it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

26.11.11

GRATIS



Tulisan ini sudah diterbitan di harian waspada medan, pada halaman ekonomi dan bisnis. tgl 27 Juni 2011.


            HANYA ada dua bagian orang yang mendapatkan sesuatu tanpa harus membayar alias Gratis. Yang pertama adalah orang yang terhormat dan yang satu lagi adalah orang miskin.

            Sebagai pebisnis sesekali anda ‘harus’ mengorbankan keuntungannya dengan memberikan layanan dan produknya tanpa harus meminta bayaran dari si pelanggan.

            Bagi pebisnis, orang yang terhormat dalam sekelompok yang pertama adalah orang-orang tertentu yang dipandang memberikan ‘pengaruh’ untuk bisnis, sehingga layak diberikan penghargaan dengan memberikan ‘hadiah’ berupa layanan/produk gratis.

            Terkadang pebinsis juga menemui orang-orang ‘miskin’ yang memerlukan belas kasihan sehingga ‘harus’ diberi gratis.

Semua pemberian gratis itu bisa bersifat sukarela atau terpaksa, juga karena status si penerima layanan/produknya.



Hormat

            Dalam bentuk sederhana, praktek ini bisa dilihat dipasaran seperti sampling produk. Sengaja dibagikan kepada banyak orang agar mereka mencicipi atau mencoba produk tersebut sehingga masyarakat tahu kelebihan produk tersebut dan berlanjut menjadi pelanggannya.

            Tetapi pemberian gratis karena faktor hormat, biasanya diberikan dengan suka rela oleh pengusaha karena penerimanya adalah orang-orang yang dipandang bisa memberikan keuntungan tertentu bagi si pengusaha.

            Bisa jadi mereka adalah pejabat yang memberikan pengaruh sosial. Bisa jadi mereka adalah tokoh publik atau artis terkenal sehingga pemberian gratis itu memberikan promosi tambahan bagi produk dan si pengusaha.

            Secara praktis, bisa jadi target penerima penghormatan itu adalah pembeli potensial. Mungkin mereka adalah manager pembelian, kepala bagian keuangan, atau pimpinan umum dari perusahaan yang dijadikan sasaran pemasaran si pengusaha.

            Pemberian gratis itu adalah bagian dari biaya promosi. Beban biaya itu diharapkan akan menjadi impas, terbayar oleh transaksi lanjutan atas efek pemberiannya.

            Dalam kelompok penerima karena unsur hormat ini adalah mereka-mereka yang bisa dianggap sebagai kawan dan saudara. Tetapi dalam hal ini sudah tidak lagi bisa dianggap bisnis karena itu bersifat perkawanan dan persaudaraan. Dalam hal ini biaya yang timbul tidak semestinya dibebankan ke bagian promosi. Karena mereka itu jelas bukan sasaran yang dituju oleh perusahaan.



Sumbangan

            Saya membagi kelompok penerima sumbangan ini dalam 2 kategori. Yang pertama adalah mereka yang benar-benar miskin secara material. Mereka masuk dalam daftar kriteria orang-orang yang harus disantuni. Mereka adalah fakir miskin yang tidak bisa diterlantarkan.

            Kepada mereka, pemberian gratis itu cenderung bersifat sumbangan. Oleh karenannya, biaya penggratisan itu tidak bisa dibebankan kepada biaya promosi.

            Memberikan sumbangan kepada fakir miskin seperti diatur oleh agama-agama besar adalah salah satu kunci sukses sebuah proses pencarian rejeki. Dalam kontek manajemen modern, memberi sedikit dan menerima dalam jumlah yang besar adalah kunci kekayaan. Tetapi saya pikir manajemen yang ditawarkan Tuhan tidaklah demikian; “Keluarkan sebanyak-banyaknya dan Tuhan pasti akan memberikan lebih banyak lagi...” Tentu hukum ini hanya berlaku bagi yang percaya.

            Kategori kedua penerima sumbangan adalah mereka yang miskin moral. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya memiliki uang cukup bahkan bisa jadi kaya raya. Tetapi mereka merasa harus dihormati sehingga mereka melakukan pemaksaan-pemaksaan untuk mendapatkan segala sesuatunya secara gratis.

            Mereka cukup lihai dengan melakukan berbagai tekanan untuk mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Gaya premanisme bermain dalam pola ini.

            Dalam pikiran saya, mereka adalah perampok dalam bentuk lain. Mereka memiliki kekuatan dan ketegaan untuk memaksa kita memberikan layanan/produk kepada mereka secara gratis sebagai bentuk perwujudan atas sikap gila hormat yang mereka cari.

            Sangat disayangkan bahwa ada sebuah kayakinan yang salah yang berlaku di tatanan sosial kita. Konon, bagi sebagaian orang, ada sebuah keyakinan dan kebanggaan bahwa mereka menjadi hebat jika mereka mendapatkan sesuatu dengan gratis.

            Saya pikir, melawan adalah pilihan yang paling ideal. Tentu perlawanan itu bertingkat sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dari memberikan perlawanan terbuka, mencari perlindungan dari lembaga hukum negara, atau hingga ketika semua tidak mungkin, melawan dengan doa dalam hati juga bisa dilakukan.



 Penghormatan

            Telepas dari kelompok perampok yang tak bermoral. Ketika memberikan penghormatan dengan memberikan layanan/produk gratis kepada seseorang, selayaknya pemberian itu juga harus dilakukan dengan rasa hormat yang tinggi. Pastikan semua pihak pelayanan memahami bahwa pemberian gratis itu dilakukan dengan penghargaan dan memposisikan si penerima dengan martabat yang juga tinggi.

            Semula petugas pelayanan harus tahu siapa mereka itu dan memberikan keyakinan bahwa mereka adalah orang-orang yang memberikan manfaat bagi perusahaan. Pastikan pegalaman-pengalaman melayani para perampok amoral selama ini tidak mengganggu pelayanan penghormatan kepada mereka yang memang layak menerimanya.



Anggaran

            Menganggarkan pemberian layanan gratis dalam sub bagian promosi adalah pilihan bijaksana. Karena dalam iklim usaha di negeri ini, pilihan itu terkadang tidak bisa dielakkan. Tentu saja memberikan yang terbaik dan sesuai anggaran promosi yang ditetapkan adalah keharusan yang dipilih.

            Yang meringankan beban pengusaha dalam hal ini adalah, bahwa memberikan produk layanan gratis ini biasanya berbiaya lebih rendah daripada memberikan uang untuk membiayai produk layanan orang lain. Pengusaha tetap menghitungnya dari biaya produksi bukan dari harga jualnya. 

            Dan pasti keuntungan langsung yang didapat adalah bertambahnya jumlah orang yang mencoba dan menikmati layanan produk kita. Artinya ada peluang bertambahnya jumlah mulut yang ikut mempromosikan produk kita.

            Media publik juga tidak akan menyiarkan kehabatan produk jasa layanan kita jika tidak ada orang-orang yang memiliki nilai berita yang mencoba membuktikan keunggulan produk kita. 

            Karena bisnis adalah pilihan untuk mendapatkan keuntungan, maka tetaplah berorientasi kepada untung dan rugi atas semua langkah-langkah yang di putuskan. Yang perlu disadari adalah bahwa keuntungan tidak selamanya diukur dari nilai rupiah yang didapat. Dan keuntungan tidaklah selalu harus dipetik hari ini, pada saat biaya dikeluarkan. Mungkin tahun depan atau bulan depan. Bijaksanalah.





Konsultasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com


Share:

RADIUS 3 KM

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 20 Juni 2011. anda boleh mengcopy-nya tapi tolong sebutkan sumbernya, dengan jelas ditulis di awal atau akhir tulisan, bukan disisipan di tengah.

            SELALU melihat ke langit, bisa membuat kita tersandung. Mungkin begitu jika kita selalu memperhatikan hal-hal yang jauh dan luas tanpa menyadari keadaan sekeliling kita.

            Demikian juga dengan pemasaran bisnis kita. Untuk produk-produk yang dibutuhkan banyak orang dalam frekuensi yang sering. Mungkin perlu ada semacam kesadaran pemasaran di lingkungan kita berada.

            Yang saya maksud adalah bahwa warga masyarakat disekililing kita sebenarnya adalah pasar yang potensial untuk kita jadikan sasaran. Kadangkala, atas nama keinginan bisnis yang besar, kita lupa bahwa kita sudah tidak memperhatikan sasaran yang lebih dekat dan terjangkau di tangan kita.

            Mereka-mereka yang tinggal di sekitar lokasi bisnis kita adalah calon pembeli, calon pelanggan. Dengan melakukan pemasaran ke masyarakat sekitar, kita akan mendapatkan banyak hal positif. Yang pertama; anggaran pemasaran pasti jauh lebih hemat. Tidak perlu distribusi yang memakan biaya karena jauh. Kita tidak perlu menciptakan “pengganti” diri untuk menjadi dekat dengan mereka yang jauh.

Yang kedua; strategi komunikasi pemasarannya bisa disederhanakan dan disesuaikan dengan keadaan sekitar kita dengan tepat. Karena itu lingkungan kita, jelas kita bisa dengan mudah mempelajari dan mengamati kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan.

Yang ketiga; pengeluaran pemasaran akan lebih sesuai dengan hasil yang kita harapkan.



Radius 3 KM.

            Jika anda memiliki peta kota atau daerah tempat gerai anda berdiri, buatlah titik dengan jarak 3 KM dari posisi usaha anda itu. Lalu buat lingkaran megitari lokasi anda dari titik 3 KM itu. Dan itulah sebenarnya daerah 3 KM yang penting untuk anda jadikan sasaran.

