it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

26.7.10

Warna dalam pemasaran

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 29 maret 2010, pada kolom inspirasi di halaman bisnis dan teknologi
foto: na
KEINDAHAN rasanya mucul dari keberagaman. Salah satunya adalah warna. Sepertinya gairah hidup kok nggak akan tercipta kalau yang terlihat hanya satu warna saja. Bayangkan betapa membosankan jika semuanya hanya terlihat putih atau hanya terlihat hitam saja untuk waktu yang lama.

Warna sangat berpengaruh kepada emosi dan perilaku. Sepertinya setiap warna memiliki kekuatan dan daya dorong emosi yang berbeda-beda. Seperti warna-warna bendera kebangsaan, warna-warna itu memainkan perasaan kita sehingga kita ’diarahkan’ untuk berperilaku seperti muatan warna tersebut. Warna bisa menggugah emosi dan suasana hati, mampu menciptakan kesan, menyampaikan pesan, bahkan menggugah ingatan.

Warna merupakan unsur pertama yang terlihat dan mudah diingat. Saya terkadang lebih sering ingat baju seseorang yang baru saya kenal ketimbang namanya. Bukankah begitu?

Lalu, apakah anda menyadari, bahwa mode warna tertentu secara serempak membanjiri pasar, dicari, dan dikenakan orang, lalu selang beberapa waktu kemudian digantikan warna-warna lain.

Kecenderungan warna yang bergonta-ganti tidak hanya terlihat dalam busana atau produk mode saja, melainkan juga di pernak-pernik dan dekorasi rumah, peralatan elektronik, grafis, berbagai produk konsumen, otomotif, dan sebagainya. Itulah tren warna, yang dalam kehidupan modern sekarang ini, semakin berperan dan tak mungkin lagi diabaikan.

Kini warna bukan saja menjadi sekadar ‘penghias’, tetapi sudah menjadi peluru untuk kepentingan pemasaran. Produsen-produsen besar, tidak asal memberi warna produknya, tetapi mereka benar-benar memperhatikan pasar dan tren yang disenangi pasar.

Bagi para produsen, warna adalah unsur penting yang harus ikut berubah mengikuti perkembangan berbagai bidang. Dengan mengubah warna, baik sedikit maupun total, kesan dan suasana yang hadir pun jadi baru. Dan atas nama pasar, kini tren warna menjadi panduan penting bagi produsen yang nantinya dimodifikasi sesuai kebutuhan dan ciri produk.

Bukan mengherankan bila konon, riset menunjukkan bahwa sekitar 65 persen keputusan belanja konsumen ditentukan oleh warna dan kemasannya.

Tren warna

Di Negara maju umumnya memiliki kelompok-kelompok yang mempelajari dan mengembangkan arahan warna. Mereka adalah para designer dan ahli perancang warna. Mereka berlatar belakang mode, dan berbagai industri yang berkaitan dengan warna. Di negara barat sana, mereka membuat pertemuan setahun dua kali untuk menentukan tren warna.

Dalam pertemuan pendahuluan sebelumnya ada studi dan kajian mengenai warna-warna yang berpotensi menojol di pasar atau merencanakan warna-warna yang akan tampil di pasar dalam siklus berikutnya. Mereka melakukan pertemuan berkali-kali dan hasil kajian itu dikemas dalam bentuk Color Forecast atau "Prediksi Warna" yang akan berlaku untuk 18-24 bulan ke depan. Dari sinilah demam warna dunia dimulai.

Dari sanalah media-media yang berhubungan dengan mode memulai kiprahnya. Ada semacam mekanisme yang beruntun hingga akhirnya warna-warna itu mewabah mewarnai berbagai produksi baru di seantero jagad. Tidak heran, jika kini ada rumah mungil di sudut Pulau Samosir yang menggunakan warna-warna minimalis.

Tidak Pasti sama

Tentu saja kesepakatan warna para perancang itu tidak serta merta menjadi warna dunia. Karena media informasi dan komunikasi yang semakin merata serta media transportasi juga semakin mudah, maka trend warna yang diluncurkan itu relatif bisa bergerak cepat menjangkau seluruh penjuru dunia dalam hitungan bulan.

