it's all about growing up and human developing. Especially on business coaching

11.1.11

Berdagang

tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada tanggal 26 april 2010, di halaman bisnis dan ekonomi.


KEPALANYA botak, bicaranya serius, matanya tajam, sesekali merokok dengan santai. Dialah seoarang Ubay Nasrun pemilik “Desa-Desa” –sebuah café dengan tatanan alam pedesaan, bagi saya ini salah satu yang terbaik di Kota Medan—.

Sore itu di café-nya, kami ngobrol kesana-kemari hingga tergali rahasia-rahasia bisnis yang selama ini ia lakukan.

Doa semua pengusaha persis seperti doa-doa orang kebanyakan. Yang diharapkan adalah pintu sukses, kemudahan urusan, rejeki yang mengalir berlimpah tanpa henti, pegawai yang sehat sejahtera, kehidupan pribadi yang harmonis, kesehatan yang prima, terjaganya nama baik, terpelihara popularitas dan masih banyak lagi deretan doa-doa lain.

Menjadi pengusaha; selain mendapatkan kebaikan-kebaikan, juga harus melewati duka derita yang kadang tak bisa terhindarkan. Sebutlah proses pencarian modal yang menyakitkan, kemungkinan gagal dan tumpur, sulitnya mencari pegawai yang cocok, hampir tidak ada waktu untuk bersenang-senang, kadangkala harus berhadapan dengan aturan dan aparat yang korup dan pemeras, belum lagi memikirkan bunga dan hutang bank, masih harus memikirkan keadaan dan kesejahteraan karyawan dan sebagainya.

Diantara sekian banyak rahasia sukses yang Ubay yakini, salah satunya adalah keyakinan dan kemampuan berserah diri kepada Sang Khalik. dan rahasia itu sudah ia buktikan melalui beberapa bisnis yang sukses ia jalankan selama ini.

Pada saat yang sama, saya mencoba sambungan internet gratis di café ini, lalu saya membuka situs jejaring sosial dan menemukan sebuah catatan dari sahabat yang sekarang sedang bertugas di SriLangka. Catatan itu dia sebut sebagai salah satu karya terakhir dari WS. Rendra saat terbaring di tempat tidur rumah sakit menunggu ajalnya tiba.

Pembaca yang budiman, ijinkan sejenak kita mengheningkan diri, sejenak saja...

Begini tulisannya;

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya.
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah sebuah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan sebagai kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"....

Logika

Para pembaca yang budiman, logika sederhana sudah dituliskan oleh Rendra pada tingkat kesadaran yang sangat tinggi. Mungkin saja tulisan ini adalah percakapan jujur pada dirinya sendiri. Mungkin saja ia tidak niatkan untuk siapapun. Tetapi hari ini tulisan ini sampai kepada mata dan telinga kita. Tanpa berfikir dalam dan tanpa harus merasakan sakit mejelang ajal, kita bisa mendapatkan pencerahan dari puisi sederhana ini.

Terkadang logika bisnis yang kita kerjakan setiap hari benar-benar membuat kita memperlakukan semua hal dengan cara yang sama. Termasuk dalam hal mengukur rejeki dan hubungan dengan Tuhan.

Pembaca yang budiman, tak hendak saya berkotbah untuk kebaikan orang lain, tetapi ijinkan saya menuliskan apa yang saya rasakan dan saya yakin juga dirasakan oleh sebagian besar pelaku bisnis.

Kita sering sekali lupa untuk melibatkan Tuhan dalam hal pencarian rejeki kita. Kita suka lupa bahwa ada Tuhan yang menentukan nasib rejeki kita. Kadang kita merasa sepi dan sendirian, kadang kita merasa bahwa hanya kita sendirilah yang bisa menolong nasib kita sendiri. Benar bahwa nasib kita hanya berubah oleh usaha kita, tapi ridho dan ijin Tuhanlan yang menjadikannya.

Khawatir
Tulisan ini saya anggap sudah cukup menjawab pertanyaan Bapak Ibrahim di Tebing, Bapak Imran Yusuf di Perdagangan, bapak Sofyan (yang tidak menyebut lokasinya), adinda Joseph G di USU, adinda Parlindungan di UISU dan ibu Nuridah di Banda Aceh.

Sepertinya jelas sekali gambarannya, ketika rasa khawatir dan ketakutan akan kegagalan benar-benar menghantui kita sehingga kita terjerat sangat dalam, yakinkanlah bahwa pada saat yang bersamaan itulah kita bisa sedang dalam keadaan tidak beriman. Karena pada saat itu juga kita lupa bahwa ada Tuhan yang akan menolong kita.