            Perbesarlah tampilan peta tersebut, sehingga anda bisa melihatnya dengan lebih detail semua bagian dalam lingkaran anda. Dari posisi tersebut anda bisa melihat potensi-potensi apa saja yang ada. Mulai dari jumlah rumah, kondisi perumahan, jumlah pertokoan, jumlah perkantoran dan semua potensi lainnya.

            Selanjutnya pelajari, apakah mereka yang ada di dalam lingkaran itu sudah menjadi pelanggan anda. Kategorikan mereka kedalam 3 bagian utama. Yang pertama; mereka yang sudah anda hubungi dan sudah menjadi pelanggan anda. Yang kedua; mereka yang sudah anda hubungi tetapi belum menjadi pelanggan anda dan yang ketiga adalah mereka yang belum anda hubungi dan belum menjadi pelanggan anda. Buat daftarnya..!

            Daftar itulah yang bisa dijadikan acuan kerja pemasaran anda.

            Jangan salah sangka! Banyak dari kita merasa bahwa pasti tetangga kita di radius itu sudah menjadi pelanggan kita, padahal bisa jadi mereka tidak pernah tahu tentang bisnis kita. Manusia hari ini sangat penuh dengan pesan-pesan di dalam pikirannya. Bahkan cenderung berlebihan sehingga mereka tidak lagi mau menerima pesan-pesan baru.

            Seperti sering saya ingatkan, banyak dari kita sudah tidak lagi mau atau memiliki kesempatan untuk membaca poster dan spanduk-spanduk di pinggir jalan. Kita sudah tidak lagi tertarik dengan iklan. Kita bahkan tidak pernah membaca tulisan dikemasan makanan yang kita pegang. Kita tidak lagi pernah membaca tulisan yang ada di bungkus rokok yang tiap hari kita pegang. Media komunikasi sangat banyak, dari koran, tv, radio, internet dan promosi luar ruangan. Untuk membaca semua pesan dari koran terbitan jakarta yang bisa sampai 30-an halaman, dengan cara baca cepat, kita membutuhkan sedikitnya 32 jam –bahkan hari kita pun tak cukup untuk itu--.

            Bahkan kita tidak pernah lagi membaca semua tulisan dalam brosur-brosur promosi yang pernah kita terima. Apalagi menyimpanya.

            Begitu juga dengan tetangga kita yang juga sibuk dan penuh kegiatan. Artinya, walaupun sudah lama bisnis anda, jangan merasa bahwa mereka yang menjadi tetangga anda paham dan tahu bisnis anda. Karena selain kesibukan mereka, bisa jadi para tetangga itu sebenarnya orang-orang yang silih berganti tinggal dan pergi. Artinya; segeralah buat daftarnya, dan segera lakukan sesuatu untuk menjadikan mereka pelanggan anda.



Klik

            Data yang anda dapat dari peta itu adalah awal yang baik untuk bisa mendapatkan data tamahan berupa jumlah penduduk, bentuk rupa profesi atau bisnis mereka, jumlah pesaing, kondisi pesaing dan binis lain yang bisa kerjasama dengan anda dan bukan pesaing.

            Setelah itu siapkan strategi dengan tahapan perkenalan, mengundang, mencoba, kolaborasi dan jualan. Tahapan perkenalan adalah tahapan yang perlu sekali dilakukan. Tentu saja terasa sedikit aneh kalau kita berkenalan lagi kepada tetangga yang sudah sekian waktu berdekatan tapi tidak kenal. Untuk tahap ini, cobalah buat re-louncing –peluncuran ulang--. Buatlah sesuatu sebagai alasan untuk memperkenalkan lagi produk atau outlet anda. Bisa saja anda membuat paket khusus untuk tetangga dekat dengan judul yang sama. Lalu mungkin dengan pemberian diskon dan hadiah-hadiah tertentu.

            Komunikasikan dengan para tetangga itu dengan media promosi yang sederhana dan tepat. Kunjungi mereka bersama tim anda. Mungkin dengan membagikan brosur dan diikuti dengan presentasi penjualan. Undang mereka untuk hadir dan melihat bisnis anda. Jika produk anda memungkinkan untuk diberikan sebagai contoh, mungkin anda bisa membagikannya kepada mereka dengan gratis untuk menarik perhatian mereka.

            Untuk mereka mungkin anda bisa memberikan layanan pesan antar. Toh jaraknya tidak jauh, bisa cepat sampai dan relatif mudah.

            Untuk mereka yang sama-sama berbisnis tetapi bukan pesaing, selain secara pribadi mereka bisa menjadi pelanggan anda, secara lembaga mereka juga bisa dijadikan partner. Bisa saling numpang brosur, brosur anda ada di tokonya dan brosurnya ada di toko anda. Ini penting, karena mereka juga memiliki pelanggan yang bisa jadi belum pernah menjadi pelanggan anda.

            Jika hubungan semakin bagus, anda bisa saling memancing pelanggan dengan memberikan hadiah atau diskon kepada pelanggan mereka. Misalnya, pelanggan toko roti tetangga anda yang berbelanja lebih dari 200 ribu akan mendapat kupon diskon 35% untuk berbelanja di tempat anda.

            Selamat mencoba.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com




Share:

19.6.11

Iming-iming kesempurnaan

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 14 Juni 2010. pada halaman bisnis dan teknologi. silahkan meng-copy. Tetapi tolong sebutkan sumbernya.



DECAK kagum dan rasa iri bermain di mata pengunjung sebuah pameran foto. Kebetulan pameran itu memajangkan foto-foto beberapa pasangan tokoh masyarakat yang diakui sukses oleh masyarakat.

Tampilan foto yang mengena dan pas sesuai karakter objeknya membawa khayal yang tinggi bagi pengunjung yang menikmati karya foto tersebut. Secara sederhana, saya bisa menafsirkan apa yang muncul dari pikiran para pengunjung “Betapa indah jika saya dan pasangan bisa seperti pasangan-pasangan dalam foto-foto ini”.

Foto-foto pasangan itu sangat bercerita. Salah satu cerita yang disampaikannya adalah makna sebuah sukses. Sukses dalam karir dan sukses dalam cinta. Foto-foto itu seolah mengkisahkan mereka adalah orang-orang yang sangat beruntung yang memiliki kesempurnaan hidup. Bukan saja sukses dalam hal material dan tetapi juga sukses dalam membina rumah tangga. Sebuah anugerah yang langka.

Sebutlah foto seorang bankir sukses yang baru saja selesai mengerjakan shalat jamaah bersama istri tercintanya dalam pose si istri mencium tangan si suami. Tata cahaya, pakaian shalat dan komposisi warnanya mencerminkan kedamaian lahir dan batin. Siapa yang tak mau seberuntung ini?

Di foto yang lain, ada seorang suami yang pengusaha dan juga politikus sukses yang gemar berburu sedang melihat koleksi binatang langka yang dikeringkan bersama istrinya yang cantik. Bahasa emosi wajahnya menceritakan sebuah kebahagiaan yang menjadi impian semua orang.

Ada lagi pose sepasang suami istri yang sukses sedang berkendara motor gede yang mahal melaju sambil berpelukan mesra. Belum lagi foto-foto lain yang semuanya menggambarkan kata sukses.

Menikmati foto-foto itu selalu beriringan dengan kenyataan hidup yang tidak semuanya seindah itu. Kabanyakan pengunjung pameran adalah mereka-mereka yang masih harus berjuang lebih lama untuk bisa sukses secara material. Ada diantara mereka yang masih bergelut dalam kisruhnya hubungan keluarga. Bahkan Ada diantara mereka yang merasa gagal dikeduanya.

Pada orang tertentu, foto-foto pasangan beruntung itu menjadi inspirasi untuk maju dan sukses. Pada orang tertentu yang lain, foto-foto itu hanyalah sumber kecemburuan dan sumber perasaan sial, “mengapa bukan aku?”. Tetapi rasa apapun itu, diatasnya bercokol sebuah persetujuan atas sebuah kesempurnaan hidup yang semua orang ingin menggapainya.

Menumpang Impian

Bukan lagi sebuah rahasia, jika semua orang memimpikan sukses lahir dan batin. Semua orang ingin kesempurnaan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semua orang ingin menjadi sempurna.

Pada akhir setelah menikmati pameran itu, pengunjung juga akhirnya mengakui siapa fotographer yang mendokumentasikan momen-momen itu. Ting....! inilah klik pemasaran yang jitu.

Pertama, semua orang setuju bahwa sukses adalah impian semua orang. Jadi mendokumentasikan pasangan-pasangan sukses adalah langkah cerdas menerobos pikiran publik. Apalagi publik sudah mengenal profil sukses dari objek foto.

Kedua, kesempurnaan sukses adalah jika cinta juga diraih dan bisa bertahan. Lihatlah hampir semua filem bioskop, telenovela atau novel akan laku dan banyak peminatnya jika berkisah tentang cinta. Artinya, ini adalah alasan bagus untuk mendapat persetujuan dari publik.

Ketiga. Gaya dan teknik pengambilan gambar sangat pas dengan latar belakang masing-masing tokohnya. Disini fotographer sedang menunjukkan bahwa dirinya adalah fotographer berkelas yang bukan sekadar bisa memfoto.

Tema Impian

Kini, cobalah lihat produk-produk yang sukses dipasaran. Pada umumnya mereka mencuri perhatian dan perasaan publik dengan mengedepankan tema-tema kesempurnaan impian hidup dalam media-media komunikasi pemasarannya.

Saya ingat salah satu rokok yang memunculkan tokoh muda, sporty, berjas elegan mengendarai mobil sport modern yang terkenal mahal. Tak ada pria yang tidak ingin menjadi apa yang terlihat dalam promosi tersebut.

Mungkin anda masih ingat, sebuah produk sabun yang menggambarkan kelembutan kulit para bintang kesohor karena menggunakan produknya. Atau pembalap sukses yang jadi tokoh dalam iklan sepeda motor.