Dan sudah pasti trend warna tersebut tidak otomatis teraplikasikan di seluruh penjuru dunia. Masing-masing daerah akan menyesuaikannya dengan warna-warna kultural yang mereka anut. China dengan warna merahnya dan Arab dengan warna putihnya jelas sulit tergantikan. Walaupun warna-warna itu bermain dibidang lain, seperti kendaraan, elektronik, rumah dan lain sebagainya.

Aplikasi

Nah, sekarang saya ingin mengajak anda memikirkan penerapannya untuk bisnis kita sendiri. Mungkin bagus jika kita mulai mengamati kembali pewarnaan kita. Baik dalam bentuk produk, kemasan, bahasa promosi, kantor ataupun seragam. Sebelum melihat referensi warna-waran terbaru. Amatilah apakah warna itu cukup memberikan pengaruh rasa positif?

Lalu langkah yang berikutnya adalah mengamati bagaimana harapan pasar terhadap warna tersebut. Apakah sudah saatnya untuk diubah dan diperkenalkan ulang? Efek apakah yang anda harapkan dari perubahan warna tersebut.

Bagi anda yang menghedaki pemahaman tentang warna dan efeknya, saya pikir ada lebih dari 10 buku yang beredar di pasaran yang membahas masalah ini secara detail. Belum lagi majalah-majalah mode yang terus bergerak memberikan informasi terbaru.

Referensi tersebut akan membahas secara detail makna-makna warna dan pengaruhanya, seperti; warna kuning mencerminkan sifat ceria, kegembiraan, santai, mempunyai cita-cita yang tinggi seperti sifat matahari yang ada di tempat tinggi, terlihat indah, menghangatkan dan memberikan ilmu pengetahuan. Bisa mengubah perasaan yang sedang murung menjadi lebih ceria dan bersemangat.

Jingga bersifat komunikasi karena membawa keceriaan, kegembiraan, kehangatan, rasa humor dan keakraban di dalam ruangan sehingga baik sekali untuk meningkatkan kreativitas dan semangat di ruang kerja dan bisa meningkatkan konsentrasi di ruang belajar.

Biru memberi kesan menenangkan, damai, memberikan efek yang dapat memperlambat denyut jantung, menurunkan tekanan darah, menghapus stress, dan membuat kita dapat bernafas lebih dalam, tentunya dengan penggunaan warna biru yang tepat dan tidak berlebihan.

Hijau bisa meningkatkan rasa bangga. Warna ini mampu memberikan efek sejuk pada mata seperti halnya warna biru dan putih. Hijau identik dengan warna modern yang mampu menguatkan kesan futuristik dan kecanggihan teknologi.

Kini, tren warna global adalah; terang Irma, palet warna dilatarbelakangi isu lingkungan dan kebutuhan akan stabilitas akibat situasi yang tidak pasti. Warna-warna yang muncul bisa terang (jingga, kuning, hijau daun), lembut (peach, lavender), keras (fuschia, merah), dan gelap (hijau gelap, abu-abu tua) sebagai cerminan kompleksitas warisan budaya etnik Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika.



Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



*diolah dari berbagai sumber


Share:

Rasa Lezat itu di Mata

tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada pada halaman bisnis dan teknologi tanggal 22 maret 2010



Sobekan pisau tajam si Koki mengiris tipis kebab yang menjulang itu. Asap beraroma sedap sedikit mengepul dari tumpukan daging panggang ala timur tengah itu. Dari bentuknya, saya bisa merasakan betapa lembut daging itu. Dengan melihat meleleh minyaknya saya bisa merasakan resapan bumbu-bumbu sedapnya, belum lagi saus pedasnya. Ehm... lidah saya bermain memberi tanda bahwa makanan itu lezat.

foto: mike.brisgeek.com
Pada saat yang sama, hati saya bimbang karena disebelahnya ada stall kambing guling yang hangat segar diatas panggangan, lalu stall makanan pasta yang berisi belasan jenis pasta yang didominasi mie. Baik mie asia maupun mie dari eropa, mau di kukus, di rebus atau digoreng, semua terserah selera si pemilih. Disudut ada stall piza yang dikerjakan secara terbuka didepan tamu-tamu lengkap dengan oven yang diset seperti tungku bakar asli.

