutama fans beratnya club Liverpool, pasti hapal dengan lagu You’ll Never Walk Alone, lagu wajib pendukung club habat ini. Dalam hal ini, mungkin saya bayangkan lagu theme song ini seperti lagu hymne pada jaman dahulu.

Mengapa lagu
Mendengarkan lagu tidak memerlukan konsentrasi seperti melihat televisi. Bisa dilakukan sambil mengerjakan hal-hal lain. Tapi tanpa terasa, lagu tersebut tercatat dalam pikiran bawah sadar kita.

Lagu dan nyanyian adalah bahasa termudah untuk memasuki alam perasaan seseorang sejak jaman dahulu. Dalam pewayangan, semua aksi biasanya dimulai dengan lagu. Dalam pengajaran agama oleh pawa wali juga banyak yang menggunakan lagu. Bahkan oleh beberapa agama besar, lagu adalah media doa yang sangat efektif.

Irama lagu dan liriknya akan serta merta mengarahkan emosi pendengarnya. Seseorang bisa mendadak ceria, sedih atau bahkan marah begitu mendengarkan sebuah lagu. Dengan lagu, kita bisa masuk suasana Ramadan, suasana Natal, suasana valentine dan suasana Kemerdekaan.

Karena itulah, lagu bisa dimanfaatkan sebagai media promosi yang efektif. Kita bisa mengarahkan perasaan pelanggan kepada suasana yang kita kehendaki.

Memanfaatkan lagu
Tidak salah jika di gerai anda dipasang perlengkapan sound system untuk memutarkan lagu-lagu. Tentu saja lagu-lagu yang diputarkan diseleksi terlebih dahulu sesuai tema suasana dan layanan di gerai anda tersebut. Pilih lagu-lagu yang sesuai dengan gaya dan model layanan anda. Para pelanggan dan pembeli akan merasa nyaman dan tenang dengan lagu-lagu tersebut. Konon bahkan lagu-lagu dalam irama tertentu bisa mengurangi tingkat keluhan pelanggan. Karena mereka seperti terhipnotis untuk ikut senang seperti irama lagu tersebut.

Konon di kota tertentu, hanya angkot yang memutar lagu-lagu saja yang laku dan dipilih oleh penumpangnya. Bahkan perang sound system di angkot tersebut terjadi dengan serius. Hanya mobil angkot dengan suara soundsystem terbaik yang akan dipilih oleh para calon penumpang.

Tidak saja lagu-lagu tersebut menjadi sarana hiburan, tetapi juga bakal menjadi ‘pengingat’ bagi pelanggan akan keberadaan gerai anda. Jika mereka merasa senang, mereka akan merekamnya dalam alam bawah sadar melalui lagu tersebut. Biarkan lagu itu menjadi jembatan pengingat bagi para pelanggan anda.

Dalam bentuk lain, anda bisa memilih lagu-lagu yang khas bagi aktifitas promosi anda. Pertemuan dealer, pertemuan penjualan atau lounching sebuah produk, akan menjadi semarak dan bagus jika disertai dengan lagu-lagu yang setema dengan acara tersebut.

Lagu-lagu juga cukup efektif untuk memotivasi para pegawai di lini manapun, baik di bagian produksi, bagian administrasi hingga bagian penjualan. Tentu saja lagu-lagu tertentu, bukan lagu-lagu yang melo dan berkisah kegagalan yang penuh tangisan.

Yang terakhir, saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mengucapkan terimakasih untuk Romo Toto dan kawan-kawan dari Tapak tuan yang sudah berbagi lagu-lagu kehidupannya kepada saya. Terimakasih untuk bisa lebih mengenal lebih dalam melalui lagu-lagu kalian. Seperti lirik lagu Sahabat Kecil-nya Ipang berikut ini;

Bersamamu ku habiskan waktu, Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna, Sayang untuk mengakhirinya
Melawan keterbatasan, Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi, Hingga sedih tak mau datang lagi



Konsultasi dan Pelatihan; tj@cahyopramono.com




Bookmark and Share

Share:

Susah Itu Perlu

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tgl 18 januari 2010 di halaman ekonomi dan bisnis http://issuu.com/waspada/docs/waspada__senin_18_januari_2010halaman



SEPEDA tua dikayuh kaki kurus seorang bocah kecil berusia 13 tahun menyusuri perkebunan karet di pelosok daerah Galang- Deli Serdang. Tanpa banyak bicara si bocah ini terus menerobos gelap subuh yang dingin berembun. Sesekali ia abaikan saja para pencuri ayam yang berlari ketakutan membawa barang curiannya.

