it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

15.6.10

Mau gulai lemak, tak mau kelapa pecah

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 01 maret 2010.

SENDA gurau kami membuat semua orang terpingkal-pinkal ketika berkumpul beberapa pengamat politik lokal membincangkan para calon Walikota Medan yang sedang bertanding menduduki posisi no satu di Kota ini.

Kala itu sampai kepada pembicaraan tentang beberapa orang yang memaksakan diri untuk maju mencalonkan diri tapi pelit dalam anggaran biaya politik yang harus dikeluarkannya. Disitulah muncul kata-kata “Mau Gulai Lamak, Tak Mau Kelapa Pecah”. Sebuah ironi yang tajam dan menyakitkan bagi yang melakukannya.

Dalam keseharian kita meyakini pepatah No pain no gain atau orang jawa sering menyebutnya, jer basuki mowo beo. Bahwa semua ada biayanya, semua ada syaratnya, semua ada kondisi yang harus ditempuh (dikorbankan) demi tujuan atau cita-cita yang diharapkan.

Saya tidak hendak membahas perpolitikan yang sedang hangat terjadi di banyak kota kabupaten, tetapi saya juga sering menemukan pebisnis dengan fenomena yang sama. Maunya beruntung banyak tanpa bermodal, maunya cepat sukses tanpa melalui proses penguatan, maunya bermimpi terus dan tak bangun-bangun, karena bangun dan nyadar adalah hal yang menyakitkan.
Mimpi dan Nyata

Berkali-kali orang datang ke saya yang mengatahui bahwa saya memimpin sebuah forum UKM di Sumatera Utara ini. Mereka menceritakan mimpi mereka yang indah tetapi belum dipindahkan menjadi cita-cita. Mereka pikir saya memiliki mantra sakti yang bisa membuat sebuah bank mengucurkan kredit sebanyak yang mereka mau pada saat itu juga. Begitu saja. Ya begitu saja tanpa syarat apapun.

Berkali-kali orang datang ke saya menceritakan mimpi mereka tentang konsep bisnis yang luar biasa. Mereka menceritakannya dalam hitungan menit. Sesingkat pegalaman bisnis taipan properti Ciputra dalam sebuah wawancara cepat. Seperti kisah sukses Bill Gates yang ditulis dalam 5 paragraf. Mereka lupa bahwa sukses 2 orang itu dibangun bertahun-tahun dengan lusinan kegagalan dan hambatan. Mereka tidak sadar bahwa sukses, kaya dan pandai adalah hasil dari sebuah proses. Dan mereka bahkan belum memulainya sama sekali.

Berkali-kali orang datang mengkisahkan asyiknya menjadi pengusaha sukses. Enaknya memiliki banyak pabrik, enaknya wisata kemana-mana, enaknya bermobil mahal dan enaknya hidup merdeka dari tekanan ekonomi. Sementara hari ini mereka masih menjadi pelanggan tetap angkot Mr X jurusan Amplas.

Saya bukan anti mimpi. Saya sangat senang jika ada orang yang berani mimpi, tetapi mimpi yang berkepanjangan hanya menjadikan orang bertambah malas. Mimpi yang tidak segera dirubah menjadi cita-cita adalah langkah bodoh seperti menggali tanah untuk dijadikan kuburan sendiri.

Perubahan minpi menjadi cita-cita adalah langkah penghubung untuk mengupayakan mimpi itu menjadi kenyataan. Cita-cita adalah mimpi yang tersusun dengan strategis, terukur, terencana, dipecah dalam urutan-urutan dan tahapan-tahapan yang terjangkau dan realistik.
Proses

Berkali-kali saya menyampaikan bahwa dunia ini terjadi dalam sebuah proses. Tidak ada orang yang langsung mendadak kaya, sukses, besar dan pintar. Pasti bermula dari miskin, gagal, kecil dan bodoh.

Tinggal perjalanan proses itu yang berbeda-beda tergantung masing-masing. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Ada yang cenderung mudah dan ada pula yang lebih bersusah payah. Tetapi jika sekali anda mencoba dan sukses, jangan lalu anda merasa sukses yang permanen, karena bisa jadi itu kemujuran sang pemula. Lanjutkan ke proses selanjutnya, nantikan kegagalan-kegagalan berikutnya.

Berbahagialah menyambut kegagalan atau kejatuhan, karena semua itu adalah makanan wajib untuk mereka-mereka yang ingin sukses. Semua proses sulit dan berat adalah indikasi kenaikan kelas. Gagal dan jatuh adalah hal yang biasa, tetapi bangun dan bangkit kembali adalah hal yang luar biasa.