Disudut yang lain hidangan penutup menawarkan banyak pilihan dari es krim, berbagai jenis tiramusi, kue-kue tradisional hingga buah-buahan segar. Pada saat itu saya terprofokasi oleh kelezatan makanan dan minuman bahkan sebelum saya mencicipinya.

Tata letak makanan, tata cahaya hinga tata pewarnaan tampilan makanan, benar-benar mengundang selera yang dasyat walaupun saya belum mencicipinya. Ya bahkan sebelum saya mencicipinya.

Sebelum dicicipi

Bayangkan anda sedang memegang sebuah daftar menu sesaat sebelum anda memesan makanan. Pada saat itu anda ingin sekali makan ayam panggang, dan disana hanya ada dua pilihan menu yang berhubungan dengan ayam. Pilihan pertama adalah Ayam Panggang Kalasan dan yang kedua Ayam Panggang Gosong. Saya yakin kita akan memilih menu pertama. Dalam hal ini bukan karena pilihan pertamanya memang lezat, tetapi jelas pilihan yang lain adalah ayam yang gosong. Dalam pikiran kita, gosong berarti terbakar habis dan seperti menjadi arang, arang itu jorok dan pahit. Jadi, pasti ayam panggang gosong bukanlah menu yang pantas utuk dipilih. Itulah salah satu bukti bahwa kelezatan itu bermula dari mata.

Kemudian, jika anda melihat daftar menu yang juga menampilkan foto dari makanan yang disajikan, pasti kita akan lebih mudah memilihnya. Dari tampilan foto itu kita bisa mengira-ira besaran porsi, apa saja yang ditampilkan di permukaan makanannya dan dari warna dan bentuknya, kita bisa ‘merasakan’ lezat dan tidaknya sebuah makanan atau minuman. Hanya dengan gambar itu, bahkan kita bisa membayangkan kelembutan tekstur makanannya, kerenyahan serta tingkat pedasnya. Wow....

Persis seperti pada siang hari di bulan Ramadhan, rasanya semua makanan dan minuman yang tampil di pesawat televisi adalah makanan dan minuman yang amat lezat. Jika itu minuman, bahkan kita bisa seolah-olah bisa merasakan dinginya tetesan embun yang mencair di badan gelas minuman itu. Warna-warna minuman itu terasa memberikan gambaran tingkatan rasa manisnya. Dan jika itu menyangkut rasa buah-buahan, warna-warna yang digunakan dalam iklan tersebut rasanya seperti menghadirkan nuansa buah yang dimaksud. Dan kita langsung memahami kelezatannya.

Artinya, ilustrasi menu makanan menjadi unsur penting dalam membantu terpromosikannya pilihan menu tersebut.

Kini, banyak sekali rumah makan yang menawarkan kesempatan kepada tamu-tamunya untuk melihat langsung proses pembuatan makanannya. Baik berupa front cooking (masak langsung didepan meja tamu) maupun menggunakan dapur transparan yang kadang hanya terbatasi oleh sebilah kaca jernih sehingga orang bisa melihat langsung kedalam dapur. Konsep ini menantang, karena dituntut untuk masak dengan tontonan. Artinya pihak restoran memotifasi dirinya untuk selalu tampil bersih, higenis, teratur dan atraktif, karena semua orang bisa melihat prosesnya secara langsung.

Seperti cara jugling (memainkan gelas, botol pengkocok dan botol minuman dalam bentuk atraksi) oleh bartender, proses mempersiapkan makanan dan minuman menjadi hiburan tambahan. Dan pada saat yang bersamaan tamu-tamu tidak merasa bosan menunggu dan bahkan menstimulasi rasa lezat sebelum memakannya nanti.
Berhati-hati

Berhati-hatilah dengan konsep terbuka ini. Tidak semua orang bisa menerima teknik proses pembuatannya. Ada beberapa proses yang harus dilakukan dengan sentuhan tangan langsung. Misalnya pada saat pengadonan dan saat penyajian. Tangan yang tanpa pembungkus berpotensi mengundang bermacam-macam pikiran. Tentu ada yang bagus dan ada juga yang nyleneh dan menjijikan. Belum lagi badan si pemasak, jika rambutnya terurai berantakan tanpa penutup kepala, jelas itu mencurigakan, anda bisa menafsirkan ketombe atau rambut yang jatuh bukan?