Begitulan awal hari si bocah kecil kurus ini yang harus membantu orang tuanya bekerja menderes pohon karet setiap hari sebelum siangnya bersekolah disalah satu SMP di kampungnya. Beruntung kalau langit tidak mencurahkan hujannya dan ban tidak kempes. Kalau sial sedang menghampirinya, beberapa kali ia harus terpeleset masuk ke parit atau menyeruduk pepohonan bambu demi menghindarkan pepohonan yang tumbang ke jalan karena hujan badai.

Tangan kurus itu lincah menggores pokok karet untuk mendapatkan getah yang segar mengalir ke penampunganya. Dan tangan itu pula harus menerima ejekan dari kawan sekelasnya karena bau getah karet yang menempel di tangan itu tidak mudah hilang meskipun dibasuh dengan tujuh gentong air. Ia tetap berusaha bersekolah, sebisanya. Hingga fisik kurus itu tidak sanggup menerima beban untuk orang dewasa. Ia jatuh sakit.

Pembaca yang budiman, ijinkan kali ini saya menceritakan ulang pengalaman pahit yang menjadi pemacu keberhasilan seorang Haji Juarso, pengusaha bengkel las dan toko besi/perlengkapan bangunan yang cukup dikenal di kecamatan Hamparan Perak. Dialah si kecil kurus yang saya ceritakan itu.

Kali ini saya tidak ingin mengulas apapun dari sebuah keyakian bahwa penderitaan dan susah yang tidak membunuh kita, justru akan memperkuat diri kita.

Ongkos naik kelas

Si Icuk –demikian nama panggilannya-- ini harus tetap membantu orang tuanya yang hanya kuli kecil di perkebunan milik pemerintah dengan pendapatan yang terbatas untuk menghidupi seorang istri dan 5 orang anaknya. Icuk kecil ini berikutnya bekerja membabat rumput di areal sawit pada pagi hari dan sekolah pada sore harinya. Hingga nasib memaksanya untuk berhenti sekolah demi adik-adik yang dicintainya.

Setiap tebasan parang pembabat rumput itu berayun, si kurus ini sesekali memikirkan nasib dirinya yang tidak seberuntung orang-orang lain. Saat itu juga terfikir apakah harus seumur hidup ia akan menjadi pembabat rumput. Menjawab pertanyaan itu Icuk menyisihkan sedikit demi sedikit honor kerjanya untuk sebuah cita-cita; satu setengah tahun menabung, cukuplah ia memiliki ongkos pendaftaran kursus menjahit.

Singkat cerita, ia bagi waktu pagi untuk membabat rumput dan sore hari untuk kursus menjahit di daerah Perbaungan. Dengan semangat tinggi dalam beberapa bulan ia sudah cukup mahir hingga akhirnya si guru menawarkan gaji untuk pekerjaan jahitnya. Ia tinggalkan parang babat rumput dan mesin jahitlah yang memutar roda pendapatannya.

Si penjahit pemula ini tidak tahu kalau gaji pemula berbeda dengan gaji penjahit yang sudah senior. Sempat ia menghitung-hitung dalam sebulan itu ia bisa mengantongi sekitar Rp.40.000,- tetapi pada akhir bulan ia hanya menerima Rp.9.000,- saja. Senyum pahit menjadi penghias bibirnya menyadari bahwa senioritas dan pengalaman kerja adalah salah satu standar pendapatan.

Merantau

Sekali waktu icuk muda pernah mencari pekerjaan ke pengangkutan sawit yang beroperasi di areal perkebunan sekitar selatan Tebing Tinggi dan ia tidak membawa pakaian ganti barang sehelai pun. Jadilah ia pekerja dengan satu set baju yang hanya menempel dibadannya. Selama itu ia tidak pernah ganti baju. Setiap ada kesempatan mandi, ia manfaatkan untuk sekaligus mengucek bajunya dan ia biarkan baju basah itu kering sendiri selama menempel di badannya.