Ingatlah, bahwa semua sakit yang tidak membunuh kita, justru akan memperkuat kita.

Jadi yang penting pada saat anda menginginkan sesuatu, segeralah lakukan prosesnya. Jangan tunda lagi. Dan sadari apa yang menjadi penghambat proses itu.

Sejauh pengamatan saya, pada para pemula, biasanya yang menjadi hambatan adalah mimpi bensar itu sendiri. Pemula merasakan jarak yang sangat jauh antara situasi nyata pada saat ini dan hasil mimpinya yang jauh, tinggi dan seperti tidak terjangkau diatas awan.

Abjad bermula dari “A”, baru “B”, “C” dan seterusnya. Tetapi semua ada awalnya. Boleh lah bermimpi tentang abjad “Z”, tetapi huruf “A” sebagai awalnya.
Ganteng, Kaya, Tajir, Terkenal

Jikalah anda seorang pria lajang yang muda, ganteng, kaya, tajir, tekenal, santun, cerdas dan bergaul pasti akan dengan mudah mendapatkan wanita cantik sesuai idamannya. Itu hal yang sangat-sangat biasa! Tidak ada istimewanya.

Bayangkan jika anda seorang pria yang tidak lagi muda, tidak cukup ganteng, miskin, kurang bergaul, sedikit tidak pintar dan bisa mendapatkan wanita cantik yang ideal. Inilah yang saya sebut sebagai luar biasa.

Jadi, untuk menjadi pengusaha sukses, pelajar yang pintar, jabatan publik yang terkenal dan apapun yang anda kehendaki dan anda tidak dalam kondisi sangat ideal untuk mendapatkan sukses itu, itu yang saya sebut sebagai luar biasa.

Berbisnis dengan modal yang berlebih itu hal yang biasa. Tetapi berbisnis dengan modal yang kurang atau pas-pasan, itu baru luar biasa.

Tentu saja keluarbiasaan itu terjadi karena upaya yang juga luar biasa. Keyakinan yang luar biasa serta kemampuan bertahan terhadap cobaan-cobaan yang menguatkan dirinya.

Tulisan ini saya anggap sudah menjawab pertanyaan sdr. Amir siregar di Tebing, sdr. Lukman di Medan, Sdr. Irwansyah di Unimed, Sdr. Basuki yang tidak menyebutkan alamatnya dan sdri. Indriana yang juga tidak menyebutkan alamatnya.

Kepada mereka yang saya sebutkan diatas, saya berharap agar saudara segera saja mengaktualisasikan mimpi-mimpi itu. Bergeraklah dengan potensi yang ada saat ini. Sebelum anda memiliki modal cukup untuk menjadi distributor utama, jadilah sub agen. Jika modal menjadi sub agen tidak juga cukup, jadilah pengecer dahulu. Selamat berjuang.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Menjual dengan Peragaan



tulisan ini sudah diterbutkan di harian waspada pada tangal 22 februari 2010 di halaman bisnis dan teknologi


SORE itu sepuluhan wisatawan dari luar negeri mengerubungi seorang perempuan yang sedang menenun ulos model Simalungun di lobby salah satu hotel terbesar di Kota Parapat, Danau Toba. Mereka begitu terpesona oleh gerakan tubuh si penenun yang lincah penuh ketelitian dan kesabaran sehingga tercipta sebuah kain yang indah dan rapih.

Di depan penenun ditampilkan hasil tenunan yang sudah selesai dan siap jual serta contoh tenunan buatan mesin yang jauh lebih kasar dari hasil tenuan tangan. Jelas para wisatawan lebih senang dengan hasil tenunan tangan yang halus dan penuh seni, apalagi mereka tahu bahwa diperlukan paling tidak satu minggu untuk menghasilkan satu buah olus –sebuah karya yang sulit dan langka--. Seperti yang dibayangkan, setelah menikmati tontonan itu, mereka beramai-ramai memborong ulos yang dijual dilokasi itu.

Seperti juga pengalaman melihat proses pembuatan sepatu kayu ala Belanda –klompen—di Lake Land, Belanda. Pengunjung yang datang bisa langsung melihat proses pembuatannya. Dari kayu gelondongan, dipotong, di serut, di lubangi hingga penghalusan dan proses finishing dengan warna cat. Semuanya bisa dilihat sambil berdialog dengan pengrajinnya.