Sekarang banyak sekali tayangan program kuliner di televisi nasional. Bagus sekali ide program ini, tetapi kadang mereka lupa bahwa kebanyakan makanan enak itu diproses dengan cara yang tidak kita terima secara preferensi. Misalnya makanan gorengan. Kita menghendaki proses pengorengannya menggunakan sendok untuk meletakkannya di penggorengan, bukan dengan tangan langsung tanpa pembungkus tangan. Kita juga menghendaki minyak goreng yang higinis bukan yang sudah hitam gelap seperti parit tercemar oli bekas.

Saya pikir, sebenarnya banyak sekali makanan lezat yang diolah dengan cara yang tidak kita terima di perasaan, tetapi begitulah adanya. Ada yang harus diinjak-injak dengan kaki telanjan, ada yang harus diaduk-aduk dalam panas dan pengaduknya berkeringat habis, ada juga proses yang harus diasapkan dalam gantungan penuh lawa-lawa.

Dari mata turun ke lidah

Saya jadi ingat pertama kali saya terpesona oleh makanan hot plate (makanan yang disajikan menggunakan piring tanah panas sehingga pada saat disajikan masih ada kepulan asapnya). Kepulan asapnya seperti kereta api uang, menyembul dari ceronbongnya, berjalan dari dapur hingga meja pemesan. Lalu tak berapa lama uap itu hilang dan meninggalkan aropa makanan yang lezat keseantero ruangan.

Saat itu saya pikir makanan itu yang memang panas sehingga berasap, padahal ternyata piringnyalah yang dipanaskan dan sedikit tetesan kuah atau saus yang membuatnya mendidih dan mengeluarkan asap harum.

Saat itulah saya percaya lezat itu bermula dari mata, bukan dari lidah.



Konsulatasi & Pelatihan tj@cahyopramono.com

Share:

Muatan Humas dalam “Pisah Sambut”

tulisan ini sudah dimuat di harian waspada medan, tanggal 15 maret 2010 pada halaman bisnis dan teknologi.



...

molo adong na salah

manang na hurang pambahmanenakki

sai anju ma au,

sai anju ma au,

ito hasian....

foto bisnis indonesia
Lagu ini merdu melantun dari mulut seorang Bugis yang sudah beberapa tahun tingal di Medan. Diatas panggung itu dia bersungguh mencoba menorehkan sebuah pesan. Dari matanya yang berkaca-kaca, saya mengartikanya seolah ingin mengatakan permohonan maaf yang paling dalam jika ada kesalahan dalam pergaulannya selama ini dengan sepenuh hati.

Sekian banyak kejadian dan pengalaman hidupnya selama tinggal di kota Medan jelas sangat sulit diucapkan dalam sebuah pidato perpisahan, tetapi lagu itu dia jadikan pengantar suasana hati untuk kami kawan-kawannya yang hadir pada acara itu. Dan kami memakluminya dengan iklas.

Dalam acara itu, selain kata perpisahan dari sahabat yang akan meninggalkan kota medan, ada juga acara memperkenalkan penggantinya. Disebutkan dalam kesempatan itu, hal-hal yang menjadi latar belakang si pendatang baru itu. Pada kesempatan ramah tamah, kami bertukar kartu nama, nomor kontak dan mulai berbasa basi dan kami semua jadi mengenalnya lebih baik.

Kawan-kawan saya suka mengatakan; datang kelihatan wajah, pergi kelihatan punggung. Sesuatu yang menggambarkan sopan-santun ketimuran dalam pergaulan. Sebuah sikap dimana pada saat mendatangi satu tempat baru, idealnya kita permisi kepada yang sudah tinggal disana dan pada saat akan meninggalkan tempat itu, kita pun harus permisi dengan baik-baik sebelum meniggalkanya.