Pada kesempatan lain icuk harus mengantarkan neneknya kembali ke jawa. Mengisi kesosongan kegiatan selama di rumah neneknya ia bekerja sebagai tukang catat lalu lintas penggalian tanah hingga ia bekerja di pabrik konfeksi. Hingga ia mampu menjadi juru ukur dan juru potong.

Beberapa tahun berikutnya kembali ke kampung dan jasa jahitan di rumahnya di kampung. Sembilan bulan jahitannya ramai order, tapi berikutnya sepi senyap karena satu batalion tentara pelanggannya ditugaskan ke Timor-timur.

Kembali ia nganggur. Hingga salah satu pelatih dari batalion itu yang menawarkan pelatihan teknis di Balai Latihan Kerja di Medan. Pelatihan beberapa bulan itu mengantarkan dirinya mengenal dunia teknik mengelas. Perjalanannya tidak semudah yang dibayangkan. Ia tidak punya uang dan tidak ada saudara untuk tempat tinggal, hingga ia memberanikan diri menumpang di salah satu bengkel las dengan menawarkan jasa kerja tanpa bayar asal ia bisa menumpang tidur.

Pagi hari belajar di BLK dan siangnya bekerja di bengkel. Walaupun tidak di gaji, ia mendapat uang saku sebesar Rp.2.000,- per minggu dari induk semangnya. Pembaca yang budiman, uang dua ribu rupiah itulah yang menghidupinya setiap hari selama seminggu. Artinya ia hanya boleh mengeluarkan dana sebesar Rp.300,- saja tiap harinya. Untuk sarapan ia menggunakan Rp.100,- untuk membeli 4 potong pisang goreng dan Rp.200,- untuk makan siang yang hanya nasi kuah dan sepotong tempe.

Berdikari

Keputusannya bulat setelah mahir mengelas untuk membuka bisnis sendiri Icuk membuka bengkel las di Kecamatan Hamparan Perak. Perjalanannya tidak mudah, sekali waktu tabung lasnya meledak dan ia harus terkapar berhari-hari di rumah sakit.

Sesudahnya muncul keraguan untuk melanjutkan bisnis atau kembali ke kampung. Hingga akhirnya icuk memengangkan pikirannya dengan meyakini tidak mungkin tabung las akan meledak setiap saat. Bermodal satu-satu sapi milik sang ayah, ia membuka kembali bisnis las nya.

Kebutuhan besi, cat dan berbagai keperluan las mengilhaminya untuk membuka toko besi. dan begitulah seterusnya, satu persatu bisnisnya berkembang hingga saat ini. Tentu saja, banyak sekali proses gagal dan rugi yang pernah ia alami, tetapi kesemuanya itu justru memberikan pelajaran yang sangat penting bagi dirinya.

Icuk belajar teknik pemasaran dengan bergabung pada jaringan multi level marketing dan asuransi. Icuk belajar memimpin dengan bergabung pada organisasi kemasyarakatan. Icuk belajar pemberdayaan diri dengan bergaul dengan orang-orang lain.

Icuk yang lulus SMA melalui ujian persamaan kini menjadi mahasiswa tertua di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan. Ia tidak malu dan gengsi. Terlalu banyak susah dan derita yang dia lewati, hingga semuanya justru menjadi pil untuk kesehatan jiwanya yang ingin terus berkembang dan maju.

Yang tak pernah saya lupakan dari seorang Haji Juarso adalah pernyatannya, “Susah itu perlu”.



Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com




Bookmark and Share

Share:

6.4.10

Permainan Thema

tulisan ini sudah diterbitan di harian waspada medan, pada tanggal 04 januari 2010 di halaman bisnis dan teknologi.


SELAMAT tahun baru para pembaca yang budiman. Semoga tahun baru ini kita diberkahi rahmat dan rejeki yang lebih banyak, yang lebih baik serta kedamaian hidup yang menenteramkan. Amin.

Sudah berpuluh kali saya mengikuti pesta pergantian tahun. Dari yang sekadar bakar ikan di api unggun hingga pesta dihotel bintang. Tapi selalu menarik jika konsep pestanya bertema jelas.

Contohnya begini; sekali waktu saya menghadiri sebuah pesta malam tahun baru dengan judul ”Go West”, ternyata tema utamanya adalah tentang dunia cow-boy dan Suku Indian. Tamu-tamu dibawa memasuki suasana dunia film cow boy. Mulai dari lapangan parkir yang dipajang beberapa kuda betulan. Lalu dekorasi dipenuhi set bangunan persis seperti jaman-jaman cow boy di satu sisi dan tenda-tenda Kaum Indian di sisi yang lain.