Tema-tema ilustrasi atau gambar yang digunakan untuk berpromosi yang menggambarkan kesempurnaan hidup adalah kunci bagaimana asosiasi target bisa dikendalikan. Contohnya gambar perempuan cantik yang berbelanja apa saja. Atau lelaki yang terlihat sukses dengan gambaran atribut yang dikenakannya, dari baju jas necis, kendaraan yang dipakainya atau bentuk kegiatan mahal seperti olah raga golf dan sebagainya.

Tema-tema, keluarga kecil yang bahagia dengan wajah-wajah ceria, atau anak muda yang berprestasi atau pasangan dewasa yang mapan dan anggun. Semua bisa saja direkayasa agar target terpengaruh.

Tema-tema sukses sangat mudah dicerna pikiran publik, karena memang dalam pikiran publik menyetujui sukses sebagai impian mereka.

Kadang kala kita bahkan tidak menyadari bahwa produk yang kita beli sebenarnya bukan membeli fungsinya, tetapi membeli gengsi dan impian yang ditawarkan dalam iklan itu. lucu tetapi nyata. Mungkin anda setuju dengan saya, kalau sekadar untuk mengetahui waktu, kini banyak sekali jam kacangan yang harganya setara dengan 3 bungkus rokok murahan. Tetapi kita akan merasa menjadi pribadi yang berbeda dan berkelas jika mengenakan jam tangan yang harganya sepadan dengan 10 bulan upah minimum propinsi yang berlaku sekarang ini. Sama dengan orang-orang yang menggunakan handphone amat mahal tapi hanya untuk bertelepon dan sms plus bergaya, tidak lebih.

Produk non Gengsi

Aplikasi konsep promosi dengan ilustrasi yang membawa pemikiran tentang kesempurnaan cocok untuk produk-produk yang menjanjikan gengsi dan kelas sosial. Lalu bagaimana jika produk kita bukanlah produk yag demikian. Tentu saja konsep ini sedikit kurang pas untuk produk-produk sembako atau yang dijual bukan karena nilai tambah gengsinya.

Tetapi konsep ini masih tetap bisa dilakukan sekadar untuk meyakinkan publik bahwa produk kita juga digunakan atau diminati oleh orang-orang berkelas. Contoh sederhananya sudah banyak dilakukan oleh pengelola restoran yang memfoto pengunjungnya –khusus dari kalangan bergengsi—dan memajangkan foto itu sekaligus pernyataan dari tokoh tersebut.

Bayangkan kalau sepatu yang anda produksi dipakai oleh seorang wakil presiden dan dia mengakuinya dengan senang hati. Asyik bukan?

Konsultasi & Pelatihan Tj@cahyopramono.com

Share:

Janji Penjahit

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tanggal 07 Juni 2010. Pada halaman bisnis dan teknologi




PERMOHONAN maaf saya haturkan kepada semua penjahit di negeri ini untuk menggunakan istilah diatas sebagai judul dan topik tulisan saya kali ini. Saya bukan sedang menjatuhkan martabat penjahit yang mulia adanya. Saya sekadar menggunakan istilah ini sebagai perumpamaan saja untuk dijadikan renungan bagi kita semuanya.

Istilah tersebut saya dapat saat terlibat dalam diskusi terbuka pada sebuah forum di intenet yang sedang membahas tentang praktek-praktek ingkat janji dan tidak amanah yang dilakukan sebagian penjual jasa. Disitulah muncul kalimat ini. Janji Penjahit.

Salah satu peserta forum menyebutkan kata-kata “janji penjahit” untuk memberikan gambaran atas sebuah situasi, yang kadang-kadang terpaksa dialami oleh pelanggan gara-gara penjual cedera janji. Kebetulan saja, baru-baru ini dia mendapatkan pengingkaran janji itu dari seorang Tukang jahit yang sebelumnya juga pernah dia alami dari penjahit langganananya yang lain.

Menurut pengakuannya, sudah lebih dari 10 kali ia merasa terjebak oleh jani-janji tukang jahit dengan modus yang sama. Pengingkaran itu seringkali berputar pada topik-topik yang sama. Misalnya tentang tanggal jadi untuk serah terima pemesanan, komitment bahan, model dan motif. Dan itu bukan hanya dilakukan oleh satu orang penjahit dan pengalaman itu terjadi di 5 kota yang berbeda di Indonesia.

Lalu serentak beberapa peserta diskusi tertawa dan mengaku masing-masing juga pernah mengalami hal yang sama. Tetapi keluhan yang terbesar adalah ingkarnya penjahit dari waktu yang sudah dijanjikan.

Saya jadi tertarik untuk mendalami kisah ini dan mencoba ngobrol dengan sekitar 12 orang penjahit di Kota Medan, 3 orang penjahit di Jakarta dan 1 orang penjahit di Batam. saya menemukan beberapa hal lucu yang penting kita bahas. Yang pertama, benar bahwa penjahit memerlukan waktu untuk menyelesaikan pekerjaanya, tetapi yang aneh adalah bahwa penjahit rata-rata memerlukan waktu hanya 1 hari untuk menyelesaikan satu pekerjaan jika semua bahan dan alatnya tersedia. Yang lebih aneh tetapi nyata adalah bahwa rata-rata penjahit menjanjikan pekerjaannya akan selesai dalam waktu rata-rata 6 hari.

Mengapa harus menjanjikan 6 hari untuk sesuatu yang bisa selesai hanya dalam 1 hari? Jikalah ada masalah bahan baku seperti benang, kancing dan resleting, mereka mengaku bisa di dapat dalam waktu cepat, apalagi ada yang membantu membelikannya ke toko perlengapan jahit.

Yang kedua, benar kadang-kadang seorang penjahit sedang dalam keadaan banjir order dengan pekerjaan yang menumpuk, tetapi masih saja ia mau menerima order dan tidak memberikan gambaran situasi pekerjaannya kepada pelanggan/pemesan. Hal ini adalah awal dari munculnya keluhan pemesan dikemudian hari.

Yang ketiga, benar bahwa pekerjaan seorang penjahit kadangkala banyak dan sulit menangani semua hal, tetapi jarang sekali penjahit yang mencoba mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain untuk memudahkan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Yang keempat, rata-rata para penjahit yang demikian memiliki kemampuan untuk bertahan dari wajah malu dan dengan cerdas mengkreasikan beberapa alasan agar dimaklumi setiap terjadi pengingkaran janji.

Yang kelima, rata-rata para penjahit yang terpaksa melakukan praktek ingkar janji menyadari bahwa pengingkarannya akan berakibat kepada pencitraan yang buruk dan kontra produktif untuk dirinya. Tetapi rata-rata mereka pernah mengulanginya lebih dari 2 kali.

Melukai Perasaan

Benar bahwa rejeki itu urusan Tuhan, tetapi jika peluang rejeki itu disia-siakan, maka Tuhan pun akan marah. Dengan mengingkari janji, jelas kita sedang melukai perasaan pemesan. Memang ada pemesan yang terluka hatinya yang masih terus menjadi pelanggan, tetapi biasanya itu terjadi karena terpaksa, seperti masyarakat luas yang sakit hati dengan perusahaan listrik negara tetapi tak bisa berpaling.

Jika ada pesaing yang lebih baik dan tidak ingkar janji, pasti para pemesan akan berpindah dan melupakan kita. Kalau Cuma dilupakan masih lumayan, tetapi kalau pelanggan berpaling sambil membawa luka di hati, biasanya mereka akan menceritakannya kepada orang-orang lain dan tersebarlah pesan berantai tentang kejelekan kita.

Mungkin ada bagusnya menyadari bahwa bisnis itu bukanlah sekadar jual beli, tetapi ada unsur moral didalamnya. Ada Tuhan dalam semua ceruk bisnis. Pelaku ingkar janji kadang tidak menyadari bahwa harusnya unsur Tuhan jangan pernah lepas dari sendi-sendi bisnis kita. Sekadar mengingatkan, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan ciri-ciri Tentang Orang-Orang Munafik yaitu;

"Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya". (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).

Saya pikir anda sepakat dengan saya, bahwa para munafiklah yang biasanya merusak tatanan sosial dan tatanan kehidupan. Jadi mereka layak untuk ditempatkan di kasta yang paling rendah jika kita mengakui ada sistem kasta dalam hidup ini.

Bukan Cuma Penjahit

Fenomena janji penjahit ini rupanya tidak saja dilakukan oleh penjahit, tetapi juga pernah dilakukan oleh pebisnis lain yang bersifat pesanan. Baik dari bisnis makanan, bisnis perabot, konstruksi, sepatu, tas, dan lain-lainnya.

Selalu saja ada masa sial dimana mereka ‘terpaksa’ ingkar janji dari yang seharusnya dipenuhi pada saat kesepakatan dilakukan.

Jika benar-benar diamati, terlepas dari faktor luar (seperti bencana alam, bahan baku yang tidak ada di pasaran dll), penyebab utama ingkar janji adalah faktor internal pelaku. Mulai dari sikap angap enteng, sikap menunda, sikan tidak terbuka dan sikap teledor. Lalu juga tata kerja yang tidak teratur dan terencana apalagi bekerja tanpa catatan dan sistem pengingat yang efektif.

Tidak Semua Penjahit

Penyakit ingkar janji ini saya tegaskan tidak terjadi pada semua penjahit. Banyak juga penjahit yang tampil dengan profesional, tepat janji dan bahkan memberikan lebih dari yang sekadar mereka janjikan.

Mereka-mereka ini umumnya sanggup menjaga pelanggannya hingga lama dan bahkan sampai merekomendasikan kepada generasi-generasi dibawahnya.

Anda masuk golongan yang mana?

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

Kalau bukan kita, siapa lagi?