Tetapi, selama acara temu pisah itu, saya menyadari betapa ini adalah sebuah strategi pemasaran dan langkah Hubungan Masyarakat yang sangat efektif. Dimana ada proses memperkenalkan dan upaya menjembatani pergantian jabatan itu dengan jaringannya. Satu langkah yang cerdas untuk memastikan relasi dan pendukung tetap terhubung satu dengan yang lain dengan baik walaupun ada perubahan pejabatnya.

Penghubung
Acara pisah sambut, sejatinya bukan saja sebuah resepsi dan jamuan makan, tetapi sebenarnya ada sebuah proses interaksi hubungan yang personal antara pejabat yang akan pergi dan pejabat yang datang kemudian dengan jaringan pergaulan yang sudah terbentuk sebelumnya.

Dalam acara ini jelas akan terjadi sentuhan-sentuhan emosional antara undangan dengan pihak yang akan pergi. Tentu saja tergantung kualitas hubungan yang selama ini terjadi diantara mereka. Jadi tidak mengherankan bila yang pergi biasanya akan menjadi ‘tokoh’ dalam acara itu.

Tetapi bagaimanapun juga, jangan lupa bahwa dalam acara itu ada unsur memperkenalkan dengan pejabat yang baru datang. Artinya harus ada ruang disana untuk memperkenalkan siapa yang akan datang sehinga hubungan kerjasama yang akan erjalin menjadi lebih mudah dengan kesepahaman yang lebih baik.

Proses perkenalan itu diharapkan mejadi efisien dan lumrah, karena ada proses perkenalan, ada proses menginformasikan keberadaan pejabat baru sehingga diharapkan muncul kesan yang tetap positif. Oleh karenanya sebaiknya di design sebuah acara yang memastikan kebutuhan penghubung ini berjalan dengan sukses.



Acara
Karena misi dasar pisah sambut adalah memastikan hubungan bisnis tetap terjaga, maka setting acara menjadi komponen yang penting. Ada beberapa hal yang saya ingin bagikan kepada anda jika hendak membuat acara serupa ini;

Yang pertama, udangan. Dalam point ini, hal yang perlu diperhatikan adalah daftar siapa saja yang akan diundang. Tentukan skala prioritas untuk memilih relasi yang akan diundang. Berikutnya konfirmasi kehadiran, sehingga tidak perlu cemas mengestimasikan jumlah undangan yang akan datang. Seperti idealnya sebuah acara, sebaiknya kertas undangan juga memuat thema acara tersebut.

Yang kedua, acara. Penting untuk mendesign acara ini. Jangan biarkan acara mengalir tanpa panduan. Lalu pastikan porsi-porsi urutan acara dan siapa-siapa saja yang akan tampil di panggung. Selain pihak yang akan pergi, pastikan pihak yang datang juga mendapatkan porsi yang luas untuk meperkenalkan diri.

Sangat bagus jika ada kesempatan yang bisa mempresentasikan jasa dan prestasi pihak yang pergi serta latar belakang serta kelebihan-kelebihan pihak pendatang. Dalam budaya timur, alangkah baiknya proses ini dilakukan oleh pihak lain, bukan oleh yang bersangkutan, karena banyak pengakuan-pengakuan prestasi yang akan disebutkan dalam acara tersebut.

Kegiatan informal selama acara penting di setting dengan ruangan yang tidak berkursi, tujuannya agar semua tamu memiliki kebebasan untuk saling sapa dengan banyak orang lain. Jika ada kursi, biasanya mereka akan berkumpul dengan tamu yang sama dan segan pindah-pindah lokasi untuk bertemu dengan yang lain. Dalam kesempatan inilah pejabat yang baru dan lama akan secara aktif berkomunikasi dengan banyak orang secara personal.

Yang ketiga. Jangan lupa kelengkapan acara. Mungkin seperti paket sovenir yang juga memuat surat permohonan diri dari pihak yang pergi dan profile pejabat yang datang. Ini penting, karena bisa saj apesan-pesan lisan dalam pidato tidak cukup lengkap atau terlupa. Sangat bagus jika pendatang yang baru juga sudah memiliki kartu nama dengan kelengkapan posisi terbarunya.

