it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

9.8.10

Kena Denda

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan. pada hal bisnis dan teknologi pada tanggal 12 April 2010

“AWAS pak, jangan sampai terlambat, yang sekarang dendanya Rp.1.000.000,-” begitu kata seorang konsultan pajak mengingatkan laporan SPT saya. Ternyata kawan-kawan saya masih juga ada yang telambat melaporkan SPTnya. Walah....

Cerita denda dan penalti ini menjadi percakapan kami ketika itu. Kini sudah menjadi jamak diberbagai kesepakatan bisnis yang mencantumkan ancaman denda jika ada pihak-pihak yang tidak menepati janji dalam kesepakatannya. Ada seorang kawan yang menjadi pemborong proyek-proyek properti juga benar-benar memikirkan fenomena tersebut. Ia pernah dua kali menanggung denda itu, gara-gara terlambat menyelesaikan proyeknya. Dendanya pun tidak sedikit, salah satunya bahkan sempat tidak menyisakan sedikitpun keuntungan untuk dirinya.

Seorang rekan yang menjadi pemasok barang dagangan di beberapa pasar modern juga mendapati hal yang sama. Ia harus membayarkan denda jika ia tidak sanggup memasok sesuai kebutuhan yang disepakati bersama dengan pihak pasar modern tersebut.

Kasus yang sama juga di alami rekan-rekan eksportir, jasa ekpedisi, bahkan manajer artis. Bisnis pad dasarnya dilakukan untuk mencari laba, tapi apa lacur kalau ternyata laba itu kandas gara-gara denda yang besar.

Dalam perkara kecil tetapi bisa menjadi besar adalah pemutusan aliran listrik dan air PDAM jika kita telat membayarkan tagihannya, sama seperti sambungan telepon. Sepertinya urusan sepela itu justru bisa mengakibatkan keluarnya biaya yang lebih besar, waktu yang lebih banyak dan operasional yang terganggu karena putusnya aliran itu.

Mungkin anda juga pernah mengalami adalah keterlambatan pembayaran kartu kredit yang mengakibatkan denda yang lebih besar. Sesuatu yang harusnya bisa dihindari tapi kadang kita tidak menyadarinya.

Masa berlaku KTP dan SIM biasanya di set sesuai tanggal kelahiran pemiliknya, tapi tidak sedikit orang yang terlewat tidak memperpanjangnya. Hingga akhirnya denda dan biaya proses pembuatan yang baru menjadi lebih repot dan memakan waktu.

Masalah waktu tidaklah berdiri sendiri, karena otomatis akan bersinggungan dengan biaya langsung dan kerugian pemanfaatan waktu untuk hal yang lebih bermanfaat dan menghasilkan uang.



Lalai

Konon asal kata manusia adalah dari bahasa Arab –nasia—yang bermakna lupa. Jadi sangat manusiawi jika kita memiliki potensi lupa dan lalai. Karakter lain dari manusia adalah ketidakmampuannya untuk mendua. Sangat jarang seseorang bisa mengerjakan banyak hal bersamaan dengan kesadaran penuh.

Sekarang cobalah anda julurkan tangan dan acungkan jempol ke atas. Lalu lihatlah jempol itu, jika anda menyadari saat itu juga anda tidak mampu melihat dengan jelas benda-benda lain yang jaraknya lebih jauh dibalik jempol anda. Sebutlah ada lemari pakaian yang terletak 5 meter di depan anda, pada saat anda melihat lemari itu –dalam keadaan tangan masih menjulur—pasti jempol anda tidak akan terlihat dengan jelas. Bagi saya, itu bermakna bahwa kita tiada bisa mendua.

Artinya, sangat mungkin kita terlupa untuk memperhatikan hal-hal kecil seperti jatuh tempo SPT pajak, perpanjangan karti SIM, STNK dan KTP.

Kecuali, kita memposisikan diri menjadi lebih awas, waspada dan penuh perhatian. Atau kita membekali diri kita dengan alat-alat pengingat. Seperti kita menyetel jam weker untuk membangunkan tidur kita.



Alat bantu

Menyadari kerugian yang lebih besar dan kerusakan yang lebih parah, sepertinya kita harus memiliki kemampuan manajemen diri dalam hal kewaspadaan dalam mengingat sesuatu baik itu berupa janji atau kesepakatan-kesepakatan lainnya.

Mengingat kemampuan kita yang terbatas, maka perlu di buat alat-alat bantu pengingat. Karakter pengingat tersebut haruslah sesuatu yang bisa dilihat setiap waktu, dapat diperbaharui setiap waktu dan memberikan informasi lebih awal dari sebelum jatuh tempo pekerjaan atau hal yang dimaksudkan untuk diingat.