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, tgl 31 Mei 2010. pada halaman bisnis dan teknologi

SUYANTO (38 thn) adalah seorang salesman perusahaan otomotif keluaran negeri Jepang yang cukup terkenal, tapi dia malah menggunakan mobil buatan korea. Sama seperti Anita (23) yang jadi SPG produk handphone buatan China tetapi malah menggunakan handphone bermerek buatan Kanada. Aneh tapi nyata!

Sekarang, saya bertanya apakah anda menggunakan produk merek yang anda sendiri dalam keseharian? Apakah karyawan anda juga mengerjakan hal yang sama?

Saya pikir sedikit naif, jika kita meminta agar orang lain mengenal dan menggunakan merek kita bahkan kalau perlu mereka harus bisa jatuh cinta kepada merek kita, tetapi kita sendiri tidak melakukan hal yang kita suruhkan kepada orang lain itu.

Pertanyaan yang sama adalah, apakah benar seorang Komeng menggunakan sepeda motor merek Yamaha seperti yang ia iklankan? Apakah seorang Dedi miswar mengkonsumsi obat Magh yang selalu ia iklankan? Konon sekali waktu ada cerita menarik ketika wartawan memergoki Nirina Zubair, VJ MTV, memakai nomer operator lain padahal tengah menjadi brand ambassador IM3. seperti parahnya seorang karyawan pabrik minuman ringan ternama yang ketahuan di depan umum meminum bermerek kompetitor utama.

Pembaca yang budiman, saya sedang bicara tentang loyalitas. Sebuah aksi keterikatan diri terhadap sesuatu yang diyakini memberikan kebaikan bagi seseorang yang meyakininya. Dalam hal ini, loyalitas atas sebuah merek adalah hal penting yang diupayakan penuh oleh para pemasar terhadap targetnya.

Pada saat yang sama, loyalitas terhadap merek yang dilakukan oleh pihak internal adalah kunci penting untuk terciptanya pancaran pesona merek itu keluar menembus paradigma dan persepsi pasar.

Bangga

Saat saya menuliskan artikel ini, saya sedang mengenakan T-shirt dengan logo salah satu mobil sport unggulan dari Amerika. Pakaian ini saya beli karena merek dan pesan sederhana dibawah merek itu. Saat mengenakan pakaian ini, saya merasa memiliki karakter yang terkesan dari merek mobil ini.

Saya juga ingat bahwa dipintu mobil kawan saya juga tertempel stiker logo sepeda motor besar yang legendaris dari Amerika. Sebegitu mempesonanya merek itu, hingga kawan saya dan banyak orang lain rela menutup cat mobil yang bagus itu dengan stiker ’promosi’ yang dia beli sendiri. Tidak dibayar sama sekali oleh pemilik merek itu.

Tidak sedikit orang yang rela menjadi papan reklame berjalan dari berbagai klub sepak bola eropa. Tidak sedikit orang yang merelakan badannya membawa pesan-pesan promosi dari merek-merek dagang tertentu. Lucu kan?

Betapa anehnya, jika si pemilik merek atau orang-orang dalam perusahaan itu sama sekali tidak bangga dengan merek mereka sendiri.

Martin Lindstrom mempunyai cara unik untuk mengukur loyalitas terhadap merek. Dalam survei yang melibatkan responden dari 13 negara, responden ditanya kesediaannya untuk ditato logo merek favoritnya secara permanen di lengan atau anggota tubuh lainnya. Pendekatan nyleneh ini ternyata didukung oleh 18,9 persen responden yang memfavoritkan Harley-Davidson. Tiga merek paling favorit yang secara berturut-turut mengikutinya adalah Disney, Coca-Cola, dan Google.

Loyalitas internal

Siapa lagi yang akan mempromosikan merek kita kalau bukan di mulai dari pihak internal? Tentu saja harus ada usaha untuk melibatkan pihak internal untuk melakuakn hal itu. Beberapa perusahaan besar membuat system mulai dari rekrutmen, pelatihan, sampai kebijakan SDM agar mencerminkan atribut dan pesan yang terkandung dalam merek mereka. Yang itu juga mencakup layanan, perilaku, sampai pakaian karyawannya. Manajemen juga memastikan bahwa karyawannya mengerti dengan gamblang makna merek mereka, dan bagaimana mereka harus bersikap dan berperilaku untuk mendukungnya.

Jadi loyalitas atas merek oleh karyawan sebagai pihak internal mempunyai makna yang lebih dalam. Bukan sekedar memakai produk dengan setia, tetapi juga harus mampu menjaga agar pelanggan tetap setia. Jadi karyawan mesti dijadikan sebagai pasukan inti dalam menghidupkan merek.

Keyakinan ini harus dimulai sejak awal, sejak tahap perekrutan karyawan baru. Selanjutnya adalah langkah-langkah membangkitkan antusiasme dan gairah karyawan sehingga merek menjadi komitmen mereka. Cara membangkitkan yang paling efektif adalah melibatkan mereka dalam prosesnya. Termasuk komunikasi yang melibatkan edukasi karyawan berikut mekanisme umpan baliknya, sehingga karyawan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap esensi dari merek. Pemahaman esensi ini harus dimulai dari nilai-nilai yang terkandung dalam setiap atribut identitas merek sampai filosofi merek sehingga tumbuh dan berkembang semangat tanggung jawab dan rasa memiliki.

Kesemua tahapan itu harus didukung komunikasi internal secara konsisten untuk menjelaskan tata nilai dan perilaku yang sesuai dengan kekuatan inti merek tersebut. Kesuksesan internalisasi ini ditandai dengan merasuknya tata nilai dan perilaku ini dalam keseharian karyawan.
Hambatan

Sedikit ironi ketika merek yang diemban oleh para karyawan adalah merek mahal dan tidak terbeli oleh karyawannya. Tidak semua karyawan sebuah produk mobil mewah sanggup membeli dan menggunakan mobil itu dalam keseharian. Sama dengan pekerja pemasaran komplek perumahan mahal juga tinggal di komplek tersebut.

Tetapi hal tersebut diatas tidak menutup kemungkinan agar pihak internal tersebut diatas menggunakan atribut-atribut yang bisa membangun kekuatan dan kebanggaan produknya.

Kini, banyak media jejaring sosial yang sangat potensial untuk juga mempromosikan sebuah merek. Sayangnya sedikit sekali karyawan yang mau mengkoneksikan dirinya dengan merek perusahaan dimana dia bekerja.
------
Bayangkan jika orang-orang lain sangat bangga mengenakan logo dan merek yang kita miliki tanpa kita harus membayarnya untuk melakukan hal itu. Bayangkan betapa beruntungnya kita ketika mengetahui banyak orang yang rela mentato tubuhnya dengan logo itu.

Tentu hal itu tidaklah mustahil. Semuanya harus segera dimulai, dan siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang melakukannya.

Konsultasi dan Pelatihan; tj@cahyopramono.com



Share:

Spiritual Bisnis

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan, pada tanggal 24 Mei 2010.pada halaman bisnis dan teknologi

UANG itu penting tetapi bukan segalanya. Dengan uang kita bisa membeli jam tetapi bukan waktu. Dengan uang kita bisa membeli buku bukan pengetahuan. Dengan uang kita bisa membeli darah, dokter dan obat tetapi bukan membeli nyawa. Dengan uang kita bisa membeli posisi tetapi bukan kehormatan. Dengan uang kita bisa mebeli rumah tetapi bukan kehidupan. Dengan uang kita bisa membeli tempat tidur tetapi bukan tidurnya itu sendiri. Dengan uang kita bisa membali sex tetapi bukan cinta.

Benar bahwa kemiskinan adalah kejahatan yang sebenar-benarnya. Benar bahwa kemiskinan adalah pintu terdekat dengan dosa. Benar bahwa kemiskinan dekat dengan penderitaan keduniaan. Jadi, sangat benar jika orang berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari kemiskinan dengan jalan bisnis. Benar bahwa mendapatkan kekayaan adalah cita-cita yang terpuji dan perlu dukungan. Tetapi sangat benar bahwa uang tidak tidak selamanya membawa pemiliknya memasuki dunia kebahagiaan sejati.

Pembaca yang budiman, beberapa waktu terakhir ini saya bertemu dengan banyak pengusaha sukses yang gundah-gulana, mendapati hidupnya yang penuh rutinitas dan melelahkan tanpa isi/makna. Di kala lain, saya sering mengatakan bahwa bisnis adalah salah satu pintu terdekat untuk menggapai ridho Tuhan.

Bagi anda yang baru memulai bisnis, anggaplah ini ide-ide dari pengalaman beberapa pendahulu yang saya pikir cukup berharga untuk dipertimbangkan menjadi referensi.

Saya meyakini bahwa akhir perjalanan kita adalah sebuah kebahagiaan sejati. Akhir perjalanan kita adalah bersama sang Khalik yang suatu saat akan kita sapa dengan kata “kekasih”. Jadi sangat positif jika ujung jalan itu kita capai dengan proses yang benar dalam arah yang lurus. Demikian selayaknya kita memanfaatkan jalur bisnis untuk menjadi kendaraan mencapai tujuan itu.

Saya mendapati 3 tahap hubungan yang paling utama dalam mencapai spiritualitas bisnis. Yaitu kemampuan mengelola hubungan internal, interpersonal dan spiritual. Mari kita bahas satu-persatu.

Hubungan Internal

Ini menyangkut diri sendiri. Apapun yang terjadi diluar diri, tidaklah menjadi lebih begitu strategis dibandingkan dengan harmonisasi diri. Kualitas diri adalah pondasi pertama dari konstruksi ini.