Yeng keempat. Pastikan ada pesan yang jelas bahwa perusahaan akan terus melanjutkan kerjasama yang baik selama ini dengan semua relasi dan bahkan akan meningkatkannya dengan kehadiran pejabat yang baru.
Tindak lanjut
Seusai pesta, bukan berarti selesai kerja. Terutama bagi pihak pejabat baru. Pastikan ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan komunikasi dengan tamu-tamu yang sudah ditemuinya pada saat acara pisah sabut. Daftar tamu dan kartu nama yang didapat bisa menjadi alat untuk menghubungi relasi tersebut.

Kontak komunikasi tersebut bisa dimulai dengan surat atau telepon bahkan sangat bagus jika bisa langsung bertemu dengan berkunjung ke kantor relasi tersebut.
.......

Melalui kesempatan ini, saya ingin mengucapkan selamat jalan untuk Bung Yusran Yunus, terimakasih untuk diskusi-diskusi serta kerjasamanya yang baik selama ini. Lagu Sai Anjuma Au mengantarkanmu untuk sukses pada jabatan yang terbaru.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com




Share:

Kata Siapa?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 08 maret 2010, di halaman bisnis dan teknologi
foto by andre
Suatu waktu, kami berlima menghadiri undangan makan malam dari seorang kawan. Dia dengan sedikit memaksa meminta kami mencicipi resep temuannya. Subhanallah... jika pantas, kami benar-benar ingin muntah setelah mencicipinya.

Dia sangat bangga dan memakannya dengan sangat lahap. Tapi sungguh lidah kami yang jarang berpetualang ini benar-benar kaget atas kombinasi rasa pedas yang aneh, getir, asin dan sedikit bau daun mentah.

Pada kesempatan lain, kami berkelompok selalu merasa yakin bahwa kami adalah orang-orang dengan talenta menyanyi yang tidak bisa disepelekan. Dari karaoke ke karaoke, dari satu pesta ke pesta lain; kami selalu yakin dengan penampilan vokal kami. Bahkan kami dengan percaya diri merekamkan suara kami dengan bantuan studio mini seorang sahabat. Memang kami tidak sebagus Harvey Malaiholo hingga rekaman hanya dicetak untuk diri sendiri dan tidak kami pasarkan.

Kala itu belum ada acara-acara yang seperti American Idol atau Akademi Fantasi Indosiar, jadi kami pun tidak pernah ikut acara yang demikian. Tetapi kemudian setelah memperhatikan tayangan-tayangan proses audisi dalam acara reality show itu, terutama pada bagian peserta-peserta yang gagal, kami semua mulailah menyadari bahwa kami sebenarnya hanya penyanyi kamar mandi yang hanya layak tampil di karaoke pribadi.

Melihat si Sinis Simon Cowel –juri American Idol-- dalam memberikan komentar kepada peserta yang jelek dan tereliminasi, rasanya seperti kami menjadi orang-orang itu. Tersentak dan tersadar bahwa kami hanya merasa habat, tetapi tidak dalam pandangan orang lain.

Sungguh pegalaman itu menjadi catatan penting dalam pemikiran saya mengenai persepsi yang berhubungan dengan konsep pemasaran. Bayangkan jika kawan saya itu membuka restoran yang menjual masakan ciptaannya.
PeDe yang nyalah

Kredibilitas diri memang layaknya bukan dilihat dari pengakuan diri, tetapi bagusnya adalah merupakan aksi yang ditunjukkan sehingga mendapatkan pengakuan dari orang lain. Artinya, sekadar percaya diri tanpa pendapat dari pihak luar, biasanya berakibat buruk jika dihubungkan dengan banyak orang.

Hal ini yang sering saya termui dalam dunia pemasaran. Contohnya, saya sering sekali mendengar atau membaca pengakuan sebuah media bahwa dirinya khusus untuk kalangan menengah keatas. Mereka mengaku bahwa segmen pasar mereka adalah orang-orang elit. Ketika ditanya, “itu kata siapa?”, biasanya menurut survey internal. Sesuatu yang tidak cukup layak untuk dipercaya.