Kita bisa tahu perbedaan ujung klompen yang runcing atau yang bulat. Biasanya nelayan menggunakan yang runcing dan pekerja ladang memilih yang bulat. Dari para pekerja pembuat klompen itu kita bisa tahu fungsi lain klompen, selain kuat untuk kerja kasar, yaitu untuk menendang sapi jika bandel dan tidak mau di arahkan (ini disampaikan dengan canda).

Selain keju, apalagi oleh-oleh dari negeri Belanda selain klompen? Tentu saja para pengunjung lebih senang membelinya karena tahu proses pembuatannya. Seolah-olah mereka mengalami sendiri dalam proses itu.

Selain Gondola dan nyanyian pendayungnya, Venesia juga terkenal dengan gelas tiupnya yang terbuat dari bahan pasir dan bahan lainnya. Lagi-lagi para wisatawan di hipnotis dengan proses pembuatannya yang dapat dilihat secara langsung, yang dimulai dengan proses pembakaran dengan panas lebih dari 900 derajat celcius.

Peragaan pembuatan gelas tiup di set dengan baik, pembuatnya terlihat memiliki keahlian khusus, hasil jadinya pun sangat indah. Dalam dialog yang tercipta, Mereka mengaku masih menggunakan cara dan bahan tradisional sejak zaman dahulu.

Dari situlah muncul keyakinan para wisatawan untuk memborong barang-barang yang dijual disana. tidak hanya berbentuk cangkir, tapi ada pula pajangan dan perhiasan serta peralatan makan. Untuk memudahkan wisatawan membawa pulang hasil buatan mereka, kemasan yang kuat dan aman sudah disiapkan.

Mungkin konsep serupa terjadi di Pande Sikek, Sumatera Barat dengan ukirannya. Atau di Sokaraja, Jawa Tengah dengan Gethuk Sokaraja-nya. Atau empek-empek Palembang di Kota Palembang. Atau pembuatan Batu Akik di Martapura, Kalimantan Selatan.

Pemasaran berbasis mengalami

Apa yang saya contohkan diatas adalah salah satu aplikasi dari pemasaran berbasis mengalami yang pada dasarnya memiliki 4 elemen dasar agar pasar bertekuk lutut serta menurut untuk mengikuti apa yang kita kehendaki. Ya... membeli.

Kelima komponen tersebut adalah; yang pertama melihat, merasakan, mencicipi, yang kedua ikut memikirkan, yang ketiga terlibat dalam aksi dan yang keempat tetap terhubung.

Elemen yang pertama adalah stimulasi menarik bagi indra dengan tujuan untuk menciptakan pengalaman indrawi melalui penglihatan, suara, sentuhan, rasa, dan bau. Elemen ’rasa’ dalam konsep pemasaran ini dapat digunakan untuk membedakan perusahaan dan produk, untuk memotivasi pelanggan, dan untuk menambah nilai produk.

Konsep ini sangat memerlukan pemahaman tentang bagaimana untuk mencapai dampak sensoris. Tidak heran jika kini banyak restoran yang tidak lagi merahasiakan dapurnya tertutup dengan tembok kuat. Mereka kini malah membuka diri dengan membuat kaca transparan sebagai dindingnya, dengan harapan para pelanggan dapat melihat langsung kedalam, melihat proses produksinya yang bersih dan proffesional serta bisa melihat tampilan makanan dengan tujuan membuka rasa ingin mencicipinya.

Elemen pertama ini juga digunkan oleh beberapa pengusaha roti modern dengan cara menyebarkan aroma roti produknya secara sengaja. Mereka sengaja menyebarkan esen/inti aroma roti yang dikipaskan ke seluruh areal sekitar tokonya agar orang-orang yang jauh pun jadi merasa lapar dan ingin mencoba kenikmatan rotinya.

Elemen yang kedua adalah ikut memikirkan. Dalam kerangka ini, menarik jika pasar diajak ikut memikirkan apapun yang kita kehendaki. Konsep ini menarik bagi para intelek dengan tujuan untuk menciptakan situasi kognitif.

Dalam contoh pembuatan ulos, pelanggan dibawa kepada berbagai macam pemikiran. Wawancara saya dengan mereka, menyimpulkan bahwa mereka awalnya begitu tidak percaya saat ini masih ada orang yang begitu sabar membuat sehelai kain dalam waktu seminggu dengan hasil yang sangat halus. Dalam perkembangannya mereka secara berfariasi ada yang memikirkan bagaimana kalau penenun itu akhirnya tidak ada lagi yang meneruskan kepada generasi selanjutnya. Mereka memikirkan apakah tidak ada teknologi tepat guna untuk membantu mempermudah proses pembuatan tenun dan banyak lagi pemikiran yang lain.