Para pelayan yang laki-laki mengenakan pakaian cow-boy, lengkap dengan rompi berbintang dengan tulisan sherrif, pistol dan sepatu boot dan topi ala cow-boy. Yang perempuan mengenakan gaun dan atribut seperti layaknya gaya pakaian pada masa itu. Lalu beberapa yang lain mengenakan pakaian indian, lengkap dengan topi berbulu, kampak dan busur panahnya.

Musik yang disajikan didominasi musik-musik country dan tap dance-nya. Hiburan yang disajikan lagi-lagi bernuansa suasana jaman cow-boy mirip di film-film. Makanan yang disajikan juga ada yang diset seperti makanan para penggembala itu.

Secara detail tamu-tamu diarahkan untuk larut dalam tema tersebut. Mereka bahkan diberi atribut-atribut pesta yang sesuai tema. Bukan sekadar terompet dan topi kerucut seperti layaknya pesta malam tahun baru.

Kejelasan tema sangat penting sehingga penikmatnya juga mudah menerima dan mengikuti kehendak penciptaan acara ataupun kegiatan yang dimaksud. Tidak sedikit pesta yang asal-asalan dengan tema yang tak bertema alias gado-gado tidak jelas.

Sekali waktu saya ikut dalam sebuah pesta yang tidak jelas itu. Undangannya berjudul “hallowin”, tetapi dekorasinya bergaya oriental, seragam petugasnya bergaya Eropa dengan dasi dan jas dan makanannya sangat Indonesia. Acaranya didominasi oleh karaoke dari pengunjung dan hanya sekadar membagi hadiah dengan MC yang bergaya petinju. Jelas sekali acara tersebut dibuat asal-asalan.

Aplikasi tema juga berlaku untuk semua bentuk presentasi lain. Mulai dari bangunan, tata taman hingga bentuk promosi pemasaran.

Taman yang dibuat tanpa tema, biasanya tidak memberikan kesan yang mendalam dan biasa-biasa saja. Coba bayangkan jika anda berada di taman dengan tema Rose Garden, suasananya sangat didominasi oleh berbagai bentuk mawar, dari mulai yang sewarna hingga yang multi warna.

Taman yang bertema gurun, akan berisi bebatuan, pasir dan kaktus. Taman yang bertema air akan menampilkan bentuk-bentuk kolam, air mancur, tumbuhan air seperti teratai, penambahan angsa atau bebek air.

Kemudian, ada juga contoh sebuah produk kecantikan yang tiap tahunnya memilih tema yang berbeda-beda untuk kepentingan promosi. Mulai dari tema kecantikan putri keraton jogja, keindahan alam kalimantan hingga eksotisnya kepulauan di timur Indonesia.

Tema Promosi Penjualan

Tentu saja tampilan yang begitu-begitu saja, monoton dan statis biasanya tidak memberikan efek pengaruh yang tajam. Harus ada perubahan-perubahan tampilan agar terhindar dari rasa bosan dan selalu tampil segar.

Untuk sebagian bisnis saat ini sudah mulai menggunakan tema-tema umum yang sudah diterima publik untuk promosi penjualannya, seperti tema liburan hari besar agama, tema hari kemerdekaan, atau perayaan yang sudah memasyarakat seperti hari Valentine dll.

Mereka menggunakan tema-tema tersebut diatas untuk alasan promosi. Mulai dari alasan untuk mengeluarkan diskon khusus, hingga alasan pemunculan produk baru. Biasanya mereka mengaplikasikan tema tersebut dalam bentuk dekorasi, seragam hingga produk-produk tambahannya.

Tema-tema tersebut terbukti memberikan efek rasa senang dan ketertarikan yang lebih besar dari pelanggannya. Permainan tema tersebut memberikan variasi kesan yang berbeda-beda sehingga menghindarkan kesan monoton dan membosankan.

Tentu saja, tema-tema diatas juga dikerjakan oleh pesaing-pesaing yang lain. Dan disinilah kemudian diperlukan satu upaya untuk menciptakan tema-tema yang berbeda tetapi mudah diterima publik dan mengantarkan pencitraan yang lebih baik.
Pengolahan Tema

Untuk kepentingan promosi dan pencitraan. Tema adalah hal penting yang harus ditetapkan terlebih dahulu. Dalam penetapan tema, seyogyanya dilakukan dengan teliti, cermat dan kreatif.