Pembaca yang budiman, setelah saya amati, mengatur dan mengelola orang lain sangatlah gampang jika kita sanggup mengatur dan mengelola diri sendiri. Dan yakinlah semua kebahagiaan dan sukses ada bersemayam dalam diri kita. Tak usah dicari kemana-mana, tidak di gunung tinggi, tidak dilembah, tidak di air terjun yang tinggi, tidak juga di dasar lautan luas.

Untuk sukses lahir dan batin dalam berbisnis, saya mencatat 3 hal penting yang harus dikembangkan dalam hubungan internal ini, jauh hari sejak memulai bisnis apapun. Yang pertama adalah SABAR. Sukses dan kaya hanya dimiliki oleh orang-orang sabar. Yang sanggup menjaga diri untuk tidak berlebihan, untuk bersaja, untuk kuat menunggu momen dan tangguh menjalani semua proses pembelajaran dengan segala potensi-potensi kegagalan.

Hampir tidak ada pengusaha yang begitu mulai bisni langsung sukses dan selalu berjalan mulus. Semua dijalani dengan proses yang benar-benar menuntut kesabaran. Sabar yang unggul biasanya terjadi karena adanya kesadaran bahha Tuhan akan membantu orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh.

Yang kedua adalah BERSYUKUR. Membatasi diri untuk tidak berlebihan akan menjadikan rasa cukup. Rasa cukup yang benar akan mengundang rasa puas. Rasa puas yang benar akan mengajarkan rasa bahagia dan terimakasih. Yang pasti, janji Tuhan sangat jelas bahwa Ia akan menambahkan berkah bagi orang-orang yang tahu bersyukur.

Mati-matian mencari uang tanpa mempertimbangkan keseimbangan justru mengarahkan pelakunya menjadi budak. Bukan tuan yang bisa mengatur uang, tetapi orang yang diperbudak uang.

Yang ketiga adalah KESEDERHANAAN. Semua orang-orang pintar dari abad pertama adanya kehidupan di bumi ini selalu menciptakan yang komplikasi dan sulit menjadi sederhana dan mudah. Kesederhanaan menempatkan patron-patron yang pas dan tidak berlebihan.

Hidup bersahaja akan mengantarkan diri kepada kejayaan. Ingat sekadar gengsi, tiada akan membawa kebaikan. Gensi tidak akan mengantarkan anak-anak kita sekolah ke jenjang yang tinggi. Gensi tidak akan menjadikan kita kenyang.

Hubungan Interpersonal

Ada tiga pilar utama untuk sukses berhubungan dengan orang lain yang akan berbuah keindahan dan harmoni, yaitu; kasih sayang, memberi dan memaafkan.

Benar bahwa uang tiada kenal kawan atau saudara, kita harus benar-benar serius menanganinya. Tetapi rejeki jelas urusan Tuhan. Dan rejeki itu datang melalui orang-orang yang ada disekitar kita. Berhubungan dengan orang lain, pantasnya dilandasi oleh kesadaran penuh kasih sayang. Singkirkan rasa iri dengki dan curiga yang menyesatkan. Bahkan jika kita dirampok atau tertipu sekalipun, hilangkan rasa khawatir itu. Karena Tuhan pasti sedang berbicara dengan bahasanya dan pasti Dia akan menolong kita selanjutnya.

Kasih sayang intinya hanya memberi dan memaafkan. Mulailah dengan memberi, karena dengan memberi, kita akan berpotensi menerima. Mulailah dengan melayani, karena sesudahnya kita akan dilayani.

Orang-orang jahat yang mengganggu bisnis kita bukanlah datang begitu saja. Mereka telah diatur oleh Tuhan untuk memperkuat kita. Ada rahasi yang kadang kita tidak paham, bahwa Tuhan menghendaki kita untuk naik kelas ketingkatan spiritual yang lebih tinggi.

Hubungan Spiritual

Nah, semua tahapan diatas adalah sebuah rangkaian pondasi dan tubuh sebuah bangunan diri untuk mencapai tingkat ketuhanan. Dalam tahapan ini saya meyakini hanya ada satu kata kunci, yaitu MENYERAH.

Menyerah bukanlah kalah. Menyerah adalah laku sengaja dengan kesadaran tinggi untuk percaya. Ya, percaya bahwa Tuhan tidak pernah tidur dan tidak pernah ingkar janji, sejauh kita masih berpegangan dan tetap digandengNya.

Mungkin perjalanan hidup kita akan melewati jurang terjal, badai yang menghancurkan, atau kering yang menyengsarakan, tetaplah percaya dan serahkan saja tangan kita untuk tetap dalam gandenganNya. Pasti kebahagiaan sejati akan mejadi milik kita.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com





Share:

21.4.11

Tak perlu menipu dalam promosi


foto http://blog.pulsa.web.id/2008/03/18/perang-tarif-ala-gsm.html


Berikut adalah keluhan dari seorang konsumen yang dia tulis di situs Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia http://www.ylki.or.id/consults/view/34. Saya berharap ini menjadi pelajaran yang baik untuk kita.

Promosi First Media Menipu Konsumen

Hindarta Kamis, 18 Juni 2009

Pada tanggal 13 Juni 2009, saya mengunjungi pameran FKI 2009 (Fetival Komputer Indonesia) di Jakarta Convention Center dan saya mampir ke stand First Media. Di sana, sedang ada promosi untuk pemasangan baru, yaitu untuk berlangganan layanan Home Cable 66, maka seluruh channel akan dibuka selama 3 bulan. Dan untuk pendaftaran Fast Net, maka akan diberikan free biaya berlangganan untuk 1 bulan pertama dan pembelian cable modem dengan harga 50%. Kemudian saya mendaftar untuk berlangganan Home Cable 66 dan Fast Net 384kbps.

Pada tanggal 16 Juni 2009, dilakukan pemasangan untuk kedua layanan tersebut di rumah saya. Keesokan harinya saya menghubungi customer service First Media untuk mengaktifkan all channel selama 3 bulan, sesuai dengan promosi mereka di FKI. Tetapi ternyata hal itu tidak dapat dilakukan, karena menurut mereka, saya adalah pelanggan lama, sedangkan promosi ini hanya khusus untuk pelanggan baru, yang belum pernah sama sekali menggunakan layanan mereka. (2 tahun lalu memang saya pernah berlangganan layanan mereka, kemudian berhenti berlangganan karena saya menggunakan provider lain).

Seandainya pada saat pendaftaran, disebutkan tentang hal ini, maka saya tidak masalah. Tetapi karena pada saat pendaftaran, tidak ada pemberitahuan sama sekali tentang hal ini, baik secara lisan maupun tulisan, maka saya merasa tertipu oleh promosi Firt Media.

Saya hanya menginginkan agar apa yang telah dijanjikan pada saat pameran, yaitu all channel dibuka selama 3 bulan, dapat direalisasikan. Terima kasih.

Name : Indarta

Account : 461534

Telp.021-70224038



Keluhan diatas sebenarnya banyak sekali dialami oleh para konsumen. Keluhan-keluhan serupa sering terjadi karena salah persepsi yang biasanya tetap dimenangkan oleh pihak promotor dan konsumen dalam posisi pasrah tetapi tak rela.

Memang tetap saja semuanya bisa diselesaikan, tetapi dalam proses itu kekecewaan mencokol dan menyebabkan ketidakpuasan yang dalam.

Kondisi dan ketentuan berlaku

Inilah bahasa hukum yang sering dijadikan alat untuk menutupi kekurangan atau kelemahan promosi. Contoh sederhana adalah pada beberapa waktu yang lalu, salah satu operator telekomunikasi selular yang mempromosikan besar-besar bahwa penggunaan telepon-nya gratis. Tetapi dengan kondisi-kondisi yang sangat rumit dan sulit serta penulisan bergaya trik syarat tersembunyi yang tidak diketahui konsumen. Kondisi tersebut diperparah perilaku konsumen yang enggan mencari informasi yang lebih jelas mengenai promo atau tarif murah tersebut. Konsumen sering tergiur pada harga murah sementara yang ditawarkan. Bentuk trik yang umum dilakukan adalah ketika para operator menawarkan tarif murah hanya berupa promosi pada saat tertentu saja, bukan tarif reguler yang berlaku selamanya.

Atau pedagang retail di pasar modern yang menyebutkan diskon besar-besaran tetapi ternyata untuk item tertentu pada jam tertentu saja tanpa kejelasan yang detail sehingga membuat pembeli salah sangka dan merasa terjebak oleh bahasa promosinya.

Sama dengan bank yang menawarkan gratis iuran tahunan kartu kredit atau nilai bunga rendah yang ternyata hanya berlaku untuk tahun pertamanya saja dan kemudian naik setinggi-tingginya pada tahun kedua dan seterusnya.

Secara hukum, mungkin langkah ini dibenarkan, tetapi niat buruk yang berpotensi menjebak pelanggan sangatlah tidak bijaksana. Artinya, pada saat yang sama, seseorang berpromosi untuk mendapat perhatian dan simpati masyarakat tetapi pada saat yang sama ia sedang mempertinggi tempat untuk jatuh. Pada saat yang sama ia sedang menggali kuburannya sendiri, karena kekecewaan masyarakat atas jebakan bahasa promosi berujung kepada ketidak percayaan masyarakat.
Mencuri perhatian

Benar, promosi yang baik adalah promosi yang mencuri perhatian, tetapi jika dilakukan hanya sekadar untuk mencuri perhatian tanpa tindak lanjut yang benar. Jelas itu sesuatu yang tidak bijaksana. Sama juga untuk nama-nama produk. Saya beberapa kali tersenyum ketika memesan Ayam Penyet, tetapi ayam yang disajikan adalah ayam utuh yang tidak di-penyet sama sekali.

Demikian juga dengan properti yang sering menyebut istilah garden, hijau, taman dll. Pada kenyataannya malah sama sekali tidak ada kebun, taman atau pepohonan dalam komplek perumahan itu. Sangat berbeda dengan brosur dan nama dari perumahan yang dipromosikan.