Jaman dahulu dan mungkin sekarang pun masih digunakan banyak orang, yaitu menuliskan pengingat itu di kalender yang tergantung di dinding atau di meja kerja. Sayangnya media ini tidak bisa memuat banyak tulisan dan tidak mudah dibawa-bawa. Artinya jika ada janji dan tidak sedang di meja atau dekat dinding tempat kalender itu, jelas kita sulit menuliskannya.

Lalu ada alat lain berupa agenda. Agenda ini berupa buku, tapi bukan buku kosong seperti notes. Buku Agenda ini sudah tercetak didalamnya hari, tanggal dan kolom-kolom pembagian jam sepanjang tahun. Buku agenda ini masih jauh lebih baik daripada menuliskan sesuatu dai kalender. Buku agenda bisa dibawa kemana-mana. Hanya saja setiap tahun kita harus mengupdate secara manual. Kita harus menuliskan lagi hal-hal rutin tahunan, seperti ganti KTP, ulang tahun keluarga atau kerabat dan lain sebagainya.

Bagi anda yang sudah memiliki alat digital berupa komputer, telepon genggam pintar atau perangkat sejenisnya yang memiliki fasilitas agenda, anda bisa mengkondisikan sekali memasukkan data yang bisa digunakan selama bertahun-tahun kemudian. Dan kelebihan lain dari alat digital ini adalah kemampuannya memberikan alarm atau tanda-tanda yang bisa mengundang perhatian seperti bunyi-bunyian sembari memunculkan tanda pengingat sesuai yang anda kehendaki pada waktunya.

Bahkan kini alarm pengingat in bahkan bisa disimpan secara maya didunia internet.



Aturan kesepakatan

Kembali kepada bahaya dan kerugian jika harus berurusan dengan denda. Selain membangun kewaspadaan diri, sebenarnya ada hal lain yang perlu diperhatikan dengan serius. Yaitu pada saat membangun kesepakatan dengan pihak lain yang berakibat penalti dan denda.

Hal penting itu adalah pada saat menetukan tenggat waktu. Berhati-hatilah! Cermatlah menghitung kemampuan dan kondisi-kondisi lain yang mempengaruhi terpenuhinya janji.

Ini menjadi penting karena jika kita mematok waktu lebih panjang, tentu partner bisnis tidak suka dan berpotensi lari ke pesaing kita. Kalau waktu yang di pator terlalu cepat dari kemampuan wajar kita, tentu kita terancam penalti itu.

Yang pasti, usahakan berjanji sedikit lebih lama dari kemampuan kita, agar kita memiliki cadangan waktu jika ada hal-hal yang terjadi diluar kendali kita.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com





Share:

Nasi Bungkus

http://i49.photobucket.com/albums/f296/ayinda/IMG_6100.jpg
tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan, pada halaman bisnis tanggal 05 April 2010

SEBUNGKUS nasi hangat dengan sejumput sayur, sepotong lauk, sesendok sambal dan setakaran kuah di sajikan dalam bungkusan daun pisang. Ehm..... lezat....

Gulai dan kari secara otomatis tercampur dengan sempurna tanpa harus menghabiskan sepiring gulai atau kari. Memakan nasi bungkus juga tidak memerlukan formalitas dan basa-basi yang tidak perlu. Tidak harus berdandan untuk makan di restoran, tidak perlu mengeluarkan biaya lebih banyak, tidak harus menggunakan banyak piring sajian, tetapi sudah membuat kenyang dan terasa mantap. Habis itu, tak perlu lagi mengeluarkan energi dan biaya untuk mencuci piring, tinggal dibuang. Ringkas! Itulah sebabnya, hingga kini nasi bungkus masih menjadi pilihan banyak orang.

Nasi bungkus di konsumsi hampir semua kalangan dari semua level kasta sosial, latar belakang budaya dan keyakinan. Dari tua hingga yang muda. Sayangnya masih banyak rumah makan yang tidak memperhitungkan potensi ini. Mereka masih saja mengunggulkan tamu-tamu yang datang dan makan didalam restorannya.

Take Away

Bahasa pebisnis kuliner menyebutkan bentuk bisnis nasi bungkus dengan istilah take-away –dibawa pulang--. Selain dine in —dimakan di dalam resotan--, delivery—pengantaran--, kali ini, kita akan bahas lebih dalam tentang model membawa pulang makanan.

Jelas bahwa pembeli memiliki selera yang berbeda-beda. Ada yang ingin makan langsung di restoran yang mereka kunjungi, ada juga yang ingin dilayani dengan pengantaran hingga ke pembeli serta ada juga pembeli yang datang ke restoran dan membeli makanan untuk dibungkus dan dibawa pulang.

Dalam paradigma para pengusaha makanan, nasi bungkus kadang diposisikan dalam pandangan yang salah. Mereka menganggap bahwa nasi bungkus bukanlah sumber pemasukkan yang bagus, tentu saja karena alasan harganya murah.