Saya biasanya menentukan tema dengan mempertimbangkan kalender. Kapan-kapan saja hari besar yang akan jatuh pada saat tema kegiatan dilaksanakan. Kalau tema yang akan ditentukan adalah tema tahunan, mungkin bisa dipertimbangkan kejadian-kejadian besar yang akan terjadi di tahun tersebut.

Untuk penentuan tema yang tidak mengacu kepada kejadian kalender, mungkin bisa dipertimbangan hal-hal umum yang mudah diterima khalayak ramai, terutama target pasar yang dituju.

Pastikan tema-tema yang diusung menyentuh dan bersinggungan atau senyawa dengan produk yang akan kita pasarkan. Contoh untuk makanan kebab akan cocok dengan suasana timur tengah. untuk jasa travel agent, mungkin lokasi-lokasi tujuan wisata akan lebih tepat.

Setelah acuan utama dari tema itu dipilih, pastikan objek pilihan tema bisa diterjemahkan kedalam berbagai bentuk tampilan. Misalnya dari sisi dekorasi, musik, makanan dan pakaian dll. Contohnya tema Pulau Bali, tema ini cukup kaya aplikasi. Dari musik, makanan, pakaian, dekorasi hingga tarian dan lain-lain.

Selanjutnya, pada tahap aplikasi tema, pastikan penerapannya sedetail mungkin. Bukan saja sekadar judul, tetapi semua bidang sedetail mungkin. Aplikasikan disemua lini semaksimal mungkin. Mulai dari kemasan, warna, tulisan, penempatan pemajangan, hiasan, seragam hingga semua atribut yang terlihat seharusnya tetap bernuansa tema pilihan tersebut.

Yang terakhir, saya ingin memastikan bahwa aplikasi tematis bisa diterapkan kepada hampir semua bisnis yang berpotensi dirasakan monoton, seperti pusat perbelanjaan, sekolah atau kursus, lokasi hiburan, bahkan pertemuan-pertemuan rutin seperti klub, atau arisan keluarga sekalipun.

Indikator sukses dari pengolahan tema adalah masuknya perasaan pelanggan dalam tema yang kita pilih. Bila mereka-mereka yang kita tuju benar-benar merasakan suasana yang benar-benar baru dari biasanya dan perasaan itu persis seperti suasana tema yang kita pilih. Selamat mencoba.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com







Share:

Sindrom Liburan

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 28 desember 2009, di halaman bisnis dan teknologi



JIKA ada barang anda yang baru dibeli tapi cepat rusak, hampir pasti saya bisa menebak penyebabnya. Salah satu penyebabnya adalah karena produk itu diciptakan pada saat menjelang Liburan.

Jika ada pekerjaan yang menjadi sedikit terabaikan, mundur dari tenggat waktu dan tidak selesai dengan sempurna; salah satu penyebabnya adalah karena pekerjaan itu ada menjelang liburan.

Jika ada acara yang dikerjakan dengan buru-buru dan sedikit bermasalah; salah satu penyebabnya adalah acara yang diselenggarakan pada saat menjelang hari libur.

Suasana liburan adalah momen indah yang diharapkan banyak orang. Beberapa saat sebelum liburan itu tiba, secara mendadak semua orang menjadi seperti terkena wabah demam liburan. Pikiran dan semua topik pembicaraan mengarah ke soal liburan.

Pada saat itu mulailah sindrom ini menjalar ke sel-sel otak kita sehingga melemahkan sistem kerja yang selama ini kencang dan tegang. Mendadak muncul rasa lelah yang dalam seperti kehausan yang amat sangat kering. Mendadak muncul kebutuhan yang seperti tidak bisa dihambat; ingin istirahat dan berlibur.

Keinginan akan istirahat dan libur menjadi kebutuhan yang semakin lama semakin mendesak. Media massa sudah memberitakan hal-hal yang berhubungan dengan liburan. Areal-areal publik, pusat perbelanjaan dan fasilitas umum biasanya sudah mendandani dirinya dengan semua atribut bertema liburan itu sendiri. Dan itu benar-benar sebuah rayuan yang maut kepada semua orang untuk segera saja berlibur.