Anehnya, sebagian masyarakat akhirnya merasa bahwa itu sudah jamak dan terpaksa dimaklumi. Seperti orang yang terpaksa makan di restoran di bandar udara yang merasa harganya sangat mahal tetapi terpaksa menerimanya saja.

Murah dan mahal memang perkara relatif tergantung daya beli konsumen, tetapi memberikan gambaran yang menyesatkan saya pikir adalah doa yang tidak termaafkan. Aha... saya jadi ingat ketika salah seorang kawan membuat brosur tentang hotel dengan kolam renang yang sangat jernih dan bersih. Sekilas tidak ada yang tahu kalau sebenarnya kolam renang itu belum terisi air sama sekali. Lalu pada kesempatan lain saya melihat seorang bule yang mengeluh kepadanya tentang kualitas air kolam itu yang tidak seperti terlihat di brosur.
Etika

Etika mungkin menjadi topik yang mendasar dalam pembicaraan ini. Lagi-lagi kembali kepada nurani bisnis masing-masing. Saya pikir tidak salah jika mempromosikan sesuatu dengan sebenarnya. Jika dipromosikan murah, selayaknya memang harus murah adanya. Jika dipromosikan bagus ya selayaknya juga bagus .

Semua itu sering terjadi karena cacat produk yang tidak sesuai dengan kehendak masyarakat pada umumnya. Misalnya upaya menurunkan harga hanya sebatas tertentu yang asal ada. Atau membuat produk yang kurang bagus dan terpaksa dipoles dengan olah gambar atau foto.

Saya merasa yakin bahwa hidup selalu berputar dan pada gilirannya seseorang akan menuai apa yang dia tanam.



Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Share:

6.4.11

7 Penyakit Sarjana Baru Kerja

Tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada halaman bisnis dan ekonomi pada tanggal 10 mei 2010


“SAYA melamar untuk jabatan Manajer” aku seorang calon pegawai dalam sebuah wawancara penerimaan tenaga kerja. Saat ditanya mengapa memilih jabatan itu, jawabnya, “Saya kan sarjana!”. ”Phueh...!” dalam hati saya menjawabnya dalam diam. Begitupun saya tanya apa hubungannya sarjana dengan jabatan manajer. Jawabnya, ”Kalau lulusan SMP itu untuk level pelaksana, lulusan SMA untuk Supervisor dan kami yang sarjana untuk level Manajer”.

Terpingkal-pingkal rasanya hati ini mendengar pengakuan si sarjana ini. Seperti masuk akal tapi naif sekali terasa di hati. Si sarjana yang masih hangat terselimut baju toga kemaren dulu, masih belum kenal dunia. Dia masih belajar cara naik sepeda tapi tak pernah belajar naik sepeda.

Untuk para sarjana atau yang belum menjadi sarjana yang ingin bekerja, dengarkan nasehat ini, “ijazahmu hanya jadi kunci masuk, selanjutnya lupakan saja!” dunia kerja amat berbeda dengan dunia sekolahan. Dan yang pasti, tak ada posisi manajer yang didapat dari sekolahan. Manajer adalah jabatan karir yang harus dianyam dari bawah, sehebat apapun sekolah yang pernah dilalui.

Terlepas dari posisi itu, ada yang selalu menjadi ganjalan ditolaknya para lulusan sekolahan dalam dunia kerja. Ada semacam budaya yang aneh dan tidak diterima oleh orang-orang di dunia kerja. Saya berharap catatan ini berguna bagi mereka-meraka yang baru memasuki dunia kerja. Saya mencatat sedikitnya ada 7 ’penyakit’ yang perlu disembuhkan agar bisa memasuki budaya dunia kerja dengan baik. Berikut catatan saya;

Tak ada yang mendadak besar

Yang besar itu datang dari yang kecil, yang kaya bergerak dari yang miskin, yang pintar bergerak dari ketidak pintarannya, yang tua datang dari yang muda. Dalam dunia kerja juga demikian. Seperti saat sekolah, tak ada juga mahasiswa yang begitu masuk langsung masuk semester akhir dan langsung ujian meja hijau. Tak ada!

Pikiran ”Karena saya bergelar sarjana, saya tak tidak mengurusi hal-hal yang remeh” adalah pemikiran yang sangat salah. Hampir semua lulusan yang bru bekerja justru memulai dari bawah dan mengerjakan hal-hal yang terlihat remeh. Bukan hal yang aneh, jika dalam perkara menerima telepon saja, si sarjana itu pun harus dilatih terlebih dahulu.

Apapun gelar Anda, cara terbaik untuk mempelajari kerja adalah dengan berjalan perlahan dari bawah dan mengerjakan hal-hal kecil yang dianggap "kurang penting". Ingat, tiada pekerjaan besar akan diberikan kepada seseorang yang tidak bisa mengerjakan hal-hal kecil.

Pikiran sempit

Mahasiswa pada umumnya cenderung idealis dan senang kontra dengan penguasa. Mereka punya opini pro atau kontra terhadap semua hal, dan memegang teguh pandangannya itu dengan berposisi melawan. Sedangkan di tempat kerja, kita dituntut untuk mempertimbangkan semua pilihan, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Dalam hidup yang nyata, baik dan benar itu perkara yang sangat jauh berbeda. Dalam dunia nyata, warna tidak cuma hitam dan putih. Dalam dunia nyata tidak Cuma ada gelap dan terang. Dalam dunia nyata tidak cuma ada perempuan dan laki-laki.

Menunda pekerjaan

Suana kuliah yang serba santai terbawa hingga awal kerja. Contoh aksi menyelesaikan kuliah sesuka hati. Mengumpulan tugas-tugas kuliah bisa cepat bisa lambat, tanpa rasa bersalah. Itu akan berefek kepada pola menunda mengerjakan tugas hingga himpitan deadline.

Di tempat kerja, jika menunda pekerjaan, maka pekerjaan orang lain pun akan ikut terganggu. Lalu seluruh sistem rangkaian kerja juga terganggu. Sudah pasti Imej di mata atasan pun akan rusak.

Manja

Mahasiswa sering masih tetap merasa dirinya muda dan kebanyakan bersifat kekanak-kanakan. Biasa menuntut untuk dimaklumi jika berbuat kesalahan inginnya tiada mendapat hukuman yang keras. Sehingga berujung kepada kualitas kerja sesuka hati.

Sikap itu biasanya diikuti oleh kebiasaan merajuk dan itu sangat menyebalkan rekan kerja, senior dan pimpinannya.

Bermain-main

Keinginan untuk tetap bermain itu terbawa hingga sering menganggap enteng jejaring sosial. Fasilitas kantor disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Dan para pekerja dari lulusan yang baru, biasanya tidak memikirkan dampak dari isi Facebook dan Twitter mereka terhadap pekerjaan.

Mereka begitu saja menumpahkan rasa hati dalam media jejaring sosial itu. Sayangnya kadang status meraka suka merusak imej profesional. Dan jika status itu berisi keluhan-keluhan terhadap perusahaan atau atasan, maka potensi pemecatan akan sangat tinggi.
Kurang Lobby

Memang enak ngumpul dengan rekan-rekan kerja yang seumuran. Tapi jika ingin mendaki tangga karier dengan lebih cepat, Anda juga harus bergaul dengan para senior.

Benar bahwa selera pembicaraan dan gaya akan berbeda dengan selera anak muda, tetapi bergaul dengan senior akan memberikan banyak tambahan wawasan dan informasi-informasi tambahan yang penting untuk bisa berprestasi dan mendapatkan celah untuk maju kedepan.
Tata krama

Penyakit yang sering hinggap dalam perilaku ’anak baru lulus’ adalah tidak ada kemampuan pengendalian diri untuk berikap meredah, memohon saran, mengerjakan perintah atasan dan mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang memberikan bantuan walaupun bantuan itu kecil nilainya.

Jika anda terkesan tidak peduli, maka para atasan, senior atau kolega akan berpikir dua kali jika suatu saat anda ingin meminta pertolongan kepadanya.
-----

Jadi, saya sampai saat ini masih senang merekomendasikan para pemula untuk mengikuti program magang kerja sebelum mereka lulus. Saya juga sangat merekomendasikan agar para mahasiswa tidak saja meningkatkan kecerdasan akademik tetapi juga berusaha meningkatkan kemampuan pergaulan di dunia kerja.

Karakter pekerja yang keras dan pantang menyerah serta tabah ditambah kepribadian yang komunikatif adalah obat yang mujarab untuk menjawab penyakit-penyakit tersebut diatas.
Share:

Memilih

Tulisan ini sudah di terbitkan di harian waspada medan pada halaman bisnis dan ekonomi pada tanggal 03 mei 2010



“DUNIA semakin aneh dan menjadi terbalik”, hardik seorang Manager kepada bawahannya sekali waktu dalam kemarahan yang tak bisa lagi dipendam. Si manajer tadi melanjutkan, “Aku mencari pegawai sebenarnya untuk meringankan beban pekerjaan dan pikiranku, tapi kini semua terbalik, yang terjadi adalah aku membayar kamu agar kamu menyuruhku memperingatkan dirimu setiap hari!”

Sebuah ironi yang terjadi dimana-mana. Si manajer tadi tersadar benar, siapa sebenaranya yang menjadi boss dan siapa yang menjadi bawahan. Dia mengutuk keadaan yang terbalik itu, dia merasa bukan menjadi boss yang seharusnya menyuruh dan memerintah, tetapi dalam kenyataannya dia malah yang bersusah payah setiap hari mengingatkan dan meminta bawahannya untuk kerja dengan baik sesuai janji pada awal masuk kerja.