Jadi, sering-seringlah menghadirkan Tuhan dalam pikiran kita, sehingga tidak akan ada rasa khawatir dalam diri kita.

Ketika kita menyerahkan permasalahan dan ketakutan kita kepada Tuhan, yang harus dilakukan adalah serahkanlah dengan ikhlas. Biarkan Tuhan yang mengurusnya. Hindarkan kita mencampuri pekerjaanNya dengan kekhawatiran yang berlebihan. Bayangkan pada saat anda menyetir dengan istri duduk disamping dan ia selalu cerewet mengatur anda menyetir. Mulai dari teriak ada penyeberang, ada lubang, minta lebih cepat, minta jangan mengerem mendadak dan sebagainya. Ah, mungkin kini anda paham bagaimana rasanya diatur oleh orang yang tidak memegang setir.

------

Cahaya lampu hijau mulai benderang menyelimuti dedaunan pisang dan rumpun bambu di Desa-desa. Matahari sudah beranjak ke peraduan, tetapi langit biru masih tersisa. Terimakasih Tuhan atas kesempatan menikmati keindahan pedesaan di tengah kota ini. Dan terimakasih atas kesempatan langka bertemu si Botak yang penuh inspirasi ini.

Share:

Untuk Adik dan Anakku yang masih sekolah

Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada medan pada halaman ekonomi dan bisnis tanggal 19 april 2010

SUDAH banyak email yang saya terima dari mahasiswa yang sudah menyadari bahwa dikampus mereka jelas tidak dipelajari cara untuk menjadi orang kaya. Mereka bertanya bagaimana ingin menjadi pengusaha sambil kuliah. Ada yang bertanya bagaimana mencari modal, hingga ada yang bertanya cara pisah kongsi dari usaha bersama kawannya.

Sungguh membangakan manakala mendapati calon penerus bangsa sudah mulai menyadari bahwa menggantungkan diri kepada negara menjadi pegawai bukanlah kasta yang bisa cukup bagus untuk kesejahteraan mereka. Sungguh menyenangkan manakala anak – anak muda menyadari bertapa pentingnya kewirausahaan dalam upaya mencapai kesejahteraan finansial.

Saya juga berterimakasih kepada mereka yang sering mengajak saya berdialog cerdas secara virtual pada saat mereka menyelesaikan tugas akhirnya yang sesuai dengan tulisan saya.

Dibalik komunikasi-komunikasi itu, terbersit beberapa hal yang saya pikirkan tentang mereka. Pembaca yang budiman, ijinkan saya membagikan sedikit pemikiran kepada mereka yang sebagiannya saya dapat dari pidato seorang Bill Gates, orang terkaya di Amerika, di sebuah sekolah menengah disana. Saya merasa bahwa ini cukup penting, karena selama saya sekolah dahulu, poin-poin berikut ini hampir tidak pernah masuk dalam kurikulum pelajaran saya.
Kehidupan
Memulai dari pengertian yang mendasar, sadarilah bahwa secara sederhana hidup itu tidak adil. Tidak adil karena sering berbeda dengan khayalan yang kita kehendaki. Mungkin kita ingin selalu menjadi juara kelas, ingin terkenal, ingin punya banyak uang, tapi bisa jadi kenyataanya tidaklah demikian.

Saran sederhana untuk ketidakadilan ini adalah; biasakanlah! Begitu kita membiasakan diri menerima ketidakadilan tersebut, kita akan mengalihkan energi kita kepada hal-hal yang lebih bermanfaat. Suatu saat kita akan menyadari bahwa yang ideal itu adalah realita itu sendiri.

Penghargaan
Dunia ini tidak akan perduli dengan pengakuan diri kalian. Mereka baru akan mengakui kalian ketika kalian menyelesaikan sesuatu yang bagus. Setelah itu kalian baru diijinkan merasa bangga. Ingatlah, bahwa kredibilitas seseorang bukan dari pengakuannya, tetapi dari apa yang ditunjukkannya.

Kalian juga tidak akan mendadak mendapatkan gaji Rp.100juta per bulan begitu kalian lulus dari sekolah. Kalian juga tidak akan otomatis diangkat menjadi Vice President dengan mobil mewah sampai kalian berjuang dengan keras untuk mendapatkan keduanya.

Lupakan pikiran kotor yang menyamakan jenjang pendidikan dengan jenjang posisi di dunia kerja. Dulu orang bilang, lulusan universitas adalah untuk posisi manajer, lulusan SMA untuk supervisor, lulusan SMP untuk posisi senior, lulusan SD untuk pekerja kasar. Sekali lagi lupakan konsep isap jempol itu.