Elemen ketiga dan ke empat, terlibat dan tetap terhubung, pada dasaranya adalah keterlibatan pasar dalam proses menjadi menarik. Misalnya menanyakan pendapat pelanggan dan memberi kebebasan memilih kepada pemilih atas ukuran, warna, model, harga dan apapun dalam proses produksi.

Lalu komunikasi yang terbangun mengalir lancar penuh rasa percaya. Dalam hal ini perlu media-media komunikasi yang baik dan efektif (sudah dibahas dalam tulisan lain).
Peragaan

Betul bahwa peragaan memerlukan biaya tambahan. Perlu bahan, alat dan tempat. Tapi hasilnya akan lebih maksimal. Karena yang menyaksikan peragaan itu akan memasukkan data ke pikirannya melalui berbagai pintu, tidak sekedar melihat, tetapi juga merasakan, menyentuh, mendengar dan sebagainya.

Peragaan mengarahkan pembeli kepada situasi mengalami. Pengalaman itulah yang akan tersimpan dalam alam bawah sadar dan akan mempengaruhi perilaku mereka yang mengalaminya.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

Belanja di kedai sendiri


tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 15 februari 2010 di halaman bisnis dan teknologi




Selamat Pagi pembaca yang budiman. Tulisan ini dibuat dalam suasana indahnya tahun baru Imlek dan suana hari Valintine. Kepada yang merayakannya, saya ucapkan selamat, semoga perayaan itu membawa kebaikan hari ini dan yang akan datang.

Pembaca yang budiman, adalah seorang broker saham yang selalu berusaha mencari pelanggan baru, menjaga pelanggan lama dan intinya selalu bergaul ke sana–sini. Pertemuan yang sering mereka lakukan biasanya di restoran, cafe atau lounge hotel-hotel berbintang.

Kawan broker tadi amat banyak mulai dari agen asuransi, agen property, wiraniagara otomotif dan masih banyak lagi. Mereka semua selalu duduk-duduk di tempat yang sama. Karena tuntutan pekerjaannya, mereka sangat tahu semua tempat duduk-duduk di kota mereka.

Sampai suatu ketika salah seorang dari mereka mengusulkan sebuah ide untuk membuat bisnis yang sama. Mereka berniat membuat sebuah restoran dan cafe yang nyaman untuk duduk dan berbicara. Cafe itu tertata dengan baik dan mencitrakan kelas yang mapan. Dengan pertimbangan, toh mereka sendiri juga selalu mengeluarkan uang hampir tiap hari untuk membayar minuman dan makanan mereka sendiri dalam rangka berhubungan dengan para relasinya. Jadi kalau uang itu dibayarkan ke restorannya sendiri, pada akhirnya mereka juga akan mendapatkan keuntungannya.

Lalu dikumpulkanlah 40 orang kawan-kawan mereka yang memeliki ketertarikan yang sama dan jadilah ke 40 orang itu sebagai pemegang saham. Kekuatan keloktif itu menarik perhatian saya. Karena dengan jumlah pemilik saham yang banyak, maka nilai investasi tidaklah amat besar bagi masing-masing pemegang sahamnya. Masing-masing investor memandang bisnis ini menjadi semacam tabungan yang tidak mengganggu arus keuangannya.

Ke 40 orang itu sendiri adalah orang-orang yang memiliki jaringan perkawanan masing-masing. Mereka memiliki kawan yang tidak sedikit dan mereka sendiri adalah pelanggan dari bisnis mereka sendiri; belanja di kedai sendiri.

Tentu saja karena restoran mereka tertata dengan baik, maka pelanggan lain yang bukan pemegang saham juga lumayan besar jumlahnya. Dan jadilah bisnis itu menguntungkan dan berkembang cepat dan pesat.

Tulisan ini saya sengaja untuk memberikan inspirasi bahwa konsep ini sangat mungkin dilakukan dimanapun anda berada. Karena duduk di warung kopi dan bersosialisasi adalah kebutuhan kultur kita, dari desa hingga ke kota, budaya dasarnya itu tidaklah ada perbedaannya.