Ya, janji pada awal masuk kerja. Sepertinya semua calon pegawai berjanji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, cerdas, kreatif, penuh inisiatif dan dedikasi yang tinggi. Tapi entah karena kesurupan atau karena keterbatasannya, janji si pegawai itu pun luntur seiring berjalannya waktu.

Tentu saja tidak semua pegawai bertingkah menyebalkan seperti contoh diatas, tetapi sepertinya jumlah yang nyalah itu lumayan lebih banyak daripada yang baik-baik.

Para pembaca yang budiman, bersamaan dengan kampanye pemilihan kepala daerah di banyak tempat, saya merasa ada semacam kemiripan antara memilih pegawai dengan memilih bupati atau walikota. Mari kita telaah bersama-sama.

Seperti kemarahan manajer diatas, kita sebagai rakyat yang memegang keadulatan tertinggi terkadang mendapat kesialan yang sama. Pada awal kampanye janjinya luar biasa, tetapi pada pelaksanaannya NOL besar menempel di jidat pilihan kita itu. Lalu kita terbodoh melongo melihat hasilnya yang jauh dari harapan.

Belajar dari berkali-kali saya membuat kesalahan dalam merekrut pegawai, kini saya memiliki beberapa persyaratan yang harus terpenuhi pada saat merekrut pegawai dan saya pikir syarat ini juga cocok untuk memilih calon bupati /walikota.
Pengalaman

Pendidikan memang penting, tetapi pengalaman adalah kunci keberhasilan yang tidak tertandingi. Banyak pun titel pendidikan calon pegawai kita, itu tidak menjamin bahwa dia akan bisa bekerja dengan baik jika tidak ada pengalaman dalam bidang itu. Dari pengalaman saya, semakin banyak titelnya malah si calon itu lebih pandai cakap dan berteori, tapi cenderung tidak bisa mengaplikasinya dengan baik.

Pengalaman dalam hal spesifik sesuai kriteria pekerjaan yang akan diemban seringkali tidak tersebut dalam teori-teori manajemen modern. Banyak hal ‘sepele’ yang tidak terpikirkan atau tidak terlacak oleh calon pegawai yang tidak berpengalaman di bidangnya. Tak sedikit insinyur keluaran universitas terkenal dengan IP yang tinggi, tetapi tidak paham dengan cuaca yang bisa merusak proyek.

Saya jadi ingat rencana salah satu kepala bagian saya yang akan mengunci kamar mandi umum agar tetap bersih. Lucu dan menjengkelkan! Bagaimana mungkin kamar mandi di kunci hanya agar tetap bersih! Trus orang-orang akan buang air dimana? Dibawah pohon?

Pengalaman tidak ada hubunganya dengan usia. Calon yang berumur tidak dijamin memiliki pengalaman. Sekadar terkenal juga tidak dijamin bisa menjadi orang pemasaran. Seperti banyak koki handal yang pandai memasak tapi tak semuanya bisa mengajarkannya kepada orang lain.

Bukankah syarat itu juga cocok dengan syarat untuk memilih bupati/walikota?
Karakter

Nah syarat inilah yang paling saya pentingkan berikutnya dan menjadi syarat absolut bagi calon pegawai. Kepribadian seseoarang tidak bisa disulap berubah dalam waktu singkat. Ia dibangun oleh perjalanan hidup, lingkungan, pendidikan, dan kekuatan pribadi.

Kredibilitas seseorang bukan dari pengakuannya, tetapi dari apa yang ia tunjukkan. Artinya, jika si calon mengaku berkepribadian baik, santun, taat beragama, dan sederet pengakuan lain, jangan pernah percaya! lebih baik tanya kepada orang lain yang mengenalnya selama ini. Apakah benar si calon demikian adanya. Tentu saja sumber tersebut harus kredibel dan bisa dipercaya.

Tentu saja, kita menghendaki orang yang santun, bersahaja, bersungguh dalam bekerja dan amanah dengan tanggungjawabnya. Dalam kondisi tertentu, kita bisa menggunakan jasa konsultan psikologi untuk menguji-nya.

Yang penting dipahami adalah bahwa jangan terjebak percaya begitu saja karena kemasan dan tampilannya. Orang yang jidatnya hitam gosong tak semuanya karena rajin sujud, bisa saja karena ia membuatnya menjadi hitam agar dianggap dia seorang agamis.

Sayang, hasil uji psikologi calon bupati/walikota tidak diumumkan ke publik.

Latar belakang

Latar belakang kehidupan calon juga penting. Mungkin dia berangkat dari keluarga yang berantakan? Mungkin ia datang dari budaya yang luhur dan santun? Mungkin ia pernah menjadi pencuri? Bagi saya jika ada 2 pilihan, antara bekas maling dan tak pernah menjadi maling, saya akan memilih yang tidak pernah menjadi maling. Bukan tidak percaya kepada niat seseorang untuk bertobat, tetapi penyakit walaupun sudah lama, akan ada potensi untuk kambuh suatu saat nanti.

Tentang perbuatan maling, bagi saya orang baik itu bukan orang yang tidak bisa berbuat jahat, tetapi orang baik adalah orang yang bisa berbuat jahat dan memilih untuk tidak melakukan perbuatan jahat.

Pada kasus tertentu, misalnya untuk bagian penjualan/pemasaran, tentu latar belakang pengalaman selama bekerja adalah point yang sangat penting. Karena si calon tidak lagi memerlukan waktu yang panjang untuk beradaptasi dan belajar. Mereka dengan mudah tinggal memberitahukan ke jaringannya, bahwa ia sudah bergabung dengan kita. Mudah dan hasilnya lebih cepat.

Jaringan yang dimiliki secara pribadi juga harus benar-benar diwaspadai, apakah lingkup jaringan yang dimiliki calon adalah jaringan yang positif dan menguntungkan. Jika si calon dikelilingi oleh para petualang dan pencari keuntungan sesaat, maka si calon akan menjadi korban dan berikutnya kitalah yang menjadi sasarannya.
Beda

Perbedaan yang mendasar antara memilih calon pegawai dan calon bupati/walikota adalah bahwa jika kontrak sudah jadi dan terpilih, kita cenderung lebih mudah untuk memecat pegawai kita. Tetapi sangat sulit untuk bisa memecat bupati/walikota.

Itu saja!
Share:

11.1.11

Berdagang

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 26 april 2010, di halaman bisnis dan ekonomi.


KEPALANYA botak, bicaranya serius, matanya tajam, sesekali merokok dengan santai. Dialah seoarang Ubay Nasrun pemilik “Desa-Desa” –sebuah café dengan tatanan alam pedesaan, bagi saya ini salah satu yang terbaik di Kota Medan—.

Sore itu di café-nya, kami ngobrol kesana-kemari hingga tergali rahasia-rahasia bisnis yang selama ini ia lakukan.

Doa semua pengusaha persis seperti doa-doa orang kebanyakan. Yang diharapkan adalah pintu sukses, kemudahan urusan, rejeki yang mengalir berlimpah tanpa henti, pegawai yang sehat sejahtera, kehidupan pribadi yang harmonis, kesehatan yang prima, terjaganya nama baik, terpelihara popularitas dan masih banyak lagi deretan doa-doa lain.

Menjadi pengusaha; selain mendapatkan kebaikan-kebaikan, juga harus melewati duka derita yang kadang tak bisa terhindarkan. Sebutlah proses pencarian modal yang menyakitkan, kemungkinan gagal dan tumpur, sulitnya mencari pegawai yang cocok, hampir tidak ada waktu untuk bersenang-senang, kadangkala harus berhadapan dengan aturan dan aparat yang korup dan pemeras, belum lagi memikirkan bunga dan hutang bank, masih harus memikirkan keadaan dan kesejahteraan karyawan dan sebagainya.

Diantara sekian banyak rahasia sukses yang Ubay yakini, salah satunya adalah keyakinan dan kemampuan berserah diri kepada Sang Khalik. dan rahasia itu sudah ia buktikan melalui beberapa bisnis yang sukses ia jalankan selama ini.

Pada saat yang sama, saya mencoba sambungan internet gratis di café ini, lalu saya membuka situs jejaring sosial dan menemukan sebuah catatan dari sahabat yang sekarang sedang bertugas di SriLangka. Catatan itu dia sebut sebagai salah satu karya terakhir dari WS. Rendra saat terbaring di tempat tidur rumah sakit menunggu ajalnya tiba.

Pembaca yang budiman, ijinkan sejenak kita mengheningkan diri, sejenak saja...

Begini tulisannya;

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya.
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah sebuah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan sebagai kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....

Logika

Para pembaca yang budiman, logika sederhana sudah dituliskan oleh Rendra pada tingkat kesadaran yang sangat tinggi. Mungkin saja tulisan ini adalah percakapan jujur pada dirinya sendiri. Mungkin saja ia tidak niatkan untuk siapapun. Tetapi hari ini tulisan ini sampai kepada mata dan telinga kita. Tanpa berfikir dalam dan tanpa harus merasakan sakit mejelang ajal, kita bisa mendapatkan pencerahan dari puisi sederhana ini.

Terkadang logika bisnis yang kita kerjakan setiap hari benar-benar membuat kita memperlakukan semua hal dengan cara yang sama. Termasuk dalam hal mengukur rejeki dan hubungan dengan Tuhan.

Pembaca yang budiman, tak hendak saya berkotbah untuk kebaikan orang lain, tetapi ijinkan saya menuliskan apa yang saya rasakan dan saya yakin juga dirasakan oleh sebagian besar pelaku bisnis.

Kita sering sekali lupa untuk melibatkan Tuhan dalam hal pencarian rejeki kita. Kita suka lupa bahwa ada Tuhan yang menentukan nasib rejeki kita. Kadang kita merasa sepi dan sendirian, kadang kita merasa bahwa hanya kita sendirilah yang bisa menolong nasib kita sendiri. Benar bahwa nasib kita hanya berubah oleh usaha kita, tapi ridho dan ijin Tuhanlan yang menjadikannya.