Godaan semakin menjadi ketika semua orang disekitar kita satu persatu mengabarkan perjalanan atau kegiatan liburannya. Bagi mereka yang tidak libur, itu adalah gangguan dasyat yang menyayat hati. Serasa tidak bisa libur adalah kesialan yang amat tidak diharapkan.

Orang-orang sudah libur sebelum liburannya datang dan lucunya, kita masih dalam suasana libur pada saat liburan telah usai.



Motivasi

Jelas kesalahan-kesalahan diatas pada sisi operasional dan produksi bukanlah karena masalah ketidakmampuan kita sebagai pekerja atau pelaku binis, tetapi lebih karena faktor karakter, faktor motivasi.

Liburan memang ditanggapi dengan sikap yang beragam, ada yang rela lembur demi menyelesaikan pekerjaannya sebelum libur tiba sehingga bisa liburan dengan tenang. Tapi ada juga yang mulai terkena sindrom liburan sehingga bermalas-malasan dan berfikir untuk menunda pekerjaan hingga nanti setelah liburan.

Sangat bagus kalau manajemen menyadari kondisi sindrom ini, sehingga layak melakukan berbagai aksi motivasi untuk menjaga kinerja serta memastikan semua hal berjalan sebagaimana mestinya.

Pastikan semua tim kerja tidak saja hanya hadir secara fisik di pekerjaan tetapi juga hadir dengan batin dan pikiran yang fokus, sehingga waktu tidak terbuang percuma.



Pengawasan

Sindrom liburan memberikan efek ‘lengah’. Sementara itu peraturan dan disiplin harus di tegakkan. Prinsip dasaranya adalah menegakkan kata “serius”, serius pada waktu serius dan serius pada waktu tidak serius.

Dengan serius mengerjakan tugas menjelang liburan, tentu itu bisa menjadi jaminan untuk bisa serius menikmati liburan tanpa terganggu oleh pikiran-pikiran akan pekerjaan yang belum terselesaikan.

Pimpinan harus dengan luwes dan bijaksana membawa pola-pola pengawasan yang lebih melekat. Forum-forum meeting dan briefing harus dimanfaatkan secara maksimal agar fokus perhatian tetap terjaga hingga waktu liburan tiba.

Sayangnya, kadang-kadang semua komponen manajemen memberikan toleransi atar ‘kendornya’ semangat kerja. Mulai dari jajaran pekerja terbawah hingga pimpinan utama di puncak struktur manajemen.



Spirit “holiday sale”

Ada kelompok usaha yang semakin bersemangat pada saat menjelang liburan. Mereka adalah bisnis-bisnis yang melayani pelanggan khusus menjelang liburan. Katakanlah pusat-pusat perbelanjaan; mereka dengan semangat tinggi mengobarkan gempita suasana liburan, dari mulai dekorasi, paket-paket diskon hingga promosi-promosi gila-gilaan.

Semangat tersebut menular hingga ke hati pekerjanya. Suasana ramai menjelang liburan justru memberikan pengaruh positif kepada semua jajaran yang terlibat dalam bisnis tersebut.

Mungkin ide semangat tersebut bisa diadopsi untuk praktisi bisnis yang lain. Sebuah semangat untuk menghabiskan hari kerja menjelang liburan dengan tetap produktif dan efisien. Sebuah semangat yang memberikan kesempatan liburan tanpa tergangu oleh pekerjaan yang tertunda gara-gara pikiran hanya memikirkan suasana menjelang liburan.



Sesudah liburan

Sindrom liburan biasanya tidak saja memberikan demam menjelang liburan, tetapi juga selama beberapa waktu setelah liburan.

Lihatlah betapa orang-orang pada umumnya memilih memperpanjang liburannya. Dan jika mereka kembali juga bekerja, biasanya suasana kerja pada hari-hari pertama setelah liburan juga persis seperti suasana menjelang liburan. Secara fisik orang-orang ini sudah berada di kantor, tetapi pikiran dan perasaan masih tertinggal di liburan yang sudah berlalu.

Suasana liburan seolah-olah sayang untuk begitu saja dilupakan dan dibiarkan lewat. Obrolan-obrolan masih saja berkisar tentang liburan. Secara umum suasana kerja masih pelan dan cenderung berhenti.