Keras
Jika kalian pikir guru kalian saat ini teramat keras dan kejam, nantikan saatnya kalian memiliki boss dalam pekerjaan yang sebenarnya. Keras dan kejam yang terpikir kalian atas anjuran disiplin yang diberikan guru-guru kita hanyalah sebatas pembelajaran. Sedangkan boss tempat kalian akan bekerja nanti tidak lagi akan mendidik kalian. Begitu memasuki dunia kerja, kalian dianggap sudah mampu dan cukup proffesional untuk bisa disiplin dan bertanggungjawab, tentu saja boss kalian tidak akan membiarkan dan memaklumi kesalahan kalian seramah guru-guru kalian.

Sekolah kalian mungkin berorientasi kepada pemenang, juara dan yang kalah atau pecundang, tapi hidup yang nyata tidaklah demikian. Pada beberapa sekolah, mereka menghapus rangking-rangking yang jelek lalu mereka memberikan kepada kalian kesempatan yang sebanyak-banyaknya hingga berkali-kali sampai kalian mendapatkan angka yang bagus. Kesemua itu tidak akan membantu secuilpun dari kenyataan hidup yang terjadi diluar sekolah.

Hidup tidaklah dibagi per semester. Kalian tidak akan dapat liburan selama puasa Ramadhan. Di dunia bisnis nyata, sangat jarang ada pengusaha yang tertarik memberi bantuan kepada kalian untuk menemukan diri kalian sendiri. Sangat jarang ada senior yang rela mengajari kalian agar kalian mengambil tempat duduknya. Kerjakan itu dengan waktu kalian sendiri.

Belajar
Bekerja paruh waktu yang kotor dan berdebu bukanlah sesuatu yang hina, kakek kita menyebutnya dengan lebih santun dengan sebutan ‘peluang’. Jangan tunggu lulus sekolah baru belajar bekerja. Itu sangat terlambat.

Jika kalian ingin mencari orang-orang yang sedikit ‘terbelakang’, datanglah ke tempat kursus-kursus ketrampilan, seperti bahasa kursus bahasa Inggris, kursus komputer dan lainnya. Disana bertebaran orang-orang yang tak tahu diri yang dengan terpaksa mengambil kursus karena tidak bisa melanjutkan kuliah dan tak juga bisa diterima bekerja. Selama ini mereka lebih senang mengabdikan diri kepada play station, main-main dan segala (maaf) ketololan anak muda.

Jika kalian membuat kekacauan, itu bukan kesalahan orang tua kalian, jadi janganlah merengek karena kesalah-kesalahan itu, tapi belajarlah darinya. Berbuat banyak kesalahan sangatlah bagus dan bisa membuat kalian lebih cerdas, asal bukan kesalahan yang sama!

Televisi bukanlah hidup yang sebenarnya. Pada kehidupan nyata, orang-orang haruslah bergegas meninggalkan kedai kopi dan segera bekerja. Kecuali bagi mereka yang tak punya muka untuk selalu mengemis kepada kawan semeja agar dibayari secangkir kopi-nya.

Baik-baiklah ke orang-orang yang terlihat culun, karena ada potensi nasib kalian akan membawa kalian bekerja kepada mereka. Kalian tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi dengan kawan-kawan kalian yang terlihat seperti hantu sawah atau kawan-kawan kalian yang sok paten di sekolah kalian.

Sebelum kalian lahir, orang tua kalian sangatlah tidak sebosan sekarang. Mereka begitu karena harus membayar semua biaya hidup kalian, membersihkan pakaian kalian, mendengarkan ocehan kalian saat kalian mengira kalian keren, hebat dan sebagainya. Artinya, sebelum kalian bisa menyelamatkan hutan tropis dari benalu-benalu dari generasi orang tua kalian, coba dululah belajar mengurus kloset di kamar mandi kalian sendiri.

Uang
Uang bukanlah produk langit yang mengucur begitu saja seperti hujan. Uang hanya dimiliki orang-orang yang paham perbedaaan aset dan beban. Uang berkumpul di kantong orang-orang yang mampu mengalahkan gengsinya. Gengsi tidak pernah membuat siapapun menjadi kaya. Dengan uang, anda bisa bergengsi, dengan gengsi, anda akan kehilangan uang.

Orang bodoh bekerja untuk uang, orang cerdas membuat uang bekerja untuknya. Cari tahulah caranya.

Share:

Blog Archive