Khawatir
Tulisan ini saya anggap sudah cukup menjawab pertanyaan Bapak Ibrahim di Tebing, Bapak Imran Yusuf di Perdagangan, bapak Sofyan (yang tidak menyebut lokasinya), adinda Joseph G di USU, adinda Parlindungan di UISU dan ibu Nuridah di Banda Aceh.

Sepertinya jelas sekali gambarannya, ketika rasa khawatir dan ketakutan akan kegagalan benar-benar menghantui kita sehingga kita terjerat sangat dalam, yakinkanlah bahwa pada saat yang bersamaan itulah kita bisa sedang dalam keadaan tidak beriman. Karena pada saat itu juga kita lupa bahwa ada Tuhan yang akan menolong kita.

Jadi, sering-seringlah menghadirkan Tuhan dalam pikiran kita, sehingga tidak akan ada rasa khawatir dalam diri kita.

Ketika kita menyerahkan permasalahan dan ketakutan kita kepada Tuhan, yang harus dilakukan adalah serahkanlah dengan ikhlas. Biarkan Tuhan yang mengurusnya. Hindarkan kita mencampuri pekerjaanNya dengan kekhawatiran yang berlebihan. Bayangkan pada saat anda menyetir dengan istri duduk disamping dan ia selalu cerewet mengatur anda menyetir. Mulai dari teriak ada penyeberang, ada lubang, minta lebih cepat, minta jangan mengerem mendadak dan sebagainya. Ah, mungkin kini anda paham bagaimana rasanya diatur oleh orang yang tidak memegang setir.

------

Cahaya lampu hijau mulai benderang menyelimuti dedaunan pisang dan rumpun bambu di Desa-desa. Matahari sudah beranjak ke peraduan, tetapi langit biru masih tersisa. Terimakasih Tuhan atas kesempatan menikmati keindahan pedesaan di tengah kota ini. Dan terimakasih atas kesempatan langka bertemu si Botak yang penuh inspirasi ini.

Share:

Untuk Adik dan Anakku yang masih sekolah

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada halaman ekonomi dan bisnis tanggal 19 april 2010

SUDAH banyak email yang saya terima dari mahasiswa yang sudah menyadari bahwa dikampus mereka jelas tidak dipelajari cara untuk menjadi orang kaya. Mereka bertanya bagaimana ingin menjadi pengusaha sambil kuliah. Ada yang bertanya bagaimana mencari modal, hingga ada yang bertanya cara pisah kongsi dari usaha bersama kawannya.

Sungguh membangakan manakala mendapati calon penerus bangsa sudah mulai menyadari bahwa menggantungkan diri kepada negara menjadi pegawai bukanlah kasta yang bisa cukup bagus untuk kesejahteraan mereka. Sungguh menyenangkan manakala anak – anak muda menyadari bertapa pentingnya kewirausahaan dalam upaya mencapai kesejahteraan finansial.

Saya juga berterimakasih kepada mereka yang sering mengajak saya berdialog cerdas secara virtual pada saat mereka menyelesaikan tugas akhirnya yang sesuai dengan tulisan saya.

Dibalik komunikasi-komunikasi itu, terbersit beberapa hal yang saya pikirkan tentang mereka. Pembaca yang budiman, ijinkan saya membagikan sedikit pemikiran kepada mereka yang sebagiannya saya dapat dari pidato seorang Bill Gates, orang terkaya di Amerika, di sebuah sekolah menengah disana. Saya merasa bahwa ini cukup penting, karena selama saya sekolah dahulu, poin-poin berikut ini hampir tidak pernah masuk dalam kurikulum pelajaran saya.
Kehidupan
Memulai dari pengertian yang mendasar, sadarilah bahwa secara sederhana hidup itu tidak adil. Tidak adil karena sering berbeda dengan khayalan yang kita kehendaki. Mungkin kita ingin selalu menjadi juara kelas, ingin terkenal, ingin punya banyak uang, tapi bisa jadi kenyataanya tidaklah demikian.

Saran sederhana untuk ketidakadilan ini adalah; biasakanlah! Begitu kita membiasakan diri menerima ketidakadilan tersebut, kita akan mengalihkan energi kita kepada hal-hal yang lebih bermanfaat. Suatu saat kita akan menyadari bahwa yang ideal itu adalah realita itu sendiri.

Penghargaan
Dunia ini tidak akan perduli dengan pengakuan diri kalian. Mereka baru akan mengakui kalian ketika kalian menyelesaikan sesuatu yang bagus. Setelah itu kalian baru diijinkan merasa bangga. Ingatlah, bahwa kredibilitas seseorang bukan dari pengakuannya, tetapi dari apa yang ditunjukkannya.

Kalian juga tidak akan mendadak mendapatkan gaji Rp.100juta per bulan begitu kalian lulus dari sekolah. Kalian juga tidak akan otomatis diangkat menjadi Vice President dengan mobil mewah sampai kalian berjuang dengan keras untuk mendapatkan keduanya.

Lupakan pikiran kotor yang menyamakan jenjang pendidikan dengan jenjang posisi di dunia kerja. Dulu orang bilang, lulusan universitas adalah untuk posisi manajer, lulusan SMA untuk supervisor, lulusan SMP untuk posisi senior, lulusan SD untuk pekerja kasar. Sekali lagi lupakan konsep isap jempol itu.

Keras
Jika kalian pikir guru kalian saat ini teramat keras dan kejam, nantikan saatnya kalian memiliki boss dalam pekerjaan yang sebenarnya. Keras dan kejam yang terpikir kalian atas anjuran disiplin yang diberikan guru-guru kita hanyalah sebatas pembelajaran. Sedangkan boss tempat kalian akan bekerja nanti tidak lagi akan mendidik kalian. Begitu memasuki dunia kerja, kalian dianggap sudah mampu dan cukup proffesional untuk bisa disiplin dan bertanggungjawab, tentu saja boss kalian tidak akan membiarkan dan memaklumi kesalahan kalian seramah guru-guru kalian.

Sekolah kalian mungkin berorientasi kepada pemenang, juara dan yang kalah atau pecundang, tapi hidup yang nyata tidaklah demikian. Pada beberapa sekolah, mereka menghapus rangking-rangking yang jelek lalu mereka memberikan kepada kalian kesempatan yang sebanyak-banyaknya hingga berkali-kali sampai kalian mendapatkan angka yang bagus. Kesemua itu tidak akan membantu secuilpun dari kenyataan hidup yang terjadi diluar sekolah.

Hidup tidaklah dibagi per semester. Kalian tidak akan dapat liburan selama puasa Ramadhan. Di dunia bisnis nyata, sangat jarang ada pengusaha yang tertarik memberi bantuan kepada kalian untuk menemukan diri kalian sendiri. Sangat jarang ada senior yang rela mengajari kalian agar kalian mengambil tempat duduknya. Kerjakan itu dengan waktu kalian sendiri.

Belajar
Bekerja paruh waktu yang kotor dan berdebu bukanlah sesuatu yang hina, kakek kita menyebutnya dengan lebih santun dengan sebutan ‘peluang’. Jangan tunggu lulus sekolah baru belajar bekerja. Itu sangat terlambat.

Jika kalian ingin mencari orang-orang yang sedikit ‘terbelakang’, datanglah ke tempat kursus-kursus ketrampilan, seperti bahasa kursus bahasa Inggris, kursus komputer dan lainnya. Disana bertebaran orang-orang yang tak tahu diri yang dengan terpaksa mengambil kursus karena tidak bisa melanjutkan kuliah dan tak juga bisa diterima bekerja. Selama ini mereka lebih senang mengabdikan diri kepada play station, main-main dan segala (maaf) ketololan anak muda.

Jika kalian membuat kekacauan, itu bukan kesalahan orang tua kalian, jadi janganlah merengek karena kesalah-kesalahan itu, tapi belajarlah darinya. Berbuat banyak kesalahan sangatlah bagus dan bisa membuat kalian lebih cerdas, asal bukan kesalahan yang sama!

Televisi bukanlah hidup yang sebenarnya. Pada kehidupan nyata, orang-orang haruslah bergegas meninggalkan kedai kopi dan segera bekerja. Kecuali bagi mereka yang tak punya muka untuk selalu mengemis kepada kawan semeja agar dibayari secangkir kopi-nya.

Baik-baiklah ke orang-orang yang terlihat culun, karena ada potensi nasib kalian akan membawa kalian bekerja kepada mereka. Kalian tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi dengan kawan-kawan kalian yang terlihat seperti hantu sawah atau kawan-kawan kalian yang sok paten di sekolah kalian.

Sebelum kalian lahir, orang tua kalian sangatlah tidak sebosan sekarang. Mereka begitu karena harus membayar semua biaya hidup kalian, membersihkan pakaian kalian, mendengarkan ocehan kalian saat kalian mengira kalian keren, hebat dan sebagainya. Artinya, sebelum kalian bisa menyelamatkan hutan tropis dari benalu-benalu dari generasi orang tua kalian, coba dululah belajar mengurus kloset di kamar mandi kalian sendiri.

Uang
Uang bukanlah produk langit yang mengucur begitu saja seperti hujan. Uang hanya dimiliki orang-orang yang paham perbedaaan aset dan beban. Uang berkumpul di kantong orang-orang yang mampu mengalahkan gengsinya. Gengsi tidak pernah membuat siapapun menjadi kaya. Dengan uang, anda bisa bergengsi, dengan gengsi, anda akan kehilangan uang.

Orang bodoh bekerja untuk uang, orang cerdas membuat uang bekerja untuknya. Cari tahulah caranya.

Share:

Blog Archive