Memenangkan persaingan

Bagi siapapun yang ingin memenangkan persaingan. Saat menjelang liburan dan sesudahnya adalah waktu yang paling tepat. Karena pesaing umumnya masih terkena sindrom liburan. Mereka masih asik dengan liburannya. Dan pada saat itulah kesempatan terbuka lebar untuk memulai lebih awal dari pada pesaing yang masih terlena.

Tentu saja diperlukan energi motivasi yang tinggi. Energi yang mampu melawan rasa malas. Energi yang mengharuskan kita mulai lebih pagi daripada orang lain.

Konon untuk menjadi juara, yang diperlukan hanyalah usaha yang sedikit lebih besar, lebih banyak atau lebih sedikit lebih baik dari pesaing yang ada. Lihatlah perlombaan lari cepat, perbedaan antara pemenang dan yang kalah hanyalah 0,0 sekian detik lebih cepat. Lihatlah pemenang lomba renang, perbedaan jarak antara pemang dengan yang kalah, hanyalah sekian jari lebih didepan.

Itu bukti, bahwa untuk menjadi pemenang hanyalah usaha sedikti lebih banyak dari orang kebanyakan. Sedikit saja dan jadilah anda pemenangnya.

Selamat berlibur dan tetap mempertahankan prestasi.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com




Bookmark and Share


Share:

Sampling

Tulisan ini sudh diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 14 desember 2009 di halaman bisnis dan teknologi.






SELAMAT pagi. Semoga penghujung tahun ini adalah waktu yang baik untuk bisnis anda. Dan setelah dikalkulasikan, semoga tahun ini adalah tahun emas bagi anda. Jikapun anda bisnis anda belum dalam tahapan itu, saya berharap akhir tahun ini adalah jarak terdekat anda menuju pintu sukses di tahun 2010.

Tulisan saya kali ini adalah sebuah ide promosi penjualan sederhana untuk peningkatan volume bisnis. Bukan hanya penambahan omzet, karena penambahan omzet bisa saja dilakukan dengan cara singkat yaitu menaikkan harga jual.

Saya melihat sebuah efektifitas gaya promosi penjualan untuk produk-produk tertentu yang berhubungan dengan cita-rasa. Dimana calon pembeli bisa mencicipi atau merasakan produk tersebut sebelum membelinya. Taktik ini saya sebut dengan sampling, memberikan contoh, sample atau cicipan.

Teknik ini terbukti sangat efektif bagi mereka-mereka yang awalnya belum pernah mengkonsumsi atau menggunakan produk sejenis atau bahkan bagi mereka-mereka yang selama ini menjadi konsumen perusahaan pesaing kita.

Teknik ini dilakukan dengan memberikan kesempatan bagi para calon pembeli untuk merasakannya terlebih dahulu, sehingga mereka ‘terpesona’ dan terpengaruh dengan cita rasanya lalu memutuskan untuk membeli. Teknik ini tidak terbatas kepada produk makanan dan minuman, tetapi bisa dilakukan untuk produk apapun yang keputusan pembeliannya berdasarkan cita rasa.

Contoh

Memberikan sampling untuk produk-produk makanan dan minuman yang dikemas, pasti sering anda temui di plaza-plaza atau pusat-pusat keramaian. Saya ingin memberikan contoh lain untuk produk-produk yang mungkin mirip dengan produk yang anda jual.

Seorang Made Sepel, pengelola sebuah komplek villa di Bali, secara rutin mengundang para pimpinan perusahaan di Jakarta dan kota besar lainnya untuk tinggal dengan gratis di villa-nya. Dia mentargetkan untuk mengundang para penggede itu sebanyak 20 orang setiap bulannya.

Made mendapatkan data para pengguna kartu kredit yang nilai transaksinya lebih dari 200 juta per bulanya. Dia pilih orang-orang yang diundangnya itu agar tepat dengan sasaran dan kelas produk yang dimilikinya.

Made rata-rata bisa mendatangkan antara 10 hingga 15 orang setiap bulannya. Mereka dipersilahkan untuk merasakan secara langsung suasana villa, makanan, pemandangan serta pelayanan yang ada. Dan biasanya dia langsung mendapatkan bisnis dari kesemua tamu-tamu yang ditraktirnya itu.