Tetapi perlu dipertimbangkan hal-hal berikut ini; yang pertama bahwa nasi bungkus yang dibawa pulang, itu tidak memerlukan tempat yang banyak, tidak perlu meja, tidak perlu kursi dan tidak perlu ruangan yang luas. Dalam hal ini, kebutuhan logis dari penyediaan tempat menjadi berkurang, misalnya biaya penerangan biaya pendingin ruangan dan air jelas menjadi minimal. Ruangan yang tidak digunakan oleh pembeli nasi bungkus, jelas bisa dimanfaatkan untuk tamu-tamu lain.

Kedua biaya nasi bungkus juga cenderung lebih sedikit, lihatlah bahwa sayuran dan kuah biasanya ditaruh dengan ala kadarnya saja. Tidak seperti nasi kotak yang didalamnya ada setakaran/porsi sayuran dan kuah serta lauk yang volumenya jauh lebih besar daripada nasi bungkus. Lalu, nasi bungkus juga tidak memerlukan biaya piring dan ongkos pencuciannya.

Yang ketiga, konsep nasi bungkus tidak memerlukan pelayanan yang banyak dan memakan waktu lama. Hanya diperlukan penerima order, pembungkus dan kasir. Tidak lebih.

Yang keempat, konsep nasi bungkus memberikan efek promosi keluar dari lokasi rumah makan. Karena bungkus makanan tersebut dilihat oleh orang-orang lain di tempat-tempat lain juga.

Yang kelima dan yang paling penting adalah bahwa pasar hingga saat ini masih menyenangi konsep nasi bungkus ini. Artinya pasarnya sudah tersedia.
Optimalisasi

Melayani pembelian model nasi bungkus jelas sesuatu yang menguntungkan, asal benar-benar diamati dan diperhatikan. Konon, restoran cepat saji dari Amerika yang berlogo huruf M, justru mendapatkan omzet terbesarnya dari penjualan paket makanan yang paling murahnya. Lalu penjualan dengan sistem drive through (penjualan dengan cara melayani pembeli langsung ke jendela mobil pembeli, artinya penumpang tidak perlu turun) juga semakin hari semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Mengamati kenyataan tersebut, kenapa tidak dicoba dioptimalkan pola penjualan nasi bungkus itu? Yang saya maksud dengan optimalisasi adalah, diusahakan sebuah strategi untuk meningkatkan omzet dan keuntungan dari penjualan dengan tipe ini. Berikut pemikiran saya;

Yang pertama; tempatkan pembeli pola nasi bungkus juga sebagai pembeli yang memerlukan layanan wajar dan baik. setidaknya ada tempat duduk yang nyaman untuk menunggu giliran dilayani. Syukur-syukur bisa diberikan tempat yang sejuk dan sekadar minuman.

Yang kedua Mudahkan sistem pelayanan, dari proses order, nenunggu hingga membayarkan. Sudah saatnya dihindari proses mengantri dengan berebut untuk diyalani. Konsep menggunakan nomor urut juga bisa diaplikasikan untuk memberikan giliran yang adil. Bukan mendahulukan mereka-mereka yang bersuara lantang atau yang berbadan besar saja. Selanjutnya perlu diatur posisi pemesanan, posisi pengambilan pesanan hingga posisi kasir, agar alur perjalanan pembeli tidak berbelit, memutar atau bolak-balik. Ini penting agar pembeli menjadi lebih mudan sekaligus mempercepat proses layanan.

Sistem pembayaran selayaknya dipermudah, misalnya ada semacam nota khusus dari pihak pembungkus yang menyebutkan nilai transaksi, sehingga pembeli segera tahu berapa uang yang harus dibayarkan kepada kasir.

Yang ketiga aturlah posisi pembeli agar mudah melihat produk yang dijual dalam pajangan, sehinga mereka dengan mudah memilih sesuai dengan seleranya. Melihat langsung produk yang mau dibeli biasanya memberikan efek kepuasan tersendiri. Disamping kita bisa menyarankan produk untuk dibeli jika pembeli terlihat belum menentukan pilihannya.

Sangat penting, agar penerima order bisa menawarkan pesanan lain yang mungkin berhubungan dengan pesanan awal, misalnya pembeli hanya meminta nasi bungkus, mungkin bisa ditawarkan hidangan penutup berupa buah atau pudding, agar nilai penjualannya lebih banyak lagi.

Promosi

Tentu saja, promosi adalah hal wajib agar produk yang kita luncurkan mendapat tanggapan baik dari pasar. Memberikan daftar menu dalam ukuran brosur kecil kepada pembeli nasi bungkus juga cukup cerdas, karena diharapkan orang-orang yang menitip beli nasi bungkus juga tahu , produk apa saja yang disediakan.

Menawarkan kepada tamu-tamu yang makan di dalam restoran untuk membawa pulang makanan juga bisa dilakukan, sambil memberikan selebaran pemberitahuan bahwa kini sudah ada jasa nasi bungkus dengan pelayanan yang lebih baik.

Selamat mencoba...!





Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Share:

Blog Archive