Investasi bersama

Ide dasarnya mirip dengan koperasi; dimana kekuatan kolektif adalah kuncinya. Lalu semakin banyak investornya, semakin bagus permodalan dan pemasarannya, karena pemodal pada akhirnya adalah pelanggan pertamanya. Ketika saya menyebut banyak, bukan berarti sangat banyak, karena akan menyelitkan koordinasi lanjutannya.

Tentu saja, ada persyaratan yang idealnya dipenuhi untuk memilih para pemegang saham. Yang pertama, idealnya pemegang saham adalah pelanggan jasa/produk sejenis yang aktif. Artinya jika ingin membuat sebuah cafe, pastinkan pemegang sahamnya adalah orang-orang yang memang sering ke cafe, bukan orang rumahan yang tidak pernah keluar bersosialisasi.

Yang kedua; pastikan pemegang saham itu bedomisili di kota lokasi bisnis, bukan jauh diluar kota yang tidak akan pernah menjadi pelanggannya. Ini menjadi penting karena bisnis ini harus berjalan dan pelanggan utamanya adalah pemegang saham itu sendiri.

Yang keempat; pastikan bahwa para pemegang saham itu tidak memiliki bisnis yang sejenis dengan usaha bersama ini. Karena akan terjadi cambrukan peran dan preferensi. Akan ada persaingan dalam pelaksanaannya.

Yang kelima; pastikan para pemegang saham adalah orang-orang yang paham etika berinvestasi bersama. Karena nantinya group ini akan mempekerjakan pekerja profesional. Dan para pemegang saham tidak terlibat langsung dalam praktik bisnis sehari-harinya. Ini penting untuk menghindarkan konflik-konflik kecil dalam operasional kesehariannya.

Yang keenam; bisnis ini umumnya berputar dalam hitungan tahunan sehingga pembagian hasil juga dilakukan setelah beroperasi setahun. Jadi pastikan pemegang sahamnya adalah orang-orang yang tidak tidak memiliki dana pas-pasan sehingga tidak terganggu keuangannya dengan berinvestasi dalam bisnis itu sendiri.

Kedai bersama

Praktek bisnis bersama ini idealnya sudah mulai diformat bentuknya jauh hari sejak awal. Ada semacam gambaran yang jelas mengenai jenis bisnis, lokasi, perkiraan nilai investasi, siapa yang akan mengoperasionalkannya, perkiraan nilai keuntungan dan gambaran-gambaran lainnya. Biasanya rencana ini disusun oleh pihak yang berinisiatif dan diperbaiki dengan menampung pendapat bersama.

Gambaran tersebut digunakan untuk mengarahkan pihak-pihak yang hendak diajak bergabung menanamkan saham dan semacam bayangan kepada pihak pelaksana operasional bisnis.

Dalam pelaksanaan operasional bisnisnya, tentu saja tidak ada perbedaan yang mendasar antara konsep ini dengan konsep bisnis yang regular pada umumnya. Perbedaan hanya terletak pada komposisi dan jumlah pemegang sahamnya saja.

Perlakuan terhadap para pemegang saham juga relatif sama dengan perlakukan serta pelayanan kepada pelanggan-pelanggan biasa lainnya. Sampai pada akhirnya, para pelanggan tidak bisa membedakan siapa tamu biasa dan siapa si pemegang saham. Karena pemegang saham pun akan membayar persis seperti pelanggan lainnya setiap kali ada transaksi.

Mungkin yang sedikit membedakan adalah adanya pemberian diskon dalam nilai tertentu kepada para pemegang saham jika melakukan transaksi. Dalam pemberian diskon harus sangat bijaksana, karena kalau diskon yang diberikan berlebihan dan melewati ambang wajar, justru inilah yang nantinya akan menjadi bumerang dan merugikan usaha bersama.

Untuk mengantisipasi permintaan khusus dari pra pemegang saham, mungkin bisa saja dibuatkan format point reward. Artinya, setiap transaksi dari pemegang saham, akan dicatat dan diberi tanda, hingga pada akhirnya akan diberikan penghargaan berdasar jumlah poin tersebut.

Bentuk penghargaannya bisa berpola seperti pembagian sisa hasil usaha dalam koperasi. Artinya yang lebih banyak bertransaksi harusnya mendapat kelebihan karena mereka itu memberikan tambahan omzet yang jelas bagi usaha bersama ini.

Konsep usaha bersama ini terbukti sukses di terapkan di salah satu restoran ternama di Jalan Patimura Medan dan di Komplek Club tertua di kota Medan.

foto = http://boysandgirlsagency.files.wordpress.com/

Konsultasi dan pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Blog Archive