Para tamu yang diundang itu rata-rata mendapatkan pengalaman yang baik selama tinggal di villa si Made sehingga merencanakan kegiatan pelatihan untuk pegawainya di villa yang dikunjunginya tersebut. Bukan sekadar pelatihan, tetapi juga mereka mengirim rekan-rekan bisnisnya dan bahkan merekomendasikannya kepada orang-orang lain dalam dunia bisnisnya.

Made mengaku, cara seperti ini jauh lebih efektif daripada sekadar brosur dan iklan.

Adalah seorang Slamet Raharjo, pemborong properti yang banyak menangani proyek-proyek pembuatan dan renovasi hotel di Bali. Dia juga menerapkan metode sampling untuk bisnisnya. Dia mengundang para calon pembeli untuk melihat-lihat hasil pekerjaannya sehingga mereka langsung membuktikannya sendiri secara langsung.

Untuk proyek renovasi, Slamet sering kali membuat ‘kamar contoh’, sebuah kamar yang dibangun khusus sebagai contoh bagi kliennya, sehingga kliennya memiliki bayangan pasti akan hasil renovasinya sebelum proyek secara keseluruhan dilakukan.

Contoh lain adalah yang dilakukan oleh Ketut Dharma, bagian penjulan salah satu stasiun radio swasta di Sunari. Sebelum bertemu dengan calon pemasang iklan yang dituju, dia membuatkan contoh jingle—iklan radio—yang diperkirakan cocok untuk calon pembeli tersebut. Sehingga proses menerangkan produknya menjadi mudah. Calon pembeli dengan segera bisa merasakan dan mendengar serta memiliki bayangan tentang bentuk promosi radio yang dikehendakinya.

Konsep sampling ini sering dilakukan oleh produsen mobil pada saat mempromosikan produk barunya, mereka menyebutnya test-drive.

Di toko-toko buku, akan ada buku yang terbuka dari kemasan plastiknya, itu disengaja agar calon pembeli sempat melihat-lihat dan membaca sebagian dari buku tersebut.

Bentuk lain

Untuk sesuatu yang sulit diberikan contoh secara langsung, ada ide cerdas dari sebuah toko Kaus nyleneh di Bali yang menamakan dirinya Joger. Jika anda memasuki gerai Joger, dipintu masuknya, anda akan diharuskan untuk ditempeli stiker Joger di pakaian anda.

Orang-orang yang mendapatkan stiker itu berfikir bahwa itu sekadar tanda masuk saja, tetapi tanpa mereka sadari, mereka tidak serta merta melepaskan stiker itu setelah keluar dari Joger. Ini menjadi menarik karena kabanyakan yang datang membeli adalah para wisatawan yang sesudah berbelanja masih akan mengunjungi tempat-tempat wisata lain di Bali. Dan mereka tetap mengenakan stiker yang menempel di badannya. Dan pada saat itulah Joger mendapatkan keuntungan promosi dengan menggunakan badan para pengunjungnya untuk mempromosikan joger.

Anda bisa bayangkan, ratusan orang datang ke joger setiap harinya dan ratusan orang itu akan berkeliaran di Bali dengan membawa pesan tentang joger itu di badannya. Stiker itu menunjukkan kepada setiap orang bahwa seseorang sudah berkunjung ke Joger.

Para penyedia layanan pelatihan surving di Kuta, membayar para surver muda untuk bermain-main dipantai itu, lengkap dengan papan surving dan memainkannya sesekali. Aksi-aksi memikat mereka mengundang orang lain untuk mencoba, minimal bertanya. Dan mereka tahu kemana harus merekomendasikan anda untuk mengambil kursus singkat naik papan luncur itu.

Mengalami

Mempengaruhi orang hanya dengan selembar kertas brosur jelas sangat sulit. Menjual sesuatu dengan hanya mendengar penjelasan dari penjualnya juga sesuatu yang tidak mudah. Apalagi jika seseorang sudah merasakan nyaman dengan produk yang sudah dipakainya selama ini.

Diperlukan pengalaman langsung agar mereka merasakan perbedaannya. Merasakan kelebihan dan keunggulanya. Merasakan bagaimana lebih baik untuk mencoba atau beralih kepada produk yang baru.

Saya berharap tulisan kecil ini memberikan inspirasi untuk menambah jumlah pelanggan anda di tahun depan alih-alih menaikkan harga jual dengan jumlah pembeli yang tidak bertambah.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com






Bookmark and Share


Share:

Blog Archive