Karena siapapun boleh-boleh saja mengaku sebagai apapun. Jangan-jangan saya pun boleh mengaku bahwa saya adalah anak dari seorang raja yang hebat. Tetapi toh orang-orang juga tahu apakah saya memang berperilaku dan berlatar belakang seorang anak raja. Mengaku hebat, seringkali adalah refleksi dari ketidak hebatannya saja.

Artinya, jika mencoba meyakinkan seseorang untuk membeli sesuatu bagusnya bukan sekadar pengakuan diri, tetapi merupakan rekomendasi dari orang lain.

Dalam membangun media-media promosi, tidak sedikit pelaku pemasaran yang tidak melakukan upaya ‘mendengar’ dan ‘melihat’ dari sudut pandang orang lain. Mereka merasa bahwa design yang dibuatnya sudah sangat sempurna tanpa memperhatikan apa yang akan dipikirkan dan dirasakan oleh calon konsumen yang membaca pesan-pesan itu.

Rekomendasi

Nah disinilah kuncinya. Kata orang lain. Orang akan lebih percaya jika ada pengakuan yang merupakan rekomendasi dari pihak lain. Jadi jika kawan anda memberitahukan kepada kawan-kawan yang lain bahwa anda adalah orang baik, tentu akan sangat mudah diterima dan dimaklumi. Berbeda jika anda sendiri yang mengaku bahwa anda adalah orang yang baik dan sebagainya.

Semua calon pemimpin daerah yang akan mengikuti pemilihan biasanya mengaku dirinya baik, cerdas, santun, penolong, tegas dan lain sebagainya, tetapi akan lebih dipercaya jika yang menyampaikannya adalah orang lain.

Berbicara tentang calon pemimpin daerah yang kalah. Secara umum sebelum proses pemilihan, mereka merasa dirinya mendapat dukungan dari semua orang. Padahal itu hanya dari perasaan dirinya sendiri atau orang-orang yang terbatas dilingkungannya tanpa studi yang objektif dan luas.

Semestinya harus ada upaya mencari pendapat-pendapat orang yang luas sesuai dengan sasaran penciptann strategi untuk mendapatkan gambaran akhir dari sebuah asumsi.

Meminta rekomendasi dari para ahli juga merupakan pilihan cerdas, tetapi jangalan bergantung kepada satu sumber untuk memastikan rekomendasinya benar dan tepat.

Sisi lain PeDe

Jikalah suatu ide adalah sebuah karya cipta yang didedikasikan untuk menjadi motor perubahan, tidak salah jika rasa percaya diri itu dibangun dengan kuat tanpa harus banyak mempertimbangkan pendapat banyak orang. Banyak sejarah dunia membuktikan bahwa perbedaan jusru menciptakan hal yang istimewa.

Mungkin kita masih ingat bagaimana seorang Gustaf Eifel --penggagas menara eifel di Paris—sangat sulit saat memulai pembangunan menara yang kini menjadi kebanggaan negera Perancis itu. Gustaf Eifel mendapat cemoohan dan penolakan-penolakan yang lumayan hebat dari masyarakat Kota Paris. Mereka menganggap bahwa menara itu sangat jelek, tanpa keindahan apapun karena hanya terdiri dari susunan besi-besi hitam. Tetapi Gustaf Eifel terus saja menutup telinga dan membangun keyakinan dirinya dan kini kita menikmati karyanya itu.

Demikian juga dengan penemu jam digital yang ditertawakan oleh ahli-ahli jam di Swiss yang merasa lucu dengan ide pembuatan jam digital, dan kini jam digital menjadi pilihan yang tidak bisa dilupakan.

....

Kembali ke jamuan makan malam dari kawan kami, malam itu kami sangat kekenyangan air karena harus minum lebih banyak demi mendorong makanan yang terpaksa kami jejalkan ke mulut. Mungkin karena kami tidak ingin mengecewakannya, kami terpaksa berkorban berpura-pura menyukainya.

Dan yang kami lakukan adalah pembodohan. Menipu diri dan menipu kawan dengan membiarkan dia merasa sukses tanpa memberi masukan yang konstruktif. Dan saya rasa hampir semua orang lebih banyak memilih bersikap seperti kami.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Share:

Blog Archive